I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Pernah Punya Anak Perempuan


__ADS_3

"Waridi adalah kakak saya satu ibu lain bapak," kata Rudi saat Fuad dan Akbar melakukan kunjungan ke lapas tempat dia di tahan.


Walaupun bukan Rudi pelaku segala kasus hukum yang dilakukan Waridi, namun tetap saja tindakannya mengkonstruksi beberapa bagian wajahnya demi untuk memiripkan wajah mereka adalah dengan tujuan mempermulus usaha Waridi melakukan segala kepentingannya termasuk hal- hal yang melanggar hukum. Dan hukum menetapkan kalau Rudi juga bersalah.


"Lalu karena kalian bersaudara makanya kau membantunya?" tanya Fuad jengkel.


"Sebenarnya kami tidak terlalu dekat. Mas Waridi juga tidak begitu menyukaiku tapi dia banyak membantuku dalam segala hal. Dia membiayai pengobatan ayahku yang juga adalah ayah tirinya, dia juga menyekolahkan putraku hingga selesai kuliah di luar negeri. Sewaktu ibuku masih hidup, ibuku selalu berpesan agar kami saling menjaga. Ibu bilang, Mas Waridi banyak menderita karena ibu dan ayah kandungnya. Dan kasusnya akhir- akhir ini tentang kelainan dan apa yang dilakukan olehnya terhadap anak- anak perempuan itu, akhirnya aku mengerti kenapa dulu ibu berpisah darinya. Ayah kandungnya sepertinya punya kelainan seperti itu juga."


"Benarkah?" tanya Fuad.


"Entahlah, tapi besar kemungkinannya seperti itu. Yang ku tahu kakak perempuan kandungnya satu- satunya juga dulu meninggal dengan misterius. Tanpa kecelakaan dan sakit di usia yang masih remaja. Apa mungkin dia juga mengalami kekerasan seperti itu? Di hatiku jadi terbersit pertanyaan setelah mendengar berita tentang kasus pelecehan seksual yang telah dilakukannya pada anak- anak seumuran remaja itu."


Fuad menatap Rudi yang terlihat menghela napas tanpa mengatakan apa pun. Dia membiarkan lelaki itu menceritakan kisah hidup Waridi dengan kemauannya sendiri.


"Meskipun kami bukan kembar tapi kami memiliki wajah yang lumayan mirip. Karena itu hanya perlu mengubah sedikit di beberapa bagian, kami bisa terlihat mirip sempurna."


Fuad memperhatikan wajah Rudi dengan seksama. Mereka memang terlihat begitu mirip. Sama dengan dia dan Mahfudz.


Di akhir kunjungan, lelaki itu pun berkata,


"Aku tidak bisa meminta kalian untuk tidak menyalahkan atau memaafkan dia. Tapi percayalah, dia juga mengalami hidup yang tidak mudah. Dia juga adalah korban dari perceraian orang tuanya. Dan mungkin dibalik itu dia juga mengalami hal berat lainnya yang tidak kita tahu."


Fuad menatap lelaki itu datar.


"Setiap orang memiliki kesulitan hidup masing- masing. Tapi bagaimana seseorang menyikapinya adalah tergantung dari orang itu juga. Dan aku tidak akan memaklumi dan memaafkan orang itu," kata Fuad.


\*\*\*\*\*\*


POV Raya


Setengah tahun berlalu sejak saat itu. Tak ada yang berubah dan tak ada hal besar apa pun yang terjadi. Keberadaan Waridi belum juga ditemukan. Meski waktu berlalu sudah teramat lama namun semua orang yang pernah terkait dengan Waridi masih merasa khawatir dan cemas kalau sewaktu- waktu lelaki itu datang dan membuat masalah.


"Ayuni, Kau datang?" sapaku saat melihat seseorang yang menyembulkan wajahnya dari balik pintu.


"Hmm, iya Kak. Kan kak Raya yang maksa- maksa aku buat pasang implan sekarang," jawabnya setengah manyun.


"Ya, kalau aku tidak memaksamu, kau tidak akan tau menjaga tubuhmu sendiri. Bagaimana kalau kamu hamil lagi? Rahmat masih satu tahun, shakilla masih sebulan. Bisa- bisa kamu hamil lagi kalau nggak langsung pakai KB," omelku.


Ayuni langsung tersipu saat aku mengomelinya begitu.


