I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Ngidam Kecap


__ADS_3

Pov Raya


"Ray!!!!"


Suara familiar itu terdengar keras memanggilku. Membuatku dan orang- orang di sini menoleh ke asal suara itu.


Mahfudz, dia sedang berdiri beberapa meter dariku. Ah, hatiku langsung mengharu biru. Dia menghampiriku. Semakin dekat, semakin dekat, dan dia tanpa basa- basi langsung memelukku. Di hadapan banyak orang ini.


"Ra- ya, a- ku ka- ngen sa- ma ka- mu."


Ah, bagaimana aku mengungkapkannya? Aku juga merindukanmu.


Tanpa kusadari tangan ini pun mendekap punggungnya. Wajahku ku benamkan di pelukannya. Telah tiga minggu aku merindukan dada bidang ini.


"Cieee, dr. Raya .... Jadi, sholat nggak nih? Atau kami duluan nih?" kata Winda.


Aku langsung tersadar dari suasana yang bernuansa melankolis ini.


"Fud .... Sudah meluknya. Banyak orang ini, aku malu," kataku pelan.


"Ray, a--ku su- dah le-pa- sin pe- lu- kan- ku da- ri ta- di. Ka- mu yang te- rus me- me- luk- ku," bisik Mahfudz.


Haah? Spontan aku melepaskan pelukanku darinya.


Mahfudz tertawa. Para staff juga ikut senyum- senyum dan menggodaku.


"Suami siapa itu yang baru pulang? Dr. Raya rindu berat, woyy. Yang jomblo tutup mata aja!!" goda mereka.


"Aw .... aw ....."


Wajahku terasa panas sangking malunya.


"Aku mau sholat dulu!" kataku. Aku harus kabur dari tempat ini secepatnya. Aku tak mau dikeroyok rame-rame oleh godaan mereka.


"Woy, Dok! Suaminya kok ditinggal?!"


Aku menebalkan telingaku. Pokoknya aku kabur dululah.


Seusai aku pulang kerja, Mahfudz masih setia menungguku di kursi antrian. Dia langsung berdiri dan menggenggam tanganku.


"A-yo pu-lang!" katanya sambil menarik tanganku.


Aku manut saja. Sejenak aku lupa soal oedipus complex yang membuatku galau beberapa hari ini. Aku benar-benar merindukan dia. Vidio call atau chat tak bisa menggantikan rasa ingin berdekatan dengannya seperti sekarang ini.


"Kun-ci mo-tor-mu ma-na?" tanya.


"Hmmm? Oh ...." Aku masih tak percaya dia ada di dekatku saat ini.


Aku mengambil kunci motor dari tasku dan menyerahkannya pada Mahfudz. Mahfudz menerimanya dan menaruh ranselnya di depan.


"A-yo, na-ik!"


"Hmmm? Iya."


Aku segera naik dan duduk di belakangnya. Sesaat setelah motor berjalan keluar dari rumah sakit, sebelah tangannya menarik tanganku agar memeluknya. Aku benar- benar merindukan aroma tubuh ini.


Sepanjang jalan kami tak berkata apa-apa hingga sampai di rumah Ummik membukakan pintu.


"Kamu sudah pulang, Fud?" tanya Ummik senang.


Mahfudz langsung mencium tangan Ummik.


"I-ya, Mik. Ta- di lang- sung ke ru- mah sa- kit jem- put Ra- ya."


"Ya, sudah. Kamu bersih- bersih dulu sana. Habis itu makan. Baru langsung istirahat aja."


"Ta-di u-dah ma-kan di kan-tin, Mik" jawab Mahfudz.


"Raya mandi dulu, Mik!" kataku berpamitan pada Ummik untuk ke kamar.


"Nggak usah mandi kamu, Ray. Nggak baik! Kamu kan lagi ...."


"Mik ...." Aku langsung memberi kode pada Ummik untuk tidak memberi tahu ke Mahfudz soal kehamilanku.


Ummik mendesah. "Jangan mandi pokoknya, nggak baik mandi malam itu!"


"Iya. Raya nggak mandi. Raya cuma bersih-bersih aja, Mik."


Selesai bersih-bersih badan sikat sana dan sini. Aku langsung keluar dari kamar mandi. Mahfudz sudah menunggu giliran mandi dengan menyampirkan handuk di pundaknya.


Kami masih belum berkata apa-apa satu sama lain. Entah kenapa rasa canggung ini kembali hadir setelah 3 minggu berpisah darinya.


