I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
i'm not sorry


__ADS_3

Jam 4 subuh aku sudah terbangun. Rasanya semalaman aku sulit tidur memikirkan pria dalam vidio yang bersama Tiwi itu. Di satu sisi aku merasa lega dan yakin 100% persen kalau pria itu bukan Mahfudz seperti yang dijelaskan Kak Irfan. Sementara di sisi lain aku sedang menimbang- nimbang apakah mungkin Fuad yang melakukannya? Karena hanya dia satu- satunya orang yang memiliki wajah persis Mahfudz. Terus terang saja ini sangat mengganggu. Bagaimana tidak mengganggu, kalau semisalnya ternyata Fuad yang melakukannya, apa coba motifnya? Untuk apa dia menjebak Mahfudz? Dan betapa teganya dia menikahi Ayuni setelah meniduri Tiwi.


Tidak, tidak, tidak. Apa coba yang kupikirkan? Fuad tidak mungkin berbuat seperti itu.


Karena nanggung untuk tidur, akhirnya aku memilih untuk menonton televisi di ruang keluarga. Aku sangat serius menonton berita kriminal yang mengangkat berita tentang pelecehan seorang anak yang dilakukan oleh tetangganya. Berita itu terjadi masih di seputar kota ini.


Aku paling benci mendengar hal- hal seperti ini. Pada prinsipnya aku heran bagaimana mungkin ada seorang manusia yang memperlakukan manusia lain seperti itu? Bahkan tak jarang pelakunya adalah orang dewasa bahkan orang tua dengan korbannya yang hanya anak kecil. Jika dia melakukan itu hanya karena kebutuhan biologis, kenapa dia tidak mencari pasangan sesama orang dewasa sebagai partnernya melakukan itu? Atau andai itu penyakit, kenapa dia tak mencoba berobat ke psikiater?


Kegeramanku akan berita itu tiba- tiba buyar saat mendengar pintu kamar Ayuni terbuka. Dia tak lagi tidur bersama Ummik setelah menikah dengan Fuad.


"Eh, Kak Raya? Udah bangun?" sapanya.


"Kamu juga." jawabku.


"Iya, dari tadi Rahmat bangun cuma main- main aja. Untungnya sekarang udah tidur. Eh, malah aku yang nggak bisa tidur lagi. Kupikir- kupikir nanggung juga sih mau tidur. Bentar lagi udah mau adzan subuh juga. Mending sekarang aku potong- potong sayur aja, jadi nanti habis sholat subuh tinggal masak aja," katanya.


"Oh, iya sembarang kamu aja deh," jawabku.


Ayuni bergegas ke dapur. Dan aku baru punya ide untuk menanyakan sesuatu padanya. Aku segera mengikuti Ayuni ke dapur sampai lupa mematikan TV.


Ayuni mengeluarkan sayuran dari lemari es dan meletakkannya di meja makan. Aku segera duduk di salah satu kursi dan menunggu Ayuni mengambil pisau untuk menyiangi sayuran.


"Ayuni ...." kataku hati- hati.


"Iya, Kak?" jawab Ayuni sigap.


Aku bingung darimana harus memulainya.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Kamu .... sudah melakukannya dengan Fuad?" tanyaku dengan isyarat membuat tanda kutip.


Ayuni terlihat bingung.


"Melakukan apa?" tanyanya dengan polos.


"Ya. Melakukan hubungan pasutrilah," kataku dengan tak sabar. "Sudah atau belum?"


Ayuni wajahnya hampir semerah tomat saat aku menanyakan itu. Aaaaahh .... Sebenarnya aku menanyakan itu bukan karena aku ingin kepo urusan pribadi antara dia dan Fuad. Siapa juga yang mau tau hubungan paling intim antara dia dan Fuad. Aku hanya ingin mencari tau apakah Fuad memiliki tahi lalat di kelaminnya seperti pada pria yang bersama Tiwi di vidio. Jika aku menanyakan terus terang pada Ayuni dan menceritakan tentang vidio itu, aku khawatir kalau memang benar Fuad memiliki tahi lalat dan ternyata dia adalah orang di vidio dan itu menyakiti Ayuni. Jadi aku harus menanyakannya dengan sangat hati- hati.


"Ayuni ...." desakku.


"Be- belum, Kak!" jawabnya malu. "Kan Ummik dan Kak Raya bilang belum boleh sampai aku selesai nifas."


"Oh ...." aku manggut- manggut. "Kalau sekedar foreplay masa belum pernah? Pemanasan gitu, belai membelai dan ...."


