
[Sayang, seharian aku meneleponmu, tapi kamu nggak mau angkat. Kamu marah padaku?]
Aku mengirim pesan chat pada Raya.
[Aku sibuk]
Balasan chat itu datang 3 menit kemudian setelah aku lihat dia lama mengetik, namun akhirnya pesan yang terkirim cuma dua potong kata pendek itu. Mengecewakan sekali. Sepertinya memang dia sedang marah padaku. Apa ini masih soal godaanku di depan Mama soal masalah hubungan pasutri itu? Padahal aku cuma bercanda, kenapa dia harus seserius itu sih? Apa karena dia sedang hamil makanya dia lebih sensitif dari biasanya? Sabar, Fud. Sabar. Dia sedang mengandung anakmu, kataku pada diriku sendiri.
[Sayang, vidio call yuk. Aku rindu istriku. Sudah 24 jam aku belum melihatmu.]
Dia membacanya tapi tak membalasnya. Aku ambil inisiatif saja vidio call meski tanpa persetujuannya. Kalau dia masih nggak mau angkat juga fix berarti marahnya serius. Aku menelepon sampai tiga kali barulah panggilan vidioku diterima.
"Aku ngantuk, Fud!" katanya.
Aku tau itu alasanmu, tukang ngambek!
"Ka-mu ma-sih ma-rah pa-da-ku?" tanyaku.
Dia diam. Bersyukurlah kita berjauhan, Bu dokter! Seandainya aku disana melihatmu ngambek begini, kamu pasti akan kubuat menyesal. Pasti kamu akan kuserang sampai kamu kewalahan menghadapiku.
"Sa-lah-ku a-pa lagi, Ray?" tanyaku dengan sabar. Termasuk sabar dalam menahan gejolak ini. Meski hanya di layar ponsel tapi dia terlihat cantik sekali. Rambutnya yang diikat sembarang memperlihatkan lehernya yang putih jenjang. Sangat kontras dengan baju tidur tipis yang dipakainya saat ini. Entah apakah ini cuma perasaanku saja. Sepertinya Raya semakin cantik saja. Apa ini yang sering dimaksud aura ibu hamil?
Dia menggeleng. "Kamu nggak salah apa-apa. Aku cuma kelelahan aja."
"Ka-mu ja-ngan ter-la-lu ca-pek ker-ja-nya. I-tu pa-kai se-pa-tu nggak u-sah yang pa-kai heels. Pa-ke se-pa-tu flat a-ja. Pa-kai heels cu-ma bi-kin ka-mu ca-pek ja-lan ke-sa-na ke-si-ni di ru-mah sa-kit"
"Hmmm iya."
Aku berharap dia akan memberi tahu berita kehamilannya sekarang padaku. Ternyata hingga akhir pun dia masih tak kunjung memberikan surprise itu. Apa dia akan memberi tahuku kalau aku sudah pulang ke rumah? Cuma empat hari lagi. Bersabarlah. Kita akan bersama-sama lagi. Setelah itu aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan mencari alasan apa pun agar aku tidak pernah ditugaskan lagi ke luar kota. Aku rindumu padamu, Ray.
\*\*\*\*\*
Pov Tiwi
Aku duduk di kursi tunggu sebuah ruangan dokter setelah berjalan mencari-cari sosok dokter itu. Dokter baik dengan senyum menawan. Pertama kali aku bertemu dengannya minggu lalu saat memeriksakan diri ke IGD rumah sakit ini karena aku mengeluhkan perih yang terasa amat sangat menyakitkan pada kemaluanku. Perih itu semakin menjadi-jadi ketika aku buang air kecil. Awalnya aku masih bisa menahan rasa sakitnya. Tapi semakin lama rasa sakit itu semakin di luar kesanggupanku untuk menahannya. Hingga keluar hasil test itu, katanya aku positif menderita penyakit seksual menular gonore.
Katanya namanya dr. Mahfudz atau aku boleh memanggilnya dengan panggilan dr. Gagu. Minggu kemarin saat dia menanganiku di IGD sikapnya biasa saja padaku, layaknya seperti seorang dokter pada pasiennya. Lalu kemarin tiba-tiba saja dia berubah sangat baik dan katanya dia ingin berteman denganku.
Dokter itu tampan sekali. Usianya mungkin beda sepuluh tahunan denganku. Mungkinkah dia tertarik padaku? Tidak. Tidak mungkin. Aku bahkan tak pantas berteman dengannya. Apalagi ....
__ADS_1
Aku Pratiwi Ariesta. Umurku 13 tahun. Aku adalah tunarungu. Bisu dan tuli sejak lahir. Ayah dan ibuku meninggal sudah sejak lama yaitu saat aku masih kecil. Aku hidup hanya dua bersaudara. Aku memiliki kakak bernama Arini Veronika. Dia perawat di ibu kota provinsi, di sebuah rumah sakit besar bernama Siaga Medika.
