I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Abortus?


__ADS_3

#Lauhul_Mahfudz


#season4


Part 6


POV Raya


"Jadwal hari ini mana?" tanyaku pada staff yang bertugas.


"Ini, Dok" kata


Aku memeriksa jadwal yang diberikannya dan membuka satu- satu map berisi data pasien dan daftar riwayat kesehatan mereka.


"Tapi dr. Sulastri hari ini nggak masuk, Dok. Kalau berkenan untuk pasien tubektomi, bagaimana kalau dr. Raya saja yang mengganti dr. Sulastri untuk mengambil tindakan?" usul Dika. "Masalahnya pasien sebelumnya sudah steril di rumah sakit lain, tapi sepertinya terjadi sedikit infeksi. Jadi dirujuk kesini, Dok, untuk penanganan lebih lanjut."


Aku mengangguk -angguk.


"Baiklah, apa lagi?"


Dika yang bertugas mengatur jadwal dokter di poli Obgyn menjelaskan padaku dengan seksama jadwalku hari ini.


"Dan nanti sore sepertinya dr. Raya ada jadwal mengunjungi pasien rawat bersama dengan dr. Marhamah." katanya.


Aku kembali mengangguk.


"Baiklah. Terima kasih, Dika."


Dan hari ini aku pun mengerjakan rutinitasku sebagaimana mestinya. Namun kata- kata dr. Samuel yang bilang kalau menjadi dokter kepala membuatku memiliki banyak waktu karena lebih sedikit tindakan ternyata agak berlebihan. Nyatanya hari ini aku sangat sibuk. Banyak yang harus ku urus dan kukerjakan. Ini membuatku sangat lelah.


"Dr. Raya sakit?" tanya dr. Bima.


Beliau adalah dokter anastesi di RSIA Satya Medika.


"Hmmm? Nggak kok. Aku baik-baik aja, Dokter. Kenapa?" tanyaku sembari memperhatikan dokter bedah yang sedang memasukkan laparaskop ke tubuh pasien. Tindakan kali ini memang membutuhkan bantuan dokter bedah sebagai operator tindakan operasi.


"Dokter terlihat pucat," jawabnya.


"Oh, benarkah? Mungkin aku hanya sedikit kecapean, dokter."


Aku memang merasa sangat lelah. Kakiku juga agak gemetar berdiri sedari tadi.


Apakah ini karena aku sedang hamil?


Hingga sore hari, meski aku sangat lelah namun aku tetap mengerjakan rutinitasku seperti biasanya. Dan jadwalku yang terakhir adalah mengunjungi pasien raber bersama dengan Marhamah.


"Terus apakah besok kami sudah bisa pulang, Dok?" tanya suami pasien.


"Jadi kita tunggu dr. Marhamah selesai periksa bayinya dulu, ya Bu, Pak. Baru kita bisa memutuskan apakah Ibu bisa pulang besok." jawabku sambil tersenyum.


Huffft .... Aku benar- benar ingin segera mengakhiri ini. Aku ingin pulang dan beristirahat di rumah.


"Kondisi bayinya, semua sehat, Bu, Pak. Besok saya rasa keluarga Bapak bisa pulang." kata Marhamah.


"Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Dokter," ucap Bapak itu sambil menjabat tanganku dan Marhamah bergantian.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Kalau begitu saya duluan, ya Pak, Bu!" kataku seraya meninggalkan ruang perawatan di lantai dua ini.


"Raya, tunggu!" panggil Marhamah.


Aku menghentikan langkahku dan menunggunya.


"Aku ingin bicara sebentar denganmu." katanya.


"Baiklah, kita sambil jalan?"


Dia mengangguk.


Kami berjalan dengan sedikit lambat agar bisa memahami dengan baik hal yang akan kami bicakan.


"Jadi mau bicara tentang apa?" tanyaku.


Dia menghela napas berat sebelum mulai bicara.


"Ini tentang hubungan antara kamu dan Ali," jawabnya.


