
"Ummik nggak apa- apa kalau Ayuni dan bayinya sementara tinggal di rumah kita?" tanyaku pada Ummik.
Saat ini Ayuni dan Fuad serta bayinya masih duduk di ruang tamu sementara aku membawa Ummik ke kamar untuk memberikan pengertian pada Ummik.
"Ya, Ummik nggak apa- apa sih. Cuma Ummik nggak habis pikir sama Pak Waridi. Kenapa dia sebejat itu sama putrinya sendiri. Meskipun bukan anak kandungnya, tetap saja Ayuni dia besarkan selama bertahun- tahun dan berdampingan dengannya. Padahal Ummik pikir Bapak Waridi itu sosok pemimpin yang penyayang sama rakyatnya, tapi ahh rasanya mau Ummik uleg tu mukanya." kata Ummik gregetan
Aku mendesah. "Dia psikopat, Mik."
"Kamu harus hati- hati, Ray. Ummik nggak mau kamu diculiknya lagi. Apa perlu kita sewa bodyguard untuk jagain kamu."
"Ya ampun, Mik. Itu nggak perlu. Raya akan hati- hati. Nanti juga rasanya Raya mau pasang CCTV di sini, Mik. Sama nyari orang yang bisa jagain Ummik dan Ayuni kalau Raya sedang tidak ada di rumah."
"Ais .... Kamu ini suka sok- sok strong deh, kamu yang butuh dijaga ketat."
"Raya beneran akan hati- hati, Ummik. Doa Ummik yang akan menjadi malaikat penjaga untuk Raya."
Ummik mengusap lenganku. "Ummik bangga sama kamu. Bagaimana pun kita harus melawan yang bathil dan keji. Tindakan Waridi itu harus segera dihentikan agar tidak ada lagi korban- korban lain yang berjatuhan."
"Tapi Ummik bantuin Raya meyakinkan Mahfudz ya, Mik! Menantu Ummik itu selalu khawatir kalau Raya berurusan lagi sama Waridi." keluhku.
"Itu karena dia sayang padamu, Nak. Dia mengkwatirkanmu dan calon bayinya."
Aku mengangguk. Tak usah diberi tahu pun aku sangat tau kalau Mahfudz menyayangiku dan calon anak kami.
"Bagaimana pun Raya akan hati- hati."
"Ummik percaya padamu."
Ah, Ummikku ini memang paling terbaik di dunia,paling mengerti dan paling segala- galanya.
"Ya sudah. Ayuni bisa tidur di kamar tamu nanti, Mik! Nanti Raya siapin kamarnya."
"Dia bisa tidur di kamar Ummik nanti biar nanti ada yang bantu jaga kalau anaknya terbangun nanti malam." jawab Ummik.
"Ummik yakin? Nanti istirahatnya Ummik keganggu loh." kataku ragu.
"Nggak. Ummik malah senang. Bayinya lucu banget dah Ray, biarin Ummik ikut jaga ya? Nunggu kamu brojol mah masih lama. Ummik kan sudah nggak sabar momong bayi."
"Oh gitu .... Jangan- jangan nanti Nenek nggak sayang lagi sama kamu dan Bunda, Nak?" tanyaku seolah- olah pada bayi yang ada dalam perutku.
"Ya nggak, donk! Kamu tetap cucu kesayangan Nenek!" kata Ummik sambil menunduk mencium perutku yang sudah mulai membuncit.
Aku cuma terkekeh melihat perlakuan Ummik.
Beres memberi pengertian pada Ummik, aku segera mendatangi Ayuni dan Fuad di ruanh tamu.
"Ayuni, kamu nggak apa- apa kan kalau tidur sama Ummik? Di sini masih ada dua kamar kosong lagi sih, tapi Ummik katanya pengen berpatisipasi buat jaga anakmu, kamu keberatan? Maklumi aja Ummik memang begitu orangnya, Ummik udah nggak sabar lagi momong cucu, lihat anakmu jadi gitu deh!" kataku sambil mengangkat bahu.
"Terserah dr. Raya aja. Persalinanku dibantu aja aku udah sangat berterima kasih, dan sekarang dr. Raya malah menampungku untuk tinggal di sini. Entah bagaimana caraku berterima kasih," katanya.
"Kamu nggak usah sungkan soal itu. Btw, di rumah ini tidak ada orang yang memanggilku dr. Raya. Kamu boleh memanggilku kakak kalau kamu berkenan. Kamu anggap kakak beneran juga nggak apa- apa. Aku nggak punya adik soalnya," kataku.
