
Author POV
Masih tak percaya, kini Waridi menuju kantin kantor walikota. Tanpa memutus telepon, dia ingin memastikan apakah Fuad serius dengan ucapannya ataukah hanya ingin menggertaknya. Dan sialan! Fuad memang ada di kantin, sedang menikmati secangkir kopi capuccino. Di telinganya masih menempel ponsel yang dipakainya menelepon Waridi sekarang. Dan kini Fuad juga melihat pada Waridi yang berdiri di pintu kantin.
"Hai, Papa! Aku di sini!" panggil Fuad.
Waridi terlihat menahan geram melihat kedatangan Fuad. Anak itu sungguh sangat bernyali datang ke sini.
Ini belum jam makan siang, jadi kantin ini belum ramai pengunjung. Namun walau begitu, Waridi merasa perlu mengamankan Fuad. Bicara di kantin begini akan mengundang banyak telinga. Dan Waridi yakin yang akan dibicarakan Fuad adalah sesuatu yang pada akhirnya merugikan dirinya sendiri jika orang lain tau.
Waridi mematikan panggilan telepon itu begitupun Fuad. Kini dia sedang berjalan mendekat ke meja Fuad. Dengan memasang senyum ramah khasnya dia duduk berhadapan di meja Fuad. Di kantin ini ada beberapa meja yang terisi oleh orang luar yang mungkin sedang berkebetulan ada urusan di kantor walikota.
"Oh, Papa! Silahkan duduk. Semoga kedatanganku ke sini tidak mengganggu aktivitasmu," Fuad dengan aktingnya sebagai menantu menyambut Waridi.
"Aku sedang ada rapat sebenarnya, tapi kalau menantuku ingin bertemu denganku, apa yang bisa kulakukan? Keluarga tentu lebih utama. Betul tidak Pak?" kata Waridi meminta pendapat dari seseorang di meja sebelah mereka.
Orang- orang itu langsung menanggapi dengan respon anggukan yang kagum. Wah, seorang wakil walikota yang sayang keluaga, mungkin begitulah pikir mereka.
"Bagaimana Ayuni? Sehat? Rahmat cucuku sehat?"
Waridi mulai memprovokasi Fuad. Lebih bagus kalau anak ini emosi dan menyerangnya. Sehingga dia punya alasan memanggil keamanan dan menendang Fuad dari sini.
Fuad menatap tajam sehingga pupilnya terlihat mengecil. Dia tau dia tidak boleh terprovokasi, meski orang tua ini sedang memancingnya untuk melakukan sesuatu yang di luar batas.
"Ayuni dan Rahmat tentu saja sehat. Jangan khawatir. Di sisiku mereka sangat- sangat aman dan bahagia. Kami keluarga kecil yang saling mencintai satu sama lain," jawab Fuad lugas.
Waridi hanya manggut- manggut- mendengarnya. Meski dalam hatinya geram mendengarnya.
"Oh, Papa nggak mau pesan minum? Soalnya ada banyak hal yang aku ingin bicarakan. Salah satunya adalah tentang seseorang bernama Anton, wajahnya mirip banget sama aku dan kembaranku Mahfudz. Ternyata dia adalah pelaku vidio asusila yang menjebak Mahfudz. Katanya ...." Fuad memelankan suaranya dan berbisik. "Bapak wakil walikota yang mengatur dia bisa tidur dengan gadis itu dan menjebak Mahfudz. Dan dia juga bilang kalau dia rekonstruksi wajah atas permintaan wakil walikota Waridi."
Waridi tersentak kaget. Dia tak menyangka Anton akan segampang itu membuka rahasia mereka. Waridi bahkan telah membayarnya dengan uang yang tidak sedikit belum lagi uang yang telah dia keluarkan untuk rekonstruksi wajah.
Fuad tertawa kecil melihat wajah syok itu. Rasanya menyenangkan melihatnya. Ini bahkan lebih lucu dari komedi.
"Bagaimana kalau kita berbicara di ruangan ku saja?" kata Waridi sesaat setelah dia berhasil menguasai keterkejutannya.
Fuad tersenyum tipis.
"Di mana pun yang membuatmu nyaman, papa mertua," sahut Fuad dengan nada mencemooh.
Fuad tau, di mana pun tempatnya Waridi pasti tidak akan merasa nyaman sekarang.
