I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Tawaran Jadi Host


__ADS_3

#Lauhul_Mahfudz


#season4


Part 20


"Kau sudah bangun?" tanya Akbar pada sosok pria yang sedang mengerjap- ngerjapkan matanya sambil memijat- minat pelipisnya.


Alex menoleh pada Akbar yang duduk tenang dengan manis di atas sofa. Ahh, apa yang terjadi? Alex masih berusaha mengumpulkan sepenuhnya kesadarannya. Dia menyingkap selimut yang menutup separuh tubuhnya. Ahhh, sial! Apa yang sebenarnya terjadi. Dia ingat persis, kemarin dia pergi bersama seorang wanita penggoda bernama Lucy, namun sekarang dia sama sekali tidak ingat apa pun, namun kondisinya yang tidak mengenakan sehelai benang pun membuatnya bertanya- tanya dalam hati apa yang sesungguhnya terjadi.


"Kau ingat siapa aku?" tanya Akbar pada Alex yang masih memilih untuk diam.


"Akbar, apa maumu?" tanya Alex tajam.


Instingnya sebagai polisi kini tau kalau kini dia tengah dijebak. Tentu dia kenal Akbar. Kaki tangan Waridi, wakil Walikota yang kerap kali bertemu dengan Kapolres untuk kepentingan- kepentingan tertentu. Karena itu ia kadang- kadang bertemu dengan Akbar meski tak saling bertegur sapa.


"Mauku sederhana. Pertemukan aku dengan seseorang tahanan istimewanya Waridi bernama Anton," kata Akbar to the point.


Alex tersenyum sambil meraih selimut dan mencari beberapa potong pakaiannya yang tergeletak di lantai.


"Kenapa tidak langsung ke rutan saja? Kenapa harus melalui aku? Aku rasa pegawai rutan akan dengan sukarela mempertemukan kau dengan orang itu kalau kau menyebutkan nama Waridi. Jadi apa yang terjadi?" pancingnya.


"Kalau aku bisa melakukan itu, aku tidak akan repot- repot melakukan semua ini," jawab Akbar santai.


"Jadi kalau begitu, kau melakukan semua ini bukan dengan sepengetahuan Waridi, lalu kau bekerja untuk siapa?" tanya Alex.


"Yaaah, kau benar. Aku memang sudah tidak bekerja lagi dengan Waridi. Sekarang aku bekerja untuk diriku sendiri. Lalu Alex, bisakah sekarang aku meminta bantuanmu baik- baik?" tanya Akbar dengan tenang.


"Kalau tidak bisa, bagaimana?"


Akbar tersenyum tipis.


"Kalau tidak, yah terpaksa Vidio dan foto- fotomu mungkin akan kukirim ke media. Itu pasti akan sedikit membuatmu repot, atau mungkin kau bisa saja akan kehilangan pekerjaanmu sebagai polisi."


"Kau berani sekali mengancam polisi, hmmm?"


"Seperti kau, berani sekali berselingkuh di belakang istrimu, Pak Ajudan. Aku tidak memaksamu. Aku hanya menawarkan sebuah kesepakatan. Tidak sulit bukan mempertemukan aku dengan orang itu? Hanya mempertemukan. Kalau kau tidak bersedia juga tidak apa- apa. Kalau Kapolres atau media tidak tertarik pada vidio dan fotomu ini, mungkin istrimu dan mertuamu tertarik? Siapa yang tau kan?"


"Brengsek ...." umpat Alex geram.


Akbar hanya menanggapinya dengan tawa renyah.


"Baiklah, sepertinya kamu setuju. Bisa kamu atur agar aku bisa bertemu dengannya sekarang?"


Alex mendelik dengan jengkel, namun dia tidak bisa berbuat apa- apa.


"Baiklah, tapi sebelumnya belikan aku sarapan dulu. Aku lapar."


Beberapa jam kemudian di sebuah lembaga pemasyarakatan,


"Jadi kamu siapa? Ada keperluan apa denganku? Sepertinya aku tidak mengenalmu," tanya Anton.


Akbar hanya tersenyum.


"Benar- benar mirip. Aku tidak menyangka psikopat itu sanggup memikirkan hal semacam ini. Dia sungguh- sungguh membuatmu agar mirip Mahfudz?" tanya Akbar masih dengan nada tidak percaya.


