I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Masalah Hawa


__ADS_3

Pov Raya


"Kamu kenapa, Ray?" tanya Hawa padaku.


Aku menggeleng ragu. Pikiranku masih berada pada orang itu. Orang yang tadi baru kami temui di kantin rumah sakit Medika Rahayu. Aku merasa orang itu, orang yang bernama Geovani itu seperti familiar dengan seseorang. Seseorang yang lekat diingatanku. Seseorang yang pernah sangat sulit hilang dari ingatanku meski bertahun-tahun telah berlalu. Dia seperti ...


"Hoiii!!" Hawa mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku, mencoba membuyarkan lamunanku. "Mikirin apaan sih sampai aku dicuekin? Mikirin ayang Mahfudz, ya?" godanya.


Aku mencubit Hawa pelan.


"Hawa, ihhh! Nggak usah godain aku kayak gitu kenapa? Kayak anak ABG aja," sungutku manyun.


"Aku nggak godain. Tapi benar kan kamu lagi mikirin Mahfudz? Jangan-jangan kamu kepikiran kata-kataku yang tadi, Ray?" tebaknya dengan wajah sumringah.


"Kepikiran apaan? Kata-katamu yang mana?" Aku malah balik tanya. Sumpah aku nggak ngerti.


"Yang melendung ...." ucapnya dengan nada curiga.


"Hawa ..." protesku dengan wajah galak. Bisa-bisanya sahabatku yang sengklek ini berpikir sampai ke sana.


"Loh, kali aja benar kan, Ray? Akhir-akhir ini kamu makin galak soalnya. Cerewet, bawel!" imbuhnya.


"Nggak ya! Dari dulu aku kan memang udah kayak gitu," bantahku.


"Ihh, dikasih tau ngeyel. Coba aja tes dulu, kali aja hamil beneran, ya kan? Mayan ... Haikal dan Laila punya adek lagi," godanya tak henti-henti.


"Nggak. Aku pakai IUD," bantahku lagi.


"Biar pakai IUD juga masih ada resiko kegagalan sekian persen, kan?" sanggahnya mencoba mendebat bantahanku.


"Hanya 1%. Kemungkinannya hanya 1 wanita dari 100 orang wanita yang memakai IUD," kataku tak mau kalah.


"Dan 1% itu bisa jadi dirimu, kan Ray?" katanya.


Aku nyaris kehabisan kata-kata menghadapi kata-katanya yang lebih tepat dikatakan sebagai tuduhan itu.


"Kamu jangan nyumpahin aku. Laila masih tiga tahun. Dan aku merasa cukup dengan Haikal dan Laila aja dulu, Wa," keluhku.


"Loh, kok aku dibilang nyumpahin sih. Aku ini berharap yang baik loh, Ray. Kali aja kamu hamil lagi, kan bagus lagi. Ummi pasti senang nambah cucu lagi," goda Hawa dengan usil.

__ADS_1


"Iss! Hawa!!!" jeritku sebal. "Kenapa bukan kamu aja yang hami lagi! Pakai ngedoa'in aku segala lagi. Rachel sama Yusuf tu yang butuh adek baru. Mereka udah gede-gede."


"Hahaha nggak deh, Wa. Ingat umur aku. Bulan besok aku udah 39 tahun," gelaknya.


"Apa bedanya, Maesaroh! Aku juga udah 38. Diihhh, aneh deh Hawa ni," kataku uring-uringan.


"Itu karena aku pengen momong bayi lagi, Ray. Tapi maunya sih gendong bayi punya orang aja. Bayimu sama dr. Handsome gitu ..." gelaknya.


"Ihh, aneh. Kamu pengen momong bayi ya produksi sendiri donk. Malah nyuruh-nyuruh orang buat hamil lagi," sungutku. "Udah ah, bajumu yang mau kamu pinjamin aku mana? Aku mau mandi!"


Hawa membuka lemari kecil yang berada di ruang kerjanya dan mengambil satu stel baju semi formal yang kira-kira bisa kupakai untuk kembali bekerja ke RSIA Satya Medika.


Lalu, tanpa menunggu banyak waktu lagi, aku segera mandi di kamar mandi yang ditunjukkan oleh Hawa. Usai mandi dan mengenakan pakaian, sambil memasang hijabku kembali, aku pun kembali bertanya pada Hawa soal anak yang tadi.


"Memang Oby itu siapa sih, Wa?" tanyaku penasaran.


"Anaknya teman papa mertua," jawab Hawa.


"Berkebutuhan khusus?" tanyaku sambil menusukkan jarum pentul di bawah dagu.


"Hmmm," gumamnya membenarkan. "Retardasi mental."


