
Pov Mahfudz
Aku sedang membaca buku kapita selekta kedokteran saat Raya mendekatiku dan duduk bersimpuh di sebelahku. Kami duduk di lantai yang dialasi ambal karakter berbahan rasfur.
Aku tadi memilih untuk duduk dibawah, daripada di atas tempat tidur bersamanya. Karena jika berada di atas kasur itu bersamanya, aku tidak bisa menahan gejolak rasa ingin mengulangi moment seperti pagi kemarin. Sementara Raya masih menunjukkan keengganannya melakukannya lagi.
"Fud...." panggilnya.
"Hmmmm...." sahutku tanpa melihat ke arahnya.
"Kupikir-pikir sebaiknya kamu ikut rotasi aja deh ke rumah sakit jejaring...." katanya hati-hati.
"Ke-na-pa?" tanyaku sambil menutup bukuku. Aku kurang senang mendengarnya ingin aku pergi ke rumah sakit jejaring.
Dia menangkap ketidaksenanganku. "Aku cuma tidak ingin menghalangi perjalanan koasmu, Fud. Kamu juga butuh banyak pengalaman. Pergilah ke rumah sakit jejaring, kejar ilmu sampai dapat"kataku.
"Di ru-mah sa-kit Si-aga Me-di-ka ju-ga ban-yak il-mu dan pe-nga-la-man" bantahku. "Ka-mu i-ngin a-ku per-gi ka-ren-a i-ngin me-ngu-sir-ku?"
"Ya, ampun ya nggaklah. Masa iya aku mengusir suamiku sendiri?"jawabnya.
"Ka-mu nggak rin-du ka-lau a-ku per-gi?"tanyaku.
Wajahnya merona merah karena pertanyaanku.
"Ya, rindulah. Tapi ini kan cuma dua minggu, Fud...."
Aku sudah tidak tahan lagi untuk mencium bibirnya yang bawel itu. Aku akan melancarkan serangan kedua malam ini.
Raya sudah mulai terbiasa dengan ciumanku sepertinya. Dia tak lagi kaget. Sesekali dia malah terlihat menikmatinya.
"Ka-lau rin-du ke-na-pa me-nyu-ruh-ku per-gi?" Aku melepaskan ciumanku.
"Aku.... cuma ...."
Aku tak tahan lagi. Aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Ayo, kita lakukan lagi, Ray. Proses fertilisasi yang bisa memenuhi misi Ummik untuk memiliki cucu secepatnya.
Karena itulah, aku memohon pada dr. Harun untuk mengijinkanku tinggal bersama istriku daripada tinggal di rumah sakit bersama anak koas lain. Aku janji akan sampai tepat waktu untuk memfollow up pasien subuh. Kehidupan pengantin baru itu aku tak menyangka seberat ini. Sulit menahan naluri kelelakian ini untuk tidak menginginkannya terus. Apalagi dengan istri secantik Raya. Sejak menjadi suaminya aku sudah seperti lelaki mesum yang selalu menginginkannya. Padahal dulu sebelum menikah aku tidak pernah membayangkan kalau aku bisa senakal ini.
Ciumanku semakin lama semakin panas sampai Raya seperti kewalahan menghadapiku. Namun ketika aku mulai menyentuh area sensitifnya dia mulai menepis tanganku. Dan saat aku mulai membuka kancing piyama yang dikenakannya. Dia akhirnya menunjukkan penolakannya.
"Sudah, Fud!"tolaknya. Dia tak berani melihatku.
"Ke-na-pa?" tanyaku mulai tak senang. Aku mulai mengatur napasku yang mulai tak beraturan.
"A-ku belum siap melakukannya lagi."
"Ti-dak si-ap ke-na-pa? Ki-ta su-dah per-nah se-be-lum-nya me-la-ku-kan-nya kan?"
"Bukan kita. Kamu sendiri yang melakukannya waktu itu. Bukan hubungan seperti kemarin itu yang aku inginkan. Aku tidak ingin melakukannya karena dipaksa. Aku ingin kita sama-sama bisa menikmati hubungan seperti ini satu sama lain."
