I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kau melamarku?


__ADS_3

"Kamu tunggu aku aja di VK" kataku pada Mahfudz.


Dia mengangkat alisnya, pertanda bingung.


Aku tak tahu lagi harus membawa dia kemana. Yang terpikir olehku saat ini adalah ruang bersalin. Tempat yang benar-benar kosong, sehingga orang-orang tak perlu curiga aku memiliki skandal dengan Mahfudz.Yang jelas aku harus mengobati lukanya sebagai wujud pertanggungjawaban. Dia mengalami hal demikian pastinya karenaku. Luka dan memar di wajahnya lumayan banyak akibat berkelahi dengan Waridi.


"Aku pinjam kotak P3K sebentar aja ya" kataku pada Agus yang sedang jaga di IGD.


"Memang ada yang luka, dok?"tanyanya penasaran.


"Ada, aku."jawabku simple.


Agus memperhatikanku dari atas hingga bawah.


"Luka di hatiku Gus.."selorohku.


"Garing"jawab Agus bete akan jawabanku.


"Pinjam bentar ya, Gus..."kataku untuk yang kedua kali.


"Yaaaa" sahutnya.


Dari IGD aku menuju ke kantin, untuk membeli beberapa bongkah batu es yang ternyata oleh ibu pemilik kantin malah di beri gratis.


"Baiklah sekarang kamu berbaring di ranjang."


"Haa?"


"Jangan berpikiran macam-macam kamu, Fud." ancamku. "Aku di sini sebagai dokter yang mau mengobati kamu. Itu doank"


"Yaa.. si..ap, dok!"


Aku membersihkan luka Mahfudz dan menyuruhnya mengkompres keningnya sendiri yang lebam dan memar dengan es batu yang telah ku bungkus dengan handuk kecil.


"Harusnya kamu tak perlu melakukan itu, Fud. Kamu tidak tau apa yang bisa dia lakukan padamu nanti"kataku memperingatkan.


"A ..ku ti..dak bi..saa mem..bi..arkan, dok.. ter ce..la..ka"katanya.


Aku berhenti sejenak membersihkan lukanya dan menatap wajah Mahfudz. Sungguh wajah yang sangat tampan. Alis yang tebal dan rapi, hidung mancung dan bibir sedikit tebal dan seksi seperti bibirnya Lee Jong Suk Oppa, aktor drama korea. Sehingga kalau aku melihatnya tersenyum aku langsung teringat pada aktor ganteng itu. Meski banyak luka di wajahnya, namun masih terlihat kalau Mahfudz memiliki kulit sawo matang yang bersih.


Astaghfirullah Raya, tundukkan pandanganmu, kataku dalam hati.


Aku menunduk. Aku memang menyadari, aku belum sepenuhnya berhijab secara syar'i. Aku masih suka drama-drama korea. Dan masih suka mengagumi hal duniawi seperti kecantikan dan kegantengan seseorang. Sama halnya seperti yang kurasakan saat ini. Diam-diam aku mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang berada di depanku ini. Secara keseluruhan aku merasa dia sosok lelaki ideal baik secara fisik maupun karakter. Sayangnya saja kekurangannya itu membuat kelebihannya yang lain dipandang sebelah mata oleh orang lain.


"Ah...ini bahaya"kataku.


Mahfudz mengernyitkan keningnya.


"Kamu membuatku grogi, Mahfudz. Sudah lama aku tidak pernah menangani pasien laki-laki"kataku jujur.


Mahfudz tersenyum. Oh, lihatlah senyumnya benar-benar mirip senyum Lee Jong Suk. Dia memamerkan giginya yang rapi dan putih. Sialan memang Mahfudz ini.


"Jangan senyum!"perintahku.


Mahfudz berusaha menahan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Kamu tau, aku sengaja memilih karir sebagai dokter spesialis obgyn, agar aku bisa meminimalkan kontak dengan laki-laki yang bukan muhrim. Dan sekarang, aku punya pasien cowok di ruang bersalin"kataku. "Kau harusnya membayarku mahal"


Lihat, dia mengembangkan senyumnya lagi. Mahfudz ini memang...


