I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Pemeriksaan Dalam


__ADS_3

#Lauhul_Mahfudz


#Season 2


17+


Part 2


Pagi ini aku mendatangi nurse station dan mendapati Mahfudz dan teman-teman koasnya sedang berada di sana. Sebisanya aku berusaha bersikap sewajar mungkin meski lirikan mata dan senyuman mereka seperti berusaha menggodaku dan Mahfudz. Siapa sih di rumah sakit ini yang tidak tau ungkapan perasaan antara aku dan Mahfudz ketika di kantin kemarin? Sebagian menganggap itu romantis dan mereka mengapresiasi, sementara sebagiannya lagi menganggap itu konyol dan mencibir kami di belakang. Tapi siapa yang peduli dengan semua itu? Aku dan Mahfudz sepakat untuk mengabaikannya dan tetap berusaha bersikap professional di lingkungan rumah sakit.


"Pasien-pasienku hari ini siapa, Vi?"


"Bangsal umum kelas 3, Dok. Bed no. 1, 3, 4, 6 dan 8" kata Revi sambil menyerahkan hasil follow up pasien.


"Yang no.3 itu pasien SC dr. Raya yang kemarin, Dok. Tinggal nunggu persetujuan dari dr. Raya aja hari ini mereka udah bisa pulang harusnya. Selain itu semuanya adalah pasien baru yang datangnya tadi malam, tadi subuh dan baru aja tadi sekitar setengah jam yang lalu. Keempatnya punya kasus serius sehingga penanganannya butuh kolaborasi antara bidan dan dokter"


"Pasien bersalin semua?"tanyaku.


"Iya, Dok."


Wadduh, kok bisa barengan?


"Dr. Sherly mana?"tanyaku sambil mencari-cari dimana dr. Residen Obgyn itu berada. Dia satu-satunya dokter Residen yang sedang mengambil spesialis Obgyn di rumah sakit ini. Jadi aku sangat butuh bantuannya apalagi di saat-saat seperti ini.


"Dr. Sherly kayaknya nggak datang hari ini, Dok! Tadi dia ada telpon sih, suruh sampein ke dokter kalau dia nggak bisa datang karena ada urusan."


"Urusan apa?"tanyaku kurang senang. "Dia nggak ada nelpon saya."


"Wah, kalau itu saya kurang tau, Dok! Coba tanya Mahfudz siapa tau dia tau Dr. Sherly kemana. Soalnya yang dekat sama dr. Sherly biasanya Mahfudz, Dok. Kalau nggak ada kerjaan mereka suka nempel berdua dimana-mana. Kamu tau nggak Fud, dr. Sherly kemana?"tanya Revi.


Aku segera menoleh pada Mahfudz dengan pandangan berapi-api. Oh, begitu kelakuanmu. Nempel sana sini dengan dr. Sherly ya, Playboy?


Mahfudz melirikku yang sedang marah. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali mencoba membantah Revi.


"De-kat a-pa? A-ku ti-dak ta-u ke-ma-na di-a"


"Ihh, nyangkal lagi. Jelas-jelas beberapa hari lalu aku lihat kamu dipeluk sama dr. Sherly di ..."


Temannya Revi langsung membekap mulut Revi.


"Revi salah lihat, Dok"


"Aku nggak salah lihat, kok. Aw...." Revi memekik kesakitan saat kakinya diinjak temannya sambil melotot.


Rasanya darahku seperti mendidih berapi-api. Aku melirik kesal pada Mahfudz yang menggeleng panik berharap aku percaya padanya.


Aku mencoba tersenyum. Hari ini kalian semua pasti akan modar.


"Ok. Nggak apa-apa kalau dr. Sherly nggak ada. Kan masih ada dedek koas yang bisa bantuin di VK nanti, kalian semua ikut aku!"kataku gemas. "Dan kamu Revi, saya nggak jadi ajak kamu buat tindakan SC untuk hari rabu ya, lain waktu aja."


"Haaah???Kenapa nggak jadi, Dok?!"pekik Revi.


Aku tersenyum sambil membalikkan badanku. "Ayo!!!" ajakku pada anak-anak koas itu.


Siapa suruh kalian buat aku cemburu. Kekanak-kanan!Iya, kekanak-kanakan memang. Itulah adalah salah satu sifat burukku.