Sudah kuduga. Ini pasti soal kemarin.


"Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya," kataku to the point.


Bagaimana pun tak ada gunanya bertele- tele menjelaskannya. Semua ini harus jelas. Tidak boleh lagi ada kesalahpahaman.


"Kamu mantan kekasihnya. Apa aku berlebihan kalau aku terlalu mengkhawatirkan hubungan antara kamu dan Ali? Aku akan menikah dengannya dua minggu lagi, Ray. Jelas aku tidak mau menikah dengan orang yang masih memiliki keterikatan perasaan dengan wanita lain selain aku. Aku bertanya padamu hanya ingin memastikan kalau antara kamu dan Ali memang sudah tidak ada perasaan apa- apa lagi. Aku takut Ray, aku masih melihat cinta itu di antara kalian," ucapnya ragu.


Sekarang dia menghentikan langkahnya dan menatapku. Matanya terlihat berkaca- kaca.


"Aku ini wanita bersuami, Marhamah. Apa yang kamu khawatirkan saat melihat aku dan suamiku saling mencintai? Cinta di antara kami katamu? Nggak ada cinta. Please jangan bicara hal konyol seperti itu." kataku jengah. "Aku tak ada perasaan apa pun padanya. Aku hanya mencintai Mahfudz, suamiku."


"Bagaimana kalau Ali yang masih mencintaimu?" tanyanya serius.


Aku mendesah. Sebenarnya untuk masalah ini, aku juga tidak tau apakah Ali benar- benar sudah melupakan perasaannya padaku atau belum.


"Cukup percaya pada Ali dan perasaanmu saja Marhamah. Yang ku tau, Ali sudah sangat berusaha untuk melakukan apa yang semestinya dia lakukan. Semua ada pada posisinya sekarang. Jangan khawatirkan sesuatu yang belum pasti. Yang pasti dia menghargaimu dan sangat berusaha menjaga hubungan kalian. Sementara itu dulu yang harus kamu percayai. Soal cinta di antara kalian. Sepertinya itu bukan kapasitas ku mengomentarinya. Tapi Marhamah, saat kamu memutuskan untuk menikah dengannya. Percayalah padanya. Dan satu lagi, akan banyak tipu daya syeitan untuk menggoda anak cucu Adam agar tidak jadi menikah dan menyempurnakan separuh dari agama. Maka jangan goyah untuk hal- hal seperti ini, okay?" nasehatku padanya.

__ADS_1


Marhamah tersenyum galau padaku.


"Ali pasti sangat mencintaimu dulu, ya? Aku banyak mendengar cerita tentang kalian."


"Entahlah, aku sudah lupa dan tidak ingin mengingatnya. Kamu dengar cerita tentang kami dari siapa? Dari Ali?"


Dia menggeleng. "Dari orang- orang di Siaga Medika."


"Jangan pedulikan kata orang- orang itu, Marhamah. Yang penting saat ini hanya semua tentang kamu dan Ali yang perlu kamu pikirkan. Masa lalu antara kami, acuhkan saja. Itu bukan hal penting yang bisa dijadikan alasan untuk merusak pernikahanmu dengan Ali. Ok?"


Marhamah mengangguk, dia terlihat lega. Dan kini kami sedang berada di lift.


"Jadi, kamu nggak mau ikut aku ke rumahku? Untuk turut mendoakan aku di pengajian?" tanyanya.


Aku baru akan menjawab Marhamah saat kulihat pesan chat di aplikasi WA-ku dari Mahfudz.


[Aku di depan rumah sakit. Aku jemput kamu pulang]


Aku tersenyum bahagia. Suamiku memang paling perhatian.


"Maaf, Mar. Sepertinya nggak bisa sih, aku dijemput oleh suamiku. Dia sudah di depan," tolakku.


"Oh, ya sudah. Kita berpisah di sini aja dulu. Sampai jumpa besok!" kata Marhamah begitu kami keluar dari lift.


