
Fuad berlari mengejar Ayuni. Tapi Ayuni sepertinya berlari cepat sekali sampai Fuad kehilangan jejak. Kemana dia? Astaga, menyusahkan sekali. Fuad tidak habis pikir kenapa wanita yang sedang hamil itu larinya cepat sekali.
Fuad sekarang sedang berpikir keras apa yang sebaiknya akan dia lakukan. Apa dia akan tetap mengejar dan mencari Ayuni? Atau sebaiknya tidak usah saja?
Ya, ya, ya. Sebaiknya urungkan saja menyelamatkan wanita itu. Dipikir-pikir lagi bahaya dan resiko yang akan di dapatkan akan lebih besar dari keuntungan yang akan dia terima. Persetan dengan konten youtube!
Masih banyak hal yang bisa dijadikan konten. Salah- salah nanti dia yang akan mendekam di penjara karena membawa lari anak angkat wakil walikota.
Fuad memutuskan untuk menelepon Raya dulu untuk mengetahui bagaimana pendapatnya. Namun sayangnya Raya yang sedang bersama Mahfudz tidak berani mengangkat telepon itu karena takut Mahfudz marah lagi.
"Te-le-pon da-ri si-a-pa? Ke-na-pa ti-dak di-ang-kat?" tanya Mahfudz.
Raya ragu mengatakan kalau itu telepon dari Fuad. Dia tau suaminya ini mulai ada benih- benih cemburu pada Fuad. Itu tidak boleh. Bagaimana pun mereka saudara, kembar pula dengan hubungan yang tidak baik. Raya tidak mau memperburuk hubungan mereka.
"Ini telepon dari Hawa, sayang. Nanti saja aku telepon balik. Aku kan masih bersama suamiku."
Ponsel Raya tetap bergetar.
"Ang-kat-lah du-lu, a-ku ju-ga ma-u ke in-ter-na" kata Mahfudz.
Raya tersenyum ragu. Namun tetap mengangkat telepon itu agar Mahfudz tidak curiga itu dari Fuad.
"Hallo, Wa? Bisa nggak teleponnya nanti aja? Masih ada Mahfudz di sini .... Bentar lagi aja, kok! Nanti pasti kamu akan kutelepon balik."
Fuad sepertinya mengerti kalau saat ini di dekat Raya pasti ada Mahfudz. Menerima telepon adik ipar sendiri aja sudah seperti menelepon selingkuhannya aja, hadeeh, pikir Fuad.
"Hmmm .... Ok"
Raya mematikan telepon dan perhatiannya tertuju pada Mahfudz lagi. Sepertinya Mahfudz tidak curiga kalau itu telepon dari Fuad.
"A-ku a-kan ke in-ter-na du-lu" pamit Mahfudz.
Raya mengantar hingga depan pintu. Raya sudah membuka daun pintu namun Mahfudz menutupnya lagi.
"Ada apa?" tanya Raya heran.
Mahfudz langsung berlutut di depan Raya.
"A-yah per-gi ker-ja du lu, ka-mu ja-ga bun-da, ya sa-yang! Ja-ngan re-wel dan nyu-sa-hin bun-da, a-yah cu-bit nan-ti!"
Mahfudz mencium perut Raya sehingga istrinya itu tertawa geli.
"Ya ampun, Fud, sudah! Kalau ada yang lihat kan malu!" katanya. Dia ingat moment ketika Mahfudz hendak menciumnya kemarin di ruangan ini ketika tertangkap basah oleh Winda.
"Ke-na-pa ma-lu? I-ni a-nak ki-ta, bu-ah cin-ta ki-ta. A-tau bun-da-nya pe-ngen di-ci-um ju-ga?"
"Hahaha .... Nggak usah. Terima kasih!" tolak Raya gengsi.
"Ma-sa?"
Mahfudz mendekatkan bibirnya ke arah Raya. Raya pun memejamkan mata dan bersiap menerima ciuman itu.
Cekrek!
Suara gagang pintu di buka. Raya juga spontan membuka matanya.
"Hahaha .... A-ku per-gi du-lu, sa-yang!
Mahfudz ternyata tidak jadi menciumnya. Dia hanya ingin menggoda istrinya saja. Dasar php! Wajah Raya merona malu.
