
"Saya sudah di warkop." Fuad menelepon Akbar sambil memandang ke sekeliling warung kopi tempat dimana dia dan Akbar bertemu.
"Di sini!" panggil Akbar sambil melambaikan tangannya.
Fuad menoleh dan melihat sosok lelaki berwajah seram dengan bekas luka keloid besar di hidungnya itu. Inikah Akbar? Pria baik yang telah membantu Ayuni, istrinya itu untuk melarikan diri dari Waridi? Andai waktu itu Akbar tidak membantu Ayuni, mungkinkah dirinya akan bertemu dengan jodohnya itu? Ah, Fuad tidak menyangka kalau malaikat penolong istrinya itu ternyata memiliki wajah yang garang seperti ini. Dengan wajah seperti itu, orang pasti tidak menyangka kalau ia memiliki hati yang lembut seperti kapas.
"Fuad!" Fuad mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Uluran tangan itu segera disambut Akbar.
"Akbar. Kamu bisa memanggilku Bang Akbar. Semua orang memanggilku begitu. Silahkan duduk!" kata Akbar balas memperkenalkan diri.
"Baiklah, Bang Akbar. Pertama- tama saya ingin mengucapkan terima kasih dulu," kata Fuad setelah duduk santai di hadapan Akbar.
"Terima kasih untuk apa? Kita bahkan belum memulai membahas apa pun," tanya Akbar bingung.
Fuad tersenyum.
"Terima kasih karena telah membantu Ayuni bebas dari cengkraman Waridi. Andai bukan karena Bang Akbar, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Ayuni dan kami tidak akan pernah menikah. Oleh karena itu aku ingin mengucapkan terima kasih dahulu atas bantuan Abang." ucap Fuad tulus.
Akbar menatapnya dengan ekspresi yang sulit untuk digambarkan. Dia menarik napas panjang.
"Oh, itu. Tak perlu berterima kasih soal itu. Aku sudah lama ingin membantunya. Hanya saja aku kurang memiliki keberanian sebelum bertemu dengan dr. Raya. Bagaimana kabar Ayuni? Ya, aku memang telah mendengar kalau dia menikah denganmu, adik iparnya dr. Raya. Ternyata itu kamu. Dan wahhh, kamu memang benar- benar mirip dengan Mahfudz!"
Fuad tersenyum seadanya.
"Ayuni Alhamdulillah baik, Bang. Rahmat juga."
"Rahmat?"
"Iya, anak kami."
"Anak? Maksudnya anaknya Ayuni dan ...?" Akbar tidak melanjutkan kata- katanya lagi melihat tatapan tajam Fuad.
"Rahmat adalah anakku dan Ayuni!" kata Fuad tegas.
Akbar sampai tercengang mendengar jawaban tegas Fuad. Namun lagi- lagi Akbar hanya manggut- manggut.
"Kita langsung ke topik pembicaraan saja, Bang. Apa maksud Bang Akbar ingin bertemu denganku? Maaf, soalnya aku nggak bisa lama- lama. Aku pamitan sama Ayuni cuma sebentar. Dan dia nggak tau aku ke luar ingin bertemu dengan abang. Aku nggak mau dia khawatir kalau ini masih seputar Waridi."
Akbar tidak langsung menjawab melainkan mulai membakar sebatang rokok dan menghisapnya. Dia menawarkannya pada Fuad yang segera ditolak oleh lelaki itu.
"Aku nggak merokok, Bang!"
"Sepertinya kamu sangat peduli sekali dengan Ayuni. Gadis itu .... Aku mengenalnya sejak dia masih kecil. Hidupnya berat seperti itu. Aku sangat menyesal tidak bisa menolongnya dari awal. Dia banyak menderita oleh Waridi," Akbar merenung mengingat masa lalu Ayuni sejenak.
"Mungkin kalau Abang menolong dia lebih awal, dia tidak akan pernah bertemu denganku."
"Kalau kamu betul- betul peduli pada Ayuni, Fuad, bukankah menurutmu sebaiknya Waridi itu dihukum dan diberi hukuman yang berat? Tindakannya sudah di luar batas kemanusiaan. Tidakkah kamu ingin membalaskan semua penderitaan dan sakit yang Ayuni derita sejak lama?" Sedikit memprovokasi, Akbar mengatakan itu agar Fuad mau bekerja sama dengannya.
Fuad masih belum menjawab melainkan masih menunggu untuk mendengar kata- kata Akbar selanjutnya.
