
Aku menandatangani logbook terakhir punya Devi, dan melihat pada mereka satu persatu.
"Nggak terasa kalian disini sudah 10 minggu. Lusa kalian akan ujian akhir stase obgyn yang artinya kalian telah menyelesaikan studi profesi kepaniteraan di obgyn. Namun masih banyak stase yang harus kalian jalani. Ini baru satu dari 3 stase mayor dan masih banyak stase minor yang harus kalian hadapi. Kalian adalah mahasiswa kepaniteraan koas pertama saya dan untuk itu saya ingin mengucapkan terima kasih pada kalian, karena selama kalian disini kalian juga banyak bantu-bantu kerjaan di obgyn, capek, lelah, bahkan menangis karena diusilin perawat atau staf senior saya sangat tau rasanya karena saya pun sebelum seperti sekarang ini pernah juga koas dan turut merasakan semua jerih payah itu. Oleh karena itu saya sangat berterima kasih untuk semua hal yang telah kalian berikan. Jadi adek-adek koas, selamat berjuang untuk ujian hari rabu, jangan kecewakan saya. Berusahalah sebaik mungkin dan dapatkan nilai yang bagus. Semangat!!!"kataku sambil mengepalkan tanganku.
"Dokter Rayaaaa...." Anita merengek terharu. "Terima kasih karena sudah jadi konsulen kami, Dok. Saat kami masi pre-koas banyak yang nakut-nakutin. Katanya diantara semua stase, Obgyn adalah stase yang paling mengerikan, konsulennya killer. Tapi setelah di Obgyn, kami rasa Obgyn adalah stase yang menyenangkan. Pokoknya kami padamu, Dok!"
"Temanku yang koas di rumah sakit lain katanya konsulennya galak tapi dr. Raya beda. Beruntung banget kami punya konsulen yang baik dan sabar seperti dr. Raya. Dr. Raya juga nggak pelit ilmu. Bahkan temanku itu sampai kaget, Dok, aku bilang dr. Raya memberi aku kesempatan untuk hecting (menjahit) ketika ada tindakan SC. Pokoknya dr. Raya adalah dokter dan konsulen ter-the best yang pernah kutemui. Jadi pengen ngambil spesialis Obgyn andai ada rejeki suatu saat nanti"kata Abidzar.
"Ter-the best, tersabar dan tercantik pokoknya. Aku padamu, dokter!"kata Mia koass yang selama ini lebih sering diam menyembunyikan dirinya.
"Aduuuh, kalian ini ya. Giliran mau ujian, pada muji-muji. Pasti biar dikasih nilai bagus ya?"godaku.
"Kalau bisa sih iya, Dok!"kata Abidzar ngarep.
"Nilai bagus itu gampang. Yang penting itu kompetensi kalian. Itu yang membedakan kedokteran dengan cabang ilmu yang lain. Karena yang kita hadapi disini adalah pasien, kesehatan, keselamatan bahkan nyawa mereka seringkali tergantung pada kompetensi kita sebagai dokter. Jadi kalau mau nilai yang bagus, belajarlah yang benar. Besok masih ada hari tenang sebelum ujian. Manfaatkan hari libur kalian sebaik-baiknya. Yang masih mau belajar silahkan belajar. Yang mau refreshing juga silahkan" kataku.
"Kamu kok diam aja Fud?" tanya Abidzar. "Sedih gitu, mau ninggalin dr. Raya?"
Aku melihat pada Mahfud dan dia pun melihatku.
"Hmmm? Ma-u bi-lang a-pa?" tanya Mahfud balik dengan menggunakan bahasa isyarat.
"Ya bilang apa kek, terima kasih kek. Atau bilang yang lain juga boleh" Abidzar membentuk jarinya dengan bentuk hati. Dan membuat gerakan seolah hati itu berdebar-debar.
Mahfudz langsung memukul belakang kepala Abidzar agar berhenti menggodanya.
"Jaim amat kamu, Fud. Dr. Raya juga nggak keberatan kalau kamu mengatakan sesuatu. Iya kan, Dok?"
Aku cuma tersenyum tak menjawab. Anak-anak ini nggak tau kalau aku dan Mahfud bahkan sudah sampai pada tahap hubungan yang lebih serius.
"Ayo donk, Fud! Bilang sesuatu. Mumpung masih ada di sini, loh. Besok-besok kan nggak ketemu lagi sama dr. Raya." desak Anita.
