
Beberapa menit sebelum kampanye akbar Waridi dilaksanakan, akhirnya Fuad sampai juga di kota XXX setelah nekad meninggalkan panggung kampanye di daerah pemilihannya. Fuad tak punya pilihan lain lagi. Kalau pun dia tetap berada di sana tetap saja hatinya tidak akan tenang sebelum berhasil menemukan Nadya. Nadya adalah satu- satunya keponakannya saat ini, anak dari almarhum kakak perempuannya satu- satunya.
"Bang, apa benar orang yang
bernama Gogo itu mau membantu kita nanti?" tanyanya ragu.
"Aku tidak yakin dengan yang lainnya, tapi kalau itu Mahfudz, dia pasti mau membantu," kata Akbar.
Fuad menarik napas. Saat ini Mahfud sedang di ibu kota. Kalau dia tidak salah, saudara kembarnya itu ada jadwal on air siang ini.
"Baiklah, kita coba menemuinya. Aku akan jadi mencoba jadi Mahfudz," kata Fuad.
"Kalau begitu jangan membuang- buang waktu, kita temui Gogo sekarang. Harusnya sekarang kampanye Waridi sudah disiarkan on air di beberapa stasiun televisi. Waridi akan sangat sibuk selama setidaknya selama dua jam ke depan. Tapi setelah itu kita tidak akan tau apa yang terjadi. Kita harus memburu waktu, Ad!"
Fuad mengangguk.
"Kalau begitu kita pergi sekarang, Bang! Tapi apa tidak apa- apa meninggalkan dokter bedah plastik itu sendirian di hotel?" tanya Fuad.
Akbar mengangguk.
"Apa yang bisa dia lakukan? Kabur? Coba saja kalau berani. Paspor dan visanya ada padaku. Kalau dia masih mau pulang ke negaranya, tentu dia harus kooperatif," jawab Akbar.
Merasa tenang dengan jawaban Akbar, tanpa menunggu lama keduanya segera meluncur ke kediaman Gogo. Tanpa pemberitahuan sebelumnya Gogo agak sedikit terkejut melihat kedatangan keduanya. Tidak berlama- lama, Fuad langsung mengutarakan tujuannya untuk meminta bantuan Gogo.
"To-long a-ku, Bang! Be-ri ta-hu a-ku di ma-na ru-mah mar-kas Wa-ri-di se-ka-rang. Di-a men-cu-lik ke-po-na-kan-ku. Di-a pas-ti mem-ba-wa-nya ke sa-na. A-ku ha-rus me-nye-la-mat-kan-nya," kata Fuad menirukan suara Gagu Mahfudz seperri dulu sebelum gangguan wicaranya pulih.
Gogo tersenyum sejenak, sebelum kemudian tertawa terbahak- bahak. Itu membuat Fuad mengernyitkan keningnya dan memandang pada Akbar.
"Kau tidak perlu berusaha sekeras itu untuk menirukan dr. Gagu, g*blok! Hahaha .... Aku tau dia sudah sembuh. Tapi kalau diingat- ingat lagi, memang sangat lucu kalau dibandingkan dia yang dulu dengan yang sekarang." kata Gogo di sela tawanya yang terpingkal- pingkal itu.
Fuad melongo.
"Jadi Abang sudah tau kalau aku dari tadi bukan Mahfudz?" tanya Fuad garuk- garuk kepala.
"Tentu saja, beg*! Kamu kira aku nggak punya TV? Jelas- jelas dia bicara dengan sangat lancar di acara apa namanya itu. Dr. Handsome? Belum lagi iklan sikat gigi yang seliweran tiap beberapa menit itu. Masa iya, aku tidak melihatnya dengan jelas. Apalagi aku sudah menganggur selama tiga bulan ini," kata Gogo.
Sebenarnya dikatain b*go dan g*blok sangat tidak menyenangkan di telinga Fuad, namun karena sebelumnya Raya sudah menjelaskan sebelumnya sifat Gogo seperti apa, jadi Fuad bisa sedikit memakluminya.
"Yah, kalau gitu kenapa nggak ngomong dari tadi. Aku kan capek menirukan cara bicaranya seperti sebelum sembuh itu," keluh Fuad setengah malu. "Terus bagaimana, Bang? Kira- kira Abang bisa bantu nggak?"