"Ka-lau be-gi-tu, co-ba-lah un-tuk me-nik-ma-ti-nya...." kataku simple.
Aku kembali menarik tubuhnya ke dalam pelukanku, menciumnya setengah memaksa sampai pada akhirnya dia mendorongku dengan sangat kuat.
"Fud!!!! Sudah kubilang aku tidak mau! Aku tidak mau dipaksa seperti itu. Aku merasa seperti diperkosa olehmu. Aku tidak suka!" teriaknya sambil naik ke tempat tidur
Namun seketika dia menutup mulutnya. Mungkin takut Ummik mendengar. Namun aku memperkirakan Ummik pasti mendengarnya.
Aku menghela napas.
"A-ku ti-dak tau ka-mu a-kan me-ra-sa se-per-ti i-tu, Ray! Ka-mu me-ra-sa se-per-ti ku per-ko-sa?"
Sampai disitu aku menghentikan kata-kataku. Aku merasa seperti orang paling jahat di dunia. Istriku sendiri merasa seperti diperkosa olehku. Bukankah itu ungkapan yang sangat berlebihan.
Raya terdiam. Dia tak menjawabku. Membuat aku semakin emosi tak karuan. Aku juga kecewa padamu, Ray.
"Ma-af, ka-lau mem-bu-at-mu me-ra-sa se-per-ti ku per-ko-sa. I-tu pas-ti ra-sa-nya sa-ngat bu-ruk se-ka-li. A-ku ki-ra pe-nga-la-man per-ta-ma ki-ta i-tu in-dah bu-at ki-ta ber-du-a. Ter-nya-ta cu-ma a-ku yang me-ra-sa-kan-nya sen-di-ri-an se-per-ti o-rang bo-doh. En-tah ka-mu me-ngang-gap-ku a-pa sam-pai ka-mu ti-dak bi-sa me-nik-ma-ti-nya, ta-pi yang je-las ka-mu ti-dak mem-per-ca-ya-kan di-ri-mu se-u-tuh-nya pa-da-ku, Ray. A-ku ke-ce-wa"
"Fud, malam pertama itu penting buatku. Kamu merenggutnya sesukamu. Kamu memperlakukanku sesukamu. Kamu bahkan tidak peduli betapa aku sangat kesakitan kan? Kamu hanya mementingkan egomu sebagai lelaki!" tuduhnya.
Aku benar-benar tidak menyangka sedangkal itu pemikiranmu padaku, Ray!
"Se-be-ra-pa pen-ting ma-lam per-ta-ma bu-at-mu di-ban-ding'kan hu-bu-ngan per-ni-ka-han ki-ta? Ha-nya ka-re-na sa-tu ma-lam ka-mu sam-pai me-ngor-ban-kan ba-nyak ma-lam-ma-lam be-ri-kut-nya? En-tah ba-gi o-rang la-in, ta-pi ba-gi-ku i-tu ha-nya pro-ses me-nying-kir-kan se-la-put da-ra. Bah-kan ka-lau pun sa-at i-tu ka-mu ti-dak pe-ra-wan la-gi, Ray. A-ku ti-dak a-kan me-ri-but-kan i-tu."
Aku melihat Raya sejenak. Dia menunduk. Dia menangis.
Ta-pi se-ka-rang li-hatl-ah? A-pa yang ka-mu ri-but-kan? Ra-sa sa-kit? Se-sa-kit a-pa, Ray? A-pa-kah ki-ra-ki-ra le-bih sa-kit da-ri me-la-hir-kan?A-ku ra-sa ti-dak! Ka-lau be-gi-tu a-pa-kah i-tu be-rar-ti ka-mu ti-dak mau me-la-hir-kan a-nak-ku? A-nak ki-ta? Cu-cu-nya Um-mik?"
Raya makin menunduk. Dia membenamkan wajahnya pada bantal guling yang kini ada di pelukannya. Terdengar isak tangisnya.
"Ka-mu bi-lang a-ku e-go-is, e-go-is di-ma-na-nya, Ray? A-ku su-dah be-ru-sa-ha me-nye-nang-kan di-ri-mu se-be-lum me-la-ku-kan-nya. Ta-pi ka-lau ka-mu yang ti-dak mau me-nye-rah-kan di-ri-mu se-u-tuh-nya a-ku bi-sa a-pa?"
