I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Tuba falofi


__ADS_3

"Dok! Jangan becanda donk!" rengekku.


Dr. Gayatri memperhatikan lagi monitor itu dengan baik-baik. Lalu dia pun menghentikan sejenak menggerakkan USG Doppler yang sedang dipegangnya itu.


"Kalau sesuai HPHT-mu sih harusnya usia kandunganmu ini masih sekitar empat minggu. Kemungkinannya sih ada dua ini, Ya. Ini kan udah USG, kalau di dalam rahim sepertinya kosong isinya, nggak ada kantong janinnya, kamu bisa lihat kan? Tapi pas ditest pack tadi kadar HCG-mu tinggi, itu artinya kamu memang hamil. Cuma ini baru praduga sementara saya aja kok. Menurut kamu gimana?" Dokter Gayatri malah bertanya meminta pendapatku.


Aku terdiam dan menatap Mahfudz. Tadi subuh dia juga sempat mengkhawatirkan hal ini.


"Apa perlu kita USG transvaginal aja? Biar lebih jelas kita melihat embrionya ada di mana? Kalau saya sih curiga ini ada di tuba falopi. Kalau memang kehamilannya ektopik yah mau bagaimana lagi? Sebaiknya kehamilanmu sesegera mungkin di akhiri, sebelum berdampak buruk buat organ lain, Ya! Gimana? USG transvaginal ajaa dulu?" tanyanya lagi sambil membersihkan perutku yang tadi diolesi oleh gel dengan tissu.


"Gimana, Yah?" Aku malah bertanya pada Mahfudz.

__ADS_1


Mahfudz mengangguk setuju.


"Lakukan USG transvaginal aja dulu, Dokter," kata Mahfudz. "Saya memang sempat khawatir pada Raya dan suruh dia untuk periksa ke dr. Gayatri."


"Khawatir kenapa?" tanya dr. Gayatri lagi sambil mempersiapkan alat-alat yang diperlukannya untuk melakukan USG transvaginal.


Mahfudz agak sedikit enggan mengatakannya. Dia mungkin malu pada dr. Gayatri.


Dr. Gayatri mendengar hal itu hanya manggut-manggut.


"Kalau memang IUD-nya lepas atau beresiko ya sangat mungkin sih kalau terjadi kehamilan ektopik," kata dr. Gayatri memberi tahu. "Kamu juga, Ya, kamu ini ceroboh deh. Kamu memang nggak pernah periksa mandiri apa benang IUD kamu?" tanyanya.

__ADS_1


Aku menghela napas, kemudian menggeleng mengakui kecerobohanku.


"Nggak, Dok. Kupikir karena udah lebih tahun aku pakai dan baik-baik aja, dan lagi ayahnya Haikal jarang di rumah juga, makanya aku jarang periksa sendiri," kataku sambil meringis.


"Nah salah kamu berarti ini!" tuding dr. Gayatri tanpa basa-basi.


Aku mengakui dengan pasrah, hingga akhirnya aku pun melakukan USG transvaginal dengan dr. Gayatri. Hingga sesaat setelah dilakukannya USG Itu, ternyata dugaan kami tentang kehamilan ektopik itu benar adanya. Embrio yang sudah dibuahi itu berada di tuba falopi.


Tuba falopi adalah saluran yang menghubungkan indung telur dengan rahim. Harusnya sel telur yang telah dibuahi sp*rma akan keluar dari tuba falopi dan melekat di dinding rahim hingga nanti tiba masanya embrio itu akan berkembang menjadi janin dan menetap disana sampai tiba waktunya untuk dilahirkan. Tapi dalam kasus kehamilan ektopik, sel telur yang dibuahi itu tak keluar menuju rahim, melainkan menetap di organ lain ibu. Untuk contoh kasus sering terjadi di area tuba falopi.


****

__ADS_1


Nanti deh ya author jelasin lebih detail soal bab ini nanti aja ya. Ngantuk berat othornya...😂


__ADS_2