"Fud!!" Protes Raya dengan wajah cemberut.
Mahfudz cuma tertawa mendengar protesan istrinya. Siapa suruh kamu selalu jual mahal, Bu dokter?
Isss, benar- benar deh Mahfudz itu bikin kesal, gerutu Raya dalam hati.
Sepeninggalan Mahfudz, menghubungi kembali Fuad.
"Kenapa tadi kamu meneleponku?"
"Kakak ipar, tadi aku sudah menemukan Ayuni ...."
Raya sempat terkejut dan berpikir sejenak.
"Ceritakan informasi apa yang kamu dapat!" kata Raya.
__ADS_1
"Aku belum dapat informasi apa- apa darinya. Dia kabur lagi!" jawab Fuad depresi.
"Kabur lagi gimana maksudnya? Kamu menangkap dia? Menculik dia?" Raya sampai panik mendengar laporan adik iparnya itu.
"Aku tidak bermaksud menculiknya. Dia sendiri yang kabur dari rumahnya. Ya, memang tadi aku sempat menyelamatkannya. Aku membawanya ke rumah omnya temanku. Aku meminta dia melaporkan Waridi ke polisi tapi dia tidak mau. Dia malah kabur! Aduuuh bagaimana ini? Bagaimana menurutmu kakak ipar?"
Raya hampir tak percaya pada apa yang didengarnya.
"Aku memintamu mencari informasi dari dia tentang Waridi dan membujuknya untuk mau bekerja sama dengan kita. Jangan kamu bawa dia. Itu berbahaya, Fuad! Salah- salah kita yang dilaporin Waridi membawa lari putrinya!"
"Terus aku harus bagaimana?" tanya Fuad.
Pertanyaan yang Raya juga tak bisa menjawabnya.
"Sedangkan dia kubantu aja, dia nggak mau kooperatif, apalagi tidak dibantu."
Raya berpikir lagi. Bagaimana ini? Raya sudah terlanjur berjanji pada Mahfudz untuk tidak meneruskan ini. Dia tidak mau meneruskan ini tanpa persetujuan suaminya. Dan lagi pula teror bangkai kucing itu cuma sekali saja. Setelah itu tidak ada teror lagi yang datang padanya.
Raya menghela napas dan telah memutuskan.
"Ya, sudah jangan dicari lagi dia, Ad. Mahfudz tau kamu mendatangi aku ke sini. Dia marah sekali. Sepertinya dia cemburu .... padamu."
Fuad melongo mendengarnya.
"Cemburu? Haa? Padaku?" Fuad tertawa geli. "Kenapa dia cemburu padaku? Dia kira aku menyukaimu, Kakak Ipar?"
Raya mendesah. Dia juga jadi merasa tak enak pada Fuad.
"Aku kan sudah bilang padamu kalau apa yang Mahfud suka aku tidak akan suka. Selera kami tentang tipe wanita berbeda. Ini menggelikan sekali!" katanya kesal.
"Ya, entahlah kenapa dia bisa merasa seperti itu. Mungkin ada yang melihat kita tadi di kantin dan kompor-komporin dia ...."
Raya langsung teringat pada Ali. Hanya Ali yang paling berpotensi melakukan hal serendah itu. Cuma dia tadi yang sempat melihatnya memberikan print USG pada Fuad. Ah, lelaki itu benar- benar biang kerok! Apa maunya sih?
"Terus, bagaimana? Kalian bertengkar?" tanya Fuad kepo.
"Kamu jangan khawatirkan hal itu. Kami memang selalu bertengkar dan tak lama akan baikan lagi. Tapi karena itu, aku terpaksa mengatakan tujuanmu datang ke sini. Aku memberi tau misi kita ...."
"Ahhh ...." terdengar desahan putus asa dari Fuad. "Lalu?" tanyanya.
"Raya .... Maksudku, Kakak Ipar! Aduuh, kenapa kau memutuskan segampang itu. Kamu bilang kalau menyangkut soal penindasan dan penganiayaan wanita kamu tak bisa tinggal diam? Kamu tau kondisi Ayuni? Dia sangat menyedihkan sekali tadi. Dia sedang hamil 7 bulan. Kamu pasti akan kasihan kalau melihatnya ...."
