I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Gubernur Arifin


__ADS_3

Aku mematikan panggilan telepon dengan Pak Prabu sambil menghela napas berat. Hal yang ku mengerti saat ini adalah ini situasi yang sama mungkin dengan yang pernah kuhadapi bertahun-tahun silam dengan almarhum wakil walikota Waridi. Hal itu bisa kutangkap dengan pembicaraanku dengan Pak Prabu tadi. Pak Prabu berkata, ini mungkin ada kaitannya dengan Afri yang adalah seorang anak di luar nikah Pak Arifin dengan mantan asisten rumah tangganya yang pernah ia lecehkan sebelumnya.


Ya Tuhan, apalagi ini? Masalah Mahfudz saja belum selesai, kenapa aku merasa seperti terperangkap saat ini? Di saat aku ingin menyelamatkan suamiku dengan menerima permintaan ibunya pasien Afri untuk memindahkan anaknya ke rumah sakit ini agar ia tak menuntut Mahfudz, kenapa justru sebaliknya, mau tidak mau aku harus mengijinkan perawat suruhan dari Gubernur Arifin untuk berada di rumah sakit ini? Perawat itu sudah pasti tidak mungkin punya niat baik, kan? Bukan aku ingin ber-su'udzon, tetapi jika benar dia perawat suruhan gubernur Arifin, apa maksud gubernur itu menyuruh perawat khusus untuk mengawasi Afri? Itu tidak mungkin karena dia peduli, kan? Kalau pun semisal dia memang peduli atau setidaknya dia masih punya sedikit perasaan seperti layaknya seorang bapak, dari pada menyuruh perawat mengawasi bukankah lebih baik anak itu ia percayakan seutuhnya pada salah satu rumah sakit?


Ahhh, ternyata tak hanya perasaan ibunya Afri saja yang merasa dia seperti dimata-matai. Ternyata memang benar dia dan putrinya sedang dimata-matai oleh ayah biologis anak itu. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Kalau benar apa kata Pak Prabu, berati anak itu, Afri sedang dalam keadaan terancam. Ingin melaporkannya pada polisi pun sepertinya bukan solusi yang tepat. Aku telah banyak belajar arti sebuah kekuasaan dari Waridi dahulu. Jika Waridi saja yang hanya seorang wakil walikota bisa menghandle suatu keadaan agar berpihak padanya, dari polisi bahkan hingga mengendalikan walikota ada dalam pengaruhnya, bukankah sangat mungkin kalau gubernur juga dapat melakukan hal yang sama jika dia mempunyai uang dan wewenang?


Namun yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah apakah wewenang dari gubernur Arifin ini juga mempengaruhi Pak Prabu dan rumah Sakit Pahlawan Medical? Atau jangan-jangan kasus malpraktiknya Mahfudz juga adalah bagian dari skenario untuk mencelakai darah dagingnya sendiri yang mungkin bisa menjadi aib yang sangat berdampak pada kehidupannya? Ya Tuhan, jika benar itu yang terjadi bukankah dia bahkan lebih kejam dari Waridi? Aku geleng-geleng kepala sendiri.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan Pak Prabu di telepon, aku kembali mencari ibunya Afri dan perawat itu.


"Baiklah, kamu boleh berada di sini hanya untuk mengawasi saja, tidak boleh ada tindakan medis, termasuk pemberian obat dari kamu dan kamu hanya boleh masuk di jam-jam Afri ada kunjungan dari dokter. Kamu disini hanya sebagai pengamat agar kamu bisa mendapatkan sesuatu untuk dilaporkan pada pihak Pahlawan Medikal," kataku mewanti-wantii.


"Baiklah, saya akan menuruti tata tertib rumah sakit ini, Dokter. Anggap saja kehadiran saya disini hanya sebagai salah satu keluarga pasien Afri," kata perawat itu datar.


"Hanya untuk beberapa hari, kan?" tanyaku memastikan.

__ADS_1


Dia mengangguk.


"Ya, tentu saja," katanya yakin. Dan aku semakin bergidik mendengarnya.


***


Hai reader, tahukah kalian kalau sebenarnya aku mulai malas ngelanjutin novel ini. Kenapa? Viewnya sedikit, belum lagi like dan komentarnya dikit banget pokoknya bikin author kehilangan semangat, sementara ini tuh novel yang sangat memerlukan banyak riset.Rasanya nggak sebanding aja sama kerja keras. Maaf ya jadi curhat. wkwkw

__ADS_1


__ADS_2