I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Surgical Scrubbing


__ADS_3

Pov Raya


Aku menendang tombol di bawah untuk menyalakan keran. Terdengar air mengalir lalu aku menyingsingkan lengan bajuku hingga ke siku dan membasuhnya dengan air mengalir di bawah keran. Di sampingku Mahfudz pun melakukan hal yang sama. Sementara Anita dan Devi, dan Abidzar menunggu giliran untuk mensterilkan tangan mereka. Ini disebut Surgical Scrubing. Prosedur wajib yang dilakukan sebelum masuk ke ruang operasi. Tujuannya agar ruang operasi tidak terkontaminasi oleh bakteri atau mikroorganisme lain yang bersifat patogen yang mungkin dibawa oleh tenaga medis ke ruang operasi.


Hari ini aku membawa ke lima anak koasku ikut tindakan ke ruang operasi untuk melakukan Sectio Caesario. Aku telah memilih Mahfudz untuk menjadi asisten 2 melakukan tindakan ini. Aku memilihnya tentu bukan karena dia semata-mata adalah kekasihku. Melainkan karena aku melihat dia sebagai pribadi yang tenang dan tidak ceroboh dalam melakukan sesuatu. Berbeda dengan teman-temannya yang lain. Dan sesuai permintaan khusus professor waktu itu untuk membimbing dia secara khusus, jadi aku pun merasa sangat perlu memberinya kesempatan. Karena memang hari ini pun tak ada dokter residen sherly yang biasa kupakai sebagai asistenku saat operasi.


"Sepertinya kamu sangat menghayati tugasmu saat melakukan VT ke pasien itu tadi?" sindirku pada Mahfudz yang kini telah memakai baju bedah berwarna hijau sama sepertiku. Serta penutup kepala (surgeon cup) juga. Dia terlihat sangat cocok memakainya. Persis dokter bedah sungguhan.


Mahfudz mengerling padaku. Tersenyum geli. Mungkin dia menganggapku terlalu kekanak-kanakan sekarang. Dia tidak menjawabku. Mahfudz menendang tombol di bawah westafel untuk menyalakan keran lalu membasahi tangannya dengan air mengalir seperti yang ku lakukan.


Senyum yang menyebalkan. Kenapa dia tetap berlagak keren dan sok cool, meski dia tau aku marah padanya?


Aku membuka bungkus sikat sekali pakai dan memencet tombol kotak berisi desinfektan di depanku dengan jengkel. Mahfudz ikut melakukan hal yang sama dan membalurkannya dari jari-jarinya hingga ke siku dengan posisi dari atas ke bawah persis seperti yang kulakukan.


"Kamu nggak dengar tadi, dia mengajakmu ke lokalisasi? Kenapa kamu diam saja? Terima saja ajakannya. Dikasih bonus loh. Ada garansinya lagi. Tidak puas bisa diulang kembali" ledekku dengan nada yang tidak bisa ku tutupi kalau aku cemburu.


Mahfudz melirikku lagi. Namun lagi-lagi tak menjawab. Dia juga terlihat kesal karena aku seperti mengajak ribut dengannya.


Aku menyikat kuku tangan hingga lengan ke siku dengan desinfektan untuk kedua kalinya. Kemudian membuang sikat itu ke tempat sampah. Setelah itu aku menggosok jari tanganku satu persatu, menggosok pergelangan tangan hingga siku dan mengulangi semua proses itu hingga tiga kali.


Aku memperhatikan semua prosedur mencuci tangan yang dia lakukan. Sepertinya aku tidak perlu repot-repot mengajarinya. Dia cukup paham melakukannya.


"Soal dr. Sherly aku juga... " aku menahan mulutku saat aku menyadari kami tidak cuma berdua di situ. Ada beberapa anak koas di sini yang sedari tadi pura-pura tidak dengar sindiranku pada Mahfudz. Mereka tau aku memiliki hubungan khusus dengan Mahfudz. Dan pastinya mereka tau apa yang membuatku kesal.


Cemburu buta. Ini kekanak-kanakan memang. Tapi anehnya aku tetap melakukan hal-hal konyol yang sebenarnya hanya membuatku tambah malu.


Aku selesai mencuci tangan dan mematikan tombol dengan satu kali tendangan. Lalu menadahkan tanganku ke atas agar tetesan air jatuhnya lewat sikuku. Bukan lewat telapak tanganku lagi.


Mahfudz melakukan hal yang sama dan memposisikan telapak tangannya sejajar dengan wajahnya.


"A-ku ti-dak a-da hu-bu-ngan a-pa a-pa de-ngan dok-ter sher-ly" kata Mahfudz.