Gogo tersenyum.
"Pasti ku bantu. Aku berhutang budi pada Mahfudz. Dia merawatku dengan sabar dan telaten saat aku sakit dulu. Sekali pun yang datang bukan dia, bukankah anak yang bernama Nadya ini adalah keponakannya juga? Alasanku berhenti bekerja dengan Waridi untuk sementara waktu adalah karena dia menugaskan aku untuk memata- mataimu dan mencari tau apa yang penting bagimu selain Ayuni. Begitu aku tau kau adalah saudara kembarnya. Aku sadar, aku tidak bisa menyakiti siapa pun orang terdekat dr. Gagu. Makanya aku beralasan pada Waridi penyakit ginjal ku kambuh dan tidak bisa bekerja untuk waktu yang tidak bisa ditentukan," kata Gogo menjelaskan.
"Tapi kalau begitu, kenapa nggak berhenti sekalian selamanya, Bang? Apa bagusnya kerja dengan orang seperti itu?" tanya Fuad geram mengingat lagi ******** tua itu.
"Kalau langsung berhenti tanpa alasan yang kuat dan curiga, dia mungkin akan mengintimidasiku dan melakukan sesuatu pada keluargaku seperti yang dilakukannya pada Bang Akbar. Itu sebabnya aku juga tidak bisa membantu Bang Akbar ketika dia meminta tolong padaku dulu. Maafkan aku, Bang! Tapi aku benar- benar nggak bisa membantumu waktu itu. Kau tau apa yang bisa dia lakukan ...." lagi- lagi Gogo menjelaskan alasannya dan Akbar sepertinya cukup mengerti posisi dan kondisi Gogo.
"Ya, aku paham, Go! Tapi kita harus segera mencari anak itu! Coba kamu koordinasikan sama rekan- rekan yang lain kemana kira- kira Waridi membawa Nadya. Kita harus menemukannya secepatnya," kata Akbar.
"Baiklah! Aku telepon Yudhi dulu!" kata Gogo meraih ponselnya.
\*\*\*\*\*\*
Ayuni mondar- mandir dengan gelisah di ruang tamu. Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Nadya? Bagaimana Ayuni bisa mempertanggungjawabkan hal itu pada Mama? Dia harus melakukan sesuatu. Semua ini berawal darinya. Maka dari awal sudah seharusnya dia bertanggung jawab atas semuanya.
Ayuni lama memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya Ayuni memutuskan untuk mengambil ponselnya dan menelepon. Setelah mencari di kontak telepon. Ayuni akhirnya memberanikan diri mendial nomor kontak itu.
"Halo, Ayuni. Ada apa?"
Terdengar nada heran di suara sahutan itu.
"Kakak sibuk nggak?" tanya Ayuni.
"Hmm sedikit. Kenapa?"
"Aku butuh bantuan kakak. Benar- benar butuh. Tolong aku sekali ini, Kak. Mungkin ini akan menyulitkan posisi kakak, tapi setelah ini aku janji, semua akan baik- baik saja."
Orang di telepon itu tidak langsung menjawab. Hingga kemudian dia bertanya apa yang bisa dia bantu. Ayuni biasanya hampir tak pernah meminta bantuannya.
"Baiklah, apa yang bisa ku bantu? Jangan sungkan, Ayuni," kata orang itu.
Ayuni menceritakan segala masalah yang terjadi dan cukup membuat orang itu terkejut dan merasa geram.
"Baiklah, aku akan coba bantu. Tapi kamu harus berhati- hati."
"Iya, Kak Mahfudz!"
\*\*\*\*\*\*
Di tempat yang berbeda, Nadya dilarikan ke rumah sakit oleh anak buah Waridi. Dokter dan perawat yang bertugas segera melakukan tindakan pertolongan medis pada Nadya. Alat bantu pernapasan berupa nebulizer segera di pasang begitu pun obat- obat yang menunjang pemulihan kondisi pasien.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya salah seorang anak buah Waridi yang mengantarkan Nadya ke rumah sakit.
Dokter yang bertugas saat itu kebetulan adalah salah seorang dokter koas yang disuruh jaga IGD. Dokter pembimbingnya sedang menangani pasien yang kondisinya lebih serius. Jadi dia yang ambil bagian menangani kondisi pasien yang sedang sesak napas ini.
