
"Yah, gimana ini?" tanyaku khawatir, di perjalanan kami pulang dari Rumah Sakit Siaga Medika menuju RSIA Satya Medika.
"Bunda sendiri maunya gimana? Tadi waktu dr. Gayatri menyarankan Bunda untuk diberi Methotrexate, Bunda bilang nanti aja, sekarang malah nanya gimana? Aku sih sependapat dengan dr. Gayatri. Secepatnya kamu harus mengakhiri kehamilanmu ini, Ray. Kamu sangat tahu itu!" Mahfudz yang tadi masih memanggilku dengan panggilan Bunda kini memanggil namaku. Mungkin dia sebal karena penolakanku diberi obat Methotrexate saat berada bersama dr. Gayatri tadi.
Methotrexate merupakan obat yang bekerja untuk menghentikan pertumbuhan sel yang membelah dengan cepat. Methotrexate juga aman dan tidak memiliki risiko kerusakan tuba falopi. Namun, ini dapat menyebabkan wanita tak mengalami kehamilan selama beberapa bulan setelah minum obat ini. Cara kerja Methotrexate adalah dengan membunuh sel-sel kehamilan yang tumbuh di tuba falopi.
Pemberian obat ini dilakukan melalui suntikan dan harus melakukan tes darah secara teratur untuk memastikan bahwa obat tersebut bekerja dengan efektif. Bila berhasil, maka ini ditandai dengan munculnya gejala mirip keguguran.
"Lagian kenapa harus ngeyel sih, Ray?Kamu ini memang suka begini deh, nggak tahu membedakan kapan waktunya keras kepala kapan waktunya harus lihat situasi!" omel Mahfudz.
Aku senyum-senyum melihat kekhawatiran yang sangat terlihat jelas di wajahnya itu. Tanda dia menyayangiku, itu sudah pasti.
"E eh, apa-apaan senyum-senyum gitu?" tudingnya. "Ngolokin nih?"
"Nggak. Nggak ngolokin kok. Aku lagi keingat seseorang aja," jawabku.
"Ingat siapa? Ali?" cibirnya pura-pura judes.
"Ingat seseorang yang sayang banget sama aku dari dulu," jawabku.
"Ummik?" tebak Mahfudz lagi. Masih sambil fokus menyetir.
Aku menggeleng.
"Ummik udah pasti donk sayang sama aku. Tapi kalau ini beda. Dia tuh dokter koas di rumah sakit tempat aku kerja," kataku.
Perang gombal menggombal akan dimulai. Eaaa... ea....
Mahfudz manggut-manggut sekarang. Sepertinya dia sudah termakan umpan sekarang.
"Ohhh ... ganteng donk, ya? Mantannya Bunda?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Nggak sih. Bukan pacar, tapi dia tuh gentleman banget selamatin aku dari penjahat, sampai dia nggak menghiraukan keselamatan dia sendiri," kataku lagi.
"Emmm ... Hero donk dia, Bun?" respon Mahfudz lagi mengikuti permainan nostalgiaku.
"Hero banget. Tapi dia itu pembohong juga sih!" cibirku.
Mahfudz menyempatkan diri melirikku.
"Bohong apaan emang?" tanyanya seakan tidak terima.
"Dia ngajarin aku bahasa isyarat, katanya sih "terima kasih", eh sekalinya tau nggak apa? Bahasa isyarat yang dia bilang itu ternyata "aku sayang padamu," bisikku. "Modus banget, kan?"
Mahfudz tersipu. Ya ampun suamiku ini, begitu saja masih malu-malu.
__ADS_1
"Bukan modus, itu sayang beneran kali, Bun," katanya seolah ia sedang membela orang lain yang aku ceritakan. "Terus gimana? Lanjut donk ceritanya!"
Aku mengangguk.
"He em. Sayang banget dia memang. Dari dulu hingga sekarang, dia masih orang yang paling menyayangi aku setelah Ummik," kataku.
Aku merasa ada sesuatu yang akan jatuh dari pelupuk mataku. Ini membuatku terharu.
"Dia selalu menerimaku apa adanya," ucapku. Dan kini aku menghirup napasku dalam-dalam, mencegah cairan itu keluar dari hidungku.
Mahfudz melepaskan sebelah tangannya dari setir dan mengelus lenganku untuk menenangkanku.
"Itu karena Bunda juga menerima dia apa adanya. Dia juga banyak kekurangan, kalau Bunda lupa ayah akan ingatkan, dulu dia tidak bisa berbicara dengan lancar," katanya dengan suara yang juga semakin berat.
Aku menggeleng.
"Tidak, kau duluan yang menerima aku apa adanya, Fud!" bantahku. "Seringkali aku tidak memahami kesulitanmu, tapi kau selalu bersabar denganku."
Kini permainan nostalgia itu sudah berubah mengharu biru. Kini Mahfudz memilih meminggirkan mobil di pinggir jalan yang sepi.
"Ray, kalau kau lupa, aku tidak sebaik itu. Aku pernah membuat kita kehilangan Annisa," akunya.
