
"Adeknya Yusuf siapa yang jaga, Wa?"
"Mamer yang jaga, Mik."
"Terus susunya gimana nanti kalau kamu di sini?"
"Rachel banyak stok ASIP di kulkas, Mik. Ummik jangan khawatir deh. Hawa udah minta ijin sama Mas Ibrahim buat temenin Raya di sini."
"Aihh, kalian ini memang .... Bersahabat solid sekali, sampai salut Ummik. Pokoknya, Wa, Ummik sangat berterimakasih karena kami sudah menjadi sahabatnya Raya. Di saat- saat paling rapuhnya kamu selalu ada."
"Ahhh, Ummik jangan bilang begitu donk. Raya juga selalu ada saat Hawa terpuruk. Pokoknya Hawa juga berterimakasih sama Ummik. Karena Ummik telah melahirkan dan membesarkan sahabatnya Hawa."
Aku telah tersadar dari tadi, namun aku enggan membuka mataku. Bayiku. Apa yang terjadi? Tanpa sadar aku mengelus- elus perutku.
"Ehhmmm!!!! Bangun Ray! Sudah pura- puranya!"
Aku tersentak mendengar Hawa. Perlahan aku membuka mataku.
"Hawa ...." panggilku.
"Hmm kenapa? Kamu heran aku ada di sini?"
Hawa mendekat dan duduk di samping ranjangku.
"Bayiku ...."
Hawa menghela napas.
"Aku nggak habis pikir deh sama kamu, Ray. Kamu benar- benar menjebak Mahfudz agar membuatmu hamil. Kamu ini benar- benar wanita penggoda. Nakal banget nih Raya, Mik." omelnya kesal.
Aku tidak menghiraukan omelan itu.
"Mahfudz mana, Mik? Ya Allah bayiku, bayiku di mana, Wa?"
Aku merasa sangat cemas sekarang.
"Astaga! Kamu cuekin aku ngomong nih?"
Hawa terlihat kesal padaku.
"Bayimu saat ini baik- baik aja, Ray. Mahfudz, sepertinya berangkat koas ke rumah sakit. Betul nggak, Mik?"
Ummik mengangguk. Meski awalnya Ummik tak bisa menyembunyikan raut wajah kesal padaku. Namun di menit berikutnya beliau mulai kembali ke sifat aslinya. Ummik yang sayang padaku.
Ummik mendekatiku dan duduk di sampingku.
"Raya, kamu tau yang kamu lakukan itu nggak benar kan, Nak?"
Aku mencoba duduk. Hawa membantuku.
"Raya tau apa yang Raya lakukan tidak benar, Ummik. Tapi anak dalam perut Raya tidak salah, Mik. Tolong, Raya minta tolong sama Ummik, dan Ummik juga bilangin sama Mahfudz. Raya nggak mau aborsi, Mik. Jangan pisahkan Raya sama anak Raya. Dia cucu Ummik. Raya nggak sanggup lagi kalau harus kehilangan buah hati Raya lagi."
Kini air mataku jatuh bercucuran. Sesenggukan aku mengingat sepotong ingatan yang tadi malam saat aku mendengar Mahfudz mengusulkan aku untuk melakukan aborsi. Ya Allah, aku tidak sanggup rasanya.
"Ummik ...." rengekku di tengah Isak tangisku.
Ummik menghela napas dalam- dalam. Lalu Ummik beringsut mendekat padaku. Ummik mengelus perutku.
"Sayang, Nenek sayang sama kamu. Sama Bundamu juga. Bilangin sama Bunda, kalau Bunda masih mau kita bersama- sama, Bunda Raya harus nurut sama Ayah dan juga nenek. Bunda harus bisa bujukin Ayah Mahfudz. Nenek nanti akan bantu ngomong sama Ayah." kata Ummik seakan berkomunikasi dengan anak dalam perutku.
Aku manatap Ummik yang sedang menunduk dan berbicara pada perutku.
"Ummik ...."