\*\*\*\*


"Setelah kalian melakukan anamnesa dan palpasi, kalian bisa lakukan VT untuk mengecek udah bukaan berapa" kataku santai.


"Apa Dok? VT? Kami juga?" tanya Abidzar menunjuk pada dirinya dan Mahfudz.

__ADS_1


Aku mengangguk seolah tak berdosa. "Iya. Kenapa memangnya? Selama kalian koas di stase obgyn, memangnya kalian belum pernah diajarin VT sama dr. Sherly?"tanyaku.


Keempat anak koas di depanku ini serentak menggeleng.


Abidzar terlihat meringis. VT adalah singkatan dari Vaginal Toucher atau yang sering juga disebut Pemeriksaan Dalam sebelum persalinan. Dimana dalam prakteknya, tenaga medis memasukkan jari ke dalam serviks pasien yang akan bersalin untuk memperkirakan rencana persalinan selanjutnya atau mendeteksi dini apa ada masalah atau penyulit yang akan menganggu proses persalinan.


Aku geleng-geleng kepala mengetahui kalau anak-anak koas ini belum pernah diajarkan VT sama sekali oleh dr. Sherly. Padahal sebelumnya aku sudah menyuruh dr. Sherly sebagai dokter residen obgyn untuk mengajari APN (Asuhan Persalinan Normal) pada anak-anak magang, khususnya anak-anak koas karena mereka di bangku kuliah tidak secara spesifik mempelajari tentang obstetri dan ginekologi. Berbeda halnya, dengan anak akbid yang notabene bidang ilmunya adalah seputar masalah kebidanan dan persalinan.


"Jadi, kalian selama ini belajar apa?" Sampai sini aku berhenti bicara. Kalau diingat-ingat lagi memang aku tak bisa menyalahkan dr. Sherly. Karena akulah konsulen dan pembimbing anak-anak koas ini. Sudah seharusnya akulah yang membimbing dan mengajari mereka. Tapi karena kesibukanku aku malah menyuruh dokter residen untuk mengerjakan tugasku. Ya. Ini memang salahku.


"Kurang lebih seminggu atau sekitar 10 harian lagi kalian akan ujian dan selesai di stase obgyn. Kalau praktek VT aja kalian nggak pernah dan membantu persalinan juga jarang, kalian akan jawab apa nanti saat ujian"kataku prihatin.


Mereka mendengarku lesu. Maafkan aku dedek-dedek koas. Aku memang jarang memperhatikan kalian, maafkan konsulenmu ini, kataku dalam hati.


"Ya, sudah. Mulai hari ini sampai waktunya dekat ujian saya akan lebih banyak membawa kalian praktek. Masih ada waktu kok" kataku menenangkan mereka.


Kasihan mereka. Selama koas di rumah sakit ini pasti mereka lebih banyak dijadikan pesuruh ini itu daripada belajar yang sesungguhnya. Sungguh aku merasa bersalah sekarang dan aku merasa perlu menebusnya.


"Ok, hari ini kita akan praktek VT dulu, Vaginal Toucher atau yang disebut juga Pemeriksaan Dalam. Fungsinya banyak, nanti saya jelaskan satu persatu."kataku.


Dengan gamblang aku menjelaskan bagaimana cara melakukan VT yang benar dengan menggunakan alat bantu yang menyerupai organ intim wanita. Terlihat anak-anak koas ini agak sedikit risih.


"Kalian nggak perlu risih dan malu melakukan ini ya. Khususnya buat Abidzar dan Mahfudz. Meski kalian adalah lelaki tapi pengetahuan dan keterampilan dasar seperti ini sangat di perlukan dalam asuhan persalinan normal. Kalian ada di stase obgyn kan memang untuk mempelajari ilmu obstetri dan ginekolog. Yaitu mempelajari segala hal tentang kandungan dan alat reproduksi wanita. Jadi tidak perlu merasa risih." jelasku.


Sebenarnya aku pun merasa risih mengajari mereka tentang ini tapi apa boleh buat, ini kan memang tugasku.


"Iya, Dok!"jawab Abidzar masih terlihat cemas.


