
Pov Raya
Malam ini aku dan Mahfudz ke rumah sakit Medika Rahayu untuk membesuk Hawa yang telah melahirkan anak keduanya.
Hawa begitu antusias menyambut aku dan Mahfudz. Hawa juga sempat menjengukku di rumah sakit saat aku di rumah sakit dua bulan yang lalu dan juga menjengukku beberapa kali di rumah pasca pulang dari rumah sakit.
"Atuuh atuuh, mana si cewek adenya kakak Yusuf ni?"
Aku langsung duduk di samping Hawa yang sedang menimang bayi itu.
"Lihat sayang, siapa yang datang? Bunda Raya datang jengukin kamu," kata Hawa pada bayinya.
Tanpa ku minta Hawa memberikan bayi itu untuk kugendong. Aku menerimanya dengan hati- hati dan sedikit merapikan bedongnya yang agak berantakan. Spontan aku mencium bayi itu. Rasanya ya Allah, aromanya seperti aromannya Annisa. Membuat hasratku ingin memiliki bayi kembali menggebu- gebu.
"Suf, Yusuf!" panggilku pada Yusuf yang sedang bermain robotan di sofa di samping Mas Ibrahim.
Kamar perawatan Hawa ini memang sepertiny yang paling mewah di rumah sakit ini. Yah, wajar sajalah. Yang dirawat menantunya Dirut, pemilik rumah sakit Medika Rahayu.
Yusuf menoleh saat kupanggil.
"Adek bayinya tante Raya bawa ke rumah boleh nggak? Pinjam aja ...." kataku mengganggunya.
"Nggak boleh!" jawabnya ketus. "Kalau mau pinjam di sini aja. Jangan dibawa pulang. Itu adek Yusuf. Bukan adeknya Tante Raya."
Kami tertawa mendengar jawaban Yusuf.
"Dia sayang adeknya, Ray!" Hawa memberitahuku.
"Iya, iya. Tante Raya nggak bawa. Tante cuma pinjam di sini aja, boleh kan?"
Yusuf mengangguk dan lanjut bermain kembali.
"Kamu nggak mau coba gendong, sayang?" tanyaku menawarkan pada Mahfudz.
Aku ingin memanfaatkan moment ini untuk membuat naluri sebagai seorang ayahnya Mahfudz keluar. Tanpa menunggu jawaban Mahfudz, aku segera memberikan bayi itu ke gendongannya Mahfudz.
Mahfudz dengan hati- hati menerimanya dan memeluknya dengan erat agar tidak terjatuh. Terlihat sangat jelas di raut wajahnya saat menatap bayi itu, bahwa dia juga ingin memilikinya. Kau lihat, bukan cuma aku yang ingin, kau pun ingin kan? Aku membatin dalam hati.
"Siapa namanya, Wa?" tanyaku.
"Rachel Ameera Pramana. Dipanggil Rachel," jawab Hawa.
"Wah, namanya bagus. Andai Annisa masih ada, mungkin benar katamu, Wa. Mereka akan bersahabat seperti kita. Kita akan menyekolahkan mereka di tempat yang sama seperti yang kamu impikan dulu. Ah, aku gagal menjadikan Yusuf menantuku," candaku dalam kesedihan yang tak bisa ku ungkapkan.
Hawa memelukku dan mengelus- elus punggungku.
"Sabar, sayang. Nanti kau pasti akan dapat gantinya lagi. Bunda Raya jangan sedih donk. Nanti kudoakan deh biar dapat kembar sekaligus," hiburnya. "Tapi kau jangan terburu- buru, Ray. Kesehatanmu tetap paling utama. Kalau bundanya sehat, insyaAllah bayinya juga akan sehat." nasehat Hawa.
"Ka-mu de-ngar, tuh!" celutuk Mahfudz menimpali.
Aku cemberut melihat responnya.
"Ra-ya i-ni nggak ma-u nger-ti i-tu, Wa. Di-ki-ra-nya a-ku yang nggak ma-u. Pa-da-hal ka-u ta-u a-ku cu-ma i-ngin yang ter-ba-ik ba-gi se-mua-nya. Per-cu-ma pu-nya ba-yi ka-lau i-bu-nya sa-kit- sa-ki-tan, kan?"
"Apa maksudmu percuma?" tanyaku kesal.
"A-ku le-bih ba-ik me-nun-da pu-nya ba-yi da-ri-pa-da ha-rus mem-bu-at-mu ce-la-ka, Ray!" kata Mahfudz tegas.