Kak Rini, dia menjadi seorang perawat berkat seseorang. Dulu saat kira-kira dia masih seusiaku, ada program dari sebuah yayasan menyerupai GNOTA yang menjadi perantara antara orang tua asuh yang ingin membiayai pendidikan anak asuhnya. Kak Rini terpilih menjadi salah seorang anak asuh dari panti asuhan tempat kami dibesarkan. Semua pendidikannya ditanggung hingga ia selesai kuliah keperawatan. Namun belum lama ini, aku baru mengetahui kalau Kak Rini mengorbankan banyak hal agar ia bisa menyelesaikan pendidikannya. Tadinya pun aku merasa dia beruntung karena menjadi anak asuh salah seorang pejabat di ibu kota provinsi. Dia Wakil Walikota Waridi yang namanya tersohor ke penjuru negeri bahkan melebihi nama walikota dan juga gubernurnya. Terkenal dengan budi pekertinya yang baik, suka menyantuni anak yatim seperti kami dan banyak memiliki anak asuh.
Namun beberapa bulan lalu, aku baru mengetahui cerita itu sekaligus juga mendapatkan hari ternaas dalam hidupku. Saat itu aku dijemput dari sekolah dan dibawa ke sebuah hotel. Aku tak menaruh kecurigaan apa pun, karena kata orang yang menjemputku. Aku hanya akan dipertemukan oleh Wakil Walikota Waridi, orang tua asuhnya kakakku. Dan di hotel itu aku mengetahui semua, semua yang terjadi pada Kak Rini. Bagaimana kak Rini harus menggadaikan tubuhnya agar bisa menyelesaikan pendidikannya dan diterima bekerja di rumah sakit besar.
Di hotel itu, tua bangka itu juga memperkosaku. Dan dengan ekspresi wajahnya yang kejam dia menulis di atas lembaran kertas yang sebelumnya kami pakai untuk berkomunikasi sebuah ancaman, bahwasanya dia tidak akan segan- segan mencelakai bahkan membunuh Kak Rini kalau aku berani buka mulut pada siapa pun. Bahkan pada Kak Rini pun aku tak boleh mengatakannya.
Selama beberapa bulan ini sudah beberapa kali dia melakukan hal yang sama. Sengaja mendatangi aku ke kota kecil ini, menjemputku di sekolah. Dan melakukannya lagi dan dan lagi. Yang terakhir kali malah lebih parah, setelah dia meninggalkanku salah seorang anak buahnya juga turut ambil bagian memperkosaku. Itu kejadian sekitar dua mingguan yang lalu. Membuat organ intimku sakit sampai ke pinggul. Aku juga mengalami kram perut yang sudah tak tertahankan lagi. Hingga berdiri pun rasanya aku tak sanggup lagi. Sehingga Ibu panti melarikanku ke rumah sakit ini.
Aku memejamkan mataku menahan sesak dalam hati ini. Betapa malang nasibku. Aku bahkan tak bisa melaporkan ini semua ke kantor polisi. Lelaki biadap itu bahkan mengancamku dengan sebuah tulisan "Saat aku mendengar kamu memasukkan laporan ke kantor polisi, saat itu juga aku akan menyuruh anak buahku untuk memperkosa kakakmu rame- rame, setelah itu membunuhnya, memutilasinya dan membuang mayatnya ke hutan"
Setelah itu dia tertawa mengerikan. Meski tak kudengar tawanya dengan telingaku, tapi tawa itu rasanya terdengar nyaring menggema di duniaku yang sepi.
Aku takut.
Aku memejamkan mataku, tak kurasa air mata itu memaksa keluar dari kelopak mataku yang terpejam ini. Rasanya sangat menyakitkan.
Tiba- tiba aku merasa ada yang menempel pada kelopak mataku. Lalu terasa ada yang mengusap air mata itu. Aku membuka kelopak mataku. Sebuah wajah terpampang di hadapanku dengan senyuman yang menawan.
[Ga-dis can-tik ja-ngan me-na-ngis, nan-ti dok-ter ga-gu se-dih]
Aku melihat gerakan bibirnya dan bahasa isyaratnya mengatakan itu.
Aku berkata dengan bahasa isyarat.
[Ka- mu ra- wat ja- lan?] tanya dr. Gagu.
Aku mengangguk.
[Datanglah kalau sempat main- main ke rumah, dokter punya alamatku kan?]
Dr. Gagu menunduk sesaat sebelum mengangkat kepalanya.
[Ti- wi, Ma- af se-per-ti-nya a- ku ti- dak a- kan sem- pat mam- pir dan ber- kun- jung ke tem- pat- mu, be- sok a- ku su- dah ha- rus pu- lang ke i- bu ko- ta]
Aku terkejut.
[Benarkah? Ku pikir kita akan berteman lama.] kataku kecewa.
