
"Mahfudz, aku memanggilmu ke sini karena ada yang ingin aku bicarakan tentang kondisi Raya." kata dr. Gayatri saat aku menemuinya di ruangannya.
"Apa itu, dokter?" tanyaku.
"Masalah Raya, kau mungkin sudah tau garis besar bagaimana kondisi keadaan Raya akibat kecelakaannya dari tangga. Karena kalian memutuskan untuk pulang besok, aku cuma ingin memberi tahumu sesuatu. Akibat benturan pada perutnya ketika jatuh itu ada cedera di dinding rahimnya. Ya, benar. Itu mungkin akan pulih dalam beberapa waktu jika Raya mau kooperatif untuk istirahat dan tidak mengerjakan hal- hal berat. Untuk berhubungan pasutri, setelah masa nifasnya selesai dan tidak ada lagi pendarahan, kalian bisa melakukannya lagi seperti biasa tapi dalam konteks yang wajar. Gaya konvensional saja. Maksudku .... Kau mengerti Mahfudz? Tidak untuk style yang aneh dan beresiko."
Aku tersipu malu mendengar hal itu dari dr. Gayatri.
"Sa- ya pa-ham, Dok!" jawabku sembari tersenyum. Memalukan. Apakah aku terlihat semesum itu?
"Dan ...." Dr. Gayatri menggantung kata- katanya dan menatapku serius.
Aku menunggu dia menyelesaikan perkataannya.
"Pastikan Raya agar tidak hamil dulu setidaknya untuk satu tahun ke depan. Kamu bisa Mahfudz?"
Aku tidak keberatan dengan hal lain, tapi Raya tidak boleh hamil dulu, sampai setahun? Apakah itu tidak terlalu lama? Sedangkan aku berpikir paling waktu yang dibutuhkan hanya sekitar tiga bulan sampai dia boleh mengandung lagi. Setahun?
"Aku mengerti perasaanmu. Banyak dari pasienku yang keguguran atau mengalami still birth tidak sabar untuk hamil lagi karena perasaan bersalah dan merasa tidak mampu menjaga janinnya. Raya pun nanti kemungkinan besar akan merasakan itu. Jadi Mahfudz aku harap kamu bisa menjaga Raya." kata dr. Gayatri serius.
"A-pa yang ter-ja-di ka-lau Ra-ya sampai ha-mil se-be-lum se-ta-hun, dok-ter?"
"Rahimnya saat ini dalam kondisi paling lemah. Selain cedera karena jatuh, efek kuretase juga sangat berpengaruh. Kalau dia hamil lagi dalam waktu tidak terlalu lama dari sekarang, kemungkinan akan terjadi keguguran atau kematian janin berulang. Kau tau Mahfudz, sering dikuratese akan membuat penipisan dinding rahim, atau mungkin timbul jaringan parut di dinding rahimnya. Atau mungkin bisa membuat dinding rahimnya robek. Tidak menutup kemungkinan organ lain seperti ususnya akan kena. Belum dengan resiko pengangkatan rahim. Belum lagi hal lain yang bisa mengancam jiwa. Resiko paling minimal mungkin kelahiran bayi premature, tapi untuk apa terburu- buru kalau bayinya tidak sehat dan ibunya beresiko tidak selamat? Ayolah, kalian masih muda dan punya banyak waktu. Hanya menunggu setahun, tidak akan terasa lama kalau tidak dipikirkan. Kalian bisa menikmati masa- masa berdua dulu."
Dr. Gayatri menjelaskan padaku panjang lebar.
"Ok, dokter. Saya mengerti."
Aku meninggalkan ruangan dr. Gayatri sambil berpikir serius. Raya pastinya akan mengerti kondisinya sendiri. Dia Sp.OG. Tapi Ummik, apakah beliau akan bisa menerima dengan lapang dada? Aku merenung sambil berjalan menuju ruang Raya dirawat. Dan emosiku tiba- tiba meluap melihat Ali yang sepertinya sedang berjalan menuju ruangan Raya dirawat. Ali tampak memegang kardus yang tidak terlalu kecil.
