I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
First Kiss


__ADS_3

Aku memasuki kompleks perumahan Raya dengan hati yang tak menentu. Dari jauh sudah terlihat tenda megah berwarna putih kombinasi coklat.


Hatiku berdebar-debar melihat janur kuning melengkung yang dibentuk seperti gapura beberapa meter sebelum rumahnya. Belasan karangan bunga berjejer di sepanjang jalanan blok perumahan ini. Rumah ini bahkan sudah mulai ramai undangan. Aduuh bagaimana pendapat mereka melihat pengantin prianya yang bahkan belum datang ya? Segera kuparkirkan sepeda motorku tak jauh dari pos penerima tamu. Aku ingin melewati pos penerima tamu, namun pagar ayu yang menjaga mencegatku.


"Mas, mas dari rumah sakit Siaga Medika ya?"tanya salah seorang dari mereka.


Aku mengangguk.


"Koas juga?"tanya mereka sambil menyodorkan buku tamu untuk kuisi dan tanda tangani.


Aku mengangguk lagi.


"Wah, sama donk. Kami juga masih koas di obgyn, mas di stase apa?"


Oh, mereka anak koasnya Raya yang sekarang di obgyn, pikirku.


Aku tidak langsung menjawab melainkan mengisi namaku sendiri sebagai tamu di acara pernikahanku.


"I-P-D" jawabku dengan menggunakan bahasa isyarat.


Mereka tercengang mendengar jawabanku, spontan langsung melihat atribut nama di seragam koasku dan buku tamu yang baru kuisi. Mahfudz Alzafran.


"Mahfudz yang..."


Aku langsung mengangguk sebelum mereka menyelesaikan pertanyaan mereka. Mereka pasti sudah taulah Mahfudz anak koas calon suami konsulen mereka. Lagi pula seluruh rumah sakit apalagi di obgyn kenal dan tau hubunganku dengan Raya.


"Sa-ya per-mi-si du-lu" pamitku pada mereka.


"Iya Pak, eh iya Mas.... Duh, manggil apa ya baiknya?" tanyanya pada temannya sementara aku sudah berjalan menjauh dari mereka.


Aku memasuki pagar rumah Raya dan melewati beberapa kursi undangan. Ah, baju putih sepertinya sama magnetnya dengan baju pengantin di dalam tasku. Seluruh mata tertuju padaku sekarang. Aku berusaha tidak terlalu memperdulikan tatapan mata mereka. Yang kubutuhkan sekarang adalah mandi dulu, berpakaian rapi dan duduk di hadapan penghulu membacakan ijab qobul. Tadi kamar mandi di kamar koas sedang dipakai Bobby. Kalau sudah Bobby yang masuk asli bakal lama karena sudah kebiasaannya begitu. Entah apa yang dia lakukan di kamar mandi. Tapi yang jelas aku nggak bisa menunggunya selesai dari kamar mandi. Karena itu aku nekad kesini dengan kondisi lusuh begini.


"As-sa-la-mu a-lai-kum" kataku mengucapkan salam.


Semua menoleh padaku. Ruangan ini sudah di sulap jadi ruangan khas pengantin dengan dekoran dan tempelan bunga putih di setiap sudutnya. Begitu pun dengan teras, telah dipasang pelaminan luar juga. Aku melihat ke pelaminan, tidak ada Raya disitu, kemana dia?


"Wa-alai-kum-sa-lam" jawab Ummik dan beberapa dari mereka yang berada di ruangan ini. Ada Mama, Fuad, Nady dan beberapa orang dari keluargaku perwakilan dari almarhum papa.


Ummik menghampiriku.


"Um-mik, bo-leh Mah-fudz man-di di-si-ni? tanyaku spontan.


"MasyaAllah, Mahfudz. Ummik sampai deg-degan. Ummik kira kamu kemana, kenapa nggak datang-datang pikir Ummik gitu" Ummik mengusap-usap lenganku merasa lega.


"Ini dia calon mempelainya, pak penghulu" kata Ummik memperkenalkanku pada semua. Aku cuma bisa tersenyum dan mengangguk.


"Ya, sudah kamu mandi dulu sana!"suruh Ummik. "Mandi di kamar mandi Ummik aja" katanya.


Ah, Ummik ini sepertinya pengertian sekali. Beliau sama sekali nggak butuh alasanku kenapa terlambat datang. Segera Ummik mengantarku ke kamarnya. Kamarnya rupanya punya kamar mandi dalam.


Tapi saat aku hendak masuk ke kamar Ummik, aku melihat bidadari berkebaya putih itu mengintipku dari tirai kamar persis di sebelah kamar Ummik. MasyaAllah, cantik sekali calon istriku. Dia segera menundukkan pandangannya dan bergegas masuk ke kamar. Sepertinya di lihat dari dekornya, itu adalah kamar pengantin nya.

