
"Raya!! Sini!" panggil Mama.
Aku segera berjalan mendekati mobil itu. Mama ternyata serius ingin membawaku menginap di rumahnya. Mereka sudah menungguku 15 menit sebelum aku selesai bekerja.
Mama membukakan pintu mobil untukku. Aku langsung masuk. Yang membawa mobil sudah pasti adalah Fuad dan ada Nadya juga yang duduk di kursi sebelah supir.
Aku segera mencium tangan Mama dan berbasa basi pada Nadya.
"Hai, Nadya ikut juga?"
"Iyalah. Kalau dia nggak ikut temannya dia di rumah siapa?" Mama yang menjawab.
Kalau lihat Nadya ini aku jadi malu sendiri karena ingat kebodohanku saat pertama kali melihat Mahfudz. Aku bahkan mengira mereka berpacaran. Aku bahkan mengira kalau Mahfudz adalah pedofil. Kalau ingat-ingat itu rasanya memalukan.
"Kamu ini kalau nggak dijemput paksa begini, pasti nggak mau datang kunjungi Mama deh" keluh Mama padaku.
"Maafin Raya, Ma. Raya benar-benar sibuk" kataku mencari alasan.
"Kalau nurutin kamu sama Mahfudz ya sibuk terus. Terus waktu buat Mama kapan donk? Mama kan pengen juga pamer-pamer menantu sama teman-teman Mama. Pengen jalan bareng sama kamu, masak bareng sama kamu, kita ke sanggar senam bareng, ke pasar bareng. Impian Mama dari dulu ya pengen punya menantu yang bisa Mama ajak melakukan semua itu. Maunya Mama sih kalian tinggal sama-sama Mama di rumah. Tapi ya kasihan sama Ummik kamu. Kalau kamu sama Mahfudz tinggal bareng Mama, Ummikmu yang bakal tinggal sendirian disana. Makanya Mama ngalah biarin kalian tinggal di rumahmu. Tapi kalau gini caranya yang kasihan ya Mama, jangankan dikunjungi. Ditelpon aja nggak" omelnya.
"Maafin Raya, Ma" kataku meminta maaf sekali lagi. "Raya janji, ke depannya Raya akan lebih sering menghubungi Mama. Nanti kita akan melakukan satu persatu yang Mama sebutin tadi" bujukku.
"Ya ...., kamu sama Mahfudz kurang lebih memang sama. Sama-sama pintar kalau ngebujukin Mama, pantas kalian jodoh"
Aku tertawa kecil. Dari kaca spion aku menangkap basah Fuad sedang melirik ke arahku. Di lihat dari mana pun mereka memang mirip.
\*\*\*\*\*
Pov Mahfudz
Telah 2 minggu lebih aku ditugaskan di rumah sakit jejaring ini. Ekspektasiku akan dapat banyak pengalaman medis di sini, sepertinya terlalu berlebihan. Rumah sakit ini hanyalah rumah sakit kecil di kabupaten. Kalaupun ada kasus medis yang urgensi tetap saja pasiennya akan dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar di kota. Sementara di rumah sakit ini hanya menangani kasus-kasus kecil.
Selama dua minggu disini aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari uang. Salah satunya adalah dengan menjajakan jasa cek kesehatan keliling. Diantaranya cek kadar gula darah, cek kadar kolestrol , cek asam urat bahkan untuk mengecek tekanan darah. Hasil yang kudapat lumayan untuk tambah-tambah uang belanja Raya nanti kalau aku sudah pulang. Karena kulihat Raya lebih senang memakai uang yang benar-benar hasil keringatku daripada uang dari hasil sarang walet.
Selama lebih dari 2 minggu aku hampir tak dapat pengalaman yang berarti apa-apa disini. Selain karena sedikitnya kasus, juga para dokter di sini sepertinya pelit ilmu.