Dan mendengar itu tangisku semakin pecah. Kehilangan Annisa adalah salah satu yang paling membuatku terpukul dalam hidup setelah kematian Abah.
"Justru itu, Fud! Aku merasa tidak tega membunuh darah dagingku sendiri," kataku di sela tangisku.
"Sayang, Ray... Berpikirlah objektif. Dia belum menjadi darah daging. Kamu adalah tenaga medis. Kamu sangat tahu apa yang akan terjadi kalau sel telur yang berhasil dibuahi tumbuh di tuba falopi. Ini bukan sesuatu yang harus aku ajari ke kamu, kan Ray? Kamu lebih senior untuk masalah obgyn. Ini bidang profesimu. Jadi jangan sampai kamu punya pikiran untuk mempertahankan kehamilan kamu itu," kata Mahfudz tegas.
Aku terdiam. Mahfudz tak bisa dibohongi soal hal ini. Dia sepertinya sudah dapat menebak pikiranku.
"Fud, aku hanya berpikir untuk menunda sementara waktu Methotrexate. Entah kenapa aku masih punya harapan sel janin bisa masuk ke rahim. Aku juga nggak mengalami pendarahan , kan? Nggak ngeflek juga. Kita tunggu seminggu dua minggu lagi, Yah. Kalau memang sel janinnya tetap nggak mau keluar dari tuba falopi, nggak apa-apa aku mau kok
disuntik Methotrexate," kataku.
Mahfudz menggeleng.
"Bun! Semakin cepat diberikan Methotrexate, semakin baik, jangan dilama-lamain. Tuba falopi kamu bisa pecah nanti! Please deh jangan ngeyel!" kata Mahfudz sebal.
Aku menghela napas.
"Ayah bilang, ayah mau ngasih Yaya adek," kataku.
Mahfudz semakin kesal mendengar kata-kataku.
"Gara-gara itu Bunda sengaja ingin mempertahankan kehamilan ini? Ya Tuhan, Bun .... Aku itu nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, Sayaaang. Udah deh, kalau kata-kataku yang kemarin membuatmu terbebani, aku tarik kembali kata-kataku. Aku nggak mau punya anak lagi, Ray. Haikal dan Yaya cukup buatku. Udah? Puas?" katanya jengkel.
__ADS_1
"Dulu waktu aku hamil Haikal, kamu juga hampir menyarankan aku untuk aborsi, iya kan, Ayah?" tanyaku sambil menyeka air mataku yang mulai mengering.
"Itu nggak sama, Sayang!" bantahnya.
"Sama! Itu juga kehamilan beresiko, dan aku mempertahankannya, hingga sekarang Haikal ada bersama kita," bantahku tak mau kalah.
Mahfudz geleng-geleng kepala.
"Kasus kehamilan di luar kandungan yang bertahan hingga bayinya berhasil lahir ke dunia adalah kasus langka, dan itu hanya terjadi di beberapa kasus saja di dunia," kataku.
"Bagaimana kalau aku termasuk salah satunya?"
"Haaa?" Mahfudz semakin membelalakkan matanya. Kali ini ia terlihat marah, sangat marah.
"Jangan pernah berpikir hal seperti itu akan terjadi.Tidak! Aku tidak setuju, Ray! Secepatnya aku mau kamu akhiri kehamilanmu itu sesegera mungkin! Kalau perlu hari ini!" katanya dengan tegas.
Aku menghela napas dalam. Aku tahu kalau sudah semarah ini Mahfudz tidak akan bisa dibujuk lagi.
"Beri aku dua minggu," pintaku.
"Nggak!" tolaknya tegas.
"Seminggu," tawarku.
"Kamu itu menunggu apa, Ray. Untuk proses kehamilan normal, sel janin hanya berada di tuba falopi selama 3 hari saja sejak dua hari. Dan kamu mau aku menunggu sampai dua minggu? Sampai tuba falopimu pecah dan membahayakan jiwa?! Haaa?"
"Tiga hari ...." tawarku lirih.
"Ray ..." Mahfudz semakin sebal sepertinya.
"Dua hari, Yah. Please ...," bujukku untuk terakhir kali. "Setidaknya aku butuh waktu mempersiapkan diri ...."
"Kamu itu, ya ...." Mahfud terlihat gemas padaku.
"Dua hari ...." kataku lagi.
"Oke, dua hari. Setelah itu nggak ada alasan lagi. Titik!"
Aku mengangguk, dan menyeka lagi sisa air mata yang basah di pelupuk mataku.
"Makasih, Ayah ..." ucapku.
Mahfudz tak menjawab, ia kembali menyalakan mesin mobil untuk melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda.
****
__ADS_1
Hai, hai ... Lama ya nunggu updatenya? Kalau kangen othor ke K B M yuk... ada novel baru author di sana. Kalau like dan komentnya semangat author akan rajin update disini. Tapi kalau lesu, malas othor up di sini dah... 😂