Kami hampir saja bertengkar di sini andai Mas Ibrahim tidak mengajak Mahfudz ke kantin.
"Fud, kita ke kantin, yuk. Yusuf dari tadi merengek mint dibelikan susu UHT. Sekalian kita ngopi sebentar, kalian belum mau pulang kan?" ajak Mas Ibrahim.
Mahfudz mengangguk dan menyerahkan Rachel untuk kugendong.
Mas Ibrahim sepertinya memang sengaja mengajak Mahfud pergi agar kami tidak bertengkar.
Aku masih saja kesal sepeninggalan mereka.
"Pamer Mamer nggak datang?" tanyaku.
Aku sengaja bertanya hal lain untuk meredamkan emosiku.
"Dari tadi siang mereka ngumpul di sini, Mama, Papa, Dhea, Pamer, Mamer, pokoknya semua tadi ada sini. Cuma sudah pada pulangan. Bentar lagi Romi datang, jemput Yusuf pulang," jawab Hawa.
Aku mengangguk- angguk. Rachel sekarang menggeliat- geliat dan mulai menangis.
"Sepertinya dia lapar, Ray. Coba ke sinikan dia," pinta Hawa.
Aku menyerahkan Rachel pada Hawa untuk diberikan ASI. Bahkan proses pemberian ASI itu membuat dadaku rasanya bergemuruh. Aku bukan pertama kali melihat seorang ibu memberikan ASI pada bayinya. Bahkan di rumah pun aku sering melihat Ayuni memberi ASI pada Rahmat. Tapi melihat bayi newborn seperti Rachel dengan bibir mungilnya menghisap ****** maminya, hatiku sedikit cemburu. Aku bahkan tidak sempat memberikan setetes ASI pun pada putriku. Ya Tuhan, bagaimana aku sanggup menunggu setahun lagi?
"Ray, kamu kok melamun?" tanya Hawa.
Aku menggeleng. Kemudian aku terbersit menanyakan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Wa, aku boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku ragu- ragu.
Hawa mengangkat alisnya padaku. Dia masih menyusui Rachel.
"Tanya saja. Gitu aja pake minta ijin dulu. Memang kamu mau tanya apaan?" tanyanya lagi.
"Eng ..... Hmmm ...."
Aku ragu- ragu menanyakannya.
"Apaan?" tanya Hawa tidak sabar.
Wajahku merona bahka sebelum aku mulai menanyakannya.
"Kamu .... tau nggak, cara atau style bercinta yang bisa bikin lelaki lupa diri, Wa? Pokoknya saat melakukan itu, dia hanya ingat dan fokus pada kita dan dia akan mengabaikan yang lainnya. Kamu tau nggak?" tanyaku sambil menebalkan wajahku.
Hawa yang mendengarku sampai melongo sesaat sebelum dia tertawa terbahak- bahak.
"Hahahaa .... Ray ....?" godanya.
Wajahku terasa panas. Pasti sekarang wajahku seperti kepiting rebus.
"Jangan bilang kau ingin menjebak Mahfudz, agar terbuai pada permainanmu dan membuatmu hamil ...." tebaknya.
Wajahku bersemu merah mendengar tebakan Hawa. Dia memang sahabatku yang TOP BGT. Dia bahkan mampu menebak apa yang kupikirkan.
"Kau tau, Ray. Dalam hal ini meski kau sahabatku, aku tidak akan mendukungmu. Aku akan berpihak pada Mahfudz. Kau belum boleh hamil, Ray. Itu demi kebaikanmu, demi kebaikan kalian. Jangan bertindak bodoh yang bisa membahayakanmu," omel Hawa.
Aku tersenyum.
"Aku tau itu, Wa. Aku tidak berpikir seperti itu, kok. Hanya saja, aku sedang merindukan hubungan seperti itu dengan Mahfudz. Kau tau? Sejak kejadian itu sampai hari ini, Mahfudz sama sekali belum pernah menyentuhku. Dia takut padaku. Dia takut aku hamil. Kau tau, aku cuma seorang wanita normal. Apa salah kalau sesekali aku menginginkan suamiku sendiri? Aku juga rindu pada sentuhannya, pada masa- masa kebersamaan kami dulu. Ya Tuhan, ini sudah 2 bulan lebih, Wa. Apa yang harus kulakukan? Aku justru khawatir Mahfudz berpaling dariku kalau aku tidak menunaikan kewajibanku sebagai istri," rengekku berharap Hawa percaya.
