I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
VVIP Bougenville


__ADS_3

"Masuk!"


Perawat pria yang tadi mengetuk pintu masuk setelah kupersilahkan.


" Dokter Raya di panggil ke ruangan Bougenville VVIP, sekarang dok!"


Aku mengernyitkan kening "Yang panggil siapa?"


"Dr. Ali, dok! Ada tamu penting yang mau bertemu dokter."


"Siapa?"tanyaku ragu-ragu.


Apakah mungkin..


"Ada pak wakil walikota Waridi datang melihat pasien Ayuni"


Aku menggigit bibirku. Di bawah meja tanganku gemetar. Aku berusaha menyembunyikan ketakutanku.


"Ya, sudah sebentar lagi aku ke sana"kataku.


Aku teringat pada sosok lelaki yang dipuja-puja masyarakat itu. Sosok wakil pemimpin yang katanya dermawan dan penyayang tapi dibalik itu ternyata psikopat. Masih ku ingat bagaimana dia mengaku kalau dialah yang berusaha membunuh Ayuni, dia juga yang membenturkan kepalaku ke meja hingga darah berceceran dari hidungku. Lelaki kasar yang tidak jadi menemuiku di area penculikan itu namun malah menjebakku dan merusak nama baikku, kini malah menemuiku di rumah sakit ini.


Beberapa kali aku mondar-mandir sendirian di ruangan ini sebelum memutuskan untuk menemuinya.


Aku membuka pintu saat ada chat WA masuk. Ada chat dari Mahfudz.


[Jangan menemuinya]


Aku mengabaikan pesan itu. Lalu menutup pintu.


Di luar aku bertemu Mahfudz dan Abidzar teman koasnya. Dari raut wajahnya ia terlihat khawatir. Namun tak ku pedulikan.


"Dok.." Mahfudz berusaha menahanku.


Aku tetap berjalan pergi tak menghiraukan dia.


Dua ruangan sebelum VVIP Bougenville, aku bertemu dengan Akbar, anak buah atau mungkin juga orang kepercayaan Waridi yang pernah hampir membantuku ketika diculik.


"Aku berharap suatu saat kamu akan datang ke sini mencariku untuk membantumu mendapatkan pekerjaan baru yang halal untuk menghidupi anak istrimu, tapi ternyata kita bertemu lagi di sini, dan kamu masih jadi anak buah orang bejat itu"kataku sinis dengan nada pelan.


Akbar menunduk. Tak menjawabku.


"Aku cukup tersentuh saat kamu berniat membantuku di hari itu, aku kira karena namaku Raya dan namamu Akbar memiliki arti yang sama yaitu besar, aku harap kamu adalah orang yang berjiwa besar dan kita dipertemukan untuk saling membantu. Ternyata....kamu pun sama saja dengan Tuanmu itu. Kamu tidak mungkin tidak tahu kan rencana Waridi menjebakku?Ah...atau memang kamu juga yang ditugaskan mengatur semua kondisinya sedemikian rupa, sehingga orang-orang melihatku sebagai orang mesum yang tidur berdua dengan mahasiswa koasku?"


"Dokter..."


"Sebenarnya untuk apa kamu melakukan itu semua? Demi uang? Aku memang tidak sekaya wakil walikota brengsek itu.Tapi kalau kamu meminta uang padaku untuk kebutuhan keluargamu mungkin aku bisa bantu. Tapi apa? Kalian membuatku sangat malu sekarang. Apakah Waridi puas?Apakah kamu juga?"


Aku menatap orang di hadapanku ini dengan kecewa. Aku menggeleng-gelengkan kepala menyesali kebodohanku percaya pada seseorang yang baru pertama kali ku temui.


"Tolong hapus nomor hpku yang sudah terlanjur ku save di kontakmu. Biasanya aku tak memberi nomor hpku ke sembarang orang"kataku kesal.


Akbar tetap tak bergeming, tak menjawabku sama sekali. Dan itu malah membuatku tambah kesal.


