
Tubuhku refleks tersentak kaget saat Mahfudz menyentuh pundakku dan menarikku. Dia menjauhkanku dari pinggir lantai tak berdinding itu. Aku masih gemetar. Bayangan Waridi tergeletak di bawah sana masih terbayang- bayang di benakku.
"Fud, Waridi .... Aku, aku telah mendorongnya. Aku membunuhnya," kataku sambil tergagap.
Mahfudz merengkuhku ke dalam pelukannya dengan erat. Aku masih saja merasa gemetar.
"Aku membunuhnya, Fud!"
"Nggak, nggak, sayang. Tenanglah! Semua akan baik- baik saja." katanya mencoba menenangkanku.
Berulang kali dia membelai dan mengecup puncak kepalaku.
*****
Hingga akhirnya kini aku sudah berada di kantor polisi selama tiga hari terakhir. Aku diinterogasi secara terus menerus. Ada banyak saksi yang mengatakan aku tidak bersalah karena Waridi duluan yang mendatangi aku ke rumah sakit, melakukan penculikan, penyanderaan bahkan pengancaman. Banyak orang yang bersedia menjadi saksi sukarela untukku. Namun yang membuat ini berlarut- larut adalah tuntutan Ny. Waridi yang menginginkan aku mempertanggungjawabkan perbuatanku yang telah berusaha menghilangkan nyawa suaminya, begitu katanya.
"Kamu jangan khawatir sayang, aku membawakan pengacara terbaik untukmu, secepatnya dia akan mengelurkanmu dari sini," kata Mahfudz
"Tapi aku nggak mau melahirkan di sini, Fud! Waktunya sudah semakin dekat. Aku sekarang lebih sering merasakan kontraksi," kataku saat Mahfudz menjengukku.
"Sabarlah sayang," katanya sembari menggenggam tanganku.
Aku menghela napas sembari bersabar mendengarkan penjelasan pengacara itu tentang tuntutan Ny. Waridi.
"Waridi bagaimana keadaannya?" tanyaku.
Aku mendengar dia tidak meninggal. Karena dia jatuh di area rumah sakit, dia bisa sesegera mungkin mendapatkan penanganan. Namun yang kudengar dia kritis dan belum membaik hingga akhir ini.
"Masa kritisnya telah berlalu, tadi saya baru dari sana," kata pengacara itu. "Tapi dia masih saja koma, dan kata dokter, kalau pun dia sadar, dia mungkin akan mengalami kelumpuhan permanen. Akibat jatuh waktu itu, tulang leher dan punggungnya patah di beberapa bagian, dan tengkorak kepalanya juga retak dan direncanakan akan dilakukan operasi penggantian tengkorak kepala ketika dia sudah mulai membaik nanti," katanya.
Aku menghembuskan napas lega.
"Syukurlah," ucapku.
"Ya, kita bisa sedikit lega karena ini. Korban tidak meninggal setidaknya itu bisa sedikit mengurangi kekhawatiran kita akan tuntutan Ny. Waridi yang macam- macam. Dr. Raya kan tau dia sepertinya sangat bersemangat untuk menjebloskan dokter ke penjara," katanya berapi- api.
Ya, aku tau. Aku pun tidak mengerti apa sebenarnya yang diinginkan Ny. Waridi. Dia sepertinya benci sekali padaku.
"Bisakah kau mengatur agar aku bisa bicara dengannya?" pintaku.
Pengacara itu memandang heran padaku.
"Entahlah, aku tidak begitu yakin, Dokter. Aku kira dia tidak akan mau bertemu denganmu," kata pengacara itu. "Apa ada yang ingin kau sampaikan padanya? Katakan saja padaku biar aku yang mendatanginya sendiri dan menyampaikan pesanmu."
Aku tersenyum.
"Itu pesan yang tidak bisa diperwakilkan pada orang lain. Itu harus saya sampaikan sendiri."
Usai pertemuan dengan Mahfudz dan pengacara itu, aku pun segera kembali ke sel. Lama aku hanya terduduk di pojokan sembari menikmati kontraksi pada perutku.
"Dokter, apa kamu baru bertemu suamimu?" tanya salah seorang narapidana wanita tempat aku satu sel.
Aku mengangguk setengah meringis.
"Apakah kamu kesakitan? Kamu mau melahirkan?" tanyanya lagi.
Aku menggigit bibirku menahan rasa sakit.