Dia melihat memang banyak kemiripan antara Anton dengan kembar Mahfudz-Fuad andai tidak ada bekas sayatan yang ditoreh Fuad di wajahnya


Anton memasang wajah jengkel.


"Aku tidak tau kau berada dari pihak Waridi atau dokter bisu itu, tapi kalau kau datang ke sini hanya untuk mengejek dan menyaksikan penderitaan ku, sebaiknya kau pergi saja," kata Anton seraya ingin bangkit dari tempat duduknya.


"Duduklah, jangan terburu- buru. Kalau aku bilang aku berada di pihak yang sama denganmu, bagaimana?"


Anton sepertinya mulai tertarik mendengar Akbar yang mulai bicara tentang topik pembicaraan. Dia urung pergi.


"Berada di pihak yang sama?"


"Hmmm, benar," jawab Akbar membenarkan.


"Bisa tolong perjelas maksudnya bagaimana?"


Akbar menatapnya penuh makna.


"Kau berada di penjara ini karena membantu Waridi bukan? Dan begitu kau terperangkap, dia sama sekali tak mau membantumu. Bukankah begitu?" pancing Akbar.


"Ya, benar, lalu?"


"Kau sama sekali tidak ingin membalasnya? Yah, wallaupun kau sudah menerima bayarannya bukankah menurutmu tetap tidak adil kalau dia membiarkanmu membusuk di penjara? Apa gunanya uang yang banyak, kalau kau tidak bisa menikmatinya?"


"Sepertinya kau salah mengenai hal ini," jawab Anton. "Waridi belum membayarku seutuhnya. Dia baru membayar sebagian. Dan yang kudengar saat dia berkunjung kesini, tanah yang kubeli dari uang yang diberikannya, telah dia sita kembali. Boleh dibilang dia sama sekali tidak membayarku."


Waridi yang licik, kekeh Akbar dalam hati.


"Lalu, kau masih merasa kalau ini adil?"


"Dibilang adil, memang tidak. Lalu aku bisa berbuat apa?" tanya nya pesimis.


"Kau bisa membalasnya. Kita bisa membalasnya bersama. Kita jatuhkan dia, sampai terperosok ke jurang yang dalam dan tidak bisa bangkit lagi, bagaimana?" desak Akbar langsung pada intinya.


"Caranya?"


"Bantu aku. Aku butuh satu informasi darimu."


Anton tertawa terkekeh-kekeh.


"Aku tidak tau kau ada masalah apa dengannya. Tapi sepertinya informasi yang akan kuberikan adalah informasi penting, bukankah begitu?" tanyanya masih dengan tawa angkuh.


"Yap. Betul."


"Kalau begitu itu berarti informasi yang akan kuberikan adalah sesuatu yang berharga, benar?"


Akbar mencium bau- bau kelicikan dalam kata- kata Anton. Akbar mengernyitkan keningnya.


"Apa yang kau minta?" tanya Akbar langsung tanpa basa- basi.


"Kebebasanku dari penjara ini? Kau bisa mengeluarkan aku dari sini?"

__ADS_1


Akbar tersenyum sinis. Berani- beraninya dia meminta kebebasan setelah apa yang dilakukannya pada dr. Raya. Akbar sudah mengetahui apa yang telah menimpa dr. Raya dari cerita Mahfudz. Sekalipun Akbar punya kemampuan mengabulkan permintaan Anton tentu dia juga tidak akan sudi mengabulkan permintaan orang yang telah mencelakai penyelamat istrinya, bahkan sekalipun orang itu bukan dr. Raya.


"Maaf sekali, kalau itu aku tidak bisa." jawab Akbar. "Aku tidak punya kekuasaan seperti Waridi yang bisa membalikkan hukum."


"Jadi kau tidak bisa?" kata Anton kecewa. "Kalau begitu lupakan saja, aku tidak bisa membantumu." tolaknya ketus.


Akbar mengangkat bahunya dan bangkit dari duduknya.


"Baiklah, kalau kau tidak bersedia membantu. Aku tidak bisa berbuat apa- apa lagi untuk membujukmu. Kalau begitu, silahkan nikmati hidupmu di penjara sini dan mungkin Waridi sampai kapan pun akan tetap menikmati hidupnya tanpa sedikitpun terusik oleh hukuman dan karma atas perbuatannya. Dan kau Anton, kau akan terlupakan. Tidak akan ada yang menjengukmu di sini. Dan di mata keluargamu, kau akan seperti anggota keluarga yang hilang ditelan bumi tanpa berita sama sekali. Hanya kalau kau bersedia membantu, aku bisa membantumu untuk bisa berkomunikasi sekali- kali dengan keluargamu," ujar Waridi sembari bersiap meninggalkan Anton.


