I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Dokter Kepala


__ADS_3

"Lalu, bisakah Professor Ayyub menjelaskan apa yang sedang terjadi di sini? Rumah sakit ini dibuka lebih awal tanpa kesepakatan dari semua mitra KSO. Professor memutuskan secara sepihak tanpa butuh persetujuan kami. Bukankah itu agak egois?"


Kata- kata memojokkan dari walikota membuat Professor Ayyub semakin terpojok.


"Kita menandatangani Kerja Sama Operasional secara bersama- sama, bukankah harusnya sebelum memutuskan untuk membuka rumah sakit sebelum tanggal peresmian, Professor perlu meminta ijin sebelumnya pada mitra KSO lainnya? Anggaplah saya tidak penting bagi Professor, tapi mana bisa Professor bersikap begitu pada mitra KSO yang lain. Kami tau bangunan dan basic RSIA Satya Medika berasal dari pihak Professor, tapi kan lahan ini punya pemerintah kota, dan semua peralatan medis berasal dari PT. Healthy Life dan banyak faktor pendukung yang berasal dari mitra KSO lain. Dan bisa dibayangkan betapa terkejutnya kami, mendapat kabar ini dari media. Apakah peranan kami bagi Professor tidak penting di RSIA ini?" desak Walikota Darwis.


Professor menghela napasnya. Nampak beliau seperti tidak memiliki jawaban yang memuaskan untuk dikeluarkan di ruang rapat ini.


"Pak Darwis, tolong berikan Professor Ayyub waktu untuk menjawab. Sepertinya beliau sangat terdesak oleh pertanyaan kita. Saya sampai detik ini masih yakin kalau Professor melakukan ini karena ada alasan yang tepat. Biar bagaimana pun mereka menyelamatkan banyak korban kecelakaan kemarin," kata Waridi dengan nada yang sangat bijaksana.


Memuakkan. Bahkan di sini pun dia masih saja melakukan pencitraan seperti yang biasa dilakukannya.


"Bapak Waridi. Saya paham tujuan Professor melakukannya. Ya, Professor ingin menyediakan tempat bagi korban kecelakaan beruntun untuk ditangani. Tapi bukankah masih banyak rumah sakit lain yang bisa jadi tempat penanganan untuk korban kecelakaan? Kenapa harus RSIA yang bahkan belum diresmikan? Bagaimana nanti kalau kita dapat teguran dari departemen kesehatan? Bahkan menteri kesehatan? Tindakan sepihak ini bisa menimbulkan tuduhan kalau RSIA Satya Medika sedang mengeksploitasi korban kecelakaan beruntun demi kepentingan promosi. Apakah Professor sudah siap dengan kemungkinan pembatalan ijin berdirinya RSIA Satya Medika oleh pihak pusat?"


Walikota Darwis terus memojokkan Professor Ayyub dengan kata- kata yang mendesak. Hingga akhirnya Professor Ayyub angkat bicara.


"Baiklah, pertama- tama saya memohon maaf sebesar- besarnya kepada seluruh mitra KSO tanpa terkecuali atas keputusan sepihak saya membuka RSIA Satya Medika tanpa meminta persetujuan semua pihak terlebih dahulu. Namun perlu semua ketahui, saya melakukan itu semata- mata hanya memikirkan keselamatan korban saat itu. Jarak antara tempat kejadian perkara dengan rumah sakit lain saat itu sangat jauh, dan RSIA Satya Medika, adalah yang terdekat, sehingga demi kemanusiaan saya harus mengambil keputusan dari sudut pandang medis yakni membuka RSIA Satya Medika dengan cepat untuk mengurangi resiko kemungkinan bertambahnya korban jiwa dalam kasus kecelakaan beruntun itu," kata Professor menjelaskan.