Saat Mahfudz mandi aku tergoda untuk melihat- lihat ponselnya. Periksa nggak ya, periksa nggak? Periksa aja deh!


Ponsel itu tanpa pola dan kode sehingga aku mudah dan leluasa mengeksplore ponsel itu. Hal pertama yang ingin ku periksa ada aplikasi sosial medianya. Messenger, WA, tapi sepertinya dia cuma punya dua aplikasi sosmed itu. Tak ada tanda- tanda perselingkuhan. Oklah, siapa tau kamu menghapusnya, Pak Dokter .... Selanjutnya aku mulai memeriksa galeri fotonya. Siapa tau ada foto dengan perawat, atau teman koas mesra di sana. Aku wajib memeriksa semuanya. Tapi aku terkejut saat memeriksa salah satu dokumen di galerinya. Di dalamnya banyak foto orang tua dan nenek-nenek. Oh, my God .... Jadi benar Mahfudz menderita Oedipus complex? Aku tak percaya ini. Banyak foto orang tua di sini.


"Ka-mu tak a-kan me-ne-mu-kan buk-ti per-se-ling-ku-han di si-tu, sa-yang-ku!"


Aku kaget setengah mati seperti maling yang sedang tertangkap basah mencuri. Aku segera meletakkan ponselnya.


"Nggak a-pa- a-pa. Ka-mu bo-leh mem-bu-ka-nya. A-ku se-la-lu ter-bu- ka pa-da-mu, sa-yang!"


"Hmmm .... Ini...." Aku mengambil ponsel itu lagi dan menunjukkan foto-foto para orang tua itu pada Mahfud.


"Oh, i-tu. I-tu pa-ra pa-si-en ge-ri-at-ri di ru-mah sa-kit je-ja-ring," katanya.


"Apa pendapatmu tentang mereka?" tanyaku tiba-tiba.


Mahfudz terlihat bingung dengan pertanyaanku. Dia masih dengan handuk yang terlilit di pinggangnya melihat ke foto- foto yang kebanyakan isinya adalah foto wanita tua.


"Pen- da- pat? Hmm .... a-pa ya?"

__ADS_1


Mahfudz sepertinya berpikir keras.


"Me- nu- rut- ku mes- ki tu- a, me- re- ka ma- sih ter- li- hat can-tik dan sek-si .... " Mahfudz tertawa.


Jawabannya membuatku semakin ill feel saja.


"Jadi benar, Fud? Kamu punya bakat oedipus complex?"


Aku tak tahan lagi. Jawabannya benar-benar menyakitiku.


"O .... di-pus ....?"


Mahfudz mungkin sedang berusaha mengingat-ingat apa yang dimaksud dengan oedipus complex.


"Iya. Oedipus complex. Ketertarikan seorang lelaki pada wanita yang jauh lebih tua. Seperti kamu sama aku. Kamu menyukai aku karena aku tua, Fud?"


Air mataku hampir jatuh menanyakan itu.


Mahfudz bengong dengan kata- kataku. Sepertinya dia bingung mencerna kata- kataku?


"Oe-di-pus com-plex? Mak-sud-mu a-ku ke-lai-nan? Aku, Ray?"


Mahfudz membelalak melihatku.


"Kamu menyukaiku karena aku jauh lebih tua dari kamu. Itu mungkin karena kamu punya perasaan bersalah pada Kak Rahma, jadi tanpa kamu sadari kamu jadi pribadi yang oedipus complex dan menyukaiku ...." kataku sedih.


"Oe-di-pus com-plex? A-duuh, ka-mu da-pat i-de dan pe-mi-ki-ran se-per-ti i-tu da-ri si-a-pa Ray? Tung-gu dul-u .... Sam-pai ba-wa- ba-wa Kak Rah-mah? Fu-ad yang me-nga-ta-kan se-mua i-tu pa-da-mu?"


Mahfud terlihat gusar. Aku tak menjawab pertanyaannya itu. Aku takut hubungannya dan Fuad tambah buruk lagi nanti.


"Ja- di be-nar Fu-ad yang bi-lang be-gi-tu?"


Mahfudz mengacak-acak rambutnya sendiri. Aku masih diam tak menjawab.


"Pan-tas sa-ja, ka-mu be-ru-bah se-jak me-ngi-nap di ru-mah Ma-ma. Ka-mu ja-di men-ja-uhi-ku. Ka-re-na i-tu?"


Aku meringis lalu mengangguk.