Sebelum dia berhasil memegang daun pintu, aku menariknya dan melayangkan pukulanku sekali padanya. Aku juga menendangnya yang kini sudah terjatuh dan kardus yang dibawanya jatuh dan isinya berhamburan di lantai. Aku melihat ada barang- barang seperti baju kemeja, parfum, bolpein, foto- foto dia dan Raya di masa lalu. Apa maksudnya membawa itu semua ke sini? Apa dia ingin membujuk Raya kembali padanya? Jangan mimpi, brengsek!!!
Aku menarik kerah baju Ali dan membantunya berdiri. Dan sekali lagi aku memukulnya. Dan kali ini aku memukul di bagian bibirnya. Bibir yang telah menyentuh istriku.
"Be-ra-ni- be-ra-ni se-ka-li ka-u da-tang ke si-ni, se-te-lah ka-u ber-bu-at ku-rang a-jar pa-da is-tri-ku!" teriakku.
"Berbuat kurang ajar apa? Aku ke sini cuma ingin menjenguk Raya!" bantahnya tak merasa bersalah.
Aku hendak memukulnya lagi. Tapi dia menangkis tanganku.
"Tunggu dulu! Kau ...? Kau mengetahuinya?"
"Ya. A-ku me-nge-ta-hui ma-sa-lah ci-u-man ka-li-an i-tu. Be-ra-ni- be-ra-ni se-ka-li ka-u me-nyen-tuh is-tri-ku!" kataku sambil menendangnya hingga dia tersungkur.
Ali bangkit dan kini balas mencengkram kerah bajuku.
"Jangan bilang, Raya sampai celaka seperti ini karena ada hubungannya dengan itu." kecamnya.
Aku sempat menunduk bersalah namun berusaha menutupinya. Tetapi sepertinya Ali sempat melihat hal itu dariku.
"Apa? Jadi benar dia celaka karna masalah itu? Kau mendorongnya dari tangga, karena kau tau dan marah akan hal itu?" katanya semakin mengencangkan cengkeramannya pada kerah bajuku.
"Ka-u gi-la?" tantangku. "Ka-u ki-ra a-ku a-kan men-ce-la-kai is-tri-ku sen-di-ri?"
"Dengar, Mahfudz! Aku tidak tau kau dapat info darimana soal ciuman itu. Aku khilaf, aku minta maaf. Dan asal kau tau, aku ingin sekali memprovokasimu dan bilang kalau kalau ciuman itu adalah ciuman panas kami yang menggairahkan ...."
Aku terasa panas mendengarnya dan berusaha memukulnya lagi.
"Tapi!" Ali dengan tegas mengatakan itu padaku. "Aku tidak bisa berbohong dan membuat dia terlihat jelek di matamu dan di mata orang lain. Kami tidak berciuman. Aku sendiri yang mencuri cium darinya tanpa seijinnya. Dia tidak tau aku akan berbuat sejauh itu. Dan aku juga sudah berjanji akan melupakannya. Tapi kalau kau seperti ini dan menyakiti Raya hanya karena kau tidak percaya padanya. Sebaiknya kau lepaskan saja dia! Aku masih bisa menerima dia apa adanya meskipun aku tau dia bukan Raya yang dulu. Walaupun aku tau sekarang dia hanya mencintai kamu. Kau boleh menceraikannya dan aku akan menikahinya setelah itu." katanya dengan nada serius.
Kali ini aku mendorongnya lagi dan sekali lagi melayangkan bogem mentah padanya hingga dia tersungkur di lantai. Berani sekali dia menyuruhku bercerai dengan Raya. Dia pikir dia siapa?
Ali mencoba bangkit dan duduk. Dia mengelap ujung bibirnya yang berdarah karena ku pukul.
Dia mengumpulkan barang yang tadi dia bawa dan memasukkannya lagi ke dalam kardus. Kemudian dia berdiri dan menepuk pundakku.
"Itulah yang kumaksud. Harusnya setelah mengetahui hal itu, kau datang padaku. Terserah kau mau melampiaskan kekesalanmu padaku. Jangan pada Raya. Kau membuatnya menderita. Dan lagi pula Mahfudz, kau yakin kau sebersih itu? Kau tak pernah menyentuh dan disentuh wanita lain selain Raya?"
Setelah mengatakan itu, tanpa menghiraukan ku dia masuk ke ruangan tempat Raya dirawat. Apa yang mau dia lakukan?