Sebenarnya itu adalah salah satu triknya agar Anton putus asa dan berubah pikiran. Diabtentu masih berharap agar Anton membantunya.


"Dan ini pertama dan untuk terakhir kalinya aku datang ke sini. Ke depannya tidak akan ada orang yang akan menjengukmu di sini."


Akbar membalikkan badan dan melangkahkan kakinya sembari ia menghitung dalam hati. Dalam hati Akbar optimis lelaki itu akan berubah pikiran mendengar kata- katanya.


Satu ....


Dua ....


Ti ....


"Baiklah!" seru Anton. "Aku bersedia membantumu. Dengan satu syarat. Tenang saja, aku tidak akan minta syarat yang sulit."


Akbar menyunggingkan senyum kemenangan di bibirnya sebelum kemudian berbalik dan memasang kembali wajah datarnya. Dia kembali duduk.


"Baiklah, apa syaratnya?"


"Tiwi," Anton menyebutkan sebuah nama "Tolong pastikan dia baik- baik saja. Aku ingin mengetahui kabarnya, kau bisa?"


 



 


POV Raya


"Ini, minumlah, bumil! Segelas susu enak karena dibuat dengan penuh cinta oleh Ayah Mahfudz!"


Mahfudz menyodorkan segelas susu hangat padaku. Aku menerimanya.


"Duuh, dengar tuh, Dek! Ayah sekarang gombalnya makin level Dewa ya ..." kataku sambil mengelus- elus perutku.


Mahfudz menarik kursinya agar semakin dekat denganku. Dengan sayang kini ia ikut mengelus perutku.


"Iya, donk. Bunda Raya kan paling suka ya, Dek, digombalin sama Ayah. Cuma nggak mau ngaku aja Bundanya. Kamu kalau udah besar, Dek, jangan gengsian kayak Bunda ya ...." katanya cekikikan.


"Ihhh, siapa yang gengsian?" bantahku sambil menggerutu.


"Iya, iya deh. Nggak gengsian. Daripada nanti, kamu ngambek," ledeknya lagi.


"Ihh, Mahfudz!" jeritku


"Tuh, kan? Baru digodain dikit langsung panggil nama. Katanya mau jadi istri yang baik. Biasanya juga panggilnya sayang, panggilnya Ayah ...."


"Iya, iya. Nggak digodain lagi. Cepatin habisin susunya, habis itu aku antar kamu ke rumah sakit," bujuknya.


Aku mendengus masih jengkel padanya. Namun, aku menuruti kata- katanya dan mulai meneguk susuku.


Trrrrrrt .... Trrrrrt....


Terdengar getar dari suara handphone Mahfudz. Dia segera mengangkatnya.


"Hallo .... Ya?"


Aku mengernyitkan kening mencoba menebak siapa yang meneleponnya.


"Hmmm .... Soal itu, saya masih belum bisa memutuskan. Saya belum berunding dengan istri saya."


Mahfudz melirikku, membuatku semakin penasaran. Bawa- bawa aku. Siapa yang menelepon? Ada urusan apa?


"Oh, begitu? Jadi begini, saya berembuk dulu dengan istri. Soalnya ini bukan sesuatu yang bisa saya putuskan sendiri. Hmmmm? Iya ... Iya, saya paham. Secepatnya akan saya kabari. Memangnya mendesak betul ya, Pak? Tapi kenapa harus saya? Kan masih banyak dokter yang lebih kompeten. Saya masih koas ...."


Aku semakin mengernyitkan keningku sampai mungkin aku tidak tau lagi berapa jumlah kerutan di dahiku.


"Oke, oke. Besok paling lambat saya kabari. Ok Sama- sama. Selamat Pagi."


Mahfudz menutup telepon dan langsung tanpa berlama- lama aku melontarkan pertanyaanku padanya.


"Siapa?"


Mahfud tidak langsung menjawab ku, melainkan terpaku sejenak, kemudian menatapku serius.


