I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Siasat dr. Ali


__ADS_3

"Nih!" Aku memberikan undangan itu pada bidan Lastri dan bidan Eva.


"Apa ini, Dok?" tanya mereka tertegun.


"Kalian bilang minta undangan eksklusif. Makanya aku juga minta kado yang eksklusif."kataku.


"Oh my God, oh my God! Jadi beneran nikah, Dok? Sama adek koas Mahfudz?" tanya bidan Eva tak percaya.


"Ya iyalah. Berkat mulut ember kalian, ngegosipin aku dilamar sampai beritanya tersebar sampai ke segala penjuru rumah sakit. Jadi aku terpaksa harus nikah sama dia kan?"


"Hallah, terpaksa atau memang beneran cinta? Dokter mah suka ngeles. Padahal semua orang tau ungkapan cinta di kantin itu."kata bidan Lastri


"Berarti VK jadi ruang bersejarah donk sekarang, Tri? Karena disitulah dokter Raya pertama kali di lamar Mahfudz. Iya kan, Dok?"goda Eva.


"Dan kita turut jadi saksi, hahaha"


"Udah, ah. Kalian ini dari kemarin-kemarin cuma godain aku bisanya."kataku merengut. "Datang pokoknya, awas kalau nggak datang."


"Siap, Dokter!!!"


\*\*\*\*\*


Pov Mahfudz


Aku memutar otak bagaimana cara agar dr. Ali tidak menggangguku di hari pernikahanku. Aku tau dia agak sedikit licik. Aku khawatir dia akan menggunakan sebuah cara tak lazim agar aku tak bisa hadir di pernikahanku sendiri.


Namun aku tiba-tiba punya ide saat melihat Professor sedang berjalan bersama dengan dr. Ali menuju ruangannya. Ini kesempatanku memberikan undangan ini padanya di depan professor agar dia tak bisa melakukan apa- apa.


Aku mengetuk pintu ruangan Professor. Dari dalam terdengar suara Professor dengan suara khasnya mempersilahkan masuk.


"Masuk!!!"


Aku membuka pintu dan menemukan mereka sedang duduk santai di sofa.


"Oh, Mahfudz. Kebetulan sekali kamu datang. Kami kebetulan juga sedang membicarakan kalian para dokter muda yang akan ditugaskan ke rumah sakit jejaring di kabupaten. Duduklah!"kata Professor mempersilahkan duduk.


Aduuh berarti akan ada dinas luar kota ini. Semoga mereka tidak menunjukku.


Dr. Ali tampak terlihat tenang menghadapiku. Aku tidak tau apa yang saat ini sedang dipikirkannya tentangku.


"Ru-mah sa-kit je-ja-ring? I-tu me-na-rik se-ka-li, Prof. Ja-di a-pa-kah ba-nyak yang a-kan di-ki-rim ke sa-na?"tanyaku.


"Tidak semuanya. Tentu harus ada yang tinggal juga di rumah sakit ini. Tapi saya juga berencana mengirimmu ke sana. Disana kamu juga akan banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Tidak lama kok, paling hanya sekitar 2 minggu di setiap rumah sakit jejaring" Professor menjelaskan dengan lugas padaku.


"Oh, be-gi-tu ya?"


Aku manggut-manggut dan mulai berpikir keras mencari solusi bagaimana agar pernikahan dan koasku bisa berjalan semestinya tanpa harus mengorbankan salah satunya.


"Kenapa? Kamu tidak bisa?" Ali bertanya sinis padaku. "Kamu harus mulai belajar profesional dari sekarang. Percuma cerdas jika tidak bisa menjunjung tinggi profesionalisme dalam menjalankan pekerjaan."


Professor Ayyub menatapku. "Kenapa Mahfudz? Apa kamu tidak bisa? Atau jangan-jangan kamu dan Raya...."

__ADS_1


Professor sepertinya bisa menebak apa yang menjadi masalahku.


Aku mengangguk dan mengeluarkan undangan dari tas ranselku. Professor terlebih-lebih dr. Ali sangat terkejut melihatnya.


