I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Alasan Ali meninggalkanku


__ADS_3

POV Raya


Aku dan rombonganku menghentikan langkah di koridor saat kami berpapasan dengan rombongan medis dr. Ali.


Ali menghentikan langkahnya juga saat melihatku. Sesaat kami berpandangan sebelum pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi tanpa menegurku. Dia pasti sangat membenciku sekarang.


Aku menghela nafas sabar. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku mengajak rombonganku lagi untuk pergi melanjutkan kembali pekerjaan kami untuk ronde keliling.


Baru beberapa meter kami melangkah, Ali kembali mengejar dan mencegatku.


"Kita harus bicara, Ray!"katanya.


"Baiklah, katakan di sini"jawabku. Aku melirik Mahfud yang kelihatan tidak senang dengan kehadiran dr. Ali. Apa dia tau kalau Ali adalah mantan pacarku?


"Tidak bisa di sini. Ayo!" Ali menarik tanganku dan membawaku pergi dari situ. Aku sempat melihat wajah khawatir Mahfudz namun tidak berbuat apa-apa.


Aku melepaskan tanganku dari Ali dan berhenti mengikutiku.


"Di sini aja"kataku. "Nggak akan ada yang mendengar apa yang mau kita bicarakan di sini"kataku.


Aku melihat pada rombongan medis dr. Ali dan aku yang menunggu tak jauh dari kami. Namun cukup jauh untuk bisa mendengar percakapan kami. Aku tidak mau orang-orang salah paham terhadap kami begitupun Mahfudz.


"Raya, aku minta maaf padamu atas kejadian di rumah pada hari itu. Aku sudah mempermalukan kamu di sana. Maafkan aku ya?"


Ali memegang kedua pergelangan tanganku.


Aku terdiam.


"Ya? Kamu maafin aku kan Ray?Ya?" Ali memandangku penuh harap.


Aku menatap Mahfuz dari tempatku berdiri. Dia terlihat tak sedikit pun berkedip mengawasiku.


"Ray...?"


Aku mengembalikan pandanganku pada Ali.


"Kamu minta maaf untuk apa, Li? Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Yang kamu katakan saat aku melayat di rumahmu itu semua benar. Aku penyebab kematian Tya. Aku juga tidak bisa menuruti wasiat Tya. Untuk itu aku bahkan tak pantas mendapatkan maaf dari kamu. Kamu bersikap seperti ini malah membuatku merasa semakin tidak enak. Jangan meminta maaf padaku"


"Ray, aku salah karena telah bicara kasar padamu. Harusnya aku tidak bicara dan menghinamu seperti itu. Sekarang aku cuma ingin bangkit dari semua keterpurukan ini. Aku ingin menikah denganmu Ray...."


Bagai disambar petir di siang bolong aku mendengar kata-kata itu.


"Aku tau aku harusnya mengatakan ini dengan cara yang lebih layak ke kamu. Tapi aku harus bagaimana Ray, kamu tidak akan mungkin mau kan ku ajak ke suatu tempat yang pantas untuk mengatakan semua ini?"

__ADS_1


"Tempat yang layak?" Aku mengulangi kata-kata Ali. "Kamu sadar nggak?Istrimu meninggalkan kamu baru saja, dan kamu sudah melamar wanita lain untuk kamu nikahi. Ya Allah, kamu waras nggak, Li?"


"Aku cukup waras untuk mengatakan semua ini. Tya juga menginginkan ini. Dia menginginkan kamu kembali ke aku sebagai penggantinya saat dia meninggal. Lalu dimana salahku kalau aku mencoba menuruti wasiat terakhir istriku?"


Ali memang benar-benar gila.


"Dimana salahmu?" Aku tertawa miris. "Mau kutunjukkan dimana salahmu? Apa perlu kutunjukkan dimana kesalahanmu? Apa kamu tak bisa mencari tau sendiri dimana kesalahanmu? Ok. Aku kasih tau salahmu. Salahmu adalah kamu terlalu egois, bahkan Tya juga sampai khir dia tetap egois. Apa pernah kalian berpikir, kenapa aku harus mau kembali padamu, Li? Kamu menjadikan kematian Tya sebagai alasan untuk membuatku kembali padamu. Ok, semisalnya pun aku bersedia, sampai kapan aku harus merasa terintimidasi dengan pernikahan yang didasari rasa bersalah? Kamu ingin aku merasa bersalah dan bertanggungjawab dengan menikahi kamu. Apa itu masuk akal? Apa kamu nggak ada alasan yang lebih masuk akal dan bisa diterima?"