Aku mulai melunak melihatnya yang menangis sesenggukan.
"Ka-mu meng-i-ngin-kan a-ku ro-ta-si ke ru-mah sa-kit je-ja-ring kan? Ba-ik-lah a-ku a-kan per-gi. A-ku a-kan bi-lang pa-da pro-fes-sor be-sok. Se-la-ma bel-um be-rang-kat se-ba-iknya a-ku ting-gal di ka-mar ko-as ru-mah sa-kit sa-ja."
"Fud, bukan begitu maksudku. Aku bilang begitu bukan ingin mengusirmu" rengek Raya.
Dia dengan wajah manjanya akan segera meluluhkanku lagi kalau aku tidak segera pergi dari sini. Aku segera mengambil beberapa baju dari dalam lemari dan memasukkannya ke tas ranselku.
Raya bangkit dari tempat tidur dan menghampiriku. Dia merebut tas itu dariku.
"Jangan lakukan ini padaku, Fud! Aku tidak pernah mengusirmu. Aku cuma ingin kamu bersabar sedikit lagi sampai aku benar-benar siap lagi melakukannya" bujuknya.
"Ka-mu me-mang ti-dak me-ngu-sir-ku, Ray. Ta-pi a-ku me-ra-sa ti-dak nya-man dengan si-tu-a-si i-ni. A-ku me-min-ta pa-da dok-ter Ha-run un-tuk mengi-jin-kan-ku ting-gal ber-sa-ma is-tri-ku. A-ku ki-ra ki-ta bi-sa hi-dup la-yak-nya pa-su-tri la-in. Ta-pi ka-mu mem-bu-at-ku se-per-ti o-rang bo-doh di-si-ni"
"Fud...."
__ADS_1
Aku tersenyum miris saat menyadari sesuatu.
"Ka-mu se-la-lu me-mang-gil na-ma-ku. Fud, Mah-fudz.... Bah-kan sa-at ki-ta ha-nya ber-dua-an. Ta-pi di de-pan dr. A-li ka-mu me-mang-gil-ku sa-yang de-ngan gam-pang se-ka-li. Ka-mu i-ngin mem-bu-at-nya cem-bu-ru, Ray?"
Raya menggeleng frustasi.
Aku tertawa tak kalah frustasi.
"Ka-lau ka-mu i-ngin mem-bu-at-nya cem-bu-ru, be-rar-ti ka-mu ma-sih sa-yang pa-da-nya. Ka-lau me-mang be-gi-tu ha-rus-nya ka-mu tak per-lu me-ni-kah de-ngan-ku. Ke-na-pa ti-dak me-ni-kah de-ngan-nya ke-ma-rin? Di-a ju-ga su-dah du-da. Pan-tas ka-mu me-nye-sa-li pe-nga-la-man per-ta-ma ki-ta. Mung-kin kah ka-mu i-ngin di-a yang a-da di po-si-si-ku wak-tu i-tu?"tanyaku sinis.
Sebuah tamparan mendarat di pipiku.
"Kamu ngomong sangat keterlaluan. Kamu pikir aku semurahan itu? Kalau mau pergi, pergi saja. Tapi tak perlu menghinaku seperti itu. Kamu pikir semurah apa aku sampai membayangkan orang lain yang bukan suamiku tidur denganku? Kalau mau pergi, pergilah sana."
Kamu berani memukul suamimu sekarang. Ya, sudah. Aku pergi saja sekarang.
Aku melangkahkan kaki keluar dari kamar. Di luar sudah menunggu Ummik.
Beliau tersenyum padaku. Sosok keibuan yang rasional. Tidak hanya bisa membela anak perempuannya saja.
"Kalau sedang bertengkar sebaiknya jangan pernah meninggalkan rumah, Nak!"katanya.
"Mah-fudz cu-ma ke ru-mah sa-kit, Mik. Nggak ke-ma-na-ma-na"
\*\*\*\*\*
Dua hari sudah Mahfudz tidak tidur di rumah. Dia sungguh-sungguh minggat dari rumah. Kekanak-kanakan sekali kan? Dia pergi hanya karena aku tak mau melayaninya di ranjang. Sementara itu Ummik heran kenapa aku tidak masuk kerja lagi padahal kemarin aku ke rumah sakit memang tidak ingin kerja.
