I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Mengungkapkan


__ADS_3

"Ya, Mik? Ada apa?" tanya Raya saat Ummi meneleponnya.


"Ayuni, Ray! Coba buka TV17 sekarang. Dia ada di TV! Apa yang terjadi? Bukannya harusnya Mahfudz yang on air sekarang?"tanya Ummik.


"Haaa?"


Raya segera mengambil ponselnya dan mencari aplikasi TV streaming.


Sama seperti Ummik Raya juga terkejut.


"Sebelas tahun yang lalu, saya adalah salah seorang anak panti asuhan di kota S. Saya tidak tau siapa orang tua kandung saya, karena begitu saya punya ingatan masa kecil, yang saya tau adalah keluarga saya ada semua orang yang berada di panti asuhan, baik itu pengurus mau pun saudara- saudara di panti asuhan. Namun suatu hari seseorang bersama istrinya datang menjemput saya. Kata mereka ...."


Ayuni berhenti berbicara sejenak. Dia berusaha menahan air matanya jatuh.


"Kata mereka ..., 'Nak, mulai sekarang aku adalah ayahmu dan ini ibumu. Kamu boleh memanggil kami papa dan mama mulai sekarang'. Sejak itu namaku Ayuni Mita ditambah dengan nama belakang Soeharsono. Semua teman- temanku iri padaku. Karena aku adalah anak seorang pejabat yang selalu memakai barang- barang bagus dan diantar jemput dengan mobil ke sekolah setiap harinya. Tetapi dibalik semua itu mereka tidak tau kalau anak yang terlihat bahagia itu menjalani hari- hari yang menderita sepanjang menyandang nama belakang soeharsono. Anak itu dilecehkan, diperkosa, bahkan disiksa fisik dan psikologinya selama bertahun- tahun. Hingga pada akhirnya suatu hari ...."


*Flashback on*


"Mbak Ayuni, kenapa? Mbak Ayuni sakitkah?" tanya Mbok Yana, asisten rumah tangga di rumah Waridi.


Ayuni yang saat itu baru keluar dari kamar mandi karena muntah- muntah menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat pucat.


"Sepertinya Mbak Ayuni kurang sehat. Mbak Ayuni sakit? Masuk angin? Mbok kerokin ya?" kata Mbok Yana menawarkan.


"Kenapa dia?" Tiba- tiba Waridi muncul dan memandang tajam pada Ayuni.


"Ini, Pak! Mbak Ayuni kayaknya sakit. Dia muntah- muntah dari kemarin. Makan juga sepertinya tidak berselera. Apa perlu saya bawa ke dokter, Pak?"


"Tidak perlu. Nanti biar saya saja yang antar dia ke rumah sakit, sekalian berangkat kerja."


Persis seperti yang dikatakan Waridi, dia membawa Ayuni sekalian dia berangkat kerja. Tetapi yang sebenarnya Waridi membawanya bukan ke rumah sakit melainkan ke sebuah rumah markas.


Sesampai di kamar, Waridi mendorong Ayuni ke kamar mandi.


"Test sekarang!" katanya sambil melepaskan sebuah testpack.


Ayuni kaget. Kenapa Waridi menyuruhnya untuk test kehamilan? Mungkinkah?


"Ayo! Jangan buat kesabaranmu habis!"


Pasrah dan tak bisa berbuat apa- apa, akhirnya Ayuni menuruti lelaki itu.


"Hamil ...." Waridi dengan geram mendorong Ayuni hingga terpojok ke di dinding. " Kamu sengaja ingin menjebak saya, haaa?"


Tangannya kini menjambak rambut Ayuni hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Lalu bagaimana bisa kamu hamil sementara aku selalu menyuruhmu minum pil kontrasepsi!!"


"Aku, aku ... nggak tau. Tolong le- pas- sin aku, A- yah!"


"Ayah?! Kau pintar juga menggodaku. Baiklah, karena kau sudah memanggilku Ayah, mari kita mulai sesuatu yang menyenangkan. Hahahaha ....!"