"Ada. Aku punya alasan yang masuk akal. Karena aku masih mencintai kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi, Raya!" Kata Ali.


Aku merasa benar-benar harus tertawa terbahak-bahak, andai aku tidak ingat ini rumah sakit.


Aku tersenyum pias. "Kamu tidak pernah kehilangan aku, Ali. Tapi kamu membuangku, sadarlah. Kamu meninggalkan aku demi Tya. Disaat aku benar-benar berharap bisa menikah denganmu di hari yang kamu janjikan 5 tahun yang lalu. Kamu janji ke Ummik akan membawa orang tuamu untuk melamarku. Tapi kamu tidak membawa mereka, melainkan kamu hanya mengirim undangan pernikahan via pos pada Ummik. Undangan yang di dalamnya tertera bukan nama anaknya. Kamu tau sedihnya Ummik? Aku yang patah hati, Li. Tapi Ummik yang menangis berhari-hari. Kenapa kamu melakukan itu padaku dan Ummik? Kenapa tak kamu hormati Ummik yang sudah menganggapmu anak sendiri dengan datang ke rumah, meminta maaf langsung karena tak bisa menepati janjimu untuk menikahi anaknya? Kenapa harus kamu kirim undangan itu? Kenapa kamu tidak minta tolong padaku untuk memberi pengertian pada Ummik? Oh, iya aku lupa. Kamu juga tidak pamit baik-baik padaku ketika meninggalkanku. Kamu membuatku seperti orang bodoh. Di saat semua orang di rumah sakit ini tau kita pacaran, aku yang tidak tau apa-apa mendapat kabar kalau pacarku telah menikahi cucu pemilik rumah sakit. Apa salahku dan Ummik padamu sampai kamu tega melakukan itu dan sekarang kamu datang lagi meminta agar aku menikah denganmu dengan alasan karena aku penyebab kematian Tya. Kamu ingin melamarku pada Ummik dengan alasan itu? Wow, kamu luar biasa, Li"kataku mencurahkan semua isi hati yang sudah lama ku pendam.


"Aku salah Ray, aku janji akan menebus kesalahan dan dosaku itu padamu dan Ummik. Aku janji akan membahagiakan kamu dan Ummik setelah ini. Tapi aku mohon, jangan balas membuangku. Kalau kamu mau marah, marah saja. Aku akan sabar menunggu sampai amarahmu reda." Ali memohon.


"Boleh aku tau alasan kenapa kamu meninggalkan aku demi Tya? Kalau aku tidak salah ingat, ketika aku melayat kamu bilang Professor juga punya andil saat memisahkan aku dan kamu. Apa itu maksudnya Professor yang menyuruh kamu meninggalkan aku demi Tya? Untuk apa Professor melakukan itu?"tanyaku.


Ali tak menjawab. Terlihat di wajahnya dia bimbang dan ragu untuk menjawabnya.


"Kalau kamu tidak mau jawab juga nggak apa-apa. Aku tidak punya hak untuk bertanya lebih kalau kamu tidak mau menjawab"


Aku akan membalikkan badanku untuk pergi saat Ali menahanku.


"Lalu kamu mau? Menikahi orang yang sedang mengandung bukan anakmu tanpa imbalan apa-apa?"tanyaku sinis.


Ali menghela napas berat. Dia seperti enggan menceritakannya. Namun karena dia merasa terlanjur menceritakannya setengah-setengah lalu ia pun melanjutkan ceritanya yang berupa pengakuan diri.


"Professor bersedia menjamin semua pendidikan yang kuambil untuk mendapatkan gelar spesialis dan subspesialis jika aku menikahi Tya"


Pengakuan Ali yang ini membuatku kaget. Kaget karena tak menyangka professor bisa melakukan hal semacam itu.


"Kamu tau aku sangat ingin mengambil pendidikan spesialis penyakit dalam kan? Kamu tau juga kondisi keluargaku. Keluarga kami keluarga pas-pasan. Adikku banyak. Aku tidak akan mungkin bisa jadi dokter spesialis seperti saat ini kalau bukan karen bantuan professor. Uang dari mana aku Ray? Aku juga ingin berkembang dan maju. Meski tak bisa kupungkiri aku jadi menyakitimu. Aku melukaimu. Tapi asal kamu tau di dalam hatiku yang paling dalam meski aku sudah menikahi Tya. Aku masih sangat mencintaimu Ray" kata Ali mengakui semuanya.


Aku menarik napas panjang dan membuangnya.


