
POV Mahfudz
Dengan cemburu aku membongkar kotak kardus yang dibawa Ali sesaat setelah kami pulang dari rumah sakit. Hatiku panas melihat barang- barang kenangan Raya dan Ali. Baju kemeja, kaos, botol parfum bermerek kosong yang kutahu harganya sampai jutaan rupiah, jam tangan, sapu tangan dan foto- foto Raya yang warnanya agak memudar termakan usia.
Apa Raya yang memberikan semua ini pada Ali? Sebanyak ini yang pernah diberikannya pada Ali dulu? Apa dulu dia secinta itu pada dokter gila itu? Tapi sudahlah, kalau aku memperpanjang masalah ini dan menunjukkan kecemburuanku bisa- bisa Raya makin ngambek nanti.
Aku membakar barang- barang kenangan mereka itu di tong pembakaran sampah di sebelah rumah. Selain foto- foto Raya sendirian di jaman dulu. Istriku dari dulu memang sudah cantik.
Sekarang setelah membakar barang- barang itu, aku segera ke kamar. Aku melihat Raya yang terlihat berbaring menyamping sambil merenung. Aku menghela napas sebelum mendekatinya. Aku tidak tau bagaimana cara yang tepat agar dia bisa melupakan kesedihannya. Aku juga sedih, tapi karena ada Raya di sisiku aku akan berusaha menahannya.
"Sa-yang ...."
Aku merebahkan tubuhku di sampingnya yang sedang membelakangiku. Raya tidak menjawabku. Aku memeluk tubuh itu. Rasanya aneh tak menemukan lagi gundukan keras itu di perutnya. Perutnya kini rata dan terasa kempes.
Aku kini membelai rambutnya dengan sayang dan mencium pucuk kepalanya.
"Ba-gai-ma-na ca-ra-nya a-gar ka-u me-ma-af-kan-ku? Ba-gai-ma-na ca-ra-nya mem-bu-at-mu a-gar me-ra-sa le-bih ba-ik?" bisikku lirih.
Raya menarik napas panjang sebelum akhirnya membalikkan badannya ke arahku.
"Aku mau Annisaku kembali, Fud! A- aku jatuh cinta padanya saat melihat dia di pangkuanku. Aku mau anakku, Fud ...." rengeknya membuatku merasa semakin tak berdaya.
Ummik memberi nama bayi kami itu Annisa.
"Fud ...." rengeknya seakan aku bisa mengabulkan keinginannya yang tidak masuk akal itu.
"Ra- Raya, de- dengar! An-ni-sa su-dah ba-ha-gia di sa-na sa-yang. Di-a a-kan ja-di bi-da-da-ri syur-ga-nya Al-lah. Di-a a-kan se-dih ka-lau me-li-hat bun-da-nya se-per-ti i-ni ...."
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya gusar. "Aku tak bisa sedetikpun berhenti memikirkan anakku. Aku cuma seorang ibu, Fud! Huuuuu ...." tangisnya.
Aku memeluk tubuh rapuh itu. Bukan hanya tubuhnya yang rapuh. Jiwanya pun saat ini sangat rapuh karena kehilangan anaknya.
"Ki-ta ma-sih pu-nya ke-sem-pa-tan pu-nya a-nak la-gi, Ray. Ka-u ha-nya per-lu se-di-kit sa-bar me-nung-gu ...."
"Itu tidak akan sama, Fud...." bantahnya.
"Hey, a-pa-nya yang ti-dak sa-ma?" tanyaku pura- pura marah. "Ka-lau An-nisa ma-sih a-da dan di-a pu-nya a-dik. A-pa ka-u a-kan mem-be-da- be-da-kan me-re-ka?"
Raya tak menjawab melainkan hanya menggeleng dan menangis.
"Sa-bar-lah, sa-yang. Ke-lak ka-lau a-da peng-gan-ti-nya ka-u a-kan me-lu-pa-kan ra-sa yang me-nya-kit-kan i-ni." janjiku.
"Kapan? Aku maunya sekarang, Fud!" rengeknya.