Hawa senyum- senyum menggoda menatapku.
"Lalu apa yang bisa kulakukan untuk membantumu, Nyonya Alzhafran?" godanya.
"Ajari saja aku bagaimana cara melakukannya dengan cara yang efektif agar Mahfudz bertekuk lutut padaku dan tidak berpikir terlalu banyak untuk bercinta denganku," kataku dengan malu.
"Ahh, Rayaaa .... Aku nggak nyangka deh kamu bisa nakal juga," godanya sambil menyentuh perutku membuatku makin bersemu merah.
"Bilang aja ...." pintaku sambil memohon.
"Rayaaa ....? Hahaha .... Kasih tau Ummik nggak, ya. Kalau anaknya sekarang bisa seganjen ini" kata Hawa ngakak.
Dia sangat menikmati senangnya menggodaku. Dasar Hawa.
POV Mahfudz
Kami baru pulang dari Rumah Sakit Medika Rahayu, dan Raya langsung buru- buru masuk ke kamar mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi. Dan aku langsung menghempaskan tubuhku di ranjang. Kupejamkan mata ini mencoba tertidur atau Raya akan berusaha menuntut ku menuruti keinginannya untuk melakukan proses fertilisasi yang sangat diingin- inginkannya itu.
Terdengar olehku suara guyuran air di kamar mandi. Tak lama pintu kamar mandi terdengar di buka. Aku masih memejamkan mataku. Membujuk mataku untuk tertidur. Terdengar suara pintu lemari dibuka. Mungkin dia sedang ingin mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, pikirku. Setelah itu tidak terdengar suara apa pun melainkan aku mencium bau harum parfum Raya. Astaga, apa yang akan dilakukannya? Apakah dia bermaksud ingin menggodaku?
Kecurigaan ku langsung terbukti saat aku merasa tempat tidur kami bergerak tanda dia sedang naik ke atas ranjang. Dan detik berikutnya, aku merasa seseorang menindih tubuhku. Raya menyingkirkan lenganku yang kusengaja menutupi mataku.
Aku membuka mataku. Raya sedang berada di atas tubuhku sekarang. Dia dengan lingerie seksinya sedang menatapku menggoda sekarang. Bibirnya pun dipoles dengan lipstik berwarna merah tua. Membuat dia terlihat seperti wanita dewasa sungguhan.
"A-pa yang ka-u la-ku-kan, Ra-ya?"
Aku meraih pundaknya untuk membuatnya berbaring di sebelahku. Tapi Raya lebih sigap. Dia mencium bibirku. Dan tangannya ya Tuhan, sungguh- sungguh membuat jantungku nyaris lepas karena tak berhenti berdebar- debar. Tangannya yang halus menyelinap ke dalam baju kaosku membelai dada, perut, dan ahh .... Ini membuatku tidak tahan. Aku tidak percaya dia seberani ini.
"Ray ...."
Aku masih berusaha ingin bicara dan membujuknya untuk tidak melakukan itu.
Raya mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik.
"Nikmati saja, sayang. Dulu kau yang memaksaku, sekarang giliranku akan memaksamu balik. Kita seri. Kalau kau tidak mau kerja sama melakukannya, akan kulakukan sendiri," katanya lirih.
Dan entah bagaimana cara dia melakukannya, dalam hitungan menit, kaos yang kupakai sudah terlempar di lantai, begitu pun dengan celana dan bahkan dalamanku juga. Aku benar- benar dalam kuasanya sekarang. Aku bahkan tidak tau tepatnya sudah berapa lama dia beraksi atas tubuhku ketika akhirnya pertahanan ku runtuh dan aku menariknya dalam pelukanku. Dan segera aku mengganti posisi dengannya. Aku tidak akan melakukannya dengan dia dalam style woman on top. Itu posisi yang sangat riskan untuk kesehatan rahimnya menurutku, mengingat dr. Gayatri pernah mengingatkan aku sebelumnya untuk berhati- hati mengambil posisi saat berhubungan intim dengannya.
"Ka-u me-ngu-ji ke-sa-ba-ran-ku, sa-yang." gumamku.
Terlihat senyuman lembut tersungging di sudut bibirnya. Senyum kemenangan karena berhasil menggodaku.
Ya, rasanya aku akan kalap malam ini. Raya, istri penggodaku ini, benar- benar berhasil membuatku lupa diri dengan sentuhan dan belaiannya tadi. Dalam sekejap aku melucuti lingerie dan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Dan aku menjalankan aksiku.