Fuad tetap berusaha membujukku agar mau meneruskan rencana kami.
"Maaf, Ad! Aku benar- benar nggak bisa lagi meneruskan ini. Kamu tau sendiri kan? Aku juga sedang hamil. Aku juga perlu memikirkan diriku sendiri. Please hentikan ini. Jangan diteruskan lagi. Kamu juga harus memikirkan Mama andai ada sesuatu yang terjadi padamu. Sudah, aku masih ada kerjaan. Aku tutup dulu teleponnya, ya?"
Raya menutup telepon itu dan membuat Fuad jadi galau sendiri. Kakak Ipar ini omongannya nggak bisa dipegang.
Ya, sudah. Kalau begitu aku juga tidak bisa meneruskan ini sendirian, pikir Fuad.
Fuad harus kembali ke rumah Om Andra untuk membatalkan menyewa kost itu sekalian mau ambil drone-nya. Toh, orang yang butuh kost itu juga sudah kabur.
Fuad kembali ke rumah itu, masuk ke kamar dan mengambil barangnya. Namun saat dia memasukkan drone ke dalam ranselnya, dia mendengar suara isak tangis. Suara siapa itu? Dari mana suara tangisan itu? Fuad melihat ke sekeliling kamar namun tak ada siapa-siapa di sana. Fuad melongok ke luar melalui jeruji jendela. Tidak jelas itu suara siapa tapi terdengar seperti suara Ayuni.
Segera dia keluar menuju ke samping rumah. Dan akhirnya Fuad menemukan Ayuni sedang duduk bersandar di belakang rumah dan membenamkan wajahnya pada lutut yang ditekuknya.
Fuad mendekat. Ayuni yang mendengar suara langkah Fuad, mengangkat wajahnya. Betapa kuyunya wajah itu. Matanya bengkak karena menangis. Dalam hati Fuad yang terdalam tersentuh melihatnya. Sekarang Fuad mencoba duduk di sebelahnya.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau melaporkan Waridi, tak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu. Aku juga sudah menelepon kakak iparku tadi. Dia bilang tidak apa-apa kalau kau tidak mau."
Ayuni tidak menjawab.
"Sekarang bilang kamu mau diantar kemana? Keluargamu, kau punya keluarga kan?"
Ayuni menggeleng. Masih sama, wajahnya masih terbenam di lututnya.
"Kalau panti asuhan tempat kamu dirawat dulu bagaimana? Ya, aku tau kamu sudah terlalu tua untuk jadi anak panti. Tapi kan mantan ibu asuhmu di sana, pasti akan mau membantumu mencarikan solusi. Minimal membiarkan kamu numpang sementara sampai kamu melahirkan di sana."
Ayuni menggeleng lagi. Dan kini mengangkat wajahnya.
"Aku tidak bisa ke panti. Dia akan mencariku ke sana. Para Ibu panti juga tidak akan percaya padaku. Mereka akan memilih percaya pada Waridi. Dia donatur tetap di panti asuhan itu" jawab Ayuni sambil menyeka air matanya.
"Jadi kau tak punya tempat tujuan?"tanya Fuad. Dia mulai galau.
Ayuni menggeleng dan kini membenamkan lagi wajahnya di lututnya. Dia menangis lagi. Fuad tak tega melihatnya. Dia menyuruh gadis itu agar bangun dari duduknya. Dia membantu Ayuni berdiri dan membimbingnya kembali ke kamar.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*
Pov Raya
Hari ini aku dapat shift pagi di rumah sakit. Mahfudz seperti janjinya padaku ingin menjadi suami dan ayah siaga, sebelum subuh sudah berangkat ke rumah sakit dan pagi setelah menyerahkan hasil follow upnya dia menjemputku sebentar dan kembali barengan ke rumah sakit denganku. Dia benar-benar bertanggungjawab sebagai suami dan ayah yang baik. Membuat aku semakin cinta saja padanya.
Aku melakukan absensi pada mesin fingerprint dan meminta pada staff daftar pasienku hari ini.
"Pasienku hari ini siapa saja?"