"Sepertinya ini hanya kontraksi palsu, jangan khawatir," jawabku.
Dan benar saja akhirnya tidak lama kontraksi yang kurasa pun mereda. Keringat bercucuran di keningku.
"Kamu harus segera keluar dari sini. Aku kasihan kalau sampai kamu harus melahirkan di sini. Kasihan sekali kamu gara- gara tua bangka itu," kata narapidana lain yang tampangnya lebih sangar daripada yang pertama tadi.
"Aku senang kalau dia mati. Lelaki seperti itu memang sudah sebaiknya dilenyapkan dari muka bumi ini. Ketika mendengar dia dibunuh olehmu, rasanya perasaan kaum wanita yang sering ditindas oleh pria tidak tau diri seperti itu menjadi bahagia dan merasakan kepuasan sendiri," kata salah seorang dari mereka lagi.
Mendengar itu mataku jadi menyipit.
"Aku tidak membunuhnya!" kataku tegas.
"I- iya. Maksud kami sekali pun benar kau melakukan itu, siapa yang peduli akan hal itu. Laki- laki itu sangat keji. Dia pantas mati!" caci mereka.
Aku terdiam dan tak menjawab lagi.
Di hari kelima aku berada di sel ini akhirnya aku berhasil dikeluarkan pengacara tanpa jaminan. Mahfudz dan Ummik turut menjemputku. Dan dipelukan Ummik aku tak bisa menahan tangisku.
"Kenapa kau menangis, Ray?" tanya Ummik sembari mengelus- elus punggungku. "Bukankah harusnya kamu senang bisa keluar?"
"Ummiiik, Raya kira Raya akan melahirkan di penjara. Raya takut, Mik ...." rengekku.
"Nggak sayang. Mana mungkin Ummik dan Mahfudz membiarkan Raya menanggung semua itu sendirian. Kami pasti akan berusaha mengeluarkan kamu apa pun yang terjadi," kata Ummul menenangkanku.
Sesaat setelah semua kembali tenang aku bertanya kenapa mereka bisa mengeluarkan aku.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa dinyatakan tidak bersalah?" tanyaku penasaran.
"Bersyukurlah, Dokter. Pada waktu Pak Waridi memanggil dokter Raya lewat pengeras suara, dr. Raya sedang menelepon suami dokter yaitu dr. Mahfudz. Panggilan telepon itu terus tersambung hingga akhir. Kita bisa tahu bahwa Pak Waridi yang terus menginginkan dan memaksa dr. Raya untuk mengakhiri hidupnya walaupun dr. Raya menolak dan diancam olehnya," kata pengacara itu menjelaskan.
Aku masih bingung.
"Maksudnya? Kau merekam pembicaraan kita ditelepon?" tanyaku pada Mahfudz.
Mahfudz menggeleng.
"Bukan. Tapi kami datang ke kantor provider operator seluler untuk meminta rekaman percakapan terakhir kita melalui surat pengantar dari pengadilan tentunya sebagai barang bukti. Dan memang benar, di rekaman suara itu terbukti, kalau kamu tidak ada niat membunuhnya , sayang. Dialah yang berusaha menjebakmu agar kau menjadi tersangka pembunuhan kalau dia mati. Dia memang orang gila dan nekad. Untung saja, dia masih hidup," kata Mahfudz lega.
Aku mengangguk.
"Aku ingin bertemu dengannya," pintaku.
Permintaan itu sontak membuat Mahfudz dan Ummik kaget.
"Kau ingin bertemu dia? Buat apa Ray?" tanya Mahfudz keberatan.
"Hanya ingin melihatnya terakhir kali," jawabku datar.
Dan mau tak mau sepulang dari kantor polisi, Ummik dan Mahfudz terpaksa mengantarku ke rumah sakit tempat Waridi dipindahkan setelah siuman.
"Buat apa kau datang ke sini??!!!" teriak Ny. Waridi sengit.
"Pelankan suaramu, Bu Waridi! Di sini rumah sakit," kataku mengingatkan.
"Lalu? Memangnya kenapa? Apa maumu datang ke sini? Kau ingin balas dendam? Atau kau ingin menertawakan kami?" tanyanya dengan intonasi tak suka.
Aku tersenyum tak menghiraukannya.
"Aku ke sini untuk menjenguk suamimu. Untuk menertawakan? Hmm aku tidak sejahat itu percayalah. Aku hanya merasa kasihan padanya." kataku.
