I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Pemasangan IUD


__ADS_3

"Kau yakin ingin memakai IUD?" tanya dr. Gayatri mengernyitkan keningnya padaku.


Aku mengangguk.


"Cuma butuh kurang lebih satu tahun saja agar rahimmu siap mengandung lagi, Ray. Bahkan kau sudah menjalaninya selama 2 bulan. Kenapa harus pakai spiral? Suntik saja kan cukup?"


"Malas pakai KB yang hormonal dan lagi ribet, Dok. Terus harus kembali lagi secara berkala. Biarlah, saya malas ribut sama Mahfudz. Toh tahun depan bisa saya lepas, kalau memang sudah boleh," jawabku sambil melirik Mahfudz yang menemaniku pasang KB spiral di rumah sakit Siaga Medika.


Dr. Gayatri melihat ke arahku kemudian mengangguk- angguk.


"Ok, kalau begitu aku mau mengajukan pertanyaan standar padamu, Ya. Kamu sedang tidak hamil kan? Atau kita perlu tes urin dulu, untuk memastikannya?"


Aku tertawa kecil dan menatap Mahfudz jengkel.


"Ya, nggaklah, Dok. Mana mungkin aku hamil kalau nggak ada yang mau hamilin." kataku kesal yang dibalas dengan juluran lidah oleh Mahfudz. Dia benar- benar mengolokku atas kejadian tadi malam.


Oh, memalukan. Padahal aku sudah membuang urat maluku dan bersikap agresif padanya. Ternyata semuanya sia- dia. Sepertinya dia sudah tau apa yang kurencanakan. Mahfudz bahkan sudah menyiapkan alat kontrasepsi pria untuk mengantisipasi kalau sewaktu- waktu dia tak bisa menahan hasratnya.


"Sabar, Ya .... Semua akan indah pada waktunya," bujuk dr. Gayatri.


Dan aku hanya tersenyum kecut mendengarnya.


"Baiklah, kamu berbaring sekarang. Win, kamu bantu saya!'


Winda menyiapkan alat- alat yang diperlukan untuk pemasangan IUD untukku.


"Gimana kabarmu, Win? Sehat?" tanyaku.


Pada akhirnya dr. Gayatri tidak perlu repot- repot mencari asisten baru untuk menggantikan Rini. Dia menarik Winda untuk dijadikan asistennya.


"Baik, dokter. Dr. Raya, apa kabar? Kenapa nggak pernah main ke sini? Kami kan rindu juga pada dokter," katanya tulus.


Aku cuma tersenyum. Selama dua bulan ini aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Aku tidak pernah kemana pun. Aku sangat terpukul karena kehilangan Annisa. Ini pun, kalau bukan karena Mahfudz yang memaksaku untuk pasang KB, aku masih malas keluar rumah.


"Aku juga rindu pada kalian, Win."


"Kalau begitu, kenapa dokter nggak kerja lagi di sini? Posisi dokter masih kosong kok. Malah, dengar- dengar dr. Samuel sepertinya akan dimutasi ke RSIA Satya Medika. Artinya nanti Sp. OG di sini tinggal dr. Gayatri. Bakal nggak bisa nanganin pasien, kalau Sp.OG-nya cuma satu. Ya kan, Dok?" celutuk Winda.


Dr. Gayatri mengiyakan.


"Benar kata Winda, Ya. Kenapa kamu nggak kerja lagi aja? Itu bisa mengalihkan pikiran- pikiran negatif pasca kejadian kemarin."


Aku yang kini tengah berbaring dan memulai proses pemasangan IUD mulai gelisah saat dr. Gayatri mulai memasukkan dua jarinya ke jalan lahirku dan tangan satunya memegang perutku. Dr. Gayatri ingin mengetahui kondisi dan pergerakan rahim di tubuhku.


"Rileks, Ya," kata dr. Gayatri saat aku merasakan spekulum mulai dimasukkan ke dalam organ kewanitaanku.


Alat ini juga biasa disebut cocor bebek, berfungsi untuk melebarkan v*gina agar terbuka lebar. Setelah itu proses awal yang perlu dilakukan dalam pemasangan IUD adalan membersihkan v*gina dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi.