Aku melirik pada Mahfudz. Sepertinya dia bisa bersikap lebih tenang daripada Abidzar. Mungkin karena memang dia tau tujuannya apa sampai berada di stase obgyn ini.


"Ok, kita akan mulai praktek VT kali ini. Kalian melakukannya harus hati-hati jangan sampai ada indikasi dalam pelaksanaannya"kataku mengingatkan.


"Pastikan kamu bisa meraba dan merasakan portionya dengan benar"kataku.


Ketiga anak koas berhasil melakukannya dengan pasien yang berbeda-beda meski masih canggung. Abidzar pun akhirnya berhasil melakukannya meski masih gugup.


Tiba giliran Mahfudz, kami mendatangi pasien terakhir yang akan dilakukan pemeriksaan dalam.


"Sepertinya pasien berikutnya yang perlu pemeriksaan dalam PSK, Dok!" bisik perawat Afni yang mengantar kami pada pasien.


"Haa? Masa? Kamu tau dari mana?"tanyaku kaget.


"Tuuuh..." Afni memonyongkan bibirnya ketika kami masih beberapa meter dari tempat pasien itu.


Aku melihat seseorang perempuan berambut pirang agak sedikit berantakan dengan perutnya yang besar berada di ranjang. Kelihatannya dia masih baik-baik saja dan belum kontraksi. Dia terlihat sedang mengobrol dan tertawa dengan teman-temannya dengan pakaian yang serba seronok dan terbuka. Pasien ini pun sama. Meski tengah hamil besar dia masih saja memakai hot pant jeans super ketat dan baju tanktop yang membuat dadanya terlihat terbuka.


"Dia diantar sama teman-temannya, Dok!Tanpa suami dan keluarga!" Afni menambahkan.


Aduuh bagaimana ini? Masa aku harus membiarkan Mahfudz melakukan VT pada wanita ini?


"Hallo, selamat pagi Ibu" sapaku mencoba tetap ramah. "Kami mau cek pembukaan sebentar, boleh?"


"Jangan panggil saya Ibu, Dok! Saya kan masih muda"jawabnya.


Lah, kamu kan calon ibu yang mau brojol, umpatku dalam hati.


"Ah, iya mbak. Maaf kalau begitu"kataku.


Aku menarik gorden dan meminta ijin pada teman-temannya pasien untuk menunggu sebentar di luar. Jadi di dalam cuma ada aku, pasien, Mahfudz dan Afni. Anak koas lain menunggu di luar juga.


Afni memasang selimut pada pasien. Sementara Mahfudz mulai memasang sarung tangannya.

__ADS_1


"Yang mau periksa bukaannya, dokter ganteng ini, Dok?"kata pasien itu terdengar girang dan nakal.


"Hmm. Iya" jawabku sedikit tak rela.


Mahfudz tersenyum padanya, membuatku semakin kesal saja.


"Ma-af, Bu per-mi-si ya.. Cu-ma se-ben-tar kok"


Mahfudz minta ijin dengan sopan untuk melakukan tugasnya pada pasien ini.


"Masnya gagu? Maaf maksud saya bisu? Eh, apa sih bahasa halusnya?" kata pasien ini.


"Tuna wicara, Bu" kata Afni meluruskan.


"Eh, iya maksud saya itu. Masnya ganteng banget loh, sayang banget tuna wicara"ocehnya.


Mahfudz cuma tersenyum. Dan mulai memasukkan jarinya ke organ intim pasien itu. Oh, my God. Rasanya aku merasa panas dingin sampai ke ubun-ubun. Aku tak rela.


"Mas, kalau masnya suatu saat butuh cewek panggilan buat kebutuhan yang itu tuh, mas datang aja ke area lokalisasi Nona Manis, cari aja saya. Nama saya Rini. Saya bisa kasih diskon ke mas. 40 hari habis lahiran saya udah mulai kerja lagi kok mas, dijamin pelayanan memuaskan. Bisa garansi diulang kembali kalau tidak puas"katanya genit.


Astaga, perempuan ini tidak tau malu sekali. Mahfudz juga ngapain sih lama-lama periksa ini perempuan?