"Ini, ini apa?" Fuad menunjuk pada dirinya sendiri.
"Kamu bukan adikku. Kamu cuma ipar stress yang suka bikin orang pusing." cercaku jengkel.
"Ihhh, kejamnya ...."
"Ya, aku kejam. Sekarang kamu pulang! Ayuni mau istirahat," kataku tegas.
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang meninggalkan calon istri dan anakku di sini." kata Fuad keras kepala.
"Berusahalah untuk mendapatkan maaf dari Mama dulu, selain itu ada kamu di sini akan membuat Mahfudz tambah jengkel nanti. Akan lebih sulit memberi dia pengertian nanti," kataku.
"Terus aku nggak boleh sering- sering ke sini?"
"Boleh aja, tapi cuma sebatas menjenguk doank."
"Astaga, please, kakak ipar! Kamu pasti mengira aku dan Ayuni sudah pernah berbuat 'seperti itu'. Aku nggak sebejat itulah!"
"Itu yang kamu akui tadi ke Mama."
"Aku bohong sama Mama, biar Mama nggak nolak Ayuni," katanya.
"Lalu hasilnya? Ditolak juga kan? Sabarlah, sana pulang ke rumah. Kamu bujukin dulu Mama pelan- pelan. Jadilah anak yang baik. Sampai kamu belum dapat restu dari Mama, aku yang akan jaga Ayuni. Deal?"
Fuad melihatku dengan kesal dan kemudian bangkit dan meraih kunci mobil di atas meja.
"Ummik! Fuad pulang dulu, Mik!"
\*\*\*\*\*
"Kamu yakin dia sudah tau kalau Ayuni ada di rumahku?" tanyaku pada Akbar saat kami menelepon di suatu siang.
"Iya," jawab Akbar. "Dia tau dari anak buah lain yang disuruhnya memata- matai kamu dan Mahfudz."
"Aneh sekali. Dia sama sekali tidak memberikan tindakan atau pergerakan apa pun. Padahal ku pikir, setidaknya dia akan melaporkanku ke polisi karena menculik dan menahan Ayuni di rumahku," kataku bingung.
"Memangnya kalau dia melakukan itu, kamu ada rencana apa untuk membalasnya? Bukannya bagus kalau dia tak merencanakan apa pun?"
Aku menggeleng meski aku tau gelenganku tidak akan dilihat Akbar.
"Itu tidak bagus. Setidaknya dia harus menyerangku dulu baru aku bisa balas menyerangnya," kataku. "Ya sudah kalau tak ada perkembangan apa pun, kirimkan aku yang ku minta kemarin." kataku.
Panggilan telepon antara aku dan Akbar memang tak bisa terlalu berlama- lama. Sebab dia takut menimbulkan kecurigaan pada Waridi. Meski dia sudah ingin berhenti bekerja di sana, namun aku tetap ingin menjadikan dia sebagai mata- mataku di sisi Waridi.
Telah dua minggu Ayuni dan putranya ada di rumahku. Meski Mahfudz awalnya keberatan tapi karena Ummik menginginkan Ayuni tinggal bersama kami, Mahfudz tidak bisa berbuat apa- apa sebab kami pun boleh dibilang hanya tinggal nebeng di rumah Ummik.
Sementara Ummik? Jangan ditanya beliau amat- amat senang dengan kehadiran Ayuni dan Rahmat, begitu Ummik memberi nama bayi itu yang disetujui oleh Ayuni mau pun Fuad. Kehadiran mereka membuat Ummik tidak kesepian lagi di rumah. Ummik seakan mendapat putri baru yang aku rasa, rasa sayangnya pada Ayuni tidak jauh berbeda padaku. Dia benar- benar menganggap Ayuni seperti putri kandungnya. Bahkan Ummik bilang dia akan menggelar acara aqiqah untuk Rahmat minggu depan.
"Ray, temani Ummik ke tempat mertuamu," kata Ummik.
"Ngapain ke sana, Mik?" tanyaku dengan nada khawatir.
Aku mengkhawatirkan Ummik yang sepertinya ingin mengundang Mama ke acara aqiqahnya Rahmat.
"Kita harus memberi tau mertuamu, kalau Rahmat akan diaqiqah."