Setelah membayar capuccinonya Fuad mengikuti Waridi berjalan menuju ruangannya. Semua orang yang berpapasan dengan mereka selalu menyapa dan mengangguk hormat pada Waridi. Dan Waridi pun menyapa ramah mereka. Uhh, benar- benar pencitraan level dewa, pikir Fuad sinis.
Waridi membuka pintu kantornya dan mempersilahkan Fuad masuk.
"Masuk!"
Fuad memandang sekeliling ruangan itu. Ruangan yang cukup besar dan nyaman. Ada foto presiden dan wakil presiden di dinding di bawah meja kerja Waridi. Di belakang kursi Waridi juga ada bendera merah putih. Di ruangan itu bahkan ada AC-nya. Dan juga satu set sofa hitam berbahan kulit. Mebel seperti lemari, kursi meja kelihatannya juga terbuat dari bahan furniture terbaik. Lebih menakjubkan lagi ruangan ini bahkan memiliki TV dan kulkas mini.
Fuad berdecak kagum.
"Duduk!" perintah Waridi dengan nada yang tajam.
"Wah, ini ruangan kerja yang nyaman, Papa Mertua. Apa ini semua difasilitasi pemerintah?" tanya Fuad penasaran.
Waridi tersenyum sinis.
"Kau pikir apa? Harusnya kau sudah tau, kalau ini semua berasal dari uang pribadiku," katanya setengah mencemooh. Dia yakin Fuad akan pingsan kalau tau jumlah kekayaan Waridi yang sebenarnya.
"Wah, aku takjub. Kekayaanmu pasti di atas rata- rata semua penduduk kota ini," puji Fuad meski dalam hatinya dia ingin muntah mengatakannya.
"Kau bercanda? Kekayaanku kau bandingkan dengan penduduk kota ini? Yang benar saja ...." katanya remeh.
"Oh, ya, ya, ya .... Aku tau," Fuad mengangguk- angguk. "Usaha penyelundupan kulit trenggilingmu pasti berjalan lancar, Papa Mertua," katanya paham.
Waridi terlihat syok yang kedua kali mendengarnya. Apa Fuad menyelidiki dia sejauh itu? Anak ini tidak bisa diremehkan.
"Darimana kau tau?" Waridi berusaha menahan amarahnya.
"Aku menyelidikimu." kata Fuad datar seakan tidak merasa bersalah. "Aku sih tidak heran kalau kau sekaya itu. Apalagi kau join dengan Willy. Kadang- kadang aku malah curiga. Apa jangan- jangan kau bisnis yang lain juga? Misalnya .... Bisnis penyelundupan senjata api?"
Waridi menyunggingkan senyumnya dengan sebelah bibir yang terangkat ke atas. Dia merasa anak ini tidak masuk akal.
"Bisnis penjualan perempuan?"
Waridi tertawa mencemooh. Dia tau anak ini sedang memancingnya. Dan lagi pula dia bukan germo dan mucikari.
"Bisnis narkotika?" tebak Fuad lagi.
Kali ini Waridi tidak menunjukkan keterkejutannya tapi Fuad tau kalau tebakannya mungkin benar.
"To the point saja, apa maksudmu datang ke sini. Kau tahu banyak tentang urusanku. Apa kau ingin memerasku?"
Fuad tersenyum. "Bisa dibilang seperti itu, bisa juga tidak."
"Kau punya sesuatu yang bisa kau jadikan alat untuk memerasku?" tanya Waridi penasaran.
Fuad tersenyum dan mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan rekaman vidio saat dia menangkap Anton. Waridi menontonnya dengan seksama dan mengembalikan ponsel itu pada Fuad.
"Kau ingin memerasku dengan itu? Vidio apaan itu? Kau kira pengakuan Anton akan membuat orang percaya padamu? Semua orang bisa membuat Vidio seperti itu. Itu hanya kata- kata dari seseorang yang ingin menjatuhkan wakil walikota. Rakyat akan berpikir seperti itu. Kau tidak berpikir sampai ke sana?"
Fuad mengangguk- angguk.
"Ya, ya, ya. Aku lupa. Bapak wakil walikota tahun depan bukankah akan mencalonkan diri sebagai calon gubernur? Wah, moment ini pasti pas. Kalau aku menyebarkan vidio ini di channelku. Maka masyarakat akan mengira itu fitnah untuk menjatuhkan cagub Waridi. Bukannya itu bagus buatmu? Sangat menarik. Kalau begitu sebagai menantu yang baik aku akan membantumu papa mertua, atau ayah mertua? Aku dengar dari Ayuni, kau lebih suka dipanggil ayah saat ..... Ah, bagaimana kalau masyarakat tau kau punya kelainan seksual seperti ....incest?" bisik Fuad lirih saat mengucapkan kata- kata incest.
