I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kantor Polisi


__ADS_3

Pov Raya


"Raya ganti baju sebentar dulu, Mik," kataku sesaat Mahfudz dibawa ke kantor polisi.


Ummik pun mengangguk dan juga ke kamarnya untuk mengganti baju.


Aku sudah bilang Ummik tidak perlu ikut, tapi Ummik mengkhawatirkanku yang sedang hamil untuk pergi keluar malam sendiri.


Aku benar- benar pusing dengan keadaan ini. Polisi mengira Ayuni diculik oleh Mahfudz, padahal Fuadlah orang yang mereka cari.


Aku mengambil ponselku dan mencoba menghubungi Fuad.


[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan]


Aku menelepon sampai beberapa kali hasilnya tetap seperti itu. Kemana Fuad? Kemana dia membawa Ayuni? Ya, Allah bagaimana ini? Apa aku harus menghubungi Mama? Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir setengah 12 malam. Jam segini harusnya Mama sudah tidur.


"Ray, ayo cepat!" Ummik memanggilku.


Aku mengambil kunci mobil dan segera keluar.


Saat kami sampai di kantor polisi di sana ada Waridi dan istrinya sedangkan Mahfudz sedang diinterogasi.


Bu Waridi menatapku dengan marah. "Sebenarnya apa masalah kalian dengan Ayuni sampai suamimu tega menculik putriku, Bu Dokter?"


"Sabar .... Sabar, Ma ...." Waridi dengan aktingnya yang natural mencoba menenangkan istrinya.


Itu membuatku muak dan ingin tertawa. Akhirnya hari ini kami bertemu lagi di sini.


"Kau tersenyum? Apa yang lucu? Apa ini sesuatu yang menyenangkan bagimu?" teriak Bu Waridi dengan marah padaku.


Aku tidak menghiraukannya melainkan mengajak Ummik duduk di kursi. Aku akan ke bagian informasi untuk menanyakan di mana mereka menginterogasi Mahfudz tetapi istrinya Waridi ini sepertinya tidak mau membiarkanku. Dia mendatangiku lagi.


"Kau bilang Ayuni mengalami kekerasan seksual beberapa bulan yang lalu. Apa suamimu pelakunya? Apa dia yang melakukan ini? Kalian seorang dokter, tapi kalian tidak berprikemanusiaan. Kalian biadab!" teriaknya.


Oh, Tuhan! Aku tidak sabar lagi menghadapinya.


"Apa maksudnya mengatakan kalau suamiku adalah pelakunya? Maksudnya Ibu Wakil Walikota menuduh suamiku melakukan pelecehan seksual pada Ayuni?" tanyaku berang.


"Iya. Suamimu pelakunya. Itu sebabnya dia mengajak Ayuni lari dari rumah. Istri seperti apa kau tidak tau kelakuan suamimu sendiri??!!!!" teriaknya.


Teriakannya membuat perhatian para petugas yang masih bekerja malam ini jadi tersita. Sebagian bahkan yang berada dalam ruangan sampai keluar dan mencoba menenangkan istri Waridi. Ummik yang tadi diam saja sekarang berdiri menghampiriku.


"Ray, kamu tenanglah. Kita ke sini untuk Mahfudz," kata Ummik sambil berusaha mengajakku duduk kembali.


"Sebentar, Mik!" tolakku.


Aku membuang napasku dengan sisa-sisa kesabaranku yang tersisa.


"Maaf, Ibu Wakil Walikota yang terhormat! Introspeksi diri anda sebelum anda mengatakan hal yang buruk pada orang lain. Anda bilang apa? Istri seperti apa saya sampai tidak tau kelakuan suami saya? Perlu saya beri tau? Saya istri yang memperhatikan kebutuhan suami saya termasuk masalah ranjang. Saya melayani dia dengan sangat baik sekali sampai saya berani menjamin kalau dia tidak akan melirik perempuan lain, apalagi perempuan lain yang sedang hamil. Anda sendiri bagaimana? Anda sangat yakin sudah melakukan tugas anda sebagai istri yang baik? Atau bagaimana kalau semisalnya suami andalah pelakunya yang memperkosa Ayuni dan melakukan percobaan pembunuhan? Apa anda yakin kalau anda sudah tau semua luar dan dalam suami anda?"


"Tutup mulutmu!!!" bentak Waridi. Tak terlihat lagi wajah ramah penuh pencitraan pada wajahnya.


Disaat yang bersamaan istrinya menamparku dengan teramat keras. Ummik dengan sigap ingin membalas, namun aku menahannya.