"Bagaimana kalau bongkar apa yang telah dilakukannya pada Ayuni di hadapan publik? Ngomong- ngomong beberapa bulan lagi akan ada pemilihan calon gubernur dan kepala daerah. Itu waktu yang pas untuk membongkar segala kebusukan Waridi pada masyarakat, pamor, jabatan, dan reputasinya plus menjebloskannya ke penjara, kita bisa melakukan semua itu sekaligus. Hanya dengan satu kali pukulan telak," kata Akbar yakin.
"Maksudnya?" tanya Fuad terlihat tidak senang.
"Kita lakukan tes DNA pada Rahmat. Dan bongkar pada publik, bahwa itu adalah anak Waridi yang didapatkannya dari hasil ...."
"Tidak bisa!!!" potong Fuad dengan nada marah. "Kalau maksud Abang seperti itu sebaiknya kita hentikan saja pembahasan ini. Aku tidak mau Ayuni dan Rahmat terlibat dalam hal ini. Mereka anak dan istriku. Seperti yang aku bilang tadi aku akan melindungi mereka apa pun yang terjadi. Melakukan hal itu akan membuat Ayuni merasa terpuruk lagi. Dia akan kehilangan nama baiknya, semua orang akan memandang rendah dirinya. Dia akan jadi bahan gunjingan masyarakat luas selama berhari- hari, berminggu- minggu bahkan seumur hidup. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi." tolak Fuad tegas.
"Tapi, Fuad. Itu adalah salah satu jalan yang paling gampang bagi kita untuk menjatuhkan Waridi," bujuk Akbar.
"Aku tidak mau. Pikirkan cara lain atau tidak sama sekali. Kalau memang hanya itu caranya, sebaiknya batalkan saja rencanamu itu. Kita bisa akhiri pembahasan ini sekarang."
Fuad sepertinya serius akan pergi meninggalkan tempat itu. Fuad menenggak kopi yang sedari tadi sudah dipesan Akbar untuknya, dan saat dia sudah berdiri, Akbar menahannya lagi.
"Baiklah. Masih ada satu cara lagi!"
Fuad mengurungkan niatnya untuk berdiri. Dia kembali duduk.
Akbar mengambil sesuatu dari dompetnya.
"Kita harus mencari dia!" katanya sambil menyorongkan selembar foto pada Fuad.
Fuad memperhatikan. Ini kan fotonya Waridi, pikirnya.
"Bang .... Ini kan fotonya Waridi?"
Akbar tersenyum penuh arti.
"Ya, benar."
"Terus buat apa kita mencari dia? Dia selalu ada di rumahnya atau di kantor walikota. Tiap hari aku bertemu dengannya." kata Fuad bingung.
__ADS_1
Lagi- lagi Akbar tersenyum.
"Aku tidak bilang kita harus mencari Waridi. Yang kumaksud adalah kita harus mencari orang dengan wajah sama seperti Waridi," jawab Akbar.
"Maksudnya Bang?" Fuad bertanya masih belum mengerti. " Maksud Abang Waridi punya kembaran?"
"Sepertinya. Tapi bukan kembar seperti kamu dan Mahfudz, tapi ...."
Akbar menggantung kata- katanya.
"Tapi ....?" Fuad mengulang kata- katanya Akbar untuk mendesak lelaki itu meneruskan kalimatnya.
"Melainkan kembar seperti kalian dan Anton."
Haah??!! Fuad sampai membelalak matanya. Mulutnya juga sampai menganga mendengarnya. Kenapa dia tidak pernah terpikir ke sana sebelumnya.
"Anton? Bagaimana Abang bisa tau?" tanya Fuad masih tak percaya.
"Mahfudz sudah menceritakan semuanya. Dan aku sudah memikirkan semua ini. Sepertinya Waridi juga membuat wajah kloningan seperti dirinya untuk bisa mempermudah segala urusan dan aksinya. Logisnya saja, bukankah dia akan diuntungkan jika memiliki kembaran yang bisa menggantikan perannya saat dia berbuat hal dosa? Berada di dua tempat sekaligus. Melakukan kejahatan dan alibi secara bersamaan." ujar Akbar pada Fuad yang masih menatapnya kagum.
"Teruskan, Bang!" Fuad mulai tertarik.
Akbar tersenyum melihat respon Fuad.
"Ini baru dugaanku. Tapi sepertinya dugaanku ini cukup beralasan. Kalau dia bisa membayar mahal orang lain untuk merekontruksi wajah demi mirip orang lain yang notabene mirip musuhnya, bukan tidak mungkin dia juga akan membayar orang lain untuk mirip dengannya. Contohnya saat dulu dr. Raya diculik, saat itu dia sedang ada di rumah gudang bersama kami. Tetapi di saat yang bersamaan dia bisa berada di Singapura dan diliput oleh media saat kepulangannya di bandara. Bukankah itu aneh?"