Dokter itu melirik pada Nadya yang terlihat seperti sudah agak tenang. Menginya juga sudah tidak terdengar lagi, napasnya pun sudah mulai teratur, sangat berbeda dengan kondisi dia baru dilarikan ke IGD itu.
"Kondisinya sudah mulai stabil, jangan khawatir," kata dokter muda itu.
"Jadi, kami sudah boleh membawanya pulang, Dok?" tanya anak buahnya Waridi lagi.
Sepertinya kecemasan mereka sudah mulai berkurang.
"Hey! Apa maksudnya dibawa pulang? Dia bahkan baru diinfus beberapa menit yang lalu, bagaimana bisa dibawa pulang? Pasien juga harus dibawa ke ruang perawatan untuk proses pemulihan. Bapak punya kartu asuransi kesehatan?" tanya dokter itu. "Saya sarankan Bapak mengurus administrasi pasien dulu."
"Tolonglah, Dokter. Biarkan kami membawanya pulang. Atau kalau nggak kami akan dimarahi oleh Bos War ...."
Kata- kata pria itu langsung terhenti ketika temannya menyikut lengannya.
"Ah, maksud kami. Nanti kami dimarahi oleh bapaknya," kata temannya meralat kata- kata yang sempat keluar tadi.
Dokter itu menatap curiga pada kedua orang itu. Penampilan mereka benar- benar seperti preman. Bapak seperti apa yang mempercayakan anak gadisnya pada kedua orang seperti itu/ Kemudian dia melirik pada Nadya yang terbaring lemah di ranjang. Ia sempat melihat kalau jari- jemari gadis itu meremas pelan bajunya sendiri. Dokter muda itu menyimpulkan kalau sepertinya ada yang tidak beres di sini.
__ADS_1
"Gini ya, Mas. Tolong kabari aja bapak dari anak ini, suruh kesini dan masnya urus administrasi dulu agar pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan."
Nadya yang sebenarnya sadar itu memaki dokter itu dalam hatinya.
Ughhh!!! Ngapain sih itu dokter malah nyuruh mereka nelpon bapakku? Yang ada malah kedua orang itu nelpon dan nyuruh tua bangka itu datang ke sini buat menjemputku. Sia- sia donk, aku berkorban sampai sebegininya buat kabur. Ahhh! Dokter sialan!!
"Ah, nggak bisa gitu, Dok. Nanti kami dimarahin gimana? Pokoknya kami bawa pulang aja sekarang, Dok! Lagi pula sepertinya dia nggak sesak lagi!" tunjuknya pada Nadya.
"Ya, dia memang udah nggak sesak lagi karena bantuan oksigen. Memangnya masnya mau bawa pulang pasien dengan alat bantu pernapasannya? Yakin?"
Kedua orang itu terdiam kemudian saling pandang.
"Atau jangan-jangan Mas- masnya ini ada niat jahat sama adek ini?" tanya dokter itu curiga.
Ditanyai seperti itu membuat kedua orang itu menjadi gelagapan.
"Nggak Dok, nggak! Mana mungkin kami ini ada niat jahat. Ya sudah kami urus administrasinya dulu. Ayo, Her!"
Sepeninggalan kedua orang itu, Nadya langsung membuka matanya dan kemudian langsung duduk. Nadya membuka masker yang menutupi mulut dan hidungnya.
"Hey! Kamu mau ngapain?" tanya dokter muda itu pada Nadya.
"Tolong, Dok! Tolong bantu aku lepasin infusnya. Aku harus pergi dari sini. Mereka itu orang- orang jahat. Aku harus menghubungi omaku dan omku," kata Nadya memohon.
"Hei, tenanglah. Tenang. Kamu ceritakan apa yang terjadi pelan- pelan. Mereka jahatin kamu seperti apa?"
"Nggak ada waktu jelasinnya, Dok! Aku harus segera pergi dari sini."
"Nggak. Nggak boleh. Kamu harus tetap di sini. Aku akan hubungi keluarga kamu, okey? Sebentar kamu tunggu di sini," kata dokter itu.
Dokter koas itu sebenarnya adalah Abidzar. Teman koas Mahfudz ketika masih berada di RS Siaga Medika. Sekarang Abidzar sedang koas di stase IPD dan kebetulan hari ini dia ditugaskan di IGD.