Ummik mengusap air matanya. Dan kembali duduk tegap. Tangan Ummik membelai rambutku dan menyelipkan anak rambut di belakang telingaku.
"Raya, Ummik nggak bisa berkata apa- apa lagi saat mendengar kamu mengandung cucu Ummik. Ummik bahagia sekaligus sedih mendengarnya. Terlebih- lebih Mahfudz. Dia teramat sayang sama kamu, Nak. Dia begitu takut kehilangan kamu dan sikapmu ini sangat mengecewakan dia pastinya. Kamu sudah berbohong pada suamimu. Bisa kamu bayangkan, paniknya dia kemarin saat memberi tahu Ummik kalau kamu ada di rumah sakit. Sampai- sampai dia bisa berbicara normal Ray, seperti kita. Sangking paniknya dia."
Haaa? Jadi dia memang bisa bicara normal?
"Sekarang Mahfudz bagaimana, Ummik? Dia apa masih lancar ngomongnya atau kembali seperti biasanya?" tanyaku.
"Tadi subuh pas pamitan sama Ummik, rasanya bicaranya masih normal seperti tadi malam Ray, Ummik dan Mamamu aja sampai kaget semalam tau dia ngomong lancar. Tapi sejak semalam dia nggak mau terlalu banyak bicara lagi dan lagian Ummik belum sempat bertanya apa yang terjadi sebenarnya," kata Ummik menjelaskan.
Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang sesungguhnya terjadi pada Mahfudz.
__ADS_1
"Kalau dia datang nanti, minta maaf padanya, Ray."
Aku mengangguk.
"Ummik, ambilkan dulu bubur di pantry. Kamu pasti lapar kan?"
Aku lagi- lagi hanya mengangguk.
Sepeninggal Ummik. Hawa mendekatiku.
"Kamu itu memang nekad, Ray!" katanya. "Bisa- bisanya kamu menipu suamimu sendiri. Gila kamu, Ray!"
"Ahh, sudah donk, Wa! Stop gangguin aku terus," jawabku dengan wajah cemberut.
Hawa mencibir melihatku. "Untung suamimu, Mahfudz. Coba dia Mas Ibrahim. Kamu pasti langsung ditalak deh."
Aku merasa tidak enak mendengarnya dan memutuskan untuk tidak menjawab. Lama kami saling diam sampai Hawa mencolek lenganku.
"Jadi Ray...."
Aku memandangnya. Menunggu dia melanjutkan pertanyaannya.
"Style macam apa yang kamu pakai sampai Mahfudz kalap dan jatuh dalam perangkapmu?" godanya.
Aku mendelik kesal melihat Hawa.
"Apaan sih, Waaaa?"
"Ummik sudah nggak disini. Cerita donk! Ya? Ya?" bujuknya sambil menggerakkan alisnya naik turun.
"Ihhh, apa siiiihhh?"
"Alah, pake malu- malu segala. Muka tu merah, woyyy!!!"
Apa sih Hawa, malu- maluin aja. Diam- diam aku melirik jam di ruangan ini. Ini masih jam 8.30 pagi. Ahhh Mahfudz masih lama pulangnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Aku menatap lagi jam dinding. Hampir jam 9 malam. Mahfudz belum juga datang ke sini. Apa dia sedang ada tugas di rumah sakit? Kenapa dia tidak datang untuk mengurusku? Setidaknya menyempatkan diri menjengukku meskipun dia masih ada tugas di rumah sakit. Bahkan mengabariku lewat telepon pun tidak.
Aku merindukannya. Aku sangat menyesali kenapa kemarin aku melarikan diri darinya di rumah sakit.
"Hmmm .... Entahlah, nanti Mama telepon ya. Mungkin nanti dia bakal ke sini, Ray."
Yang menemaniku saat ini cuma Mama dan Fuad. Nadya sementara tinggal di rumah Ummik. Sementara Ummik pulang ke rumah dan akan kembali lagi besok pagi.
Apakah dia marah padaku?