"Tapi bukankah Abang adalah tangan kanannya, kenapa Abang bisa tidak tau hal semacam ini?" tanya Fuad bingung.
Akbar mendesah.
"Aku rasa meski aku tangan kanannya tapi menurutku setiap orang pasti punya sisi lain yang ingin disembunyikannya agar tidak diketahui orang lain. Dan Waridi tentu bukan orang yang gampang percaya pada orang lain. Dia orang yang sangat hati- hati. Dan terbukti kan? Pada akhirnya aku pun mengkhianatinya dengan berani melepaskan Ayuni?"
Fuad mengangguk- angguk tanda mengerti.
"Lalu bagaimana kita akan menemukan orang itu kalau kita bahkan tidak pernah melihatnya? Kita tidak akan bisa membuktikannya."
Akbar terlihat berpikir sejenak
"Aku rasa walaupun dia sangat waspada dan berhati- hati. Dia tetaplah manusia biasa seperti kita. Pasti punya sisi lemah dan ada masanya nanti dia akan lengah. Kamu ingat, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Karena itu, jadilah mata untukku, untuk kepentingan kita. Awasi dia di kantor walikota."
Fuad terdiam sesaat mencoba untuk mencerna kembali pembicaraan mereka hingga akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah. Mari kita lakukan, Bang!"
\*\*\*\*\*\*
"Kamu datang ke sini mau ngapain?" tanya Mahfudz ketus.
"Aku kebetulan ke sini ingin mengantar undangan untuk temanku. Sekalian aku bertemu kamu disini, aku juga ingin memberikannya untukmu. Datanglah bersama Raya ke pernikahanku hari Minggu nanti," kata Ali.
Mahfudz tersenyum geli.
"Kau ingin mengundangku atau ingin melihat istriku? Kau ini sudah mau menikah tetapi belum bisa move on juga rupanya. Jangan mimpi! Aku tidak akan membawa Raya ke pernikahanmu. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesuatu yang diluar logika yang membuat istriku malu di depan umum," tolak Mahfudz mentah- mentah.
"Wah, Mahfud! Aku tidak menyangka sejak bicaramu normal ternyata lidahmu itu makin tajam. Kenapa? Kamu takut membawa Raya ke pernikahanku? Apa kamu takut dia mencoba membatalkan pernikahanku dan kabur bersamaku?" gelak Ali membuat Mahfudz semakin panas.
"Kau idiot atau apa? Mukamu itu sepertinya tembok sekali. Kamu jelas- jelas adalah orang yang ditolak Raya berulang- ulang. Masih bisa aja ngomong begitu, cihh!!!" cibir Mahfudz.
Entah kenapa hari ini dia ingin sekali membalas lelaki itu daripada mengabaikannya. Apa ini karena Raya sedang hamil jadi dia ikut sensitif? Apa ini yang dinamakan kehamilan simpatik?
Ali menjadi tidak senang mendengar cibiran Mahfud.
"Terus masalahmu apa kalau memang kamu merasa begitu? Harusnya tidak ada masalah kan kalau kalian datang ke resepsi pernikahanku? Kau tidak percaya diri Mahfudz?"
"Huh!! Jangan kepedean Ali! Aku tidak ingin datang karena kandungan Raya sedang lemah. Aku tidak mau dia merasakan kesulitan cuma karena ingin datang ke resepsimu." bantah Mahfudz.
"Alasanmu sungguh banyak Mahfudz. Harusnya kamu mempertimbangkan kehadiran kalian bukan hanya dari satu sisi saja melainkan dari sisi lain juga. Meski aku yang menikah tapi Professor adalah dosenmu di kampus, kamu mahasiswa kesayangannya. Dan Raya adalah dokter kesayangannya. Selain itu Marhamah juga adalah teman Raya sejak di FK. Apa menurutmu kamu tidak terlalu egois kalau mengekang Raya untuk tidak pergi ke resepsiku hanya karena aku? Lagi pula aku dengar kamu juga telah membeli kursi roda untuk Raya pada marketing properti rumah sakit. Dia bisa memakai itu, kan? Lalu masalahnya dimana?" tanya Ali dengan wajah kesal.