Telah dua bulan lebih aku tidak menyentuh tubuh ini. Sungguh aku sangat rindu. Dan tak ada yang tau betapa menderitanya aku selama beberapa bulan ini menahan gejolak rasa yang terpaksa harus kupendam setiap harinya. Aktivitas yang biasa ku lakukan hampir setiap malam dengan Raya, sejak peristiwa itu harus terhenti sama sekali. Bahkan meski aku tau dia sudah berhenti nifas 2 minggu yang lalu, aku masih tak berani menyentuhnya. Aku takut dia hamil karena ulahku dan menjadi celaka karena itu.
Aku dan Raya benar- benar menyatu lagi malam ini. Napasku dan dia sama- sama menderu, diantara sentuhan- sentuhan dan gerakan- gerakan kami. Aku hampir sampai di puncak rasa itu, saat aku tersadar sesuatu. Aku menghentikan aktivitas itu dan menarik tubuhku darinya.
"Kenapa?" tanya Raya.
Sama denganku napasnya juga ngos-ngosan seperti habis lari maraton puluhan kilometer. Wajahnya merona merah menahan malu. Sementara rambutnya berantakan dan keringat terlihat membasahi wajahnya dan tubuhnya.
__ADS_1
Aku tak menjawab Raya melainkan berdiri dan berjalan menuju lemari, mengambil sesuatu dari balik tumpukan lipatan pakaian dalamku.
Ini telah lama kusiapkan, andai moment seperti ini tak bisa kuhindarkan. Segera aku merobek pembungkusnya.
Raya yang melihat apa yang sedang ku pegang seketika menjadi marah.
"Apa- apaan kamu, Fud? Kamu ingin memakai itu denganku?" katanya tak terima dengan apa yang ingin ku lakukan.
Raya kini duduk dan tampak mengatur napasnya.
"Te-nang-lah, sa-yang. I-ni cu-ma a-lat kon-tra-sep-si pria. I-ni ti-dak ber-ba-ha-ya." kataku mencoba membujuknya.
"Aku tau itu alat kontrasepsi dan tidak berbahaya. Tapi buat apa, Fud? Kamu ini keterlaluan ya, kamu kira aku Pela*** sehingga perlu pakai begituan?"
"Ray, ka-mu i-ni te-na-ga me-dis. Ka-u sen-di-ri ta-u a-pa fung-si a-lat kon-tra-sep-si. I-tu bu-at men-ce-gah ke-ha-mi-lan. A-ku sung-guh ti-dak me-ngi-ngin-kan ka-mu ce-la-ka ha-nya ka-re-na ka-mu i-ngin ter-bu-ru- bu-ru. A-ku ma-sih i-ngin men-ja-la-ni ru-mah tang-ga yang la-ma de-ngan-mu, Ray. Sam-pai ka-kek ne-nek." bujukku lagi?
"Aku tidak akan sampai mati hanya karena hamil, Fud. Ya sudahlah. Aku sudah nggak mood!" kata Raya kesal dan kini mencoba turun dari ranjang. Sepertinya dia akan mengakhirinya seperti ini.
Raya dengan tubuh tanpa busananya berjalan mengambil handuk yang tergantung di jemuran kecil dan melilitkannya di tubuhnya. Sepertinya dia akan bersih- bersih sekarang. Dan aku tidak mau berakhir seperti ini.
Tanpa berpikir panjang, aku berjalan menghampiri Raya, meraih tubuhnya dan mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang.
"Ba-ik-lah, a-ku ti-dak a-kan me-ma-kai-nya," kataku mencoba menenangkannya.
Dan kulihat Raya mulai melunak. Dan aku kembali melanjutkan aktivitas ranjang itu dengan rasa yang tak bisa kukatakan. Malam ini aku seperti musafir yang baru menemukan oase ditengah padang pasir.
\*\*\*\*\*\*\*
POV Raya
Suasana di meja makan pagi ini rasanya agak aneh campur aduk menyatu jadi satu. Di satu sisi semua berbahagia dengan kehamilan Ayuni namun di sisi lain mereka terlihat seperti menjaga perasaanku. Hari ini Mahfudz libur koas. Dan lagi pula karena dia koas di Stase minor, tugas- tugas dan jam kerjanya tidaklah sebanyak ketika dia koas di Stase mayor.