__ADS_1
"Tutup mulutmu!" Waridi dengan geram mulai menahan suaranya agar tidak membentak. Rasanya dia ingin memukul Fuad detik itu juga. Tapi Fuad tak peduli.
"Baiklah, aku akan mengunduh vidio ini tanpa opening di channel youtubeku," kata Fuad sambil meraih ponselnya.
Tanpa berpikir panjang Fuad lalu mengunduh Vidio pengakuan Antoni itu di channelnya.
"Pengunduhan ini biasanya butuh waktu 15-20 menit. Sepanjang itu mari kita ngobrol- ngobrol ringan, papa mertua!"
"Stop memanggilku papa mertua. Kau bukan menantuku! Ayuni bukan anakku. Dia hanya tempatku bersenang- senang kalau aku butuh melampiaskan hasratku," katanya dengan senyum yang mengerikan.
Di bawah meja Fuad mengepalkan tangannya mencoba menahan emosinya. Dia tidak tau sampai dimana dia bisa menahan sabar kalau seperti ini terus.
"Ya, aku sudah tau kebejatanmu itu. Tapi memangnya kenapa? Kau pikir aku akan terprovokasi kalau kau mengatakan itu. Katakan sesukamu. Aku tidak peduli masa lalu Ayuni. Sungguh, kau tidak sepenting itu. Yang penting istriku bahagia sekarang. Kami harmonis. Kau lihat sendiri ketika datang pada akikahnya Rahmat," kata Fuad mencoba berusaha untuk tetap tenang.
"Hahaha kau sungguh munafik. Apakah kau betul-betul tidak peduli apa yang ku katakan? Bagaimana rasanya menyentuh bekasku, Fuad? Kau tidak tau apa yang kulakukan selama ini dengannya. Dari sejak dia masih kecil betapa polosnya, lugunya sampai dia mulai dewasa bisa mendesah dan menikmati setiap sentuhan yang kuberikan. Karena itulah ada Rahmat. Anak yang lahir dari hubunganku dengan Ayuni."
Fuad sudah tidak tahan mendengarnya.
"Cukup!!!! Kau sudah keterlaluan!" kata Fuad dingin dan terasa tajam. Yang disahuti oleh Waridi dengan tawa terkekeh.
Dari dalam kantong jaketnya Fuad mengeluarkan ponselnya satu lagi. Dia mematikan panggilan telepon pada ponselnya yang sedari tadi berlangsung sebelum dia masuk ke kantor Waridi. Selepas itu dia menelepon ulang ke nomor itu.
"Kau tidak lupa merekamnya, kan?" tanya Fuad pada seseorang di seberang sana.
"Merekam apa maksudmu?" tanya Waridi curiga.
Fuad tersenyum.
"Tunggu sebentar lagi." katanya membuat Waridi penasaran.
Tak lama ponsel Fuad bergetar lagi. Sebuah email masuk. Fuad membukanya. Dan menemukan lampiran yang dikirim Andra ke ponselnya.
Fuad memutar sebuah rekaman suara yang dikirim Andra kepadanya. Itu rekaman pembicaraannya tadi dengan Waridi.
[Stop memanggilku papa mertua. Kau bukan menantuku! Ayuni bukan anakku. Dia hanya tempatku bersenang- senang kalau aku butuh melampiaskan hasratku]
[Ya, aku sudah tau kebejatanmu itu. Tapi memangnya kenapa? Kau pikir aku akan terprovokasi kalau kau mengatakan itu. Katakan sesukamu. Aku tidak peduli masa lalu Ayuni. Sungguh, kau tidak sepenting itu. yang penting istriku bahagia sekarang. Kami harmonis. Kau lihat sendiri ketika datang pada akikahnya Rahmat]
[Hahaha kau sungguh munafik. Apakah kau betul-betul tidak peduli apa yang kau katakan? Bagaimana rasanya menyentuh bekasku, Fuad? Kau tidak tau apa yang kulakukan selama ini dengannya. Dari sejak dia masih kecil betapa polosnya, lugunya sampai dia mulai dewasa bisa mendesah dan menikmati setiap sentuhan yang kuberikan. Karena itulah ada Rahmat. Anak yang lahir dari hubunganku dengan Ayuni].