Aku bisa merasakan sedikit nyeri seperti digigit semut saat dr. Gayatri mulai menyuntikkan anastesi lokal ke leher rahim, agar aku merasa tidak nyeri sepanjang proses pemasangan IUD. Sementara itu tenaculum (alat penstabil serviks) pun di pasang.


Kemudian setelah ini aku tau sebuah alat steril yang disebut uterine sound atau aspirator endometrium juga akan dimasukan untuk mengukur kedalaman rahimku. Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa pemasangan IUD bisa dilakukan hingga kedalaman 6-9 cm. Jika kedalaman rahim kurang dari 6 cm, maka IUD tidak boleh dimasukkan. Selain untuk mengukur kedalaman rahim, utetine sound juga berfungsi untuk mengetahui arah kanal rahim.


Selain itu proses ini dilakukan juga dengan tujuan untuk menghindari risiko terdapat lubang pada rahim karena pemasangan IUD. Biasanya, kondisi ini mungkin terjadi saat cara pasang KB spiral yang dilakukan salah.


Saat proses ini berlangsung, dokter akan memastikan untuk menghindari kontak langsung dengan v*gina. Alat yang digunakan untuk mengukur memiliki ujung yang berbentuk bulat sehingga kemungkinan terdapat lubang karena alat ini pun kecil.


"Ya, jangan tegang! Jangan dijepit!" perintah dr. Gayatri.


"Risih, Dok ...." rengekku.


"Risih, risih .... Kayak sama siapa aja. Paling juga kalau sama Mahfudz, kamu buka tuh lebar- lebar. Apa perlu Mahfudz aja nih yang pasangin?" kata dr. Gayatri yang mulai kesal karena aku tidak bisa rileks.


Wajahku memanas dan merona malu mendengar kata- kata dr. Gayatri. Sementara Winda terdengar tertawa terkekeh.


"Dokter!" jeritku protes. "Kenapa harus ngomong begitu? Malu tau!!!"


"Diam makanya. Rileks, jangan tegang! Susah kalau kamu begini. Ini kan demi kepentingan kamu dan lakimu juga." kata dr. Gayatri menepuk pahaku.


Ya, ampun. Aku benar- benar malu sekarang. Aku bukan malu pada dr. Gayatri atau pun Winda, tapi aku malu pada kelakuan agresifku tadi malam pada Mahfudz. Saat kulirik pria yang juga adalah suamiku itu sedang mengedip nakal padaku.


Sialan, Mahfudz. Kalau bukan karena ingin melancarkan misiku, aku tidak mau melakukan proses pemasangan IUD, kalau harus pakai KB, aku akan pakai jenis dan metode yang lain.


Setelah kedalaman rahim diketahui, dr. Gayatri mengeluarkan sound uterine. Dr. Gayatri dan Winda menyiapkan IUD berbentuk T, yang dibengkokkan bagian lengannya. Kemudian, IUD itu dimasukkan pada inserter khusus berupa tabung yang akan dimasukkan lewat organ kewanitaanku.


Setelah sampai di kedalaman rahim yang tepat, IUD akan didorong keluar dari tabung. Bagian lengan IUD yang bengkok akan kembali ke arah semula membentuk huruf T. Setelah itu, inserter, tenakulum, dan spekulum akan dikeluarkan dari v*gina.


"Beres," kata dr. Gayatri.


Aku masih saja merona malu saat aku memakai pakaian dalamku kembali.


"Berikutnya, kamu udah tau sendiri kan. Apa yang harus dilakukan, Ya. Cek dengan rutin posisi benangnya."


Aku mengangguk.


"Dan kamu, Fud. Jangan digass poll dulu Raya-nya malam ini, tunggu lah sampai besok, biar lebih amannya lagi lusa," kata dr. Gayatri mengedipkan mata padaku yang disambut kekehan Mahfudz.


"Dokter, apaan sih?!" protesku pada dr. Gayatri yang tak henti- hentinya menggodaku.


Usai dari memasang IUD aku dan Mahfudz berjalan bersama ke ruangan Professor Ayyub.


"Ka-mu nggak a-pa- a-pa?" tanya Mahfudz.


Aku mengangguk. Memang aku merasa sedikit kram sekarang, tapi aku merasa itu bukanlah masalah serius. Itu efek yang wajar terjadi setelah pemasangan IUD. Paling akan hilang besok.