Aku hanya ingin mengetahui siapa pengirim bangkai kucing itu. Di luar dugaanku, dia adalah Ali, walaupun dia tidak mengakuinya. Pikirku mana ada sih penjahat yang mau ngaku? Kalau mau ngaku sudah pasti penjara bakal penuh.
Hari ini Hawa mendatangiku di rumah. Dia tau aku cuti nikah seminggu.
Aku mengajaknya untuk ngobrol di kamarku saja tapi dia menolaknya.
"Kamar ini kan udah jadi area yang sangat pribadi sama kamu dan Mahfudz, nggak enak aku. Yuk kita ngobrol di luar aja" ajaknya.
Kami akhirnya memilih teras samping di sebelah kolam ikan Ummik sebagai tempat untuk ngobrol.
"Gimana, gimana? Sukses nggak?"tanyanya.
Dia pasti masih penasaran soal kelanjutan malam pertama. Aku heran, kenapa bagi banyak orang itu sangat menarik.
Aku menarik napasku dalam-dalam. Memilih untuk tak menjawabnya.
"Belum lagi?"tanyanya dengan nada frustasi.
Aku mendesah dengan napas panjang sambil mengambil tempat pelet (makanan ikan) dari bawah kursi tempat kami duduk. Aku melempar beberapa makanan ikan itu ke dalam kolam ikan.
"Sudah" jawabku singkat.
"Mahfudz pergi, Wa. Dia bilang dia lebih baik tidur di kamar koas rumah sakit."
"Haaaa? Kok bisa?"pekik Hawa histeris. "Maksudmu, kalian melewatkan malam pertama gitu, terus dia mencampakkanmu gitu? Kurang ajar Mahfud itu!" teriaknya marah. Aku sampai membekap mulutnya agar tidak kedengaran Ummik.
"Bukan, Wa! Dia marah padaku karena aku menolak melakukannya kedua kalinya" bisikku takut ada yang mendengar.
Aku menceritakan semua pada Hawa. Sebenarnya itu aib. Tapi aku dan Hawa sudah biasa saling bertukar cerita dan berbagi masalah.
"Aku benar-benar tak percaya aku punya teman sesinting ini! Apa yang kamu ributkan sih, Ray? Aku rasa Mahfudz tak bermaksud memaksamu. Kamulah yang merasa terpaksa melakukannya. Artinya kamu nggak ikhlas melakukannya lillahi ta'ala. Yang berarti yang nggak bener itu ya kamu. Jujur saja, dulu mas Ibrahim juga memaksaku melakukannya pertama kali. Aku rasa semua pasangan seperti itu kok. Pasti yang cowok yang agresif duluan. Kalau nurutin cewek terus yang rada pemalu dan gengsian kayak kamu. Ya nggak bakalan pernah jadi tuh MP sampai lebaran monyet juga"
Aku meringis mendengar ceramah Hawa. Semakin aku merasa bersalah sekarang.
"Apa susahnya sih, Ray melakukan yang kedua kali. Yang susah itu kan yang pertama kali. Dan kamu sudah melewatinya. Kamu cuma perlu rebahan, kalau kamu takut ya merem aja. Nanti juga selesai kok. Sakitnya juga nggak akan terasa lagi. Kamu kok bikin yang mudah jadi rumit begini. Kamu gimana sih? Aduhh, hidupmu kok dibikin ribet, Bu. Kasihan Mahfudz. Punya istri kok rada-rada oleng kayak begini. Jadi gemes aku. Aiss...."
Hawa geleng-geleng kepala memikirkannya. Aku hanya bisa meringis sekarang.
\*\*\*\*\*\*
"Pasien selanjutnya, Win!"
Hari ini aku kembali masuk kerja. Cuti nikah yang kuambil selama 7 hari sudah selesai.
"Dok, kata pasiennya mereka giliran terakhir aja, Dok!"kata Winda.
