
#Lauhul_Mahfudz
#season4
Part 23
"Ayo, Nadya. Kamu mau pesan apa?" tanya Waridi.
"Ayah ngajak saya sama teman saya ke sini mau apa?" tanya Nadya polos.
"Cuma mau ajak makan aja. Memang nggak boleh ya seorang ayah ngajak anak- anaknya makan? Kalian pasti lapar, kan?"
Nadya dan Nur saling pandang. Hari ini ada rapat tim guru sehingga mereka diperbolehkan pulang lebih awal. Dan ketika keduanya berada di gerbang sekolah, tiba- tiba saja wakil walikota itu berhenti di depan mereka dan mengajak mereka makan. Waridi memang telah beberapa kali bertemu dengan Nadya di sekolah. Bahkan beberapa kali juga wakil walikota yang ramah itu bergabung dengan Nadya dan teman- temannya untuk makan di kantin.
"Kenapa? Kalian nggak senang kalau Ayah ajak makan?" tanya Waridi pura- pura sedih.
"Se- senang kok, Pak," jawab Nur terbata.
"Kok Pak lagi sih? Panggil saya Ayah. Saya senang dipanggil ayah."
"I- iya, ayah" jawab Nur terbata.
"Baiklah, kalian mau makan apa?"
Setelah berdiskusi sejenak kedua anak itu memilih makanan yang sama.
"Nadya, gimana persiapan olimpiade matematika kamu?" tanya Waridi sembari menunggu pesanan mereka. "Kamu sudah belajar?"
"I- iya, Ayah. Nadya sudah banyak belajar."
"Pokoknya kamu harus bisa menang, loh. Ayah sih pengen menangkan kamu, tapi kan kita harus menjunjung tinggi sportifitas," kata Waridi meyakinkan.
Nadya mengangguk.
"Nanti kalian mau diantar kemana? Kamu sudah bilang ke Oma kami kalau hari ini kamu pulangnya cepat?" tanya Waridi lagi.
Nadya menggeleng.
"Oma nggak tau kalau hari ini kami pulang cepat jadi kita diantar ke sekolah aja lagi, Ayah! Iya kan, Nur?" tanya Nadya pada Nir
"Baiklah," jawab Waridi sambil mengusap rambut Nadya seolah ia sedang memperlakukan Nadya seperti putrinya sendiri.
"Nadya!!!!!" terdengar bentakan seseorang mengagetkan Nadya dan seluruh orang yang berada di sana.
"Om, om Fuad?"
Nadya terlihat kaget.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kau! Apa yang kamu lakukan pada keponakanku? Singkirkan tanganmu dari situ!"
Fuad langsung menepis kasar tangan Waridi dari kepala Nadya.
Waridi terlihat tersenyum menyeringai.
"Apa maksudmu, Fuad? Kita ini keluarga. Apa yang salah kalau aku mengajak Nadya makan, hmm? Nadya sudah kuanggap seperti putriku sendiri!"
"Putri, huh?!!!"
Fuad sudah siap- siap ingin menghajar Waridi, namun tangannya ditahan segera oleh Pak Mawardi yang buru- buru mengejarnya setelah melihat siapa orang yang ingin didatangi Fuad.
"Sudah, Fuad! Sudah! Ini tempat ramai, ini tidak akan baik bagimu nanti," bujuk Pak Mawardi mencoba menenangkan hati Fuad.
Dengan sekuat hati Fuad mencoba menahan geram.
"Kau, apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Fuad pada Nadya. "Kamu membolos?"
"Nggak. Nggak Om. Nadya nggak bolos. Tadi pulang cepat karena ada rapat guru, terus diajak sama Ayah eh pak Waridi makan." jawab Nadya ketakutan
"Apa? Ayah katamu?!"
Fuad tidak percaya ini. Sepertinya dia mengerti kenapa keponakannya ini memanggil Waridi Ayah. Lelaki licik ini pasti punya niat jahat pada Nadya. Rasanya dia ingin memukulnya sekarang juga. Tetapi benar kata Pak Mawardi. Tempat ini ramai dan ini akan merugikan dirinya sendiri kalau dia memukul Waridi sekarang juga. Masyarakat pasti akan lebih percaya pada Waridi terlebih dan akan berbalik memojokkannya atas sesuatu yang belum bisa dibuktikan.
"Baiklah, kalau kamu memang pulang cepat, kenapa kamu nggak tunggu Oma buat jemput?"
"Emmm ....Itu ...."
Nadya tak bisa beralasan lagi.
"Ya sudah, kita pulang sekarang!" Fuad segera menarik tangan Nadya kasar. "Dan kau!! Aku akan buat perhitungan denganmu nanti," tuding Fuad pada Waridi.