"Tidak ada apa-apa tapi saling pelukan..."kataku sinis sambil berjalan menuju pintu. Aku kemudian mendorong pintu itu dengan punggungku dan masih mengangkat tanganku ke atas.


"A-ku ti-dak me-me-luk-nya"


"Kalau begitu pasti dia yang memelukmu. Kamu suka?"tanyaku.


Mahfudz tidak menjawab, dia hanya geleng-geleng kepala menghadapiku.


Kami sekarang berada di OK. Aku memakai alas kaki khusus yang juga steril pastinya.


Aku mengambil waslap yang diberikan oleh instrumentator OK. Mengelap telapak tanganku dulu dengan menepuk-nepuknya pada satu sisi, lalu membuka sisi waslap membentuk segitiga dan mengelap lengan dari pergelangan tangan hingga siku. Kemudian setelahnya aku membalikkan sisi waslap yang belum dipakai untuk mengeringkan tanganku yang satunya. Sungguh ribet kan? Bahkan mencuci dan mengelap tangan ada prosedurnya. Namun semua itu untuk benar-benar memastikan tangan steril saat melakukan operasi nanti.


Selepas mengeringkan tangan, bagian yang terkeren adalah gawning. Yaitu memakai gaun bedah dengan dibantu asisten atau bisa juga instrumentator. Instrumentator adalah perawat khusus kamar bedah. Tugasnya adalah mempersiapkan instrumen bedah atau alat-alat operasi.


Aku mengambil gaun operasi pada bagian pundak gaun, melepas lipatannya dan memasukkan tangan kananku dulu dengan posisi membentang lalu diikuti tangan kiriku, tanpa mengeluarkan telapak tanganku ke luar gaun. Instrumentator segera membantuku mengikat tali gaun dari belakang. Aku juga memutar badanku untuk mempermudah dia mengikat tali gaun bagian samping. Jika difilmkan, pastilah ini akan jadi bagian yang keren.


Usai memakai gaun bedah, step terakhir adalah gloving, yaitu memakai sarung tanga atau handscoon sampai menutupi pergelangan gaun operasi. Ini pun ada tekhnik khususnya.


Step by step mensterilkan tangan selesai hingga memakai gaun operasi, sekarang tinggal melakukan tindakan operasi.

__ADS_1


"Hallo, Ibu. Gimana kabarnya? Kita siap operasi ya hari ini?" sapaku pada pasien SC yang sudah terbaring di meja operasi.


"Iya, Dok..." kata sang Ibu lesu.


"Loh, kenapa Bu?"tanyaku.


"Aku mual, Dok!"jawabnya.


Aku mengangguk dan maklum kalau itu adalah efek bius epidural. Aku mengkode instrumentator untuk menyiapkan tempat untuk si Ibu muntah. Tapi ternyata si Ibu tidak bisa muntah juga.


"Ok, nggak apa-apa. Ibu jangan tegang. Ibu yang rileks dan berdoa saja agar operasinya berjalan lancar, ya?" kataku mencoba menenangkan.


Si ibu mengangguk. Lalu seperti biasa, sebelum memulai tindakan kami melakukan ritual berdoa dulu. Bismillahirrohmanirrohim.


Instrumentator memberikan desinfektan porcep dan qaas steril pada tangan kananku. Sementara itu dia memberikan kom berisi betadine di tangan kiri asistenku.


Tindakan awal aku mendesinfeksi area pembedahan. Lalu menunggu asisten selesai drapping. Setelah itu instrumentator memberikan pinset chirurgi dan gagang pisau padaku. Aku menjepit kulit pasien dengan pinset untuk memastikan biusnya sudah bekerja atau tidak. Setelah memastikan biusnya bekerja aku mulai menyayat kulit pasien.


"Dr. Sherly kenapa ga hadir, Dok?"tanya Raffi asisten 1 ku.


"Nggak tau, Fi! Mungkin lagi patah hati kali" gurauku sambil terus melakukan tugasku.


"Padahal loh, aku ngajak dia jalan, dia nggak mau, Dok!" curhat Raffi.


Sementara itu instrumentator mendengarkan sambil tetap memberikan alat-alat yang kuperlukan.


"Usahalah, Fi. Cewek itu gampang tersentuh kalau diperjuangkan" kataku.


"Hahahayyyy!!!" Kali ini pak instrumentator ikut menggodaku.


Aku cuma tersenyum tersipu malu. Namun aku harus tetap fokus pada pekerjaanku. Mahfudz sepertinya pasti sedang tersenyum juga. Apalagi teman-teman koasnya yang lain.