Pintu VVIP Bougenville dibiarkan terbuka, aku langsung masuk tak mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Dr. Raya..." Ali menyambutku."Wah, senang melihatmu lagi dalam kondisi sehat kayak begini"kata Ali.


"Yah..."kataku malas.


"Pak, ini dokter Raya. Dr. Raya ini Pak Waridi, kamu kenal beliau kan?"


Dokter Ali berusaha memperkenalkan kami.

__ADS_1


"Ya. Tentu saja aku kenal. Siapa yang tidak dengan bapak wakil walikota yang terkenal ramah dan penyayang pada rakyatnya."kataku sarkas sambil mengulurkan tangan mengajak Waridi berjabat tangan denganku.


Waridi menerima uluran tanganku dengan pandangan tajam. Aku sempat mengedipkan mataku beberapa kali menahan rasa takut di diriku. Aku harus berani. Aku tidak boleh terintimidasi oleh kehadirannya.


"Dr. Raya ini beberapa hari ini diculik, pak. Tapi kata professor kasus ini adalah kasus serius yang susah ditangani karena melibatkan seorang pejabat. Andai bapak bisa bantu untuk mengungkap kasus ini melalui kekuasaan bapak, kami pasti sangat berterimakasih sekali. Dr. Raya ini adalah dr. Obgyn andalan di rumah sakit ini, Pak" bisik Ali pada kalimat terakhirnya.


"Oh ya?"kata Waridi pura-pura terkejut. Lalu dia tertawa ramah. Terdengar renyah dan enak di telinga yang mendengarnya.


"Benar, Pak, dr. Raya ini andalan di departemen Obgyn. Jadi bisa dibayangkan selama beliau diculik, betapa kacaunya keadaan rumah sakit ini. Lagi pula dia dokter kesayangan Professor Ayyub."


"Wahahahaha!Wah, dokter yang sangat hebat dan berbakat pastinya. Berarti putriku Ayuni sudah berada di tangan yang tepat kalau begitu, jadi siapa pejabat yang menculik anda dr. Raya?"


Aku menatapnya tajam. Rasanya aku ingin sekali memakinya dan membeberkan semua yang terjadi di hadapan istrinya dan Ali.


Aku tersenyum. "Saya tidak ingin membahas itu saat ini, pak!Saya percaya kebenaran akan selalu menemukan jalannya."


Dia balas tersenyum sinis seakan menantangku. "Oh, pasti!Itu sangat benar sekali. Pejabat itu pasti akan menerima balasannya suatu saat nanti"


Menyebalkan, makiku dalam hati.


"Jadi, bagaimana kabar pasien Ayuni, dr. Ali?"tanyaku. "Aku baru masuk hari ini, jadi belum sempat periksa keadaannya."


"Secara keseluruhan kondisinya baik. Paru-paru dan organ tubuhnya yang lain sudah kembali stabil, janinnya juga sempat diselamatkan, karena obat tukak lambung yang diminumnya kemarin masuknya ke paru jadi tidak sempat masuk ke pencernaan, jadi efeknya tidak sampai ke janin"


"Apa??Jadi benar saya akan punya cucu juga?Alhamdulillah, ini kabar baik, mah..."kata Waridi sambil memeluk istrinya.


Astaga, lihat akting lelaki tua bangka ini, umpatku dalam hati. Itu anakmu lelaki biadap!!!


Sudut mataku menangkap ada yang ganjil dari Ayuni. Sepertinya ia sedang tidur, namun aku melihat tangannya terkepal seperti gemetar.


"Apa benar, dok, Ayuni sesuai pemeriksaan mengalami kekerasan seksual?" Kali ini istrinya Waridi angkat suara. " Kami mendapat beritanya dari media saat di singapore, dan saat itu kami ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi kami tetap harus stay di sana selama beberapa hari, jadi tidak bisa langsung melihat Ayuni."


Aku tersenyum menyimak cerita Bu Waridi. Aku tidak tau apakah dia terlibat atau memang tidak tahu sama sekali kelakuan suaminya.


Mereka manut saja mengikutiku ke luar.