"Kasihan? Untuk apa kau kasihan? Urus saja urusanmu sendiri!" seru istri Waridi dengan murka.
"Dengarkan aku Bu Waridi! Aku ke sini cuma sebentar. Biarkan aku menyapa suamimu untuk terakhir kali. Setelah itu aku berharap kita tidak akan bertemu lagi. Bukankah kamu juga akan pindah dari kota ini? Apa salahnya berbicara sebentar sebelum kita berpisah?"
"Aku tidak butuh bicara denganmu!" kata Ny. Waridi.
"Tapi aku perlu!" Kataku. "Aku cuma ingin bicara sebentar dengan suamimu. Sebaiknya kamu biarkan aku melakukannya atau ...."
"Atau apa?" tantang istri Waridi.
"Atau aku akan bicara tentang hal- hal yang tidak ingin kamu bahas di hidupmu!" kataku.
"Hal- hal yang tidak ingin kubahas dalam hidupku. Memangnya apa? Apa yang tidak ingin kubahas dalam hidupku? Kau jangan sok tau kehidupanku!" teriaknya setengah marah.
__ADS_1
"Hal- hal seperti meninggalnya bayi perempuanmu, Ny. Waridi. Aku tau kau istri yang baik, tapi aku tidak habis pikir kenapa sebagai seorang wanita kau tidak bisa jadi ibu yang baik. Kau membiarkan suamimu membunuh anak kandungmu sendiri? Ibu seperti apa kau?! Kau tega melakukan itu pada anak kandungmu sendiri jadi tidak heran kau bisa melakukan itu pada anak orang lain. Apa yang menimpa Ayuni, kau tidak mungkin tidak tau kan?" tanya dengan pandangan mata yang tajam. "Kau terlalu takut kehilangan hidupmu yang nyaman. Takut kehilangan suami yang nyaris sempurna di depan orang banyak, maka yang menjadi kesalahannya, kau pun menutupinya. Iya, kan?"
Istrinya Waridi terlihat sangat terperanjat mendengar kata- kataku.
"Kau! Brengsek, bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu? Lancang sekali! Aku bisa saja melaporkanmu!" ancamnya.
Aku tertawa kecil.
"Saat suamimu menyanderaku, dia sudah menceritakannya padaku, Bu Waridi! Jadi kalau kau tidak terima rahasiamu ini bocor ke orang lain, salahkan sendiri suamimu. Dan kalau kau mau melaporkanku, lakukan saja. Mungkin polisi akan menyelidiki kasus kematian putri yang kau baru saja kau lahirkan beberapa tahun lalu? Ya, aku tau akan sangat sulit membuktikan kasus yang telah bertahun- tahun lamanya. Tapi kalau masyarakat tau hal ini, bukan tidak mungkin reputasimu akan semakin hancur. Dan aku tau kau adalah orang yang sangat peduli akan nama baik. Iya kan?"
Aku memperhatikan perubahan wajah itu.
"Jadi biarkan aku bicara sebentar dengan suamimu," kataku dan mengambil tempat duduk di samping ranjang Waridi
Pria tua itu benar- benar lumpuh sekarang. Dokter telah menjelaskannya pada kami. Waridi mungkin seumur hidup akan berada ada dalam keadaan seperti itu.
Waridi dengan ekor matanya melirikku.
"Pak Waridi, ini aku dr. Raya. Bagaimana kabarmu? Aku sangat menyesal semua ini bisa terjadi padamu. Tapi aku pikir Tuhan memang sengaja ingin menghukummu dengan cara yang tidak mudah. Kalau dipikir- pikir lagi kau benar- benar sangat jahat tak cuma padaku tapi pada semua orang. Dan akhirnya kau ingin menyelesaikan semua ini dengaan cara memilih kematianmu dan membebankannya padaku sebagai seseorang yang telah membunuhmu? Kamu lihatlah! Tuhan itu Maha adil, bukan? Kau terbaring di sini sekarang tak berdaya sepanjang hidupmu. Pada akhirnya kau tetap Waridi yang menyedihkan. Orang- orang menertawakanmu dan aku tentu saja mengasihanimu. Kau bukan Waridi yang hebat. Sekarang kau seperti kerakap tumbuh di batu, hidupmu segan, dan mati pun kau tak akan segampang itu. Kau hanya seorang lelaki tua penyakitan tanpa nama baik dan harga diri. Hukuman itu sangat pantas untukmu, kan? Dan aku secara pribadi berterima kasih padamu. Terimakasih untuk tetap hidup! Dan sebagai ucapan terimakasihku, mungkin aku akan meminta bantuan pengacaraku untuk mengupayakan pembatalan hukuman mati untukmu. Kau harus menikmati hidupmu yang seperti ini sekarang. Kehilangan kemandirian dan kebebasan atas tubuhmu sendiri. Dan terkait kata- katamu yang bilang takdir kita seperti terkait. Aku ingin memutuskannya hari ini juga. Ke depannya aku tidak ingin kita bertemu lagi, sengaja atau pun tidak sengaja. Bahkan kalau pun kita bertemu tidak disengaja, berpura- puralah untuk tidak mengenalku. Bisa dimengerti Pak Waridi?"