Tiba- tiba saja aku teringat pada dr. Sherly yang pernah memelukku, pada pasien yang ku VT dan Tiwi. Aku dan Tiwi tak pernah melakukan apa- apa seingatku. Tapi aku sempat lihat foto- foto yang diberikan Waridi pada Raya. Di situ ada fotoku yang terlihat berciuman dengan Tiwi saat makan eskrim. Dan di foto itu memang asli aku. Ya Tuhan, sepertinya Tiwi juga sempat mencuri ciuman dariku. Dan sebenarnya Raya bisa saja membantah dan berbohong saat lelaki di hotel itu menceritakan tentang ciumannya dengan Ali. Lelaki itu tak punya bukti akurat, namun Raya tetap memilih jujur padaku. Dia juga terlihat sangat tersiksa dan merasa berdosa setiap kali aku mencoba menciumnya. Ya Tuhan, apa yang kulakukan pada istriku?
\*\*\*\*\*\*
Pov Ali
Aku mengusap ujung bibirku yang berdarah karena dipukul Mahfudz. Namun aku tak peduli. Sekarang aku masuk ke ruang VIP tempat Raya dirawat.
"Assalamualaikum," ucapku setelah membuka daun pintu.
Ummik dan Raya menjawab salamku namun akhirnya terdiam karena melihat aku yang datang.
Nampak Raya sedang bersandar pada tempat tidur dan Ummik berada di sebelahnya. Dia sedang tidak memakail hijabnya. Rambut sejajar ketiaknya tergerai. Dia sedang disisir oleh Ummik. Mungkin dia baru selesai mandi.
__ADS_1
Ya Tuhan, dia sialan cantik! Sangat cantik! Hampir saja aku mengurungkan niat dan tujuanku datang ke sini.
"Mik, mana kerudung Raya?"
Kata- katanya membuatku membalikkan badan untuk memberikan dia kesempatan memakai hijabnya.
"Kamu mau ngapain ke sini?" Tanyanya dingin.
Itu kuanggap kode kalau dia sudah selesai memasang kerudung instannya.
Ummik meski tak senang mempersilahkan aku duduk di kursi, di dekat ranjang. Dan Mahfud tiba- tiba masuk dan duduk di pinggir ranjang di samping Raya. Mahfudz menautkan jemarinya pada Raya seakan menegaskan kalau Raya adalah miliknya. Aku sempat melihat Raya yang ingin menarik kembali jemarinya, namun gagal karena Mahfudz semakin mempererat genggaman tangannya. Raya akhirnya memilih pasrah tangannya di genggam Mahfudz.
"Aku ingin menyerahkan ini," kataku sambil meletakkan kardus yang kubawa di depan Raya.
Raya mengernyitkan keningnya heran dan melepaskan paksa jemarinya dari genggaman tangan Mahfudz. Mahfudz terlihat kecewa akan sikap Raya. Namun Raya sepertinya melepaskan tangannya agar bisa melihat apa yang kubawa. Dia membuka kardus itu. Sempat termangu sebentar melihat isi kardus yang isinya adalah barang kenangan kami saat pacaran dulu.
"Apa maksudm ...."
"Mari saling melupakan masa lalu kita yang dulu, Ray!" kataku memotong kata- katanya sebelum dia sempat bertanya apa maksud kedatanganku.
Aku sebenarnya sangat merasa bersalah mendengar kecelakaan yang dialami Raya sehingga membuatnya kehilangan anaknya. Aku ingin sekali meringankan bebannya, namun aku tak memiliki cara lain selain ini. Memberikannya parcel buah atau buket bunga hanya akan membuatnya tambah emosi padaku.
Dalam diam aku sempat memperhatikan bajunya yang basah di area dadanya. Itu pasti ASI yang membanjir pasca persalinan. Hatiku bisa merasakan betapa sakitnya dia kehilangan bayinya.
"Aku minta maaf atas semua yang pernah terjadi di antara kita. Perkenalan kita, hubungan kita, rasa sakit hati dan kecewamu saat aku menikah dan meninggalkanmu demi Tya, juga sakit hatinya Ummik padaku. Aku juga meminta maaf atas kelancanganku memintamu kembali padaku juga mengusik hidupmu dengan Mahfudz. Dan terakhir aku benar- benar meminta maaf dan merasa bersalah atas apa yang terjadi di mobil itu." ucapku.