"Ummik, itu tidak akan berhasil. Mama benci Ayuni. Yang ada nanti Mama tambah lebih sebal lagi sama kita" kataku resah.
"Kamu percayakan saja pada Ummik. Ummik yang akan ngomong," jawab Ummik.
Dan akhirnya Ummik tetap ngeyel untuk pergi ke rumah Mama.
"Maaf Bu Farida, saya tidak bisa menghadiri acara itu. Itu bukan acara aqiqah cucu saya, saya bahkan tidak kenal siapa orang tua anak yang akan diaqiqah itu," jawab Mama dingin setelah Ummik mengutarakan maksud kedatangan kami ke sana.
Ummik tersenyum simpul mendapat jawaban dari Mama.
"Saya mengerti kekecewaan Bu Salmah. Tapi kalau Bu Salmah bilang tidak mau datang karena tidak kenal orang tua anak itu, bolehkah saya sebagai neneknya yang mengundang Bu Salmah?"
__ADS_1
Mama mendengus tak percaya Ummik akan berkata seperti itu.
"Selama dua minggu ini Ayuni tinggal bersama saya, saya bisa melihat Ayuni adalah anak yang baik. Dia rajin sholatnya, dia pintar mengurus masalah rumah tangga, mengurus anaknya. Bahkan Raya tidak setelaten itu mengurus kerjaan rumah," kata Ummik.
"Ummik ...." protesku.
"Untuk apa Bu Farida membicarakan hal itu? Hal itu sama sekali tidak penting bagi saya mengetahuinya," kata Mama tak suka.
"Ayuni dan Fuad saling menyayangi. Mereka ingin mengikatnya dalam jalinan tali pernikahan yang hal ...."
" Saya tidak bisa menerima dia sebagai menantu saya Bu Farida. Harap Ibu mengerti, saya tidak ingin membahas ini. Dan kamu juga Raya, kamu sampai membawa Ummik-mu ke sini demi ngebujukin Mama. Itu apa maksudnya? Bagi Mama menantu Mama saat ini cuma kamu, tolong dukung Mama, bukannya malah ngedukung Fuad menikahi gadis itu, kamu itu gimana sih?" Mama terlihat jengkel padaku.
Aku langsung memeluk mertuaku itu dengan sayang.
"Raya mengerti perasaan Mama. Tapi Ma, Fuad dan Ayuni itu sudah dewasa. Kalau mereka ingin menikah, bukankah pada akhirnya mereka yang akan menjalani kehidupan pernikahan itu? Bukan Raya, bukan Mama, bukan kita?" kataku masih sambil memeluk Mama.
"Tapi Mama jijik sama gadis itu, Ray! Dia itu bukan gadis yang suci. Dia sudah dijamah berkali- kali oleh orang lain. Bagaimana bisa Fuad mendapatkan wanita seperti itu? Mama sungguh- sungguh tidak ridho anak yang Mama lahirkan dan besarkan sepenuh hati pada akhirnya hanya mendapat wanita seperti itu sebagai istrinya. Mama nggak ikhlas, Ray! Huuu ....hu....."
Mama akhirnya menangis di pelukanku. Namun sebaliknya aku malah melepas pelukannya itu.
"Astaghfirullah, Mama. Siapa kita merasa paling suci dari orang lain? Maaf bukan maksud Raya menggurui Mama. Tapi di mata Tuhan kita semua sama, Ma. Yang membedakan kita antara orang yang satu dengan yang lain hanya keimanannya dan jalan hidupnya. Kalau bisa memilih Ayuni pasti juga tidak mau memiliki jalan hidup seperti ini. Bayangkan, Ma. Dia hanya anak yatim panti asuhan. Dia sebatang kara hidup di dunia ini, lalu suatu hari ada yang mengadopsinya dari panti asuhan itu. Betapa bahagianya, dia akan memiliki orang tua baru, yang menyayangi dia. Dia tidak akan berbeda lagi dengan teman- teman di sekolahnya. Tapi saat sampai di rumah itu semua harapan itu sirna, dia dilecehkan, diperkosa, berkali- kali sampai beberapa tahun, hingga dia hamil dan melahirkan seperti ini. Tak bisa mengadu pada siapa pun. Dia bahkan hampir tewas dipaksa minum racun serangga karena dia hamil. Tak bisakah Mama sedikit berempati dan kasihan padanya? Hingga akhirnya dia bertemu Fuad dan mereka saling mencintai. Apakah dia tak boleh berharap sedikit saja kebahagiaan dalam hidupnya?"