Aku memakan makananku sambil menatap Mahfudz yang berada di hadapanku dengan kesal. Sementara Mahfudz dia hanya tersenyum- senyum geli melihatku. Menyebalkan.
Sementara itu Fuad yang sepertinya menangkap ekspresi kesalku mendelik heran padaku.. Dia dengan baju dinasnya terlihat gagah. Yah, meskipun aku tidak tau bagaimana prosesnya sehingga dia bisa kerja di kantor walikota, tapi aku bersyukur dia akhirnya punya pekerjaan untuk menopang kehidupannya dengan anak istrinya. Meski begitu aku curiga, apakah dia bekerja di kantor walikota ada hubungannya dengan Waridi atau tidak.
"Apa Mahfudz melakukan sesuatu yang membuatmu kesal, Kakak Ipar?" tanya Fuad.
Ayuni dan Ummik sekarang melihat padaku dan Mahfudz.
"Kalian bertengkar?" tanya Ummik.
Aku masih agak sedikit kesal pada Ummik.
Mahfudz hanya senyum- senyum tak mengindahkanku.
"Kalau Mahfudz menyakiti hatimu, katakan saja Kakak Ipar. Aku akan menghajarnya," kata Fuad sembari menepuk belakang kepala Mahfudz yang langsung dibalas pelototan oleh Mahfud.
Aku tak menjawab Fuad. Aku malah segera menghabiskan makananku dan bergegas meninggalkan ruang makan tanpa pamitan pada mereka.
Selang beberapa menit Mahfudz menyusulku ke kamar.
"Ka-mu ma-sih ke-sal?" tanyanya.
Aku menatapnya marah.
"Kamu menipuku, aku tidak boleh marah?" tanyaku jengkel.
Sungguh mengesalkan dan aku merasa Mahfudz mempermainkanku tadi malam. Di saat- saat terakhir percintaan kami semalam,
aku yang sangat berharap bisa hamil secepatnya dari hubungan intim itu, dengan sengaja sesuatu yang harusnya menjadi benihnya dia membuangnya begitu saja di luar tubuhku.
"A-ku ti-dak me-ni-pu-mu, sa-yang. A-ku cu-ma bi-lang a-ku ti-dak a-kan me-ma-kai-nya," katanya sambil tertawa geli.
Aku benar- benar sebal pada Mahfudz.
"Ka-u a-kan ha-mil la-gi, ka-lau ka-mu me-nu-rut pa-da-ku, Ray. Cu-ma se-ta-hun. I-tu ti-dak a-kan te-ra-sa. Se-la-ma i-tu ang-gap sa-ja ki-ta se-dang bu-lan ma-du. Ki-ta nik-ma-ti ma-sa ber-du-a du-lu," bujuknya.
Aku mendengus kesal.
"Caranya menikmati masa berdua bagaimana? Aku sendirian di rumah. Dan kau hanya sibuk koas, kau tetap tak bisa menemaniku. Kita nggak bisa pergi bulan madu meski cuma ke tempat yang dekat. Hidupku membosankan," keluhku.
Mahfudz berpikir sejenak.
"Ba-gai-ma-na ka-lau ka-u be-ker-ja la-gi, Ray? I-tu a-kan mem-bu-at-mu si-buk dan ti-dak ter-la-lu me-mi-kir-kan ba-yi la-gi," kata Mahfudz mencetuskan idenya.
Sungguh, aku tidak peduli dengan pekerjaan sekarang. Aku hanya ingin memiliki bayi. Kenapa Mahfudz tidak mengerti.
"Ber-si-ap- si-ap-lah," katanya. "Gan-ti ba-ju-mu, ki-ta ke ru-mah sa-kit Si-a-ga Me-di-ka. Ki-ta te-mu-i Pro-fes-sor, ki-ta ta-nya a-pa po-si+si Sp-OG ma-sih ko-song," ajak Mahfudz.
Aku malas- malas menanggapinya.
"Dan, a-ku ke-pi-ki-ran un-tuk mem-ba-wa-mu ke dr. Ga-yat-ri. A-ku ra-sa ka-mu per-lu sun-tik K-B, sa-yang," kata Mahfudz hati- hati.
__ADS_1
Di sini, aku tiba- tiba punya ide cemerlang.
"Baiklah, tapi aku tidak mau suntik. Itu sungguh membuat gemuk. Aku akan pasang spiral 8 tahun, biar kita nggak usah punya anak selama itu, nanggung kalau cuma setahun," jawabku kesal.