Melihat raut kecemasan pada wajah Nadya membuat Abidzar percaya dan berusaha membantu Nadya. Abidzar pun kemudian mendatangi dokter konsulennya dan mendiskusikan tentang kondisi Nadya.
"Benarkah? Kalau begitu kita harus lapor polisi. Dan kamu coba tanya gadis itu nomor keluarganya yang bisa dihubungi. Aku akan ke administrasi dulu untuk melihat kedua orang yang membawanya itu." kata konsulennya Abidzar.
"Baiklah, Dok. Terima kasih. Saya akan tanya adek itu dulu," katanya sembari kembali lagi ke tempat Nadya.
Saat kembali ke IGD, Abidzar melihat Nadya sedang mencoba membuka plester infus di tangannya.
"Astaga, apa yang kamu lakukan? Aku sudah bilang aku akan membantumu. Kenapa kamu nggak percaya?" omel Abidzar dan memaksa Nadya tetap berbaring.
Abidzar juga memasangkan kembali masker nebulizer pada Nadya.
"Aku harus menghubungi keluargaku, Dok!" keluh Nadya.
Abidzar menghela napas, kemudian mengeluarkan ponsel dari kantongnya.
"Berikan aku nomor keluargamu!" pinta Abidzar dan menyerahkan ponselnya pada Nadya. "Biar aku yang ngomong."
Nadya menyentuh beberapa digit nomor pada layar dan memberikannya pada Abidzar. Itu adalah nomor Omanya.
Beberapa kali Abidzar menelepon nomor itu tetapi tidak juga ada jawaban.
Nadya berpikir sejenak. Dia cuma hapal nomor Oma dan Om Mahfudz. Sementara Om Fuad dia tidak hapal, karena memang biasanya mereka tidak begitu dekat. Nadya lebih dekat dengan Mahfud. Tapi kan, Om Mahfudz lagi di ibu kota? pikirnya.
Tapi ya sudah deh setidaknya Om Mahfudz bisa bantu teleponan orang lain atau Tante Raya buat jemput aku di sini, pikir Nadya.
Nadya kembali memencet beberapa nomor di layar ponsel itu dan menyerahkannya pada Abidzar. Abidzar menerimanya dan memencet ikon hijau untuk memanggil nomor itu.
Eh, kok yang keluar nomornya Mahfudz sih? pikir Abidzar bingung sambil menatap layar ponselnya dan Nadya bergantian.
"Kamu nggak salah kasih nomor?" tanya Abidzar.
Nadya menggeleng.
"Nggak. Itu nomornya Om aku." jawab Nadya.
"Mahfud?" tanya Abidzar mencoba meyakinkan kalau anak ini tidak salah.
Nadya mengangguk.
"Kok Dokter tau?"
Abidzar ingin menjawab tapi panggilan telepon itu keburu tersambung.
"Ya, kenapa, Bi? Aku masih sibuk nih. Aku telepon kamu nanti aja,ya!" kata Mahfudz di seberang sana.
"Eh, tunggu, tunggu! Mau main matiin aja. Mentang- mentang udah jadi artis kamu ya, sama teman sendiri gitu."
" Nggak. Bukannya gitu. Tapi aku beneran sibuk nih. Satu jam lagi deh aku telepon, beneran. Aku lagi di Ibu kota nih," sahut Mahfudz dengan nada yang tidak enak hati.
"Penting mana kesibukan kamu itu dari pada keponakanmu? Hey, Dek siapa namamu?" tanya Abidzar pada Nadya.
"Nadya." jawab Nadya heran
"Keponakanku?" tanya Mahfudz dengan heran di telepon.
"Iya, keponakanmu Nadya. Dia sedang ada di rumah sakit tempat aku koas."
Mahfudz sepertinya sangat terkejut mendengar Abidzar.
"Nadya? Kenapa dia ada sama kamu? Di rumah sakit? Ngapain?"tanyanya beruntun.
Mahfudz hampir tak bisa fokus lagi terhadap apa yang sedang dikerjakannya.
"Tenang, tenang. Akan aku ceritakan. Dia tadi di antar ke sini sama dua orang laki- laki seperti preman karena asma," kata Abidzar mengawali ceritanya.