Mahfudz merangkulku erat sambil berjalan.


"A-ku ti-dak me-la-rang-mu ker-ja, ka-lau ka-u ma-u ker-ja, Ray. Terus terang saja, a-ku du-lu sem-pat me-la-rang-mu ker-ja se-la-in ka-re-na ka-mu se-dang ha-mil, i-tu ka-re-na a-ku ju-ga cem-bu-ru pa-da A-li, se-men-ta-ra wak-tu i-tu a-ku su-dah ti-dak ko-as la-gi di si-ni" aku Mahfudz jujur.


Aku menghentikan langkahku sejenak dan memandangnya. Dan dia ikut berhenti.

__ADS_1


"Terus, memangnya kalau sekarang kamu nggak cemburu? Kamu kan nggak koas di sini? Terus di sini masih ada Ali," tanyaku.


Sebenarnya aku masih tidak berniat ingin bekerja. Soal hamil, aku masih ingin memperjuangkannya walau tanpa persetujuan dan sepengetahuan Mahfudz. Memasang kontrasepsi spiral ini adalah termasuk bagian dari rencana ku yang dia tidak tahu. Aku khawatir kalau aku bekerja. Rencanaku untuk hamil terwujud dan berakhir aku tak bisa menjaga kandunganku lagi.


"Ka-li-an su-dah be-rak-hir. Dan a-ku per-ca-ya pa-da-mu, Ray!"


Aku mengangguk- angguk. Aku juga memang punya keyakinan yang sama, kalau kali ini Ali benar- benar sudah melupakan aku.


"Tapi, Fud! Saat ini aku benar- benar tidak ingin bekerja. Aku ingin di rumah saja." tolakku.


"Ka-lau ka-u di ru-mah te-rus, ka-u a-kan me-mi-kir-kan An-ni-sa sa-ja, ka-lau ka-u a-da ak-ti-vi-tas ka-u ti-dak a-kan ber-la-rut- la-rut da-lam ke-se-di-han," bujuknya.


Aku terdiam. Meski Annisa tidak sempat kurawat dan besarkan, tapi aku sempat melahirkannya seperti ibu lainnya, dia sempat juga bernyawa dan tubuh dalam tubuhku. Apa salah kalau seorang ibu memikirkan anaknya?keluku dalam hati.


Mahfudz yang melihat perubahan sikapku merasa tidak enak hati.


"Ba- ik- lah, sa- yang. A- ku ti- dak me- mak- sa mu be- ker- ja. Se- mu-a kem- ba- li pa-da ke-i-ngi-nan-mu, ka-u ma-u be-ker-ja a-tau di ru-mah sa-ja, a-ku a-kan se-la-lu men-du-kung-mu. Ha-nya sa-ja, a-ku mo-hon, kem-ba-li-lah ja-di Ra-ya yang du-lu. A-ku ti-dak su-ka ka-mu se-dih dan mu-rung te-rus." bujuknya.


Aku menatapnya. Dia terlihat serius. Apa memang selama dua bulan ini, aku semurung itu?


Pada akhirnya aku mengangguk. Aku juga tak ingin Mahfudz sedih karena terlalu memikirkanku.


"Mes-ki be-gi-tu ki-ta te-tap ha-rus ber-te-mu Pro-fes-sor mum-pung ki-ta a-da di si-ni. Ka-mu ma-u kan?" tanyanya yang segera kujawab dengan anggukan.


"Assalamualaikum." Aku memberi salam sambil mengetuk pintu ruangan Professor Ayyub.


"Waalaikumsalam," jawab beberapa orang dari ruangan itu yang cukup membuatku kaget. Ternyata Professor Ayyub sedang ada tamu.


"Eh, Professor. Maaf kami nggak tau kalau Professor sedang ada tamu." kataku sungkan.


Semakin sungkan saat aku melihat siapa dua orang yang berada di kantor Professor Ayyub. Dia adalah Ali dan seorang wanita familiar uang rasanya aku cukup kenal walau tidak akrab.


"Dr. Raya! Mahfudz! Wah, ada tamu dari jauh ini. Masuk, masuk!" kata Professor mempersilahkan.


Aku menatap Ali dan Marhamah bergantian.