"Kak Raya ini .... Mana mungkin aku hamil lagi. Lagi pula sekarang Fuad jarang di rumah."


Aku mendengus kesal mendengar banyaknya alasan Ayuni. Fuad memang sekarang tinggal di kabupaten tempat dulu dia mencalon sebagai anggota legislatif. Kemenangannya di daerah itu membuat dia resign dari kantor walikota dan bekerja di sana. Sebenarnya Fuad pun sudah berencana memboyong Ayuni dan anak- anaknya pindah ke sana. Namun dikarenakan Shakilla, anak yang baru dilahirkan Ayuni bulan lalu masih kecil dan tidak begitu cocok dengan udara dingin di sana, niatnya sementra diurungkan. Fuad memilih untuk tinggal di sana dan pulang setiap weekend.


"Walaupun dia jarang di rumah kalau kebetulan dia tiba- tiba pulang dan mengajakmu berhubungan tanpa pengaman bagaimana? Udah deh, jangan ngeyel. Kalau aku bilang pasang ya pasang aja. Itu demi kebaikan kalian. Aku bukan melarangmu punya anak lagi. Punya anak setengah lusin pun tak masalah, asal di kasih jarak, Ayuni!" ocehku lagi.


"Hmm, iya Kak."


"Aku sudah menbuatkanmu janji dengan dr. Rieke. Dia yang akan memasangkan implan untukmu. Aku sebenarnya ingin memasangkannya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi. Ada beberapa proposal pengajuan kerja sama dari beberapa perusahaan farmasi yang harus aku periksa dan harus segera ku tanda tangani segera sebelum perwakilan mereka datang." kataku sambil menunjukkan kertas- kertas dan beberapa map dan sample obat di atas mejaku.


"Yah, aku kira aku dipaksa ke sini, Kak Raya sendiri yang mau tangani," katanya pura- pura kecewa.


"Hehehe, Maaf Ayuni," kataku terkekeh.


"Ya sudah, kemana aku harus menjumpai dokter itu kalau begitu?" tanyanya. "Tapi aku bisa titip Shakillah di sini sebentar nggak apa- apa kan, Kak? Dia juga tidur dan nggak akan ganggu Kak Raya kok. Tadi aku nitipin Rahmat sama Ummik. Aku nggak enak nitipin Shakilla juga, takut ngerepotin Ummik. Sementara Mama nungguin Nadya di sekolah. Kakak kan tau Mama sekarang terlalu protektif sama Nadya sejak saat itu?"


"Ya, nggak apa- apa. Dia bisa tidur di sofa sementara kamu pasang implan. Coba sinikan Shakilla!" kataku sambil meraih bayi mungil itu dari ibunya.


Ayuni menyerahkannya padaku. Ya Tuhan, dia mirip sekali Annisaku. Aku jadi tidak sabar menunggu hari lahiranku.


Aku mengecup pipi Shakilla dan mengelap bekas ciumanku di pipinya dengan jariku. Aku ingin sekali memiliki bayi perempuan. Tapi saat USG bayiku ternyata adalah laki- laki. Tapi tak apalah. Apa pun jenis kelaminnya aku akan sangat mensyukurinya saat ini.


"Sebentar lagi Kak Raya juga bakal punya," godanya padaku.


Ayuni benar- benar bisa melihat betapa besar hasratku ingin memiliki bayi.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Iya, perkiraan lahirnya mungkin sekitar dua mingguan lagi," kataku. "Ya sudah, kamu ke ruangan dr. Rieke sekarang! Kamu keluar dari sini lurus terus belok kiri. Ruangan kedua adalah ruangan dr. Rieke. Kamu bisa baca nanti plang namanya di atas pintu."


"Ya, sudah. Aku ke sana, ya Kak. Aku titip Shakilla dulu!" katanya sambil berlalu pergi dari ruangan ku.


Sepeninggalnya Ayuni, aku segera melanjutkan pekerjaanku setelah meletakkan Shakilla di sofa. Hingga beberapa menit berlalu aku mulai merasakan ingin buang air kecil. Akhir- akhir ini frekuensi buang air kecilku memang meningkat seiring semakin tuanya usia kehamilanku.


"Bunda tinggal sebentar sayang, ya!" kataku pada bayi mungil yang sedang tertidur pulas itu meski aku tau dia tidak akan menyahuti kata- kataku.