"Ya, am-pun Ray. Tung-gu ka-u pu-lih. Ka-u bah-kan ba-ru ke-lu-ar da-ri ru-mah sa-kit." kataku.
Aku ingin menghindari topik ini. Sangat sulit bicara dengan Raya kalau sifat keras kepalanya sudah mulai muncul.
"Kita akan mulai promil lagi kalau aku sudah selesai nifas kan, Fud?" tuntutnya serius.
"Ray .... Ka-ta dr. Ga-yat-ri, ki-ta ha-rus me-nun-da se-ti-dak-nya sa-tu ta-hun un-tuk pu-nya mo-mo-ngan la-gi. Ke-se-ha-tan-mu be-lum sta-bil se-be-lum wak-tu i-tu."
"Kenapa kau hanya percaya pada dr. Gayatri? Apa dia Tuhan? Aku juga Sp.OG, Fud. Kamu jangan lupa itu! Aku tau kondisi tubuhku sendiri dan resiko apa yang akan kuhadapi kalau aku sampai hamil. Itu tidak semengerikan yang dikatakan dr. Gayatri. Aku janji akan hati- hati kalau Allah memberikanku kesempatan untuk hamil lagi. Aku tidak akan membantah seperti dulu. Aku tidak akan kerja, Fud. Aku hanya akan di rumah saja, bahkan kalau pun aku harus bedrest total aku akan menurut. Aku bahkan tidak peduli pada masalah Waridi lagi. Dan kalau persalinannya beresiko pun, aku bisa di- SC kan, Fud? Please .... Kamu janji kita akan promil lagi setelah masa nifasku selesai!"
Ahh .... Aku menarik napasku panjang. Dalam hal ini tentu saja aku lebih percaya pada dr. Gayatri. Dr. Gayatri sebagai dokter obgyn tentu mempertimbangkan kondisi kesehatan pasiennya apalagi mengingat dia bersahabat dengan Raya. Sementara Raya, dia sedang dalam emosi yang tidak stabil. Dia sedang tidak berpikir logis sekarang. Aku tau di benaknya saat ini hanya menginginkan anak. Dia hanya ingin menyalurkan hasrat dan naluri keibuannya. Aku tidak mau kalau Raya sampai celaka kedua kalinya hanya karena ingin segera memiliki pengganti Annisa.
"Fud ...." rengeknya lagi.
Di saat itu ponselku berdering dan aku mengangkatnya. Itu telepon dari Fuad.
"Fud, aku mendapatkan saudara kembar imitasi kita! Kamu datang ke sini! Ku kirimkan alamatnya." katanya sebelum mematikan telepon.
"A-ku ha-rus per-gi se-ka-rang, Ray! A-da yang ha-rus ku u-rus."
"Tapi pembicaraan kita belum selesai!"
__ADS_1
"Ki-ta a-kan bi-ca-ra-kan la-gi i-ni nan-ti se-te-lah ma-sa ni-fas-mu se-le-sai, sa-yang!"
"Kau janji?"
Aku mengangguk sebelum akhirnya mengecup keningnya. Aku bersyukur Fuad meneleponku di saat itu. Dia menyelamatkanku sementara dari pembicaraan rumit dengan Raya.
\*\*\*\*\*\*
POV author
Mahfudz sampai ke alamat yang dimaksud oleh Fuad dan melihat pemandangan yang mencengangkan di depan matanya. Lelaki itu yang mirip dengannya dan Fuad itu tengah berada dalam posisi yang mengenaskan. Tangan dan kakinya terikat tali tambang dan kedua pipinya nampak luka sayatan yang menganga.
Astaga.
"Ad, a-pa yang ka-u la-ku-kan?" Mahfudz termangu melihatnya.
"Kau santai aja, Fud! Aku cuma mau kasih sedikit kenang- kenangan ke dia. Gimana? Sekarang ada bedanya kan dia dengan kita?"jawabnya tanpa merasa bersalah.
"Ya, ta-pi nggak gi-ni ju-ga ...."
Anton tertawa menyeringai.