"Nggak apa- apa, Prof. Kami pulang saja. Silahkan dilanjutkan saja. Kami tidak enak mengganggu, sepertinya ini pertemuan keluarga," tolakku dengan sopan.


Aku ingat terakhir Ali mengatakan kalau professor ingin menjodohkannya dengan Marhamah. Aku benar- benar tidak enak hadir di saat yang tidak tepat.


"Kau dan Mahfudz juga seperti anak bagiku, Raya. Masuklah. Mahfudz, ayo masuk!" perintah professor dengan nada memaksa.


Mahfudz tersenyum dan merangkul pundakku, mengajak masuk. Sementara aku masih merasa tidak enak karenanya.


"Ayo, duduklah. Kau mau minum apa? Mahfudz?"


"Nggak usah repot- repot, Prof. Kami cuma sebentar. Kebetulan tadi saya ada janji dengan dr. Gayatri, terus menyempatkan diri untuk mampir ke sini."


Professor manggut- manggut.


"Bagaimana kabarmu? Kamu sudah merasa sehatan? Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Professor dengan nada yang sangat peduli padaku.


"Alhamdulillah, Prof!" jawabku. "Professor bagaimana? Sehat?"


Membuat aku dan Mahfudz ikut tertawa. Namun Ali dan Marhamah memilih untuk diam saja.


"Maaf Mahfudz, saya cuma bergurau," kata Professor Ayyub di antara gelak tawanya.


Mahfudz cuma tersenyum. "I-ya, Prof. Sa-ya ta- u."


"Bagaimana kabar koasmu? Kamu koas dimana sekarang? Saya juga jarang ke kampus. Jadi kurang tau perkembangan FK."


"Sa-ya ma-sih di Har-kit, Prof. Sta-se fo-ren-sik. Al-ham-du-lil-lah lan-car sa-ja, Prof. Ha-ri i-ni li-bur, ma-ka-nya sa-ya a-jak Ra-ya ke si-ni se-ka-li-an ber-te-mu Pro-fes-sor."


Professor Ayyub mengangguk- angguk. Sementara aku sempat menangkap pandangan heran dari Marhamah. Aku mengerti apa yang dipikirkannya. Dia mungkin sedang memikirkan kekurangan Mahfudz yang tidak lancar berbicara, apalagi dia adalah suamiku.


"Hai, Marhamah. Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?" sapaku. Aku sungguh tidak ingin dia memandang rendah suamiku.


Marhamah terkejut dan berpaling melihatku.


"Ah, iya. Raya. Apa kabar? Lama tak bertemu. Aku baik- baik saja. Kau apa kabar? Kau sudah menikah?" tanyanya.


Aku tersenyum. Aku tau itu pertanyaan basa basi. Ali pasti sudah memberi tahunya. Tapi aku memilih untuk tetap menjawabnya. Aku mengangguk.


"Ini suamiku." kataku memperkenalkan. "Sayang, ini temanku waktu di FK, namanya Marhamah."


Mahfudz hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Professor tak kalah terkejut.


"Raya dan Marhamah teman kuliah di FK, kek," Ali yang menjawab.


"Oh, ya? Kebetulan sekali. Dunia memang benar- benar sempit, hahaha," Professor tertawa lagi.


"Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat, kek. Raya dulu bunga kampus, dia populer. Teman yang dekat dengannya cuma Hawa, yang sekarang menantunya Pak Yahya, dirutnya Rumah Sakit Medika Rahayu. Saya justru heran Raya masih mengenalku." katanya.


"Ya ampun, kau berlebihan. Terang saja aku ingat. Aku sering mengabsenmu dulu," jawabku.


"Selain itu Raya juga komisaris di kelasku. Mahasiswa kesayangan dosen dan dekan. Belum lagi banyak teman- teman cowok yang menyukainya. Dia bahkan pernah dilamar oleh dekan kami yang waktu itu telah menduda. Dr. Surya Dinata."


Please, demi apa dia mengatakan itu semua?


"Stop, ya Mar. Suamiku bisa cemburu kalau kau terus mengatakan hal- hal tentang lelaki lain denganku," kataku melirik Mahfudz.


Mahfudz menatapku malas dan memutar bola matanya.


"A-ku ti-dak cem-bu-ru-an. Kau yang cem-bu-ru-an," bantahnya.