"Wanita ******! Aku akan melaporkanmu atas kasus pencemaran nama baik. Berani- beraninya kau berkata seperti itu. Suamiku adalah orang yang banyak berjasa dan berdedikasi tinggi bagi kota ini. Dia banyak mengasuh dan menjamin pendidikan anak- anak terlantar dan yatim piatu. Berani sekali kau menuduhnya sebagai seseorang pemerkosa!!! Bahkan memperkosa putri angkatnya sendiri? Kejam sekali tuduhanmu itu!"


"Laporkanlah!" tantangku. "Mumpung sekarang kita ada di kantor polisi. Sepertinya saya juga bisa melaporkan ini sebagai kasus penganiayaan dan kekerasan, bukankah bisa begitu, Pak?" tanyaku pada salah seorang Bapak polisi.


Polisi itu gugup dan menjawab.


"I- iya."


"Saya sudah cukup muak dengan masalah ini. Ku peringatkan anda. Jangan sekali- sekali menuduh suamiku dan berkata sembarangan padanya. Kalau anda mau melapor, laporkanlah. Saya lebih baik seperti itu. Bagaimana kalau kasus Ayuni beberapa bulan yang lalu kita selidiki kembali? Mungkin anda tidak akan sepercaya diri ini lagi saat mengetahui siapa dalang di balik ini semua!" kataku dengan benci.


"Tutup mulutmu!" Kali ini Waridi kembali mengintimidasiku lagi dengan kata- katanya yang tajam.


Aku menyeringai mendengar ancamannya.


"Jangan berani- berani mengintimidasiku lagi atau mencoba- coba menculikku dan mengganggu keluargaku. Anda mungkin tidak pernah tau, kalau kartu as yang hilang dari anda bisa saja sudah berada di tanganku sekarang. Dan ah .... Sebenarnya beberapa waktu ini ada orang yang menerorku dengan mengirimiku bangkai kucing yang dimutilasi dan terakhir kucing hamil dengan perut disiangi. Terbersit di pikiranku, mungkinkah itu anda, Bapak Wakil Walikota?"


Aku melihat reaksi Waridi. Terlihat seringai sinis di ujung bibirnya. Aku sempat bergidik melihatnya. Tapi emosiku karena perubahan hormon sepertinya lebih mendominasiku daripada ketakutanku.


"Aku harap itu bukan anda, karena kalau itu memang anda saya tidak akan segan- segan melaporkan ini pada Komunitas Cat Lovers Indonesia. Anda tau? Sekarang menyiksa hewan pun ada undang- undangnya!"


Semua orang yang berada di situ terpana pada kata- kataku. Mereka mungkin tidak percaya padaku. Tapi aku tidak peduli pada anggapan mereka. Aku kembali lagi duduk di sebelah Ummik setelah aku disuruh menunggu oleh bagian informasi.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


"Ibu istrinya Bapak Mahfudz?" Petugas itu bertanya padaku.


Aku mengangguk. "Iya."


"Silahkan ikut saya sebentar, Bu ...."


Aku berpaling pada Ummik.


"Raya ke dalam dulu, Mik," pamitku.


Ummik cuma mengangguk.


Aku tidak mengabaikan pandang Waridi dan istrinya yang mengikutiku hingga aku hilang dari pandangan mereka.


"Dengan Ibu siapa?" tanya penyidik padaku.


"Raya Effendi" jawabku.


Petugas itu lalu mengetik namaku di komputernya.


"Ibu Raya, Ibu istrinya Bapak Mahfudz, benar?"


Aku mengangguk. "Benar."


"Maaf Ibu Raya, kami membutuhkan keterangan ibu sebagai saksi. Jadi kami harap waktunya sebentar. Keterangan ibu sangat diperlukan untuk kepentingan kasus ini. Jadi harap jawab dengan sejujur- jujurnya" katanya.


Aku mengangguk.


"Ibu dengan Bapak Mahfudz sudah menikah berapa lama, Bu?"


"Sekitar 1 bulan setengah, Akhir bulan nanti genap 2 bulan," jawabku.


"Wah, masih pengantin baru," katanya manggut- manggut. Aku cuma mengiyakan.


"Bapak Mahfudz dan Ibu Raya kalau boleh tau kenal di mana? Pacaran? Dijodohkan atau bagaimana?"


"Saya dokter di rumah sakit Siaga Medika dan kebetulan suami saya koas di sana. Kebetulan saya konsulennya"


"Itu kisah cinta yang menarik. Sepertinya saya pernah mendengarnya beberapa bulan yang lalu. Skandal seorang dokter dan mahasiswa koasnya. Maaf, apa itu adalah Bapak Mahfudz dan Ibu Raya?"