"Ya Tuhan, asmanya kambuh? Gimana keadaan Nadya, Bi? Aku bisa bicara dengan dia sebentar nggak?" tanya Mahfudz panik.
Abidzar menatap Nadya dan memberikan ponselnya.
"Om-mu mau bicara," kata Abidzar.
__ADS_1
Nadya menerima ponsel itu.
"Om ...." panggilnya histeris.
"Nadya, kamu nggak apa- apa? Kenapa kamu bisa di rumah sakit? Mana Oma dan yang lain? Kata Tante Ayuni kamu hilang?" tanya Mahfudz khawatir.
Nadya menceritakan semua apa yang terjadi dan menimpanya. Termasuk kenapa asmanya bisa kambuh.
Mahfudz terdengar sangat pusing mengetahui semua yang terjadi.
"Ya Tuhan, kau nekad sekali. Kalau ada apa- apa denganmu bagaimana?"
"Lebih bahaya kalau tetap di tempat aku diculik itu, Om. Oh, ya disana masih ada satu orang lagi yang seumuranku. Om Mahfudz, harus bantu dia."
"Ya sudah, nanti Om pikirin. Kamu tetap disitu dulu. Setidaknya kamu aman disitu. Abidzar temannya Om." kata Mahfudz pada Nadya.
"Iya, Om"
"Tolong kamu kasih lagi handphonenya pada temannya Om," kata Mahfudz.
Nadya menurut dan memberikan telepon genggam itu pada Abidzar.
"Bi, aku minta tolong bisa jaga Nadya sampai keluargaku datang nggak?Please, tolong lindungi dia dari orang- orang yang membawa dia ke sana itu." pinta Mahfudz.
"Oke, Fud! Aman itu. Aku udah minta bantuan konsulenku mengatasi kedua orang itu. Keponakanmu, insyaallah aman denganku," kata Abidzar dengan nada meyakinkan.
"Makasih, Bi!"
"Ngomong- ngomong, Mahfudz ...."
"Apa lagi?" tanya Mahfudz.
"Keponakanmu cantik, ya! Dia udah punya pacar belum?"
"Hey brengsek!! Dia itu masih SMP! Awas kalau kamu macam- macam, Bi! Ku hajar kamu!" maki Mahfudz.
Abidzar tertawa terpingkal- pingkal
"Maaf, Om. Aku cuma bercanda." katanya di antara derai tawanya.
"Om? Dasar kamu brengsek, Bi!" maki Mahfud lagi.
"Ya sudah ku tutup teleponnya," kata Abidzar masih tertawa melihat sikap protektif Mahfudz pada keponakannya itu.
"Jadi Om temannya Om Mahfudz?" tanya Nadya tiba- tiba membuat Abidzar melongo.
"Eh, kok kamu manggil aku Om sih?" tanya Abidzar keberatan.
"Om kan temannya Om Mahfud. Berarti aku panggil om juga."
"Eh, nggak bisa gitu. Enak aja. Aku masih muda tau. Panggil aku kakak saja!"
"Kakak?"
Abidzar mengangguk sambil tersenyum
Sementara itu, konsulennya Abidzar mendatangi kedua anak buah Waridi.
"Maaf, Bapak berdua keluarganya pasien yang di IGD, penderita asma itu?" tanya dokter itu.
"Iya, Dok!" jawab mereka serempak.
"Bapak bisa menunjukkan dokumen yang membuktikan kalau pasien adalah keluarga Bapak? Kartu keluarga misalnya? Soalnya pasien mengaku kalau kalian menculiknya dan sekarang kami sedang berusaha menghubungi pihak keluarganya."
Eh, anak ini! Tak mereka sangka Nadya secerdik itu. Padahal saat di IGD tadi mereka melihatnya masih tidak sadar. Dan sekarang hanya dalam jangka beberapa menit saja, gadis itu sudah mencari pertolongan pada pihak rumah sakit.
"Kami memang keluarganya, Dok. Kami akan jemput dokumen dan surat- suratnya sebentar soalnya tadi nggak sempat ambil karena terlalu panik. Ayo, Her! Kita jemput dulu ke rumah," kata lelaki itu dan buru- buru menarik temannya dari staf administrasi.
"Ahhh, sialan!!! Anak itu mengerjai kita. Apa yang harus kita katakan pada Bos nanti?!" kata Heri frustasi.
