I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Pembuktian Cinta


__ADS_3

Aku menepis tangan Ali dari pundakku. Sherly sepertinya tidak terlalu peduli ada aku dan Ali di sini. Dia tetap masuk ke toilet ini.


"Berhenti sok perhatian padaku, Ali. Kau akan membuat orang lain salah paham padaku," kataku kesal.


Aku berusaha membuka tali gaun operasi di belakangku. Ali dengan sigap membantuku membukanya. Oh, astaga ini menyebalkan. Aku menatapnya jengkel. Sementara dia balas tersenyum melihatku.


Aku membuka gaun operasi itu sesuai prosedur, menjauhkannya dari tubuhku dan menggulungnya. Setelah itu aku membuangnya. Kemudian aku membuka sebelah sarung tanganku dan meletakkannya pada tanganku yang masih memakai sarung tangan. Kemudian aku membuka sarung tangan yang satunya dengan satu hari telunjukku, menggulung kedua sarung tangan itu dan membuangnya ke tempat sampah khusus.


Selesai bersih-bersih hal pertama yang ingin kulakukan adalah makan. Segera aku ke kantin. Meski belum masuk jam makan siang, namun karena muntah sejak tadi membuatku tidak bisa menunda lagi mengisi perutku. Aku segera memesan seporsi nasi goreng. Tidak pakai telor dan suwiran ayam.


Pesananku datang beserta segelas es teh manis. Aku sudah menyuap beberapa sendok makanan di mulutku ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu yang menggiurkan di atas meja. Itu membuatku menelan air liur berkali-kali. Itu adalah sebotol kecap manis. Ya, kecap manis.


Seperti maling aku melihat kanan kiriku. Setelah yakin tak ada yang melihat, aku menuang kecap manis itu ke sendokku dan mencicipinya sedikit demi sedikit. Hmmm ini enak sekali. Kedua kali aku mencobanya lagi, lagi dan lagi. Kecap manis ini adalah yang terenak. Kenapa sebelum hamil aku tidak kepikiran untuk mencoba ngemil kecap manis seperti ini ya? Sumpah, ini enak sekali!


"Jadi ngidam unik ala dr. Raya adalah nyeruput kecap?"


Seseorang tiba- tiba duduk di hadapanku. Dia menyodorkan jus terong belanda padaku. Itu jus kesukaanku.


Aku memandang Ali dengan rasa tak percaya.


"Sumpah, demi apa kamu perlakukan aku seperti ini?" kataku kesal. Aku ingin bangkit dari dudukku dan Ali menahanku.


"Duduklah dulu! Kamu minumlah jus yang kuberikan."


Aku tersenyum sinis.


"Ray, nasi goreng itu tidak bagus dalam lambung, apalagi dalam kondisi perut kosong. Asam lambungmu bisa kumat nanti. Kau bahkan tidak makan sayur, ikan, ayam atau telur. Kau tidak khawatirkan janinmu?" tanyanya.


"Astaga, apa pedulimu? Kamu bukan suamiku, Ali. Sadarlah! Ada Mahfudz yang akan memperhatikan. Kau jangan repot- repot ingin mengambil alih tugasnya," kataku.


Ali bertopang dagu di meja. "Mulai sekarang aku tidak akan sembunyi- sembunyi lagi tentang perasaanku. Aku akan terbuka mengekspresikan perasaanku. Termasuk perasaanku padamu, Ray. Aku akan memperjuangkan cintaku. Kesalahan paling bodoh yang pernah ku lakukan adalah membuangmu. Dan aku membiarkan Mahfudz memungutmu. Dan sekarang aku akan mengambil lagi apa yang harusnya menjadi milikku."


"Tunggu .... Tunggu, Kau bilang aku milikmu? Sejak kapan? Harus ada sebuah akad untuk menyatakan kepemilikan atas sesuatu, ya kan? Saat kau belanja di pasar, ada akad jual beli maka barang yang kau inginkan resmi jadi milikmu. Begitu pun dalam hal cinta. Harus ada akad yang jelas. Dan orang yang sudah mengucapkan akad itu terhadapku adalah Mahfudz. Aku adalah miliknya Mahfudz. Jiwa dan ragaku sekarang adalah miliknya. Dan kau Ali, berhentilah seperti itu. Kau membuatku merinding? Apa kau bermaksud bilang kau akan jadi pebinor? Perebut bini orang gitu?" Aku tertawa geli.


"Kalau memang harus kenapa tidak? Aku tau kamu masih mencintaiku ...."