"Memangnya apa yang terjadi?"tanya Ummik penasaran.
Aku ragu ingin menjawab pertanyaan Ummik atau tidak.
"A- ku ...."
"Nggak ada apa- apa, Mik. Aku dan Ali cuma bertengkar soal urusan rumah sakit yang baru dibangun Professor. Dia cuma agak kasar membentakku," kata Raya berdusta.
Aku tau dia pasti tidak ingin Ummik tau masalah aku menciumnya waktu itu, karena pasti akan jadi rumit hasilnya.
"Ya sudah, pulanglah. Tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi." jawabnya sedih. "Ke depannya jangan mengusik hidupku lagi."
Aku mengangguk paham dan menghela napas berat.
"Di kotak kardus ini, adalah barang kenangan yang dulu pernah kau berikan padaku. Aku menyerahkannya padamu. Terserah mau kamu apakan. Mau dibuang atau dibakar terserah kamu aja, Ray. Bukti kalau aku sudah melupakan masa lalu di antara kita."
"Kamu aja yang buang. Aku sudah lama tidak mengingat itu," kata Raya tak peduli.
Aku hendak mengambil kembali kardus itu. Namun Mahfudz dengan cepat mengambilnya sebelum aku.
"Bi-ar a-ku yang ba-kar!" kata Mahfudz.
Oh, Tuhan! Aku tak percaya ini. Anak koas tengil ini seposesif itu pada Raya.
"Ya, sudah terserah kau saja." jawabku.
Raya masih saja terlihat murung. Membuatku semakin merasa bersalah.
"Raya, kau kenal Marhamah?" tanyaku.
Semoga usahaku kali ini tidak gagal.
"Katanya dia temanmu sewaktu di FK. Dia keponakan istrinya Bapak Waridi, bapak wakil walikota kita.
Responnya Raya langsung berubah mendengar nama temannya di sebut.
"Professor menjodohkan aku dengannya, bagaimana menurutmu? Apa dia gadis yang baik?"
Raya terpaku mendengar keteranganku. Dia terlihat serius memikirkannya. Sebelum akhirnya tersenyum senang.
"Ya, dia baik. Aku rasa kalian cocok."
Aku menatap Raya tak percaya. Secepat itu moodnya berubah.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Author POV
Anton terlihat menggerutu setelah kembali dari hotel Sekar untuk mendapatkan dompet dan handphone miliknya dan mengetahui kalau barang- barangnya itu telah diberikan pada orang- orang yang mencarinya di hotel kemarin. Orang itu mengakui kalau dia adalah saudara kembarnya. Dan para karyawan hotel percaya dan menitip barang miliknya pada orang itu. Orang yang mengejarnya setengah mati hingga ke dalam pasar. Namun untungnya dia bisa meloloskan diri dari pria itu.
Sebenarnya Anton tidak tau kalau dompetnya yang mengambil adalah karyawan hotel itu. Fuad hanya mengambil handphone dan KTP-nya saja. Namun apa pun itu sekarang dia dalam kesulitan, uang tak sepeser pun dia punya karena seluruh uang yang dia miliki ada kartu ATM miliknya yang berada di dalam dompet. Sementara jika dia menghubungi Waridi untuk meminta uang ke kantornya, itu tidak akan mudah. Dan dia ingin meneleponnya pun dia tidak memiliki ponsel dan bahkan nomor ponsel Waridi pun dia tidak hapal sekalipun dia ingin mencoba menghubungi pria kaya itu.
Sekarang dia benar- benar lapar, dan tak ada lagi persediaan makanan yang bisa dia makan di dalam kostnya. Setelah bersembunyi selama 3 hari di kost karena takut masih dicari pria itu, makanan persediaannya pun habis tanpa sisa. Sialan! Makinya dalam hati.
Dan kini sebaiknya dia kembali saja ke kostnya. Tidur setidaknya akan mengurangi derita laparnya.
Waridi sebenarnya tidak tau kalau dia masih ada di kota ini. Waridi menyuruhnya pergi menjauh sementara, sampai dia di panggil lagi setelah menyelesaikan tugasnya meniduri gadis bisu itu dan membuat vidio dengannya. Tentu saja itu tugas yang menyenangkan.
