I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Cervical cerclage


__ADS_3

"Ummmiiiiiik!!!!! Ummiiikk!!!!" jeritku histeris.


Aku dengan gemetar dan berhati- hati mencoba untuk duduk bersimpuh di atas aspal jalanan di depan rumah. Aku tidak berani berdiri apa lagi berjalan.


"Ummiiik ....!!! Ummiiik, tolongin Raya, Ummik! Pak! Tolong, Pak! Panggilin ibu saya, di dalam. Tolong, Pak!"


Aku memohon pada Bapak driver itu. Mungkin Ummik tidak mendengarnya karena Ummik sedang di belakang.


"I- iya, Bu. Tu- tunggu saya panggilkan!"


Sang driver keluar dari mobil dan berlari bergegas masuk ke dalam. Sambil meringis aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Mencari kontak Mahfudz dan meneleponnya.


Tuuuut .... Tuuuut .....


"Hallo, Ray. Kamu sudah selesai rapatnya?" Suara Mahfudz terdengar mengangkat telepon dari seberang sana.


"Sayang, Fud .... Aku di rumah. Keluar darah, Fud. Aku .... Aku takut, Fud. Aku takut terjadi sesuatu pada bayinya. Huuuuu ..." Aku sekarang menangis meraung- raung.


"Sa- sayang, Ke- kenapa bisa? Ya, Tuhan.... Ok, Ok. Sekarang juga, aku segera pulang ke rumah. Kamu jangan kemana- mana. Kamu nggak boleh ngapa- ngapain," katanya panik.


"I- iya."


Lalu telepon itu pun terputus. Sementara Bapak driver sepertinya baru saja berhasil berbicara pada Ummik. Kulihat dia menunjuk- nunjuk ke arahku yang berada di luar.


Ummik yang sadar aku mengalami sesuatu langsung menghambur keluar dan menemuiku.


"Ya Allah, Raya ...." pekik Ummik yang melihatku terduduk begitu saja di jalan. "Apa yang terjadi, Nak? Apa yang terjadi, Pak?"


"Anu, Bu. Saya nggak tau. Ibu ini cuma order mobil saya dari rumah sakit Siaga Medika. Eh, pas mau turun sudah begitu." kata si Bapak driver menjelaskan.


"Subhanallah, ayo berdiri, Nak! Ummik bantu masuk ke dalam."


Aku menggeleng.


"Nggak, Mik. Raya takut berdiri. Raya tunggu, Mahfudz saja."


"Tapi dia masih di rumah sakit, Nak. Ummik papah, deh. Dibantu sama pak supirnya, ya? Pak, tolong bantu saya papah anak saya ke dalam, ya?" Ummik minta bantuan driver itu.


"Iya, Bu."


"Nggak. Nggak usah, Mik. Raya tunggu Mahfudz aja, Mik. Dia sudah dalam perjalanan ke sini," kataku sambil geleng- geleng kepala.


Aku sungguh shock dan ketakutan melakukan apa- apa saat ini. Aku takut kalau aku berdiri dan berjalan kemungkinan aku bukan cuma pendarahan. Aku takut bakal janinku akan keguguran.


Karena tak berhasil membujukku, Ummik akhirnya membiarkanku saja terduduk di jalanan. Tanpa kuminta Ummik membersihkan seadanya jok mobil bekas darahku yang menempel disitu dan memberikan sejumlah uang pada driver.


"Pak, mohon maaf kalau saya hanya bisa membersihkan seadanya jok mobil bapak. Mohon bapak terima sedikit uang dari saya untuk biaya membersihkan mobil bapak ke doorsmeer," kata Ummik sembari menyerahkan beberapa lembar uanag nominal seratus ribuan.


"Nggak usah, Bu. Ini cukup dibersihkan sedikit lagi aja. Ambil aja lagi uangnya, Bu. Saya tidak bisa menerimanya. Mobil saya kotor bukan karena disengaja , kok. Lagi pula kasihan anak ibu, apa dibawa lagi aja ke rumah sakit, Bu?" tanya supir itu prihatin.


Ummik menatapku.


"Nggak apa- apa, Pak. Suaminya juga sedang dalam perjalanan ke sini. Nanti kami bawa sendiri aja. Dan ini tolong diterima aja, Pak!"