"No, no, no! Kau seperti tidak punya malu mengatakan itu. Aku mencintai suamiku bukan kamu atau lelaki manapun. Pembuktian terbesar atas sebuah cinta adalah pernikahan. Mahfudz menikahiku karena dia mencintaiku, sama denganku. Aku mencintai dia. Sebab itu aku menikah dengannya. Kau sendiri tau aku sedang hamil kan? Ini adalah buah cintaku dengan Mahfudz. Stop bertindak konyol seperti ini. Ini menggelikan ...."


"Aku juga menikah dengan Tya, dan pada akhirnya dia hamil anak kami. Semua itu bukan melulu karena cinta. Itu kebutuhan biologis Raya."


Aku menatap Ali dengan benci.


"Kau benar- benar membuatku tersinggung kali ini. Kau pikir hubunganku dan Mahfudz hanya sekedar hubungan biologis begitu?"


Dia tersenyum. "Mungkin khusus buatmu, kamu melakukannya hanya karena kewajiban seorang istri pada suaminya. Tapi aku tidak yakin itu cinta, Ray. Jujurlah pada dirimu sendiri, kau hanya mencintaiku."


"Kau benar- benar sudah sinting ...."


Aku segera bangkit dari dudukku dan segera pergi dari kantin. Percuma meladeni Ali bicara. Sepertinya dia sudah gila. Entah ide darimana, dia berpikir akan merebut aku dari Mahfudz. Membuatku stress saja.


Aku segera keluar setelah membayar makanan yang belum ku makan. Selera makanku tiba- tiba hilang.


Ali mengejarku hingga keluar kantin dan kami berdebat tanpa menyadari sepasang mata melihat kami dari kejauhan.


\*\*\*\*\*


Pov Mahfudz


Malam ini aku pulang sendiri. Karena Raya hari ini masuk pagi, dia sudah kuantar pulang duluan sejak tadi sore.


Raya membukakan pintu dan menyambutku.


"Kau sudah pulang?" Dia meraih tanganku dan menciumnya.


"Hmmm ...." gumamku menjawab pertanyaannya.


Raya terlihat cantik sekali malam ini. Entah cuma perasaanku saja, tapi dia terlihat cantik dalam balutan jubah tidur panjang satin berwarna hitam dengan motif bunga dan daun berwarna merah dan hijau yang sedang dia kenakan. Aku tau meski jubah tidur yang dikenakannya panjang sampai semata kaki, di dalam itu dia sedang memakai lingerie seksi.


Aku seketika menjadi gerah dan curiga padanya. Apa dia bermaksud menggodaku malam ini?


Aku melihat Ummik sedang menonton televisi di ruang keluarga.


"Um-mik ...." Aku meraih tangan Ummik dan menciumnya.


"Fud, kau baru pulang?" tanya Ummik


"I-ya, Mik."


Aku duduk mengobrol-ngobrol sebentar dengan Ummik. Rasanya aku ingin menghindari Raya malam ini.

__ADS_1


Aku tau aku tak boleh terhasut dengan perkataan Ali. Namun fakta tentang atap rumah sakit adalah tempat kenangan mereka berdua membuatku sedikit sakit hati. Benarkah Raya masih mencintai Ali? Kalau ingat kata-katanya tadi pagi benar- benar membuatku sangat sakit hati. Dia bahkan bilang kalau Raya bertahan di rumah sakit ini karena masih mencintainya. Apa aku suruh saja Raya berhenti dari rumah sakit Siaga medika? Mumpung dia hamil, apa kujadikan saja kehamilannya sebagai alasan agar dia berhenti bekerja? Sungguh aku tidak rela, dia ada keterkaitan perasaan dengan lelaki manapun selain aku. Apalagi nanti jika aku sudah menyelesaikan koas di stase interna. Bagaimana kalau aku dapat stase di rumah sakit lain? Mana bisa aku mengawasi apa yang terjadi pada mereka?


Aku mengusap wajahku sendiri, bingung dengan keadaan ini.


"Kamu ada masalah, Fud? Cerita ke Ummik kalau kamu ada masalah. Siapa tau Ummik bisa bantu."


"Ng-gak a-da a-pa- a-pa, Mik. Cu-ma a-da se-di-kit ma-sa-lah di ru-mah sa-kit. Um-mik ja-ngan kha-watir! Mah-fudz ke ka-mar du-lu, Mik. Mah-fudz mau man-di. Nan-ti ke-ma-la-man"


Aku segera ke kamar setelah pamitan dengan Ummik.