Tanpa banyak bicara lagi Fuad langsung membawa Nadya pergi setelah sebelumnya meminta maaf pada Pak Mawardi. Setelah mengantar teman Nadya pulang ke rumahnya Fuad segera melajukan mobil ke rumah.
__ADS_1
Setengah menyeret Nadya, Fuad langsung melepaskan tangan Nadya sampai gadis kecil itu terhempas di sofa. Hal itu membuat Mama jadi bingung sekaligus khawatir.
"Kenapa, Ad? Kamu apakah Nadya?"
"Coba Mama sendiri yang tanya sama cucu mama ini, kenapa dia bisa makan bersama dengan Waridi, di resto? Sejak kapan dia kenal Waridi, Ma?"
Mama dan Ayuni yang baru saja keluar dari kamar terkejut mendengar itu
"Waridi? Apa maksudnya, Fuad?" tanya Mama tak bingung.
"Iya, Waridi. Tadi Fuad nemuin dia sedang makan di sebuah restoran dengan Nadia dan temannya. Eh, kamu bilang, kamu ngapain di situ? Sejak kapan kau kenal lelaki tua brengsek itu?!" tanya Fuad seraya mencengkram lengan Nadya keras- keras.
"Om Fuaaaad!!! Lepasiiin! Tangan Nadya sakiit!" pekik Nadya. "Oma, lihat Om Fuad! Dari tadi Om Fuad nyeret- nyeret Nadya di depan banyak orang!"
"Kamu jawab dulu! Kamu ngapai di sana?!"desak Fuad masih tak mau melepaskan cengkraman tangannya.
"Nadya nggak ngapa- ngapain. Ayah eh Pak Waridi cuma ngajak Nadya sama Nur makan. Itu doank! Lepasiiin. Oma ...."
"Fuad lepasin! Kamu menyakiti Nadya!" suruh Mama.
Fuad melepas tangan Nadya kasar.
"Kamu jauhi orang itu! Dia itu orang jahat!"
"Pak Waridi nggak jahat. Dia menganggap Nadya seperti anaknya sendiri. Dia cuma pengen Nadya ikut olimpiade matematika, biar bisa dapati hadiah umroh buat Nadya kasih ke Oma atau Om. Lagi pula kita keluarga! Tante Ayuni juga anaknya walaupun anak angkat. Kenapa kalian sangat tidak menyukainya? Padahal Ayah dia baik ...."
"Dia bukan Ayahmu!!! Jangan memanggilnya seperti itu!" bentak Fuad.
Wajahnya terlihat beringas sekarang. Fuad, Mama dan Ayuni sampai saling pandang. Mereka tahu situasi ini. Waridi sengaja meracuni pikiran Nadya agar menganggapnya Ayah angkat agar dia bisa menjadikan Nadya korbannya sama seperti Ayuni? Bedebah itu, Fuad sama sekali tidak menyangka kalau Waridi akan mengincar keponakannya. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus segera membereskan Waridi sampai ke akar.
"Lalu kalau Nadya nggak boleh memanggilnya Ayah, siapa yang harus Nadya panggil Ayah? Papa? Memangnya Papa masih ingat sama Nadya?"
"Masih ada Om Fuad sama Om Mahfudz. Kenapa kau harus pedulikan masalah ayah? Sekalipun papamu nggak peduli, tapi Om Fuad sama Om Mahfudz masih peduli sama kamu, Nadya!! Kami adalah pengganti papa kamu."
"Oh ya? Mana? Mana buktinya. Om Fuad sama Om Mahfudz sama aja. Kalian nggak peduli sama Nadya. Kalian selalu sibuk dengan urusan kalian sendiri- sendiri. Mana ada waktu buat Nadya. Boro- boro mau menggantikan posisi Papa!"
"Nadya!!!" protes Mama pada cucunya. Sejak kapan Nadya begitu pembangkang?'
"Benar kan Oma? Oma juga selalu menganggap Nadya seperti anak kecil. Nadya sudah SMP, Oma! Nadya tau mana yang baik dan mana yang salah."
"Nadya!" Kali ini Ayuni yang ikut ambil bicara. "Om Fuad cuma nggak pengen kamu kenapa- kenapa. Om Fuad benar. Dia itu orang jahat. Kamu belum tau dia seperti apa."
"Terus Tante Ayuni baik begitu? Kok Tante Ayuni nggak tau terimakasih sama orang yang telah mengangkat dan menjadikan Tante Ayuni anak? Jangan kira aku nggak tau ya, kalau Tante Ayuni durhaka sama orang tua Tante sendiri. Ayah Waridi sudah menceritakan semuanya sama aku."