"Fu-ad! A-ku a-kan meng-ha-jar a-nak i-tu nan-ti. Be-ra-ni se-ka-li ...."


Aku menahan tangannya dan menggeleng. Aku tidak berharap kalian ribut lagi.


Mahfudz menghela napas.


"Ka-mu per-ca-ya pa-da-nya ka-lau a-ku oe-di-pus com-plex?"


Aku meringis dan menggeleng lagi. Aku harus berbohong untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku memang sempat hampir percaya pada kata- kata Fuad.


"Ray, a-ku men-cin'*** ka-mu bu-kan ka-re-na ka-mu le-bih tu-a. A-ku cin-ta ka-mu ka-re-na ha-ti-ku yang me-mi-lih ka-mu. A-ku ti-dak men-cin-*** ka-mu ka-re-na ka-mu tua- a-tau mu-da. A-ku sa-dar ka-lau a-ku cin-ta ka-mu ke-ti-ka ti-ba-ti-ba sa-ja a-ku se-la-lu me-mi-kir-kan-mu, mem-bu-tuh-kan-mu, a-ku i-ngin se-la-lu me-li-hat-mu, men-de-ngar su-a-ra-mu, me-lin-du-ngi-mu. Bu-kan ka-re-na a-ku te-rob-se-si ka-re-na ka-mu tu-a."


Dia kini duduk di tempat tidur berhadapan denganku.


Sampai di situ aku tak terima kata- katanya. Kekanakan, manja, rewel, seperti anak kecil. Apa maksudmu, Pak Dokter? Aku mulai kesal mendengarnya. Tapi aku akan menunggu dia selesai dulu berbicara.


"Dan so-al ke-ter-ta-ri-kan sek-su-al, a-pa yang sa-lah de-ngan is-tri-ku? Ka-u ti-dak se-tu-a i-tu, ka-mu ti-dak ke-ri-put, ka-mu sek-si dan mem-bu-at-ku ber-gai-rah. Dan bah-kan wa-lau pun u-murku sa-at i-ni 15 ta-hun, 30 ta-hun, a-tau pun 50 ta-hun a-ku a-kan te-tap ter-ta-rik pa-da-mu. Ka-mu can-tik, baik, dan ...."


Mahfudz membisikkan sesuatu di telingaku. Sesuatu yang mungkin akan membuatku sangat malu jika didengar orang lain, namun membuatku merasa sangat berharga karena itu hanya antara aku dan dia saja yang tau.


"A-ku men-cin-*** ka-mu, Ra-ya. Ka-mu ma-sih ra-gu pa-da-ku? Ka-mu i-ngin ki-ta bi-kin jan-ji ke psi-ko-log du-lu a-gar ka-mu ya-kin pa-da-ku?"


Aku menggeleng, sekarang aku sangat yakin padanya. Aku percaya pada suamiku.


"Ka-dang-ka-dang tu-du-han-mu ja-hat se-ka-li pa-da-ku. Du-lu ka-mu me-nu-duh-ku pe-do-fil, se-ka-rang oe-di-pus com-plex," keluhnya.


"Maaf, Fud ...."


"Fud ....?"


"Sayang ...." ralatku.


Dia memelukku sekarang. Aroma sabun ditubuhnya yang cuma dililit handuk itu, aku menyukainya. Aku mencium bahunya itu.


"Ka-lau be-gi-tu a-ku bo-leh me-min-ta ja-tah-ku?"


Aku melepaskan pelukanku. Harusnya aku sudah tau dari awal endingnya bakal seperti ini.


"Please? 3 ming-gu, Ray! A-ku be-ru-sa-ha sa-ngat ke-ras me-na-han-nya. Sum-pah! A-ku ti-dak ja-jan di lu-ar. Ka-mu tak ma-u me-ngap-re-si-asi ke-se-tia-an su-a-mi-mu?"


Wajah itu terlihat memelas. Aduh, please deh! Kamu paling pintar membujukku kalau masalah begitu.


"Please? A-ku jan-ji a-kan pe-lan- pe-lan dan ha-ti-ha-ti"


Pelan-pelan dan hati-hati? Apa Mahfudz tau aku hamil? Aku tak bisa memikirkannya lama-lama melihat Bapak Mahfudz Alzhafran ini mulai ndusel-ndusel seperti kucing minta makan pada Tuannya. Dan pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk.


\*\*\*\*\*


Aku menatap Mahfudz yang kini tidur di sampingku setelah melakukan aktivitas ranjang yang menurutku berlangsung lama dan melelahkan karena dilakukan dengan sangat pelan-pelan dan hati-hati.