Tapi seminggu yang lalu saat aku jaga di IGD, dan kebetulan tak ada dokter lain yang jaga, aku kedatangan seorang pasien berusia 13 tahun, kira-kira dia sebaya Nadya. Dia diantar oleh seorang wanita yang katanya adalah salah seorang pengasuh di panti asuhan tempat gadis itu diasuh. Ternyata gadis kecil itu yatim piatu. Dari informasi yang kuterima gadis itu bernama Pratiwi Arista.
"Ke-lu-han-nya a-pa?" tanyaku.
"Maaf, Dokter bisu?" tanya wanita yang mengantar gadis itu.
"Sa-ya ti-dak bi-su, Bu. Cu-ma a-da gang-guan bi-ca-ra" jawabku. Aku sudah terbiasa menghadapi pasien yang selalu bertanya tentang keadaanku.
"Oh, berarti sama dengan Tiwi donk, Dok! Dia tuna rungu juga. Tidak bisa mendengar dan berbicara, eh tapi dokter bisa mendengar saya kan ya?"
Ibu itu terlihat bingung. Aku cuma tersenyum, tak ingin membahas keadaanku lebih dalam. Sekarang harus fokus ke pasien.
"Ja-di, ke-lu-han-nya a-pa ta-di?" tanyaku.
"Oh, iya maaf, Dok. Saya jadi nanya kemana-mana tadi. Jadi Tiwi ini, sudah mengeluh dari beberapa hari yang lalu. Dia selalu merasa kram perut, terus kalau dia buang air kecil terasa perih dan sakit, katanya Dokter. Selain itu dia juga keluar darah padahal dia sedang tidak menstruasi, Dok!"
"A-pa di-a de-mam ju-ga?"tanyaku.
"Iya, Dok! Dia demam terus menerus. Sudah saya kasih paracetamol kadang turun, tidak lama panas lagi." jawab Ibu itu.
"Sik-lus mens-tru-a-si-nya se-la-ma i-ni te-ra-tur?"tanyaku.
Ibu itu menanyakan pada pasien bernama Tiwi itu pertanyaan yang kutanya dengan bahasa isyarat. Tiwi cuma mengangguk. Sepertinya dia enggan menjawab.
"Dia haid selalu teratur selama ini, Dok!" jawab si Ibu lagi.
Aku mengangguk. Aku merekomendasikan mereka untuk melakukan tes urin dan juga kultur bakteri untuk mengetahui apakah ada bakteri atau virus yang mengakibatkan anak itu menderita infeksi saluran kemih.
Dan mengejutkan, hari ini hasil laboratorium kultur bakteri yang dilakukan seminggu yang lalu menunjukkan kalau di urin pasien Tiwi terdapat bakteri Neisseria gonorrhoeae. Yang berarti Tiwi menderita salah satu penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yaitu gonore. Ini tidak lazim untuk remaja seusianya. Apalagi dia bahkan belum menikah. Oleh dokter spesialis kulit dan kelamin anak itu diperiksa secara mendalam. Kejutan demi kejutan akhirnya terungkap. Anak bernama Tiwi itu setelah diperiksa telah mengalami kekerasan seksual.
Sangat menyedihkan bagiku mendengarnya. Tetapi saat Ibu panti asuhan menanyai siapa pelakunya, gadis bernama Tiwi itu tidak mau memberitau. Dia hanya terlihat menangis. Membuatku jadi iba melihatnya. Aku ingin membantunya tapi sadar peranku di sini hanya sebagai ko asisten tenaga medis yang bahkan belum memiliki kewenangan apa pun.
Aku sedang berada di kamar koas yang disediakan pihak rumah sakit jejaring ketika aku membuka aplikasi WA. Ada beberapa panggilan vidio tak terjawab dari Mama dan juga dari Raya.