"Kamu juga, Li" tegurku pada Ali. "Tya membutuhkanmu, apa kamu jarang memperhatikan istrimu sekarang? Dia bicara ngawur padaku tadi."


"Bicara apa?"tanya Ali.


Aku menepuk pundak Ali, "Coba kamu temui dia"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Bu, Pak, saya harus melihat kondisi istri saya dulu, kebetulan istri saya juga di rawat di sini"kata Ali sambil berjabat tangan dengan Waridi dan istrinya.


"Oh, ya? Sakit apa?"tanya Bu Waridi prihatin.


"Komplikasi Bu, habis lahiran"


"Ohh..."


Usai menjawab pertanyaan Bu Waridi, Ali segera meninggalkan kami.Waridi juga pamitan meninggalkan kami untuk mengurus ulang administrasi dan pembayaran rumah sakit.


"Mamah, tungguin Ayuni di sini aja ya. Papah mau ngurus ulang administrasi dan pembayaran di rumah sakit"katanya sambil melirik padaku. Mata itu seolah mengancam padaku.


Aku balas melihatnya seolah aku tidak takut. Ya, kenapa aku harus takut? Aku sedang berada di lingkungan kerjaku sendiri.


Sepeninggalan Waridi dari hadapan kami, Bu Waridi melanjutkan ceritanya.


"Ayuni itu anak yang kami angkat sejak umur 12 tahun"katanya."Kami mengadopsinya dari panti asuhan. Saya sendiri yang memilih Ayuni sebagai anak. Sebelumnya kami juga memiliki beberapa anak asuh yang lain, salah satunya Rini, dia juga perawat di rumah sakit ini."


"Oh, ya, perawat di bagian apa, Bu?" aku mulai tertarik.


"Entahlah, saya kurang tau. Dia jarang bertemu dengan saya. Dia memang berbeda dengan Ayuni. Ayuni, sejak diadopsi memang tinggal dengan kami. Kalau Rini, kami hanya orang tua asuh. Kami dulunya ikut GN-OTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) hanya sekedar memfasilitasi biaya hidupnya dan pendidikannya. Tapi dia tetap tinggal di panti asuhan dengan adiknya."

__ADS_1


Aku menunggu Bu Waridi bercerita dengan sabar. Kami berdua duduk di bangku panjang di depan ruang Ayuni di rawat.


"Ayuni, usianya masih 20 tahun. Tapi dia sudah menikah beberapa bulan yang lalu, bapak yang mencarikan calon suaminya. Kebetulan dia anak relasi bapak yang berkewarganegaraan Vietnam."


"Wow, jodoh yang sangat jauh."celutukku.


Bu Waridi mengangguk. "Ya, tapi entah kenapa rumah tangga mereka tidak baik, padahal baru beberapa bulan menikah. Kami juga kaget dengan berita dia melakukan percobaan bunuh diri seperti ini, apalagi sedang hamil dan mengalami kekerasan seksual. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Ayuniku. Tidak mungkin suaminya pelakunya, karena suaminya sudah kembali ke Vietnam bulan lalu. Apa dia punya kekasih lain? Apa orang lain yang melakukan ini?Sungguh biadap pelakunya. Aku tidak akan memaafkannya jika aku tau siapa orangnya."umpat bu Waridi.


Aku hanya terpaku mendengar kemarahan Bu Waridi. Andai kamu tau, Bu..Suamimulah pelakunya."


\*\*\*\*


Bu Waridi kembali masuk ke kamar Ayuni sebelum aku meninggalkan tempat ini. Aku mulai mengingat-ingat cerita Bu Waridi, mencoba menyimpulkan sesuatu dari informasi yang ku dapat. Bahwasanya mereka punya anak asuh bernama Rini yang berprofesi perawat di rumah sakit ini. Siapa dia? Apa dia ada hubungannya dengan kasus ini?Aku juga heran bagaimana mungkin Waridi bisa melakukan hal keji itu di saat semua orang tahu dia ada di singapore, dan di saat bersamaan dia ada di negara ini.