Sesungguhnya dia merasa sangat kesal dengan Mahfudz saat ini. Dia hanya ingin Raya hadir di pernikahannya kali ini untuk meyakinkan Raya kalau dirinya memang sudah melupakan hubungan mereka di masa lalu. Walaupun sebenarnya di dalam lubuk hatinya rasa cinta itu untuk Raya masih ada. Tapi Ali tidak ingin membuat Raya menjadi tidak nyaman karena hal itu. Cukup dia membuat Raya kehilangan bayinya. Walaupun bukan sepenuhnya salahnya, tapi dia memiliki andil dalam hal itu .
"Kenapa kamu sangat nyolot?" tanya Mahfudz tersinggung. "Kalau bukan karena Raya sedang dalam kondisi lemah seperti ini, aku juga tidak pernah membatasi ruang geraknya."
Ali tersenyum sinis.
"Bukannya dia berada di kondisi seperti ini karena ulahmu, Mahfudz? Akibat kamu yang tak bisa mengendalikan libido bejatmu itu, makanya Raya bisa hamil meski kamu tau dia belum boleh hamil sebelum setidaknya setahun?"
"Aku tidak ....!!!"
Mahfudz yang sudah tidak tahan mendengar ocehan Ali ingin rasanya memukul lelaki mantan kekasih istrinya itu. Tangannya sudah mengepal di udara siap memukul Ali tapi dia mengurungkan niatnya mengingat dia sedang berada di rumah sakit.
"Kuperingatkan kau! Jangan mengurusi masalah ranjang orang lain. Itu bukan urusanmu. Kau tidak tau apa- apa." kata Mahfudz seraya meninggalkan Ali sebelum amarahnya kembali meledak- ledak.
Bagaimana pun dia tidak mungkin menceritakan pada orang lain, bagaimana istrinya sendiri menjebaknya kan? Meski pun sebenarnya Ali sudah tau dari dr. Gayatri kalau Raya hamil karena melepas IUD-nya tanpa sepengetahuan Mahfud.
__ADS_1
Ali tidak habis pikir, secinta itukah Raya pada Mahfudz sampai- sampai tak peduli akan resiko yang akan ditempuhnya, hanya karena ingin mengandung anak lelaki itu, dia sampai mengabaikan keselamatannya sendiri? Apa Raya selalu sepenuh hati seperti ini jika mencintai seseorang? Dulu juga dia pernah dicintai wanita itu sepenuh hati seperti ini, sampai bertahan di rumah sakit Siaga Medika meski dia harus menderita melihat Ali yang telah menikahi tua. Apa pun yang diminta Ali selain kontak fisik Raya pasti akan mengabulkannya dulu. Namun kini, takdir membuat mereka tak akan bisa bersatu lagi. Raya telah memiliki cinta yang lain yaitu Mahfudz. Ali sadar itu.
\*\*\*\*\*\*
POV Raya
"Sumpah deh! Kenapa sih kita harus menghadiri resepsinya Ali?" omelku pada Mahfudz yang membantuku mengancing resleting bajuku dari belakang.
"Untuk menghormati Professor, sayang!" jawab Mahfudz sembari menyingkap rambutku agar dia lebih leluasa mengancing gaun batik yang senada dengan kemeja yang di pakainya.
Hari ini Mahfudz tampan sekali. Dia dengan potongan rambutnya yang baru membuatnya terlihat lebih fresh. Aku jadi bertanya2 apa dia memang sengaja ingin menunjukkan pada Ali kalau dia dan aku pasangan serasi? Cieh, aku merasa geli membayangkannya.
Selesai mengancing bajuku, Mahfudz memeluk leherku dari belakang, sehingga wajahnya bersentuhan dengan wajahku.
"Aku juga tidak mau kalau sampai ada orang yang berpikir istriku belum move on dari mantannya. Dan mereka semua harus tau. Kalau dr. Raya yang cantik ini hanya milik Mahfudz seorang," katanya sembari mengecup pipiku.
"Duuh lebaynya ...." ledekku.
Mahfudz tertawa sambil mengambil dan memasang jam tangan pada pergelangan tangannya.
"Biar lebay tapi cinta, kan?" balasnya sambil terkekeh.
Aku hanya membalasnya dengan senyum geli meskipun sebenarnya aku agak kesal karena harus pergi ke pesta pernikahan Ali. Meski aku sudah tidak punya perasaan apa pun padanya tapi aku merasa lebih nyaman kalau seandainya aku tidak usah ikut menghadiri resepsi itu. Tapi Mahfudz memaksaku, apa boleh buat.