Singkat cerita, Waridi mulai mencari seseorang untuk dinikahkan dengan Ayuni. Dia tidak ingin kehamilan Ayuni akan menjadi Boomerang yang akan menyerangnya kelak. Kenapa Waridi tidak memilih untuk menggugurkannya? Karena fantasi liarnya berharap kalau Ayuni akan melahirkan anak perempuan nanti, sehingga bisa dijadikan objek pelampiasan kelainan seksualnya.


Hingga akhirnya Waridi pun menemukan seseorang untuk dinikahkan dengan Ayuni. Andreas. Dia adalah seseorang laki-laki berkebangsaan Vietnam, anak dari salah seorang relasi bisnisnya. Lelaki itu tidak mencintainya. Pernikahan itu semata- mata hanya demi keuntungan bisnis dan tentu saja keuntungan buat Waridi sebagai penutup perbuatan bejatnya.


Suatu hari, lelaki itu memergoki perbuatan Waridi pada Ayuni, di apartemen yang mereka tinggali. Hal itu membuatnya semakin jijik pada Ayuni, terlebih- lebih dia tau kalau Ayuni sedang hamil, padahal sejak mereka menikah, lelaki itu bahkan tidak pernah menyentuhnya. Ya, itu pernikahan terpaksa. Andreas telah memiliki kekasih sebelum menikah dengan Ayuni. Jadi mana mungkin dia mau tidur bersama gadis itu, meski pun mereka telah menikah?


Tidak menunggu lama, pernikahan itu hanya berjalan hitungan minggu saja, akhirnya Andreas pun meninggalkannya dan kembali ke Vietnam.


Dan malam itu, sebulan setelah Andreas pergi, Waridi datang kembali ke apartemen itu untuk memaksa Ayuni, Namun Ayuni berontak.


"Kamu berani melawanku sekarang, heh!!"


"Tolong lepasin aku. Aku, Aku sedang hamil ...."


"Kenapa memangnya kalau kamu hamil? Apa orang hamil tidak bisa berhubungan badan, haaah? Lagi pula ini anakku! Dia tidak akan kenapa- kenapa!"


"Aku tidak mau! Aku tidak mauuu!!" jerit Ayuni.


"Oh, ya? Bagaimana caranya kau tidak mau? Sejak kapan kau mulai berani melawanku? Aku bahkan belum memberi perhitungan denganmu. Bagaimana bisa Andreas pergi meninggalkan kamu? Kamu tidak mau melayaninya di ranjang? Kamu tidak pintar bahkan hanya untuk melakukan pekerjaan segampang itu? Dan sekarang kamu tau akibat apa yang kamu lakukan? Bapaknya memutuskan hubungan bisnis denganku. Itu membuatku rugi banyak. Dan kau masih berani menolakku??!!"


Waridi dengan tak berperasaan melakukan pemaksaan dan pemerkosaan itu tepat seperti apa yang dilakukannya selama ini. Tapi Ayuni, entah karena anak dalam kandungannya dia merasa lebih berani malam itu. Meski masih dalam intimidasi Waridi, dia mengancam lelaki itu.


"Aku akan beritahukan ini pada Mama. Kali ini akan aku kasih tau!!!!" jeritnya ditengah- tengah tindakan pemaksaan yang dilakukan Waridi padanya.


Lelaki tua itu menamparnya, meninggalkan bekas kemerahan di pipinya.


"Coba saja kalau kau berani!"


Waridi masih terus saja melakukan aksinya, namun kali ini Ayuni memutuskan untuk melawan sampai akhir. Walaupun akhirnya dia akan mati, tapi dia tidak akanpasrah kali ini.


Akhirnya dengan sisa- sisa kekuatan yang dia miliki, Ayuni berusaha menggapai lampu tidur di sebelah tempat tidurnya. Gadis itu mencoba memukulkannya pada Waridi, namun gagal. Usahanya untuk menyerang Waridi itu, membuat pria yang menjadi wakil walikota itu menjadi marah dan naik pitam, hingga akhirnya dia menemukan tali dan mengikat Ayuni. Puas melampiaskan hasratnya tiba- tiba terpikir di benaknya untuk mengakhiri hidup gadis itu. Ayuni sudah berani melawannya, akan merepotkan di kemudian hari jika gadis itu semakin liar dan berbuat sesuatu yang merugikannya. Polisi, dia mungkin bisa saja menyogoknya, tapi istrinya mungkin akan berbeda jika tau apa yang diperbuatnya. Karena itu saat melihat racun insektisida penyemprot nyamuk di atas lemari, Waridi nekad memaksa Ayuni meminumnya.