Aku ingin menelepon Mama dulu karena biasanya Mama menelepon kalau ada sesuatu hal yang penting. Tapi ternyata saat aku sedang mencari kontak Mama Raya meneleponku lagi dengan panggilan vidio. Istriku ini, aku sebenarnya rindu berat padanya. Namun aku agak malas berlama-lama jika sedang vidio call dengannya. Suara manjanya itu benar-benar membuatku ingin.... Ahh, you knowlah .... Hasrat seorang pria yang jauh dari istrinya. Setiap kali Raya ingin bermanja-manja di vidio call denganku, hanya membuatku semakin tersiksa karena tak bisa menyentuhnya. Rasanya kepalaku benar-benar pusing dengan kebutuhan tak tersalurkan ini.
Aku menerima panggilan vidio itu.
"Hal-lo sa-yang .... " sapaku.
Raya tersenyum.
"Coba tebak aku dimana?" tanya Raya.
"Dimana?" Aku balas tanya karna Raya tidak memberikan clue apa pun padaku.
Raya menggeser sedikit badannya sehingga aku bisa melihat ruangan di belakangnya.
Itu kan di rumah? Aku melihat sofa, hiasan yang menempel di dinding begitu pun bingkai foto. Itu benar-benar berada di rumahku, maksudku rumah Mama.
"Ka-mu di ru-mah Ma-ma?" tanyaku.
Raya mengangguk.
"Taraaaaa!!!! Om Mahfudz!" Nadya muncul pada layar Hp membuatku kaget.
Sepertinya HP Raya kini berpindah tangan pada Nadya.
"Ya am-pun. Na-dya!"
"Om, kapan pulang? Nadya kan kangen .... Om Mahfudz sejak nikah nggak mau lagi ngajak Nadya jalan. Nadya nggak disayang lagi. Om Mahfudz sekarang sayangnya cuma sama Tante Raya" keluhnya.
Raya yang mendengarnya terlihat tertawa kecil di telepon. Dia memeluk Nadya dan mengacak-acak rambutnya.
"Maafin Tante Raya donk .... Tante juga nggak disayang kok, buktinya tante juga ditinggal lama" sindirnya padaku.
"Ma-a-fin Om ya, Om Mah-fudz kan la-gi ko-as nan-ti ka-lau Om Mah-fudz pu-lang ki-ta ja-lan ba-reng ber-ti-ga" janjiku.
__ADS_1
"Benar?" tanya Nadya.
"I-ya, be-nar. A-sal ka-mu jan-ji ja-ngan nge-re-po-tin O-ma, nu-rut ka-la-u di-ka-sih ta-u dan ja-ngan sa-kit-sa-kit la-gi" kataku.
"Ok. Nadya sekarang jarang sakit kok. Nanti kalau Om Mahfudz pulang benaran janji ya kita jalan bertiga" tantang Nadya.
"I-ya" jawabku.
"Enak aja, cuma jalan bertiga. Oma dikemanain donk? Oma kan pengen ikutan juga" terdengar suara Mama menyelutuk dari tempat yang tak terjangkau kamera HP.
"I-ya, i-ya Ma-ma ju-ga" kataku.
"Siniin HPnya! Kamu belajar dulu sana. Terus tidur. Ini sudah jam setengah sepuluh. Besok kamu mau berangkat ke sekolah lagi kan?" Mama mengambil HP Raya lagi dari tangan Nadya.
Nadya manyun. "Ya, sudah, Om. Nadya tidur dulu!" Katanya sebal.
"Ya ...." sahutku.
Setelah memastikan Nadya sudah pergi ke kamarnya. Mama menyelutuk.
"Kamu itu, Fud. Kalau Mama yang telepon aja kamu nggak mau angkat. Giliran Raya yang telepon aja, kamu cepat angkatnya" kata Mama cemburu.
"Ihh, Mama. Kok mikirnya gitu sih?" terdengar Raya protes.
"Nggak gi-tu, Ma! Ta-di pas Ma-ma la-gi te-le-pon Mah-fud ma-sih a-da ker-ja-an. Pas u-dah se-le-sai, ke-be-tu-lan Ra-ya yang te-le-pon ya su-dah Mah-fudz ang-kat a-ja, Ma."