Oh, Tuhan kenapa masalah itu timbul kembali. Firasatku Bapak penyidik ini akan menggiringku ku ke pertanyaan- pertanyaan yang tidak membuat nyaman.


"Ya," jawabku malas.


"Jadi Ibu Raya kenal saudari Ayuni?"


"Saya tidak mengenalnya secara personal. Hanya saja saya pernah menjadi dokternya saat ada kasus yang menimpanya itu beberapa bulan yang lalu." jawabku.


"Kalau Bapak Mahfudz, kenal dengan saudari Ayuni? Maksud saya di sini adalah sejauh pengetahuan Ibu."


"Tidak." jawabku pasti.


"Anda yakin?"


Aku mengangguk.


"Baiklah, pertanyaan berikutnya. Bagaimana hubungan antara Ibu Raya dengan Bapak Mahfudz. Apakah harmonis?"


Aku mulai menatap tak suka pada penyidik.


"Ya. Sangat harmonis."


"Harmonis di sini apakah termasuk dalam berhubungan pasutri? Hubungan intim?"


Aku menatap tak percaya pada penyidik ini. Rasanya aku mulai emosi.


"Perlukah saya menjawab itu? Itu adalah hal yang sangat privacy dalam rumah tangga saya," kataku keberatan.


"Maaf sekali lagi Bu Raya, tapi ini adalah demi kepentingan penyelidikan. Kami tidak bermaksud lain."


Aku menatap jengkel padanya.


"Baiklah, bisa kita lanjutkan?" tanyanya.

__ADS_1


Aku mengangguk dengan berat hati.


"Maaf saya tidak bermaksud meremehkan Bu Raya, tapi dalam hal hubungan intim apa kalian berdua romantis?Harmonis? Maksud saya, Bu Raya kan lebih tua dari Bapak Mahfudz. Apakah Bu Raya pernah berpikir kalau suami ibu mungkin tertarik secara seksual dengan orang yang lebih muda? Misal dengan orang seumuran Saudari Ayuni. Ngomong-ngomong saudari Ayuni masih berusia 20 tahun" katanya memberi tahuku.


Entah apa maksudnya mengatakan itu.


"Saya dan suami saya romantis dan mempunyai hubungan yang harmonis. Dalam berhubungan intim pun demikian."


"Berapa kali dalam seminggu kalian melakukannya?"


Astaga ini membuatku stress.


"Kami melakukannya hampir setiap hari sepulang kerja dan kalau sempat subuh sebelum dia berangkat ke rumah sakit. Apakah informasi yang saya berikan tentang hubungan pasutri cukup? Apa perlu saya ceritakan detailnya dari foreplay hingga klimaks?" tanyaku jengkel.


"Hahaha .... Itu tidak perlu Bu Raya." katanya. Mungkin dia mulai bisa menangkap ketidaksenanganku terhadap pertanyaan- pertanyaan yang dilontarkannya.


Di saat- saat itu tiba- tiba seorang petugas wanita datang dan berbisik pada penyidik itu. Penyidik itu terlihat mengangguk- angguk. Setelah rekannya pergi penyidik itu bertanya lagi padaku.


"Bu Raya, kalau dilihat kembali kasus beberapa bulan lalu, rasanya waktu itu Bu Raya mengaku diculik, tetapi yang terjadi di lapangan adalah Bu Raya dengan mahasiswa koasnya Ibu yang sekarang dalam konteks suami Ibu sedang ehmm...."dehemnya merasa tak enak. "Maafkan saya, kalian ditemukan dalam kondisi seperti sedang menghabiskan malam berdua dalam sebuah rumah kosong. Namun, kalian berdua sama- sama membantah memiliki hubungan. Dan yang lebih parah Bu Raya mengaku diculik Bapak Waridi. Namun yang terjadi saat ini adalah ternyata kalian berdua menikah. Bisa dijelaskan kenapa bisa terjadi demikian? Apa kalian memiliki dendam atau kepentingan pribadi dengan Bapak Waridi?"