__ADS_1
[Ki- ta a- kan se-la-ma- nya ja- di te- man. Ka-pan pun ka-mu ke i-bu ko-ta, ji-ka ka-mu ke ru-mah sa-kit Si-aga Me-di-ka, ka-mu boleh mam-pir ke de-par-te-men ob-gyn. Ka- mu bi- sa be-ri-ta-hu is-tri-ku ka-lau ka-mu i-ngin me-ne-mu-iku, nan-ti di-a a-kan meng-hu-bu-ngi-ku dan mem- per- te- mu- kan- ku de- ngan- mu]
Istri? Aku terkejut mendengarnya.
[Dokter sudah menikah?]
Entah mengapa aku merasa seperti di khianati. Aku merasa seperti ditipu. Aku tertawa miris dalam hatiku. Hello Tiwi, siapa yang mengkhianatimu? Siapa yang menipumu? Suara dalam hatiku terdengar mengejekku.
Dr. Gagu tersenyum sambil mengangguk. Dia membuka ponselnya. Menunjukkan beberapa foto padaku.
[Li- hat- lah, di- a is- tri- ku. Can- tik kan? A-ku rin-du se-ka-li pa-da-nya]
Aku melihat beberapa foto saat mereka menikah. Dan ada foto wanita itu sedang sendirian. Benar. Wanita itu cantik sekali. Dia terlihat bahagia sekali di dalam foto. Seperti memiliki dunia dalam genggamannya.
[Dia cantik sekali, Dia sangat beruntung dicintai pak Dokter], tak sadar aku mengakuinya.
[Be- nar- kah? Ka- mu ju- ga can- tik. Su-a-tu sa-at k-alau ka-mu de-wa-sa ka-mu ju-ga a-kan se-per-ti di-a, ka-mu a-kan me-ne-mu-kan le-la-ki ba-ik yang pan-tas un-tuk-mu]
Dokter kamu cuma menghiburku, aku tau. Mana ada lagi laki-lako yang mau padaku. Aku ini kotor. Kalau mereka tau, aku sudah diperkosa berkali, kali bahkan dengan orang yang berbeda. Mereka akan jijik padaku.
[Ke- na- pa ka- mu me- na- ngis la- gi? Hey, Ti-wi! A- ku ti- dak ta- u se- be- nar- nya ma- sa- lah se- per- ti a- pa yang ka- mu ha- da- pi. Ta- pi ka- mu ha- rus bang- kit. Ja- ngan ter- pu- ruk. O- rang yang su- dah mem- bu- at- mu be- gi' ni tak bo- leh ka- mu bi- ar- kan be- gi- tu sa- ja. Bi-ar-kan di-a da-pat hu-ku-man yang se-tim-pal de-ngan per-bu-a-tan-nya.]
Entah dorongan dari mana tiba- tiba aku memeluk Pak dr. Gagu. Dadanya yang bidang terasa sangat menenangkan. Aku mohon please untuk sekali saja. Tolong balaslah pelukanku. Sebentar saja. Aku akan melupakanmu setelah ini.
Dr. Gagu mendorongku dengan kuat namun sangat hati- hati agar aku tak terjatuh.
[Ti-wi, i- ni tak bo- leh. Ki-ta bu-kan muh-rim. A-ku i-ni su-a-mi o-rang la- in. Ka-mu su-dah be-ran-jak de-wa-sa. Ja-ngan la-ku-kan i-tu pa-da le-la-ki ma-na pun. A-ku na-se-ha-ti ka-mu ka-re-na ku ang-gap ka-mu se-per-ti a-dik-ku. Ka-mu ju-ga se-ba-ya ke-po-na-kan-ku]
Aku berdiri. Hatiku sakit menerima penolakan ini. Aku segera berlari pergi dari sini.
\*\*\*\*\*
Pov Mahfudz
Aku sampai di rumah sakit Siaga Medika sedikit lagi menjelang maghrib. Aku sengaja tak pulang ke rumah dulu agar bisa pulang bareng dengan Raya kalau dia sudah selesai bekerja. Mama bilang aku tak boleh membiarkan Raya pulang sendirian lagi membawa motor apalagi pulang malam. Karena itu aku turun dari mobil travel di sini saja.
Aku segera ke poliklinik obgyn. Langkahku terhenti. Saat melihatnya sedang bersama Winda dan para anak koas dan akbidnya berjalan berombongan. Mungkin mereka akan pergi sholat maghrib berjamaah. Mengingatkanku saat dulu dia masih jadi konsulenku, dia memintaku jadi imam sholat. Sholat berjamaah pertamaku dengannya. Dimana dia hampir mencium tanganku karena mengira aku Ummik begitu pun sebaliknya denganku. Jalan hidup memang unik.
"Ray!!" panggilku keras membuat semua orang yang berada di sini termasuk pengunjung melihat ke arahku.
__ADS_1
Raya melihatku juga. Dia berdiri beberapa meter dariku. Wanita ini tengah mengandung anakku. Aku segera mendekatinya. Lalu tanpa memperdulikan semua orang lagi di situ aku memeluknya erat.
"Ra-ya. A-ku ka-ngen sa-ma ka-mu."