__ADS_1


"Cie... Malu-malu nih, ye.... Kak Raya....!"kata seseorang memanggil Raya yang kembali masuk ke dalam kamar.


"Fighting!"bisik Hawa menyemangati sambil mengepalkan tangannya. Kemudia ikut masuk ke dalam kamar.


"Ayo, Fud! Masuklah! Mandi di kamar mandi Ummik aja, soalnya kamar mandi belakang lagi ruwet. Jangan lama-lama mandinya nanti pak penghulunya kelamaan nunggu" kata Ummik.


"I-ya, Mik"jawabku.


Selesai mandi aku segera mengenakan baju pengantin putih kombinasi gold yang diantar Raya padaku, di hari kami bertengkar di atap rumah sakit. Kalau ingat betapa marahnya dia waktu itu, aku jadi takut melakukan sesuatu yang akan membuatnya kecewa lagi. Sampai hari ini pun dia masih gengsi beramah tamah padaku, walaupun aku tau dia sudah memaafkan aku.


"Mahfudz, sudah belum? Ayo!" kali ini mama yang mengajakku ke luar dari kamar.


Aku mengangguk dan mengikuti Mama. Duduk di hadapan penghulu tanpa ada Raya duduk di sampingku.


"Baiklah, kita mulai saja" kata bapak penghulu setelah terlebih dahulu memberikan khutbah nikah.


Yang menjadi wali nikah Raya adalah pamannya. Adik dari almarhum abahnya karena Raya tidak memiliki kakek atau saudara laki-laki lain yang bisa menjadi wali nikahnya.


"Ananda, Mahfudz Alzhafran bin Muhammad Abdillah, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Raya Efendi binti Rizal Efendi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 5 gram dibayar tunai"


Aku menarik napas panjang sebelum kemudian menjawabnya.


"Sa-ya te-ri-ma ni-kah dan ka-win-nya Raya E-fen-di bin-ti Ri-zal E-fen-di de-ngan mas ka-win se-pa-rang-kat a-lat sho-lat dan per-hia-san em-as se-be-rat 5 gram, di-ba-yar tu-nai" ucapku


"Bagaimana, saksi?" tanya penghulu.


"Sah!!!!!"jawab mereka.


Aku menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Alhamdulillah.


Aku mengangguk. Rasanya tak dapat diungkapkan apa yang kurasa saat ini. Apalagi saat Raya dijemput dari kamar untuk bersanding denganku. Apakah ini mimpi? Wanita ini sekarang adalah istriku?


Aku melihatnya memakai kebaya brokat putih yang menjuntai hingga ke mata kaki juga dengan bawahan batik menghampiriku dan duduk disebelahku.


Aku mendengar Hawa berbisik menggoda Raya "Sepertinya pengantin prianya sangat terpesona pada sahabatku"


Raya mencubit Hawa. Dan aku tersadar dengan lamunanku. Kami kini duduk berhadapan. Aku menyerahkan mas kawinnya.


"Kamu boleh mencium tangan suamimu sekarang" kata pak penghulu pada Raya. Raya dengan malu-malu meraih tanganku dan menciumnya.


Kemudian oleh pak Penghulu, aku diajari membaca doa suami kepada istri. Aku meletakkan tanganku di atas kepalanya.


[Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya. Dan aku berlindung padaMu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan padanya]


\*\*\*\*\*


Pov Raya


Aku sekarang sedang duduk di pelaminan luar bersama Mahfudz, menikmati instrumen musik dan lagu dari maher zain. Kali ini kami telah berganti pakaian lagi. Aku memakai gaun pengantin kembang bawah sekarang sementara Mahfudz memakai jas pengantin tuxedo pria berwarna hitam. Membuat kami seolah menjadi pasangan terserasi hari ini, walaupun baju ini adalah sewaan sepaket sama pelaminan dan tendanya. Sesi foto-foto juga sudah berulang kali dilakukan terus menerus. Para tamu undangan juga semakin siang semakin ramai. Aku lelah, duduk berdiri, duduk lagi. Katanya pesta pernikahan seperti ratu dalam sehari. Tapi masa iya ratu secapek ini? Kapan ini berakhir ya Allah.... Rasanya aku ingin tidur rebahan.


"Ka-mu ma-sih ma-rah pa-da-ku?" tanyanya dengan menggunakan bahas isyarat.

__ADS_1


Pertanyaan bodoh. Kalau aku marah padamu, tak mungkin aku melanjutkan pernikahan ini kan? Yah, wajar aja sih mengingat aku belum pernah menegurnya sejak chat terakhirku yang bilang dia "sok ganteng" itu.


"Ra-ya...." Mahfudz menggenggam tanganku.


Aku jadi panik seketika.


"Ih, lepasin Mahfudz. Kita dilihatin banyak orang" kataku panik.


"A-ku me-me-gang ta-ngan is-tri-ku, bu-kan is-tri o-rang" katanya dengan nada tak berdosa.