Lepas mengatakan itu aku segera ke toilet wanita yang hanya berjarak beberapa meter dari ruanganku tanpa sedikit pun kekhawatiran meninggalkan Shakilla di ruanganku. Apa yang perlu di khawatirkan? Rumah sakit ini cukup aman dan memiliki banyak CCTV. Dan keamanannya bisa kubuktikan sendiri. Aku tidak pernah kehilangan apa pun di sini meski aku sering meninggalkan ruanganku dengan barang berhargaku di ruangan ini dalam waktu yang cukup lama. Hanya saja untuk setiap ruangan dokter memang tidak semua memiliki toilet dalam seperti di rumah sakit Siaga Medika.


Usai buang air kecil, aku segera kembali ke ruanganku.


"Sayang, Bunda kembali," kataku setengah berbisik sembari membuka pintu. Namun ....


"Astaghfirullah, Shakilla, kamu dimana?" jeritku panik.


Aku segera mencari Shakilla di tempat dr. Rieke. Pasti Ayuni yang membawanya, pikirku panik.


"Ayuni, Shakilla mana?" tanyaku begitu aku membuka pintu ruangan dr. Rieke tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Ayuni melongo melihat kepanikanku. Sekian detik ia baru menyadari ada sesuatu yang buruk.


"Apa maksud Kak Raya? Nggak ada Shakilla di sini!" jawabnya panik.


"Ya Tuhan, dimana dia? Aku tadi meninggalkan dia ke toilet sebentar Ayuni ...." kataku merasa bersalah.


Ayuni langsung bangkit dan tidak menghiraukan lagi dr. Rieke yang belum selesai memasang implan pada lengannya.


"Jangan bercanda, Kak Raya!" katanya sambil menggoncang- goncangkan bahuku.


"Aku nggak bercanda Ayuni ...."


Tanpa menghiraukan kata- kata lanjutanku, Ayuni langsung bergegas keluar mencari Shakilla tanpa menghiraukanku. Aku jadi semakin panik karenanya. Aku bertanya pada setiap orang dan pegawai di situ apakah mereka melihat ada seseorang yang membawa keluar bayi dari ruanganku.


"Aku memang tadi ada melihat seorang laki- laki pakai topi membawa bayi, tapi aku nggak tau apa itu dari ruangan dokter atau nggak. Tapi arahnya memang dari sana dianya," kata seorang cleaning service.


"Terus, dia ke arah mana? Dia kemana?" desakku panik.


"Dia sepertinya berjalan ke arah tangga darurat, Dok!" katanya lagi.


"Apa lelaki itu masih muda?" tanyaku.


Aku sungguh berharap itu Fuad yang sedang memberi kejutan atau apalah.


"Sepertinya sudah cukup berumur, Dok. Sudah lumayan cocok menjadi seorang kakek," jawabnya lagi.


Ya Tuhan, apakah itu Waridi? Aku semakin panik. Aku harus menelepon seseorang. Mahfudz! Hari ini dia sedang tidak ada urusan di Ibu kota. Dia sedang mengurus urusan koasnya yang hampir selesai di kampusnya.


"Ya sudah, bisa tolong panggilkan beberapa orang security untuk memeriksa ke atas? Seseorang menculik keponakanku," kataku memohon pada cleaning service itu


"Baik, Dok. Akan segera saya panggilkan!" kata cleaning service itu.


"Yang cepat!" kataku memaksa.


Aku mengambil ponsel dari kantong jas putihku dan menghubungi Mahfudz sembari mataku mencari Ayuni. Dia pasti sedang mencari Shakilla ke setiap ruangan. Ya Tuhan, aku ceroboh sekali.


"Hallo sayang ...."


Suara lembut Mahfudz di seberang sana tak mampu menghilangkan kegelisahanku.


"Fud, Shakilla hilang. Seseorang membawanya dari ruanganku," kataku panik.


"Bagaimana bisa?!" tanyanya setengah berteriak.


"Tadi aku ...."

__ADS_1


Aku baru ingin menjelaskannya pada Mahfudz saat mendengar suara yang familiar sekali dari pengeras suara rumah sakit.


"Teruntuk dr. Raya! Hallo dr. Raya! Kau mendengarkanku? Kau pastinya sedang mendengarkanku. Itu pun kalau kau tidak tuli."


