I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Dr. Handsome


__ADS_3

POV Raya


"Kalau melihat kondisinya ibu, mungkin besok ibu sudah bisa pulang," kataku seraya mengantongi stetoskopku.


Hari ini aku sedang berada di salah satu ruang perawatan kelas II RSIA Satya Medika. Ruang kelas II ini memiliki 4 bed pasien. Setelah berdiri sebentar memeriksa pasien itu aku kembali duduk ke kursi rodaku.


"Terima kasih, Dokter. Entah bagaimana membalas kebaikan hati dokter yang telah merawat saya sehingga hampir pulih padahal dokter sendiri juga kondisinya hampir sama seperti saya, hamil dengan kandungan yang lemah. Tapi dokter malah masih sempat merawat dan memperhatikan pasien seperti saya ini," ucap ibu itu dengan nada yang terdengar sangat tulus.


Aku meraih tangannya dan mengelus punggung tangannya. Pasien ini kurang lebih sebaya denganku. Tapi aku tetap harus memanggilnya Ibu seperti aku memanggil pasien yang lain.


"Sudah menjadi tugas saya, Bu. Saya terikat kontrak kerja, dan saya tidak punya pilihan lain selain harus tetap bekerja seperti ini. Maka Ibu harus merasa bersyukur, karena masih bisa bedrest meski harus berada di rumah sakit selama dua minggu," kataku.


"Dr. Raya memang paling bisa merendah," pujinya.


Aku mengangkat alisku sambil tersenyum. Aku sudah siap- siap keluar dari ruangan ini ketika mendengar suara familiar dalam salah satu program acara talkshow di televisi yang memang menjadi salah satu fasilitas di ruangan ini.


"Balik lagi pemirsa, masih di acara dr. Handsome bersama saya Mahfudz ...."


"Pasti handsome!!!!"


Suara penonton di studio itu terdengar meriah diiringi musik pendukung yang menambah euforia para penonton di dalam studio TV 17


"Ehmm, ngomong- ngomong soal handsome nih sebenarnya saya belum terbiasa dapat predikat handsome, tapi ...."


Mahfudz melirik pada dr. Jasmine yang juga adalah salah satu host yang terlihat cekikikan melihat reaksi Mahfudz.


"Ciee yang handsome, merona dia ...." godanya pada Mahfudz membuat hatiku geram melihatnya.


Inilah yang kutakutkan saat aku mengijinkan Mahfudz untuk menerima tawaran untuk menjadi host di acara ini. Aku tidak sanggup melihatnya bercanda ria dengan wanita lain meskipun itu dalam lingkup pekerjaan. Sebenarnya aku sudah mantap dengan keputusanku untuk tidak mengijinkan Mahfudz ambil bagian dalam acara itu, tetapi karena permohonan Fuad agar aku mengijinkan Mahfudz, membuatku akhirnya luluh. Fuad berencana untuk ikut mencalon menjadi anggota legislatif. Namun karena tekanan dari kekuasaan Waridi membuat dia sulit mendapat dukungan partai sehingga Fuad memutuskan untuk memanfaatkan kepopuleran kakaknya untuk ikut mengkampanyekannya saat Mahfud benar- benar resmi menjadi salah satu host di program acara medis bergengsi di negara ini.


Mahfudz ikut tertawa kecil mendengar godaan itu.


"Memang handsome banget, ya?"


"Diiih pedenya ...."


Ya Tuhan, keakraban macam apa itu? batinku kesal. Namun walau aku kesal aku masih tetap lanjut menonton.


Mahfudz pura- pura merajuk mendengar itu.


"Iya, iya deh handsome ...." kata dr. Jasmine mengalah.


"Tapi pemirsa, selain saya, masih ada yang jauh lebih handsome lagi nih .... Siapa dia? Dia adalah bintang tamu kita kali ini sekaligus narasumber kita. Langsung saja kita panggilkan dr. Farel Herlambang, Sp. OG ...."


Suara musik pengiring pun terdengar lagi diikuti oleh sang bintang tamu yang datang dari balik panggung acara berbarengan dengan tepuk tangan penonton di studio. Setelah saling bersalaman, Mahfudz sebagai pemandu acara mulai kembali memainkan perannya.


"Hallo, dr. Farel! Apa kabar?"