Aku mencoba memancingnya untuk bercerita ke arah sana.


Ayuni menggeleng. Lagi- lagi terlihat malu- malu. Ibu muda ini membuatku semakin gemas. Bagaimana caraku menanyakannya?


"Masa?" tanyaku tak percaya. "Kau dan Fuad tak pernah ciuman gitu dan melakukan foreplay- foreplay ringan?"


Ayuni terlihat tersipu. "Kalau ciuman aku pernah ...."


Aku menunggu kelanjutan ceritanya lagi.


"Terus?" desakku tak sabar.


"Terus?" Ayuni terlihat bingung. "Ya, cuma itu. Fuad ngerti kalau kami tak bisa melakukan itu sebelum aku selesai masa nifas."


"Cuma itu?" tanyaku frustasi.


Kenapa aku jadi stress mengetahui perkembangan hubungan mereka ya? Aku jadi heran, lelaki yang terlihat lebih aktif dan pecicilan seperti Fuad ternyata bisa lebih sabar mengontrol inginnya dalam berhubungan pasutri. Dan Mahfudz yang di luar terlihat lebih cool, nyatanya untuk masalah ranjang dari awal sangat agresif padaku. Kalau ku ingat- ingat dari sejak awal kami menikah sampai usia pernikahan kami hampir setengah tahun, nyatanya gairahnya dalam berhubungan pasutri masih sama seperti saat jadi pengantin baru. Bahkan aku hamil pun rasanya dia tak memberiku kelonggaran dalam melakukan tugasku sebagai istri.


"Tapi kalian pasti pernah saling melihat tubuh masing- masing kan? Maksudku tanpa memakai apa pun?" tanyaku sambil berbisik.


Aku tidak mau saat menanyakan pertanyaan vulgar itu, Ummik atau Mahfudz bahkan Fuad tiba- tiba muncul dan tak sengaja mendengarnya.


Ayuni mengedip-ngedipkan kelopak matanya mendengar pertanyaanku. Dia terlihat menggemaskan saat melakukan itu. Yang benar saja, Fuad masa nggak tergerak hati dan hormonnya melihat istri yang cantiknya seperti Ayuni?


"Kalian nggak pernah mandi bareng?" tanyaku tak peduli dipandang begitu.


Ayuni menggeleng. "Kak Rayaaa .... Kok tanya begituan sih? Aku jadi malu tau ...."


Rasanya aku mau membenturkan kepalaku ke tembok.


"Semuanya belum, semuanya nggak pernah. Terus gimana donk aku bisa nyari tau kalau kamu dan Fuad bahkan belum pernah ngapa- ngapain?" keluhku tanpa sengaja keceplosan.


"Memang Kak Raya mau cari tau apaan? Terus kalau udah tau buat apa?" tanya Ayuni tak mengerti.


Aku menatap Ayuni dengan pandangan depresi. Bagaimana ini? Kalau aku kasih tau soal vidio itu terus terang aku takut Ayuni kepikiran. Dia bahkan baru menemukan kebahagiaannya, masa aku harus membayang- bayanginya dengan pikiran Fuad melakukan perbuatan asusila dengan wanita lain?


"Ayolah, kakak to the point aja tanyanya. Biar aku nggak bingung jawabnya. InsyaAllah kalau buat Kak Raya pertanyaan apa pun akan kujawab sejujur- jujurnya," jawabnya.

__ADS_1


Aku menghela napas. "Ah, sudahlah. Percuma. Kamu nggak bakal tau jawabnya, kalau hubunganmu dan Fuad masih sebatas itu. Setidaknya kau harus benar- benar berhubungan pasutri dulu sekali dengan Fuad baru bisa membantuku," kataku putus asa.


"Kok bisa begitu? Memangnya yang mau dicari tau tentang Fuad?"


Aku mengangguk. "Iya. Tapi jangan tanya alasan dan kepentingannya untuk apa dulu. Aku harus tau jawabnya dulu baru aku bisa memberi taumu," jawabku.


Ayuni mengangguk.


"Baiklah. Yang mau Kak Raya cari tau apa? Katakan saja. Nanti aku bantu cari tau."


Aku menatapnya tak percaya.


"Benar? Kamu nggak keberatan kalau aku mencari tau sesuatu tentang Fuad tanpa kamu tau kepentingannya apa?"