Mahfudz tampak berpikir sejenak sebelum mengucapkan sesuatu. Dia meletakkan jarinya di dagu dan mempersembahkannya padaku.
"Te-ri-ma ka-sih- un-tuk se-mua-nya dok-ter" ucapnya tulus.
Teman-temannya terlihat kecewa dengan ucapan Mahfudz itu. Mungkin mereka ingin menyaksikan sendiri Mahfudz mengucapkan kata-kata cinta dengan menggunakan bahasa isyarat padaku seperti di kantin. Yang katanya orang-orang yang kebetulan melihat langsung saat dia mengungkapkannya padaku, itu romantis sekali.
Aku tertawa melihat kekecewaan anak-anak itu yang merengut pada Mahfudz.
"Sama-sama"kataku juga dengan memakai bahasa isyarat.
Tok!Tok!Tok
Aku belum menyuruh masuk, pintu sudah di buka. Kepalanya anak akbid yang juga dalam bimbinganku nongol di dari balik pintu. Dari tadi sejak jam kerjaku di poli selesai aku memang menyuruh mereka keluar duluan karena ingin bicara dulu dengan para koas.
"Kenapa?"tanyaku.
"Ada yang datang, Dok. Mau ketemu dokter."
"Siapa?"tanyaku mengernyitkan dahi.
"Man-tannya dokter yang kemarin ada disini" bisiknya masih dari pintu.
Mantan? Mantan siapa? Ali?
Ya ampun, lihatlah pandangan-pandangan kepo anak-anak koas ini.
"Hallo, Ibu mantan!" Sesosok lelaki mendorong pintu jadi lebih lebar.
"Mas Ibrahim??" Aku kaget.
Astaga kirain siapa. Oh iya, kan anak-anak ini mikirnya mas Ibrahim pacarku yang mutusin aku pas vidio call dulu.
Dari balik punggung mas Ibrahim muncul Hawa.
"Congratulations and celebration. When I tell everyone that you're in love with me. Congratulations and jubilation sahabatku Raya akan menikah..... "
__ADS_1
Hawa berdendang sambil mengitariku. Aku memang belum memberi tahu soal rencana pernikahanku dengan Mahfudz. Kalau dia tahu duluan tanpa aku memberi tahu, berarti kerjaannya Ummik nih yang ngomong sana sini..
Aku tersipu dengan godaan Hawa. Aku memang belum memberi tahunya.
"Selamat sayangku" katanya sambil memeluk dan menciumku bertubi-tubi di pipi.
"Hawa, kamu ngapain sih?"tanyaku. Alamat aku akan malu untuk kesekian kalinya ini.
"Kamu yang ngapain. Aku sudah lama pengen dapat kabar bagus soal pernikahanmu. Giliran mau nikah diam-diam aja nih anak. Jangan-jangan kamu nggak ada niat mau undang aku ke pernikahanmu. Tega kamu, Ray!"
Aku melihat anak-anak koas yang berbisik-bisik. Pasti ini akan jadi kabar besar lagi di rumah sakit. Hadeeh, padahal aku rencana tidak akan memberi tahu siapa-siapa dulu, sampai Ummik menetapkan tanggal dan undangan telah tercetak.
"Itu baru rencana, Wa...."
"Baru rencana apa? Ummik bilang tanggal pernikahannya akhir bulan ini, berarti kurang lebih tiga mingguan lagi. Kamu gitu sama aku ya, Ray! Waktu aku mau nikah sama mas Ibrahim, kamu orang pertama yang kuberi tau. Aku ada acara lamaran kamu ku ajak nginap di rumah sebagai anggota keluargaku. Ini mah acara lamaran aja aku nggak diajak, tega memang kamu...." omelnya.
"Astaga, Wa... Kemarin itu bukan acara lamaran. Itu cuma silaturrahmi keluarga aja. Cuma ada aku, Ummik dan keluarganya Mah...fudz." Aku spontan menutup mulutku dan menggigit bibirku. Aku yang ingin merahasiakan jadi aku juga yang membeberkannya.
Kulihat ekspresi teman-teman Mahfudz yang kaget bukan kepalang. Namun mereka tak berani untuk berisik kecuali Abidzar yang memanggil Mahfudz dengan berisik.
"Fud!! Hey, itu beneran? Kamu mau nikah sama dokter Raya?" Abidzar bertanya tanpa mengeluarkan suara. Namun aku jelas bisa melihat gerak bibirnya.
Mahfudz lagi-lagi hanya tersenyum jaim. Dan ku duga teman-temannya pasti akan semakin penasaran.