Raya terlihat duduk bersandar pada tempat tidur sambil mengotak- atik handphonenya. Melihatku duduk di pinggir tempat tidur, dia mendekat padaku, memeluk tubuhku dari belakang.


"Kau capek, sayang?"


"Hmmm .... Iya." jawabku singkat sambil membuka kancing bajuku.


Jari jemari lentik itu tanpa kuduga ikut membantuku membuka kancing baju. Dekat begini tercium bau harum wewangian dari tubuhnya. Aku tidak mengerti kenapa malam ini dia agresif sekali padaku. Sebelumnya dia belum pernah seperti ini.


"Ray, a-ku man-di du-lu." kataku seraya berdiri.


"Kau bisa mandi nanti, sayang, setelah ...." dia tak melanjutkan kata- katanya.


"Ray, a-ku ba-ru da-ri ru-mah sa-kit. Ka-u ta-u, de-par-te-men pe-nya-kit da-lam i-tu, pa-ling ba-nyak pe-nya-kit-nya dan mik-ro-or-ga-nis-me yang ber-si-fat pa-to-gen. I-tu mung-kin sa-ja me-le-kat di tu-buh-ku. Ka-u se-dang ha-mil. A-ku ti-dak ma-u i-tu me-nu-la-ri a-nak ki-ta."


Aku berusaha menolak Raya secara halus. Ya ampun kenapa dia agresif sekali. Persis seseorang yang sedang melakukan perselingkuhan. Apa dia melakukan ini agar aku tak curiga kalau dia masih mencintai Ali.


Astaghfirullah, Mahfudz!! Kenapa kau mencurigai istrimu sendiri? Aku geleng-geleng kepala sembari pergi ke kamar mandi. Aku sengaja berlama- lama di kamar mandi agar Raya tak mengajakku melakukan hubungan pasutri. Andai tidak ada kejadian tadi pagi bersama Ali dan aku tidak mendengar apa-apa darinya, sudah pasti aku akan dengan sangat cepat menyambut ajakan Raya.


Selesai aku mandi dan mengademkan diriku berlama-lama di kamar mandi aku segera ke luar. Aku berharap Raya telah tidur, namun ternyata dia masih menunggu dengan manis di tempat tidur. Sekarang dia malah bangkit dan mendekatiku. Tanpa malu- malu dia menghampiriku dan memelukku.


"Ray ...." Aku dengan sangat hati-hati melepaskan pelukannya agar dia tidak tersinggung. "A-ku ti-dak bi-sa ma-lam i-ni. A-ku ca-pek se-ka-li. Dan be-sok a-ku ha-rus ke ru-mah sa-kit pa-gi- pa-gi."


Raut wajah itu terlihat kesal dan kecewa. Ah, Mahfudz kau ini kenapa? Entah kenapa kata- kata dr. Ali membuatku tersugesti dan merasa kalau Raya tidak mencintaiku. Dan entah mengapa aku merasa tidak layak menyentuhnya.


"Ya sudah, kalau kau tidak mau. Percuma memakai ini," Raya segera membuka jubah tidurnya sehingga jubah satin itu teronggok di lantai.


Sekarang terlihat tubuhnya yang indah dalam balutan lingerie merah. Dia segera membuka lemari untuk mencari baju tidur yang lain.


"Padahal aku benar- benar menginginkannya malam ini. Aku ingin kau merasakan dan menilai apa aku melakukannya semata- mata karena cinta, atau kewajiban seorang istri atau hanya kebutuhan biologis semata. Kamu tidak ingin tau?" tanya Raya sendu.


Aku tidak menjawabnya.


"Ah, padahal malam ini, aku ingin memimpin ...."


"Tun-juk-kan pa-da-ku!" tantangku.


Raya tersenyum karena umpannya tepat sasaran. Di beralih ke meja riasnya dan menyisir rambutnya.


"Kau bilang kau tidak mau, kamu capek ...."


Ah Raya memang jagonya kalau sudah berlagak jual mahal.


Aku tidak sabar lagi dan mulai menciumnya di meja rias. Raya membalasku dan melakukan hal yang sama. Kami tidak lagi peduli meski segala kosmetik Raya jatuh berhamburan di lantai.


Malam ini aku merasakan sesuatu yang berbeda dari dia. Aku bisa merasakan yang terjadi malam ini di antara kami adalah cinta. Cinta yang timbul karena kami saling menginginkan satu sama lain.