"Ya ampun, si gagu. Ketemu lagi. Bagaimana? Kau sudah bereskan urusanmu dengan istri murahanmu itu? Kata kembaranmu ini, istrimu jatuh dari tangga dan anaknya meninggal. Bersyukurlah padaku, bro. Aku sudah menyingkirkan anak yang tak jelas asal usulnya itu. Dia pasti anak pria yang bermesraan dengan istrimu di mobil itu." kata Anton memprovokasi.
Dia jengkel pada Fuad sehingga ingin melampiaskannya pada Mahfudz. Namun sepertinya Mahfudz yang tadinya mencoba untuk sabar pada akhirnya naik pitam juga dan menendang wajah Anton yang masih tergeletak di lantai dalam posisi telungkup.
"Arghhh!!!!" erang Anton.
"Ka-u! Ja-ngan be-ra-ni mem-bi-ca-ra-kan is-tri-ku de-ngan mu-lut ko-tor-mu i-tu, ba-ji-ngan! A-tau ka-u a-kan ku-bu-at tak bi-sa bi-ca-ra lebih da-ri a-ku."
Fuad terperangah melihat Mahfudz sampai dia bertepuk tangan takjub. Dia hampir tak pernah melihat Mahfudz marah. Kecuali saat istri dan keluarganya diganggu.
"Wah, Fud! Kau keren! Apa perlu kita cabut beberapa gigi ******** ini? Aku akan mencarikan tang dan dengan senang hati melakukan service cabut gigi pada brengsek ini."
Sebenarnya Fuad tidak serius mengatakan itu tapi sepertinya kata- katanya itu lumayan berpengaruh untuk Anton.
Melihat Anton terlihat gemetar begitu terbersit pikiran Fuad untuk menjahilinya.
"Kau tidak mau kasih kenang- kenangan buat brengsek ini, Fud? Bagaimana kalau kita coba robek hidungnya, atau kita patahkan jari- jarinya dulu sebelum kita bawa ke kantor polisi?" kata Fuad menjahili Anton.
"Ad, su- dah ma-in- ma-in-nya," tegur Mahfudz.
Dia iba melihat Anton yang begitu ketakutan pada Fuad. Meski pun sebenarnya dia juga benci pada Anton yang telah mendorong Raya sehingga mereka bahkan kehilangan bayi yang sangat mereka nantikan.
"Iya, iya aku cuma bercanda." sahut Fuad sebal.
Di kantor polisi Fuad memberikan laporan atas penangkapannya terhadap Anton. Dia juga melaporkan Anton yang telah dengan sengaja mendorong Raya dari tangga sehingga menyebabkan Kakak Iparnya itu harus kehilangan bayinya.
"Kau punya bukti kalau dia mendorong kakak iparmu?" tanya penyidik.
"Banyak orang dan saksi mata saat kejadian itu, Pak!" jawab Fuad tegas. "Selain itu, Anton ini adalah pelaku vidio asusila dengan Tiwi, gadis di bawah umur yang membuat Kakak saya terjebak masalah dan harus menjadi tahanan kota. Jadi kami mohon dengan sangat agar kasus ini diperhatikan sebagaimana mestinya, Pak! Kakakku jelas sangat dirugikan dalam hal ini. Karena menjadi tahanan kota, dia jadi tidak bisa melaksanakan koas ke daerah sesuai tuntutan kampusnya. Belum lagi dengan dia harus kehilangan bayinya dan istrinya yang sakit karena jatuh dari tangga. Kami bisa mengajukan banding terhadap pelapor dan kalau sampai ke tahap peradilan kakak saya terbukti tidak bersalah, polisi yang melakukan penyelidikan pun bisa kami tuntut, untuk diberikan sanksi kode etik."
Penyidik itu menatap Fuad tak percaya.
"Kau sedang mengancam kami?" tanyanya dingin.
Fuad menyeringai.
"Mana berani saya mengancam bapak, Pak. Saya hanya sedikit mengingatkan saja sebagai rakyat, bahwa polisi itu tugasnya melindungi dan mengayomi masyarakat. Pada prinsipnya tugasnya adalah melayani masyarakat dan untuk berpihak pada yang benar. Bukan pada yang berduit, bukankah seperti itu?"
"Kau lancang sekali! Maksudmu, kau menuduh kami menerima suap?" tanya penyidik itu tersinggung.