Lepas mengatakan itu aku masih sempat memperhatikan ekspresinya yang sangat marah tanpa bisa mengatakan apa pun padaku. Nampaknya, dia juga kehilangan suaranya. Ini benar- benar karma, kan?
Sejak pertemuan hari itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Namun yang kudengar dari pengacara, hukuman matinya benar- benar dibatalkan, bahkan pengadilan pun tak bisa menghukum vonis dia sesuai ketentuan yang berlaku karena kondisinya yang sekarang lebih seperti mayat hidup, tak bisa melakukan apa pun. Dan itu dikhawatirkan hanya mempersulit orang lain di rumah tahanan. Dan Ny. Waridi masih setia merawatnya meski sebagian besar harta dari Waridi disita oleh negara hingga yang tersisa olehnya hanya sebuah rumah kecil di pinggir kota.
Dan seminggu setelah kejadian itu aku melahirkan bayi laki- laki mungil yang diberi nama Haikal Al-Zhafran.
******
7 tahun kemudian.
Seorang ibu terlihat sedang berusaha memberhentikan sebuah mobil. Telah lama ibu itu berdiri di pinggir jalan tetapi tak ada satu pun kenderaan yang bersedia memberikan tumpangan padanya. Namun mobil satu hitam satu ini akhirnya berhenti. Kaca mobil pun diturunkan.
"Mau kemana, Bu?" sapa sang sopir mobil itu.
"Saya mau ke kota A, tapi dari tadi tidak ada kenderaaan umum yang lewat, Pak. Ya Tuhan, Bapak Pak Bupati Fuad kan?"
Sang Ibu terlihat terkejut melihat siapa orang yang baru saja berhenti dan menyapanya.
Fuad tertawa kecil. "Ayo, ikut bersama kami, Bu. Kami juga mau ke kota XXX. Kita searah."
"Tapi, Pak ...."
"Sudah, jangan banyak tapi. Ayo Rahmat, Shakilla beri neneknya tempat duduk juga. Geser sedikit!" kata Fuad mengatur anak- anaknya.
"Iya, Pa!" Fuad lalu menggeser duduknya. "Tapi Nenek duduk di tengah, ya! Rahmat senang di pinggir."
"Hehehe, anak baik. Nggak apa- apa, Cu! Nenek terserah duduk dimana pun."
Perjalanan itu pun berlanjut sesekali dibarengi obrolan ringan di antara mereka. Nenek yang menumpang di mobil mereka kali ini benar- benar menjadi saksi hidup bahwa bupati yang digadang- gadang masyarakat adalah pemimpin yang arif dan baik hati serta dikarunia wajah yang tampan serta sayang keluarga bukanlah isapan jempol semata. Dalam hatinya dia merasa beruntung diberi kesempatan bertemu bupati mereka itu.
"Masih lama nggak sih Pa, sampainya?" tanya Rahmat tak sabaran.
"Ya masih, donk. Perjalanan ke tempat Oma makan waktu 6 jam diperjalanan. Nanti juga sampe. Memangnya kenapa sih?" tanya Fuad.
"Rahmat nggak sabar ketemu Haikal. Katanya dia punya game terbaru yang nggak bisa didownload sembarangan. Premium Pa!" oceh anak itu.
Rahmat dan Haikal memang hanya beda usia satu tahun lebih. Meski begitu mereka sangat dekat sebagai sepupu. Sementara Shakilla sendiri seumuran dengan Haikal.
"Papa juga bisa download kali. Nanti Papa yang dowloadin buat Rahmat, asal janji aja belajar nggak boleh keteteran." Kata Fuad.