Professor sampai tertawa melihat drama antara aku dan Mahfudz.

__ADS_1


"Jadi, sekarang apa kegiatanmu dr. Raya?" tanya Professor tiba- tiba serius.


"Saya masih tak ada kegiatan apa- apa, Prof. Sejak kejadian itu, saya selalu di rumah. Belum terpikir ingin melakukan apa." jawabku.


"Bagaimana kalau kembali ke rumah sakit?" tembaknya hingga membuatku terkejut.


Professor Ayyub tiba- tiba berdiri dari sofa dan kembali ke mejanya. Dari dalam laci dia mengeluarkan sebuah amplop.


"Itu surat pengunduran dirimu yang dulu. Ambillah, saya anggap kamu sedang mengambil cuti kemarin. Rumah sakit kacau tanpamu dr. Raya. Dan kita masih kekurangan tenaga medis spesialis kandungan untuk ditempatkan di RSIA Satya Medika. Kamu tau, kekurangan tenaga medis membuat RSIA Satya Medika belum bisa launching hingga saat ini. Rencana kita akan grand opening Minggu depan, dan saya terpaksa harus mengirim dr. Samuel untuk dikirim ke sana. Itu artinya di sini hanya akan tinggal dr. Gayatri saja."


Aku menerima amplop itu ragu- ragu. Sungguh, aku belum berminat untuk bekerja.


"Saya belum memikirkan untuk bekerja kembali, Prof," kataku ragu- ragu.


"Pikirkanlah lagi. Saya dan rumah sakit ini benar- benar membutuhkanmu. Atau kalau kamu mau, kamu bisa memilih untuk ditempatkan di RSIA Satya Medika atau tetap di sini. Marhamah juga akan bekerja di RSIA Satya Medika. Siapa tau di sana membuatmu nyaman karena memiliki teman, kau bebas memilih dr. Raya," kata Professor memberi pilihan padaku.


"Kamu Sp.OG juga?" tanyaku pada Marhamah.


"Saya Ds.A tahun pertama. Senang menjadi teman sejawatmu andai kamu berkenan menerima tawaran kakek, eh Professor maksud saya. Kita mungkin bisa jadi teman dekat, Raya?


\*\*\*\*\*\*


Usai pertemuan dengan Professor Ayyub serta Ali dan Marhamah, aku dan Mahfudz memutuskan untuk tidak pulang dulu. Mahfudz bersikeras untuk membawaku jalan- jalan dulu ke arah pinggiran kota. Katanya di sana ada tempat makan yang enak di pinggir sawah.


"Ja-di ka-u du-lu bu-nga kam-pus?" cibirnya.


"Kenapa? Kau cemburu?" balasku.


Mahfudz menggeleng dan memanyunkan bibirnya.


"Bu-nga kam-pus i-tu, ak-hir-nya a-ku yang me-me-tik-nya. Ke-na-pa ha-rus cem-bu-ru?" tawanya bangga.


"Ishhhh ...." desisku sebal.


Aku masih bingung memikirkan tawaran kerja Professor. Dari kesimpulan yang kutangkap Marhamah yang kata Ali adalah keponakannya istri dari Waridi akan menjadi dokter spesialis anak di RSIA Satya Medika. Jika aku bekerja di sana dan dekat dengannya, bisakah aku mendapat celah untuk mengetahui kelemahan Waridi? Lelaki tua penuh pencitraan dan psikopat itu akan terus mengganggu hidupku dan keluargaku selama dia belum dijebloskan ke penjara atau dimasukkan ke rumah sakit jiwa.


Oh, Tuhan bagaimana kalau semisal aku hamil dan dia tetap mengusikku sehingga aku kehilangan bayiku lagi?


"Ka-mu su-dah se-le-sai ma_kan? A-yo ki-ta pu-lang!" ajak Mahfudz membuyarkan lamunanku.


Dengan bonceng samping aku duduk di belakang Mahfud. Sementara Mahfudz membawa motor matik itu dengan kecepatan sedang.


Saat keluar dari wilayah pinggir kota dan kembali memasuki hiruk pikuknya suasana kota, tiba- tiba saja terdengar suara klakson mobil terdengar panjang tanpa henti dari kejauhan dan dengan cepatnya suara itu semakin mendekat. Aku menoleh ke belakang.


