
"Maaf kawan-kawan, tapi kami benar-benar harus pergi sekarang," kata Ali sembari menarik tanganku.
Para wartawan itu meski terlihat kecewa namun nampaknya pantang menyerah untuk mengejar aku. Sungguh usaha yang sangat keras, kawan-kawan!
Aku berusaha untuk melepaskan pergelangan tanganku dari genggaman tangannya. Tetapi dia bersikukuh menarik aku hingga para wartawan itu tak lagi bisa mengejar kami ke dalam rumah sakit. Tentu saja ini tak luput dari bantuan security yang menghalangi wartawan di pintu depan. Ah, sepertinya aku harus mentraktir mereka nanti.
"Sudah, Li! Sudah! Makasih sudah bantu aku lolos dari mereka," kataku sambil tanganku menarik diri dari cekalan tangan Ali.
Ali akhirnya dengan sukarela melepaskan tanganku juga. Dia menatap seperti iba padaku sekarang.
"Jadi, apa yang dikatakan wartawan itu betul?" tanyanya.
"Yang mana?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
"Soal Mahfudz ...." katanya.
Aku terdiam, aku tak berharap dia banyak bertanya saat ini.
"Soal malpraktik itu ..."
"Baru dugaan," selaku agak sedikit ketus.
"Hmm ... itu maksudku," ralatnya.
Aku terdiam.
"Bisakah kamu jangan bertanya?" kataku jengkel.
__ADS_1
Ali menghela napas panjang.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi," jawabnya seolah mengerti apa yang kurasakan.
Rasa jengkelku yang tadi ada langsung menguap seketika mendengar d
jawabannya yang terkesan penurut itu.
"Oh, iya kamu ke sini mau ngapain? Mau jemput Marhamah?" tanyaku.
"Pastinya bukan menjemput kamu lah," jawabnya sok ketus padahal aku tahu dia tidak bermaksud begitu. Dan aku lebih memilih mengabaikan sikapnya itu.
"Makasih, Li. Aku ke ruanganku dulu," kataku lagi.
Ali mengangguk.
"Eh, tapi Ray ..."
"Tadi ada seorang ibu yang mencarimu," katanya.
Aku mengernyitkan keningku.
"Pasien?" tanyaku.
Ali mengangkat bahu.
"Entahlah, bisa iya bisa nggak. Aku juga nggak sengaja ketemu ibu itu tadi, terus aku tanya kepentingan dia mau bertemu kamu apa, dia malah nggak jawab tu. Katanya dia buru-buru mau ketemu kamu. Jadi aku suruh deh dia tunggu di depan ruanganmu," sambung Ali.
__ADS_1
"Baiklah, kalau gitu aku temui orang itu dulu," sambungku cepat.
Ali mengangguk dan aku pun segera pergi setelahnya.
Sedikit cemas aku menebak-nebak siapa kira-kira ibu-ibu yang datang padaku sepagi ini. Dan jawabannya segera kudapatkan saat aku melihat di kursi antrian di depan ruanganku ada ibu itu, ibu orang tua Afri yang anaknya diduga jadi korban malpraktik Mahfudz.
"Ibu?" sapaku padanya. Dia tampak tak terlihat baik-baik saja.
Ibu itu langsung menoleh, berdiri dan kemudian meraih tanganku.
"Dokter ..."
Wajahnya terlihat memelas. Ah, kini aku tahu apa maksud kedatangan sang ibu kesini.
"Ibu, ibu gimana kabarnya?" tanyaku berbasa basi.
"Dokter, tolong bantu saya, Saya tak bisa berlama-lama disini. Bagaimana dengan permintaan saya kemarin?" tanyanya tanpa Tedeng aling-aling.
"Permintaan apa, ya Bu?,"
Aku tak langsung menjawab, tentu sebenarnya permintaan yang dia maksud adalah memindahkan anaknya Afri dari rumah sakit Pahlawan Medika ke rumah sakit ibu dan anak Satya Medika.
"Masuklah dulu," kataku menawarkan mamanya Afri untuk masuk ke ruanganku.
Lalu dengan lantai gontai aku menuju meja kerjaku, diikuti dia yang tak sabar untuk segera menanyakan padaku
"Jadi, begini Bu. Saya bukannya tidak mau membawa Afri kesininya. Dan ..."
__ADS_1
***
Gantung dulu Beib ...