"Bener, Pa?" tanya bocah itu meyakinkan.
"Iya."
Fuad terlihat senang melihat kegembiraan di wajah putranya. Sesekali dia melirik Ayuni yang terlihat menepuk- nepuk putra bungsunya yang masih berusia 2,5 tahun, Noah. Ya di usia pernikahannya yang memasuki usia ke 8 tahun Fuad dan Ayuni telah memiliki 3 orang anak. Rahmat, Shakilla dan Noah. Fuad sangat bahagia dengan itu apalagi perjalanan karirnya juga mulus. Setelah 5 tahun menjabat sebagai anggota legislatif akhirnya dua tahun yang lalu Fuad mencalonkan kembali di Pilkada kota C sebagai Bupati dan membuatnya mendapat kepercayaan dari masyarakat lagi.
Mobil memasuki area pasar kota A dan berhenti karena lampu merah.
Fuad merogoh kantong depan bajunya dan menarik uang pecahan 5 ribuan pada putranya itu.
"Nih!" katanya menyerahkan uang itu pada Rahmat.
Dia tau kebiasaan Rahmat. Dia paling tidak tahan untuk tidak memberikan uang pada pengemis di pinggir jalan. Dan benar saja, kaca jendela mobil akhirnya diturunkan Rahmat dan menjulurkan kepala dan setengah badannya dari mobil.
"Kek! Ini ...." katanya pada salah seorang lelaki tua di kursi roda karatan.
Kakek tua itu terlihat tak bisa bergerak sama sekali. Namun ekspresinya nampak kelelahan dan kepanasan di terik matahari hari ini. Seseorang laki- laki bertubuhkurus dan bertato menerima uang itu dari Rahmat.
Ayuni yang melihat pada sosok di kursi roda itu tiba- tiba membelalak dan spontan ketakutan. Aura kejam orang itu kenapa masih bisa mengintimidasinya? Kenapa dia di sini? Tanpa sadar tangan Ayuni meraih lengan baju suaminya dan menarik- nariknya.
"Ayuni, kamu kenapa?" Tanya Fuad bingung.
"Itu .... Itu ...."
Fuad menoleh dan ikut terkejut melihat sosok lelaki tua di kursi roda itu. Terlihat lusuh dan tak berdaya.
"Oh, dia memang pengemis di daerah sini, Bu." kata Nenek yang menumpang tadi. " Kasihan ya, Bu! Dengar- dengar sih dulu dia katanya mantan pejabat. Terus melakukan kejahatan apa gitu, saya kurang tau. Terus kecelakaan dan jadi lumpuh. Istrinya yang nggak tahan ninggalin dia, terus karena nggak ada yang nampung akhirnya ada yang bawa dia ke kota sini untuk dijadikan pengemis. Kasihan loh, kemana anak- anaknya. Di masa tuanya kenapa kok hidupnya menyedihkan begini. Saya saja yang sudah tua begini kalau lama nggak ketemu anak cucu pasti disuruh datang kalau mereka nggak sempat menjenguk saya. Makanya hari ini saya ke kota A untuk bertemu anak cucu saya," kata Nenek itu.
"Ehmm .... Rahmat, naikkan kembali kaca mobilnya. Banyak debu!"
Fuad mendehem dan berusaha mengalihkan perhatiannya. Dia Waridi. Fuad tau, dia pasti orang itu. Memangnya kenapa kalau dia benar Waridi? Sedikit pun Fuad tidak peduli. Tanpa menghiraukan lagi, Fuad langsung menjalankan mobilnya lagi begitu lampu kembali hijau.
"Oh, ya Bu. Ibu turun di mana?"
******
"Dr. Raya!! Dokter Raya kok masih cantik kayak dulu ya? Nggak berubah sama sekali deh," puji Anita pada Raya.
"Ya iyalah cantik! Dr. Raya memang dari dulu udah cantik keleus, kalau nggak, nggak mungkin donk sampai Mahfudz tergila- gila ya, kan Fud?" kata Devi pada Mahfudz yang berdiri di samping Raya.
"Ah, yang bener....?" goda Raya Mahfudz yang sedang menggendong Laila, putri kecil mereka.Pria berusia kepala tiga itu mencubit kecil hidung istrinya itu.
"Iya, benar. Memangnya kenapa? Nggak boleh naksir memang sama konsulen sendiri? Buktinya jadi istriku juga," katanya dengan nada angkuh hingga membuat Raya jadi tersipu malu.