Aku dengan mataku tak lepas memandang Waridi yang berbisik pada walikota. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi aku sempat melihat gurat tidak enak di wajah walikota Darwis. Entah perasaanku saja, tapi sepertinya Walikota Darwis seperti disuruh oleh Waridi mengatakan sesuatu yang dia sebenarnya tidak enak mengatakan itu.


"Darimana anda tau Professor, kalau resiko bertambahnya korban jiwa akan meningkat jika para korban saat itu dilarikan ke rumah sakit lain? Apakah Professor saat itu ada di sana? Professor saat itu memeriksa langsung keadaan para korban?" tanya Walikota Darwis menyerang Professor lagi. Namun aku sempat melihat ekor matanya melirik Waridi.


Dia seperti di bawah kendali Waridi.


"Saya ada di sana ketika kejadian." Akhirnya aku memutuskan untuk buka suara. Aku tidak tahan mereka terus- terusan memojokkan Professor. "Saya yang meminta Professor untuk membuka RSIA Satya Medika."


Terdengar riuh rendah para peserta mitra KSO berbisik- bisik mendengar pengakuanku.


"Saya yang melakukan pemeriksaan medis dan memutuskan kalau mereka harus secepatnya mendapat penanganan dan bisa menjamin akan ada pertambahan korban jiwa jika mereka harus menunggu terlalu lama dijemput ambulance dan menempuh perjalanan lebih lama untuk sampai di rumah sakit lain. RSIA Satya Medika adalah rumah sakit terdekat dengan lokasi kejadian. Dan hasil dari keputusan saya, semua bisa lihat? Tidak ada korban jiwa tambahan selain korban meninggal di tempat 2 orang. Menurut saya ini sudah yang terbaik."


Waridi tersenyum sinis.


"Maaf, dr. Raya. Saya tau anda dokter handal. Semua warga kota ini tahu itu, tapi sepertinya bukan kapasitas anda berbicara saat ini apalagi menyela pembicaraan antara walikota dan Professor Ayyub." kata Waridi dengan senyum sumringah di bibirnya. Dia tetap berbicara dengan nada yang ramah.


Aku balas tersenyum.


"Saya Dokter Kepala Obstetri dan Ginekologi di rumah sakit ini. Saya rasa saya punya kapasitas untuk berbicara di sini. Apalagi semua masalah ini berawal dari saya. Saya mohon maaf untuk semua mitra KSO RSIA Satya Medika atas kelancangan saya meminta pada Professor Ayyub untuk membuka rumah sakit sebelum tanggal peresmian. Semuanya saya mohon maafkan saya!" kataku sambil berdiri dan mengatupkan kedua telapak tanganku sebagai permohonan maaf untuk semuanya.


Semua terkejut mendengar ucapanku. Termasuk Fuad. Lihatlah, mulutnya sampai menganga melihat kakak iparnya bebicara di depan semua orang penting ini.


Lebih- lebih Waridi. Dia bahkan tidak ingat lagi, kalau seharusnya dia sedang berada dalam mode pencitraan saat ini.


"Dokter Kepala? Kau bercanda? Sejak kapan? Kami sebagai mitra KSO tidak mengetahui hal ini," katanya geram sambil melihat ke arah Professor Ayyub. "Kau punya sesuatu untuk membuktikannya?"


Professor melihatku dan hampir saja menunjukkan rasa bahagianya dengan senyum lebar. Dari dalam tasnya dia mengambil sebuah map dan menyerahkannya padaku.


Aku memeriksanya. Isinya map itu adalah surat perjanjian kerja dan SK pengangkatan dr. Raya Effendi Sp.OG yang tidak lain adalah aku sebagai Dokter Kepala Obstetri Ginekologi Rumah Sakit Ibu dan Anak Satya Medika. Aku membacanya dengan cermat sebelum pada akhirnya menerima bolpen dari Professor Ayyub. Aku menandatanganinya.


"Sejak saat ini!" kataku lugas sambil berdiri dan menunjukkan SK itu pada semua yang ada di sana.


Waridi tersenyum meremehkan padaku.