Ayuni menghela napas sebelum akhirnya dia buka mulut lagi.
"Kita ke kamar, yuk! Tante akan ceritakan semua yang Tante alami sejak menjadi anak angkat lelaki brengsek itu!" ajak Ayuni sambil merangkul Nadya.
"Ayuni, jangan ceritakan hal- hal seperti itu padanya!" larang Mama.
Ayuni tersenyum pahit.
"Nggak apa- apa, Ma. Nadya perlu tau cerita itu agar dia bisa menjaga dirinya. Lagi pula Nadya sudah cukup besar untuk bisa memahami hal semacam itu," kata Ayuni.
"Tapi ...."
"Sudah, Ma. Biarkan saja ...." kata Fuad mencoba menenangkan Mamanya.
Keesokan harinya,
"Nadya!" panggil Waridi.
Nadya yang sedang menunggu jemputan Oma di depan halte menoleh. Ya Tuhan, lelaki jahat ini datang lagi ke sekolahnya.
Nadya memutuskan untuk pura- pura tidak dengar. Karena yang dipanggil tidak menyahut akhirnya, Waridi turun dari mobil menghampiri Nadya.
"Nadya, kamu baik- baik saja? Apa Fuad memukulmu kemarin?"
Nadya menggeleng takut. Dia telah mendengar dari Ayuni semuanya, apa yang telah dilakukan oleh pria tua di depannya ini pada anak angkatnya. Pria itu telah melecehkan, memaksa dan memperkosa Tante Ayuni, istri dari om Fuadnya. Dan dari kisah pilu yang diceritakan Ayuni pula dia tau kalau Rahmat, adalah anak dari pria tua ini. Menjijikkan!
"Nggak, Pak. Tolong saya mau pulang," rengeknya.
"Kamu kenapa Nadya?"
Tangan Waridi sigap hendak meraih Nadya namun tiba- tiba Omanya datang.
"Eeh, kamu ngapain? Tolong jangan pegang- pegang cucu saya. Lepaskan tanganmu dari dia. Ayo Nadya!"
Omanya segera menarik tangan Nadya dan menjauh dari Waridi. Sementara lelaki itu hanya bisa menggemeratakkan giginya.
__ADS_1
\*
Waktu cepat berlalu. Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Fuad dan Waridi telah melalui tahap demi tahap prosedur pendaftaran Calon Gubernur dan Calon Legislatif. Beberapa kali juga keduanya telah melakukan kampanye dan sosialisasi ke daerah pemilihan mereka masing- masing.
Hari ini Fuad dan Akbar bertemu di salah satu cafe.
"Bagaimana kabar orang yang mirip Waridi itu, Bang? Apa sudah ada kemajuan?"
Akbar menggeleng sambil menghisap sisha di depannya. Tercium aroma cappucino dari asap yang dihembuskannya.
"Dokter Korea itu belum mengabariku," jawabnya datar.
"Apa mungkin dia berkhianat, Bang? Apa jangan-jangan dia tidak takut pada ancaman Abang?"
Akbar mendesah.
"Entahlah, tapi aku rasa dia tidak akan seberani itu. Aku menahan paspornya. Dia tidak akan berani kemana- mana. Sudah tiga bulan sejak saat itu. Harusnya Waridi palsu akan kontrol lagi ke dokter itu." kata Akbar.
Fuad manggut- manggut. Sepertinya tidak bisa menjatuhkan Waridi hanya dengan mengharapkan kembaran palsunya itu ditemukan dan membeberkannya pada dunia. Dia harus punya strategi cadangan.
"Kamu jangan khawatir. Dalam Minggu ini, aku akan kembali ke tempat dokter itu untuk menanyakannya lagi," katanya mencoba untuk menghibur Fuad.
Fuad mengangguk.
"Bagaimana persiapan pemilu nanti? Apa kamu ada kendala?" tanya Akbar mengalihkan pembicaraan.
"Sejauh ini persiapanku lancar- lancar saja, Bang. Meski pun aku terpaksa harus sering mondar- mandir ninggalin Ayuni dan anakku untuk sosialisasi ke daerah pemilihanku. Saya tidak berharap muluk- muluk. Tapi sepertinya pupularitas Mahfudz menjadi host di TV 17 cukup membantu saya mendapatkan banyak pendukung. Sementara Waridi, sepertinya jalannya mulus- mulus saja seperti biasanya. Dia bahkan berani mengganggu keponakanku beberapa waktu lalu. Sungguh sangat menyebalkan," kata Fuad terdengar jengkel.