Kami sampai di gedung resepsi tempat dilangsungkannya pernikahan Ali dan Marhamah. Mahfudz dengan sigap mengambil kursi roda dari bagasi, membuka lipatannya dan menggendongku hingga duduk dengan benar di kursi roda tersebut. Meski seluruh mata tertuju padaku, namun Mahfudz dengan mantap mendorongku di kursi roda memasuki gedung resepsi yang telah didekorasi dengan megah itu. Mahfudz mengajakku ke salah satu meja bundar.
"Sayang, kayaknya kursi rodaku nggak akan bisa nyampe pelaminan. Kamu aja deh yang nemuin Ali dan Marhamah." kataku melihat pelaminan yang terletak di atas panggung.
Pasti akan sangat merepotkan kalau Mahfudz harus mengangkat kursi roda dan menggendongku ke pelaminan.
"Kamu nggak apa- apa kalau kutinggal sebentar?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Baiklah, aku kesana sebentar," katanya seraya meninggalkanku sendiri.
Aku memandang ke sekelilingku, mencoba mencari rekan- rekan sejawatku di rumah sakit Siaga Medika dan di RSIA Satya Medika. Mereka tidak mungkin tidak datang, kan?
Belum jauh mataku memandang, orang pertama yang kulihat di meja sebelahku adalah Waridi. Dia dengan karismanya nampak memakai jas hitam. Dia sedang duduk sendiri. Kemana istrinya? tanyaku dalam hati.
Pandangan mata kami bertemu dan dia terlihat acuh, sama sekali tak peduli padaku. Dia kembali sibuk pada ponselnya. Hey, dia tidak seperti biasanya. Melihatku sedang sendiri, bukankah dia harusnya menggangguku dengan intimidasinya dan segala hal kata- katanya yang menyebalkan?
"Kak Raya!" Seseorang menepuk pundakku.
Aku menoleh.
"Ayuni? Fuad? Kalian di sini?" tanyaku kaget.
"Kak Raya juga di sini? Aku kira tadi aku salah lihat," kata Ayuni sumringah.
"Ya, ini pesta pernikahan temanku, kalian kenal sama Ali dan Marhamah?" tanyaku. Tentu aku tidak bilang kalau ini pesta pernikahan mantan pacarku.
Fuad menggeleng.
"Yang nikah anaknya Sekda. Kami semua diundang," jawab Fuad.
"Ooo ...." Aku manggut- manggut paham.
Ayahnya Marhamah pastilah yang dimaksud Sekretariat Daerah oleh Fuad.
"Mahfudz nggak ikut?" tanya Fuad.
"Tuuuh ...." Aku menunjuk Mahfudz yang ikut antrian menyalami pengantin. "Aku nggak bisa kesana karena kursi rodanya," jawabku.
Fuad mengangguk. Perhatianku lalu tertuju pada Ayuni yang terlihat gelisah, sangat gelisah. Rupanya dia melihat Waridi yang berada di meja sebelah. Kehadiran Waridi nampaknya sangat mempengaruhi mentalnya, meski lagi- lagi Waridi terlihat acuh pada kami bertiga. Wah, ada angin apa hari ini? Waridi terlihat baik hati karena terlihat seperti tidak ingin memancing keributan.
Nampaknya hal itu pun disadari oleh Fuad. Terlihat keningnya yang mengkerut menatap Waridi. Dia bahkan tidak terlalu memperhatikan Ayuni.
"Ayuni, kamu nggak apa-apa?" bisikku sambil menggenggam tangannya.
Ayuni menggeleng gugup. Meski dia tidak jujur, aku tau dia tertekan dengan kehadiran Waridi.
"Kita pindah meja aja?" tanyaku.
Belum Ayuni menjawab, Waridi telah bangkit dari duduknya sambil terus memperhatikan ponselnya dengan intens. Dia pergi menuju k luar gedung.
"Eh, Kak Raya, aku titip Ayuni dan Rahmat dulu, ya! Aku mau ke toilet sebentar!"
Tanpa menunggu jawabanku, Fuad segera berlalu sambil berlari- lari kecil menuju ke luar gedung resepsi. Itu membuatku agak seikit heran dan curiga. Aku beberapa kali menghadiri resepsi pernikahan teman yang berbeda di gedung ini, setauku kalau ingin ke toilet, bukannya lebih cepat lewat pintu samping? Kenapa Fuad harus lewat pintu depan? Apa dia ingin mengejar Waridi? Untuk apa?
Hingga Mahfudz kembali ke sisiku, batinku masih bertanya- tanya.
"Kamu kenapa, Ray? Ayuni dan Rahmat kok di sini? Fuad mana?" tanyanya
__ADS_1