"Baiklah bisa diterima. Kamu Dokter Kepala Obgyn di sini. Lalu? Dokter Kepala Obgyn menerima pasien umum untuk diterima di rumah sakit yang notabene khusus untuk ibu dan anak. Citra RSIA Satya Medika yang mengkhususkan Ibu dan Anak akan rusak karena operasi penanganan kasus kecelakaan beruntun. Besok- besok bukan cuma pasien kecelakaan yang datang berobat ke sini. Kenapa tidak diganti saja namanya dengan RSU, Rumah Sakit Umum?"


"Apa yang salah kalau rumah sakit ibu dan anak menerima pasien umum? Sebelum jadi dokter spesialis, kami juga adalah dokter umum, Pak Waridi. Dan 9 dari 14 korban yang dibawa kesini rata- rata adalah anak- anak. Jujur saja, saya masih tidak mengerti kenapa pembahasan begini begitu teramat penting dibandingkan keselamatan banyak orang. Saya dan Professor memutuskan seperti ini tentu saja tidak gegabah, kami melihat dari sudut pandang medis dan kemanusiaan. Saya tidak mengerti jalan pikiran pemerintah, apa sepenting itu acara gunting pita dibanding kemanusiaan? Jika yang bapak walikota dan bapak wakil walikota khawatirkan adalah tentang pembatalan ijin berdirinya RSIA atau pendapat masyarakat tentang eksploitasi terhadap korban kecelakaan untuk kepentingan promosi rumah sakit. Jangan cemas soal itu, saya yakin pemerintah pusat dan masyarakat tidak akan sebodoh itu sampai memikirkan hal tidak masuk akal seperti itu." kataku kesal.


"Kalau ada masalah di kemudian hari ....?"


Waridi menatap tajam padaku.


"Saya yang akan bertanggung jawab. Karena itu lah saya ada di sini kan?"


Aku membalas tajam tatapannya. Hingga kemudian acara rapat itu selesai dan Waridi mendekatiku di luar ruangan.


"Aku tidak percaya dr. Raya ambisius juga. Kukira kamu tidak tertarik pada jabatan," katanya sinis.


Aku melihat bosan padanya.


"Sepertinya jabatan yang tertarik padaku." kataku acuh. "Setidaknya aku tak perlu mendapatkannya dengan pencitraan yang luar biasa. Karena aku tidak ahli melakukannya seperti anda, Pak Waridi!"


Senyum tersungging di bibirku tatkala melihat Waridi yang menatap jengkel padaku.


"Kak Raya!"

__ADS_1


Fuad menghampiriku dan menatap Waridi. Sama seperti padaku, Waridi pun seperti menatap jijik padanya dan setelah itu pun ia berlalu pergi. Hohoho, apa tidak salah? Harusnya kami yang menatapnya seperti itu kan?


"Tumben kau memanggilku seperti itu? Jangan- jangan ada maunya ni ...." kataku curiga.


"Iss .... Kau memang kakakku kan? Kakak ipar, kau keren sekali!" pujinya


"Aku memang keren dari dulu," jawabku pede. "Karena itu Mahfudz jatuh cinta padaku, kan?"


Fuad mencibir.


"No. Dia oedipus ...."


Criiiiiing!!!!!


Aku menatapnya dengan tatapan ingin membunuh.


"Hahaha .... Aku cuma becanda. Maaf kakak ipar. Aku minta maaf soal itu. Mahfudz mencintaimu." bisiknya.


"Aku tau." jawabku. "Btw, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu jadi kacungnya Waridi?"


"Isss, kacung apaan? Aku diminta Bapak Walikota untuk jadi notulen rapat."


Aku mengangguk- angguk paham.


"Kalau begitu catat yang baik- baik tentangku dan Professor." kataku mengancam.


"Apaan sih, ngancam mulu. Btw, habis ini kamu mau ngapain lagi, kakak ipar?" tanyanya.