Aku mengernyitkan keningku dengan sangat heran. Dimana-mana orang pengennya cepat-cepat pengen dapat giliran pertama. Ini malah pengen dapat giliran terakhir. Padahal antrian masih banyak.
"Pasien hamilkah?"tanyaku.
"Pasutri, Dok! Mungkin ingin promil. Kelihatannya sih ibunya nggak hamil, aku mau anamnesa ibunya nggak mau. Katanya cuma mau konsul biasa" jawab Winda.
"Oh, ya udah. Panggil pasien berikutnya aja kalau begitu"kataku.
Setelah memeriksa pasien-pasien itu selama kurang dari 1,5 jam. Akhirnya tiba juga giliran pasien terakhir.
"Ibu Nelly Susanti" panggil Winda.
Pasien terakhir yang dipanggil ternyata adalah pasutri yang masih sangat muda. Apa mereka mau promil?pikirku. Tapi kan mereka masih muda. Masih punya banyak waktu untuk memiliki keturunan secara alami?
"Silahkan duduk, Bu!"
Aku mempersilahkan dengan ramah. Meski usianya jauh lebih muda. Aku tetap harus memanggilnya ibu sebagaimana ke pasien lain.
Keduanya duduk. Saling pandang sebentar.
"Dok, kita bisa ngobrol bertiga aja?" tanya suaminya.
Aku melirik ke kanan kiriku heran. Namun kemudian aku paham kalau pasutri ini ingin konsultasi hal yang sangat pribadi denganku. Karena itu aku menyuruh anak-anak koas dan akbid keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Win, bawa anak-anak keluar dulu. Bapak ibunya mau konsultasi hal yang sangat pribadi, benar begitu Pak, Bu?" tanyaku pada pasien di depanku ini. Mereka mengangguk.
Winda kemudian meninggalkan ruangan dengan anak-anak lain sehingga ruangan ini pun menjadi sepi hanya ada kami bertiga dengan pasien.
"Jadi, ada masalah apa Pak, Bu?"tanyaku.
"Begini, Dok! Kami mau konsultasi."
"Hmmm....Baik. Bapak Ibu mau konsultasi apa?" tanyaku dalam posisi yang siap mendengarkan.
"Saya dan istri saya baru menikah 2 bulan yang lalu, Dokter."
Ooo, pengantin baru pikirku.
"Dokter tau sendirilah, aktivitas yang dilakukan setelah pesta pernikahan. Pasti malam pertama donk, Dok! Dokter juga pengantin baru kan? Pasti paham donk. Karena itu kami kesini. Mendengar dr. Raya melangsungkan pernikahan, kami tau dari teman yang bekerja disini, Dok! Kami sudah berencana niat konsul ke dokter tapi dokter baru masuk hari ini. Soalnya dokter sebagai dr. Obgyn apalagi pengantin baru pasti pahamlah masalah hubungan pasutri baru, ya kan, Dok?"
Krik...krik....krik....
Mengarah kemana pembicaraan ini? Aku mulai gelisah.
"Lalu, masalahnya dimana?" tanyaku to the point.
"Masalahnya sejak melakukan hubungan pasutri pertama kali, istri saya sampai hari ini nggak mau lagi saya ajak begituan, Dok! Sudah 2 bulan, Dok! Bayangkan. Saya mencintai istri saya, Dok! Saya tidak ingin bercerai. Makanya saya ingin konsultasi agar dapat solusinya dari Dokter" kata suaminya.
Aku bengong mendengarnya. Ini mah seperti apa yang kualami. Tapi aku harus professional sebagai seorang Dokter.
"Kenapa Ibu tidak mau, Bu?" Aku bertanya pada Bu Nelly.
"Aku takut melakukannya lagi, Dok! Aku trauma. Suamiku melakukannya saat pertama kali tidak sabaran, dia terburu-buru. Rasanya sangat menyakitkan, sakit fisik dan perasaanku juga"
Aku mengelus tangan Bu Nelly di atas meja seakan memberinya kekuatan. Aku merasakan yang kamu rasakan, Bu, kataku dalam hati.