__ADS_1
Anton merasa dirinya beruntung, saat beberapa bulan lalu sebuah tabloid membuat kuis sayembara, yaitu mencari seseorang yang mirip dengan sebuah sketsa wajah. Dan temannya kebetulan melihat itu dan menunjukkannya padanya. Ya, itu hanya sketsa wajah, tapi dia merasa mirip dengan sketsa itu. Segera dia mengirim foto dan identitasnya ke PO. BOX yang tertera di tabloid itu.
Selang seminggu, seseorang mendatanginya. Bukan dari pihak tabloid, melainkan seseorang bernama Waridi yang ternyata adalah salah seorang wakil walikota di sebuah kota maju dan berkembang yang jauh dan berbeda pulau dari kota tempat tinggalnya. Lelaki itu menawarkan padanya hal gila yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Waridi memintanya untuk mengkontruksi sedikit wajahnya di beberapa bagian agar mirip sempurna dengan seseorang yang ditunjukkannya dalam sebuah foto. Tentu saja dengan imbalan yang mahal, yang cukup untuk membeli rumah dan kebun di kotanya. Dan tawaran itu pastinya kuterima.
Namun pesona Tiwi, gadis belia tuna rungu itu tak bisa ditepisnya. Tiwi begitu menggoda, hangat dan menggairahkan. Meski Waridi telah menyuruhnya pergi untuk menjauh sementara sampai dipanggil kembali tapi Anton memilih membangkang tanpa sepengetahun Waridi. Gadis itu sangat cantik dan perhatian. Membuatnya menginginkannya lagi dan lagi. Dan beberapa kali dia berhasil membawanya ke hotel Sekar dan menidurinya di sana hingga akhirnya pagi itu mereka digrebek orang- orang yang mirip dengan wajah permakannya itu. Untunglah hari itu dia berhasil kabur.
Anton menaiki tangga samping kost dan memutar anak kunci pada pintu. Pintu itu berhasil dibukanya. Dan dia menutup pintu kembali.
"Surprise!!!!!!"
Tiba- tiba seseorang di balik pintu menendang wajahnya hingga dia tersungkur ke lantai. Orang itu menyalakan lampu ruangannya sehingga dia dengan jelas bisa melihat siapa orang yang baru saja menendangnya.
Orang itu orang yang berwajah sama dengannya. Orang yang mengejar- ngejarnya beberapa hari yang lalu. Kenap dia ada di sini. Astaga.
Anton ingin bangkit namun Fuad dengan sigap menginjak dadanya. Dia berusaha ingin mengangkat kaki itu dari atas dadanya namun Fuad menendang wajahnya keras. Itu terasa sakit sekali. Dan sekarang pria itu hanya pasrah saat Fuad menginjak batang lehernya dan memaksa tubuhnya dalam posisi telungkup di lantai. Fuad dengan sigap mengikat tangannya ke belakang dengan tali tambang yang mungkin sudah disiapkannya sebelumnya. Fuad juga mengikat kakinya
"Aku masih ingin bermain- main denganmu sebenarnya. Tapi Kakak Iparku sedang sakit di rumah sakit akibat perbuatanmu." kata Fuad sambil menjambak rambut anton ke belakang.
"Dari mana kau tau aku di sini?" tanya Anton geram.
"Itu gampang. Aku punya handphonemu. Ada nomor bapak kostmu di sini. Aku tinggal telepon, dan menanyakan di mana alamatmu. Dan datang ke sini mengaku sebagai saudara kembarmu? Apa sulitnya? Dia memberikanku kunci duplikat kamar kostmu!" kata Fuad bangga akan prestasinya.
"Kau ********! *******!"
Fuad tertawa. "Sepertinya kau sedang memanggil dirimu sendiri."
"Aku akan menanyakan pertanyaan ringan untukmu. Jawab atau aku akan melakukan sesuatu yang akan kau sesali nanti," kata Fuad. "Kenapa kau bisa mengenal Waridi? Kau sepertinya memiliki kontaknya juga."
Anton tersenyum sinis. "Untuk apa aku memberi tahumu? Apa kau juga sekaya Waridi sampai harus membuat kesepakatan denganmu?"