Mahfudz menyentuh dagunya dengan kelima jarinya dan kemudian mengarahkan jarinya padaku, seperti gerakan kiss bye. Hanya saja ini, menggunakan dagu bukan bibir.


"Te.. ri..ma.. asih, dok.. ter" ucapnya.


Aku terpaku melihat bahasa isyarat dari Mahfudz.


"Bukannya terima kasih bahasa isyaratnya seperti ini?" tanyaku curiga. Aku menirukan gerakan yang pernah diajarkan Mahfud.


Meletakkan kepalan tanganku di dada, menyilangkan kedua tanganku di dada dan menunjuk ke dia dengan dua jari terlunjukku.


Mahfud tersenyum geli. "Bi.. sa.. ju.. ga.. seper..ti itu.." katanya sambil tertawa.

__ADS_1


Aku jadi curiga pada tawanya, apa dia sedang mempermainkan aku?


Selesai membersihkan luka Mahfudz, aku mengoleskan obat pada luka-luka Mahfudz, di bibir, di hidung, di tulang pipinya juga, serta di bawah pelupuk matanya. Jidatnya paling banyak memar sampai lebam berwarna kebiruan akibat dibenturkan sekeras-kerasnya oleh Waridi ke tembok.


"Dok.." Mahfudz memanggilku.


Aku menatapnya sebentar sebelum melanjutkan lagi mengoleskan obat. Sebentar lagi akan selesai.


"Ke..na..pa.. dok..ter.. meng..hin..dari a..ku da..ri e.. ma..rin..?"tanyanya.


Aku meletakkan kapas di nampan dan menyusun kembali obat ke dalam kotak P3K.


Aku mendesah dan memandang Mahfudz.


"Karena aku malu, Fud!"kataku jujur. "Semua orang memperhatikan kita, menggosipkan kita. Seorang dokter dengan mahasiswa koasnya. Semua orang di rumah sakit ini tau soal artikel berita itu. Mungkin dampaknya ke kamu tidak terlalu berpengaruh, tapi ke aku berbeda. Aku pernah hampir gagal menikah. Mereka menganggap aku putus asa dan berpacaran dengan brondong koas seperti kamu. Ah...pusing..."keluhku.


Mahfudz menatapku dengan rasa bersalah "Ma..af.. Dok.."katanya dengan ditambahi bahasa isyarat.


Aku mendesah dan menghela napas berat, "..dan aku juga malu padamu, Fud. Aku lebih tua darimu. Walaupun kemarin itu cuma settingan Waridi, tapi bisa kamu bayangkan betapa malunya aku. Semua orang, polisi, saudaramu, bahkan wartawan melihat kita tidur berpelukan seperti itu, kau bahkan tak memakai bajumu, dan sekarang itu viral di medsos.. Itu memalukan sekali, kalau kuingat-ingat aku rasanya mau mati sangking malunya, Fud. Aku, seumur hidupku hanya pernah memeluk ummik, almarhum abahku, nenekku saja, dan sahabatku, hanya itu. Aku bersumpah, aku tidak pernah melakukan itu dengan lelaki manapun. Bisa kamu bayangkan, betapa aku sangat malu sekarang? Ini seperti aib besar bagiku. Dan sekarang semua orang seluruh dunia tahu aib itu. Ah..." aku mencurahkan uneg-unegku ke Mahfudz.


Mahfudz bangun dari ranjang dan duduk di hadapanku. Dia memegang lenganku hati-hati.


"Ka..lau.. be..gi..tu..ki..ta meni..kah.. sa..ja.. dok..ter"


Haa??? Aku mengedipkan mataku berkali-kali, mencoba mencerna ulang kata-kata Mahfudz, atau aku yang salah dengar? Atau salah mengartikan gerak bibirnya?