Seharian aku di rumah sakit menunggunya sampai malam begini pun aku tetap tak melihat batang hidungnya. Malah orang yang tidak kuharapkan yang datang. Siapa lagi kalau bukan Waridi dan istrinya.
"Maaf, atas kelakuan istri saya. Dia mungkin tidak menyangka kalau perbuatannya akan fatal. Dengan tulus saya berharap agar masalah ini bisa kita selesaikan secara kekeluargaan."
Begitulah ucapan Waridi tadi siang. Dengan pencitraannya dia memasang muka tembok untuk mendapatkan maafku dan tidak membawa ini ke jalur hukum.
"Ayo, Ma. Minta maaf ke dr. Raya," suruhnya pada istrinya.
Dan wanita tua itu dengan tidak ikhlasnya mengucapkan permintaan dengan sangat terpaksa.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mencelakaimu. Aku hanya emosi karena ...." Dia tidak melanjutkan kalimatnya.
"Karena apa?" tanyaku menantang.
Terus terang aku semakin kesal sekarang. Dia membuatku terbaring di rumah sakit dan harus bedrest total.
Terlihat istrinya Waridi ini ingin sekali membalasku namun dia mengurungkan niatnya melihat kondisi yang tidak memungkinkan.
"Karena ....?" tanyaku lagi.
"Karena aku masih tidak senang Ayuni menikah dengan adik iparmu. Dan aku tidak suka kamu mengganggu hubungan keponakanku dengan calon suaminya."
Aku membuang napasku kasar. Aku tau dia berdusta. Dia mendorongku jelas karena dia tidak menerima perkataan ku tentang suaminya. Aku mengangguk- angguk.
"Baiklah, tapi lain waktu meminta maaflah dengan sungguh- sungguh. Aku tidak enak melihat Ny. Waridi meminta maaf dengan tidak ikhlas seperti itu,"kataku acuh.
Dan kulihat pandangan tak suka itu dari istri Waridi. Namun Waridi aku melihat pandangan yang lain darinya. Tatapan apa itu? Sekilas aku merasa dia seperti iba padaku. Ah, tapi aku yakin itu cuma perasaanku.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, Kakak Ipar?"
Suara Fuad menyadarkanku dari lamunanku tentang Waridi dan istrinya tadi siang.
Aku menggeleng.
"Bagaimana kabar di kantor Walikota?" tanyaku. "Apa Waridi sering menyusahkanmu?"
"Menyusahkan?" tanyanya bingung.
Aku mengangguk. "Iya."
Fuad tersenyum. "Aku rasa dia yang sering ku-buat susah sekarang."
Aku tertegun. "Maksudnya?"
Dia cuma tersenyum misterius. Membuatku semakin bertanya- tanya.
"Kau buat susah apa dia?" desakku.
"Next time akan kuceritakan. Kamu sehatlah dulu." elaknya.
"Ceritakan sekarang!" paksaku.
"Nggak. Aku mau pulang sekarang. Ayuni menungguku."
Aku mengangkat bahuku pasrah. Percuma, Fuad pasti tidak akan mau menceritakannya sekarang seperti apa pun aku memaksanya. Ya sudahlah, tapi Mahfudz ini kenapa belum datang juga?
"Hey, Kakak Ipar! Kau sedang memikirkan apa. Kau sedang memikirkan Mahfudz ya? Apa perlu dia kuseret ke sini karena sudah membuat Kakak iparku khawatir?"
Aku menggeleng. "Tidak usah. Kamu pulang saja. Ayuni dan Rahmat menunggumu. Dan besok pagi kamu harus kerja ke kantor kan?"
"Hmmm .... Baiklah. Aku pergi dulu, Kakak ipar. Jaga keponakanku baik- baik, ya. Kali ini kau harus janji, jangan ceroboh lagi." katanya menasehati.
Aku mengangguk paham.
\*\*\*\*\*\*
POV Mahfudz
Saat aku kembali ke rumah sakit sudah pukul 01.20 malam. Tadinya aku berniat tidak akan kesini. Setelah mendengar Raya siuman tadi pagi rasanya amarahku kembali meletup- letup.