Dan Ali? Siapa itu? Dia bukan siapa- siapa di antara aku dan Raya. Aku hanya tau kalau malam ini aku jatuh cinta lagi ke sekian kali pada istriku. Lagi dan lagi!


"Ka-u ya-kin ti-dak a-pa- a-pa?" tanyaku sembari mengelus perutnya di bawah selimut.


Aku dan Raya malam ini terlampau "hot" sampai-sampai lupa kalau dia sedang hamil. Aku jadi mengkhawatirkan kandungannya sekarang.


"Hmmm ...." gumamnya sambil mengangguk yang mengisyaratkan kalau dia baik- baik saja.


Aku merengkuhnya dalam pelukanku.


"Fud ...." panggilnya.


"Hmm ...."


"Aku ingin jujur padamu, tentang aku dan Ali."


Aku mendesah. "A-ku ti-dak ma-u men-de-ngar ten-tang di-a. Please, ja-ngan ru-sak mo-ment ma-lam i-ni."


Raya melonggarkan sedikit pelukanku dan menatapku.


"Kau harus dengar, Fud! Agar di lain waktu kau tidak salah paham padaku." katanya.


"Hmmm, ya su-dah ka-ta-kan!" kataku mengalah.

__ADS_1


"Yang Ali katakan tadi pagi tidak semuanya salah, Fud ...."


Aku menanti ucapannya selanjutnya. Dia bahkan tidak membantah ucapannya Ali. Aku penasaran apakah dia sengaja ingin mempersembahkan malam terbaik seperti malam ini dan kemudian ingin menghancurkan hatiku?


"Benar kata Ali, aku bertahan di rumah sakit Siaga Medika karena dia. Karena aku mencintainya, sungguh pun menyakitkan aku ingin berada di sisinya. Meski aku selalu diserang oleh Tya dan dicap pelakor aku tetap tidak mau meninggalkan rumah sakit itu, Fud," kata Raya sendu.


Ahh, hatiku tiba-tiba patah mendengarnya.


"Atap rumah sakit itu adalah tempat kenangan kami, itu juga benar. Tempat yang kami habiskan selama berjam- jam selama setahun sebelum akhirnya dia menikah dengan Tya. Tapi sumpah demi apa pun. Aku tidak pernah melakukan hal yang buruk dan maksiat apa pun dengannya. Bahkan ciuman pun tak pernah kulakukan dengannya. Kau mengambil ciuman pertamaku saat selesai sholat dzuhur ketika hari pernikahan kita. Kau ingat?" tanyanya.


Aku mengingatnya. Oh, itu ciuman pertamanya? Wow, berarti sama donk. Itu juga ciuman pertamaku. Teringat betapa konyolnya aku, mempelajari bagaimana cara pertama kali berciuman dengan seorang wanita melalui media google dan youtube. Dan akhirnya cuma kecupan singkat itu yang akhirnya bisa kulakukan spontan saat itu. Ah, harusnya aku bisa melakukannya dengan lebih baik.


"Ja-di ka-u men-cin-*** A-li?"


Raya terlihat menunduk sebentar sebelum akhirnya dia mengangguk.


"Ya, tapi itu dulu. Sebelum kau masuk dalam hidupku, Fud!" jawab Raya.


"Ja-di, sa-at a-ku me-nga-jak-mu me-ni-kah di VK, ka-u ma-sih men-cin-*** di-a?" tanyaku hati- hati.


"Entahlah," jawab Raya. "Yang pasti saat itu aku sudah mulai bimbang. Ada yang membuatku berdebar- debar kalau bertemu dengan dia. Ada lelaki yang membuatku malu setengah mati dan membuatku ingin melenyapkan diriku sendiri hingga ke lobang semut. Lelaki yang selalu ingin ku hindari namun membuatku rindu ...."


Aku mencoba menahan senyumku. Aku tau siapa lelaki itu.


"Wow .... Si-a-pa le-la-ki i-tu?" tanyaku pura- pura tidak tau.


Raya mencubitku. Wajahnya bersemu merah.


"Kamu lelaki itu, pakai acara pura- pura nggak tau lagi ...." gerutunya.


Aku tak bisa lagi menahan senyumku.


"Se-jak ka-pan i'tu?" tanyaku penasaran.


Raya terlihat berpikir "Hmmm .... Mungkin sejak aku diculik Waridi dan kau menolongku dan akhirnya dia menjebak kita dalam keadaan, hampir seperti ini ... Dan itu membuatku malu," Dia menunjuk pada tubuh kami dalam selimut yang sedang tidak berbusana apa pun.