Karena tidak sanggup lagi berdebat dengan Ummik dan tak kuasa menolak pemberian Ummik, akhirnya driver itu menerimanya juga dan pergi dari situ.


Tidak lama setelahnya, Mahfudz datang dengan mengendarai mobilku yang sengaja dibawanya tadi untuk mengantarku ke rumah sakit. Dia segera menghambur keluar dan menghampiriku.


"Ya Allah, Raya ...."


Tanpa berpikir panjang lagi, Mahfudz segera menggendongku ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apa yang terjadi, Raya?" katanya panik.


Membuka pintu kamar, Mahfudz langsung membawa aku dalam gendongannya menuju kamar mandi. Dengan hati- hati, dia mendudukkanku di toilet duduk. Membuka rokku dan membantu membersihkanku.


"Sepertinya ini cuma pendarahan, sayang," katanya dengan nada yang lega sambil memelukku.


Aku mengangguk gugup.


"Kita bersihkan ini dulu, setelah itu kita ke dr. Gayatri untuk periksa."


Lagi- lagi aku mengangguk.Dan Mahfudz dengan cekatan membantuku membersihkan semua darah dari tubuhku, menggendongku dari kamar mandi kembali keranjang. Mencari semua pakaian dan bahkan membantuku mencarikan pembalut. Disaat dia melakukan semua itu, disitu aku merasa sangat dicintai. Dia bahkan tidak bereaksi apa pun saat aku menceritakan apa yang terjadi saat rapat tadi dengan Waridi.


Usai membersihkan seluruh tubuhku dan membantuku berpakaian, Mahfudz kembali menggendong aku ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Bersama Ummik, kami bertiga menuju rumah sakit.


"Kamu benar, sepertinya aku memang butuh kursi roda," kataku.


Mahfudz yang fokus menyetir mobil melirikku sambil tersenyum berat. Dia pasti sangat cemas pada keadaanku. Sedikitpun dia tidak marah pada semua kekeraskepalaanku.


"Nanti kucarikan," katanya.


Aku mengangguk pelan. Sementara Ummik yang berada di belakang berusaha menahan kekesalannya padaku.


"Makanya jadi istri yang nurut," omel Ummik.


Aku tersenyum kecut. Ini memang salahku.


"Maafin Raya, Mik," ucapku.


"Minta maaf sama Mahfudzlah, kok sama Ummik?" jawab Ummik ketus.


"Maafin aku, sayang." ucapku pada Mahfudz dengan tulus.


Mahfudz melepas tangan kirinya dari setir dan mengelus lenganku sebentar dan kemudian fokus menyetir lagi.


Sesampainya di rumah sakit Siaga Medika, Mahfudz turun dan membukakan lagi pintu untukku.


"Nggak usah digendong," rengekku. "Aku malu. Pinjaman kursi roda aja sama Agus."


"Jangan membangkang, deh," omelnya tanpa menghiraukan rengekanku.


Lalu tanpa peduli Mahfudz lalu menggendongku hingga departemen obgyn. Dan bisa dibayangkan pandangan semua orang langsung tertuju pada kami. Aku sampai menutup wajahku sangking malunya.


Dr. Gayatri langsung mempersilahkan kami masuk dan mengedepankan aku dibandingkan pasien antriannya yang lain begitu melihat keadaanku. Setelah melakukan pemeriksaan melakukan USG dan mendengar sebab musabab kenapa aku mengalami pendarahan dr. Gayatri berdecak sebal padaku.


"Kamu memang bandel, Ya. Inilah yang kukhawatirkan kalau kamu mengandung saat rahimmu lemah. Kamu sebegitu tidak sabarnyakah memiliki anak sampai tidak bisa menunggu sampai tahun depan. Ya Tuhan, Raya. Beruntung hari ini janinmu lagi- lagi masih bisa diselamatkan. Rasanya lama- lama aku bisa mati jantungan kalau dapat pasien yang bebal kayak kamu ini!" omelnya dengan nada sekesal- kesalnya.


"Please, dokter. Jangan omelin aku lagi, Ummik udah ngomel- ngomel dari tadi. Udah puas aku mendengarnya," kataku tak kalah kesal.