Ayuni mengangguk. "Kan Kak Raya bilang tadi kalau udah tau jawabannya baru Kak Raya bisa ngasih tujuan mencari tau apa. Aku nggak masalah tau belakangan alasan Kak Raya mencari tau tentang Fuad."


Aku menarik napas lagi. "Aku pengen tau Ayuni, apa Fuad memiliki tahi lalat pada alat kelaminnya. Bisa kamu cari tau?"


Ayuni terlihat kaget mendengar apa yang ingin ku cari tau. Sepertinya dia ingin tau kenapa aku ingin tau hal pribadi seperti itu dari Fuad.


"Aku janji akan menjelaskannya padamu kalau aku sudah tau jawabnya," janjiku.


Ada sedikit kegelisah di wajahnya saat mengetahui apa yang ingin ku cari tau.


"Ini masalah serius?" tanyanya.


"Bisa ya bisa tidak," jawabku.


"Baiklah, akan kucari tau." janjinya.


\*\*\*\*\*\*


2 minggu kemudian


"Dr. Gayatri nggak nyesal memberhentikan Rini?" tanyaku.


Dr. Gayatri menghela napas yang dalam dan membuangnya sangat panjang.


"Rini itu sepanjang yang kutau adalah anak yang baik, disiplin, kerjaannya bagus, Ya. Tapi mengetahui dia sampai berani mencelakai orang lain seperti membuatku tak habis pikir. Aku tidak mau mengambil resiko itu, kalau suatu saat di bisa melakukan itu pada pasien lain. Dan aku juga kepikiran, apa mungkin yang mengirim bangkai kucing ke rumah sakit sebagai kado atas kehamilanmu dia juga? Kamu bilang yang tau kau hamil waktu itu baru orang terdekat kan?"


Aku mengangguk. Ya mungkin saja memang dia yang melaporkan kehamilanku pada Waridi.


"Ya sudahlah, Dok. Aku cuma berharap dokter mendapatkan asisten baru yang lebih baik," kataku.


Dr. Gayatri tersenyum dan menepuk bahuku.


Aku mengangguk.


"Kamu hari ini gantiin aku temani Professor Ayyub ke acara perjamuan mitra KSO rumah sakit Ibu dan Anak Satya Medika ya!" kata dr. Gayatri.


"Kok aku sih? Kan dr. Gayatri lebih senior?"


Dr. Gayatri tersenyum. "Biar kamu bisa rileks dikitlah, Ya! Tetap dihitung kerja tapi cuma buat makan- makan di perjamuan aja. Masalah kerjaanmu di rumah sakit, tenang aja. Aku yang gantiin shiftmu nanti. Asal kamu pinjam Winda buatku nanti."


"Ah, dokter tau aja aku lagi bosan kerjaan rumah sakit." kataku.


"Iya, donk! Bunda Gayatri kan tau apa maunya dedek bayi," godanya yang cuma kusahuti dengan tawa saja.


Selepas dari ruangan dr. Gayatri, aku bergegas menuju ruangan proffesor Ayyub untuk menemani beliau menghadiri perjamuan di rumah sakit Ibu dan Anak Satya Medika. Tapi ternyata di sana aku mendapat informasi mengejutkan kalau Professor Ayyub tengah di rawat di ruang geriatri karena asam lambung yang tiba- tiba naik. Aku segera menuju ke sana.


"Kau berencana menemaniku ke acara itu, tapi orang tua ini malah jatuh sakit," keluhnya saat melihatku.


"Kalau memang Professor nggak bisa, ya nggak usah Prof. Aku tau acara ini penting. Tapi kesehatan adalah yang paling utama dari semuanya. Nggak apa- apa Prof. Aku bisa pergi sendiri." kataku.


Professor memandangku. "RSIA Satya Medika adalah rumah sakit yang bekerja sama secara operasional dengan pemerintah. Jadi pasti nanti di sana Bapak Walikota pun pasti akan datang beserta jajarannya. Padahal rumah sakit ini sengaja saya dirikan untuk mengenang cucu saya Tya. Tapi saya sendiri malah tidak bisa hadir dalam acara sepenting ini," keluh Professor lagi.


Aku tersenyum, "Aku akan ke sana Prof, lagi pula ini bukan acara peresmian kan? Hanya perjamuan mitra KSO sekaligus untuk cek- cek sarana dan pra sarana sebelum opening nanti? Artinya Professor masih sempat sehat sebelum acara gunting pita. Maka jangan terlalu banyak pikiran. OK Prof? Serahkan saja semuanya padaku."