"Sabarlah. Semua akan mendapatkan balasannya atas perbuatannya masing- masing," hibur Akbar.
"Entahlah, Bang," Fuad terdengar sedikit putus asa. "Aku heran kenapa nasib baik selalu berpihak padanya. Padahal kampanye terakhir akan berlangsung dalam beberapa hari lagi. Dan itu akan diadakan secara live dan besar- besaran olehnya. Harusnya itu akan jadi moment yang past untuk menjatuhkan Waridi di depan publik. Tapi yang terjadi malah dia selalu dapat kesan baik di masyarakat. Beberapa hari yang lalu malah dia dengan sukses menyelenggarakan olimpiade matematika. Dia dipuji- puji sebagai pemimpin yang peduli pada pendidikan anak bangsa. Memuakkan!" umpat Fuad.
"Sepertinya aku perlu meminta sedikit bantuan dari Willy. Bagaimana dengan Walikota Darwis? Apa kau sudah menghubunginya?" tanya Akbar.
"Dia belum memberiku jawaban. Ngomong- ngomong soal Willy, Apa Willy yang Abang maksud yang dari kabupaten T? Tempat Mahfudz dulu sempat koas?" tanya Fuad.
"Ya. Willy yang itu. Apa kau tau sesuatu?"
"Aku pernah mencari- cari tentang dia di google. Tentang kasus penyelundupan kulit trenggiling. Aku sempat curiga Waridi mungkin terlibat. Apa jangan- jangan kecurigaan ku benar?" tanya Fuad penasaran.
"Penyelundupan kulit trenggiling bukan hanya bisnis mereka satu- satunya. Ada beberapa bisnis ilegal lain juga. Kalau aku membujuk Willy, mungkin dia akan mau mengkhianati Waridi untuk mendukung kita. Ya, walaupun memang meminta hal itu pasti akan sedikit berbahaya," kata Akbar dengan sedikit tawa mirisnya saat membayangkan hal itu terjadi.
"Apakah mungkin seberbahaya itu? Kalau memang sebahaya itu sebaiknya jangan, Bang! Nanti ...."
"Ya ampun! Dr. Mahfudz! Kau benar- benar dr. Mahfudz kan?!!!"
Tiba- tiba salah satu pengunjung cafe menghampirinya dan mengejutkan orang- orang yang sedang di cafe ini.
"Iya benar. Dr. Mahfudz!"
"Dr. Mahfudz siapa?"
"Dr. Mahfudz yang di dr. Handsomelah. Nggak nyangka bisa ketemu di sini. Dokter, foto donk." pinta salah satu dari mereka.
Fuad geleng- geleng kepala berupaya menjelaskan. Sementara dalam hitungan beberapa menit meja mereka dan Akbar telah dikerubungi oleh pengunjung cafe yang tidak sabar ingin melihat dan berfoto dengan Fuad.
"Nggak, nggak. Saya bukan Mahfudz!"
"Ah, jangan bohong donk, Dok! Kami cuma minta foto dan tanda tangan doank!" rengek mereka.
"Tapi beneran saya bukan Mahfudz. Saya adik kembarnya. Beneran!"
"Ah, nggak percaya, ah ...."
"Beneran saya Fuad. Saudara kembar Mahfudz. Nih ya, kalau nggak percaya."
Fuad mengambil kartu nama caleg dari tasnya dan membagikan kartu itu satu- satu pada mereka. Ternyata punya saudara populer memang bermanfaat di situasi ini, Fuad bisa sekalian bersosialisasi dan mengenalkan dirinya. Hehehe, terima kasih, kakak kembar! Kekeh Fuad dalam hati.
Sementara Fuad tengah sibuk meladeni fansnya Mahfudz, Akbar yang semakin terhimpit oleh desakan kerumunan itu menerima telepon dari dr. Kim. Ia segera berusaha menyingkir dari kerumunan itu dan meninggalkan Fuad.
"Kenapa? Apa ada kabar?" tanya Akbar.
"Dia akan kontrol dalam waktu 3 hari ini. Anda datanglah," kata suara di seberang sana. "Jangan lupa kembalikan paspor saya."
"Jangan khawatirkan itu. Aku akan mengembalikan semuanya padamu," jawab Akbar.
Ini tidak akan lama lagi, Waridi! monolog Akbar dalam hati.
***
__ADS_1
Kalian reader yang baca ini, bantu kasih like dan koment donk biar banyak yang tau cerita ini....padahal author lihat dari statistik readernya ratusan loh, tapi masa yg ngelike per episodenya ga sampe 10 orang terus, yg koment itu2 aja. Gimana author mau semangat up coba? bisa2 nih cerita bakal author gantung loh 😎