"Iya, Mahfudz dan dr. Jasmine. Saya baik- baik saja. Alhamdulillah sehat."


jawab dr. Farel.


Setelah berbasa basi sebentar ketiganya pun langsung memulai ke topik acara.


"Kita langsung saja ke topik acara kita hari ini, Dok. Mengenal alat reproduksi wanita dan bahayanya menikah di usia dini ...."


Aku masih asyik memperhatikan Mahfudz di layar kaca ketika celetukan keluarga pasien di ranjang sebelah membuatku perhatianku jadi teralihkan.


"Duuuh, gedein suaranya donk, dokter kesayangan aku nih ...." celutuk seorang gadis membuat aku mengernyitkan kening.


"Yang mana? Bintang tamunya kah? Kayaknya itu itu bapak- bapak deh," sahut pasien yang sepertinya adalah kakaknya.


"Ya nggaklah, aku suka hostnya, tau! Dr. Mahfudz donk, ganteng banget. Benar- benar handsome. Katanya dia tinggal di kota kita loh .... Coba aku tau dimana rumahnya atau tau di rumah sakit mana tuh dokter kerja, aku bakal datang tuh nyamperin dia. Aku tembak tuh dokter biar jadi pacarku!"


Hatiku panas, panas, panas mendengarnya. Aku ini istrinya, woy!


"Memang dia mau sama kamu?" ledek kakaknya lagi.

__ADS_1


"Namanya juga usaha. Cinta itu harus diperjuangkan. Pokoknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama pas lihat vidionya di YouTube beberapa bulan lalu. Kakak nggak lihat sih pas dia lagi CPR bayi, keren banget tau. Terbayang kalau dia jadi suami aku, pasti ...."


"Ehmmm!!!" dehemku kesal. Aku jengkel mendengarnya.


Itu membuat perawat yang sedari tadi membantuku memeriksa pasien lain jadi tertawa cekikikan.


"Tapi gimana, donk? Dr. Mahfudz kan memang sudah ada istrinya ...." goda perawat itu sambil mengerling nakal padaku.


"Ah, masa sih? Aku nggak percaya! Dr. Mahfudz itu masih muda, masih bujangan. Jangan mengada- Ngada deh, kak! Kalau mau saingan bilang aja! Kita bersaing secara sportif!" kata gadis itu balas menggoda perawat itu.


"Ih, dikasih tau nggak percaya. Entar kamu patah hati lagi, kalau tau siapa istrinya ...."


"Memang siapa? Siapa istrinya? Kok aku nggak pernah dengar?"


"Tuh, dr. Raya istrinya." kata perawat itu sembari memonyongkan bibirnya ke arahku.


"Haaah?"


Semua yang ada di ruangan itu memandangku.


"Beneran, Dok?"


Aku tersenyum sambil berusaha sekeras mungkin menahan jengkel.


"Satu pertanyaan sebelum kita ke sesi iklan, Dok. Pernikahan dan kehamilan di usia dini beresiko menyebabkan kelahiran prematur, pendarahan, keguguran dan meninggalnya janin dalam kandungan. Apa benar itu, Dok?" tanya Mahfudz.


"Ya benar. Walaupun semua itu tidak selalu disebabkan usia wanita yang muda. Ada faktor pendukung lain seperti kecelakaan, atau riwayat kehamilan sebelumnya sehingga bisa menyebabkan komplikasi seperti yang disebutkan tadi. Ini kalau boleh saya bertanya balik, apa dr. Mahfudz menanyakan ini terkait dengan istri di rumah, dokter Raya? Saya dengar dr. Raya belakangan ini memiliki masalah yang sama?" tanya dr. Farel tiba- tiba.


"Woow, ada gosip baru pemirsa," sela dr. Jasmine. "Jadi dr. Handsome kita ini sudah menikah? Bakal banyak yang patah hati nih. Dr. Farel kenal dengan pujaan hati dr. Mahfudz ini?"


Di luar dugaanku, studio itu tiba- tiba riuh oleh respon kaget para penonton. Sementara Mahfudz dan dr. Farel hanya tertawa ringan.