Aku khawatir kalau menemuinya saat aku marah, aku akan melakukan hal- hal di luar kontrol ku seperti memakinya, meneriakinya seperti kemarin saat aku melampiaskan kekesalanku di kamar. Aku benar- benar marah saat aku menemukan dus susu hamil di bawah karpet mobil. Dan aku semakin menggila saat aku kembali ke rumah dan memastikan kode produksi di kemasan aluminium foil susunya Raya dengan kardus susu yang kutemukan. Ya, dia mengkonsumsi susu bumil, bahkan aku juga sempat meminumnya. Susu hamil dengan rasa coklat Swiss yang enak.
Aku berusaha tidak percaya dengan hanya berdasarkan hal itu saja. Semoga ini baru rencananya saja, begitu pikirku waktu itu. Aku bisa saja memaafkannya andai itu masih berupa pikiran nakalnya saja. Namun rasa penasaranku akhirnya menuntunku untuk membongkar lemari pakaiannya. Dan aku menemukan itu. Strip testpack dengan dua garis merah di sela- sela lipatan bajunya.
Itu membuatku marah. Bisa- bisanya dia menanam benih tanpa sepengetahuanku di rahimnya. Pantas saja. Pantas saja sebulan lebih ini dia agresif sekali saat berhubungan intim denganku. Bahkan tidak malu- malu memintanya sendiri padaku. Ini bukan Raya yang biasanya. Dan saat dia tau usahanya berhasil, dia ingin memberi jarak padaku agar mengurangi intensitas kami berhubungan pasutri. Dia pasti ingin menjaga kandungannya agar tetap aman. Raya, kau bisa licik juga.
Aku ingin menemuinya di rumah sakit dan meminta penjelasan, ternyata dia kabur karena mama terlebih dulu memberitahukan padanya kalau aku sedang marah. Ya Tuhan! Dia seperti anak- anak. Memangnya kenapa kalau aku marah? Apakah aku akan sampai memukulnya?
Hingga malam aku dapat telepon dari Ali kalau Raya dibawa ke rumah sakit. Shock! Itu yang kurasakan saat melihatnya terbaring di IGD rumah sakit Siaga Medika dengan tubuh bagian bawah penuh darah. Sangking shocknya aku bahkan tidak sadar kalau suaraku berubah normal.
"Raya! Raya! Kamu kenapa? Bangunlah sayang!Bangun!!!!" Begitulah aku meneriakinya.
Dan kini aku sedang berada di depan pintu ruang perawatannya. Aku membuka pintu. Dan kutemukan hanya Mama sendiri yang berada menjaga Raya yang sedang tidur.
"Fud? Kamu datang? Raya nyariin kamu dari tadi. Kamu ditelepon nggak diangkat. Pesan WA mama juga cuma diread doank. Kamu kemana aja?" tanya Mama khawatir.
"Sssttttt ...."
Aku meletakkan jari telunjukku di bibir agar mama diam.
"Nanti Raya bangun, Ma!" bisikku.
Mama paham dan berbisik.
"Ya, sudah. Mama sholat tahajjud dulu, Nak. Mama harus mendoakan kesembuhan Raya dan bersyukur atas kesembuhanmu."
Aku tersenyum dan mengangguk. Mama, sangat perhatian pada Raya. Aku sangat bersyukur memiliki beliau.
Saat Mama mengambil wudhu, aku segera duduk di kursi samping ranjang Raya. Perlahan ku sentuh perutnya, pelan. Aku berbisik di sampingnya.
"Sayang, anak ayah .... Apa sekarang kamu ada di sini, di perut Bunda? .... Kamu tidak boleh menyakiti Bunda, ya. Kalau kamu nakal, Ayah akan marahin kamu nanti," bisikku lirih.
Aku yang mengira Raya telah tidur, terperanjat saat tangan yang semakin kurus itu menyentuh punggung tanganku dan menggenggamnya. Segera aku melihat pada wajah itu.
__ADS_1
"Maafin Bunda, Ayah."