I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Garis satu atau dua?


__ADS_3

"I-ni ...."


Mahfudz memberikan kartu ATM-nya padaku.


Aku melongo menatapnya.


"Apa ini?" tanyaku.


"I-tu kar-tu A-T-M-ku. Uang-nya ti-dak ba-nyak. Mung-kin i-si-nya cu-ma se-ki-tar 13 ju-ta-an sa-ja. Pa-kai-lah un-tuk ke-bu-tu-han-mu dan ke-bu-tu-han ru-mah se-la-ma a-ku per-gi" kata Mahfudz.


Aku masih termangu tak percaya.


"Ray, a-ku sa-ngat ta-u, uang-mu le-bih ba-nyak da-ri i-tu. Mung-kin ka-mu a-kan bi-lang tak bu-tuh uang da-ri-ku. Ta-pi sa-at ka-mu i-ngin ja-di is-tri yang ba-ik, a-ku ju-ga i-ngin ja-di su-a-mi yang ba-ik un-tuk-mu. Dan su-a-mi yang ba-ik ber-tang-gung ja-wab pa'da is-tri dan ke-lu-ar-ga-nya ter-ma-suk da-lam hal naf-kah"


Sepertinya Mahfudz bisa membaca pikiranku karena sedari tadi aku memang ingin menolaknya.


Aku antara ragu antara tidak untuk menolaknya.


"Kalau aku ambil semua ini, kamu masih punya uang pegangan selama di rumah sakit jejaring?" tanyaku ragu.


Mahfudz mengambil dompet dari dalam kantongnya. Dia memberikannya padaku. Nampak lembaran-lembaran uang disana.


"Aku boleh menghitungnya?" tanyaku.


Aku ingin melihat seberapa terbuka Mahfudz soal keuangan denganku.


Mahfudz mengangguk. "Hi-tung-lah" katanya.


Aku menghitungnya. Ternyata isinya berjumlah kurang lebih 1,5 juta disusun rapi di dompetnya sesuai jumlah nominalnya.


"Kamu bilang ATM card-mu isinya 13 juta-an. Sementara di dompetmu cuma 1,5 juta. Memangnya cukup buat persediaan di sana selama 3 minggu?" tanyaku.


"Ya, di-cu-kup-cu-ku-pin-lah. Uang di ATM-card itu a-dal-ah uang trans-fe-ran Ma-ma da-ri ha-sil sa-rang wal-et ki-ta. Ka-lau uang yang a-da di-dom-pet-ku. I-tu ha-sil ker-jaku me-ner-je-mah-kan jur-nal un-tuk ba-han te-sis do-sen di kam-pus dan jurnal te-man-te-man ko-as ju-ga"


Aku mengambil semua uang dalam dompet Mahfudz dan mengembalikan kartu ATM-nya ke dalam dompet.


"Aku ambil yang ini saja" kataku.


"Ray ...." Mahfud terlihat protes.


"Sayang, kamu sepertinya belum kerjain apa-apa kan di sarang walet itu. Berarti itu uang pemberian Mama donk. Tapi uang yang ini adalah hasil kerja kerasmu, keringat suamiku. Aku mau yang ini saja" kataku.


"A-ku ti-dak ber-ke-ri-ngat me-ner-je-mah-kan jur-nal. A-ku ber-ke-ri-ngat sa-at me-la-ku-kan hal yang la-in" katanya dengan nada yang nakal.


"Ais, kamu itu nakal sekali" kataku.


"A-ku na-kal pa-da is-tri-ku sen-di-ri" katanya.


"Tapi aku mau uang yang ini saja. Boleh? Aku akan mengirit sampai dapat uang belanja lagi" candaku.


Mahfudz menghela napas.


"Ya, su-dah. Nan-ti ka-lau i-tu su-dah ha-bis bi-lang. A-ku a-kan trans-fer. Ki-rim no-mor re-ke-ning-mu."katanya


Mahfudz memasukkan lagi dompet itu dalam kantongnya.


"Memang kamu nggak bisa ya batalkan perginya?"


Aku memeluknya tiba-tiba. Aku tak rela berpisah selama itu dengan suamiku. Itu 3 minggu. Seminggu lagi genap sebulan. Aku akan ditinggalkan selama itu.


"Ya nggak bi-sa donk. A-ku ha-rus bi-lang a-pa ke pro-fes-sor nan-ti? A-ku nggak ma-u plin plan, sa-yang!"


Aku mendongak menatapnya dengan wajah memelas tanpa mau melepaskan pelukanku.


"A-ku a-kan vi-di-o call ka-mu ti-ap ha-ri" katanya menghiburku.?