"Kenal. Saya kenal dr. Raya. Kita sama- sama mengambil pendidikan subspesialis yang sama di universitas yang sama. Beliau adalah salah satu dr. SpOG terbaik di kota XXX. Saat pernikahan mereka, dr. Raya mengundang kami seangkatan tapi sayangnya saat itu saya berketepatan tidak hadir. Tidak disangka, hari ini malah saya bertemu langsung dengan suaminya. Dr. Handsome yang benar- benar handsome," ujar dr. Farel dibarengi candaan.


"Wow, kayaknya penonton di studio lebih tertarik nih sama gosip ini, penonton di rumah bagaimana?" tanya dr. Jasmine pada penonton.


"Hahaha ...." tawa Mahfudz terdengar renyah. " Back to topic kita kali ini tentang mengenal sistim reproduksi wanita dan bahayanya menikah di usia dini. Namun sebelum itu, jangan kemana- mana, kita akan lanjut lagi setelah beberapa iklan komersial berikut ini. Tetap di dr. Handsome?"


Jeng!! Jeng!!! Jeng!!


"Dokter, dokter benar istrinya dr. Mahfudz?" tanya gadis terdengar berharap kalau itu hanya bohong.


"Iya benar," jawabku seadanya.


"Dokter, bisa ketemu sama dr. Mahfudz nggak sih? Aku pengen foto bareng sama minta tanda tangan. Ya, ya, ya? Aku ngefans banget sama dr. Mahfudz," katanya penuh harap.


Apa sih nih anak ganjen amat? Udah dibilangin tuh idolanya udah punya istri masih aja nyolot?


"Sekarang dia agak sibuk sejak jadi host di acara itu. Biasanya dia juga biasa antar jemput saya kok ke sini. Tapi nanti deh saya sampein kalau ada fansnya yang cariin. Sekarang saya haarus pergi dulu buat periksa pasien lain. Saya tinggal ya?" pamitku.


Bagaimana pun sangat menyebalkan melihat ekspresi gadis lain ketika mengagumi suamiku.


Begitu sampai di luar aku segera menelepon Mahfud.


"Ya, sayang?" Sapanya dari seberang sana.


"Mahfudz!! Kamu playboy! Jangan panggil- panggil aku sayang. Kamu itu nyebelin tau!"


"Hah? Kenapa? Siapa yang playboy? Sayang, kamu lagi kesambet apa?"


"Tau ahhh!!! Malassss!!!" semburku sembari menutup telepon tanpa mempedulikan kemungkinan respon Mahfud yang kebingungan di seberang sana.


Lalu tanpa buang waktu aku segera menuju lift untuk kembali ke ruanganku di lantai bawah. Aku berusaha untuk menggapai tombol lift, namun tanganku tak sampai. Saat aku ingin berdiri dari kursi roda, seseorang menyentuh pundak ku dan memaksaku kembali duduk.


Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat siapa yang melakukan itu padaku. Terlihat Ali sedang tersenyum padaku.


"Kamu mau ke lantai bawah kan?" tanyanya sembari menekan tombol lift.

__ADS_1


Aku mengangguk sungkan dan sedikit terkejut saat Ali mendorong kursi rodaku masuk ke dalam lift.


"Harusnya kamu meminta bantuan perawat kalau perlu naik turun lift," katanya terdengar peduli.


Aku merasa canggung hanya berdua dengannya di dalam lift.


"Kamu ngapain di sini, Ali?"


"Kamu kira ngapain? Aku sedang mengunjungi Marhamah, dia istriku sekarang, Ray," katanya seakan mengingatkan.


"Ya, benar," kataku sambil mengangguk. " Kalau begitu aku harus kembali bekerja," kataku begitu pintu lift terbuka.


Aku segera mendorong kursi rodaku keluar lift. Sementara Ali masih saja membantuku mendorong kursi roda.


"Sudah, sampai sini aja Ali," kataku begitu kulihat dia tidak ada niat berhenti mendorong kursi rodaku.


"Aku antar kamu sampai ke ruanganmu, lagi pula ada yang perlu kubicarakan denganmu," katanya tanpa mempedulikan respon risihku atas tindakannya.


"Aku rasa kita tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, cukup antar aku sampai sini. Aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi antara aku, kamu Marhamah mau pun orang yang melihat kita nanti," kataku sedikit jengkel.


"Kalau aku bilang ini tentang masalah Waridi, apa kamu masih tidak tertarik bicara denganku?" tanyanya membuatku penasaran.