"Soal pernikahanku dengan suamiku. Mungkin Bapak boleh menyebutnya takdir. Kalau dipikir-pikir kita tidak akan tau akan bertemu kapan dan di mana dengan jodoh kita kan, Pak? Begitupun dengan maut dan rejeki. Saya bertemu suami saya adalah saat saya masih jadi konsulen atau dokter pembimbingnya. Kami tidak kenal Bapak Wakil Walikota secara personal. Kami hanya tau kalau dia adalah wakil walikota dari media televisi, digital atau cetak. Sekalipun belum pernah bertemu. Hingga hari itu putri dari Bapak Waridi dilarikan ke rumah sakit kami dan menjadi pasien saya di sana. Dan saya menemukan bukti-bukti fisik tentang kekerasan seksual dan penganiayaan. Sesuai kesepakatan pihak rumah sakit kasus itu dilaporkan ke kepolisian dan karena Bapak Waridi adalah publik figur jadi pihak rumah sakit kami perlu memberikan konferensi pers. Saya adalah salah satu tim dokter yang melakukan konferensi pers hari itu. Dan keesokan harinya saya diculik oleh anak buah Bapak Waridi. Setelah dibawa ke rumah itu, Bapak Waridi mengungkapkan permintaannya agar saya menarik pernyataan saya di konferensi pers dan membuat pernyataan ulang dalam konferensi pers kedua. Tapi sampai akhir pun kalian tidak akan percaya pada saya. Lalu setelah kejadian itu saya dan suami saya semakin dekat dan saling menguatkan karena berat bagi saya menghadapi berita skandal itu. Lalu akhirnya saya menikah dengannya. Apa yang aneh?" tanyaku setelah menjelaskan panjang lebar.


Penyidik itu manggut- manggut. Aku yakin meski dia sudah mendengar alasanku tentang penculikan itu, dia akan pura- pura tidak pernah mendengarnya.


"Baiklah, pertanyaan terakhir. Ibu Raya bilang suami Ibu juga koas di rumah sakit tempat ibu bekerja. Apa Ibu yakin dia tidak pernah bolos dari rumah sakit?" tanyanya lagi.


"Setauku dia tidak pernah bolos kecuali memang sangat penting sekali. Tapi untuk lebih jelasnya bisa ditanyakan pada pihak rumah sakit, teman, atau konsulennya. Kalau pun dia perlu keluar di jam- jam kerja pasti dia punya alasan yang logis," kataku membela Mahfudz.


"Bagaimana kalau Ibu Raya lihat ini?"


Penyidik itu memiringkan komputernya ke arahku, agar aku bisa melihat dengan jelas. Di situ ada rekaman CCTV seorang pria mirip Mahfudz yang sedang menunggu seorang wanita hamil naik ke boncengannya. Wanita itu Ayuni. Dan aku tau pria itu adalah Fuad. Entah bagaimana Waridi bisa mendapatkan rekaman CCTV itu. Tapi yang jelas Fuad dalam masalah besar.


"Itu bukan suamiku," jawabku.


"Lalu dia siapa? Kembarannya? Atau hantu?" Penyidik itu tertawa geli.


"Dia memang kembaran suamiku. Namanya Fuad. Memangnya Bapak belum pernah melihat orang kembar sebelumnya? Apa itu selucu itu?"


Penyidik itu langsung terdiam mendengar jawabku. Sepertinya dia malu.


"Apa Bu Raya yakin itu bukan Bapak Mahfudz?"


"Tentu. Sebagai istri tentu saja aku bisa membedakan mana suamiku mana yang bukan."


"Ehm ... Baiklah, apa ada orang yang bisa mengkonfirmasi hal ini? Bahwa Bapak Mahfudz dan orang dalam CCTV ini adalah orang yang berbeda?" tanyanya.


"Ada. Mertuaku," jawabku.


"Di mana alamat rumah mertuanya Bu Raya? Kami perlu menjemput mertuanya ibu untuk mengkonfirmasi apakah yang ada di sini Bapak Mahfudz atau kembarannya."


Aku memberi tau alamat Mama pada polisi. Maafkan aku Fuad, aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa membiarkan Mahfudz tertangkap.


Di tengah- tengah perasaan bersalahku tiba- tiba handhoneku bergetar. Aku membuka tasku. Ada telepon dari nomor baru. Aku tidak berani mengangkatnya. Tidak lama SMS masuk.


[Kakak Ipar, ini nomor baruku. FUAD! Angkat teleponku!]


Ya Allah, bagaimana ini? Kalau aku mengangkat telepon Fuad, bisa ketahuan nanti oleh penyidik itu.


Telepon itu terus memanggil hingga ponselku bergetar terus.


"Kenapa teleponnya tidak diangkat Bu Raya?" tanya penyidik itu.


"Oh, ini telepon dari temanku. Aku belum menyelesaikan keteranganku sebagai saksi, nanti saja kuangkat."


"Malam- malam?"


"Ya, tadi aku minta bantuannya untuk mencarikanku seorang pengacara malam- malam seperti ini."


"Oh, angkatlah! Lagi pula sesi kita sudah selesai."


Aku mengangguk. Lalu megusap ikon telepon berwarna hijau pada layar ponsel.


"Hallo ...." sapaku ragu- ragu sambil melirik penyidik itu


"Hallo, Kakak Ipar .... Aku mohon tolong bantu aku,"

__ADS_1


__ADS_2