"10 kali?"pintaku.


"Haa? A-ku tak ma-u ber-jan-ji, Ray. Se-sem-pat yang a-ku bisa"


"Ck ..." mulutku berdecak sebal. Aku melepaskan pelukanku.


"Ya, su-dah 10 ka-li. Ta-pi du-ra-si-nya ja-ngan ber-ha-rap ter-la-lu ba-nyak, ka-re-na a-ku nggak ta-u di-sa-na si-buk a-tau ti-dak. Ka-lau ti-dak si-buk, -aku a-kan me-nel-pon-mu la-ma, ka-lau si-buk, ha-rap ka-mu me-nger-ti, sa-yang"


"Ya, sudah. Awas kalau kamu lirik-lirik perawat-perawat cantik dan pasien di sana. Dan kamu juga nggak boleh melakukan VT pada pasien yang mau bersalin, kalau memang diperlukan minta tolong bidan saja" kataku memberi ultimatum.


"I-ya" katanya sambil mencubit pipiku dengan gemas.


"Yank, aku boleh tanya nggak?" tanyaku pada Mahfudz yang terlihat sibuk menyusun bajunya di tas.


"Hmmmm .... "


"Dulu, waktu kamu sama Mama dan Nadya, Fuad juga datang ke rumah untuk bersilaturrahmi, rasanya kamu bisa menebak apa yang kupikirkan. Aku bilang I love you dalam hatiku, kamu balas di chat I love you too. Kamu beneran bisa membaca isi dalam hatiku? Semacam telepati gitu, yank? Ikatan batin? Saat aku diculik juga aku sedang memikirkanmu dan tiba-tiba saja kamu datang. Aku kan terharu .... "

__ADS_1


Mahfudz tertawa kecil.


"Ya, nggak-lah. Te-le-pa-ti a-pa? Ma-sa ka-mu per-ca-ya yang be-gi-tu-an sih?"


"Terus kamu bisa tau apa yang kupikirkan dari mana?"tanyaku ingin tau.


"Oh, i-tu. A-ku be-la-jar mem-ba-ca eks-pre-si wa-jah o-rang lai-n se-jak la-ma. I-tu mem-ban-tu-ku ba-nyak da-lam ber-ko-mu-ni-ka-si"


"Oh, ku kira kamu bisa tau apa yang ada dalam hati dan pikiranku meski kita jauh. Kan romantis kalau aku lagi rindu kamu tiba-tiba ngechat, 'aku juga rindu sayang' " kataku kecewa.


"Su-dah, ja-ngan ke-ce-wa. Nan-ti a-ku a-kan se-ring ki-ri-m chat ke ka-mu. Se-te-lah a-ku se-les-ai ro-ta-si di-sa-na. Ki-ta a-kan le-bih se-ring ro-man-tis-ro-man-ti-san" godanya.


Aku mencubit kecil perutnya dan tertawa saat dia mengaduh kesakitan.


\*\*\*\*\*


"Ray, a-ku ngan-tuk" kata Mahfudz di sebuah panggilan vidio kami.


Telah seminggu Mahfudz dapat dinas luar kota di rumah sakit jejaring.


"Nggak boleh tidur dulu" kataku. "Kamu baru vidio call aku 8 kali hari i ni. Masih kurang 2 kali lagi, Fud!" kataku manja.


"Ha-deeh, ya su-dah a-ku ma-ti-kan du-lu sa-yang ...."


Mahfudz mematikan teleponnya dan menghubungiku lagi. Suamiku ini sabar sekali mengikuti permainan kekanak-kanakanku.


"I- ni su-dah 9 ka-li, Ray. A-ku ma-ti-kan la-gi ya .... " Mahfudz terlihat menguap. Sepertinya Mahfudz ngantuk berat.


Sekali lagi dia meneleponku. Aku mengangkatnya. Matanya terlihat merah berair.


"Ya, sudah kamu tidur aja kalau gitu, sayang" kataku menyerah.


Padahal aku masih ingin berlama-lama melihatnya walaupun cuma di panggilan vidio saja.


"Ya, su-dah. Ka-mu ju-ga ti-dur sa-yang, i love you" katanya.


"Love you too" kataku.


Masih ada waktu seminggu lagi sampai Mahfudz menyelesaikan rotasinya di rumah sakit jejaring. Selama itu aku menahan rindu berat padanya. Aku bahkan menjalankan peranku sebagai istri dengan baik walaupun tak ada Mahfudz. Termasuk dalam hal penggunaan uang belanja.


