I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Sore ini aku sedang sendirian di kamar membuka beberapa kado, sedangkan Mahfudz sedang berada di teras bersama paman dan nenek. Entah apa yang mereka obrolkan. Tapi yang jelas suamiku itu memang sangat pintar mengambil hati orang tua. Membuat nenek jadi sayang padanya. Bagaimana tidak sayang tiap ketemu, Mahfud selalu memijat nenek. Entah itu di pundak atau di kaki. Sesuatu yang bahkan hampir tak pernah kulakukan karena jarang bertemu nenek.


Aku membuka separuh kado yang kuterima untuk kuberikan pada Rasti atau Bu lik semisal ada yang cocok buat mereka nanti. Entah itu seprai atau baju tidur. Tapi aku takjub kenapa banyak teman-teman di SM yang memberiku kado lingerie. Apa mereka sedang janjian untuk mengolokku? pikirku. Sejauh ini aku sudah membuka 7 kado . 4 di antara berisi lingerie dan juga dalaman g-string. Membuat aku malu saja. Siapa juga yang mau pake begituan. Dipake juga bukannya bikin seksi tapi malah membuat tidak nyaman.


Aku membuka kado dari Hawa yang isinya sesuatu yang sama, namun sudah pasti berbeda. Hawa pintar memilih sesuatu untukku. Kado yang dia berikan juga lingerie, tapi yang kira-kira nyaman bagiku untuk memakainya. Ada 3 pcs lingerie berbahan satin dengan brand import yang dia berikan. Ke tiganya memiliki warna yang berbeda, hitam, merah dan biru navy. Modelnya juga tidak terlalu seronok jika di pakai. Yah, memang tetap terlihat seksi sih karena ini tipis dan minim sekali tapi setidaknya tidak memberikan kesan perempuan nakal pada orang yang memakainya.


Aku akan melakukannya untuk pertama kalinya nanti malam, yang mana yang harus ku pakai? Apa yang harus kulakukan nanti? Ahh, aku bingung sekali. Apa aku kabur saja? Aku benar-benar belum siap melakukannya. Bagaimana ini? Mahfudz juga kenapa harus mengatakan jadwalnya kapan? Kenapa tidak dilakukan spontanitas saja. Aduhhh, apa aku tidur di kamar Ummik saja nanti malam? Tapi itu kan tidak mungkin? Ummik pasti tidak akan mengijinkanku.


Di saat kebingungan melandaku seperti ini satu-satunya yang bisa ku ajak bicara cuma Hawa. Segera aku mengambil ponselku.


"Hallo, Ray...."suara Hawa di seberang sana saat mengangkat telponku.


"Wa...." panggilku frustasi.


"Kenapa, pengantin baru? Sukses nggak acara itunya? Tunggu sebentar " bisiknya. "Aku lagi di depan tadi. Ada mamer. Nggak enak aku ngomong disitu, sekarang kamu ngomong. Sukses nggak MP-nya?"tanyanya.


Aku cuma bisa mendesah dan menghembuskan napasku "Ahhhhh...."


Aku tak tau harus bilang apa.


"Belum?"tebak Hawa.


Aku mengangguk meski tau Hawa tak melihatnya.


"Aku nggak tau, harus ngapain Wa, Mahfudz bilang nanti malam aku, kami.... Aduuuh, gimana nih. Apa aku cari alasan tidur di rumah sakit aja, Wa? Aku betul-betul belum siap!" kataku panik.


"Ihh, kamu ini gila? Mau kabur cuma gara-gara itu? Tetap aja besok, besok, besoknya lagi kamu harus menghadapi itu selama kamu masih jadi istri seseorang. Dibilang siap nggak siap sih, semua wanita yang masih virgin kalau mau pengalaman pertama pasti nggak ada yang siap. Semua itu agak sedikit creepy kalau dibayangin. Tapi nggak musti mau kabur juga keleus... Emangnya kamu anak-anak umur 15 tahun mau kabur segala karena malam pertama? Kamu bahkan lebih dewasa dari Mahfudz, mau pake acara kabur segala? Kamu nggak malu sama dia apa kalau menghindar dari malam pertama kalian?"


"Karena itu aku malu, Wa. Kamu kan tau aku lebih tua dari dia. Kamu bayangin aja kalau di posisiku. Seseorang yang jauh lebih muda dari kamu bebas mengubek-ubek tubuhmu. Rasanya risih aja gitu" keluhku.


