I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Latihan tipis- tipis


__ADS_3

"Bi-ar a-ku sa-ja yang du-lu-an me-ne-mui Pro-fes-sor. Ka-mu gan-ti ba-ju-lah du-lu" kata Mahfudz sambil memakai lagi tuxedonya.


Sementara itu aku masih terpaku karena kecupan singkat itu. Berasa ada sweet-sweetnya gitu.


"Hmmm...." jawabku dengan jaim.


Mahfudz tersenyum menatapku dengan pandangan nakal mengolok. Aku tau dia paling senang membuatku mengungkapkan perasaanku walaupun dia tau aku malu. Aku menutup wajahku sendiri. Ini memalukan sekali! Kenapa aku tak bisa seperti orang-orang lain yang bisa menikmati setiap moment dalam hidupnya? Walaupun sudah sah dan halal sebagai istrinya tetap saja ini membuatku malu. Tidak nyaman sekali. Kalau aku tetap merasa seperti ini bagaimana aku bisa menikmati malam pertamaku dengan lancar?


Aku membuka lemari dan mengeluarkan baju pengantin kebaya brokat satu lagi. Kali ini berwarna merah terang dengan model kurang lebih sama dengan kebaya putih akad nikahku. Dan bawahannya kali ini aku memakai rok berbahan songket palembang berwarna coklat gold. Memasang jilbabku sendiri dan tak lupa memakai lipstik berwarna merah cabe dan make up darurat karena aku tak sempat lagi memanggil tukang rias yang saat ini entah mojok dimana. Aku tak bisa membiarkan Professor menunggu lama.


"Adooh.... Siapa ini? Ini dokter obgynnya SM bukan?" goda pak Nirwan, instrumentator ruang bedah.


Aku tertawa, tak tau harus bilang apa. Ternyata bukan cuma Professor yang datang. Tapi mereka rombongan dari rumah sakit Siaga Medika. Mereka adalah para staff dan tenaga medis lama. Kami duduk di pelaminan dalam sambil ngobrol.


"Kalau aku tau dr. Raya bisa secantik dan semanis ini aku duluan yang lamar kemarin" kata Fahmi menggodaku.


"Memang dr. Raya mau sama kamu?" tanya Bu Rita, perawat senior.


"Mau donk. Aku kan ganteng juga, cuma keduluan Mahfudz aja. Mahfudz berani aksi ngungkapin cintanya di kantin waktu itu. Gimana Fud caranya?Kayak begini ya?" Fahmi menirukan cara Mahfudz mengungkapkan cintanya pake bahasa isyarat waktu itu "I love you"


Mereka semua tertawa. "Memang waktu itu kamu ada di kantin, Mi?"tanya Bu indri.


"Adalah, Bu! Aku lagi makan di kantin pas menyaksikan moment itu. Mahfudz bilang ke dr. Raya 'baru kamu satu-satunya wanita yang pernah kuajak menikah' eh tau nggak jawabnya dr. Raya? ' 'Kalau baru aku berarti nanti bakal ada lagi donk yang kedua dan yang ketiga kamu ajak menikah?' Nggak asyik banget kan jawabnya? Bilang I love you too, kek, aku sayang padamu kek" katanya mencibirku.


"Ember... Ember bocor kamu ya Fahmi. Tunggu sampai aku masuk kerja ya...."ancamku.


"Tuh kan, tuh kan dr. Raya mah bisanya ngancam, padahal aku kan ngomong yang sebenarnya. Tanyain Mahfudz, bener kan Fud dr. Raya ngomong gitu? Padahal mah dr. Raya cuma jual mahal doank, buktinya nikah juga hahahayyyy!!!"kata Fahmi meledek.


Professor tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Fahmi. Wajahku sampai merah padam saking malunya.


"Jadi, bulan madunya kemana, Dok?"tanya Fahmi sepertinya masih belum puas menggodaku.


"Di rumah saja, jalan-jalannya di rumah sakit ronde keliling pasien" candaku. Tapi sepertinya mengena di hati Professor.


"Saya ingin memberikan kalian hadiah paket bulan madu, tapi bagaimana, ya? Mahfud kan sedang koas dari kampusnya. Jadi pastinya nggak akan bisa libur sesukanya. Atau kamu nggak usah jadi ke rumah sakit jejaring Mahfudz? Saya kasihan juga melihat Raya kalau kamu kesana. Pengantin baru tapi berjauhan" tanya Professor meminta pendapat dari Mahfudz.