"Waridi?" tanyaku balik sambil menoleh melihatnya


Ali mengangguk.


"Kau mungkin tertarik dengan sedikit rahasianya?"


Maafkan aku Tuhan, yang sedikit ingin tau meski aku sudah memutuskan untuk tidak peduli masalah ini, monologku dalam hati.


"Baiklah, kita bicara di ruangan ku!"


\*\*\*\*\*\*


"Terima kasih telah bersedia membantu saya, Pak!" ucap Fuad pada pak Mawardi, dosen di kampusnya.


Saat ini mereka tengah berada di sebuah restoran cepat saji di tengah kota.


"Tidak masalah, Fuad. Partai Muda Berkarya adalah partai baru kecil yang belum terlalu di kenal oleh masyarakat. Ini mungkin tidak terlalu menguntungkanmu dalam pemilihan calon legislatif ini. Tapi setidaknya ini bisa mengantarkanmu sampai pada pendaftaran. Selanjutnya semua tergantung usaha dan keberuntungan yang kamu miliki. Kamu sendiri kan tau bagaimana persaingan dengan kandidat dari partai- partai besar. Kemungkinan menangnya kecil."


Fuad menghembuskan napas. Dia tau maksud dari pak Mawardi. Semua partai besar telah memiliki calon mereka sendiri untuk maju menjadi calon legislatif periode ini. Dan partai yang masih bisa menampungnya sebagai calon hanya partai kecil yang tidak populer. Itu pun untuk daerah pemilihan ia tidak kebagian untuk daerah kota melainkan hanya tersisa daerah terpencil. Tapi tidak apa, selain ingin mengalahkan Waridi dia juga punya niat mulia untuk mengabdikan diri pada masyarakat.


"Bapak sendiri bagaimana? Apa Bapak sudah siap bersaing dengan Waridi sebagai Cawagub?" tanya Fuad mengalihkan pembicaraan.


Pak Mawardi dosennya ini pun ikut maju mencalonkan sebagai calon wakil gubernur berdampingan dengan Pak Islah, mantan Walikota kota sebelah.


"Entahlah, saya sebenarnya tidak yakin bisa melawan kekuasaan Waridi. Kamu tau sendiri bagaimana dukungan publik terhadapnya. Masyarakat memihaknya. Jadi walaupun ada calon yang lebih kompeten daripada dia, sepertinya itu akan sia- sia saja. Namun tidak apa- apa, kalah atau menang kita tidak akan masalah. Anggap saja pengalaman baru di dunia politik," kata Pak Mawardi.


Fuad manggut- manggut.


"Dukungan publik ya, hmmm ...." Fuad menggumam. "Bapak tenang saja, saya akan mendukung Bapak. Walaupun dia memiliki dukungan publik seperti bapak bilang, tapi Waridi juga memiliki banyak musuh yang ingin menjatuhkannya."


Pak Mawardi tertegun.


"Banyak musuh? Maksudnya gimana? Setahu saya dia tidak memiliki musuh. Semua orang mengaguminya," katanya bingung.


Fuad tersenyum penuh arti.


"Air yang tenang itu memang selalu menghanyutkan, Pak!" ucap Fuad.


Pak Mawardi mungkin tidak tau kalau banyak dari pejabat dan kaum pengusaha yang menjadi musuh Waridi. Sikapnya yang selalu semena- mena menindas orang yang berurusan dan mencari masalah dengannya mungkin selalu bisa dia sembunyikan karena dia bermain uang dari belakang. Tapi Fuad tidak akan tertipu. Dia akan mulai mencari kelemahan- kelemahan Waridi di mulai dari sekarang. Dan dia sudah menetapkan akan memulai dari Bapak Walikota dulu.


Sibuk memikirkan itu, pandangan Fuad tiba- tiba tertuju pada sebuah meja yang agak jauh darinya. Dia melihat pria itu, Waridi sedang bersama dua orang anak SMP. Dan .... Apa- apaan itu? Fuad juga melihat Nadya dan salah seorang temannya sedang menemani pria itu mengobrol di salah satu meja bundar.


Nadya? Bagaimana bisa.


"Kenapa, Ad?" tanya Pak Mawardi.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Pak!"


Fuad bangkit dan segera beranjak menuju ke meja di mana Nadya dan Waridi berada.


__ADS_2