Aku mengernyitkan keningku, memperhatikan Hawa yang terlihat menghela napasnya berulang-ulang, seperti ada masalah besar yang dipikirkannya juga. Ah, Hawa ... apa mungkin dia juga memiliki masalah namun tak diceritakannya padaku?


Hawa menggeleng.


"Jangan bohong deh, sejak kapan kita ada rahasia-rahasian kayak gini," kataku dengan sebal. "Ayo cerita, siapa tahu aku bisa bantu."


"Bukan aku, Wa. Tapi pamer dan rumah sakit ini. Ya boleh dibilang masalah kami sekeluarga sih," ceritanya dengan agak ragu.


"MR (Medika Rahayu) memangnya ada masalah apa?" tanyaku penasaran.


Aku bahkan lupa pada masalahku sendiri. Sok-sok'an mau bantuin Hawa. Hadeeh ...


Hawa terdiam sejenak dan menghembuskan napasnya kasar. Ini bukan masalah yang bisa diceritakan pada sembarangan orang sebenarnya, pasti itu yang ada di pikirannya. Tetapi, kan aku bukan orang sembarangan? Aku adalah sahabatnya.


"Wa ..." desakku.


Setelah menimbang-nimbang sesaat akhirnya dia membuka mulutnya juga.

__ADS_1


"Medika Rahayu sedang ada masalah keuangan berat, Ray. MR terancam bangkrut," akunya dengan berat hati.


Aku mengedip-ngedipkan mataku beberapa kali. Tak percaya pada apa yang dikatakannya.


"Ahh, yang benar? Ah, kamu mengada-ngada ini mah. Kelihatannya baik-baik aja kayaknya. Nggak percaya aku," kataku.


Dia menarik napas berat.


"Kelihatan dari luar memang begitu. Tetapi itulah yang sebenarnya yang terjadi. Dan Oby adalah anaknya teman pamer yang bantuin menopang keuangan rumah sakit ini untuk sementara. Anaknya ada gangguan reterdasi mental. Dia ingin Oby dirawat di sini. Kamu paham aja kan apa maksudku, Ray? Oby itu pasien istimewa kami. Nggak boleh terjadi apa pun padanya bahkan walau pun hanya sekedar lecet. Itu mungkin tidak akan baik akhirnya. Jadi soal yang tadi itu harap kamu mengerti. Itu tidak berarti aku tak peduli pada kamu. Sebenarnya aku sangat khawatir, Ray. Takut Oby celakain kamu. Tapi ..."


Aku tersenyum sambil menatapnya. Aku telah selesai membenarkan hijabku. Kemudian aku berdiri ke arahnya dan mengelus pundaknya.


"Aku mengerti, Wa. Nggak usah sampai merasa bersalah gitu. Tetapi aku kecewa kamu menyimpan sendiri masalahmu," kataku.


"Maaf, Ray. Kamu tahu masalah seperti ini sensitif. Tidak bisa diketahui oleh sembarangan orang," ucapnya dengan raut bersalah.


"Jadi aku sembarangan orang?" tanyaku pura-pura marah.


Hawa menggeleng.


"Ya nggaklah. Buktinya aku cerita ke kamu, kan?"


"Tapi nggak ikhlas kayaknya. Harus dipaksa dulu," cibirku.


"Maaf," ucapnya lagi.


Aku tertawa kecil.


"Nggak usah minta maaf juga, Wa.Aku memang sahabatmu. Tapi yang kamu lakukan itu sudah benar. Ini rahasia keluarga suamimu, kan? Justru aku yang merasa bersalah karena udah mendesakmu," katakum


"Raya ... apaan sih ngomong kebalik-balik. Tadi katanya suruh cerita. Sekarang mau bikin aku nyesal karena udah cerita. Nggak konsisten kamu ah. Dasar bumil labil!" ejeknya.


"Eeh! Nyumpahin aku lagi nih orang!" kataku pura-pura marah.


"Mudah-mudahan Raya anaknya kembar. Aamiin ya Allah, dengarlah doaku ini !!!"


"Hawaaa!!!" Kali ini aku yang meradang.


Candaannya benar-benar tidak lucu. Tapi Hawa malah tertawa kesenangan menggangguku. Ahh, tapi biarlah. Melihatnya bisa ceria walau pura-pura sudah cukup membuatku sedikit tenang. Setidaknya dia masih bisa kuat menghadapi masalah ini. Ternyata bukan hanya aku yang punya masalah.

__ADS_1


****


Hayoo, masih nemuin Yola nggak di bab ini? Othor mau pake point of view (pov) aja deh kayak season pertama. Biar nggak salah-salah ketik lagi. Like dan komentarnya donk ...


__ADS_2