"Kau pergilah ke neraka! Mati dan tutup mulutmu untuk selama- lamanya," kata Waridi.


Melihat gadis itu kejang- kejang Waridi tak melakukan apa- apa selain membuka ikatan pada tangannya. Dan pergi begitu saja, membereskan sedikit masalah cctv dengan uang pada pihak security membuatnya aman dan kecurigaan.

__ADS_1


Ayuni ditemukan oleh asisten rumah tangga dan sopirnya dan membawanya ke rumah sakit. Tentu saja sebenarnya mereka pun tau perbuatan siapa itu, karena sebelumnya hanya Waridi yang datang ke apartemen dan menyuruh mereka membelikan makanan di tempat yang jauh. Namun lagi- lagi tak ada yang berani mengungkapnya karena berurusan dengan Waridi sama saja membuat diri sendiri jatuh dalam kubangan masalah.


*Flashback off*


"Itu yang menimpa saya tahun lalu. Dan kebetulan saat itu yang menangani saya adalah dr. Raya yang karena pernyataan beliau di konferensi pers tentang situasi dan kondisi saya, membuat Bapak Waridi yang terhormat menculiknya dan bahkan menjebaknya dan kakak ipar saya seolah tidur bersama di sebuah rumah. Sungguh saya telah membuat banyak kesulitan bagi mereka namun mereka teta menganggap saya sebagai keluarga. Mereka mengangkat saya dari tempat yang kotor dan hina bahkan memberikan saya martabat yang dulu saya bahkan tidak yakin kalau saya pernah memilikinya. Dan oleh karena itu, pada kesempatan kali ini pun saya juga meminta tolong pada masyarakat. Keponakan suami saya menghilang. Saya sangat yakin kalau Bapak Waridi telah melakukan penculikan padanya! Ini foto keponakan kami." Ayuni mengambil foto Nadya dari tasnya yang segera di-zoom oleh wartawan."Namanya Nadya, usianya baru 13 tahun. Beberapa waktu lalu Bapak Waridi mencoba untuk mendekatinya. Yang untungnya segera ketahuan oleh suami saya. Kalau ada yang melihatnya, tolong kabari kami segera!"


"Atas dasar apa kamu boleh menuduh dan menghina suamiku seperti itu!!" Tiba- tiba dari balik kerumunan wartawan dan reporter Ny. Waridi datang dan menuding Ayuni.


Hari ini dia memang turut hadir di alun- alun kota untuk mensuport suaminya dalam kampanye Akbar yang terakhir ini. Dia cukup terkejut saat salah seorang panitia kampanye membisikkan sesuatu padanya, sementara Waridi pasangannya masih terus menyanyikan yel-yel di atas panggung.


"Ayuni!! Apa yang kau lakukan? Kamu ingin menjatuhkan papamu sendiri di khalayak ramai begini? Mama sungguh kecewa. Kurang baik apa Mama dan Papa mengangkatmu sebagai anak namun pada akhirnya balasanmu hanya memfitnah kami seperti ini?" Ny. Waridi berteriak dan memusingkan jarinya pada Ayuni.


Ayuni terdiam sejenak untuk mengambil napas.