Dr. Gayatri tak peduli pada jawabanku.


"Aku akan memberimu progesteron untuk mencoba menguatkan kandunganmu. Terus terang saja Ray, maaf, aku agak pesimis kamu bisa melanjutkan kehamilanmu ini," katanya berat hati.


"Dokter!" protesku dengan nada setengah membentak


"Aku mengatakan itu, agar kamu kuat Raya atas kemungkinan apa pun yang bisa terjadi. Selain bantuan hormon progesteron, ini sebenarnya kembali ke kamu. Cobalah untuk bedrest, dan kalau pun memang tidak bisa dihindarkan kau harus bekerja, kamu harus melakukan aktivitasmu dengan bantuan kursi roda. Kamu tidak bisa berjalan mondar mandir sesuai maumu. Dan management pikiran tentunya. Hal- hal yang membuatmu stress abaikan saja," ujar dr. Gayatri panjang lebar. "Dan .... Kalau kandunganmu bertahan hingga 12 Minggu kita akan lakukan cervical cerclage untukmu. Mungkin cara ini bisa sedikit membuat kandunganmu aman dibandingkan metode lain."


Aku mengangguk- angguk. Sepertinya itu adalah ide yang bagus.


Cervical cerclage atau ikat mulut rahim merupakan prosedur yang dilakukan untuk mencegah keguguran atau bayi lahir prematur. Dalam prosedur ini, leher rahim yang merupakan bagian paling bawah dari uterus dan memanjang ke ******, akan dijahit hingga menutup sampai beberapa waktu sebelum masa persalinan. Tindakan cervical cerclage tersebut dilakukan ketika terjadi ketidakmampuan pada serviks. Jika ada gangguan di mulut rahim ibu hamil, dokter akan mendiagnosis adanya kecenderungan untuk keguguran berulang atau lahir prematur berulang. Terutama di usia kehamilan sekitar 20 minggu. Untuk mencegahnya bisa dilakukan cerclage di serviksnya, supaya tetap menutup.


Prosedur cervical cerclage tersebut dilakukan jika serviks perempuan berisiko terjadi pembukaan saat terjadi tekanan karena kehamilan. Lemahnya leher rahim tersebut mungkin disebabkan karena ibu hamil pernah mengalami keguguran pada trimester kedua atau prosedur cone biospy.

__ADS_1


"Walaupun ada kemungkinan resiko, tetapi sepertinya hanya cara ini yang bisa dilakukan untuk bisa menyelamatkan kehamilanmu, Raya." kata dr. Gayatri.


Aku menarik napas. Aku tau prosedur ini tetap memiliki banyak risiko seperti kontraksi prematur, cervical dystocia (ketidakmampuan serviks untuk melebar secara normal saat persalinan), pecahnya selaput, infeksi serviks, laserasi serviks jika persalinan terjadi sebelum cerclage dihilangkan, serta adanya risiko terkait anestesi seperti mual dan muntah. Tapi sepertinya benar kata dr. Gayatri ini termasuk sedikit aman jika nanti aku terpaksa harus bekerja kembali di RSIA Satya Medika.


"Apa pun akan kulakukan, dokter. Aku mau melakukan cerclage," jawabku yakin.


"Baiklah, kalau begitu tiga minggu lagi tunggu kandunganmu genap 12 minggu atau lebih baru kita lakukan cerclage serviks padamu."


kata dr. Gayatri. "Bagaimana Mahfudz? Kamu setuju?"


Mahfudz yang sedari tadi asyik mengotak- atik ponselnya sedikit terkejut mendengar pertanyaan dr. Gayatri.


"Gimana? Kamu setuju nggak Raya melakukan cerclage pada serviksnya?" tanya dr. Gayatri mengulangi pertanyaannya.


Mahfudz mengangguk tapi matanya masih sedikit terpaku pada ponselnya. Dia tidak fokus, apa yang sedang dipikirkannya?


"Ya, ya! Tentu saja, lakukan saja yang terbaik, Dokter." jawabnya cepat dan kini dia menatapku. "Sayang, aku ke luar sebentar, ya. Aku harus menelepon residenku dulu. Tadi aku cuma pamitan sebentar."