"Ummik, biar Raya aja yang beli token listrik dan bayar air bulan ini, Mik!" kataku.


"Haa? Kenapa?" tanya Ummik. Biasanya juga Ummik yang bayar."


"Mik, biarkan Raya yang bayar. Raya mau belajar jadi istri yang baik. Termasuk dalam mengelola keuangan yang diberikan suami untuk Raya" kataku.


Aku mengangguk bangga. "Iya, dan uang ini benar-benar hasil kerja kerasnya menerjemahkan jurnal untuk bahan tesis dosennya dan jurnal teman-temannya. Bukan dari penghasilan sarang walet keluarganya."


"Memang banyak yang dikasih?"tanya Ummik kepo.


"Cuma 1,5 juta aja, sih!"


Mulutnya Ummik menganga mendengarnya.


"Ray, kamu tabung aja gih uangnya. Ummik yang bayarin nggak apa-apa kok" kata Ummik terdengar prihatin mendengar nominal uang yang kuambil dari Mahfudz.


"Ummik, please.... Raya mau belajar jadi istri yang bisa mengelola keuangan suami" kataku. "Kalau bisa Raya yang akan belikan bahan dapur dan kebutuhan sehari-hari kita" kataku.


Ummik menatapku masih tak percaya betapa kerasnya pendirianku sampai pada akhirnya beliau mengijinkan.


"Ya, sudah. Terserah kamu aja, Ray"


Aku senang sekali sampai aku memeluk Ummik.


"Terima kasih, Mik"


Di lain waktu Hawa mengajakku jalan-jalan di mall saat hari liburku. Dia tau Mahfudz sedang dinas luar kota.


"Kamu nggak pesan makanan, Ray?"tanya Hawa bingung padaku yang cuma memesan sebotol air mineral.


Aku menggeleng. Aku membuka tutup botol dan meminum isinya.


"Kamu hamil, Ray?"


Aku yang sedang minum langsung tersedak mendengar pertanyaan Hawa.


Hawa langsung menepuk-nepuk pundakku.


"Hati-hati makanya minumnya" omelnya.


"Habis kamu, ngapain nanya begituan?" tanyaku sebal.


"Lah, kenapa memangnya? Kan kamu sudah nikah? Wajar donk kalau kutanya kamu lagi hamil. Soalnya kamu nggak pesan makanan. Siapa tau kamu lagi nggak selera makan karena ngidam. Kan kita bisa cari tempat makan yang lain yang sesuai selera kamu?"

__ADS_1


"Aku baru nikah baru mendekati 3 mingguan, Wa! Ya belumlah. Kamu sama Ummik suka gitu deh. Aku nggak pesan makanan, karena aku mau ngirit uang belanja yang dikasih Mahfudz ke aku." bantahku.


"Uang belanja?"tanya Hawa.


Aku mengangguk. "Hmmm iya, aku ambil uang belanja dari dia 1,5 juta aja. Jadi aku harus cukup-cukupin sampai dia pulang dari rumah sakit jejaring" kataku.


"Memang dia ada penghasilan gitu?" tanya Hawa hati-hati takut aku tersinggung.


"Dia ada bagian sarang walet untuk dikelola sendiri punya keluarganya" katanya.


"Wow, bagus donk. Bisnis sarang walet itu loh bisnis menggiurkan. Omsetnya besar" kata Hawa.


"Tapi uang 1,5 juta ini istimewa, dia mengerjakannya sendiri dengan hasil jerih payahnya terjemahin jurnal untuk dosennya dan teman-temannya gitu, makanya aku ingin mengapresiasi dengan cara mengelola uangnya ini agar cukup sampai dia pulang nanti, gitu" kataku menjelaskan.


"Ya elah, timbang gitu doank, sampai mengirit segitunya. Ya, buat belanja-belanja yang sekunder kamu pakai uangmu lah, nanti kalau yang primer kebutuhan pokok baru pakai uangnya Mahfudz. Pantasan aja kamu nggak mau belanja tadi. Biasanya kamu nggak bisa lihat tas atau sandal sepatu yang agak imut langsung aja dibeli. Tadi, dipegang dikit, letakin lagi. Pantas aja. Ternyata Ny. Mahfudz Alzhafran ini sedang mengirit uang suaminya. Hadeh, kalau dimabuk cinta ya gini" cibirnya sambil tergelak.


"Yee... Biarinlah" balasku mencibirnya.


"Pesan aja makanan yang kamu suka, Ray! Kalau kamu mau ngirit ya sudah terserah kamu. Tapi kamu makan dulu, biar aku aja yang bayar!"