Astagfirullah, ya Allah! Itu suara Waridi. Aku tiba- tiba gemetar.


"Raya! Raya! Suara siapa itu?" Rupanya Mahfudz juga ikut mendengarkan dari sambungan telepon.


Aku tidak sempat menjawab karena suara itu kemudian terdengar lagi.


"Dr. Raya! Kalau kau tidak mau terjadi sesuatu pada bayi mungil ini, datanglah ke lantai paling atas tanpa ditemani oleh siapa pun. Tidak boleh ada security. Tidak boleh ada yang menelepon polisi! Hanya kau sendiri. Aku berada di balkon paling atas. Hallo! Hallo! Test! Test! Kau mendengarkanku dr. Cantik?"


Panik. Semua orang, bahkan pasien dan keluarga pasien yang tidak ada hubungannya dengan ini ikut panik. Beberapa staff dan security berdatangan ke ruanganku. Begitu pun Ayuni yang mendengarkan suara itu ikut berlari mendatangiku. Mereka menanyakan apa yang terjadi namun aku tak menggubrisnya.


"Kak Raya!" pekiknya.


Aku menelan ludah.


"Aku akan ke sana!" kata Ayuni dan akan beranjak pergi namun aku menahannya.


"Jangan!" larangku.


"Apa maksud Kakak jangan?" tanyanya gusar. "Dia anakku. Kalau dia mencelakai Shakilla bagaimana?!!" teriaknya.


"Dr. Raya! Apa yang kau tunggu? Datang ke sini sekarang! Ku tunggu sampai 5 menit, kamu belum sampai di sini, bayi ini akan ku lempar dari atas balkon ini."


Ya Tuhan! Aku terkesiap. Tanpa pikir panjang lagi aku segera berjalan terburu- buru menuju lift.


"Dr. Raya, jangan!" tahan salah seorang security.


"Maaf, Pak! Aku harus pergi! Jangan menghalangiku. Nyawa keponakanku dalam bahaya," kataku sambil mendorong security yang berusaha menghalangiku.


"Kita bisa panggil polisi, Dok."


"Dia bilang kita tidak boleh panggil polisi," kataku masih sambil mendorong beberapa orang yang mencoba menghalangi.


"Itu cuma gertakannya aja, Dok!" katanya mencoba menenangkanku.


"Jangan halangi aku. Minggir!" bentakku.


"Dokter!"


"Kak Raya aku ikut!" Kata Ayuni.


"Diamlah di sini, Ayuni. Aku akan membawakan Rahmat untukmu. Waridi hanya menginginkan aku yang datang. Lagi pula ini salahku. Kau di sini saja!"


"Tidak! Aku ibunya! Aku harus memastikan dia baik- baik saja!" jerit Ayuni.


"Tiga menit lagi," suara Waridi terdengar lagi membuatku tak ingin berdebat lagi dengan Ayuni.


Aku membiarkan Ayuni masuk ke lift bersamaku. Hingga kami sampai di lantai atas yakni lantai tiga, aku dan Ayuni segera mencarinya.


Aku tidak heran melihat Waridi keluar dari ruang kontrol CCTV. Rupanya dia telah memantau aku sedari tadi. Entah apa yang telah dilakukannya pada para staff di ruangan itu. Yang jelas dia gila!


"Aku ada di sini! Tolong kembalikan Shakilla pada Ayuni," pintaku.


"Ayuni? Kau di sini? Aku bilang hanya Raya yang boleh ke sini, kenapa kau ikut?" kecam Waridi dengan nada yang mengancam.


"Dia, dia anakku. Tentu aku akan ke sini demi dia. Tolong! Tolong lepaskan anakku, aku mohon! Tolong lepaskan dia! Aku akan melakukan apa saja!" ratap Ayuni memohon.


Waridi tertawa melihatnya.


"Kenapa kau takut sekali? Kau takut kalau suamimu akan membunuhku kalau kenapa-kenapa dengan anaknya? Dimana suami yang jagoan itu, heh? Di mana dia saat kau membutuhkannya? Aku juga masih dendam padanya!" kata Waridi jengkel.


"Aku, aku masih ada di sini! Kalau kau dendam padanya, kau bisa lampiaskan padaku!" kata Ayuni sambil menepuk- nepuk dadanya dengan tangan terkepal. "Tapi jangan sakiti putriku, aku mohon!"