"Mana mungkin aku ngajak kamu, wa? Ibu bos pasti sibuk donk ngurusin rumah sakit? Lagi pula ini cuma pertemuan keluarga doank. Cuma ngobrol-ngobrol doank" kataku ngeles padahal aku memang nggak ingat buat memberi tahu dia.
"Ngeles aja terus, jadi mana yang namanya Mahfudz?" Hawa mencari-cari Mahfudz dengan matanya sampai dia menemukan Mahfudz yang duduk di kursi pojok dan menghampirinya.
"Kamu pasti Mahfudz kan? Kita pernah bertemu di kantor polisi saat Raya habis diculik, tapi aku nggak terlalu memperhatikanmu sih. Tapi aku yakin kamu pasti Mahfudz."
Mahfudz mengangguk. "I-ya. Sa-ya Mah-fudz"
"Oh, jadi ini brother yang mau dibuat Raya cemburu kemarin?" celutuk mas Ibrahim turut menghampiri Mahfudz.
"Mas Ibrahim...."protesku.
"Kenalkan aku Ibrahim. Ini istriku Hawa" Mas Ibrahim memperkenalkan dirinya pada Mahfudz tanpa memperdulikanku.
Aku mengkode anak-anak koas lain untuk pulang terlebih dahulu kecuali Mahfudz. Biar bagaimana pun dia calon suamiku yang harus ku perkenalkan pada Hawa dan mas Ibrahim.
"Kalian pulang duluan aja, Bi! Sampai jumpa senin nanti di meja ujian!"
Abidzar dan anak koas lain meninggalkan ruanganku meski masih penasaran pada berita yang baru mereka dengar.
\*\*\*\*\*
"Aku Hawa, aku sahabatnya Raya dari sejak masih di FK." Hawa melanjutkan perkenalan dirinya. "Sepertinya kita nggak cuma di kantor polisi deh pernah ketemu. Di mana ya?" Hawa mulai berpikir keras.
Aku menarik kursi dan bergabung dengan mereka. " Di kolam renang."jawabku.
"Astaga...Oh, iya benar. Di kolam renang. Kamu kan pedo-fil itu?"
Mas Ibrahim sampai kaget. Mahfudz juga sampai geleng-geleng kepala.
"Bu-kan. Sa-ya bu-kan pe-do-fil"katanya sambil tertawa.
Aku juga ikut tertawa mengingat betapa liarnya imajinasiku waktu itu.
"Nadya itu, yang kita tolong waktu itu keponakannya, Wa. Aku yang salah faham. Kemarin anaknya datang ke rumah sama-sama"kataku menerangkan
"Gila kamu Ray, aku kan khawatir, tau! Maaf ya Mahfudz" kata Hawa.
Mahfudz tersenyum dengan manisnya. Apa hanya aku yang selalu terpesona saat dia tersenyum?
"I-ya. Ng-gak a-pa a-pa"jawabnya.
"Pantas Raya klepek-klepek. Mahfudznya ganteng sih. Iya kan, Suf?" tanya Hawa pada Yusuf yang sedari tadi digendong mas Ibrahim.
__ADS_1
"Mi..."tegur mas Ibrahim. "Jadi maksud Mami, Daddy nggak ganteng gitu sampai Mami nggak klepek-klepek sama Daddy? Lihat donk Raya sampai memohon-mohon sama Daddy buat jadi pacar bohongannya. Itu kan sangking gantengnya Daddy" kata Mas Ibrahim pede.
"Mas Ibrahim!"pekikku kesal.
"Kenapa? Kamu marah? Kamu nyangkal? Memang kamu minta-minta mas buat jadi pacar bohonganmu kan pas kita vidio call kemarin?Mau buat Mahfudz cemburu kan?
"Bukan aku yang minta. Tapi mas yang nawarin!"bantahku.
"Apa pun itu. Tetap aja tujuannya pengen buat Mahfudz cemburu. Untung mas nggak mau kooperatif sama kamu, jadi mas pura-pura putusin kamu. Coba mas pura-pura sayang sama kamu, nanti kamu sayang beneran gimana? Kan kasihan Mahfudz.... Kalian nggak akan jadi menikah kalau bukan karena mas!"
Mahfudz terkekeh mendengarnya. Aku melotot padanya.
"Ihh, nyebelin banget sih!"kataku kesal. "Wa, kalian pulang aja deh. Aku sebal digangguin sama mas Ibrahim terus."kataku dongkol.