"Duuh, sombongnya .... Nggak ingat aja nih anak pernah galau gara- gara gosip dr. Raya bakal balikan sama dr. Ali, Iya kan Dev?"
"Hahahayyy iya nih," kata Devi mendukung Anita.
Kelakar dan canda mantan anak- anak koas Raya sekejab teralihkan saat mendengar suara mungil Haikal di panggung.
"Assalamualaikum Om- om, Tante- Tante, dan teman- teman semua. Perkenalkan aku adalah Boy Handsome anak dari Dr. Handsome. Bagaimana aku sudah se-handsome ayahku belum?" tanyanya dengan alis yang naik turun pada para undangan ya g disambut oleh tawa dan decak kagum dari yang hadir disitu.
"Anakmu pintar banget, Fud. Ya Allah gemesin banget," puji Anita taak bisa menyembunyikan kegemasannya pada Haikal.
"Iya, donk. Siapa dulu ayahnya ...." Kata Mahfudz dengan bangga.
"Alaah kamu Fud! Haikal mirip dr. Raya kali. Bukan mirip kamu.
Laila juga cantik banget loh kayak mamanya," kata Devi.
"Eh, biarpun bundanya cantik kalau nggak ada andil dari aku, tetap nggak bakalan bisa ganteng cantik juga merekanya, gimana sih? Ya kan sayang?" kata Mahfudz tak terima sembari mengedipkan mata pada istrinya.
"Isss diam nggak?"
Raya mencubit perut Mahfudz pelan. Rasanya meski pernikahan mereka telah berlangsung lumayan lama tapi kalau ingat dia menikah dengan mahasiswa didiknya sendiri ditambah lagi digoda di depan teman- teman suaminya tak urung membuat Raya malu juga. Wajahnya merona merah.
Mahfud tertawa melihat respon istrinya. Dan lagi- lagi perhatian mereka kembali fokus pada Haikal di atas panggung.
"Di dunia ini, perempuan paling cantik aku rasa adalah bundaku, nenek juga omaku, tapi masih ada lagi yang cantik hari siapa lagi kalau bukan kakak sepupuku, Nadya Sastika Ningrum. Hari ini kita berada di sini adalah untuk menghadiri resepsi pernikahan Kakak Nadya dan suaminya. Mari kita sambut kedua mempelai Kakak Nadya dan Kak Abidzaaar ....!"
Tepuk tangan dari para undangan kembali membahana di aula gedung pernikahan itu. Ya hari ini adalah pernikahan Nadya dan Abidzar.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu merengut?" tanya Raya pada Mahfudz. "Bukannya kamu udah ikhlas Nadya menikah dengan Abidzar?"
Mahfudz mendengus kesal. Rasanya dia tetap tak percaya kalau yang pada akhirnya sahabatnya itu menikahi keponakannya sendiri.
Abidzar memang sudah lama menaruh hati pada Nadya. Sejak dia menolong gadis remaja itu di rumah sakit, entah kenapa dia merasa memiliki perasaan yang dekat dengan Nadya. Perasaan yang seperti adik tapi buka adik. Namun Abidzar tak berani mengungkapkannya berhubung gadis itu masih menginjak usia remaja.
Dan karena hal itu yang tadinya dia hanya berteman biasa dengan Mahfudz menjadi berusaha mengakrabkan diri sehingga selama beberapa tahun mereka menjalin hubungan persahabatan. Namun siapa yang mengira saat Nadya sudah menginjak kelas dua SMA, Abidzar berani mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Usia yang terpaut jauh tidak membuat Nadya lantas menolak Abidzar. Sahabat dari Omnya itu selama ini begitu perhatian, penyayang dan mampu menghadirkan sosok seperti seperti Ayah yang melindungi dalam hidupnya. Menjalin hubungan diam- diam selama tiga tahun akhirnya di usia Nadya yang ke 20 Abidzar memberanikan diri meminta ijin pada Mahfudz untuk menikahi Nadya.
"Brengsek kamu, Bi! Kamu berani pacarin Nadya tanpa sepengetahuanku?" teriak Mahfudz murka kala itu.