"Kau tenang saja. Anakmu akan baik- baik saja asal kau penurut dan tetap berada di sini. Itu juga tergantung pada dokter cantik ini kooperatif atau tidak! Ikuti aku! Kita ke atas!" kata Waridi memanggilku dengan tangannya.


"Aku ikut," rengek Ayuni.


"Kau boleh ikut! Kalau kau mau anakmu ku lempar dari atas sana ke bawah!" ancam Waridi.


"Tidak! Tidak! Jangan lakukan itu!" Ayuni terisak- Isak mendengar ancaman Waridi


"Tenanglah, Ayuni! Aku akan memastikan kalau Shakilla akan baik- baik saja," kataku.


"Kakak! Bagaimana kalau dia mencelakai kalian berdua! Bagaimana kalau dia melukaimu?"


"Jangan khawatirkan aku!" Kataku meski pun sebenarnya aku sendiri sangat khawatir.


Apa yang diinginkan Waridi dariku? Apa dia akan membunuhku di atas sana? Atau dia akan memperkosaku? Bukankah dia pernah bilang kalau dia juga menyukai dan sangat berhasrat pada wanita hamil?


Mengingat hal itu aku jadi merinding namun tak punya pilihan lain lagi. Aku segera mengikuti Waridi.


"Kalau ada yang ingin naik ke atas, halangi! Jangan ada satu pun yang berani ke atas atau anakmu yang menanggung akibatnya," ancam Waridi pada Ayuni.


Ayuni mengangguk terisak.


"Ba- baik."


Aku berjalan dengan napas yang agak sedikit sesak ditambah lagi naik tangga membuat kakiku terasa keram. Aku tertatih menaiki anak tangga itu satu persatu. Hingga sampailah kami ke lantai 4. Di lantai ini baru terpasang rangka- rangka dan penyangga dari kayu.


Aku berusaha mengatur nafasku. Hembusan angin terasa begitu amat kencang di tempat ini.


"Baiklah, kita sudah sampai di sini. Tolong letakkan bayi itu, dan bicaralah apa yang kau inginkan," kataku sambil mengusap peluhku.


Waridi tidak menggubrisku, melainkan tetap berjalan hingga berada di paling pinggir lantai ini. Tiga langkah lagi dia maju dia pasti jatuh. Membuatku tambah takut.


"Sampai situ saja," teriakku panik.


Waridi tersenyum, kemudian terkekeh.


"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.


Dilihat dari posisi kami saat ini, dia tidak terlihat sedang ingin melecehkanku.


"Kau mau tau apa yang kuinginkan?" tanyanya balik.


Aku mengangguk.


"Kalau begitu mendekatlah, jangan takut anak manis," katanya membuatku merinding.


"Aku, aku akan mendekat tapi tolong letakkan dulu Shakilla di lantai. Aku takut kalian jatuh berdua ke bawah," kataku. "Tolong lepaskan dia, aku berjanji akan membiarkanmu pergi dan akan kularang orang- orang itu untuk mengejarmu nanti."


Waridi tertawa terbahak-bahak.


"Kau kira aku takut ditangkap dan diserahkan pada polisikah? Hey, dokter bodoh! Aku sudah kabur hampir setengah tahun dan tak ada satu pun dari polisi itu bisa menangkapku. Aku pun ke sini atas kemauanku sendiri. Jadi aku tidak butuh bantuanmu untuk membantuku kabur," katanya.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" desakku frustasi.


Waridi tidak langsung menghiraukan ku. Dia terlihat menatap wajah Shakilla yang tengah digendongnya itu. Entah cuma perasaanku saja, tapi dia seperti seorang bapak yang sedang menimang bayinya sendiri.


"Oh, jadi begini rasanya punya anak perempuan?" gumamnya. Dan aku mendengar gumaman itu.


Telah lama kami di sini, tapi tak kunjung ada perubahan apa pun. Aku sudah mulai lelah berdiri, sementara Waridi masih tetap asyik menatap dan bermain dengan bayi itu.


"Bayi itu lucu kan? Aku jadi penasaran, jika kau punya anak perempuan apa iya kau akan memakan anakmu sendiri seperti yang kau lakukan pada anak- anak angkatmu?" kataku sinis.