"Alasan aja kamu itu. Bilang aja kamu lebih sayang Raya sekarang daripada Mama" Mama pura-pura ngambek.
"Ihhh, Mama .... Jangan ngomong kayak gitu ahh. Raya jadi nggak enak kan jadinya."
Raya memeluk Mama.
"Mah-fudz sa-yang se-mu-a-nya, Ma. Ra-ya, Ma-ma Na-dya ju-ga." kataku geli.
Aku memang sering mendengar tentang seorang Ibu yang cemburu pada menantu perempuannya karena kasih sayang anaknya jadi terbagi. Tapi aku baru melihatnya langsung kali ini. Mungkin Mama memang benaran cemburu pada Raya. Ah, kedepannya aku harus lebih memperhatikan Mama.
"Tapi kamu kapan pulang, Fud?" tanya Mama.
"5 harian lagi, Ma." jawabku.
"Kata Raya 3 atau 4 hari lagi. Kok pulangnya makin lama sih?"protes Mama.
"Itu cuma penghitungan Raya aja, Ma. Nggak dihitung benar-benar" jawab Raya.
"Ah, kalian itu gimana sih. Pisahnya kok lama-lama. Kalau begini, gimana Raya bisa cepat hamil, kalau kamu sering tinggal lama-lama terus, Fud!" omel Mama.
Aduuh, Mama kenapa sih bahas itu. Mama nggak tau sih betapa pemalunya Raya itu. Dia pasti malu sekali sekarang. Kerjain ahh....
"Ma-ma te-nang a-ja, nan-ti ka-lau Mah-fudz u-dah pu-lang. Mahf-udz a-kan be-ru-sa-ha de-ngan ke-ras un-tuk pro-duk-si cucu bu-at Ma-ma sa-ma Um-mik. Ka-lau per-lu ti-ap ha-ri. Ti-ga ka-li se-ha-ri di-pro-duk-si sam-pai ja-di" kataku.
"Ihhh, Mahfudz! Jorok! Bisa-bisanya ngomong gitu ada Mama, kamu nggak malu?" omel Raya. Aku melihat perubahan ekspresinya yang terlihat malu sekali.
Kalau aku ada disana dia pasti sudah mencubitku atau memukulku dengan bantal guling. Dan kalau sudah begitu biasanya aku akan memeluknya untuk menenangkannya. Ah, aku rindu sekali padamu, Ray. 5 hari lagi kenapa terasa lama.
".... sudah, sudah, Fud! Jangan diteruskan. Malu tau nggak sama Mama. Ihh, nggak tau malu. Sudah, Ma. Matikan aja teleponnya" rengek Raya pada Mama.
Mama cuma senyam senyum pada Raya.
"Li-hat, Ma. Me-nan-tu Ma-ma. Di-a pe-ma-lu se-ka-li" ledekku sambil tertawa.
"Ya, sudah. Ya sudah. Mama mau tidur aja. Kalian masih mau ngobrol nggak?"
Mama sepertinya tak ingin membuat Raya tambah malu.
"Raya nggak mau, Ma. Matikan aja hp-nya" kata Raya merajuk.
Ow... kamu ngambek lagi, putri malu! Tunggu aku pulang. Kamu nggak akan bisa merajuk lagi padaku. Kamu harus membayar semua rasa rinduku ini sampai lunas.
"Kamu tidur di kamar Mahfudz aja ya, Ray. Soalnya di kamar Mama tempat tidurnya kecil. Mana Nadya tidurnya nggak mau anteng. Takutnya bikin kamu keganggu nanti" kata Mama.
"Ya, Ma. Raya terserah aja mau tidur dimana. Raya bisa kok."
"Tapi nggak ada kamar mandi dalam sih, Ray. Kalau kamu mau buang air kecil. Pakai kamar mandi belakang aja."
"Iya, Ma. Nggak apa-apa."jawab Raya.
"Fud, Mama tidur duluan! Kamu tidur juga, Fud! Atau mau ngomong lagi sama Raya?"