Aku mengangguk. Tapi aku curiga Mahfudz sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Ekspresinya agak lain dari biasanya.


\*\*\*\*\*\*\*


Sesampai di luar, yang kira- kira tidak memungkinkan bagi Raya untuk mendengarkan dia menelepon, Mahfudz mulai mencari salah satu kontak di ponselnya. Setelah menemukannya dia pun menghubunginya.


"Ya, Mahfudz?"


"Bang, oke deh. Aku setuju. Aku mau itu ******** tamat sampai ke akar- akarnya. Ya Tuhan dia ganggu istriku lagi. Abang benar, dia sepertinya terobsesi pada istriku. Kalau sampai kali ini anakku sampai kenapa- kenapa lagi aku sendiri yang akan datang membunuh brengsek itu ke rumahnya."


"Sabar, sabar, Fud! Kamu nggak boleh gegabah!"


"Ini sudah di luar kesabaranku, Bang. Terlalu banyak dia mengganggu hidupku dan keluargaku. Kesabaran pun ada batasnya, kan?"


"Ya, betul."


"Bagaimana penyelidikan Abang? Apa sudah dapat info akurat tentang orang itu?"


"Hmmm, belum Mahfudz. Tapi aku janji secepatnya. Biar bagaimana pun aku harus menemukan dia dulu. Ini tidak gampang. Aku tidak tau dimana orang itu disembunyikan Waridi, dan korban- korbannya aku tidak yakin itu hanya Ayuni."


"Pokoknya tolong Bang, pastikan semua bukti untuk menjatuhkan Waridi terkumpul sebelum tiba tanggalnya. Itu waktu yang tepat untuk menggulingkan dia sampai ke dasar neraka!"


"Aku usahakan, Mahfudz. Aku juga tidak lupa bantuan dr. Raya pada istriku. Meskipun pada akhirnya, aku tidak berguna waktu itu tapi dia sama sekali tidak menuntut uangnya untuk kukembalikan. Istrimu orang baik. Tolong jaga dia, Mahfudz."


Mahfudz tersenyum mendengar pujian itu. Istrinya itu apa hanya bandel terhadapnya? Buktinya kepada semua orang dia selalu baik dan mendapat pujian dimana- mana Ck...ck...ck.... Istri nakalku itu sebaik itukah ke setiap orang, pikir Mahfudz geli.


"Iya, Bang. Dia pasti kujagalah, tapi ngomong- ngomong, Bang. Abang sudah tidak bekerja dengan Waridi lagi. Abang memangnya masih punya akses untuk menyelidiki gerak geriknya?"


Akbar di telepon itu mendesah. Gogo yang diharapkannya bisa membantunya malah tidak mau sama sekali. Dia seperti penjilat. Selepas dia berhenti dari posisinya sebagai orang kepercayaan Waridi, Gogolah yang menggantikannya. Gogo yang dikiranya baik ternyata juga memiliki keserakahan. Dia seperti anjing yang setia pada tuannya. Akbar tidak bisa mengharapkan bantuannya lagi.


"Hmm .... Kamu jangan khawatir soal itu. Aku bisa mengatasinya. Tapi ngomong- ngomong Mahfudz, aku dengar saudara kembarmu sekarang bekerja di kantor Walikota, kira- kira bisakah dia kuajak kolaborasi denganku?" tanya Akbar tiba- tiba.


Mahfudz tersentak.


"Fuad? Entahlah. Nanti akan kucoba cari tau." jawabnya malas.


"Dia akan jadi mata elang yang bisa mengawasi Waridi di kantor Walikota."


"Hmmm .... Ngomong- ngomong. Kita lanjut lain kali pembicaraan ini. Secepatnya kabari aku. Dan aku minta tolong, Raya tidak perlu tau masalah ini. Dia sedang hamil. Kondisi kesehatannya rentan menurun dan beresiko keguguran. Aku tidak mau membuat dia tambah stress dengan rencana- rencana gila kita ini."


"Jangan khawatirkan itu. Lagi pula, aku tidak berkomunikasi dengannya."


"Ya sudah, Bang aku takut kelamaan dia mencariku. Assalamualaikum, Bang."

__ADS_1


"Waaalaikumsalam."


__ADS_2