Lagi- lagi Fuad tersenyum.
"Saya tidak pernah bilang begitu, tapi sepertinya Bapak sendiri yang merasa begitu kan?"
__ADS_1
"Langsung pada intinya apa maksudmu berkata begitu? Saya tidak suka bermain tebak kata." kata polisi itu yang kelihatan sudah mulai naik darah.
Mahfudz mendekat dan berbisik pada penyidik itu.
"Maksudku adalah kita sama- sama tau orang besar di balik kasus ini. Bapak penyidik pasti punya hubungan saling menguntungkan dengan Pak Waridi kan? Dan orang yang baru saya tangkap itu adalah orang suruhannya. Katakan padanya, saya punya buktinya dan bilang pada Bapak Wakil walikota yang terhormat itu, jangan coba- coba berusaha untuk melindungi Anton. Aku mau dia dapat hukuman setimpal karena telah berani mengganggu keluargaku," bisik Fuad.
"Kenapa tidak kau katakan sendiri padanya?" kata penyidik itu geram.
"Tentu nanti aku pasti menghubunginya. Aku menyuruh bapak mengatakan padanya duluan agar Bapak Waridi tidak terkejut. Dan selain hukuman yang seberat- beratnya pada Anton, saya juga menginginkan agar pihak kepolisian mengadakan konferensi pers dengan wartawan demi membersihkan nama baik kakak saya Mahfudz, bisa Pak? Saya tidak mau saat Kakak saya dituduh sebagai pelaku asusila beritanya heboh terdengar sampai keseluruh negeri ini. Tapi begitu pelaku sebenarnya tertangkap tidak terdengar berita apa pun, mohon pastikan ini akan jadi berita trending topik selama beberapa hari ke depan." kata Fuad sambil tersenyum.
Sebenarnya bukan kebetulan dia tau kalau polisi di kota ini ada dalam pengaruh Waridi. Raya juga sempat bercerita saat dia melarikan Ayuni dan diinterogasi polisi, baru saja dia keluar ruangan penyidik tapi istri Waridi sudah tau hasil dari interogasi itu. Itu membuktikan penyidik di kantor polisi ini ada main dengan Waridi.
Saat keluar dari ruangan penyidik, Mahfudz telah menunggunya.
"Ba-gai-ma-na?"tanya Mahfudz.
Fuad tersenyum puas dan itu cukup melegakan hati Mahfudz. Atas permintaan Fuad, Mahfudz mengijinkannya untuk mengurus kasus pelaporan itu sendiri. Sebab Fuad tau, Mahfud tidak terampil dalam urusan bermain strategi seperti ini. Sementara Fuad? Dia mahasiswa politik dan juga hobby tekhnik. Maka urusan intrik bahkan bermain licik dia juga bisa melakukannya. Dan ini baru permulaan.
Saat mereka ingin pulang, mereka berpapasan dengan Tiwi dan Rini yang juga mendapat panggilan terkait tertangkapnya pelaku vidio asusila antara Tiwi dan Anton. Mahfudz malas berurusan dengan Tiwi lagi dan segera ke parkiran menuju mobil yang mereka bawa tadi. Sementara Fuad dengan senyum mengejeknya mendekati Rini.
"Kau beruntung saudaraku Mahfudz orang yang baik hati sehingga dia tidak akan mengajukan banding dan menuntut kalian kembali yang telah mempermalukan dia. Tapi aku berbeda. Hanya saja ajari adikmu ini agar bertingkah sesuai usianya dan jangan mengganggu rumah tangga orang lain lagi. Atau, kalau dilain waktu aku masih mendengar dia masih mengganggu keluarga kakakku. Aku sendiri yang akan membuat perhitungan denganmu, dengan kalian!" kata Fuad sambil berlalu pergi.
Dia meninggalkan Rini yang terlihat kesal sementara Tiwi yang hanya terlihat terdiam seperti banyak pikiran.
\*\*\*\*\*\*\*
Waridi sedang berada di ruang rapat saat dia menerima telepon dari penyidik di kepolisian. Waridi segera pamit keluar untuk mengangkat telepon itu.