"Aku pernah punya anak perempuan," jawabnya datar.


Aku sungguh tidak tau ini. Ini membuatku heran.


"Ka- kau, kau memperkosanya?" tebakku geram.

__ADS_1


Waridi menggeleng.


"Tidak. Tapi aku membunuhnya. Aku membunuhnya beberapa saat setelah dia lahir," katanya acuh.


"Apaa?!!" teriakku mendengar pengakuannya.


"Aku tidak ingin dia menjadi korban kebrutalanku, saat dia sudah agak besar. Penyakit ini aku juga tidak mau. Tapi, dia selalu muncul dan tak bisa kukendalikan. Rasanya sangat menyiksaku," ujarnya.


Waridi terlihat sedih mengatakannya.


"Aku akan menceritakanmu sebuah dongeng yang tidak indah," katanya.


Lalu dari mulut lelaki tua itu aku mendengar cerita kehidupan Waridi kecil yang awalnya bahagia hingga suatu saat malapetaka itu datang. Dia melihat ayahnya melakukan sesuatu pada kakak kandungnya. Sesuatu yang membuat dia rusak psikologi hingga saat ini.


"Kenapa kau ceritakan ini padaku?" tanyaku.


"Aku hanya ingin bercerita, hanya itu. Aku bukan berharap pengertianmu. Dan, aku juga selalu merasa kalau takdir kita terhubung" katanya membuatku menjadi aneh mendengarnya .


"Kenapa kau tidak berobat ke psikiater?" tanyaku.


"Biar apa? Biar semua orang tau aibku?" tanyanya balik dengan sinis. "Lalu mereka menertawakanku, sebagian mengasihaniku. Seorang Waridi tidak mau diperlakukan seperti itu."


Aku mendengus kesal.


"Lalu sebenarnya, apa maumu padaku?" tanyaku.


Waridi lagi- lagi belum mau menjawab, hingga dari kejauhan kami mendengar suara sirene mobil polisi. Dia terlihat tenang.


"Mereka datang. Kau yang menelepon?" tanyanya dengan pandangan penuh selidik.


Aku menggeleng.


"Bukan aku, kau sendiri yang berteriak-teriak dengan pengeras suara hingga semua orang tau kau di sini. Mungkin saja security yang menelepon polisi," kataku.


Sesungguhnya aku merasa aneh. Ini seperti penyanderaan tetapi kenapa begitu santai? Seolah- olah aku sedang berbicara dengan seseorang yang kukenal baik.


"Pak Waridi! Kau mendengar kami? Tolong letakkan bayi itu. Lepaskan sandera, kita bisa bicarakan ini baik- baik.Jika Pak Waridi kooperatif, mungkin saja hukuman Bapak tidak akan berat, kami bisa menjamin itu!"


Suara seseorang dengan pengeras suara terdengar dari bawah.


"Polisi- polisi bodoh itu! Apa mereka pikir trik negosiasi akan mempan padaku?" gumamnya dengan senyum meremehkan.


"Pak Waridi, tolong bekerja samalah! Kami akan mengirim seseorang ke atas! Kita akan bicarakan ini baik- baik!"


"Jangan ada yang berani ke atas atau bayi dan dokter ini akan kulempar dari sini!" teriak Waridi kencang dan nyaring membuat Shakilla yang mendengarnya menjadi terkejut dan menangis.


"Jangan! Jangan lakukan itu!" teriak suara polisi itu dari bawah. "Katakan apa yang kamu mau, Pak Waridi?!! Kami akan menyiapkannya! Kamu ingin alat transportasi? Akan kami siapkan!"


Lagi- lagi Waridi tersenyum meremehkan.


"Baiklah, kita mulai sekarang. Aku akan mengatakan apa yang kumau," kata Waridi.


"Apa?" tanyaku dengan hati yang berdebar.


"Kalau aku tertangkap lagi, yang kudengar, mungkin aku akan dihukum mati. Atau setidaknya hukuman seumur hidup. Aku tidak mau dihukum mati," katanya.


Dalam hatiku aku menertawakannya. Ternyata ******** tua ini takut mati juga rupanya!


"Kau bisa sewa pengacara terbaik mungkin agar kau bisa lolos dari hukuman itu. Apa gunanya menjadikan kami sandera. Itu sama sekali tidak berpengaruh pada hukum," kataku.