"Kau brengsek!!! Kau benar- benar ingin mati?!!! Berani- berani sekali kau merekamnya!"
Waridi benar- benar murka dan ingin merebut ponsel itu dari Fuad. Fuad menghindar dan tertawa. Sehingga dia dan Waridi saling kejar di ruangan itu. Dia merasa mempermainkan Waridi terasa menyenangkan. Sehingga akhirnya Waridi merasa kelelahan dan menyerah.
"Percuma saja kau ingin merebut ponsel ini dariku dan menghancurkannya. Aku tidak merekamnya langsung. Aku menelepon seseorang dan dia merekam pembicaraan kita. Jadi walaupun kau mendapatkan ponsel ini, rekamannya akan tetap ada pada temanku. Kalau kau berani mencelakaiku, dia sendiri yang akan menyebarkan rekaman dan Vidio itu!! Hahaha ..." kata Fuad mengolok Waridi.
"Kau, kau gila! Katakan apa maumu? Apa kau sedang bosan dan ingin mempermainkanku? Kau kira aku punya waktu untuk bermain denganmu? Cepat katakan apa maumu? Kau mau uang? Berapa? Berapa? " tanya Waridi kesal. Napasnya naik turun karena ngos-ngosan berkejar- kejaran dengan Fuad.
Fuad akhirnya duduk kembali di depan wakil walikota Waridi setelah pria itu kembali agak tenang.
"Kau pikir itu masuk akal? Kau bahkan belum lulus kuliah. Dan kau ingin satu posisi di kantor walikota? Posisi apa yang kau mau? Hampir semua yang bekerja di sini adalah melalui rekrutmen jalur CPNS. Kau benar- benar tidak tau diri!" umpat Waridi.
"Aku bisa jadi tenaga honorer, papa mertua. Lagi pula aku sudah selesai sidang. Aku hanya perlu menunggu ijazahku keluar dan wisuda," jawab Fuad lugas. "Memang gaji honorer tidak besar. Tapi aku yakin, kau pasti tidak akan keberatan menggajiku sesuai gaji pegawai negeri sipil dengan uangmu pribadi tiap bulannya, kan? Ayolah jangan pelit ...." rengeknya.
Waridi sedang menimbang- nimbang apa sebenarnya rencana Fuad.
"Aku akan memberikanmu pekerjaan di tempat lain. Tapi jangan harap di sini. Jangan berpikir kau bisa memata- matai gerak gerik ku." katanya pada Fuad.
"Aku tidak mau di tempat lain. Aku adalah calon sarjana FISIP. Cita- citaku dari dulu adalah masuk kantor pemerintahan. Di masa depan aku harus menjadi orang nomor satu di kantor Walikota ini. Karena itu aku harus belajar dari sekarang dimulai dari staf biasa dengan bantuanmu, papa mertua. Dan jangan khawatir aku akan memata- mataimu. Aku tidak tertarik dengan wakil walikota. Cukup tempatkan posisiku di tempat yang cukup dekat dengan Walikota. Aku lebih tertarik pada orang nomor satu dari pada wakilnya," kata Fuad angkuh.
Itu sedikit membuat Waridi tersinggung.
"Ambisi yang sungguh tidak tau diri," gumam Waridi.
"Unduhannya tinggal 10% lagi. Setelah itu, ini akan masuk ke channelku. Dan ditambah dengan satu lagi rekaman pembicaraan kita tadi, menurutmu masyarakat akan lebih percaya padaku atau padamu, bapak wakil walikota?" tanya Fuad percaya diri.
Waridi berpikir keras, berpikir, berpikir. Resiko apa yang kira- kira akan diterimanya jika menempatkan Fuad kerja di kantor walikota?
"94% ...."
Fuad mengingatkan.
"97% ...."
"Sem ...."
"Ok ...." Waridi memotong kata- kata Fuad. "Akan kucarikan kau posisi yang bisa kau tempati untuk kau bekerja sini. Tapi jangan berani mengusikku. Atau kau akan ...."
"Deal!"
Fuad menekan tombol batal pada ponselnya. Dan mengulurkan tangannya pada Waridi. Waridi menatap kesal padanya. Tapi siapa juga yang peduli, pikir Fuad. Satu lagi misinya berhasil.