"Katakan apa yang ingin kau sampaikan? Aaku sedang ada rapat," kata Waridi dengan nada yang mendesak.
"Pak Waridi, sepertinya ini berjalan tidak sesuai harapan Bapak. Dokter itu, maksudku anak koas itu Mahfudz dan kembarannya, baru saja membawa seseorang yang mirip sekali dengan mereka. Dan bukti- bukti bahwa bukan Mahfudz pelakunya tidak bisa dibantah lagi, Pak," kata penyidik itu menjelaskan di telepon.
Sialan! Dari mana mereka bisa tau tentang Anton? Bagaimana cara mereka bisa mendapatkannya. Dan lagi pula bukannya Anton sudah pergi dari kota ini? Dia sudah kusuruh menjauh dari sini untuk sementara. Apa yang telah dilakukannya? Waridi membatin.
"Baiklah, bisa kau atur agar orang yang mereka tangkap itu tidak terlibat kasus hukum? Maksudku kamu setting sajalah agar dia bebas dari kasus ini "
"Sepertinya itu tidak bisa, Pak!" kata penyidik itu. "Saudaranya Mahfudz yang bernama Fuad itu, dia yang melaporkannya. Selain itu pria bernama Anton itu juga terlibat kasus yang lumayan serius. Dia mendorong dr. Raya, istri dari saudara Mahfudz sehingga jatuh dari tangga hotel saat mereka berusaha menangkapnya. Akibatnya bayi dr. Raya meninggal dalam kandungan. Ini masalah serius dan Fuad dengan terang- terangan mengancamku dan menyuruhku mengatakan pada Pak Waridi untuk tidak berani mencoba- coba membebaskan Anton karena dia punya barang bukti yang bisa membuktikan Bapak terlibat katanya."
"Sialan! Fuad menyuruhmu mengatakan itu padaku? Bernyali sekali dia!" kata Waridi geram.
"Dia juga menyuruh untuk mengadakan konferensi pers untuk membersihkan nama Mahfudz. Dan sepertinya posisi kita tidak bisa menolak saat ini. Dia juga mengancam akan membawa ini ke peradilan kalau saya tidak mengikuti maunya." keluh penyidik itu.
Brengsek! Bocah bau kencur itu sedang ingin bermain- main rupanya denganku. Dia bahkan sudah membawa lari Ayuni dari genggamanku, sekarang apa lagi maunya!? Kau akan menyesal berurusan denganku! Umpat Waridi dalam hati.
Usai menyelesaikan percakapannya di telepon dengan penyidik yang juga menjadi kaki tangannya di kantor polisi, Waridi segera kembali ke ruang rapat. Dia sudah membuka pintu meeting room itu saat teleponnya bergetar lagi. Dan akhirnya dia menutup kembali pintu itu dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang rapat. Panggilan telepon itu dari Anton.
"Anton! Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau ...."
"Hallo Papa mertua! Ini aku, kau tidak ingat menantumu?"
Suara ini ....
"Kau bocah brengsek! Apa maumu? Kau bosan hidup?"
Waridi dengan marah mulai berusaha mengintimidasi Fuad walaupun dia terpaksa harus meredam suaranya kemarahannya tidak mengundang perhatian orang- orang kantor.
"Wah, kenapa kau marah sekali, papa mertua? Aku hanya ingin bersilturrahmi denganmu. Dan lagi pula kau bertanya apa aku bosan hidup, tentu hidupku menyenangkan bersama anak istriku. Kau sendiri apa kabar, papa mertua?"
"Tidak usah berbasa- basi denganku. Katakan saja, apa maumu!"
Waridi tidak tahan lagi berurusan dengan bocah itu. Andai dia sedang tidak berada di kantor, dia pasti akan segera mendatangi bocah ini dan memberikan pelajaran dengannya.
"Aku sedang berada di kantin kantormu, Papa mertua. Aku ada urusan denganmu. Ada yang harus kita bicarakan!"
"Ka- kau sedang berada di mana?" tanya Waridi terkejut tak percaya pada apa yang di dengarnya.
__ADS_1
"Di kantor Walikota," jawab Fuad ringan tanpa beban.