"Sa-ya dan dr.- Ra-ya a-kan me-ni-kah ha-ri Ming-gu, Prof. Ha-ri i-tu sa-ya li-bur. Un-tuk pe-nu-ga-san di ru-mah sa-kit je-ja-ring, mo-hon be-ri sa-ya pe-nang-gu-han sam-pai u-ru-san per-ni-ka-han sa-ya se-le-sai."kataku dengan permohonan yang sangat tegas.


Dr. Ali memandangku tak suka.


"Kenapa rumah sakit pendidikan harus peduli pada urusan pribadimu? Kalau kamu mau menikah, ya menikah saja. Itu bukan urusan rumah sakit. Tapi kalau kamu mau diistimewakan. Kamu ingin diberi pengecualian dari dokter muda lain hanya karena kamu ingin menikah, apa itu tidak keterlaluan? Yang menyuruh kamu menikah saat koas siapa? Kamu tau resikonya terutama dalam pembagian waktu antara tugas tanggungjawab di rumah sakit dengan keluarga di rumah, pasti harus ada yang harus dikorbankan. Itu sebabnya banyak dokter yang memilih menyelesaikan pendidikan dulu kemudian menikah. Lalu kenapa kamu harus buru-buru? Sekarang rasakan sendiri akibatnya"


Dr. Ali tampak puas sekali menceramahiku di depan professor.


"Sa-ya ta-u tu-gas dan tang-gung ja-wab sa-ya se-ba-gai co-as-sis-ten. Ta-pi sa-ya ju-ga me-mi-li-ki jan-ji yang ha-rus sa-ya te-pa-ti deng-an se-o-rang wa-ni-ta yang sa-ya cin-ta-i. Ya-ng sa-ya pi-lih se-ba-gai pen-dam-ping hi-dup sa-ya. Dan sa-ya ti-dak a-kan mengor-ban-kan dia de-mi a-pa pun. Sa-ya ha-nya min-ta pe-nang-gu-han sam-pai a-ca-ra per-ni-ka-han sa-ya se-le-sai. Se-te-lah i-tu sa-ya a-kan me-nyu-sul di-nas lu-ar ko-ta ke ru-mah sa-kit je-ja-ring"kataku.


"Berani sekali kamu menolak permintaan professor. Memangnya kamu sudah siap tidak lulus?"tanya dr. Ali tajam. Dia terlihat tersinggung dan tidak senang dengan jawabanku.


"Ka-lau sa-ya ti-dak lu-lus, sa-ya bi-sa me-ngul-ang kem-ba-li sta-se IPD la-in wak-tu, Dok-ter. Ta-pi ka-lau per-ni-ka-han sa-ya ga-gal, mung-kin sa-ya ti-dak a-kan per-nah pu-nya ke-sem-pa-tan la-gi un-tuk me-ni-ka-hi ga-dis yang sa-ya cin-***. Ca-lon mer-tua sa-ya te-gas dal-am hal i-ni" bisikku pada kalimat terakhir yang membuat Professor Ayyub tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha...!!!! Mahfudz... Mahfudz.... Kamu ini benar-benar... Baiklah saya memberikanmu waktu sampai acara pernikahanmu selesai. Biar saja dokter muda yang lain berangkat duluan ke rumah sakit jejaring. Kamu bisa menyusul setelah menikah. Namun sampai hari H kamu tetap harus bekerja di sini. Saya tidak mau dokter muda yang lain cemburu dan menganggapku pilih kasih padamu. Bagaimana Mahfudz?"


"I-ya, Prof. Sa-ya se-tu-ju. Te-ri-ma ka-sih"jawabku.


Dr. Ali mendengus kesal padaku.


\*\*\*\*\*


Pov Ali


Aku meletakkan ponsel setelah menyelesaikan panggilan telpon sesaat yang lalu. Panggilan itu dari salah satu dokter muda yang dikirim ke rumah sakit jejaring pusat beberapa hari yang lalu.


Aku menatap jam di dinding yang baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sesubuh ini mereka menghubungiku dikarenakan gentingnya kasus ini. Aku masih memakai sarung yang belum kulepas sejak sholat subuh.