"Lah, gimana sih? Aku pikir saat kalian memutuskan untuk menikah kalian sudah menepis segala perbedaan itu. Menganggap perbedaan itu tidak ada. Tidak dengan perbedaan usia, kesenjangan sosial bahkan kekurangannya Mahfud dengan gangguan wicaranya, kekuranganmu yang maaf kalau aku boleh jujur. Kamu sudah perawan tua Ray, sedangkan Mahfudz masih di usia yang cerah cemerlang dan harus direpotkan dengan istri tua tapi manja. Dia harus merasakan repotnya koas, plus harus jadi suami dari seorang Raya yang rewel dan bawel. Dan kedepan akan banyak orang yang membandingkan dirinya yang cuma koas dengan istrinya yang dokter spesialis. Kamu tau nggak rasanya jadi dia?"


"Wa....!"


Aku tau kalau Hawa sudah tidak suka pada sesuatu dia suka bicara blak-blakan seperti begini. Aduuuh, aku bahkan dikatain perawan tua. Sedihnya.


"Tadinya aku salut sama kalian Ray, kagum aja gitu ada cinta seperti kalian yang bisa saling memberi dan menerima tanpa memikirkan kekurangan pasangan masing-masing. Tapi kalau kamu kayak begini, berarti kamu yang egois donk. Kamu nggak bisa terima Mahfudz yang lebih muda dari kamu."


"Terus aku harus gimana, Wa? Aku juga malu. Aku nggak tau harus ngapain"


"Dokter obgyn takut sama malam pertamanya sendiri. Kan lucu. Kamu bilang udah tau caranya. Nggak perlu dikasih tau lagi gimana teorinya." Hawa mengembalikan kata-kataku yang pernah kukatakan dulu padanya.


"Aku memang tau teorinya, tapi aku nggak tau cara bagaimana cara bersikap menghadapinya" keluhku.


"Gampang. Gini ya ku kasih tau, nanti sebelum tidur kamu bersih-bersih dulu, mandi yang bersih pakai wewangian. Kamu pilihlah satu lingerie yang kuberikan. Pakai, setelah itu tunggulah dengan manis di tempat tidur. Kamu nggak perlu berbuat apa-apa. Nanti dia sendiri yang akan mendatangimu. Dan semua akan terjadi secara alami. Jadi nggak usah mikir berat-berat teorinya. Jalani saja. Oh, iya ikat rambutmu tinggi-tinggi Ray!"


"Hahh? Kenapa?"tanyaku.


"Kamu punya leher yang panjang dan bagus. Pamerkanlah itu padanya. Dia tak akan bisa menolaknya"


"Ah gila kamu. Kamu kira leherku leher angsa, panjang gitu?!"


\*\*\*\*\*


"Nenek, mau tidur dulu, Fud, biar besok kalau mau pulang enak di jalan. Tidak capek!"


"Oh i-ya, Nek! Mah-fudz an-tar ke ka-mar?" tanyaku.


"Tidak usah. Nenek bisa sendiri" tolaknya.


"Kamu juga Fud! Tidur sana, Fud. Kamu memangnya nggak ke rumah sakit besok?" tanya Ummik.


"Mah-fudz ja-ga ma-lam be-sok, Mik"jawabku.

__ADS_1


"Walaupun besok jaga malam, mumpung masih ada waktu istirahat dimanfaatkanlah, Nak! Lagi pula kamu ini, punya istri tapi malah temanin Ummik dan nenek disini" Ummik geleng-geleng kepala melihatku.


Aku tersenyum. Aku kan ingin memastikan semua orang rumah tidur dulu baru melancarkan aksiku dengan Raya.


"Ya, su-dah Mik. Mah-fud ti-dur du-lu. Um-mik ju-ga ya?"


"Iya. Sebentar lagi Ummik tidur. Kamu tidur duluan aja, Fud!"


"Iya, Mik"


Aku segera masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang aku melihat Raya sedang sibuk dengan ponselnya. Dengan lingerie pendek sepaha berwarna hitam yang walaupun tidak transparan namun bisa memperlihatkan semua lekuk tubuh dan kulitnya yang putih bersih tanpa sedikitpun tertinggal bekas luka apa pun di tubuhnya. Rambut sebahunya yang diikat ke atas juga tak luput dari perhatianku. Memamerkan leher jenjangnya yang selama ini tertutup oleh pakaiannya. Oh, Tuhan. Semoga hanya aku yang bisa melihat keindahan ini. Maafkan keserakahanku yang ingin memiliki dia untukku seorang.