Alya menyerahkan beberapa map padaku. Aku memeriksanya. Ada dua jadwal tindakan secar hari ini dan satu jadwal tubektomi atau sterilisasi kandungan. Hari ini adalah jadwalku melakukan tindakan.
"Hari ini Sp.OG poli siapa, Al?" tanyaku pada Alya.
"Dr. Samuel, Dok" jawab Alya.
"Kalau dokter anastesi pagi ini ada siapa?" tanyaku.
"Dr. Firman, tapi sepertinya beliau belum datang."
Aku mengangguk. "Oh, ya sudah. Nanti kalau dr. Firman datang, beri tau saya."
"Baik, Dok!" jawab Alya.
Aku akan pergi ke ruanganku, ketika tiba- tiba salah seorang pria mencariku ke staf front liner. Sepertinya dia perawat dari departemen lain.
"Mbak, boleh tau ruangannya dr. Raya Sp.OG?" tanyanya pada Alya.
Aku menghentikan langkahku dan kembali ke situ.
"Saya dr. Raya, kenapa?"tanyaku.
Pria itu memegang sebuah kotak, sepertinya itu paket. Karena banyak lakban yang mengisolasi kotak itu agar tertutup rapat.
"Ada titipan untuk dokter" katanya sambil menyerahkan kardus paket itu.
Aku mengernyitkan keningku, bingung.
"Dari siapa?" tanyaku.
"Entahlah, tadi saya dan teman ada di warung depan rumah sakit sedang sarapan. Terus ada yang nyamperin dan minta kami memberikan titipan ini pada dr. Raya," jawabnya.
Feelingku tidak enak mendengar penjelasan mereka.
"Titipan apa?" tanyaku. Aku ragu menerimanya.
"Wah, kalau itu saya kurang tau, Dok. Orang yang tadi sih bermobil. Katanya ini cuma paket ucapan selamat atas kehamilan dr. Raya." kata perawat itu.
"Wow, dr. Raya hamil, selamat ya, Doook! Senang deh, aku dapat ponakan baru!" kata Alya girang. Dan mereka semua yang ada di front liner ini ikut girang mendengar berita kalau aku sedang hamil.
Berbeda denganku, aku gemetar menerima paket itu. Siapa kira-kira pengirimnya? Yang tau aku hamil baru orang-orang terdekat saja. Aku rasa tidak mungkin mereka memberikanku kejutan semacam ini.
Aku menerima paket itu dengan sangat hati-hati.
"Kamu perawat dari departemen mana?" tanyaku.
Aku merasa perlu mengetahui identitas perawat ini agar nanti gampang untuk mencari tau ciri-ciri pengirim kado ini jika isinya adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku teringat kado kucing mati beberapa minggu lalu yang kutemukan di lemariku.
"Saya perawat dari departemen penyakit dalam, Dok!"
Aku melihat bet namenya. Nama perawat itu Andika.
"Ok, terimakasih udah nyampein titipannya" kataku.
"Sama-sama, Dok!"
Aku sedikit menggoncang kardus itu untuk mengetahui apa kira- kira isinya. Sepertinya sesuatu yang agak berat, namun terasa agak lengket. Apa ini?
Kekhawatiranku semakin terasa menjadi-jadi saat aku memiringkan kotak itu, dari sudut kotak keluar cairan amis, seperti darah. Meski ingin muntah, tapi aku ingin segera tau apa isinya. Aku meminjam gunting pada Alya, dan segera membukanya di lantai. Mereka pun yang ada di situ penasaran pada isi pake itu.
Dan benar saja, ketika kotak itu dibuka, aku tak bisa lagi menahan mualku. Aku muntah di tempat itu juga.
Kotak itu berisi kucing mati dengan isi perut terburai. Sepertinya itu kucing hamil, karena ada beberapa embrio atau janin kucing yang sengaja di keluarkan dalam perut induknya sebelum waktunya. Janin-janin kucing itu mati dalam kondisi masih ada dalam kantong yang berisi air ketuban.
Ya Allah, perbuatan siapa ini?
__ADS_1
Seketika aku merasa lemas tak berdaya, tak bisa menghiraukan lagi sekelilingku yang jadi riuh karena penemuan itu.