"Saya bukan nggak sabaran, Dok! Kami sudah menunda berhari-hari tetap saja dia tak berani melakukannya. Ya saya kan harus berinisiatif melakukannya. Walaupun harus sedikit memaksa" Suaminya kini membela diri.
Aduh, ini persis yang kualami saat ini. Apa yang harus kukatakan pada mereka ya? Sesuatu yang bijak dan bisa memberi solusi pada mereka.
"Ibu Nelly, saya mengerti perasaan Ibu yang ingin memiliki malam pertama yang indah seperti yang sering diangan-angankan sewaktu masih gadis. Semua gadis ingin malam pertama yang indah berkesan. Tapi jangan juga hanya karena satu malam pertama saja jadi merusak banyak malam-malam berikutnya. Ibu menikah sudah dua bulan, hanya karena satu malam lebih dari 50 malam hilang berlalu tanpa kesan apa-apa. Apa Ibu mau membuang banyak waktu seperti ini dengan dengan suami?"
Please deh Raya, kamu sok bijaksana sekali. Kamu pun begitu ke Mahfudz, omelku dalam hati.
Ibu Nelly menggeleng. Kepalanya menunduk.
"Kita ubah pola pikir Ibu aja dulu. Kita buat mudah dan simple. Prosesi malam pertama saat melepaskan keperawanan itu hanya proses menyingkirkan selaput dara saja, Bu! Berpikirlah sesederhana itu. Ibarat itu suatu produk, itu hanya suatu segel untuk menjamin kualitas di dalamnya. Tapi tetap saja isinya yang lebih pentingkan, Bu? Mungkin cara Bapak membuka segel itu agak kasar, maafkanlah dia. Yang penting kalian sudah melewati prosesi itu. Tinggal menikmati masa-masa indahnya pengantin baru. Berikanlah suami Ibu kesempatan melakukannya lagi, aga dia bisa melakulan yang terbaik" kataku dengan bijak sekali.
Dalam hati aku meringis, betapa mudahnya aku menasehati orang lain tapi aku sendiri dzolim pada suamiku. Aku bahkan mengutip kata-katanya.
"Dan buat Bapak, jika melakukannya lagi. Tolong lakukanlah dengan lebih sabar. Atur lagi jadwal agar bisa berduaan. Lakukan dengan penuh perasaan. Foreplay yang cukup agar si Ibu merasa nyaman dan terlubrikasi lebih baik. Setelah itu proses penetrasi bisa dilakukan. Mudah-mudahan rasanya tidak akan menyakitkan di Ibunya sehingga tidak akan meninggalkan rasa trauma lagi" kataku.
Pasutri ini mengangguk dan mengakhiri konsultasinya dengan hati yang lega.
Aku juga lega sesi konsultasi ini sedikit banyak memberi hikmah juga pada kesulitan dan masalahku.
Aku harus menghubungi Mahfud. Aku harus meminta maaf dan mulai memperbaiki ini semua dari awal.
Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan pada Mahfudz.
[Sayang, kamu masih marah padaku?]
[Pulang ke rumah, yuk? Ummik kangen sama menantunya]
Mahfudz membacanya namun tak membalasnya.
Aku menghela napas. Dia sepertinya marah sekali padaku.
[Sayang, ternyata aku yang kangen, gimana donk?"
Aku melihat chatku centang biru lagi, namun tetap cuma diread doank.
[Sayang]
[Maaf, sayang]
[Sayang]
[Sayaaaaaaaaang]
[Aku akan tetap mengirimmu pesan sayang kalau kamu tidak mau balas chatku]
Lama baru chatku dibalas.
[Nggak usah bilang sayang kalau cuma bullshit doank]
Aku tersenyum. Aduhhh sayangku Mahfudz lagi ngambek. Manisnya....
[Aku bilang sayang karena aku benar-benar sayang, sumpah! Baikan yukk 😘]
[Nggak!]
[Ayolah, baikan sayang. Aku rindu suamiku]
[Yank.... I love you]
[Sayang....]
Mahfud tak membalas lagi.
Hadeh, ternyata sesulit itu membujuk orang yang lagi ngambek. Kini aku mengerti betapa sabarnya Mahfudz selama ini padaku.
__ADS_1