"Maafkan saya, Ma. Eh, maaf. Saya tidak seharusnya memanggil anda seperti itu. Saya sangat berterima kasih pada anda yang telah membesarkan dan memberi saya makan dan tempat berteduh selama 10 tahun terakhir ini. Tapi sungguh sekarang ini dalam hati saya bertanya- tanya, sungguhkah anda menganggap saya anak? Kriteria orang tua selain memberi sandang pangan, adalah memberi kasih sayang dan melindungi anak- anaknya. Saya ingin bertanya sekarang, apakah anda sungguh tidak tau apa yang menimpa saya selama mendapat predikat anak dari Waridi Soeharsono? 10 tahun, Ma! Benarkah kamu tidak pernah tahu, kalau suamimu melakukan hal sebejat itu padaku? Dari aku kecil. 10 tahun, bukan waktu yang singkat. Kenapa kau tidak mengenali suamimu sendiri? Kau bilang kau Mamaku. Tapi kau tidak pernah melindungiku. Bahkan pembantu, sopir dan semua orang yang bekerja di rumahmu tau apa yang dilakukan Waridi padaku! Tapi kau tidak tau? Mama seperti apa kau? Istri seperti apa kamu? Bahkan kalaupun kau menuntutku untuk balas Budi sekarang, Ny. Waridi. Aku bahkan tidak merasa punya hutang Budi padamu, pada suamimu! Kalian hanya memberiku makan dan memberiku tempat tinggal, bahkan hewan peliharaan pun akan diperlakukan seperti itu oleh majikannya bahkan mungkin masih jauh lebih baik dibandingkan kalian memperlakukan aku."


"Ayuni! Kamu jangan berkata sembarangan. Hal- hal seperti ini jika ada yang mengganjal di hatimu, bisa kita bicarakan, tak perlu kamu menjelek- jelekkan kami di depan orang ramai seperti ini. Mama sungguh- sungguh menganggap kamu anak perempuan Mama, kamu ...."


"Mama?" Ayuni tersenyum sinis. "Kita sama- sama memiliki anak dari seorang laki- laki yang sama. Menurutmu apa kita masih cocok menjadi ibu dan anak?"


Bak suara petir di siang hari semua orang yang menonton perdebatan itu baik di rumah atau secara langsung sangat terkejut dengan pernyataan Ayuni. Terlebih- lebih para wartawan dan reporter yang berada di tempat itu. Mereka spontan berdesak- desakan melontarkan pertanyaan dan mengarahkan kameranya pada Ayuni dan istrinya Waridi. Sementara di panggung Waridi juga sudah gelisah sedari tadi saat melihat kumpulan wartawan dan reporter berlarian ke arah lain alun- alun sambil membawa properti mereka


"Cari tau apa yang terjadi!" kata Waridi pada Martin yang sedang duduk tak jauh dari panggung.


Dia mengambil botol minuman dan kembali ke atas panggung. Dia tau ada yang tidak beres di sini. Tapi Waridi masih berpikir ini hanya ulah dari salah satu saingan Paslon Cagub lainnya.


Sementara itu, Fuad yang telah mendapat telepon dari Raya dan telah mengkonfirmasi apa yang terjadi pada Mahfudz segera membatalkan niatnya ke rumah markas Waridi, karena Nadya juga telah aman. Namun yang lebih penting saat ini adalah ia harus mendatangi Ayuni di alun- alun. Fuad tidak menyangka kalau Ayuni akan bertindak senekad itu.


Kembali ke tempat Ayuni dikerubungi oleh wartawan dan reporter, Ny. Waridi terlihat shock mendengar pengakuan Ayuni.


"Kenapa? Terkejut mengetahui kalau anak yang kukandung dan kulahirkan adalah anak dari Waridi Soeharsono? Anda kira itu anak siapa? Andreas? Andreas tidak pernah menyentuhku sama sekali saat kami menikah dan aku berani memastikan kalau anakku adalah anak biologis dari suami anda, Ny. Waridi! Aku tidak ingin mengakuinya sebenarnya. Akan lebih baik anakku tidak pernah punya bapak seperti itu. Tapi pada akhirnya inilah kenyataannya," kata Ayuni terdengar sedih.


"Kau bohong ...." gumam Ny. Waridi dengan geram. Dia tidak ingin mempercayainya. Sungguh, itu bohong kan?


"Kalau Anda meragukannya, semua meragukannya, saya tidak keberatan anak saya uji paternitas dengan suami Anda, Ny. Waridi. Kita bisa melakukannya tanpa mengekspose anak saya tentunya," kata Ayuni.