"Dr. Gayatri sendiri memang nggak bisa? Kok jadi kamu yang mau temanin ke sana?" tanya Professor bingung.


"Itulah Prof .... Dr. Gayatri menyuruhku bersenang- senang di perjamuan. Padahal kan di sini lagi banyak kerjaan." jawabku jujur.


Professor tertawa. "Sesekali memang kamu perlu jalan- jalan biar nggak stress, apalagi dalam kondisi seperti itu. Ngomong- ngomong, gimana kondisi kehamilanmu? Sehat? Sudah tau prince atau princess?"


"Hahahaa .... Alhamdulillah sehat, Prof! Kalau masalah jenis kelamin belum lagi, soalnya bulan ini saya bel ...."


"Assalamualaikum!"


Suara salam itu membuatku tak bisa melanjutkan lagi kata- kataku. Seketika aku menjadi terdiam melihat Ali yang tiba- tiba sekarang ada di sini. Suasana canggung jadi menyelimutiku mengingat pertengkaran kami beberapa bulan lalu yang masih membahas masalah perasaan dan hubungan kami di masa lalu.


"Waalaikumsalam."


Aku dan Professor menjawab bersamaan meski aku hanya menjawab lirih. Ali juga menatapku dan berusaha bersikap sewajarnya.

__ADS_1


"Aku berangkat sekarang, Prof. Aku akan ke departemen obgyn juga menjemput dr. Gayatri," kata Ali. "Biar bagaimana pun perwakilan dari Obgyn Siaga Medika diperlukan untuk acara jamuan ini," kata Ali.


Professor Ayyub menatapku. Dia tau masalah perasaan antara aku dan Ali belum selesai.


"Dr. Raya yang mewakili." jawab Professor Ayyub yang membuat Ali sampai tertegun. "Gimana Raya? Apa kamu bisa pergi dengan Ali? Atau urungkan saja perginya?"


Itu membuatku galau. Dr. Gayatri pasti saat ini sudah melakukan tindakan SC pasien yang harusnya menjadi pasienku hari ini.


"Nggak apa- apa, Prof. Aku tetap pergi," jawabku.


Aku keluar dari ruang perawatan Professor Ayyub dan segera menuju gerbang rumah sakit. Aku tidak bawa kenderaan karena Mahfudz sekarang siaga mengantar jemput aku ke rumah sakit. Kalaupun dia tidak bisa biasanya aku menggunakan angkutan umum online. Begitu pun hari ini, aku tidak mau berada di mobil yang sama dengan Ali. Aku akan naik ojek online saja ke RSIA Satya Medika.


Sambil berjalan di koridor aku berusaha order ojek online via aplikasi. Namun tak kusangka Ali yang berada di belakangku menarik tanganku dan membawanya menuju parkiran.


"Masuk!" suruhnya setelah membuka pintu depan mobilnya untukku.


"Aku pakai ojol aja," jawabku.


"Please deh Ray, apa nanti kata orang kalau perwakilan dari Siaga Medika nggak kompak? Datangnya pisah- pisah? Nanti malah aku yang dikira nggak mau kasih tumpangan sama rekan kerja yang lagi hamil. Ayo masuklah!" suruhnya sambil mendorongku paksa masuk ke mobil.


Di sepanjang jalan aku dan Ali hanya banyak diam. Namun aku bisa lihat dari ekor mataku kalau dia selalu curi- curi pandang padaku.


"Tolong, jangan lihati aku seperti itu!" pintaku membuka percakapan di antara kami.


"Aku sudah tidak bisa memiliki kamu, Ray. Melihatmu pun nggak boleh?"


"Please, Li. Aku benar- benar lelah membahas masalah hubungan kita yang telah lama berlalu. Tak bisakah kamu, bersikap wajar dan normal? Tak bisakah kamu menjalani kehidupan yang bahagia dengan orang lain? Kalau begini kamu hanya bisa membuatku semakin bersalah dan terpojok. Dulu, aku menerimamu sebagai pacarku tentu karena kau memiliki sisi baik sehingga aku memilihmu sebagai lelaki yang dekat denganku. Kalau kau tidak baik aku tidak mungkin dekat denganmu kan? Tak bisakah kau setidaknya mengukir kenangan yang baik di ingatanku? Biarkan aku mengingatmu sebagai Ali yang baik, please tolong akhiri ini!"


Mobil yang kami kenderai, memasuki wilayah pasar yang ramai tanpa lampu lalu lintas yang baik sehingga kemacetan panjang tak bisa dihindari.