\*\*\*\*\*
"Pak, tolong teleponkan Bapak Waridi. Bapak Waridi akan menjamin saya untuk keluar dari sini," pinta Anton memohon pada penyidik.
Dia sedang diperiksa oleh penyidik lain di ruangan yang berbeda dengn Fuad tadi. Rasa ngilu di pipinya akibat sayatan pisau yang digores Fuad tadi terasa sangat perih.
"Apa maksudmu suruh teleponkan beliau? Dia orang penting di kota ini. Dia tidak mungkin mengenal penjahat kelas teri sepertimu. Kalau pun harus kenal penjahat, paling dia hanya mengenal koruptor- koruptor kelas kakap," kata penyidik itu geli.
"Sungguh, Pak. Tolong! Aku dan Pak Waridi saling mengenal. Aku ini salah satu anak buahnya," rengek Anton.
"Baiklah- baiklah. Kami akan teleponkan beliau untukmu." kata penyidik itu.
"Terima kasih, Pak!"
__ADS_1
Tak lama polisi itu keluar dan kembali lagi dengan ponsel di telinganya.
"Maaf, Bapak Waridi bilang dia tidak kenal denganmu."
"Biarkan saya yang berbicara," pinta Anton.
Polisi itu mengangkat bahu dan memberikan ponselnya.
Anton menerima ponsel itu dengan harapan besar dia akan bebas setelah memohon pada Waridi.
"Pak, tolong bebaskan, aku ...."
"Kau pantas mendapatkannya. Aku sudah menyuruhmu pergi jauh, dan apa yang kau lakukan? Bersenang- senang ambil kesempatan dengan Tiwi? Jangan berani- berani menghubungiku lagi!"
Waridi menutup teleponnya. Dia sudah sangat kesal pada Fuad dan Anton tidak tau diri itu masih saja ingin dibantu. Padahal semua kekacauan ini akibat ulahnya.
Derita Anton semakin menjadi- jadi saat orang- orang dari hotel memberikan kesaksian saat kejadian di sana dia mendorong dr. Raya dari tangga. Dan dia semakin nelangsa dan penderitaannya terasa lengkap saat Tiwi dan Rini juga datang sebagai pelapor dan korban kasus vidio asusila itu. KarenaTiwi berusia di bawah umur, dalih Anton yang mengatakan kalau perbuatan mereka didasari suka sama suka sama sekali tidak bisa diterima oleh hukum. Anton menyesalinya. Sungguh- sungguh menyesal. Apalagi Tiwi sama sekali tidak berbelas kasihan padanya. Tiwi sama sekali tidak mempertimbangkan kenangan bersama mereka meski telah melakukannya berkali- kali dengan Anton. Tiwi masih kecewa dan syok mengetahui seseorang yang menghabiskan waktu di ranjang bersamanya itu ternyata bukanlah Mahfudz.
\*\*\*\*\*\*
POV Raya
2 bulan kemudian.
Aku memeriksa Ayuni dengan stetoskop, mengukur tensinya dan mengernyitkan keningku pada akhirnya. Ini tidak mungkin kan?
"Kau sudah pernah menstruasi sejak nifas?" tanyaku.
"Ya, sekali." jawabnya.
Wajahnya terlihat pucat. Pagi ini dia muntah- muntah dan nyaris pingsan saat menjemur pakaian.
"Aku mengambil sebuah wadah kecil dari plastik di dalam tasku.
"Aku butuh urinmu," kataku sambil meletakkan wadah itu di depan Ayuni.
Ummik dan Ayuni tampak mengernyitkan keningnya heran.
"Ray, apa jangan- jangan ...." Ummik nampak takjub.
"Kau berhubungan pasutri tidak pakai pengaman? Kau tidak pakai KB?" tanyaku tanpa mempedulikan pertanyaan Ummik.
Ayuni mengangguk malu dan merasa bersalah. Nampaknya dia sudah menebak alasan kenapa pagi ini dia terasa lemas dan nyaris pingsan.
Ahh, aku tidak percaya ini. Anaknya bahkan baru berusia dua bulan. Yang benar saja, Ayuni hamil lagi?
Diagnosaku sepertinya benar saat dia menyerahkan urinnya dalam wadah, dan aku mencelupkan strip tespack ke dalamnya. Hasilnya garis dua. Ayuni benar- benar hamil. Ini gila, aku merasa kesal mengetahui hal itu.