Di saat aku sedang memikirkan semua itu tiba-tiba ada yang menarikku dengan kasar, menjambak jilbabku dan mendorongku ke dinding. Tidak salah lagi, dia Waridi.


"Kau, aku sudah bilang padamu! Jangan main-main denganku. Aku memberimu waktu untuk berpikir dan melakukan kesepakatan denganku. Tapi kamu ngomong apa ke istriku?Kamu bercerita kalau aku menculikmu?Kamu bilang kalau aku yang menghamili Ayuni?"


Dia mencekikku, sampai aku hampir kehabisan nafas. Aku menggeleng.


"Jangan bohong kamu!!!"


Waridi makin mengencangkan cengkramannya di leher dan rambutku yag ditutupi hijab.


"A..ku.. ti..dak..uhuk... cerita..."


Aku ingin sekali berteriak. Tapi aku tak punya kekuatan dan tempat VVIP ini memang tempat sepi karena jauh dari lalu lalang pasien. Pelayanan maksimal untuk pasien yang butuh ketenangan dan sudah membayar mahal menyebabkan area ini terlalu sepi.


Di tengah kesulitanku menghadapi kekuatan Waridi. Tiba-tiba Mahfudz datang. Bak sedang berada dalam dunia sinetron, dia langsung mendorong Waridi sekuat-kuatnya dariku. Memukul bahkan menendang wakil walikota brengsek itu.


"Baang...sat...ajinga...amu..a..mu cu...ma be ra...ni.. a.ma..pe..rem..pu..an"


Mahfudz kembali ingin memukul Waridi, namun Waridi sigap menangkap tangan Mahfudz ke belakang. Dan membenturkan kepala Mahfudz berulang kali ke tembok.


"Bocah kurang ajar!!Kau pikir kau siapa berani memukulku?"


Waridi menatapku yang ketakutan.


"Oh...Dia pacarmu yang gagu? Yang sok jadi pahlawan ingin menyelamatkanmu kemarin? Kau lihat, aku juga akan memberikan pelajaran pada anak ini"


Waridi kembali membenturkan kepala Mahfudz ke tembok.


"Tidak!!!Lepaskan dia!!Kalau tidak aku akan memanggil security ke sini" teriakku sambil mencoba menolong Mahfudz.


Aku mencoba menarik Mahfudz dari lelaki ******** ini. Namun tenaga seorang wanita tidaklah berdaya menghadapi tenaga seorang lelaki. Aku malah terdorong hingga jatuh ke belakang.


"Kamu mau panggil security??Panggillah. Aku bisa menuduh kalian mojok sedang berbuat mesum di tempat sepi kayak begini."katanya sambil tertawa.


Entah tenaga apa yang dimiliki Mahfudz mendengar Waridi bicara seperti itu membuatnya gusar dan berhasil membalikkan posisi. Kali ini Mahfudz lagi yang memukuli Waridi dan menendangnya seperti orang kesetanan. Mungkin Waridi akan jadi pasien di rumah sakit ini kalau Akbar tidak keburu datang menolongnya.


"Sudah, sudah, Pak! Kita sedang berada di rumah sakit. Banyak wartawan di luar."kata Akbar memperingatkan.


"Bunuh aja dia, Bar! Aku pengen dia ******. Harusnya kemarin bunuh aja kedua orang ini, lalu buang mayatnya di hutan!!!"


"Sudah.. Sudah pak.. Lain kali aja kita bereskan" kata Akbar mencoba menenangkan Waridi.


Waridi mencoba berdiri di bantu Akbar.


"Kau!!!"tudingnya pada Mahfudz. "Aku tidak akan memaafkanmu atas kejadian hari ini. Akan kupastikan kau menyesal!"ancamnya.


"Kaau!!!.. ja..ngan.. be..ra...ni.. ang..gu dok..ter..ra..ya.." balas Mahfudz menantang Waridi.


"Sudah..sudah, Fud, Ayo kita pergi dari sini" kataku sambil menarik tangan Mahfudz dan mencari jalan lain yang tidak di lewati Waridi.

__ADS_1


__ADS_2