"Aku sedang tidak membuat kesepakatan denganmu. Kau tidak sedang berada di posisi bisa memilih. Kalau kau tidak bisa jawab, aku akan beri pertanyaan kedua. Kenapa wajahmu bisa mirip denganku dan Mahfudz, sementara di KTP- mu, wajahmu jelas tidak seganteng kami. Wajahmu itu buriq, you know? Dan Mamaku tidak mungkin melahirkan anak kembar tiga dengan adab yang minus seperti kau!" kata Fuad percaya diri.
"Aku tidak mau jawab. Lalu apa maumu?" tanya Anton gemas.
Fuad mendesah berat sebelum menjawab dengan sungguh- sungguh. Dia juga ke dapur untuk mengambil pisau.
Anton meski sedikit takut tapi dia bukan orang yang suka diancam.
"Kau ingin membunuhku? Lakukan saja! Palingan kau hanya akan membuat hidupmu dan keluargamu susah." tantangnya.
"Terima kasih atas perhatinmu, twin imitasi. Tapi sepertinya wajah kita terlalu mirip. Cukup Mahfudz saja yang memiliki kegantengan mirip denganku. Sebaiknya kau jangan. Kau tidak akan kuat memiliki kegantengan seperti ini, nanti akan kau salah gunakan. Biar kami saja. Lagi pula perlu pembeda di antara kita kan?" seringai Fuad.
"A- apa yang kau mau lakukan?" tanya Anton gugup saat Fuad mendekatkan pisau itu ke wajahnya.
"Aku sedang ingin berkarya," jawab Fuad acuh sambil menggores halus wajah itu dengan pisau.
"Ja- ja- jangan ...."
"Aku sudah bilang, kau sedang tidak berada di posisi bisa memilih. Sekarang katakan!!!!" bentak Fuad.
"A-ku .... a-ku ...."
"Tunggu, tunggu sebentar. Aku harus merekam ini. Sudah lama aku tidak membuat konten."
Fuad mengambil ponselnya dari kantong dan mulai merekam.
"Ayo! Camera .... rolling .... action!" katanya memberi aba- aba layaknya sutradara.
Anton menceritakan pertemuannya dengan Waridi dan kesepakatan mereka.
"Jadi dia menyuruhmu rekontruksi wajah?" tanya Fuad yang langsung dijawab oleh anggukan oleh Anton.
"Pantas wajahmu, bisa mirip dengan kami."
Setelah Fuad merasa keterangan yang dibutuhkannya cukup. Dia akhirnya menyudahi interogasinya sambil merekam itu.
"Kalau begitu, kita ke kantor polisi sekarang!"
"Haaa? Kau sudah kuberi tahu semua yang ingin kau tau, kenapa kau masih ingin membawaku ke kantor polisi? Bukannya urusan kalian hanya dengan Waridi?"
"Siapa bilang?" tanya Fuad sinis. "Kau meniduri gadis di bawah umur, kau membuat aku dan kakakku dalam masalah serius dengan komnas perlindungan anak. Dan terakhir kemarin di hotel itu kau mendorong kakak iparku sampai jatuh dari tangga dan membuat dia kehilangan bayinya. Kau juga harus bertanggung jawab, bro."
Lelaki itu meludah pada Fuad. "Kau pecundang! Kau harus berbohong agar kau mendapatkan informasi yang kau inginkan?"
"Ya, aku menirumu. Kau memanfaatkan wajah mirip Mahfudz untuk bisa memperdaya Tiwi agar bisa tidur dengannya. Dan ngomong- ngomong, aku juga berbohong tadi. Aku rasa wajah ini tidak cocok dengan kepribadianmu," kata Fuad sembari menggores pisau yang dipegangnya di wajah Anton agak dalam dan memastikan luka di wajah Anton akan menganga dan kalau pun sembuh akan membuat bekas luka yang sulit hilang.
Anton meronta- ronta ingin melepaskan diri namun dia tak berdaya. Wajahnya terasa sangat sakit dan perih.
"Kenapa? Kau kesakitan?"
Fuad kembali menoreh luka dalam di pipi Anton yang satunya. Membuat Anton menjerit.
"Itu untuk kakak ipar dan keponakanku. Di lain waktu jangan berani- berani memiripkan wajahmu dengan aku dan Mahfudz. Yang boleh mirip dengan Mahfudz cuma aku, karena kami tidak memiliki saudara kembar lain. Paham?"
__ADS_1