Ny. Waridi terhenyak sampai tak bisa berkata apa- apa lagi. Dia mundur dari kerumunan wartawan. Shock hingga lututnya terasa lemas dan rasanya tak akan sanggup berdiri lagi.


Dan kini giliran wartawan dan media yang membuat Ayuni repot.


"Saudari Ayuni! Saudari Ayuni, bisa tolong jawab pertanyaan saya! Bla ... Bla..."


Ayuni merasa kepalanya tiba- tiba pusing dengan kerumunan wartawan seperti ini. Dan sepertinya dia baru ingat kalau dia tidak sempat makan tadi.


"Saudari Ayuni, bisa tolong jawab. Satu pertanyaan saja. Apa yang membuat anda yakin untuk memberi tahukan kebenaran ini sekarang? Apa memang anda sudah mempersiapkan balas dendam ke ayah angkat anda sejak lama? Apa waktu untuk kampanye Akbar ini memang sudah lama anda targetkan untuk membalas dendam?"


"Ayuni, apa yang kau lakukan? Kenapa kau bodoh sekali?" kata Fuad marah.


"Itu bukannya dr. Handsome ya?"


"Itu dr. Mahfudz?"


"Mbak Ayuni, apa hubungan anda dengan dr. Mahfudz?"


"Mbak Ayuni sepertinya saat ini anda tengah hamil, bisa anda jelaskan apa anak yang anda kandung anaknya Bapak Waridi atau ...."


"Dia anakku. Aku, suaminya Ayuni, Fuad, bukan Mahfudz. Mahfudz saudara kembarku." potong Fuad menjelaskan.


Hampir dari semua reporter dan wartawan itu mengangguk- anggukkan kepalanya pertanda mereka paham.


"Oh, begitu. Kalau begitu apakah anda sudah tau masa lalu Ayuni, dan bagaimana sikap dan perlakuan anda terhadap anaknya dari Bapak Waridi yang telah dilahirkan saudari Ayuni? Apakah mungkin akan berbeda dengan anak anda yang mungkin sedang di kandung oleh saudari Ayuni sekarang?" tanya salah seorang wartawan mencoba menghalangi Fuad yang hendak pergi membawa Ayuni dari sana.


Mendapat pertanyaan itu Fuad agak sedikit kesal dan menghentikan langkahnya.


"Rahmat adalah anakku, selamanya tetap anakku. Terlepas dari siapa pun ayah biologisnya, itu tidak berarti apa pun bagiku. Waridi, lelaki itu bahkan tidak pantas disebut manusia, bagaimana mungkin kalian menyebut anakku sebagai anaknya? Itu sama sekali tidak pantas! Jadi tolong hentikan lelucon kalian. Sudah cukup, saya harus membawa istriku pulang," kata Fuad.


"Satu pertanyaan lagi! Please Mas Fuad! Satu lagi!" cegat salah satu wartawan membuat Fuad menghela napasnya lagi.


"Baiklah, satu lagi. Benar- benar satu aja yang saya ladeni. Setelah ini saya harap tolong berhenti mengejar kami, istri saya sedang hamil dan dia lelah, dia perlu istirahat!"


"Baiklah,satu saja." kata wartawan itu. "Apa yang akan anda lakukan terhadap Bapak Waridi selanjutnya? Apakah anda akan memperpanjang masalah ini?"


"Tadinya saya bermaksud untuk menutup aib istri saya dari khalayak umum seperti ini, namun karena sudah begini dan Ayuni sudah memutuskan, saya tentunya tidak akan diam. Saya akan membawa kasus ini ke kepolisian. Jadi mohon pada teman- teman awak media dan masyarakat untuk mengawal dan mengamati perkembangan kasus ini sampai selesai!"


Karena melihat lemahnya kondisi Ayuni, ditambah lagi oleh dorongan wartawan dan reporter, Fuad memutuskan untuk mengangkat tubuh Ayuni dan menggendongnya. Dia melihat raut letih di wajah itu.