Aku tidak tau apakah Mahfudz sudah mengetahui aku hamil atau tidak. Tapi dari gelagatnya dia memang sudah tau. Harusnya aku sudah curiga saat dia menyuruhku untuk tidak memakai sepatu dengan heels melainkan dengan sepatu flat ketika dia masih ada di rumah sakit jejaring.


Harusnya aku tau Mama tak mungkin bisa menahan diri untuk tidak memberi tahu putranya kalau dia akan memiliki cucu. Sekarang bagaimana caraku akan memberi tahunya? Dia pasti akan marah kalau tau aku tidak berniat memberi tahunya soal kehamilanku karena masalah oedipus complex itu. Apakah aku akan pura-pura memberi surprise saja? Ah, pasti aneh sekalinya. Aku memberi surprise pada orang yang sudah tau, terlebih lagi aku sudah tau kalau dia tau. Ah, pusing.


Sudah satu jam aku bolak balik ke samping dan ke kanan, tak bisa tidur. Sekarang aku juga merasa sangat lapar sekali. Membuatku semakin tak bisa tidur saja.


Aku segera beranjak ke dapur. Mencari sesuatu yang bisa dimakan. Aku membuka kulkas. Di kulkas cuma ada lauk malam ini yang sengaja ditaruh Ummik agar tidak basi dan bisa dipanaskan besok hari.


Aku tidak tertarik melihat ternyata itu adalah lauk ayam. Entah kenapa sejak aku tau aku hamil, aku sama sekali tidak tertarik dengan masakan ayam. Bahkan mencium aroma ayam yang sedang digoreng pun membuat aku mual.


Aku melihat sebotol kecap manis di atas meja. Entah kenapa, aku merasa tergoda untuk menciumnya.


Aku membuka tutup botol kecap itu. Aroma dari kecap itu benar-benar sangat wangi di hidungku. Aku mencicipi kecap itu dengan ujung jariku. Ya Allah, ini enak sekali. Seumur aku hidup baru kali ini aku merasa ada kecap manis seenak ini.

__ADS_1


Yang tadinya aku cuma mencicip setetes demi setetes kecap ini akhirnya aku mulai meminum kecap itu dari botolnya. Ini sungguh nikmat sekali.


"Ra-ya, a-pa yang ka-mu la-ku-kan?"


Aku terkejut setengah mati sampai botol kecap itu jatuh dari tanganku.


"As-ta-ga! Ray ...."


Mahfudz terperangah melihatku. Dia segera mendekatiku dan mengambil botol kecap yang isinya tidak sampai separuh itu.


"Ka-mu me-mi-num ke-cap i-ni?" tanyanya tak percaya.


Aku menggigit bibirku tak tau harus berkata apa.


Mahfudz menghela napas. Dia mendudukkanku di kursi meja makan. Dengan sayang dia menyeka bibirku yang sepertinya belepotan kecap.


"Ka-lau ka-mu ngi-dam se-su-a-tu ka-sih ta-u aku, Ray! Ma-sa a-nak-ku ka-mu ka-sih ke-cap doank?"


Aku meringis sambil menggigit bibirku.


"Kamu tau?" tanyaku.


"Tau-lah. Ka-mu nggak ka-sih ta-u. Pa-da-hal a-ku su-dah tung-gu ka-pan ka-mu ka-sih ta-u sur-prise-nya. Ck... ck...ck ka-mu i-ni" katanya sambil berdecak.


"Kalau sudah tau ngapain lagi dikasih surprise ...." kataku sambil cemberut.


Mahfudz berlutut di lantai, dihadapanku. Dengan posisinya itu, dia bertopang dagu di atas pangkuanku. Dia mengelus- elus perutku. Yang sebenarnya masih belum buncit itu.


"Sa-yang, bi-lang sa-ma Ma-ma-mu ja-ngan ka-sih ka-mu ke-cap doank, nggak a-da gi-zi-nya i-tu. Pa-pa bi-sa be-li-kan ka-mu ma-ka-nan yang e-nak dan ber-gi-zi" Mahfudz berbicara seolah- olah pada bayi yang kukandung.


"Dia nanti panggil aku Bunda, bukan Mama. Panggilan Bunda nggak cocok sama Papa, iya kan, Sayang?"


"Ya, su-dah ka-lau be-gi-tu ka-mu pang-gil A-yah sa-ja. Sa-yang, bi-lang sa-ma A-yah ka-mu ma-u ma-kan a-pa? Asal ja-ngan ma-kan ke-cap aja."