"Terima kasih karena sudah jujur, Li. Akhirnya aku bisa lega telah mengetahui semua pertanyaan-pertanyaan dalam hatiku tentang alasan kenapa kamu melakukan semua itu. Tapi.... Aku tidak bisa respect pada alasanmu. Aku tidak masalah atas pilihan hidup yang kamu ambil. Yaitu meninggalkan pacarmu demi kehidupan yang lebih baik dan terjamin. Tapi aku tak habis pikir bagaimana mungkin saat kamu sudah menikahi Tya kamu masih berani mencintai orang lain dalam hatimu? Betapa tidak bersihnya hatimu itu. Betapa kasihannya Tya. Selama ini aku berpikir dia jahat dan egois karena selalu cemburu padaku. Kalau dipikir-pikir ulang bukankah yang jahat itu kamu? Sudah menerima apa yang kamu dapat, namun kamu tetap mencintai orang lain. Bukankah dia juga telah memberimu putri?"


"Ray, aku mana bisa mengendalikan hatiku. Aku sudah berusaha melupakanmu tapi aku tetap mencintaimu dalam hatiku. Aku juga menderita tapi tak bisa ku katakan pada siapa pun apa yang kurasa. Kita sama-sama menderita karena langkah yang ku buat. Tapi, sekarang Tuhan mempertemukan kita lagi dalam kondisi dimana aku tidak memiliki pasangan lagi. Ini sudah takdir Tuhan Ray" Ali berusaha meyakinkanku.


"Ini adalah salah satu kesalahan yang kamu buat, Li. Kamu selalu merasa semua hal yang terjadi di dunia ini adalah tentang kamu, hidupmu, waktumu. Saat ada yang menawarkan memberimu kesempatan emas untuk bisa jadi dokter spesialis kamu menganggap itu timing yang pas untukmu buat merubah hidup. Dan sekarang saat istrimu meninggal pun, kamu merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali padaku. Apakah kamu masih punya hati nurani Ali? Ini bukan hanya tentang hidupmu, tapi juga hidup yang ku punya. Aku tidak bisa menikah denganmu dengan berbagai alasan yang ku punya. Mohon mengertilah. Cukup sampai disini. Aku tidak mau ada yang tersakiti karena masalah ini" kataku frustasi.


"Apa ini karena anak itu? Mahfudz anak koas itu?" tanya dr. Ali tiba-tiba.

__ADS_1


Aku menghela napas lagi. Seluruh rumah sakit ini pasti sudah tau hubunganku dengan Mahfudz. Ali pastinya juga sudah tau meskipun dia baru saja kembali bekerja setelah istrinya meninggal. Ada banyak mata, mulut dan telinga yang bisa memberikan informasi ini padanya.


"Kamu sudah gila sampai kamu harus seputus asa itu pacaran dengannya. Tuna wicara, masih koas. Apa yang bisa kamu harapkan darinya, Ray? Apakah ini hanya gimmic untuk membuatku merasa bersalah padamu?"


Aku menatap Mahfudz yang juga sedang menatapku dari rombongan medis yang menunggu kami. Dalam hatinya dia pasti penasaran dan berpikiran macam-macam tentang apa yang sedang aku bicarakan dengan Ali saat ini.


"Aku tidak pacaran dengannya, Li"kataku. "Ummik melarangku...."


Ali terlihat lega.


".... tapi Ummik mau aku segera menikah dengannya. Dan aku sudah memikirkannya matang-matang dan memutuskan aku akan menikah dengannya. Terus terang saja, sebelumnya aku ragu padanya tapi percakapan kita kali ini, membuatku semakin yakin, kalau ini adalah yang terbaik"


Ali menatapku geli. "Kamu tidak berpikir jernih Raya. Pikirkanlah lagi. Mahfudz itu berkebutuhan khusus, kamu akan direpotkan oleh banyak hal karenanya di kemudian hari. Dan mundur akan terasa sangat sulit kalau kamu sudah terlanjur menikah dengannya."