"Sepertinya aku tau apa yang membuatku selalu penasaran dan tak bisa melupakanmu hingga detik ini." jawabnya.


Aku tak menghiraukan kata- kata itu. Mataku tertuju pada seseorang di seberang jalan. Sepertinya dia akan menyeberang.


"Aku .... Aku janji akan berusaha melupakanmu dan mencoba move on dari kamu, Ray. Asal kamu mewujudkan keinginanku yang satu itu. Keinginan yang dari dulu belum pernah terwujud."


Aku melihat lelaki di seberang jalan itu sudah berada tepat di tengah- tengah jalan lebar dua jalur ini. Laki- laki itu memakai jaket jeans, celena belel dan sandal. Dia, dia .... Mahfudz? Fuad?


"Raya ...." Ali memanggilku.


"Haaa?" Aku sungguh- sungguh tidak terlalu mendengarkan dia.


Namun aku sempat mendengar dia katanya akan ikhlas meninggalkan dan melupakan aku asal aku mewujudkan inginnya yang dari dulu belum terwujud.


"Apa itu?" tanyaku.


Pada saat yang bersamaan aku melihat lelaki yang kukira Fuad atau Mahfud itu menyeberang dan kini berada tepat di depan mobil yang kami tumpangi. Lelaki itu bertabrakan dengan orang yang juga menyeberang dari arah berlawanan sehingga dia sampai hampir jatuh membungkuk. Dan saat laki- laki itu berdiri, dia sempat melihat jelas ke dalam mobil. Dia menatapku.


Dan di saat yang sama dan membuatku shock adalah detik itu juga, Ali tanpa pernah kuduga mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku dengan penuh perasaan seolah- olah aku adalah kekasihnya yang lama tak bertemu.


Mataku membelalak dan pandanganku masih ke orang mirip Mahfudz itu yang juga pasti melihat, saat Ali menciumku. Dan ekspresinya, dia hanya terlihat nyengir saat pandangan mataku bertemu dengannya.


Aku segera mendorong Ali dan membuka pintu mobil berusaha mengejar pria itu. Dan Ali menahanku dan menutup kembali pintu mobil karena memang situasinya yang benar- benar macet parah.


Aku melihat lelaki itu berhasil menyeberang hingga ke pinggir jalan. Dan ... dan... Di sana aku melihat pria itu sedang menghampiri seseorang. Dia Tiwi.


Aku ingin keluar lagi, tapi kemacetan itu akhirnya melonggar dan Ali kembali menjalankan mobilnya.


"Kau jangan khawatir, setelah ini aku akan coba melupakan kamu, Ray! Aku juga tidak akan pernah mengatakan ini pada siapa pun termasuk Mahfudz."


Whaaaat? Kesadaranku baru terkumpul kembali setelah keterkejutanku kembali pulih dalam mobil yang kembali melaju ini. Jadi, dia benar menciumku tadi?


PLAKKK!!!


Tiba- tibaa tanganku langsung terdorong untuk menamparnya. Ini sedikit terlambat tapi daripada tidak sama sekali?


Aku menggigit bibirku sendiri.


Ali tiba- tiba mengerem mobil mendapat tamparan itu.


"I'm not sorry, Raya."


Apa? Dia bahkan tak merasa menyesal. Ya Allah, apa yang kulakukan? Kenapa aku memberi peluang padanya? Hanya berduaan dengan yang bukan muhrim dalam satu mobil.


"Turunkan aku sekarang!"


"Kita sudah hampir sampai." tolaknya.


"Turunkan!" teriakku emosi.


Tapi Ali tidak memperdulikanku. Dia semakin menambah laju kecepatan mobil ini. Hingga akhirnya mobil ini sampai juga di parkiran RSIA Satya Medika.


"Sebuah ciuman itu, membuktikan kalau kau pernah menjadi wanitaku dalam hidupku, Ray!"

__ADS_1


"Itu bagimu. Dan sekarang kau berhasil membuatku jadi wanita kotor dalam hidupku!" jawabku geram.


Aku benar- benar tidak tau lagi. Semua ini membuatku stress. Aku keluar dari mobil sekarang. Dan stress itu naik tingkat menjadi frustasi saat melihat Waridi juga keluar dari mobilnya di parkiran. Really? Dia juga datang? Owhhhhh ..... Harusnya aku sudah menebak ini. Aku meringis dalam hatiku sekarang.


__ADS_2