"Ini dari stasiun televisi TV17. Mereka menawarkan aku untuk menjadi host di acara dr. Handsome. Sebenarnya mereka sudah menghubungi aku dari sejak viral Vidio aku lagi CPR bayi pas kejadian kecelakaan beruntun itu, Ray. Tapi waktu itu kutolak karena aku masih punya kewajiban koas di stase mayor. Sekarang 4 stase Mayor sudah aku selesaikan. Jadi tinggal stase minor aja lagi. Yah, nggak sibuk- sibuk amatlah. Acaranya juga paling dua kali seminggu aja. Bisa kuatur waktunya. Bagaimana menurutmu? Mereka menghubungiku lagi, karena host pendamping dr. Jasmine mau mengundurkan diri dari acara TV itu, gimana Ray? Kamu bolehin nggak?" tanyanya penuh harap.


Aku sangat terkejut dan tak percaya dengan berita itu.


"Nggak! Aku nggak setuju!" kataku kesal.


"Loh, kenapa? Itu bisa jadi sumber penghasilan sementara buat kita kan? Jadi aku nggak musti berharap dari uang waletnya Mama. Ya, walaupun Mama udah menyerahkan bagianku di sarang walet tapi Ray, aku kadang pengen juga melakukan pekerjaan yang sesuai passionnya aku."


"Pokoknya nggak boleh!" kataku merengut.


Aku tidak bisa membayangkan betapa banyaknya nanti gadis- gadis yang akan menempel dan mengidolakan suami tampanku. Bukankah menjadi host acara seperti itu otomatis akan membuat Mahfudz menjadi salah satu golongan selebriti? Dia jadi dokter koas yang punya gangguan wicara saja, ada banyak gadis yang menyukainya apalagi kalau dia populer. Ya Tuhan, aku tidak sanggup!


"Kenapa?"


"Pokoknya nggak boleh! Nggak usah nanya deh!"


"Iya, tapi bilang dulu alasannya!"


"Nggak perlu alasan. Lagi pula kenapa sih kamu pengen banget jadi host? Biar terkenal ya? Biar bisa dikejar- kejar banyak cewek- cewek? Mahfudz! Kamu playboy!" omelku.


Mahfudz tercengang mendengar omelanku sebelum kemudian dia tertawa terbahak- bahak sampai Ummik yang baru pulang dari belanja terheran- heran melihat Mahfudz.


"Kenapa Fud?" tanya Ummik

__ADS_1


Mahfudz menunjuk pada wajahku yang merah.


"Ada yang cemburu, Mik. Bumil cemburuan! Hahaha..!" gelaknya dengan tawa yang masih terpingkal- pingkal.


"Cemburu kenapa?" tanya Ummik senyum- senyum melihat ekspresiku yang malu.


"Mana ada aku cemburu!" bantahku.


"Kamu memang cemburuan, Bumil! Cemburu buta! Cemburu nggak jelas! Hahaaha .... Belum juga kejadian, udah mikir yang nggak-nggak. Kamu secinta itu samaku ya, sayang?!" goda Mahfudz sembari menaik- naikkan alisnya.


"Iiiihhh, Mahfudz! Apaan sih ...." kataku kesal sembari memutar balikkan kursi rodaku ke arah kamar.


Aku kesal pada Mahfud. Bisa- bisanya dia godain aku begitu di depan Ummik. Pake nanya cinta- cinta segala. Membuatku malu saja.


Ummik yang melihat tingkah kami hanya geleng- geleng kepala sambil senyum- senyum.


"Sayang, jangan ngambek donk!"


Mahfud mengejarku ke kamar.


"Tau ah, malas ...."


"Iya deh, iya. Aku nggak bakal terima tawaran jadi host itu. Aku nggak mau kamu sampai kepikiran, dan merasa cemburu yang membuat kamu nggak nyaman. Aku sayang kamu dan anak kita Raya ...." ucapnya serius.


"Udah kubilang, aku nggak cemburu," gumamku masih merengut.


"Iya, iya. Nggak cemburu." katanya mengalah sambil meletakkan dagunya di pangkuanku.


Aku mengelus rambutnya sayang. Aku tidak mau wajah tampan ini mencuri perhatian wanita- wanita lain. Mahfudz hanya milikku seorang.


"Kita ke rumah sakit sekarang?"


Aku mengangguk.


 



 


Di sebuah kompleks perumahan, sebuah mobil memasuki sebuah rumah besar. Begitu mobil itu masuk, gerbangnya langsung ditutup. Pagar itu sangat tertutup sehingga tak memungkinkan untuk orang luar bisa melihat ke dalam.