Aku menarik napas. Ini adalah sesuatu yang juga tidak kusuka.


"Aku mau jumpa pers dulu dengan wartawan," kataku malas.


"Ceh, artist ...." oloknya membuatku tambah malas meladeni olokan itu.


Fuad merogoh ponselnya dan mengikutiku yang kini berjalan.


"Sepertinya Mahfudz juga sekarang jadi artist deh," katanya.


Fuad menunjukkan padaku salah satu postingan vidio di akun sosmed yang mendapat ribuan like dan komentar itu. Mataku membelalak melihat Mahfudz yang sedang melakukan CPR pada bayi Nayla. Hingga bayi itu bisa bernafas kembali diiringi oleh tepuk tangan banyak orang yang melihat kejadian itu.


Aku menatap Fuad seperti ingin bertanya apa itu sungguhan Mahfudz.


"Yang share postingan ini bahkan sudah mencapai 11.000-an hanya dalam hitungan sehari. Viral deh! Kakak Ipar sepertinya kau harus lebih menjaga Mahfudz deh, karena sejak ini viral fansnya Mahfudz akan bertambah banyak. Hahaha," gelaknya.


Aku merampas ponsel itu dari tangan Fuad dan membaca komentar- komentar di postingan itu.


[Dokter, itu benar- benar berhati mulia. Udah ganteng, baik lagi]


[Tuhan, sisakan aku satu orang lagi yang seperti ini!]


[Dokter, mau donk dikasih nafas buatan juga]


[Dokter itu namanya siapa sih?]


[Andai dekat, pengen jadikan dia menantu deh]


[Dokter itu udah punya pacar nggak ya?]


Apa-apaan nih? Wajahku merah padam melihat komentar- komentar itu, membuat Fuad makin tergelak melihat ekspresiku.


"Cemburu ya?"


\*\*\*\*\*\*


Dan akhirnya konferensi pers ini pun berlangsung di aula rumah sakit. Konferensi Pers ini dihadiri oleh aku, Professor Ayyub, Walikota Darwis dan wakil walikota Waridi.


"Pertanyaan untuk dr. Raya. Jadi, sebenarnya peresmian rumah sakit Satya Medika masih seminggu lagi, kenapa anda berani meminta untuk membuka rumah sakit?"


"Saya nggak mikirin apa- apa saat itu," kataku. "Yang terpikir oleh saya hanya bagaimana caranya menyelamatkan pasien- pasien itu dulu."


"Apa anda tidak terpikir resiko yang mungkin terjadi akibat keputusan anda?"


Aku menghela napas. Wartawan ini, dia bertanya, kita jawab, dia nanya lagi, dijawab lagi, nanya lagi. Gitu aja terus, umpatku dalam hati.

__ADS_1


"Apa ada resiko yang lebih besar dari resiko kehilangan kesempatan menyelamatkan nyawa pasien?" tanyaku balik.


Suara riuh lagi.


"Satu pertanyaan lagi dr. Raya, bagaimana perasaan anda diangkat menjadi dokter kepala Obgyn di usia anda yang masih muda? Apa jabatan anda tak lepas dari pengaruh wakil walikota sebagai anggota keluarga anda?"


"Keluarga?" tanyaku heran.


"Ya, bukankah putri bapak wakil walikota sekarang telah menjadi istri dari adik ipar anda?"


Aku menoleh jengkel pada Waridi. Bisa- bisanya mereka berpikir kalau aku mendapatkan jabatan karena koneksi dari Waridi.


"Sepertinya pertanyaan rekan- rekan media sudah menyimpang dari tema konferensi pers ini, maaf ada pertanyaan lain?"


Aku mempersilahkan wartawan lain untuk bertanya. Aku enggan menjawab pertanyaan wartawan yang tadi.