Sementara itu daerah pemilihan Fuad mencalon sebagai anggota legislatif masyarakat juga ikut menonton tayangan tersebut.


"Hey! Bukannya itu caleg Fuad, ya?"


"Iya benar!" sahut yang lainnya.


"Oh, ini alasan kenapa dia membatalkan kampanyanye hari ini. Ternyata begitu?"


"Ya Tuhan, dia benar- benar pria idaman, bertanggung jawab, sayang anak istrinya bahkan tidak peduli latar belakang dan anak siapa yang dirawatnya."


"Ditambah lagi, dia sangat tampan! Aku pasti akan memilihnya."

__ADS_1


"Benar- benar sosok seorang calon pemimpin yang baik, nggak kayak si cagub brengsek itu!"


"Kita pilih Fuad aja yuk!"


"Bener nih. Kita janjian ya!"


"Iya!"


Begitulah salah satu cuitan masyarakat di salah satu pojok kecamatan di provinsi N.


 



 


Beberapa hari telah berlalu sejak liputan pengakuan dan pernyataan Ayuni di televisi. Masa tenang setelah kampanye pun telah berlalu. Hari ini adalah hari pemilu di provinsi N. Semua masyarakat berbondong-bondong ke TPS.


Nama Waridi pun telah dicoret oleh kopilum dari daftar 3 calon gubernur yang akan dipilih oleh masyarakat. Hal ini karena mereka telah menimbang baik dan buruknya reputasi Waridi di masyarakat sekarang ini walaupun proses hukum masih terus berjalan.


Ayuni dan Fuad juga telah melaporkan tindakan keji Waridi di masa lampau dan tidak keberatan melakukan tes DNA, meskipun kepolisian belum meminta hal tersebut.


Sementara itu Walikota Darwis pun telah bersedia memberikan sejumlah bukti- bukti kasus korupsi Wakil Walikota Waridi sepanjang menjabat selama beberapa tahun terakhir.


Belum lagi Willy yang telah membeberkan sejumlah bukti tentang perdagangan narkotika, penyelundupan kulit trenggiling sebagai hewan langka, dan bahkan illegal logging di daerah pedalaman provinsi N yang telah mereka lakukan bersama selama bertahun- tahun.


Willy tentunya tak mau terjerumus sendiri. Dan itu belum seberapa dibandingkan oleh perintah pemecatan Waridi dari pemerintah pusat. Karena sebelumnya Waridi hanya berhenti sementara menjadi wakil walikota untuk kepentingan pilkada, maka pada waktu yang singkat Waridi pun harus dipecat secara tidak terhormat menjadi wakil walikota sebelum serah terima jabatan kepala daerah yang baru.


Dan yang paling spektakuler dari semua berita itu adalah penemuan fakta baru tentang kelainan **** yang diderita Waridi. Dimana atas bantuan Bang Akbar dan Bang Gogo serta keterangan dari Nadya dan juga anak buah Waridi yang mengantarkan Nadya ke rumah sakit dan berhasil diamankan, akhirnya rumah yang dijadikannya tempat melakukan segala kejahatannya berhasil digrebek dan ditemukan barang- barang mengejutkan di sana.


Di kamar yang sempat ditempati Nadya untuk disekap ditemukan banyak kepingan kaset CD berisi Vidio porno koleksi Waridi begitu pun di dalam flashdisk yang ditemukan Nadya yang rata- rata judulnya adalah tentang hubungan sedarah. Dan lagi- lagi mengejutkan sebagian besar dibintangi oleh Waridi sendiri dengan anak- anak seusia belasan tahun bahkan ada yang usianya dibawah itu. Vidio- Vidio itu diproduksi untuk di posting disebuah komunitas incest di luar negeri.


Dan tentu saja semua kalangan masyarakat dari golongan pemerintah sampai masyarakat kelas bawah mengecam hal itu. Dan ngomong- ngomong Waridi menghadapinya tetap tenang dan kalem, seperti itu adalah sesuatu yang wajar. Dia sangat kooperatif tanpa perlawanan sama sekali, meskipun selama hampir seminggu ini namanya selalu trending sebagai wakil walikota predator di kota XXX ini. Dan bahkan ia terancam hukuman penjara seumur hidup atau bahkan hukuman mati dengan tuntutan kasus berlapis- lapis.