Waridi keluar dari dalam mobil, langsung melempar kunci pada salah satu anak buahnya.


"Dimana dia?"


"Ada di kamar, Boss!"


"Dia masih mogok makan?"


"I- iya!"


Waridi mendengus dan langsung masuk ke dalam rumah. Segera anak buahnya yang berjaga di situ, membukakan sebuah pintu yang telah mereka kunci dari luar.


"Ambilkan makanan!" perintahnya.


"Baik, Boss!"


Anak buahnya langsung bergegas menuju dapur. Sementara itu Waridi masuk ke dalam kamar, mencari- cari sosok gadis yang menjadi tawanannya itu. Kemudian dia tersenyum mendapati Tiwi yang meringkuk duduk di sudut ruangan di samping sofa. Gadis itu tidak menyadari kehadirannya.


"Ini, Boss!"


Anak buah yang tadi menyerahkan sepiring nasi beserta lauknya ke tangan Waridi. Waridi menerimanya dan perlahan menghampiri Tiwi.


Dia menyentuh dagu gadis itu sehingga gadis itu membuka matanya, membelalak dan ketakutan melihat siapa yang datang.


"A - nan ..Au - a"


Entah apa yang diucapkan gadis itu, Waridi tak mengerti. Yang dia tau gadis itu harus makan, atau kalau tidak dia bisa mati kelaparan atau membuat semua orang repot kalau di harus dibawa ke rumah sakit.


"Makan!!!" perintahnya kasar sambil menyodorkan sesendok nasi dengan paksa ke mulut gadis itu.


Tiwi masih bungkam. Dia tetap bertekad tak akan mau membuka mulutnya. Kalau memang dia harus mati di sini, biar saja, pikirnya. Toh hidupnya pun kini tak ada artinya lagi.


Tapi ternyata penolakan Tiwi itu membuat Waridi murka dan semakin menjambak gadis itu.


"Oh, kau tidak mau makan rupanya? Baiklah, kalau begitu kita langsung saja ke permainan intinya!"


Waridi langsung membuka ikat pinggangnya. Gadis bisu di depannya initerlihat kusut dan acak-acakan. Tapi tetap saja membuatnya bergairah.


Tiwi menggeleng- gelengkan kepalanya dengan ketakutan. Dia benar- benar ketakutan. Waridi akab kembali melakukan pemerkosaan dan penyiksaan lagi padanya. Dia tau itu. Itulah yang dialaminya seminggu terakhir ini, setelah Waridi menculiknya dari rumah saat kakaknya sedang pergi mencari pekerjaan baru.


Tanpa berbelas kasihan Waridi langsung menyentak tangan Tiwi dan menyeretnya ke ranjang. Tak peduli pada ekspresi dan jeritan memelas gadis itu memohon ampunannya.


Siapa saja, tolong aku! Jerit Tiwi dalam hati.


Di antara keputusasaannya dalam menghadapi kebejatan Waridi, tiba- tiba ponsel pria tua itu berbunyi. Waridi mengangkatnya.


"Hallo! Kenapa?!!" bentaknya. Dia merasa telepon itu mengganggu aktifitasnya.


"Hallo, Boss! Aku menemukannya!" kata seseorang di seberang sana.


"Apa? Yang jelas kalau ngomong!" bentak Waridi lagi.


"Kelemahan lelaki itu selain Ayuni dan anaknya."


Waridi mulai tertarik dan melunakkan suaranya


"Apa itu?" tanyanya penasaran.


"Ibu dan keponakannya, aku akan kirimkan fotonya, Boss!"


Panggilan telepon itu terputus dan diganti oleh kiriman foto dan vidio melalui aplikasi.


Waridi tersenyum. Seorang wanita seumurannya tengah mengantar seorang gadis kecil berseragam SMP. Anak yang sangat cantik, dengan rambut sebahu. Benar- benar imut dan menggemaskan. Ahh, dia tidak tertarik pada ibunya, tapi anak itu, Waridi harus mendapatkannya. Bukan hanya membalaskan dendamnya pada Fuad. Dia juga bisa bersenang- senang nanti. Membayangkan itu, dia jadi melupakan Tiwi dan mengurungkan niatnya menyerang gadis malang itu. Waridi kembali menelepon Gogo.


"Kirim aku informasi lengkap tentang anak itu!"

__ADS_1


__ADS_2