Aku melongo. "Kamu mau koas ke rumah sakit jejaring?"tanyaku dengan nada yang keberatan. Aku kecewa mendengarnya. Apalagi ini adalah hari pernikahanku.


Mahfudz menghela napas panjang sebelum mengangguk. Dia tau aku akan kecewa lagi.


"Kapan itu?" tanyaku tak senang.


"Seharusnya sih beberapa hari yang lalu" Professor yang menjawab. "Tapi Mahfudz meminta penangguhan sampai acara pernikahan kalian selesai. Tapi saya pikir-pikir lagi, sebaiknya Mahfudz tetap di SM aja. Soalnya kan nggak semua juga dokter muda dikirim ke rumah sakit jejaring. Ada beberapa yang harus tinggal di SM. Saya kemarin ingin mengirimnya biar dia lebih banyak pengalaman kerja di lapangan. Tidak seperti di SM lebih banyak disuruh-suruh saja" kata Professor menerangkan.


Aku menatap Mahfudz yang mengalihkan pandangannya dariku. Selanjutnya suasana menyenangkan yang tadi kembali mendingin di antara kami. Bahkan saat foto bersama dengan para staf rumah sakit aku tidak bisa membuat wajahku kembali ceria. Aku kecewa mendengar kabar ini.


\*\*\*\*\*


"Kak Raya, kado-kadonya ditaro dimana, Kak?"tanya Rasti. Dia mengangkat banyak kado bersusun di tangannya.


"Taruh di dalam lemari aja, Ti. Yang sebelah situ udah Kak Raya kosongin" kataku menunjuk salah satu pintu lemari yang sebelumnya udah aku kosongkan.


Rasti manut dan menyusun kado-kado itu di dalam lemari.

__ADS_1


"Kak Raya nggak deg-degan gitu mau MP-an sama kakak ipar, kok santai amat?"tanyanya. Mungkin karena dia lihat aku belum mengganti kebayaku sama sekali meskipun aku sudah melepas jilbabku.


Darahku tiba-tiba berdesir dapat pertanyaan begitu. Sesungguhnya aku bukan cuma deg-degan. Tapi aku juga sedikit takut.


"Kenapa harus deg-degan? Kan tinggal praktek doank, teorinya mah sudah tau. Kak Raya sudah hapal luar kepala"jawabku dengan gaya sok iyes.


"Ooo.... gitu. Kalau gitu sekarang tinggal praktek donk? Kalau gitu Rasti pergi aja deh!"katanya yang membuatku mengernyitkan keningku.


Aku mengalihkan perhatianku yang tadi tertuju pada HP ke Rasti. Dia sedang berjalan ke luar kamar. Sementara di pintu sudah berdiri Mahfudz menatapku. Aku membalikkan punggungku membelakanginya. Dia pasti tau aku kesal. Jangan harap kamu dapat hakmu malam ini, kataku dalam hati. Tentu saja sambil tersenyum antagonis.


Aku bisa merasakan dia sudah duduk di pinggir tempat tidur melalui gerakan per tempat tidur. Dan kini dia pasti sudah berbaring di tempat tidur. Coba saja berani menyentuhku, Pak Domu (dokter muda), aku pasti akan menepiskan tanganmu itu!


Aku merasa Mahfudz menyentuh rambutku. Membelai-belainya dengan sayang.


"Ram-but-mu ba-gus se-kali!" Aku mendengar dia memuji rambutku.


Dari rambutku, tangannya beralih ke leherku dan memijat lembut pundak dan area leherku. Terasa enak di pundakku yang pegal-pegal. Nyatanya aku tak bisa menepis tangannya saat melakukan semua itu


Aduuh apa ini? Apa ini modus? Foreplay sebelum anu....? Aku malu membayangkannya. Namun lama -lama pijitan itu sesekali berhenti lalu dilanjutkan lagi berhenti lagi dan akhirnya berhenti total. Aku membalikkan badanku dan menoleh padanya. Ya Allah, sekalinya dia sudah tertidur. Dan kelihatannya pulas. Apa yang kamu pikirkan Raya? Sekarang aku geli pada diriku sendiri.