Mama menyerahkan ponselnya pada Raya.
"Raya nggak mau telepon lagi, Ma!"
Raya menjulurkan lidahnya padaku sambil matanya melotot dan mematikan panggilan vidionya.
Aku tertawa. Ya ampun, istriku itu. Bikin ku tambah rindu berat saja.
[Aku belum ada 10 kali vidio call kamu sehari ini sayang]. Aku mengirim chat padanya.
[Nggak usah. Aku sebal sama kamu]
[Sebal kenapa?] tanyaku pura-pura nggak tau.
[Kamu ngapain bilang ke Mama soal kita HB segala. Nggak sopan tau. Aku maluuuuuu. Nggak tau mau taro muka dimana]
Aku tertawa.
[Kamu nggak usah pusingin Mama, Mama itu orangnya selow. Dia ngerti masalah anak muda]
[Walaupun Mama ngerti, nggak seharusnya kamu ceritain masalah hubungan pasutri ke orang tua. Nggak sopan.]
[Iya, maaf, bu dokter. Kalau ngomong sama ortu nggak boleh, kalau sama bu dokter, boleh konsultasi nggak masalah pasutri?] godaku.
[Nggak boleh!]
__ADS_1
[Ayolah, Bu Dokter. Aku mau konsultasi soal istriku yang jauh di mata. Aku ingin sekali bla...bla...bla...bla.... gimana solusinya, Dok? Apa sebaiknya aku jajan ke lokalisasi aja?]
Aku ingin sekali melihat reaksi marahnya.
[Hmmm silahkan]
[Really?]
Aku menunggu balasan chatnya. Sebelum pada akhirnya dia mengirim foto gunting.
[Boleh aja, asal kamu siap kehilangan 3 cm berharga dari hidupmu 😈🔪✂]
[Oh, hahaha Ampun Bu Dokter!Kalau menyangkut itu saya nggak berani 😱]
\*\*\*\*\*
Mama mengantarku ke kamar Mahfudz saat masih belum menikah. Kamar sederhana layaknya milik anak muda lajang. Tempat tidur single bed yang cukup untuk ditiduri sendiri. Ada lemari juga meja belajar serta 2 buah lemari susun tempat menyimpan berkas-berkas kuliahnya.
Oh, di sini kamu menghabiskan malam-malammu sebelum menikah denganku, gumamku.
Setelah aktivitas berbalas chat dengan Mahfudz sudah selesai aku mengambil air minum ke dapur. Aku rasa aku perlu menyiapkan air minum di kamar untuk jaga-jaga siapa tau aku merasa haus tengah malam nanti. Rasanya aku tidak nyaman, jika berkeliaran tengah malam di rumah ini. Rumah ini masih asing bagiku. Ini pertama kalinya aku datang ke sini.
Aku hampir mengurungkan niatku untuk mengambil air minum saat melihat Fuad sedang berada di meja makan sedang merakit sesuatu.
"Kenapa Kakak Ipar? Kamu butuh sesuatu?" tanyanya tanpa melihatku.
"Oh, iya. Aku mau mengambil air minum" kataku.
"Kalau mau air es ambil saja di kulkas, kalau mau air minum biasa atau panas, tuh di dispenser" katanya.
"Oh, iya terima kasih" kataku.
Aku segera mengambil segelas air hangat. Namun aku penasaran melihat apa yang sedang dikerjakan Fuad.
"Kenapa kamu melihatku begitu? Aku terlihat mirip dengan Mahfudz?"
Dia tiba-tiba melihatku.
Aku tersenyum dan menggeleng.
"Tidak juga. Tadinya memang aku sempat merasa kalian memang mirip. Tapi kalau dilihat lagi tidak juga. Sepertinya senyum kalian berbeda" kataku walaupun sebenarnya aku belum pernah melihat Fuad tersenyum.
Fuad tersenyum "Kamu yakin senyum kami berbeda?"
Aku mengangguk.