"Ayuni! Kau baru 2 bulan yang lalu melahirkan, sekarang kau hamil lagi? Rahmat itu masih kecil. Bagaimana caramu akan mengurus mereka nanti. Ya ampun, kamu dan Fuad berpikir pendek banget sih? Kenapa kau tidak pakai KB sebelum berhubungan badan?"
Aku emosi.
"Ray, biarkan saja. Itu sudah rejeki dari Allah, Nak. Allah menitipkan anak lagi buat mereka, itu karena mereka dianggap mampu sama Allah, tidak baik menyesali rejeki. Harusnya kita bersyukur dan mengucapkan Alhamdulillah. Selamat ya, Ayuni. Rahmat akan punya adik lagi. Kamu jangan khawatir, nanti kalau kamu kerepotan Ummik akan bantu jaga," kata Ummik menghibur Ayuni yang sepertinya agak sedih karena kumarahi.
"Jadi maksud Ummik, Allah menganggap Raya nggak mampu punya anak dan menjaga anak Raya?"
Aku mulai tersinggung pada kata- kata Ummik. Banyak hal yang membuatku sensitif sejak aku kehilangan Annisa, janin yang meninggal dalam kandunganku 2 bulan yang lalu.
Ummik terlihat terkejut mendengar kata- kataku. Sebelum Ummik menjawab aku segera meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarku dan mengunci diriku sendiri di sana.
Oh, ini sangat menyakitkan. Ummikku sendiri tidak mengerti perasaanku.
"Raya! Raya .... Ummik nggak bermaksud bilang begitu. Buka pintunya, Nak. Kamu tau Ummik bilang begitu bukan bermaksud membuatmu tersinggung," bujuk Ummik sambil mengetok pintu kamarku.
Aku tidak menjawab. Terang saja Ummik tidak peduli. Ummik hanya peduli tentang cucu dan Ayuni yang sudah dianggapnya putri sendiri, kini telah memberinya dua cucu. Dan aku? Hanya aku yang menderita sendiri di sini. Tak ada yang mengerti perasaanku. Bahkan Mahfudz pun tidak.
Masa nifasku sudah berakhir hampir dua minggu yang lalu, namun jangankan berhubungan intim denganku, menyentuhku sekedar foreplay ringan pun dia tidak mau. Dia selalu menghindariku dengan alasan capek, ngantuk dsb. Itu membuatku jengah melihatnya.
"Raya ...."
"Kak Raya ...."
Aku tidak menghiraukan panggilan Ummik dan Ayuni yang mengetik pintu kamarku. Air mataku berderai sekarang. Aku merasa seperti tidak berguna.
Penderitaanku semakin lengkap saat Hawa meneleponku.
"Raya, kamu datang ke rumah sakit ya sekarang. Aku udah lahiran. Adiknya Yusuf perempuan, aku senang sekali, sayangku ...."
" ....."
"Raya ....?
"Hmmmm ...."
"Kamu nangis? Ya Allah Ray, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Jangan dipikirin ya, Ray. Kamu kalau nggak bisa datang juga nggak apa- apa. Aku ngertiin kamu kok, Ray."
Nada suara Hawa terdengar ikutan sedih mendengarku.
"Aku nggak apa- apa, kok Wa. Aku pasti datang nanti dengan Mahfudz. Nanti malam aja kalau dia pulang dari rumah sakit," kataku.
"Ok, Ray. Ku tunggu."
Aku benar- benar harus membuat Mahfudz terkesan malam ini walaupun aku harus merengek dan mengemis sekali pun padanya. Aku harus mendapatkan apa yang kuinginkan malam ini. Mahfudz tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Hawa sudah melahirkan adik Yusuf, bahkan Ayuni yang anaknya masih berumur 2 bulan saja telah hamil lagi. Kenapa aku tidak boleh mengupayakannya dari sekarang? Setahun katanya? Setahun aku baru boleh hamil. Iya kalau langsung hamil, kalau tidak bagaimana?
Dan belum dengan masa mengandung selama puluhan minggu. Ya Tuhan, aku tidak sanggup menunggu selama itu untuk bisa memiliki anak lagi, keluhku.
__ADS_1
Dan mulai sekarang, aku tidak mau pasrah dengan keadaan lagi. Aku benci dengan diriku yang seperti ini. Aku harus berusaha.