Aku mulai geram. Apalagi kulihat ekspresi pasien ini yang terlihat binal saat Mahfudz memeriksanya. Gila, dia bahkan menggigit bibirnya dengan ekspresi genit sedikit mendesah. Rasa aku ingin menjambak rambutnya kalau Mahfudz tidak segera buru-buru menyelesaikan tugasnya.


"I-ni ma-sih bu-ka-an du-a, Dok" lapor Mahfudz padaku sambil melepas sarung tangannya.


"Masa sih, mas dokter yang ganteng? Tadi pas masih di bidan sebelum ke sini, katanya saya sudah bukaan 6 loh, coba periksa sekali lagi" pintanya.


"Haah?" Mahfud dengan polosnya mana tau kalau dia sedang dijadikan objek seksual oleh pasien ini. Kalau tidak segera kuambil tindakan pasti dia akan sukarela melakukan VT lagi ke wanita ini. Mahfudz, awas kamu nanti!


"Saya aja yang periksa!" kataku jengkel sambil mendorong Mahfudz jauh-jauh dari wanita itu.


Segera aku memakai sarung tangan baru dan memakai gel. Dan memasukkan dua jariku ke dalam serviks pasien. Agak sedikit kasar namun masih tetap hati-hati.


"Aw...! Pelan-pelan, dokter!"kata pasien yang bernama Rini ini.


"Ini bukaan dua" kataku dengan kesal sambil membuka sarung tanganku. Dan sangking jengkelnya hampir melempar sarung tangan itu ke wajah pasien.


"Periksa bukaan ibunya per tiga jam, kalau pembukaannya lengkap dan bidan bisa nanganin, nggak usah hubungi saya. Soalnya saya banyak kerjaan" suruhku pada Afni.


Pasien itu sepertinya melihat kekesalanku.


"Dokter siapanya mas dokter ganteng?" tanyanya.


Dengan kesal aku membuka gorden.


"Aku calon istrinya. Kenapa?"


"Oh..."


Pasien itu menutup mulutnya sekarang. Tau kesalahan apa yang sudah dilakukannya.


Afni dan anak-anak koas yang sedang menunggu di luar gorden juga kaget mendengar jawabanku. Abidzar sampai menutup mulutnya agar tidak menganga.


Mahfudz cuma tersenyum mendengar jawabanku. Senyum menawan yang membuat aku jatuh hati padanya. Tapi tunggu.. soal dr. Sherly itu aku tidak akan gampang memaafkanmu ya. Juga aku tidak akan pernah membiarkanmu lagi melakukan VT pada perempuan manapun, apalagi dengan wanita PSK semacam Rini itu!kataku dalam hati dengan gregetan.


Rini, rini, rini. Aku mengulang nama itu sampai beberapa kali dalam kepalaku. Dan aku teringat sesuatu yang seharusnya sudah kubereskan. Namun aku lupa karena terbuai perasaanku pada Mahfudz beberapa waktu ini. Rini, nama yang ada hubungannya dengan kasus Waridi dan Ayuni!


\#bersambung\#


Maaf buat para reader yang agak kurang nyaman dengan part ini. Sekedar cerita aja. Dari dulu saya pengen bikin novel, atau bikin cerita yang ada pengetahuannya sesuai tema. Misal kalau tokohnya adalah koki, saya ingin nyelipin tips dan ilmu-ilmu memasak, kalau ceritanya si tokoh adalah tokoh politik, saya ingin mengulik sedikit dunia politik. Jadi ceritanya sama seperti cerita Lauhul Mahfudz ini. Ini kan menceritakan tentang cerita anak koas dan dr. Obgyn. Jadi saya juga pengen nyelipin (tidak banyak kok) bahasan tentang obgyn. Jadi ceritanya tidak melulu soal cinta tok atau konflik. Jadi bukan karena ada niat terselubung ya. Saya membuat cerita ini tidak cuma pakai imajinasi saya saja. Tapi ada referensinya, saya dengar cerita dari teman dokter yang dulu pernah koas, saya cari di google juga tentang istilah-istilah ke dokteran. Jadi saya merasa puas karena totalitas dalam berkarya tulis meskipun banyak kekurangan. Walaupun peminatnya kurang dibandingkan dengan cerita romance kebanyakan. Jadi kalau ada yang merasa kurang nyaman membacanya. Maafkan saya reader 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2