"Terima kasih atas sarannya. Tapi kamu tidak mengenalnya. Kamu tidak berhak berkata seperti itu padanya. Kalau hanya ingin membuatmu cemburu aku akan mencari orang yang lebih dari kamu, Li. Orang yang mapan dan lebih segala-galanya dari kamu sehingga kamu tidak perlu melakuan hal seperti ini mengejar-ngejar aku. Tapi aku mencintai Mahfudz dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku menerima dia dengan kondisinya yang seperti itu. Apakah kamu pernah mencintai seseorang seperti itu? Aku kasihan padamu. Aku yakin kamu tidak akan pernah merasakan cinta seperti itu. Karena Mr. Perfeksionis sepertimulah yang selalu hidup dengan gimmick. Yang selalu mengatur segala sesuatu, disetting sedemikian rupa agar terlihat sempurna. Dan sekarang kamu ingin menikahi dr. Raya Sp.OG untuk melengkapi hidupmu agar terlihat cocok berdampingan dengan dr. Ali Sp.PD? Wow terlihat keren dan cocok kan? Tapi maaf, Li. Aku bukan orang sesempurna itu. Karena sadar hal itu maka aku akan menerima Mahfudz dalam hidupku. Kami sama-sama punya kelebihan dan kekurangan dan kami akan saling melengkapi satu sama lain. Dan yang lebih penting dia tidak sama sepertimu. Dia berani menerimaku. Meski dengan menerima ku dia akan semakin terlihat kecil di mata orang lain. Hal yang tidak akan pernah kamu bisa tiru darinya. Andai dari dulu kamu bisa menerima keadaanmu yang apa adanya tanpa tergiur tawaran professor. Mungkin kita akan bisa melewati semuanya bersama-sama. Dan mungkin saat ini kita sedang berbahagia dalam satu ikatan pernikahan dengan hidup yang sederhana namun bahagia. Kita tidak akan berada dalam pembicaraan yang sulit seperti ini. Bukankah begitu?"


"Raya...." Ali mulai tertekan dengan jawabanku yang panjang lebar.


"Sudahi ini, Li. Jangan berusaha lagi. Kita sudah berakhir sejak lama. Jangan sambung lagi benang merah yang sudah terputus"


Aku lelah dengan pembicaraan ini. Dengan langkah gontai aku kembali pada rombonganku. Mahfudz bertanya dengan ekspresi di wajahnya. Lihatlah, ada cemburu juga di matanya. Tenang saja, dedek koasku. Aku memilihmu.


\*\*\*\*\*


Sabtu yang dinanti akhirnya datang juga. Aku mengajukan libur satu hari ke rumah sakit karena ada keperluan. Dan Mahfudz pun katanya tidak ada jadwal tugas di rumah sakit hari ini.


Sedari pagi Ummik dan aku sudah menyiapkan banyak menu makanan yang mungkin bisa kami nikmati saat santap siang bersama nanti. Ini bukan lamaran resmi, melainkan hanya silaturrahmi antara keluarga Mahfudz dengan aku dan Ummik saja. Namun gelagatnya pembicaraan tentang pernikahan antara aku dan Mahfudz tidak akan terelakkan dari pertemuan ini. Aku pasrah saja kali ini. Aku telah sholat istikharah selama beberapa malam, dan hatiku tetap merasa Mahfudz adalah orang yang dikirim Allah sebagai jawaban atas doa-doaku selama ini.


"Kamu mandi sana, Ray. Mereka datang jam 10 loh, kurang 5 menit lagi jam 10. Kamu memang mau calon mertuamu melihat kamu awut-awutan kayak begitu? Biar Ummik yang terusin" omel Ummik.


"Ya. Ummik...."sahutku.


Aku segera masuk ke kamarku, mandi dan memilih baju yang layak untuk ku pakai. Baju yang tidak terlihat berlebihan namun tetap sopan dan rapi untuk dipakai dalam pertemuan di dalam rumah. Aku memilih baju terusan dengan bahan kaos berwarna kombinasi antara putih dan coklat susu. Aku pun memakai jilbab dengan warna senada.


Aku baru selesai memakai jilbabku ketika mendengar suara klason mobil dari luar rumah. Sepertinya itu mereka. Cepat juga, pikirku. Padahal tadi Mahfudz WA posisi dimana mereka terakhir kali aku kira sampainya masih sekitar 10 menit lagi. Itu pun kalau mereka tidak kesulitan mencari alamat rumahku.


Aku segera ke luar rumah untuk menyambut mereka. Sementara Ummik masih berbenah di dapur. Aku melihat ke mobil yang masuk ke halaman samping karena pagar memang sengaja sudah dibuka dari tadi.


Aku kaget melihat mobil yang masuk, bukan mobil keluarganya Mahfudz.


"Professor??"


Professor Ayyub menutup pintu mobil. Dia menuntun anak kecil yang segera ku tau kalau itu Rayhan, anaknya dr. Ali.

__ADS_1


Aduuh, ada apa ini? Kenapa professor malah berkunjung di saat tak tepat seperti ini, keluhku.


__ADS_2