Aku segera buru- buru ke ruanganku untuk mengambil tasku dan pulang dengan Mahfudz.


Saat menyusun semua barang- barangku ke dalam tas, ponselku berdering lagi. Ada telepon dari Mama.


"Hallo, iya, Ma?"


"Ray, kamu dimana?" tanya Mama panik.


"Aku masih di rumah sakit, Ma. Baru mau pulang, dijemput sama Mahfud. Dia sedang nunggu di depan." jawabku.


"Sayang, dia memarahi kamu? Kamu nggak a-pa- apa kan, Ray?"


"Haaa? Maksudnya gimana, Ma?" tanyaku bingung.


Mahfudz memarahiku? Kenapa?


"Dia keluar dari rumah sepertinya sedang marah besar, Ray. Mama nggak tau kenapa. Dari tadi pagi dia pulang mengantar kamu kerja, dia masuk ke kamar. Semua lemari, baju tempat tidur di kamar kalian di bongkar semua sama dia. Nggak tau apa yang dicarinya di sana. Tapi sepertinya itu ada hubungannya sama kamu. Raya, kamu jujur sama Mama! Kamu nggak menyembunyikan sesuatu kan? Kamu nggak selingkuh kan, Nak?"


Aku kaget mendengar penuturan Mama


"Astaghfirullah, Ma. Masa Mama punya pikiran begitu ke Raya. Raya nggak pernah selingkuh dari Mahfudz, Ma." kataku membela diri.


"Habis Mahfudz kenapa, donk? Aduuuh Mama pusing. Sampai susu kamu di atas kulkas itu aja dihamburkan semua, terus bungkusnya dibawa entah kemana. Ya Allah, Ray! Mahfudz itu kenapa?"


Tunggu dulu, susu?? Aku teringat kardus susu yang kulipat dan kusembunyikan di bawah karpet mobil tepat di bawah kaki kursi supir. Ya Allah, apa Mahfudz menemukannya? Apa dia tau aku sedang hamil. Deg!Deg! Deg!


"Ray? Raya? Kok diam aja sih?" Mama memanggilku dari seberang sana.


Aku mematikan telepon dari Mama. Dan saat yang sama chatnya Mahfudz masuk lagi.


[Kamu dimana?]


[Kok chat aku cuma dibaca]


[Raya, cepetan!]


Terlihat tidak sabaran. Dan sekarang dia meneleponku. Aku sungguh tidak berani mengangkat telepon darinya.


[Dibaca doank! Kamu keluar nggak sekarang. Atau aku yang nemuin kamu ke dalam!]


Ya Allah, bagaimana ini. Aku panik, sungguh panik.


Aku segera keluar dari ruanganku. Dan begitu sampai di parkiran aku melihat Marhamah yang hendak pulang. Aku menghampirinya.


"Mar, aku ikut deh ke rumahmu." kataku.


Tanpa menunggu persetujuannya aku segera masuk ke mobilnya.


"Loh, katamu suamimu sudah jemput."


"Please.... Jangan tanya apa- apa dulu. Aku ikut kamu pokoknya."


Dengan keheranannya Marhamah tetap membawaku di mobilnya. Dan benar saja di luar pagar rumah sakit, Mahfudz sedang menungguku di dekat mobil. Dia terlihat sangat gelisah menungguku.


"Itu suamimu, Ray." tunjuk Marhamah.


"Sssttttt" Aku memberi kode agar dia diam.


Sementara aku sendiri menunduk was-was walaupun sebenarnya Mahfudz tidak akan bisa melihatku karena gelapnya kaca mobil Marhamah.


Aku sungguh belum siap menjelaskan kebohonganku dengan Mahfudz sekarang. Aku takut.


\*\*\*\*\*\*


Saat ini aku sedang berada di kamar Marhamah setelah melarikan diri dari Mahfudz yang sedang menungguku di rumah sakit. Jantungku masih berdebar- debar kalau mengingatnya.


"Kalian itu apaan sih? Lucu deh main kucing- kucingan." celutuk Marhamah.