"Kamu bilang apa tadi?"tanyaku kaget. "Kamu sedang melamarku?"


Mahfudz tertawa. "Ya... ka..lau...dok..ter..mau... Mamah..ku.. ju..ga su ruh..aku meni..kahi.. dok..ter Ra..ya.. Dia.. ma..lu ju..ga.. ka..ta..nya"


Aku geregetan melihat Mahfudz tertawa. Dia mengerjaiku.


"Kamu jangan sembarangan mengucapkan kata-kata seperti itu pada wanita manapun"kataku sambil mengetok gemas jidatnya yang lebam. Dia meringis kesakitan.


"Bagaimana kalau ada yang mengambil hati kata-katamu itu?"kataku jengkel. Aku ingin mengetok sekali lagi kepalanya namun dia menangkap tanganku.


Kami berpandangan sesaat sebelum aku menurunkan pandanganku karena grogi dan salah tingkah.


Aku terdiam sejenak sebelum tersadar ketika ada yang mengetuk pintu VK yang memang kubiarkan terbuka.


Aku dan Mahfudz menoleh berbarengan.


"Ehmm maaf dok, gang..gu" bidan Eva nyengir melihatku. "VK mau dipake sekarang, dok!Ada ibu-ibu mau lahiran.Sekarang udah bukaan delapan, ibunya sedang menuju kemari"


Aku meringis, rasanya kali ini kedua kalinya aku merasakan malu setengah mati sepanjang hidupku.


"Kami sudah selesai kok, aku cuma mengobati dia di sini"kataku sambil menunjuk wajah Mahfudz yang penuh luka-luka.


Kedua bidan itu senyum-senyum melihatku.


"Beneran, kami nggak ngapa-ngapain di sini,"kataku mencoba membantah tuduhan mereka yang dilontarkan melalui pandangan mata. "Aku mau balikin kotak P3K ke IGD dulu, aku duluan, Fud!"


Aku bergegas pergi, namun di pintu kedua bidan itu menggodaku.


"Cie..cie...dokter Raya lagi di lamar, suit...suit..."goda bidan Eva.


Aku mencubit lengan bidan Eva sambil tersipu, "Kalau sampai ini jadi gosip di rumah sakit, awas kalian ya."ancamku.


"Amaaan, dok. Kita bisa jaga mulut kok" Bidan Eva membuat gerakan mengunci mulut seakan mulutnya memiliki restleting.


"Asal nanti kita dapat undangan eksklusiv ya , Va?!!"sahut bidan Lastri.


Mereka tertawa cekikikan melihat wajahku yang memerah karena malu.


\*\*\*\*


Gosip kalau dokter Raya ada yang melamar cepat tersebar ke seluruh penjuru rumah sakit, namun siapa yang melamar masih menjadi rahasia. Sesekali aku mendapat ucapan selamat dari perawat yang kutemui di koridor, di lain waktu ada yang penasaran menanyaiku siapa yang melamar. Aku mengutuk Bidan Eva dan bidan Lastri yang tak bisa jaga mulut. Dan kesal pada Mahfudz yang sepertinya tidak terpengaruh berita itu.


Di suatu sore, aku seperti biasa sedang berada di poly. 15 menit lagi jam praktekku di buka. Seperti biasa, anak koas dan anak akbid, serta anak akper berkumpul di ruanganku. Mahfudz juga ada.


Hawa menelponku. Entah kenapa aku punya ide agak aneh dan nyeleneh.

__ADS_1


"Hallo, Ray??!Kamu sibuk?" Suara di seberang sana terdengar saat aku mengangkat telepon.


Aku melirik Mahfudz, aku harus menyelesaikan kesalahpahaman di antara kami. Sepertinya dia mengira aku menyukainya. Cih..pede sekali, kataku dalam hati.


"Hallo, Ray??Kamu dengar aku nggak?"tanya Hawa lagi.


"Iya, sayang, aku dengar kok, kenapa yank?"