Sejenak aku melihat foto di meja samping tempat tidurku. Ada fotoku bertiga dengan almarhum Tya istriku dengan Rayhan anak kami. Anak yang sebenarnya bukan darah dagingku. Namun bisa kusayangi selayaknya anakku sendiri. Di sebelah bingkai foto itu ada foto Arraya, bayi mungil kami yang masih berusia sebulan. Seketika melihat foto itu aku merasa terenyuh sendiri dan memposisikan diriku menjadi orang tua si anak penderita TBC pleura itu. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya kehilangan anak-anak ini sementara aku tau rasanya kehilangan Tya, menyakitkan meski aku menikahinya bukan karena cinta. Anak-anak kami yang namanya diambil istriku dari nama Raya. Orang yang dia kagumi dan terobsesi dengannya sampai harus merebut kekasihnya Raya yaitu aku. Miris memang jalan hidup kami.


Dan besok Raya akan menikah dengan bocah itu. Lucu sekali, disaat aku yang sudah mapan ingin menikahinya tapi dia lebih memilih bocah koas yang belum jelas masa depannya.


Aku ingat kata-kata bocah itu yang diucapkannya dengan susah payah karena dia adalah tuna wicara.


[Jika saya tidak lulus saya bisa mengulang lagi di stase IPD di lain waktu, tapi jika pernikahan saya gagal mungkin saya tidak akan pernah bisa lagi menikahi gadis yang saya cintai. Mertua saya tegas dalam hal ini]


Ya benar! Aku tersinggung saat dia mengatakan itu. Itu seperti ditujukan padaku. Aku menyia-nyiakan Raya dan sekarang aku tak punya kesempatan lagi kembali padanya. Seandainya pun Raya bersedia, Ummik pasti tidak akan setuju.


Ahaaa! tiba-tiba aku punya ide brilliant. Aku tersenyum dan segera bangkit dari dudukku, menyambar handuk. Aku harus berangkat ke rumah sakit pagi ini.


\*\*\*\*\*


Pov Mahfudz


"Kamu yang mau kawin?" Gogo, pasien wajibku tertegun melihat undangan itu. Pagi ini seperti biasa aku memfollow up rutin dirinya.


Aku tersenyum, "A-ku ta-u ba-pak nggak bi-sa da-tang, ta-pi si-apa ta-u a-da te-man atau ke-lu-ar-ga ba-pak yang ma-u ha-dir di a-ca-ra per-ni-ka-han-ku a-ku a-kan sa-ngat se-nang"kataku.

__ADS_1


Satu tepukan kuterima di belakang kepalaku. Pasien Gogo sudah terbiasa melakukan itu padaku. Sebenarnya tidak begitu sakit tapi entah bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.


"Jangan panggil aku bapak, g*blok! Panggil aku abang! Kalau dipikir-pikir kan kita ini mirip. Namaku Gogo, kamu dokter gagu. Ketampanan kita juga 11-12. Panggil aku abang!" katanya


"Tampan dari mana bang? Memang sih abang lebih tampan sedikit, dokter Mahfud mah tampannya banyak." kata temannya cekikikan sebelum dipelototi Gogo.


Aku tertawa kecil. "Ba-ik-lah- bang, ka-lau a-da yang sem-pat da tang, da-tang-lah"kataku.


Aku baru saja berbalik hendak follow up pasien lagi, ketika melihat dr. Ali yang berdiri di pintu bangsal. Rupanya sedari tadi dia melihatku disana.


"Follow up-nya sudah aja dulu, Mahfudz. Ayo, ikut aku!"ajaknya.


Wah, ada apa ini? Dr. Ali mau mengajak aku kemana? Tumben sepagi ini dia sudah di rumah sakit.


Aku dengan pertanyaan -pertanyaan di hatiku tetap patuh mengikutinya. Dia mengajakku berjalan sampai parkiran.