Dia pasti mengira kalau aku dan Mahfudz sedang bermain- main.


Aku cuma tersenyum seadanya. Aku benar- benar takut menghadapi Mahfudz.

__ADS_1


"Pengajiannya baru mulai sehabis isya. Kamu nggak apa- apa pulang telat ke rumah? Paling acaranya satu jam aja sih. Nanti kamu bisa ku antar pulang." kata Marhamah.


"Ya, nggak apa- apa." jawabku. "Sekalian aku tau rumahmu. Jadi kapan- kaapan aku bisa mampir."


Sampai Maghrib aku masih berada di rumah Marhamah. Hingga waktu acaranya hampir tiba aku bertemu dengan istrinya Waridi.


"Wah mengejutkan! Buat apa dr. Raya ada di sini? Kau tidak datang ke sini untuk merusak rencana pernikahan keponakanku dan calon suaminya kan?" katanya sinis.


Aku geleng- geleng kepala. Percuma meladeni istri dari wakil walikota ini.


"Hey, Dokter! Aku dengar suamimu melecehkan anak di bawah umur. Apa karena itu kamu ingin menggaet Ali calon suami dari keponakanku haaaa?"


Aku tidak menjawab walaupun hatiku geram mendengarnya.


"Jangan kau pikir tidak ada yang tau hubunganmu dengan Ali di jaman dulu, ya! Kamu hanya wanita yang dicampakkannya. Tentu saja kamu tidak bisa dibandingkan dengan cucu dari pemilik rumah sakit Siaga Medika. Kamu dan keluargamu itu memalukan!"


Dan lagi- lagi aku tidak bisa membalasnya. Aku sangat sadar aku sedang berada di rumah Marhamah dan di sini sedang ada acara. Aku tidak mau, kehadiranku membuat kekacauan di sini. Aku segera mencari Marhamah untuk berpamitan pulang, apalagi kulihat tamu sudah mulai datang satu persatu.


"Assalamualaikum," aku kenal suara berat itu.


Suara Professor. Professor Ayyub, Ali dan kedua orang tuanya kini telah sampai di rumah ini.


"Dr. Raya? Kau disini juga?"


Professor terperangah melihatku. Aku cuma tersenyum.


"Aku sudah dari tadi berada di sini, Prof. Aku sebentar lagi mau pulang."


"Loh kenapa pulang? Acara pengajiannya belum dimulai, tunggulah sebentar lagi. Nanti kami akan mengantarmu pulang " kata Professor.


Aku lagi- lagi hanya tersenyum. Aku tidak enak berada di sini. Apa yang dipikirkan Ali kalau aku berada di rumah calon istrinya sekarang. Tidak, tidak aku harus pergi dari sini. Aku tidak tahan melihat semua mata yang menatapku.


"Mar, aku pulang dulu." pamitku saat melihat Marhamah.


Marhamah menatapku dan Ali bergantian. Dia mungkin berpikir aku pulang karena kedatangan Ali.


"Ray ...."


"Biarkan aja dia pergi, Mar! Dia di sini cuma ingin jadi pelakor di antara kamu dan Ali. Aku jadi curiga jangan- jangan dia sengaja menggugurkan kandungannya agar bisa lebih dekat dengan lelaki lain. Suaminya kan berselingkuh dengan gadis di bawah umur." kata istri Waridi mencaciku.


"Ibu!!!! Jangan keterlaluan!" bentakku. "Dari tadi anda mengoceh, aku mendiamkan saja. Anda menghinaku aku bisa mengabaikannya. Tapi kalau sudah bawa- bawa suamiku apalagi anakku, bukankah itu keterlaluan?"


"Bibi! Aku mengundang Raya ke sini karena Bibi yang menyuruhku . Kenapa sekarang bibi bersikap seperti ini?" tegur Marhamah gusar.


Oh, begitu rupanya? Jadi istri Waridi ini yang menyuruh Marhamah untuk mengundangku. Dan sekarang Marhamah juga terlihat malu karena ulah bibinya.