"A-ku man-di du-lu" kataku sambil menahan getaran di hatiku. Dia tersenyum memamerkan lesung pipinya yang indah. Terlihat malu-malu menggemaskan.


Rasanya aku ingin menyerangnya sekarang. Tapi rasanya tidak adil kalau dia sudah mempersiapkan diri sebersih dan sewangi itu, masa iya aku tidak bisa melakukn hal yang sama untuknya? Aku harus membuat malam ini berkesan untuk kami berdua.


Seusai mandi aku memakai handuk yang kulilitkan di pinggang. Rasanya aku tidak perlu memakai baju lagi nanti. Aku membuka pintu kamar mandi dan kulihat Raya juga sedang menatapku dan segera memalingkan wajahnya. Mungkin dia malu melihatku yang hanya pakai handuk.


Apa yang membuatmu malu, Bu dokter? Baru melihatku begini saja kamu sudah malu. Bagaimana kalau aku buka semuanya nanti, batinku tertawa geli.


Aku mengambil ponselku yang terletak di meja riasnya sedari tadi. Aku berencana mematikan telepon agar tak ada yang mengganggu prosesi malam pertama kami.


Namun saat yang bersamaan ada panggilan telpon masuk dari Bobby. Rupanya sedari tadi dia sudah menelpon namun karena ponselnya kubuat mode silent jadi tak ada yang mendengar.


"Fud, maaf ganggu. Kamu bisa ke rumah sakit sekarang? Pasienmu dengan dr. Ali Bang Gogo, masuk ICU. Ini CITO, Fud! Darurat! Kamu sih libur nikah, nggak ada ngomong sama siapa-siapa kalau bang Gogo wajib minum obat deuretik. Sekarang kondisinya drop! Kamu buruan ke sini. Dari tadi dr. Harun suruh aku hubungi kamu, tapi kamu nggak angkat-angkat."


Astaghfirullah. Iya benar aku sejak pergi dengan dr. Ali hingga hari ini, sudah dua hari lupa ngasih tau ke perawat lain atau koas lain kalau Bang Gogo wajib minum obat diuretik. Ya Allah, calon dokter seperti apa aku ini? Aku membuat pasienku sendiri dalam kondisi bahaya.


"Ok. A-ku a-kan se-ge-ra ke sa-na."jawabku.


Aku mematikan telpon dan menarik napas panjang. Bagaimana aku harus mengatakannya pada Raya, kalau kami harus menunda lagi malam pertama ini. Dia pasti akan sangat- sangat kecewa.


Aku menghampiri Raya sambil membuka chat Bobby yang berisi tentang info kondisi Bang Gogo yang dikirimnya sebelum aku mengangkat telponnya tadi.


"Ma-af, Ray. Bi-sa ki-ta tun-da la-gi?" Aku menunjukkan isi chat itu.


Raya tak mengatakan apa-apa. Entah aku yang salah lihat aku merasa matanya berkaca-kaca. Dia langsung menarik selimut bed cover dan menggulung dirinya sendiri dengan selimut itu. Dia bebaring membelakangiku.


Ya Allah, Ray. Aku tidak sengaja menggagalkan semua ini. Aku juga ingin melakukan ini.


Aku ingin membujuknya. Tapi aku rasa itu akan sia-sia dan mengulur waktuku ke rumah sakit.


Maafkan aku, Ray.


Aku segera memakai baju koasku tak lupa jaket dan bergegas ke rumah sakit.


"Mau kemana, Fud?"tanya Ummik.


"Ke ru-mah sa-kit, Mik. A-da pa-si-en CI-TO" jawabku buru-buru.


Aku segera membawa sepeda motorku ke rumah sakit. Hanya 10 menit aku sudah sampai karena aku ngebut. Saking khawatirnya pada kondisi Bang Gogo. Aku segera ke ICU. Namun kata petugas jaga di sana tak ada pasien atas nama Gogo yang baru masuk ICU. Ini membingungkan. Aku segera mencarinya ke ruang perawatan.


"A-bang tak a-pa-a-pa?" tanyaku saat aku melihatnya masih ada di ruang perawatan.


Bobby yang ada di sana terlihat meringis "Maaf, Fud! Aku disuruh Bang Gogo bohong biar kamu datang ke sini"


"Ke-na-pa, Bang?" tanyaku frustasi. Bang Gogo terlihat baik-baik saja tak kurang suatu apa pun lebih dari sebelumnya.


"Ambilkan!" Dia menyuruh temannya mengambilkan sesuatu dari bawah kolong tempat tidur.