Persis dugaanku, semua mata tertuju padaku sekarang. Mahfudz juga ikut melihat ke arahku.


"Yang, sayang, kepalamu peyang!"kata Hawa. "Kamu sibuk nggak? Temani aku belanja yuk, besok Yusuf ulang tahun."


"Hah? Belanja? Shoping maksudnya? Aku pengen sih, yank..Tapi aku lagi sibuk nih sekarang, udah banyak antrian di poly, kalau besok aja gimana, sayang?Sekalian kita jalan berdua, makan berdua, kan udah lama kita nggak pernah jalan?"


"Apaan sih kamu, Ray? Jijay deh ah.."omel Hawa di telpon.


"Kenapa Raya?"aku mendengar suara mas Ibrahim di telpon. Mas Ibrahim adalah suaminya Hawa.


"Nggak tau ini, Raya dari tadi ngomong ngawur manggil sayang-sayang seolah-olah yang nelpon pacarnya."kata Hawa pada suaminya.


Mas Ibrahim tertawa terbahak-bahak.


"Jangan marah-marah, donk sayang, nanti kamu cepat tua loh"kataku masih dengan aktingku.


Mereka yang di ruangan ini pura-pura tidak mendengarku, padahal mereka diam-diam menyimak pembicaraanku di telpon.


"Ray, kita vidio call aja yuk, aku bantu deh pura-pura jadi pacar kamu" kata mas Ibrahim di telpon.


"Beneran mas?"tanyaku girang.


"Iya, benar."katanya.


Aku segera mengubah mode telpon suara ke panggilan vidio.


"Ya, mas.." aku dengan riang menaruh ponselku berdiri di bingkai foto aku dan ummik.


Mas Ibrahim terlihat di seberang sana sedang tersenyum.


"Pacar dokter Raya ganteng" bisik anak akbid yang berdiri di sampingku pada temannya.


"Ray, mas mau ngomong"kata mas Ibrahim di panggilan vidio kami.


"Ya, mas mau ngomong apa?"tanyaku antusias. Aktingku harus total.


Tiba-tiba mas Ibrahim menarik Hawa ke pelukannya.


"Mas mau bilang, tolong lupakan mas, karena mas sudah ada penggantimu di sini, mas sayang sama dia. Mmuach..muach.." Mas Ibrahim mencium pipi Hawa.


"Mas.....!!!Mas Ibrahim"jeritku.


Kok jadi gini, bilangnya mau bantuin, gimana sih omelku dalam hati.


"Ya sudah, Ray. Lupakan mas pokoknya. Jalani hidupmu dengan bahagia, semoga kamu dapat lelaki baik yang mencintai kamu apa adanya, Daaadaaa...Ray.."


Telponku di putus. Mas Ibrahim ngerjain aku ini, aktingku malah jadi boomerang buat diriku.


Aku meringis sekarang. Semua anak-anak di bawah bimbinganku melihatku prihatin dengan rasa kasihan. Pasti mereka pikir aku sedang di putuskan pacarku sekarang. Mas Ibrahim tega ngusilin aku kayak gini.


Di antara orang di ruangan ini cuma Winda yang tertawa terkekeh-kekeh. Semua orang melihat ke arahnya.


"Wow, aku nggak nyangka dr. Raya bisa semanis dan seimut ini, jadi gemes."katanya dengan nada pelan masih sambil terkekeh.


"Jadi, siapa yang mau dokter buat cemburu?"bisiknya sambil melirik ke arah Mahfudz.


Aku mencubit perut Winda pelan. "Ahh, kamu Win"sangkalku.


Winda tertawa. Dia sudah lama jadi asistenku. Tentu saja dia kenal Hawa dan mas Ibrahim yang sempat beberapa kali datang mengunjungiku ke rumah sakit ini saat aku sedang tugas.


"Ya, sudah Win, mulai aja nomor antriannya" kataku mengalihkan pembicaraan.


Winda mengiyakan namun masih senyum-senyum menggodaku.

__ADS_1


__ADS_2