"Anda bebas mengocehkan dan menghina suamiku dari tadi, masih belum puas? Mau kuberi tahu satu rahasia?"


Aku mendekat pada istri Waridi dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Gadis yang digosipkan dengan suamiku, kenapa tidak anda selidiki? Siapa tau suami anda yang punya affair dengannya?"


Aku menjauh sebentar melihat ekspresinya. Giginya gemeretak mendengarku.


"Kamu wanita sialan. Berani- beraninya kau memfitnah suamiku." geramnya.


Aku berbisik lagi di telinganya.


"Dan jangan lupa tolong selidiki juga anak angkatmu Rini dan anak angkatmu yang lainnya. Kamu tau Ny. Waridi, suamimu punya Bakat incest, sayang dia tidak punya anak perempuan sehingga dia harus melampiaskannya pada anak angkatnya."


Dan lihatlah wajahnya itu sekarang, terlihat syok.


"Dan kalau kau mau lebih akurat lagi. Kau bisa membujuk Ayuni untuk tes DNA suamimu dan Rahmat anaknya. Aku ingin lihat, apa kau masih sanggup menghina orang lain."


Setelah mengatakan itu aku segera membalikkan badanku bergegas untuk pergi.


"Ka... Kau .... Wanita sial! Anakmu mati adalah karmamu karena sering memfitnah orang lain!"


Rasanya aku sudah tak tahan lagi. Aku berbalik ingin melakukan sesuatu padanya. Namun aku kalah cepat, ketika aku berbalik dia mendorongku sampai aku terjatuh menabrak pintu. Ali yang sedari tadi belum sempat duduk mencoba menangkapi. Tetapi tubuhku lebih dulu membentur sudut pintu. Rasa sakit terasa di bahuku. Tapi bukan itu yang membuatku sangat khawatir. Detik berikutnya kecemasan melandaku saat merasakan ada cairan yang merembes dari bagian bawah tubuhku. Darah, ini darah! Anakku! .... Ya Allah ....


Aku merasa pandanganku terasa kabur, sinar lampu semakin redup, redup, dan akhirnya ....


\*\*\*\*\*\*


Sinar lampu itu terasa membuatku silau. Perlahan- lahan aku membuka mataku. Kabur .... Aku mengerjap-ngerjapkan mataku.


"Dokter bilang, Raya pingsan hanya karena syok. Dia pendarahan tapi bayinya saat ini masih bisa diselamatkan. Ya Tuhan, kenapa ini bisa terjadi?"


Itu suara Mama, aku mengenalnya.


"Harusnya Bu Salmah tanya Mahfudz! Ya, Allah, Fud! Ummik sudah bilang tolong jaga Raya, kamu juga sudah janji dan bisa memastikan kalau Raya tidak akan mengandung sampai tahun depan. Sekarang juga mau disesali juga bagaimana? Terbukti apa yang dikatakan dr. Gayatri. Kandungannya lemah dan sangat rentan keguguran."


Terdengar suara Ummik kali ini.


"Maafin Mahfudz, Mik. Tapi sungguh Mahfudz nggak tau kalau Raya lepas IUD-nya. Mahfudz juga baru tau pas dr. Gayatri USG tadi. Ya Allah, Mik. Mahfudz juga nggak tau harus berbuat apa sekarang. Mahfudz tidak mau terjadi sesuatu pada Raya."


Suara itu terdengar kalut. Tapi, tapi .... Kenapa seperti ada yang berbeda? Suara Mahfudz ....


Kepalaku terasa pusing. Mataku juga kembali berat. Terasa mengantuk. Sayup- sayup kudengar kata- kata yang membuat dadaku terasa pengap.


"Bagaimana kalau abortus? Ini demi kebaikan ...."


Abortus?


Abortus?

__ADS_1


Tidak! Jangan lakukan itu. Dia anakku.


Dan semua kembali gelap.


__ADS_2