"Aku tau kamu bakal marah, makanya aku nggak bilang, Fud! Tapi aku serius menyayangi Nadya. Aku mencintai dia, aku ingin melindungi dia. Selama ini juga sumpah aku nggak pernah ngapa-ngapain dia. Sumpah Fud! Aku selalu menghormati dan menjaga Nadya. Tolong, ijinkan aku menikahi dia. Entah kamu percaya atau tidak. Aku belum menikah selama ini, hanya untuk menunggu dia dewasa," kata Abidzar memohon.
"Persetan denganmu, Bi! Aku tidak setuju. Aku tidak suka dibohongi," kata Mahfudz jengkel.
Mahfudz sedikit menyesali kesibukannya yang teramat padat sehingga kurang memperhatikan Nadya. Kesibukannya meniti karir sebagai dokter merangkap host sebuah acara dengan rating tinggi hingga bertahan selama bertahun- tahun membuat jam terbangnya teramat tinggi. Belum lagi dengan pendidikan spesialis dokter bedah yang diambilnya membuatnya bahkan terkadang hampir tak punya waktu untuk anak istrinya. Terlebih- lebih Nadya yang tinggal di rumah mamanya.
Namun beberapa Minggu lalu akhirnya Mahfudz menyetujui niat Abidzar menikahi Nadya setelah mempertimbangkan matang- matang kurang dan lebihnya.
"Pokoknya kamu harus menjaga Nadya seumur hidupmu sebagaimana kamu menyayangi hal yang terpenting dalam hidupmu!" kata Mahfudz memberi syarat.
"Siap, Boss!!"
"Kamu harus bahagiakan dia!"
"Pasti!"
"Tidak boleh sama sekali menyakiti hatinya apalagi sampai melakukan kekerasan fisik. Kalau aku tau, akan kulenyapkan kamu tak peduli kamu temanku atau bukan!"
"Baik, Om!"
"Brengsek! Berani memanggilku Om!"
"Lah, gimana? Kamu omnya calon istriku, ya aku panggil om juga kan?"
"Kamu tetap panggil aku Mahfudz, dodol!"
"Tapi nanti nggak sopan!"
"Lebih nggak sopan manggil aku Om, kamu lebih tua dua bulan, sadar diri donk!"
Resepsi pernikahan itu berjalan sangat lancar. Hawa dan suaminya juga turut hadir bersama anak bungsu mereka Rachel.
"Jadi Ray, menurutmu kita nanti lebih baik menikahkan Yusuf dengan Laila atau Haikal dan Rachel?"
"Apa sih, gaje?" kata Raya sebal.
"Gaje apaan? Aku serius. Kita harus menjodohkan anak- anak kita, Ray. Kita harus jadi besan dan menjadi sahabat selamanya. Pokoknya anakmu akan menjadi calon menantu prioritasku di masa depan," kata Hawa.
Raya memutar bola matanya malas mendengar ocehan Hawa.
"Menurutmu gimana? Kalau Yusuf dengan Laila beda usianya agak lumayan jauh sih. Sekarang Yusuf 13 tahun, kalau Lailaa masih 2,5 tahun. Cocoknya sih Rachel sama Haikal. Walau pun Rachel lebih tua setahun daripada Haikal kan nggak masalah, Ray?" kata Hawa masih dengan ocehannya yang menurut Raya agak tak beda jauh dari halusinasi.
Matanya kemudian tak sengaja pada sosok seorang wanita tak jauh dari tempatnya berdiri. Wanita itu, Raya mengenalnya.
"Gimana, Ray?"
"Terserah kamu aja, Wa!"
Raya tak lagi menghiraukan panggilan Hawa. Dia harus mengejar wanita itu. Untuk apa dia di sini?
"Jadi fix Haikal dan Rachel ya!" teriak Hawa.
"Ya ...." jawab Raya asal.
Saat dia sudah mendekati tempat gadis itu tadi, gadis itu sudah tak ada. Tetapi seorang pelayan malah memberikan dia sebuah kotak kado.
"Bu, ibu keluarga dari mempelai kan? Bisa tolong sampaikan kado ini pada mempelai wanita?" tanya pelayan itu.
Raya menerimanya. Dan penasaran dengan isinya. Apa yang terjadi? Kenapa dia mengenal Nadya?
Raya tidak mengetahui kalau dari kejauhan gadis itu sedang menatapnya tanpa sepengetahuannya dengan mata berkaca- kaca. Dia juga sempat memperhatikan Mahfudz sedang asyik bercanda dengan putri kecilnya di sebuah meja.