Temannya mengambil satu set pan cook yang sudah disusun jadi parcel dari bawah tempat tidur.


"Ambillah! Itu kado pernikahan untuk istrimu, Pak Dokter. Kami tak bisa datang kemarin" kata Bang Gogo.

__ADS_1


Aku tercengang menerimanya. Tak menyangka dapat kado pernikahan dari seorang pasien.


"I-ni bu-at-ku, Bang?"


"Ya, bukan buatmulah! Buat binimu, beg*k! Aku dengar dia dokter juga. Dia pasti jarang masak. Dengan panci-panci ini, memasak jadi lebih mudah. Biar dia bisa masak yang enak-enak buatmu!"


"Te-ri-ma kas-ih, Bang!"ucapku.


Aku hampir menitikkan air mata. Benar-benar terharu pada ketulusan hati seorang pasien yang memberikan kado pernikahan untukku. Bahkan sampai merusak agenda malam pertamaku. Semua berkat panci ini! Terima kasih panci!


\*\*\*\*\*


Semalam aku memutuskan untuk ikut bantu jaga di rumah sakit. Tidak pulang karena takut melihat Raya yang ngambek. Dan sepertinya aku bisa menarik kesimpulan kalau aku termasuk golongan suami yang takut istri.


Walaupun aku pulang tadi malam, Raya pasti tetap tak akan mau mengulang agenda malam pertama kami. Dia pasti malu sekali, sudah berdandan sedemikian rupa dengan lingerie seksi yang cocok sekali di tubuhnya. Eh, suaminya ternyata meninggalkan dia demi seperangkat panci.


Trrrt...trrrrrrt....


Ponselku bergetar. Ada sms masuk. Ternyata sms banking, ada transferan masuk. Uang sebesar 12 juta rupiah masuk rekeningku. Wah, tidak salah kirim, nih?


Setelah itu ada WA masuk dari Mama.


[Fud, itu uang dari sarang walet kita. Mama sudah ambil untuk kebutuhan rumah, Fuad dan Nadya. Kamu pakelah dulu buat kebutuhanmu sama Raya, bulan depan bagianmu kamu yang kelola sendiri, ya sayang! Love you anak Mama]


[Hmmm iya, Ma! Makasih ya. Love you Mama]


Aku segera memutuskan untuk pulang pagi ini dan mampir sebentar ke pasar membeli 25 kg beras. Biar pun Ummik bilang tidak apa-apa, tetap tidak enak juga sih, makan tidur gratis di rumah mertua.


Aku dengan motorku masuk ke pekarangan rumah setelah aku membuka pagar terlebih dahulu. Aku membunyikan bel setelah aku menurunkan beras dan set pan cook pemberian Bang Gogo.


Raya yang membuka pintu. Langsung manyun melihat aku yang datang.


"Beras dari mana?"tanyanya datar.


"Be-li"jawabku.


Aku memberikan hadiah dari Bang Gogo padanya.


"Ka-do da-ri pa-si-en-ku un-tuk-mu."


"Katanya pasiennya masuk ICU?"


Ah, Raya sudah kayak detektif aja. Pertanyaannya banyak.


"I-tu da-ri pa-si-en yang la-in"jawabku.


Raya menerimanya dan membawanya ke dapur. Dia meletakkan set pan cook itu di atas lemari. Aku juga memanggul beras itu ke dapur.


"Um-mik dan yang la-in ke-ma-na. Kok se-pi?"


"Pulang. Ummik antar ke terminal!"jawabnya ketus. "Aduuuh, kok ada lalat sih di sini?"


Sepertinya dia sedang mengalihkan perhatiannya agar aku tau dia malas ngobrol denganku. Dasar ngambekan!


"Ja-di di ru-mah ng-gak a-da o-rang?"tanyaku seperti orang yang sedang mendapat ide cemerlang.


Raya tak menjawabku. Dia tetap pura-pura sibuk mengusir lalat.


Aku segera keluar kamar. Mengunci pintu depan, mengunci pintu kamar dan menutup gorden jendela. Terakhir aku mematikan ponselku agar tak ada lagi yang bisa mengganggu.


"A-yo, ki-ta la-ku-kan se-ka-rang!" kataku dengan mantap. Dia terlihat pucat mendengarku.


"A-aa-ku belum mandi, Fud!"katanya tergagap.

__ADS_1


"Nan-ti sa-ja"jawabku.


Aku meraih tubuhnya dan mengangkatnya ke ranjang. Bukan malam pertama. Pagi pertama pun tak masalah kan?


__ADS_2