Ya Tuhan, di belakang sebuah mobil box berkecepatan tinggi sedang menuju ke arah kami. Sepertinya remnya blong. Aku tanpa berpikir panjang memeluk tubuh Mahfudz dan spontan menariknya melompat ke pinggir jalan. Beratnya tubuh Mahfudz tidak membuat lompatan itu menjadi sempurna. Yang ada badanku malah terbentur ke trotoar sementara kaki Mahfudz malah tertimpa motor karena tak menyangka aku akan melompat dan menariknya sehingga keseimbangannya mengendarai motor itu jadi hilang kendali dan malah jatuh.


Belum sempat aku mencoba bangun tiba- tiba terdengar benturan yang sangat keras disertai jeritan dan teriakan dari banyak orang. Aku terkejut, Mahfudz juga. Dan sepertinya semua orang disekitar itu juga merasakan keterkejutan yang sama.


Mahfudz segera bangkit dan menyingkirkan motor itu darinya. Dengan tertatih dia mencoba bangun untuk melihat apa yang terjadi.


"Kecelakaan!!!"


"Ya, Tuhan. Siapa saja, panggil ambulance! Panggil polisi."


"Ini mengerikan!"


"Telepon ambulance!"


Aku mendengar teriakan- teriakan dari orang- orang di sekitar kami. Membuatku mencoba kuat untuk bangun. Dan Mahfudz? Apa itu? Dia bahkan tidak mengkhawatirkanku. Aku melihat punggungnya. Dia sepertinya sangat terpaku melihat pemandangan di depannya. Apa dia shock?


Aku berjalan ke arahnya dan menahan sakit di punggungku akibat terbentur badan trotoar tadi. Aku mengelus punggungnya halus.


"Sayang ...." panggilku. " Kau baik- baik saja?" tanyaku lagi.


Sekian detik dia menatapku hingga tersadar dari shocknya.


"Ra- Raya kau tidak apa- apa? Apa ada yang sakit?" tanyanya sambil memeriksa semua tubuhku.


Aku mengernyitkan keningku. Ada yang aneh.


"Fud!" panggilku.


"I- iya a-da a-pa?"


Aku mengernyitkan keningku lagi. Apa cuma perasaanku saja? Sepertinya tadi dia berbicara padaku dengan lancar.


"Kau baik- baik saja?" tanyaku.


Dia mengangguk.


Aku masih dalam kebingunganku, ketika mendengar sebuah jeritan dari dalam mobil yang terbalik.


"Toloooong! Toloooong aku. Siapa saja tolong anakku!


Tangan seorang ibu menggapai- gapai dari dalam mobil itu. Sementara orang- orang juga berusaha membantu ibu itu keluar dari mobil. Tanpa berpikir panjang aku juga ikut mendekat.


Susah payah aku menyeruak di antara kerumunan. Dan di hadapanku kini, melihat seorang ibu bertubuh gemuk berlumuran darah dan dia sedang memeluk bayi di dadanya dengan sebelah tangan.


"Tolong aku, tolong bayiku! Bawa bayiku ke rumah sakit. Nayla .... Bangun Nak! Jangan tinggalkan Bunda ...." tangis Ibu itu dalam kesakitannya.


Mata bayi itu terpejam. Apa bayi itu meninggal?


Aku segera mengambil bayi itu dari dekapan sang ibu dan mencari Mahfudz. Begitu melihatnya aku segera ingin meminjam jaketnya untuk kupakaikan alas meletakkan bayi itu di trotoar. Aku ingin melakukan CPR pada bayi itu. Tapi respon yang kudapat dari Mahfudz justru berbeda.


"Ray, apa yang mau kamu lakukan? Kembalikan bayi itu!"


Aku mengernyitkan keningku lagi. Apa ini? Dia bicara lancar padaku.


"Aku cuma ingin memberikan CPR pada bayi ini. Pinjam jaketmu, Fud!"

__ADS_1


"I- i-ya." katanya sambil membuka jaketnya dan memberikannya padaku.


Apa ini? Aku tidak sempat menanyakannya. Apa tadi dia bicara lancar padaku? Atau aku yang salah dengar?


__ADS_2