"Eih, jangan bahas itulah. Aku malu sama ibunya"kataku karna aku mendengar si ibu pasien ikut terkekeh dari balik tirai pelindung. Namun aku cukup senang karena si Ibu tidak jadi tegang karena mendengar senda gurau kami. Biarlah, aku digoda sama mereka asal pasien senang, kataku dalam hati.


"Malu sama ibunya atau sama Mahfudznya, Dok?Cie...cie..."


Aku melakukan tindakan secar dengan kolaborasi yang baik dengan Raffi. Hingga akhirnya bayi si Ibu keluar dengan selamat. Setelah itu aku kembali menjahit lapis demi lapis kulit yang tadi disayat. Pada lapisan kulit teratas terakhir aku memberikan kesempatan pada Mahfudz untuk menjahit dengan tekhnik subkutikuler. Tentu saja ku arahkan lebih dulu.


Anak-anak koas yang lain pun berebutan ingin melihat caranya. Aku memperhatikan Mahfudz dengan seksama. Benar kata professor. Mahfudz orang yang cerdas. Dia gampang memahami sesuatu dan mempraktekkannya meski baru pertama kali melihatnya. Ahh, aku jadi tambah cinta padamu kan?gerutuku dalam hati.


Mahfudz menyelesaikan jahitannya dengan rapi. Dan sebagai sentuhan terakhir bekas sayatan operasi dipasangi perban oleh raffi.


Setelah tindakan operasi sectio caesaria selesai dan si Ibu di pindah sementara ke ruang pemulihan. Aku segera masuk ke ruang istirahat dokter. Aku mengajak anak-anak koas juga untuk beristirahat sebentar di sana. Karena masih ada dua tindakan lagi yang harus dilakukan.


"Kalau kalian sudah memperhatikan prosedur SC gimana dan memahaminya. Besok-besok saya akan membawa kalian bergantian sebagai asissten dua kalau saya ada tindakan."janjiku.


Aku tak mau mereka cemburu pada Mahfudz, dan menganggap aku pilih kasih. Dan sepertinya mereka terlihat senang mendengarnya.


\*\*\*\*\*


Pov Mahfudz

__ADS_1


"Aduuh, Fud! Kamu jangan bertengkar terus donk sama dr. Raya" keluh Anita. "Kan kami jadi kena imbasnya juga"


Aku melihat Anita dan Devi yang merasa sangat kelelahan ikut 3 kali tindakan SC dengan dr. Raya. Walaupun tidak melakukan apa-apa tapi berdiri saja pasti juga terasa melelahkan bagi mereka.


"Lagi pula kamu ini Fud, sudah dapat dr. Raya yang cantik, mapan populer, berbakat. Kamu kurang apa lagi coba. Masih aja selingkuh sama dr. Sherly. Aku yang dengar aja loh sebal. Ya, kan Nit?" tanya Devi meminta dukungan pada Anita. "Apalagi dr. Raya"


"Kalau aku jadi dr. Raya habis kamu, Fud!Nggak kululuskan koas kamu"kata Anita.


Aku tersenyum mendengar ocehan mereka. Apa semua perempuan memang seperti itu?


Aku membuka aplikasi WA. Lalu mengirim pesan chat pada dr. Raya.


["Masih marah?"]


Dibaca tapi tidak dibalas.


["Kamu itu kenapa sih? Kan aku cuma melakukan VT sesuai yang kamu suruh, Bu Dokter"]


Kukirim chat itu tapi tidak dibalas juga.


[Soal dr. Sherly aku beneran nggak ada hubungan apa pun. Perasaan padanya juga tidak ada, aku cuma sayang dr. Raya seorang]


[Please...]


[Please...]


[Maaf]


Tidak lama balasan chatnya datang.


[Ok. Dimaafkan. Kamu juga bisa datang ke rumah bawa mama sama Nadya hari Sabtu.Akan kusempatkan ambil libur hari itu. Bawa saudara kembarmu juga, siapa namanya? Fuad?"


[Iya, Fuad]jawabku.


[Tapi ada syaratnya]


[Apa] tanyaku.


[Suatu saat kalau kamu ambil spesialis jangan obgyn]


Haa?Syarat macam apa itu, pikirku.


[Kenapa?]


[Pokoknya jangan tanya!]


[Baiklah, Bu Dokter!Aku janji]


Sebenarnya aku tau kenapa dr. Raya menyuruhku berjanji seperti itu. Aku tau dia cemburu. Cemburu pada pasien yang ku VT juga cemburu pada dr


Sherly. Di depan orang lain dia terlihat sangat bersahaja dan berwibawa. Tapi kalau denganku dia sangat kekanak-kanakan cenderung menyebalkan. Tapi itu malah membuatnya terlihat manis di mataku. Aku mencintai dia.

__ADS_1


__ADS_2