"Aku ingin kamu yang membunuhku."


Kata- kata itu membuatku seperti disambar petir. Apa maksudnya dia?


"Aku memberimu kehormatan itu. Tidak sembarang orang boleh melukaiku apa lagi membuatku mati. Kalau pun aku harus mati. Aku sendiri yang memilih cara kematianku sendiri. Aku mau dieksekusi olehmu."


"Kau benar- benar psikopat," desisku. "Kau begitu terobsesi denganku?"


"Iya!" jawabnya dengan tawa menyeringai.


"Kalau kau ingin mati, kenapa bawa- bawa aku? Matilah sendiri sana! Lompat sendiri!"


"Baik, aku akan melompat, tapi bersama dengan keponakanmu tersayang ini," katanya datar.


"Ja- jangan!" teriakku.


"Baiklah, lalu terimalah ini," katanya sambil melemparkan sebuah pisau kecil padaku


Aku menangkapnya.


"Ingat! Kau yang membunuhku, atau anak ini yang akan ku bunuh?"


"Kau gila! Kenapa kau lakukan ini?" teriakku.


"Karena kau adalah musuhku. Nama baikku hancur berkat kau dan keluargamu. Semua ini berawal darimu dr. Raya! Maka harus diakhiri olehmu. Hidupku sudah begini dan hidupmu juga aku tidak mau baik- baik saja. Aku mau kau mengingatku sebagai orang yang pernah kau bunuh, bukankah hukuman itu akan menyenangkan untukmu?"


"Kau sinting!"


"Mendekatlah!" suruhnya tanpa peduli makianku. "Atau aku akan menjatuhkan diri bersama anak ini"


Aku tidak punya pilihan lain selain mengabulkan permintaan Waridi, aku mendekat hingga kami kini berhadapan!


"Tikam aku!" perintahnya.


Aku ragu. Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku melakukan ini?


"Lakukan! Atau ...." Waridi membuat gerakan seperti seakan akan membuang Shakilla


"Tunggu, tunggu! Jangan! Akan kulakukan. Tapi Shakilla, letakkan dulu.


Waridi meraih pergelangan tanganku yang mencengkram pisau. Tanpa melepaskan tanganku dia menunduk dan meletakkan Shakilla di lantai lalu kemudian berdiri tegak lagi. Lalu dia membimbing tanganku menghunjamkan pisau itu sedalam- dalamnya ke arah dadanya.


"Argghhh!!!! Tidak!!!!"Jeritku.


Lalu cairan berwarna merah itu pun terlihat mulai membasahi bajunya. Waridi tersenyum padaku. Senyum kemenangan sembari mencoba menahan sakit. Pisau itu masih menghunjam di dadanya namun dia belum melepaskan pergelangan tanganku, meski aku sudah melemaskan jari- jariku agar tak menggenggam pisau itu.


"Raya!!!!" teriak seseorang hingga membuatku menoleh ke belakang.


Di belakangnya Mahfudz juga ada banyak polisi yang berdatangan ini menolongku dan Shakilla.


"Ka- kau ter- lam- bat," kata Waridi terlambat.


"Kau jangan berani menyentuh Raya! Lepaskan dia!" bentak Mahfudz.


"Ka-u tidak lihat? Istrimu yang membu-nuhku?"


"Apa maksudmu?" tanya Mahfudz.


Dia mencoba mendekati kami.


Waridi tersenyum penuh kemenangan. Lalu tanpaku duga dia menarik pergelangan tanganku hingga aku mengikutinya yang berjalan mundur.


"Pak Waridi! Tolong lepaskan sandera!" teriak salah seorang polisi lagi.


Waridi tak menghiraukan mereka.


"Sekarang ...." gumamnya pelan.


Waridi sedikit menyentak tanganku yang kusalahartikan seolah ingin menarikku agar ikut jatuh bersamanya. Tanganku respon mendorongnya dan ....


"Argghhhhhh!!!!!"


Beberapa detik berikutnya aku mendengar suara terhempas di bawah sana dan Waridi tak ada lagi di hadapanku. Aku yang sedikit fobia pada ketinggian mencoba merangkak dan mengintip dari atas pinggir gedung ini ke bawah. Dia, Waridi ada di sana. Dia jatuh! Aku mendorongnya! Aku membunuhnya, ya Tuhan!

__ADS_1


__ADS_2