\*\*\*\*\*\*
Di rumah Raya,
Ummik sedang membuat susu untuk Rahmat. Setelah mengocok susu dalam dot, ummik pun kembali ke ruang keluarga.
"Rahmat, cucu Nenek. Kami mimik susu dulu, ya! Setelah itu bobo!" kata Ummik pada Rahmat.
Ayuni tadi menitipkan Rahmat padanya. Entah hendak kemana Ayuni, dia tidak mengatakannya dengan jelas tadi. Yang jelas Ayuni terburu- buru. Itu sikap yang belum pernah dilihat Ummik sebelumnya.
"Sini!" Ummik meraih Rahmat dan merengkuhnya dalam gendongannya dan memberikan bayi itu susu dalam dotnya.
Sambil memberikan susu Ummik menyalakan televisi. Katanya Mahfudz hari ini akan live di dr. Handsome. Dan Ummik tidak mau melewatkan penampilan menantu kesayangannya itu. Semua stasiun televisi sedang menyiarkan siaran langsung kampanye Akbar Waridi yang sedang mencalon jadi gubernur di kota XXX. Itu membuat Ummik menjadi muak melihatnya dan buru- buru mencari siaran televisi TV17. Hanya stasiun televisi ini yang tidak ikut menyiarkan acara itu secara live.
Saat ummik menemukan channel itu, stasiun televisi sedang menayangkan iklan. Hingga lewat beberapa iklan, Ummik masih setia demi menunggu Mahfudz membawakan acara Dr. Handsome.
"Sekilas news, saat ini pemirsa, tengah berlangsung kampanye Akbar pemilihan Cagub- Cawagub Waridi- Kamil di alun- alun kota XXX Acara ini dihadiri oleh hampir 5 ribu pendukung. Anda bisa lihat pemirsa betapa meriahnya dukungan untuk Bapak Cagub dan Cawagub yang kali ini tampak gagah sedang berdiri di atas panggung. Namun, kali ini saya tak hanya ingin mewawancarai pendukung beliau. Kali ini bersama saya ada seseorang yang akan memberikan kesaksian tentang bagaimana seorang Waridi dalam hidup dan kesehariannya. Beliau ini termasuk orang dekat yang mengenal baik Waridi. Langsung saja, saya perkenalkan Ayuni Mita.
Reporter itu menarik Ayuni ke depan kamera.
"Mbak Ayuni, bisa tolong perkenalkan diri anda?"
Ayuni mengangguk dan menerima microphone.
"Hallo, Perkenalkan! Saya Ayuni Mita. Saya adalah anak angkat dari Waridi Soeharsono. Kalau ada di antara kalian yang ingat kejadian tahun lalu saat seorang anak dari wakil walikota melakukan tindakan percobaan bunuh diri. Sayalah orangnya! Dan saya berdiri di sini saat ini ingin menceritakan secara jelas seperti apa kejadian saat itu dan seperti apa sosok pemimpin dan calon gubernur yang dipuja- puja oleh masyarakat. Saya adalah Ayuni Mita, anak angkat Waridi yang juga adalah korban kesewenang-wenangan,kebrutalan dan kekejian Waridi, si pedofil, pemerkosa dan psikopat pengidap kelainan **** bahkan kelainan jiwa!"
Ummik yang sedang menonton di rumah sampai terperangah mendengar pengakuan Ayuni yang disiarkan secara langsung live di TV17 itu.
Dan ternyata saat itu, yang menyaksikan bukan cuma Ummik. Dalam hitungan menit perhatian masyarakat langsung tertuju pada Ayuni.
"Hey! Ada berita eksklusif! Anak angkat dari Waridi memberikan penyataan eksklusif di TV17. Dan sepertinya dia sedang berada di sekitar sini. Ayo kita cari dia!" kata salah seorang reporter setelah menunjukkan "sekilas news" yang masih sedang berlangsung di stasiun TV17 itu.
Dan jadilah reporter lain yang sedang berada di alun-alun saat itu segera berlarian mencari di lokasi mana Ayuni sedang melakukan wawancara itu. Mereka bahkan tidak peduli lagi akan acara kampanye akbar Waridi. Berita tentang Ayuni sepertinya jauh lebih menjual daripada kampanye itu sendiri.
__ADS_1