"Kita ke rumah sakit jejaring sekarang, Mahfudz. Kamu yang bawa ambulancenya"


Dr. Ali melempar kunci ambulance padaku dan aku spontan menangkapnya.


"Ta-pi, Dok....!" Aku hendak protes.


Rumah sakit jejaring itu lumayan jauh sementara besok adalah hari pernikahanku dan lagi pula aku trauma membawa mobil.


"Aku tau besok kamu mau menikah. Kamu kira aku akan menggagalkan pernikahanmu dengan menculikmu, cihhh kekanak-kanakan sekali" katanya. "Ada pasien anak-anak di rumah sakit jejaring. Menderita TBC pleura, cairan di paru-parunya harus disedot sementara nggak ada dokter spesialis paru-paru anak di sana. Aku harus ke sana secepatnya. Aku tidak bisa membawa mobil karena takut kecapean di jalan"


Dia memandangku yang masih tidak percaya padanya.


"Kesana cuma butuh 4 jam, pulangnya 4 jam. Baru 8 jam. Melakukan tindakan paling lama 3 jam. Kalau berangkatnya sepagi sekarang paling nanti sore paling lama malam kita sudah sampai disini. Kamu bisa istirahat malam, besok menikahlah. Aku tidak akan mengganggu acara pernikahanmu. Aku tidak sekekanak-kanakan itu, percayalah!"katanya mencoba meyakinkanku.


"La-lu ke-na-pa ha-rus pa-ke am-bu-lance da-ri si-ni ka-lau tin-da-kan-nya di-sa-na?Ke-na-pa ng-gak pa-ke so-pir am-bu-lance a-tau so-pir la-in-nya? A-ku ti-dak bi-sa ba-wa mo-bil dok-ter!"tolakku.


"Professor bilang kamu bisa bawa mobil. Kecelakaan itu yang membuatmu kehilangan suara normalmu, itu kamu yang bawa mobilnya kan? Kamu hanya trauma. Bukan tidak bisa. Kita bawa ambulance hanya untuk jaga-jaga. Peralatan disana tidak memadai. Ambulancenya mereka juga alat medisnya nggak lengkap"kata dr. Ali menjelaskan.


Aku memandangnya tajam. Sudah tau aku trauma masih aja dipaksa bawa mobil. Ini dr. Ali maunya apa sih?


"Ka-mu su-dah ta-u ta-pi ma-sih me-nyu-ruh-ku ba-wa mo-bil? Ka-mu i-ngin a-ku ma-ti ke-ce-la-ka-an dok-ter?"tanyaku tak percaya.


Dr. Ali tertawa.


"Aku tidak sebodoh itu. Kalau kamu mati aku juga akan ikut mati kan? Trauma itu jangan disimpan tapi untuk diobati. Bawalah mobilnya, nanti sesekali ku bantu kalau kamu kesulitan membawanya. Percayalah, aku nggak punya pilihan lain. Sopir ambulance di rumah sakit ini ada dua. Tapi yang satu lagi cuti. Yang satunya lagi tetap harus stay di rumah sakit. Aku nggak punya waktu banyak mencari sopir panggilan"


Aku bimbang memutuskan. Bagaimana kalau karena ini ada kendala pada pernikahanku besok?


"Ayolah, Mahfudz. Ini menyangkut nyawa seorang anak usia 9 tahun. Kamu tidak kasihan?"


Aku masih berdiam diri.


"Ya, sudah kalau tidak mau. Aku saja yang pergi sendiri dan bawa mobilnya."


Dr. Ali hendak mengambil kunci mobil ambulance dari tanganku. Namun aku tidak memberikannya. Aku segera mengitari ambulance dan membuka pintu kemudinya. Aku menunggu dr. Ali yang masih bengong sampai masuk dan duduk di sampingku. Aku bahkan belum mandi pagi.

__ADS_1


Ya, Allah mudahkanlah urusanku untuk menikah dengan Raya besok! Jangan sampai ada kendala. Aku melakukan ini demi kemanusiaan. Demi menolong hambaMu yang lain, doaku dalam hati.


"Terima kasih, Fud!"ucap dr. Ali.


__ADS_2