Memang hanya kamu yang bisa memberikan dr. Mahfudz kebahagian, dr. Raya, kata gadis itu dalam hati.
Ya, dia Tiwi. Telah lama dia memperhatikan keluarga ini tapi dia tak pernah berani muncul. Saat berusaha melarikan diri dari rumah markasnya Waridi pada akhirnya yang menolongnya adalah Gogo dan Akbar. Namun karena rasa malunya atas kejadian di masa lalu dia tidak mau keberadaannya diketahui oleh Mahfudz dan keluarganya. Sekarang Tiwi dan Rini menetap di negara jiran. Rini masih berprofesi sebagai perawat sedangkan Tiwi menjadi salah satu peraga bahasa isyarat dalam sebuah acara berita di sebuah stasiun televisi.
Saat undangan mulai agak sepi dan pengantin sedang beristirahat di ruang yang telah disediakan, Raya datang dan memberikan kado kecil yang diberikan oleh Tiwi melalui pelayan itu.
"Ini ada yang kasih kamu kado. Kamu kenal dengan Tiwi?" tanya Raya sebal.
Entah apa maksud kedatangan Tiwi kali ini. Apa dia ingin mendekati Mahfudz lagi melalui Nadya? Pikir Raya curiga.
"Tiwi siapa? Nadya nggak kenal Tante!"
"Masa? Tapi kenapa dia memberimu kado ini?"
Nadya mengernyitkan keningnya. Dia pun heran. Tiwi siapa? Kenapa jadi Tante Raya seperti menginterogasinya?
"Nadya buka aja sekarang ya apaan isinya. Sumpah Nadya nggak tau siapa Tiwi!"
Karena penasaran Nadya membuka isi kado yang ternyata isinya adalah anting yang pernah diberikannya dulu pada Tiwi.
"Ya Tuhan, Tiwi yang itu .... Dia ini sama- sama disekap denganku di rumah Waridi ******** tua itu dulu, Tante. Karena kasihan aku memberikan dia anting-antingku peninggalan Mama untuk dia jual agar bisa kembali ke keluarganya kalau dia berhasil kabur. Eh, nggak taunya. Ini anting masih bisa balik aja ke aku. Mana orangnya, Tante? Aku harus mengucapkan terima kasih!"
"Nggak tau. Sudah pergi. Tadi yang kasih pelayan," kata Raya ketus.
"Oh, ya sudah. Tapi eh, ada suratnya."
Raya dengan rasa ingin tahunya langsung menempel pada Nadya ingin melihat surat itu.
[Dear, Nadya. Kamu menolongku waktu itu dan aku belum sempat berterima kasih padamu. Dan sekarang kamu menikah. Tak ada kado yang bisa kuberikan yang lebih baik dari ini dan doa yang tulus untukmu. Selamat menempuh hidup baru. Aku berharap kamu bisa menjadi istri yang baik bagi suamimu seperti baiknya dr. Raya pada suaminya dr. Mahfudz.]
"Loh, kok isi suratnya kayak begini sih?" tanya Nadya bingung.
Raya mengangkat bahu. Apa maksud Tiwi mengatakan itu pada Nadya? Apa itu berarti dia telah mengakui kalau dia salah dan hanya aku yang terbaik untuk Mahfudz? Entahlah, pikir Raya.
"Kok sekarang Bunda yang cemberut?" tanya Mahfudz saat istrinya kembali setelah tadi dia pamit untuk bertemu Nadya.
"Tau ah ...." jawab Raya ketus.
"Kok jawabnya gitu. Siapa lagi yang bikin kamu marah?"
"Mantanmu!" tuding Raya jengkel.
"Mantan apaan? Ya Tuhan, Laila, siapa lagi yang dicemburui bundamu ini?"
Mahfudz tertawa terbahak- bahak melihat Raya yang melotot padanya.
Sungguh pun Raya terkadang menyebalkan, gengsian, dan juga cemburuan namun lelaki itu menganggap sikap istrinya itu adalah wujud dari rasa cinta yang tak selalu bisa dia ungkapkan.
"Satu- satunya mantan Ayah kan cuma Bunda, jangan fitnah deh! Eh, tapi, tapi.... Kita kan nggak pernah pacaran kan ya?"
"Tau ah ...."
"Jangan ngambek donk, Bun. Entar keriputnya nambah loh ...."
"Siapa yang keriput???"
"Tambah jelek entar ...."
"Biarin ...."
__ADS_1
#TAMAT#