"Apa sayang? Kamu mau makan mie goreng kecap? Pakai sayur sawi? Oh, iya ya. Tadi Bunda lihat juga sih ada mie mentah dan sayur sawi di kulkas. Apa? Kamu pengen ayah yang masakin? Ya ampun, gimana ya? ayah mau nggak sih masakinnya?"


Aku membalas aktingnya sambil tertawa dalam hatiku. Ayah mau nggak masakin buat Bunda?


Dia mencubit pipiku gemas.


"Se-be-nar-nya A-yah tau Bun-da yang pe-ngen ma-kan mie-nya. Ta-pi da-ri-pa-da Bun-da ngam-bek, A-yah ma-sa-kin a-ja deh, ka-mu ban-tu do-a ya mu-dah-mu-da-han ma-sa-kan-nya e-nak."


"Ayah, semua bahannya ada di kulkas," kataku geli.


Mahfudz mengeluarkan bahan- bahan mie yang akan dimasaknya.


"Jadi, Bun-da ma-u pa-kai te-lor, ma-u yang pe-des a-tau se-dang?"


"Pakai telor mata sapi, cabe rawitnya 10"


"No, no, no. Ka-mu bi-sa sa-kit pe-rut"


"Kalau gitu 7 saja"


"Ma-sih ke-ba-nya-kan."


"Kalau begitu 5 saja"


"Du-a sa-ja."


"Apa? Tadi nanya mau pedes atau sedang? 5 biji cabe rawit itu sedang! Kalau dua nggak ada rasanya." protesku.


"Ka-mu la-gi ha-mil ja-di stan-dar-nya di-ganti. 1 be-rar-ti se-dang, 2 pe-das."


Aku melongo.


"Sayang, makan makanan pedas nggak akan ngaruh ke janin. Kenapa aku nggak boleh makan pedas?" kataku protes.


"Nggak nga-ruh ke ja-nin, ta-pi nga-ruh ke bun-da-nya. Be-sok ka-mu a-kan sa-kit pe-rut ke-mu-dian di-are. La-lu a-sam lam-bung-mu nai-k, te-rus mun-tah-mun-tah. La-lu ka-mu le-mas. A-nak a-yah ke-na dam-pak-nya, ya kan, sa-yang?"


Oh, ya ampun. Sepertinya aku punya feeling selama aku hamil aku akan banyak dibatasi oleh Mahfudz melakukan hal yang kusuka.


"A-ku i-ngin ja-di su-ami dan a-yah si-aga un-tuk ka-mu dan a-nak ki-ta, Ray! Ja-ngan ba-nyak pro-tes."


Sepertinya dia bisa membaca pikiranku. Atau membaca ekspresiku?


"Sayang, pakai panci yang dikasih Bang Gogo aja. Di situ bisa masak segala jenis makanan. Terus matangnya juga lebih cepat" kataku saat melihat Mahfudz sudah selesai memotong-motong sayuran dan bawang.


Mengingat Bang Gogo aku jadi teringat penemuanku tentang rekaman vidio yang ada Bang Gogo di dalamnya.


"Sayang, kamu tau alamatnya Bang Gogo?" tanyaku.


Mahfud menggeleng. "Nggak. Ke-na-pa?"


"Kamu bisa cari tau nggak sayang? Cari di data pasien di departemen penyakit dalam."


Mahfudz mengernyitkan keningnya dengan rasa heran.


"Bu-at a-pa-an?"


"Aku ingin kita berkunjung ke sana dan mengucapkan rasa terima kasih karena telah memberikan kado set cook pan itu ...."


"Ka-mu su-dah mem-be-ri-kan ma-sa-kan-mu dan ko-tak be-kal-mu. I-tu su-dah cu-kup" jawab Mahfudz tak senang.


"Tapi harga set cook pan itu mahal, nggak sebanding dengan kotak bekalku." kataku ngeles.


Mahfudz menarik napas berat.


"Ray, Bang Go-go i-tu se-per-ti-nya me-mang ba-ik. Na-mun se-per-ti-nya di-a ber-ba-ha-ya. Ki-ta ha-rus men-ja-uh da-ri o-rang -o-rang se-per-ti itu." kata Mahfudz serius.


Aku menghela napas panjang. Sepertinya Mahfudz akan marah kalau dia tau aku menyelidiki lagi kasus penculikan itu. Ck, apa yang harus kulakukan?

__ADS_1


__ADS_2