\*\*\*\*\*


Pov Mahfudz


Aku terbangun ketika alarm di hpku menunjukkan pukul 04.00 subuh. Alarm yang memang ku setel agar bisa follow up pasien lebih awal dan selesai pagi sekali sebelum konsulenku yang gila itu datang dan meminta hasil follow up kami.


Tapi kali ini aku terbangun berada di kamar yang berbeda dengan kamar koasku. Dan ada bidadari cantik sedang tidur lelap di sampingku. Dia masih memakai kebaya brokat merah saat acara pernikahan kemarin. Sangat kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih. Tiba-tiba hasrat dalam tubuhku memberontak. Ingin rasanya aku memeluk tubuhnya dan mencumbunya sekarang juga. Aku sudah memiliki dia seutuhnya kan? Perlahan aku mendekati Raya. Membelai pelan rambutnya dan menciumnya. Raya menggeliat pelan membuatku terkejut dan mengurungkan niatku melakukannya. Astaga, aku ini kenapa? Sudah seperti maling saja. Bukankah dia ini istriku dan aku berhak dan berkewajiban melakukan ini padanya? Seharusnya kulakukan tadi malam saat kami masih sama-sama terjaga. Tapi aku sangat lelah dan mengantuk sekali.


Lebih setengah jam aku bergumul dalam pertengkaran batin dengan diriku sendiri yang malah membuatku tambah sakit kepala. Ahhhh, aku ini tidak gentleman sekali ternyata, keluhku dalam hati.


Aku segera mandi dan mengambil air wudhu. Berpakaian rapi dan memakai sarung siap menjadi imam sholat baginya.


"Ra-ya...." Aku mengguncang pundaknya pelan.


Dia segera duduk sambil mengucek matanya. Sedikit terkejut melihat siapa yang membangunkannya, namun langsung cemberut melihat aku yang membangunkannya.


Apa dia marah padaku? Kenapa? Apa karena aku tertidur semalam?


"A-yo ki-ta sho-lat su-buh" ajakku berusaha mengabaikan sikapnya.


Aku menunggunya selesai mandi dan harus kembali bersabar saat dia mengujiku kembali dengan hanya menggunakan handuk ketika keluar dari kamar mandi. Dan mengganti bajunya di depanku. Apa itu sengaja agar aku.... Tapi ahh sudahlah. Ini kan memang kamarnya sendiri. Dimana lagi dia akan mengganti baju kalau bukan di kamar sendiri?


Selesai memakai mukena Raya bergegas keluar kamar. "Aku mau sholat di luar aja" katanya.


Nah berarti benar kan, ada yang dia marahkan? Sholat aja dia tidak mau berjamaah berdua denganku. Benar kata mas Ibrahim suaminya Hawa, Raya ini suka ngambekan.


Hari ini aku masih ada libur. Aku harus meluruskan masalah antara aku dan Raya agar tidak merusak hubungan kami yang harusnya malah sedang mesra-mesranya.


Kegiatanku hari ini adalah melakukan pendekatan pada pada keluarganya Raya termasuk pada nenek yang usianya sudah sepuh namun terlihat masih sangat sehat. Aku memijat kaki nenek saat kami sudah berkumpul bersama.


"Ummiknya Raya itu anaknya cuma satu ya Raya ini, Fud! Udah gitu jarang ngunjungi nenek di kampung, makanya nenek mau kalian itu punya anak banyak biar nanti saat kalian tua kalian nggak kesepian kayak nenek dan Ummik" keluh nenek.


"I-ya, Nek. In-sya-Al-lah. Se-di-ka-sih-nya Al-lah a-ja, Nek. Do-a-kan sa-ja Ra-ya dan Mah-fudz di-ka-sih 5 a-tau 6 a-nak"kataku sambil melirik Raya yang langsung melotot padaku.

__ADS_1


Aku tertawa kecil melihat responnya.


"Ka-mu ma-rah pa-da-ku la-gi?"tanyaku saat aku dan Raya sudah ada di kamar lagi.


"Udah tau nanya"jawabnya ketus.


"A-ku ta-u ka-mu ma-rah ta-pi ng-gak tau ke-na-pa"jawabku jujur.