Kali ini air mataku yang tak terasa jatuh mengatakan semua itu.
"Semua itu bisa menimpa siapa saja. Hanya karena kebaikan dan keberuntungan yang diberikan Allah saja, maka kita tidak mengalami apa yang dia alami. Andai Raya yang terlahir jadi dia, Mama juga akan bersikap seperti ini pada Raya? Apa begini cara manusia memperlakukan manusia?"
Air mataku tak bisa kubendung lagi. Aku menangis tersedu- sedu membayangkan kalau aku yang berada di posisi Ayuni. Entah apakah ini pengaruh aku sedang hamil dan membuatku menjadi lebih sensitif. Tapi aku merasa terluka saat Mama bilang dia jijik pada Ayuni.
"Raya ...."
Ummik menyentuh punggungku. Ummik tau aku mulai tidak bisa mengontrol emosiku sendiri.
"Siapa orang di dunia ini yang tidak punya kekurangan Mama? Menantu Mama ini juga punya kekurangan, hanya karena aku seorang dokter maka Mama bisa menerima kekuranganku sebagai perawan tua untuk anak Mama Mahfudz kan? Dan Mama juga lupa anak Mama Mahfudz juga punya gangguan wicara yang belum tentu bisa diterima oleh orang lain selain aku dan Ummik. Hanya karena kami saling bisa menerima kekurangan masing- masing maka kami bisa bersatu seperti ini. Entah Fuad anak Mama yang sehebat apa sampai Ayuni tidak pantas mendampinginya. Ayo, Mik, kita pulang!" ajakku masih dengan air mata yang berderai.
Rasanya aku tak mau berlama- lama di sini. Hanya akan membuat aku dan Mama semakin bersitegang nantinya.
Aku sudah berdiri saat berkata,
"Ayuni itu bukan gadis baik- baik. Kalau dia gadis baik- baik, dia tidak akan mau berhubungan di luar nikah dengan Fuad ...."
Aku memalingkan wajahku pada Mama.
"Fuad dan Ayuni tidak pernah melakukan itu, Mama. Fuad bilang begitu karena dia tau Mama akan memandang rendah Ayuni, sehingga dia harus mengarang cerita agar Mama melihat dia sama rendahnya dengan Ayuni. Itu artinya Mama tau? Dia bisa menerima kekurangan Ayuni."
Tanpa menunggu jawaban Mama lagi, aku segera pergi keluar dan menunggu Ummik di mobil saja. Air mataku masih saja berderai- derai. Oh, bumil sesensitif itukah kau?
\*\*\*\*\*\*\*
Hari ini special day. Ada dua acara sederhana yang diselenggarakan hari ini di rumah. Yang pertama acara ijab qobul sederhana pernikahan Ayuni dan Fuad. Dan kedua acara aqiqah Rahmat Yudhistira, putranya Ayuni. Semua kebutuhan acara ini didanai oleh Ummik.
Mama pada akhirnya memberi persetujuan bagi Ayuni dan Fuad untuk menikah. Entah karena efek dari apa yang kukatakan padanya sampai menangis tersedu- sedu atau beliau mempertimbangkan hal yang lain, tapi yang pasti Mama tidak menentang lagi keputusan Fuad menikahi Ayuni walaupun sebetulnya beliau belum terlihat legowo dengan keputusannya itu. Hal itu bisa dilihat dari keengganannya menghadiri acara pernikahan ini. Mama menolak hadir hari ini.
Acara ijab qobul berjalan lancar dengan bantuan pak penghulu dan wali hakim. Dan prosesi itu pun berlangsung hingga ke acara aqiqah Rahmat. Acara sederhana dengan undangan para tetangga dan hanya teman dekat saja itu tiba- tiba terasa mencekam saat tiba- tiba seseorang datang dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum,"
Sosok laki- laki itu tersenyum dengan sangat ramah dan terlihat menyenangkan.
"Waalaikumsalam," jawab para tetua dan tamu lain yang kebetulan berada di dalam rumah.
__ADS_1
Aku melirik pada Ayuni. Kulihat dia pucat pasi melihat pria itu. Gemetar sampai dia terlihat menarik ujung baju Fuad yang sekarang telah resmi jadi suaminya itu.
Ya. Itu Waridi. Mau apa dia disini? Apa yang dia rencanakan?