"Kenapa kamu senyum- senyum?" tanya Mahfudz padaku.


"Baru dapat kabar aja, Fuad memenangkan suara di dapilnya," kataku sembari memperlihatkan chat kami di aplikasi WA.


"Ow, kirain apa. Sekalinya senyum- senyum karena adik ipar. Nggak kangen sama suaminya berarti," kata Mahfud pura- pura cemberut.


"Iiss... Please deh, nggak usah sok- sok cemburu. Yang dikelilingi cewek- cewek cantik siapa? Yang punya fans cewek banyak siapa? Aku mah apa atuh, dianggap remahan rengginang aja kali, ya?" jawabku sebal.


"Duuuhh ada yang cemburu lagi nih, Dek! Padahal ayah loh sering pergi- pergi sekarang demi bunda sama kamu. Biar nanti bisa belikan kamu baju, popok, buat biaya lahiran kamu juga," balas Mahfudz


"Alasan ...." Cibirku. "Padahal ayah mah memang doyan nangkring di tv biar punya banyak fans, biar dekat sama siapa tuh teman hostnya. Si dr. Jasmine itu. Bilang aja demen."


"Ya Tuhan, lindungi aku dari kecemburuan istriku ini. Jasmine aja dicemburuin. Padahal Jasmine sudah punya suami loh," katanya sinis.


"Punya suami atau nggak kalau memang niatnya jelek mah nggak jadi alasan," kataku acuh sambil memperhatikan jari- jariku yang biru karena dicelup tinta usai memberikan hak suara tadi siang.


"Jangan menuduhku macam- macam, Ray! Aku sebal kalau kecemburuanmu agak berlebihan kayak gitu. Aku nggak ngapa- ngapain di Ibu kota. Kamu bisa tanya sama kru- kru yang ada di sana," katanya.


"Nanya pun paling mereka juga nggak mau jujur seandainya pun kamu selingkuh," kataku masih dengan nada jengkel.


Mahfudz menghela napas.


"Harus bagaimana kamu agar percaya, sayangku? Kamu mau aku berhenti jadi host?" tanyanya serius.


"Nggak perlu," jawabku ketus.


"Nah, kan? Serba salah ayah jadinya, Dek? Bundamu ini kenapa, yo?" rengek Mahfudz sambil garuk- garuk kepala.


Dan aku senang melihat ekspresinya yang seperti itu. Terlihat lucu.


"Terus maumu apa sayang? Mau aku senang kan dengan cara yang berbeda, hmm?" goda Mahfud sambil memberikan kecupan- kecupan kecil di bahu dan leherku.


"Sayang, aku lagi hamil ...." tolakku pelan mengingatkannya. Aku sungguh tidak mau ada masalah dengan kandunganku kali ini


"Kamu kan udah melakukan cerclage. Terus masalahnya dimana? Bukannya udah boleh? Nggak harus nunggu lahiran dulu, kan?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.


"Iya, walaupun begitu. Aku tetap khawatir," kataku.


Aku tidak mau dia tersinggung. Akku bukannya ingin menolak suamiku, tapi aku benar- benar tidak mau ada masalah kali ini.


Dan aku melihat raut kecewa membekas di wajahnya.


"Ya, sudah." katanya pasrah.


Selang dia berkata begitu, tiba- tiba teleponnya berdering. Mahfudz terlihat serius berbicara dengan seseorang yang ternyata adalah Fuad.


"Kenapa?" tanyaku setelah pembicaraan mereka di telepon berhenti.


Mahfudz menghembuskan napasnya sedikit frustasi.


"Fuad baru saja di telepon pihak kepolisian. Kata mereka, yang sedang mereka tahan saat ini adalah orang lain. Bukan Waridi," kata Mahfudz.


"Apa??" tanyaku ingin memperjelas apa yang terjadi. Aku tidak percaya ini.

__ADS_1


"Mereka menyuruh kita untuk hati- hati."


__ADS_2