"Benar? Aku boleh pesan apa aja kan Bu Boss?" tanyaku girang.


"Iya, iya muka gratisan" ledeknya.


Aku cuma tertawa.


\*\*\*\*\*


Seusai aku dan Hawa makan, kami memutuskan untuk segera pulang. Tapi saat melewati apotek di lantai bawah mall, tiba-tiba Hawa menarikku ke sana.


"Mbak, ada jual test pack?" tanya Hawa tiba-tiba yang membuatku terkejut bukan kepalang.


"Ada, Mbak. Mbak mau test pack yang bagaimana? Merk apa?" tanya Mbak penjaga apotek sambil mengambil beberapa jenis test pack


"Hawa apa-apaan sih kamu?" tanyaku gemas bercampur malu.


"Aku ambil yang ini aja, Mbak. Berapa?" tanya Hawa mengambil uang dari dompetnya.


Setelah membayar Hawa menarik tanganku ke toilet.


"Wa, aku itu nggak hamil. Lebih tepatnya belum hamil. Aku itu baru nikah sama Mahfudz 3 mingguan aja belum nyampe. Bagaimana aku menjelaskannya?" kataku frustasi.


"Coba aja dulu. Anggap aja iseng-iseng berhadiah. Lagi pula fertilisasi bisa terjadi setelah 3 atau 5 hari sesudah berhubungan pasutri. Aku yakin kamu dan Mahfudz udah sering melakukannya sebelum dia dinas luar kan?"godanya.


"Sok tau!" sangkalku.


"Ayo!" Hawa mendorongku masuk ke dalam WC. Dia memberikan sebuah plastik kecil yang dimintanya pada petugas apotek tadi.


"Aku curiga kamu itu beneran hamil, Ray. Aku lihat kamu itu agak berisi sekarang. Lenganmu, pipimu agak gemukan. Kamu juga makannya banyak tadi, biasanya makanmu sedikit" katanya dari luar WC.


Aku tak percaya aku manut saja memenuhi permintaan Hawa. Setelah aku mengambil air seniku di plastik bening yang diberikan Hawa tadi, aku segera keluar.


"Ini!" Hawa memberikan strip test pack padaku.


Aku menerima testpack itu.


"Aku itu nggak hamil, Wa. Ya, aku banyak makan tadi ya karena aku lapar. Sebelum jalan sama kamu aku memang belum makan" bantahku.


"Sini, biar aku aja!"


Hawa merebut kembali strip test pack itu dari tanganku. Dia mencelupkan ujung strip pada air seni yang sudah kutampung sampai batas yang ditentukan. Sementara aku yang memegang kantong urinnya.


Semenit kami menunggu. Hawa mengangkat stripnya.


"Kamu lihat? Garisnya satu kan? Artinya aku nggak hamil!" kataku sembari masuk kembali ke WC dan membuang air urinku di WC itu.


Lepas itu aku membuang kantong plastiknya dan mencuci tanganku dengan sabun di westafel.


"Tapi ini kayaknya garisnya dua deh, Ray! Cuma garisnya yang satu samar sekali. Nggak kelihatan jelas."katanya sambil menunjukkannya padaku.


Aku memperhatikan sekilas. "Itu garisnya cuma satu, Wa. Jangan ngeyel!"


"Dua, Ray! Beneran. Ini pasti positif. Coba kamu test besok pagi pake urin pertama kamu setelah bangun tidur saat kadar hCG kamu masih tinggi, aku yakin ini pasti positif, Ray!" kata Hawa yakin sekali.


"Hey, Bu Boss! Bagaimana caraku mengatakannya padamu, aku itu nggak hamil, sayang! Aku tau kamu pengen kita hamil bareng-bareng. Perut melendung gede kemana-mana kita jalan bareng. Tapi nggak gini juga kali, ahh. Kamu yang hamil tapi maksa-maksa biar aku hamil juga"omelku.


Hawa mengelus perutnya beberapa kali. Dan kemudian ganti mengelus perutku dengan tangan yang sama dia mengelus perutnya.


"Ketularan, ketularan, ketularan, ketularan .... "


Hawa mengucapkannya seolah-olah yang diucapkannya adalah mantra-mantra agar aku ikut tertular hamil dari dia.


Aku tertawa.

__ADS_1


"Sudah, Wa! Nanti kalai aku beneran hamil juga akan ketahuan sendiri, kok! Nggak usah maksain juga kali harus hamil sekarang. Sini!" kataku sambil menarik strip testpack itu dari tangan Hawa.


Tanpa berpikir panjang apa pun aku segera membuang strip test pack itu ke tempat sampah.


__ADS_2