"Enak aja pulang. Aku kesini selain mau gangguin kamu, aku disini juga pasien kamu tau"cibirnya sambil membuka tasnya. Dari dalam dia mengeluarkan test pack. "Taraaaaa!!!"
Aku terperangah. "Kamu hamil, Wa?"tanyaku takjub bercampur senang.
"InsyaAllah sih iya positif. Tapi aku baru periksa pake test pack sih. Makanya aku kesini mau USG sekalian. Memangnya cuma kamu doank yang punya kabar bahagia?"
"Iya deh iya. Selamat jadi bumil lagi ya. Yusuf bakal punya adek donk?"kataku pada Yusuf.
Yusuf cuma manyun-manyun bergelayut sama Daddynya.
"Ya, sudah aku periksa sekarang ya"kataku sambil mengajak Hawa ke ranjang.
"Kamu nggak mau pulang, Fud? Mas Ibrahim itu loh nggak asyik"kataku sebal.
"Haallahh, tenang aja. Mas nggak akan bilang kok kalau kamu orangnya nangisan, cemburuan, ngambekan."
"Itu sudah bilang."kataku kesal.
Mas Ibrahim tertawa terbahak-bahak. Lalu lanjut mengobrol dengan Mahfudz. Sepertinya dia senang berkomunikasi dengan Mahfudz sambil menggunakan bahasa isyarat.
"Permisi ya, Bu Hawa"kataku berlagak layaknya dokter dengan pasien.
Karena anak-anak sudah pulang, aku melakukan USG sendiri pada Hawa.
"Baru 3 minggu, kamu memangnya udah lepas IUD-mu?"tanyaku.
Hawa melihat ke monitor. Meski cuma dokter Umum tentu saja Hawa bisa membaca hasil USG.
"Hmmm Iya. Mas Ibrahim nyuruh aku promil lagi. Yusuf kan udah 6 tahun juga. Memang udah curiga sih kalau positif soalnya rasanya udah sebulan aku ga datang bulan padahal lepas IUD nya udah 3 bulanan yang lalu. Tapi baru kepikiran ngetest pack tadi di rumah sakit."
"Lah, udah ngetest di sana, kenapa nggak sekalian di USG di sana, Bu? Kemana Sp.OG andalannya MR?"tanyaku.
"Aku maunya kamu yang periksa"rengeknya manja.
Aku segera ngeprint hasil USG dan meresepkan suplemen vitamin untuknya.
"Ray, kalau kamu udah nikah sama Mahfud, kamu jangan nunda punya anak ya. Langsung aja gitu, gass poll, biar cepat jadi"
"Astaga mulutmu, Wa!"kataku gemas. Aku melirik ke Mahfudz yang kelihatannya tidak mendengarkan kami. Dia sibuk bicara dengan Mas Ibrahim. Syukurlah. Aku tidak mau dia ikut malu karena perkataan sahabatku.
"Kan lucu Ray, kalau kita punya anak sebaya nanti. Kita bisa sama-sama ke baby spa bareng, ke wahana anak bareng, nanti kita sekolahin di tempat yang sama. Ikut perkumpulan orang tua siswa bareng. Aku sih pengen kali ini punya anak cewek, apalagi kalau anakmu cewek juga Ray, gemes kalau mereka bersahabat kayak kita sampe mereka gede. Kalau anakmu cewek Ray, kita jodohin sama Yusuf. Pokoknya anakmu akan jadi calon menantu priotasku terus...."
"....bumil, sudah ya ngehalunya"potongku sambil geleng-geleng kepala. "Ini resep suplemen vitaminmu. Mau tebus disini Ok, mau di MR juga boleh, apalagi bumil? Saatnya pulang sekarang!"usirku.
"Ahh Raya, aku kan masih mau ngobrol sama kamu. Aku mau ngasih tips gimana caranya agar kamu cepat punya anak kalau sudah nikah nanti"
"Tidak perlu, Bu Hawa. Sahabatmu ini dokter Obgyn. Aku tau caranya."
"Tapi teori doank. Kalau ini kan testimoni dari aku sendiri." bantahnya.
"Sama aja, Bu, teori juga namanya. Masa iya aku harus lihat praktikumnya gimana cara kamu sama Mas Ibrahim ngelakuinnya. Nggak ah! Terima kasih."
Aku melihat ke arah Mahfudz yang masih ngobrol akrab dengan mas Ibrahim. Mulai besok aku tidak akan melihatnya lagi di ruangan ini.
__ADS_1