Raya mendengus kesal "Professor bilang kamu akan ke rumah sakit jejaring untuk dinas daerah, kamu nggak bilang apa-apa padaku."


"Cu-ma 2 ming-gu, Ray...." jawabku.


Oh, karena itu dia marah.


"Bukan masalah lamanya, tapi kamu nggak bilang apa-apa padaku mau main pergi-pergi aja"omelnya.


"Te-rus a-ku ha-rus a-pa? Ka-lau a-ku bi-lang se-be-lum ni-kah ka-mu ma-u ba-ta-lin ni-kah-nya? A-tau ma-u di-tun-da? Te-rus ka-pan ki-ta ni-kah-nya? Ko-as kan me-mang se-per-ti i-tu. Ma-u tung-gu a-ku se-le-sai ko-as?"


"Setidaknya ngomong padaku!"katanya kesal. "Kamu tau apa alasan Ummik pengen aku nikah secepatnya? Kamu juga dengar nenek tadi ngomong apa? Mereka pengen keturunan dari aku, Fud! Kamu kira bisa punya anak tanpa proses fertilisasi? Aku nggak bilang mau secepatnya. Tapi kalau kamu pergi selama itu Ummik akan sedih karena kita seperti nggak punya niat mewujudkannya."


"Ka-mu a-tau Um-mik yang se-dih ka-lau a-ku per-gi?" godaku.


"Mahfudz, aku lagi ngomong serius!" katanya.


"I-ya, i-ya! A-ku ta-u. Yang per-ta-ma. Aku min-ta ma-af so-al di-nas lu-ar ko-ta. Ka-lau ka-mu ma-u a-ku bi-sa ba-tal-kan, Pro-fes-sor ju-ga ke-ma-rin kan bi-lang nggak ma-sa-lah ka-lau nggak ja-di."


Aku melihat ekspresinya. Sepertinya dia melunak.


"Yang ke-dua a-ku min-ta ma-af so-al ta-di ma-lam. A-ku ti-dak ta-u ka-lau i-tu me-nya-ki-ti-mu. Ta-pi a-ku be-na-ran ca-pek dan ngan-tuk se-ka-li. A-ku ta-u ma-lam i-tu pen-ting bu-at-mu, bu-at se-mua wa-ni-ta ju-ga dan a-ku mem-bu-at-mu ke-ce-wa. Ma-af!"


"Hey, Mahfudz! Aku tidak kecewa ya! Kamu ngomong begitu seolah-olah aku ngarep banget kita ahh sudahlah... Nggak enak banget dibilangin begitu" omelnya.


"Nga-rep ju-ga nggak a-pa-a-pa. I-tu bu-kan do-sa. A-ku su-ami-mu"kataku pede.


"Tapi aku nggak nga...."


Kata-katanya terhenti saat aku mendaratkan sebuah ciuman lagi di bibirnya, yang bukan cuma sekedar kecupan seperti tadi siang. Aku tidak tahan lagi mendengar ocehannya yang pada akhirnya cuma ingin sok jual mahal padaku. Memangnya kenapa kalau kamu ingin? Bukannya kita pasutri yang sama- sama sudah dewasa? Kenapa harus malu padaku?


"Mahfudz...." wajahnya memerah seperti kepiting rebus saat aku menghentikan aksiku.


"Yang ke-ti-ga, ber-si-ap-lah nan-ti ma-lam. Ki-ta a-kan be-ru-sa-ha me-wu-jud-kan ke-i-ngi-nan Um-mik."


"A-a-apa?" Raya terlihat gugup.


"Fer-ti-li-sa-si" bisikku.


Raya menutup mulutnya, kaget.


"Sa-tu la-gi, ja-ngan pang-gil a-ku Mah-fudz te-rus. Kan a -ku su-dah bi-lang? Di ru-mah sa-kit, ka-mu a-ta-san-ku, se-ni-orku. Ta-pi di sini a-ku sua-mi-mu. Pang-gil a-ku sa-yang!"


Aku menunggunya mengatakan itu.


"I-iya, sayang!"

__ADS_1


Aku menatap wajah memerah di depanku ini dengan senyum sebelum aku menciumnya lagi. Kita harus latihan tipis-tipis kan sebelum nanti malam?


__ADS_2