"Dr. Raya vidio seorang pria yang melakukan CPR pada bayi itu, bukankah itu saudara Mahfudz, suami anda? Apakah dia bekerja maaf maksud saya koas juga di rumah sakit ini? Bagaimana dia bisa terlibat dalam kecelakaan beruntun itu? Dan kalau boleh tau bagaimana anda bisa menikah dengan saudara Mahfudz yang dulu pernah memiliki skandal dengan anda?"


Duuuh benar- benar deh ini wartawan nggak ada akhlak. Masih aja nanya masalah yang sudah lama berlalu, omelku dalam hati.


"Ehmmm, sepertinya kalian lebih tertarik dengan kehidupan pribadi saya daripada tema konferensi pers ini. Jadi, bisa kita akhiri ini sekarang?"


Aku berbisik pada Professor. Aku meminta agar konferensi pers ini segera diakhiri. Aku mulai jengah pada pertanyaan wartawan- wartawan itu.


Dan akhirnya aku bisa bernafas lega saat bisa keluar dari ruangan itu tanpa dikejar- kejar lagi oleh wartawan.


Meski belum terlalu ramai, namun RSIA Satya Medika sepertinya sudah mulai beroperasi hari ini. Professor Ayyub mengantarku ke ruangan ku.


"Terima kasih sudah menyelamatkan saya dan rumah sakit ini hari ini dr. Raya." ucap Professor. Sesaat kami berada di ruangan kerja baruku.


Aku menghela napas berat.


"Saya sendiri tidak tau, apa saya bisa menerima tanggung jawab ini dengan amanah," kataku ragu.


"Kamu pasti bisa." kata Professor meyakinkanku.


Aku cuma bisa tersenyum pias dan memandang sekeliling ruangan ini. Ruangan kerja ini lebih besar dari ruanganku di Siaga Medika. Tak ada bed pasien di sini. Dan ada sofa juga tempat menerima tamu penting di pojok ruangan. Benar- benar ruangan kerja bukan praktek.


"Kau menyukainya?" tanya Professor yang memperhatikanku mengamati ruangan ini.


Bukan ruangan seperti ini ruang kerja idamanku. Tapi aku tetap tersenyum dan mengangguk pada Professor.


Tok!Tok!Tok!


Suara ketukan di pintu membuat aku dan Professor spontan menoleh.


"Oh, silahkan masuk bidan Zahra." kata Professor mempersilahkan.


Bidan yang bernama Zahra itu masuk dan dipersilahkan duduk oleh Professor.


"Dr. Raya, perkenalkan. Ini bidan Zahra, Kepala Bidan yang akan sering membantumu di kemudian hari. Sebenarnya di sini juga akan ada 2 Sp.OG yang akan membantumu nanti, tapi mereka baru bisa masuk besok." kata Professor.


"Hallo, saya dr. Raya," kataku memperkenalkan diri. "Senang berkenalan denganmu Bidan Zahra. Ke depannya saya akan banyak membutuhkan bantuan dari Ibu Zahra."


"Senang bekerja di bawah pimpinanmu dr. Raya. Kalau butuh bantuan saya, jangan sungkan- sungkan.Saya berharap di masa yang akan datang kita bisa jadi mitra sejawat yang solid, Dokter."


"Baiklah, kalian teruskan saja ngobrol- ngobrolnya dulu. Dr. Raya, bidan Zahra, saya pamit duluan. Saya harus ke rumah sakit Siaga Medika dulu." pamit Professor.


Aku dan Bidan Zahra mengangguk.


"Nanti saya akan menghubungi kamu lagi dr. Raya."


Aku lagi- lagi hanya mengangguk.


Sepeninggal Professor aku melanjutkan obrolanku dengan Bidan Zahra. Sampai akhirnya dia pun pamit untuk kembali ke ruangan bidan.


Ketika Bidan Zahra sampai di pintu, aku baru teringat akan sesuatu.


"Bidan Zahra!" panggilku.


Dia menoleh heran.


"Kamu bisa lepas IUD?"

__ADS_1


__ADS_2