"Baiklah, sepertinya mulai sekarang aku harus membiasakan lebih banyak tersenyum. Kalau itu bisa jadi pembeda antara kami why not?"
"Kamu tidak suka disamakan dengannya?" tanyaku.
"Memangnya ada orang yang suka disamakan dengan orang lain? Meski kembar tapi kami adalah individu yang berbeda. Dia orang lain bagiku."
Sepertinya dia tidak mempunyai hubungan baik dengan Mahfud, pikirku. Baiklah aku tidak akan membahas masalah hubungan mereka.
Aku hampir menyerah berbasa- basi dengan iparku ini andai mataku tidak terjuju pada tiga unit drone yang disusun di lemari kaca dapur.
"Kamu sepertinya ahli merakit drone" kataku.
"Ya, sering kujadikan konten youtube"
"Kamu pasti orang yang cerdas" pujiku tulus.
"Tidak semua orang berpikir sama sepertimu, kebanyakan dari mereka bahkan Mama sering membandingkanku dengan Mahfudz. Menurut mereka dia cerdas karna memilih kedokteran. Tapi aku pikir tidak semua dokter itu cerdas, kau membuktikannya. Memilih suami seperti saudara kembarku itu bukan bentuk dari kecerdasan kan?"
Aku menghela napas. "Aku memilihnya bukan karena aku cerdas. Tapi karena aku cinta."
"Cinta?" Fuad tertawa.
"Kamu belum pernah jatuh cinta?"tanyaku pura-pura terkejut.
"Entahlah, aku punya pacar tapi aku tidak yakin aku mencintai dia" katanya acuh.
"Kalau begitu, belajarlah mencintai dia, mungkin kamu akan memahami ketidakcerdasanku"
"Ok, next time. Saat ini aku tidak kepikiran soal cinta"
"Baiklah, kalau begitu aku ke kamar dulu" pamitku.
Namun aku mengurungkan langkahku saat melihat drone itu lagi.
"By the way, Fuad. Soal rekaman dronemu yang kebetulan merekam aku saat diculik .... Kamu masih punya rekaman lengkapnya?"
Fuad menatapku seperti ingin tau apa yang aku inginkan.
"Aku sempat melihatnya di youtube. Sepertinya kamu memotong rekamannya beberapa bagian, boleh aku melihat rekaman lengkapnya?" pintaku.
Fuad menatapku lagi.
"Aku masih punya. Tapi itu tidak gratis. Aku tidak tau apa kepentinganmu menanyakan itu lagi. Tapi bayaran apa yang kudapat kalau aku memberimu rekaman itu?"
Ah, Fuad ini licik juga. Bisa-bisanya masih ingin mengambil keuntungan dari kakak iparnya.
Aku tersenyum.
"Adek ipar, bukannya kamu sudah mengambil bayaranmu duluan?"
Dia mengangkat alisnya seperti ingin bertanya bayaran apa yang kumaksud.
"Kamu awalnya ingin membuat vidio review drone rakitanmu, lalu tak sengaja itu menangkap rekaman aku saat disekap. Kamu memotong bagian tak penting, tapi bagian yang ada aku dividio itu tidak kamu potong dan tetap kamu unggah. Berarti kamu memang bertujuan ingin vidio yang ada seorang dokter disekap itu viral. Terakhir kulihat viewnya sudah sampai ditonton 1,4 juta kali. Berarti uang hasil adsense vidio itu kamu yang terima kan? Subscribermu pasti juga bertambah karena itu. Dan sekarang Kakak Iparmu minta permintaan sesederhana itu saja kau pelit sekali, bukannya sekarang kita keluarga? Atau begini saja. Ok, aku minta rekaman aslinya yang lengkap. Aku bayar tidak apa-apa. Kamu minta berapa?"tanyaku sedikit kesal.
Fuad tersenyum sebelum akhirnya dia menjawab.
"Aku minta bayarannya bukan berupa uang, tapi yang lain. Bagaimana?"
__ADS_1
Aku mengernyitkan keningku. Apa maumu adik ipar?