Oh, kalau begitu aku duluan yang menyukaimu, Bu Dokter!


"Hmmm .... Sepertinya bukan" ralatnya. "Sepertinya aku mulai memikirkanmu dan membuat aku berdebar- debar sejak kita sholat berjamaah pertama kali di musholla rumah sakit. Kau ingat?"


Aku tersenyum. Tentu saja aku ingat. Aku pun merasakan berdebar- debar itu pada Raya pertama kali adalah saat selesai sholat berjamaah itu dengannya.


"Dan saat aku mengajakmu menikah di atap rumah sakit waktu itu, asal kau tau, itu adalah saat- saat aku benar- benar ingin melepas Ali dalam hati, pikiran dan hidupku. Dan aku tidak menyangka tiba- tiba kau datang menyusulku ke atap. Aku spontan mengajakmu menikah waktu itu. Tetapi kau malah bertanya apa aku mencintaimu. Aku kan jadi bingung, ya hatiku berdebar- debar memikirkanmu. Tapi aku tidak menyangka kalau itu cinta. Aku perlu memikirkannya berulang kali, sampai aku bertanya pada Ummik. Dan pada akhirnya aku tidak tau kalau Ummik mendatangimu."


"Dan ak-hir-nya Um-mik mem-buat-ku te-ri-kat se-la-ma-nya de-ngan ga-dis man-ja ini, ya Tu-han, to-long a-ku ...." kataku pura- pura menggodanya.


Raya mencubitku saat tiba- tiba Ummik mengetok pintu.


"Raya, Mahfudz! Tolong keluar sebentar, Nak. Ada yang datang ...."


Haaa? Ada yang datang? Siapa yang datang malam- malam begini. Ini sudah jam 11 malam.


"Tunggu sebentar, Mik!" sahut Raya panik.


Dia segera bergegas ke kamar mandi untuk sedikit bersih- bersih. Biasanya dia langsung bersih- bersih setelah bercinta denganku. Tapi karena ngobrol panjang lebar, kami jadi lupa melakukannya.


Tak lama dia keluar kamar mandi dam langsung membuka lemari memakai baju piyama biasa. Dan aku pun gantian masuk kamar mandi untuk bersih- bersih seadanya. Toh tadi aku sudah mandi.


Raya tak lupa memakai jilbabnya karena hendak bertemu tamu. Jadi kami keluar kamar bersama begitu aku selesai berpakaian.


Kedua tamu itu berperawakan tinggi tegap dengan memakai jaket kulit.


"Bapak Mahfudz?" tanya salah seorang dari mereka padaku.


"I .... ya?" Aku menjawab ragu dan sedikit bingung karena aku sama sekali tak mengenal mereka.


"Kami dari kepolisian. Bapak tolong ikut kami secara kooperatif. Bapak Mahfudz sementara kami tangkap atas laporan Bapak Waridi Soeharsono karena telah membawa lari putrinya Ayuni Mita!"


Kedua polisi itu menunjukkan surat penangkapan dan lencananya padaku.


"A- apa? Sa-ya sa-ma se-ka-li ti-dak me-nger-ti mak-sud Ba-pak. Sa-ya ti-dak men-culik si-a-pa- si-a-pa." bantahku.


Raya dan Ummik sampai shock mendengar keterangan dari polisi itu. Raya tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya terlihat pucat dan lemas.


"Um-mik, Mah-fudz ti-dak per-nah me-la-ku-kan i-tu. To-long per-ca-ya pa-da-ku, Mik! "


Ummik mengangguk. "Pak, menantu saya tidak mungkin melakukan hal itu. Hidupnya dan kesehariannya hanya berkisar antara rumah sakit dan rumah saja. Siang dia dan istrinya selalu di rumah sakit. Malam pun selalu bersama di sini. Tidak ada siapa- siapa yang diculik di sini." kata Ummik membelaku.


"Bapak Mahfudz tertangkap CCTV membawa kabur Ayuni. Jadi kami curiga korban diculik dan disembunyikan di tempat lain. Jadi mohon kooperatif. Jelaskan saja semuanya nanti di kantor polisi. Bapak Mahfudz juga bisa menyiapkan pengacara kalau keberatan. Ayo, Pak!"

__ADS_1


Ya Tuhan, apa ini? Mereka juga memborgol tanganku.


Aku melirik pada Raya yang terlihat pucat dan gemetar. Yang sabar, sayang ....!


__ADS_2