Ohhh... Sekarang kamu sudah mulai menunjukkan wewenangmu pada istrimu ya, kataku dalam hati.


"Aku tidak marah padamu, sudah? Lepasin tanganku. Aku malu dilihatin banyak orang" keluhku.


"Ka-mu se-la-lu me-mang-gil-ku Mah-fudz. I-tu ti-dak e-nak di-de-ngar, se-per-ti ka-mu ma-sih kon-su-len-ku sa-ja" katanya acuh masih sambil tetap menggenggam tanganku. Malah sekarang dia mengelus punggung tanganku.


"Terus maumu apa? Aku malu dilihatin orang. Banyak orang rumah sakit juga" kataku sambil melirik ke para tamu undangan yang sedang dudukan di barisan kursi di depanku.


"A-ku ti-dak ma-lu" katanya. "Pang-gil a-ku sa-yang. A-tau a-ku bi-sa men-ci-um-mu di si-ni...." dia menunjuk keningnya sendiri.


"Di-si-ni..." dia menunjuk lagi pipinya.


"A-tau di...." Mahfudz tidak meneruskan kata-katanya. Namun dia menggigit bibirnya. Namun aku tau maksudnya.


"Lepasin tanganku, sayang! Masih banyak orang disini" rengekku frustasi.


Dia tertawa kecil, terlihat senang dan melepaskan genggamannya tangannya. Sialan! Dia cuma ingin menggodaku saja.


Saat adzan dzuhur kegiatan resepsi dihentikan sejenak. Meski jadi pengantin kami tetap harus melaksanakan kewajiban sholat pada sang Khalik. Kami memutuskan untuk sholat berjamaah berdua saja di kamar sekalian biar bisa istirahat sebentar, sementara yang lain di musholla mini yang memang dibuat Ummik untuk sholat berjamaah.


Saat berada di kamar aku langsung membuka jilbabku dan menghapus make upku dengan make up remover. Aku segera berwudhu. Saat aku keluar dari kamar mandi Mahfudz sudah menunggu untuk bergiliran mengambil wudhu. Hatiku berdebar-debar saat dia melihatku tanpa penutup kepala seperti ini. Bukankah aku sekarang istrinya? Sebelumnya dulu saat penculikan itu dia juga pernah melihatku tanpa jilbab. Saat di ruang sanitize dulu sebelum operasi juga dia pernah melihat lenganku terbuka sampai siku saat mensterilkan tanganku. Kenapa sampai sekarang masih malu rasanya ya Tuhan.


Segera aku memakai mukenaku menunggu dia selesai berwudhu. Lalu sholat berjamaah itu pun kami laksanakan berdua meski dengan hati yang canggung. Selesai sholat berjamaah aku mencium tangannya berusaha membiasakan diri kalau aku sudah bersuami.


Aku baru akan beranjak dari dudukku. Ketika Mahfudz menarikku dan memaksaku kembali duduk bersila. Setelah itu dia meletakkan kepalanya di pangkuanku.


"Se-ben-tar sa-ja, bi-ar-kan a-ku ti-dur. Cu-ma 10 me-nit sa-ja. A-ku ngan-tuk sekali" katanya.


Kami masih di atas sajadah ini, dan aku masih mengenakan mukenaku saat dia tertidur di pangkuanku. Terlihat wajah yang sangat letih. Koas di IPD sepertinya membuat dia kehilangan banyak tenaga. Terlihat bahkan bulir-bulir keringat di wajahnya yang bersih. Sepertinya dia memang kurang tidur.


Aku memberanikan diri mengelus pelan rambutnya. Menyentuh sedikit bulu matanya. Karya Tuhan yang sempurna ada di wajah ini.


Suara pintu terbuka, aku seperti maling yang tertangkap basah mencuri permen. Ummik nyelonong dari balik pintu. Tertegun melihat Mahfudz yang tertidur di pangkuanku.


"Ada Professor datang di depan" bisik Ummik. "Kamu temui dulu, Ray!"


"Iya, sebentar Ummik" bisikku sambil menunjuk Mahfudz yang terlihat tidur sampai berkeringat.


Ummik sepertinya paham. Beliau menutup pintu dan meninggalkan kami berdua lagi di kamar.


Aku harus menemui professor dulu. Biar bagaimana pun ngga sopan kalau tidak segera menemui Professor. Siapa tau saja dia masih ada urusan penting seusai dari pesta pernikahanku.

__ADS_1


Aku memindahkan kepala Mahfudz dari pangkuanku ke sajadah dengan pelan-pelan dan hati-hati. Namun sepertinya dia menyadarinya. Dia menarik leherku sehingga sangat teramat dekat dengan wajahnya. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Spontan aku menutup mulutku dengan tangan. Astaga, itu first kissku setelah hidup selama 30 tahun di muka bumi ini.


"Su-dah ku-bi-lang, ja-ngan ba-ngun-kan a-ku du-lu, aku ngan-tuk." Katanya


__ADS_2