
Mencurigakan!
Fuad tanpa pikir panjang segera mengejar Waridi setelah menitipkan Ayuni dan Rahmat pada Raya. Dengan berlari- lari kecil, Fuad berusaha mengimbangi langkah kaki Waridi, mencoba mengejar pria itu agar ia tak kehilangan jejak.
Sesampai di depan pintu gedung, Waridi mengarahkan kakinya ke arah parkiran, Fuad tetap berusaha mengikuti, namun ....
"Fuad! Kamu udah datang duluan? Wah, ternyata kamu gercep juga, ya!"
Salah seorang staf di kantor walikota yang baru datang tiba- tiba menghambat langkahnya. Sial! Padahal, dia hampir bisa mengikuti Waridi.
"Hahaha, iya! Soalnya selain di sini, kami masih ada undangan lain nanti, jadi kami datang lebih awal," jawab Fuad seadanya.
Dia terburu- buru sekarang. Kenapa rekan kerjanya ini tak mengerti?
"Jadi, kamu datang nggak sendiri?" tanya rekannya itu lagi.
Fuad mengangguk cepat.
"Iya, aku datang bersama anak istriku. Ngomong- ngomong, aku buru- buru nih. Duluan, ya!"
Tanpa menunggu jawaban dari orang itu, Fuad kembali melanjutkan misinya mengikuti Waridi yang sepertinya tadi berjalan ke arah parkiran. Sesampainya di parkiran Fuad menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia kehilangan jejak!
Ahhh, kemana tua Bangka itu? Batinnya dalam hati. Fuad mendengus kasar. Bertepatan dengan itu sebuah mobil bergerak, melintas dari hadapannya untuk keluar dari parkiran. Dan dari kaca mobil yang tertutup naik perlahan, Fuad melihatnya. Sekilas dia melihat Waridi di dalam mobil itu. Ahh, mau kemana dia? Apakah dia perlu mengikutinya sekarang?
Fuad merogoh kantong celananya ingin mengambil kunci mobil, tapi saat dia hendak berbalik ke arah mobilnya ingin diparkir suatu pemandangan menakjubkan melihat Waridi berada tak beberapa jauh darinya. Pria itu sedang menelepon. Fuad mendekatinya, samar- samar dia mendengar percakapan pria itu saat menelepon.
"Saya baru sampai. Saya masih lelah untuk mendengarkan semua keluhan kalian yang tidak berguna itu. Paksa dia makan, dan jangan biarkan dia sampai lolos! Atau kalian akan tanggung sendiri akibatnya!" kata Waridi sambil menutup telepon.
Wah, kelihatannya Waridi sangat marah. Padahal jelas- jelas Waridi yang berada di dalam gedung resepsi tadi sangat tenang. Itu semakin membuat Fuad curiga. Semakin tertarik dia ingin mengetahui apa isi pembicaraan lelaki itu. Dia terus mengikutinya sambil tetap menjaga jarak aman. Tak lama telepon pria itu berdering lagi.
"Apa maumu, anak Ayah?" sapanya terdengar sinis. "Jangan membuatku marah! Aku tidak tau di mana dia! .... Dengar, dengar! Jangan mengancamku. Atau kau akan merasakan sendiri bagaimana rasanya mulutmu itu dirobek! Sekali saja kau ...."
Waridi sepertinya sadar merasa ada yang mengikuti, tiba- tiba menghentikan langkahnya dan berhenti berbicara di telepon. Untung Fuad segera sigap bersembunyi di balik salah satu mobil yang terparkir. Namun Waridi yang waspada merasa tidak tenang kalau tidak mengecek sendiri. Waridi mendekat ke arah Fuad sementara Fuad dengan sigap berusaha mengitari mobil dan segera melompat ke balik mobil lainnya.
Waridi yang tidak menemukan siapa- siapa di balik mobil geleng- geleng kepala melihat kekhawatirannya yang agak sedikit berlebihan. Di parkiran luas itu memang tidak terlalu sepi, tapi jaraknya dengan orang- orang yang berada di sana cukup jauh sehingga dia yakin tak akan ada yang mendengar obrolannya di telepon.
Segera Waridi bergegas masuk ke dalam gedung resepsi setelah terlebih dahulu mematikan telepon. Sementara Fuad menarik napas lega dibalik sebuah mobil. Untung lelaki itu tidak menemukannya. Dan sekarang dia harus memberi sedikit tentang waktu untuk masuk kembali ke gedung resepsi. Kalau dia masuk berbarengan dengan Waridi itu akan terlihat mencurigakan di mata Raya dan Ayuni, bahkan di mata Waridi. Tanpa berpikir panjang lagi, Fuad mengambil ponselnya. Dia harus memberitahukan perkembangan ini pada Akbar.
Tidak lama panggilan telepon itu tersambung, Akbar menyapanya.
"Halo, ada ...."
"Bang! Aku melihatnya!" potong Fuad cepat.
"Kau melihat apa?"
"Orang itu .... Orang yang mirip dia, Waridi maksudku. Aku bertemu dia."
"Dimana? Lalu?"
"Aku rasa kita perlu bertemu, Bang. Susah ngejelasinnya di telepon."
\*
Sementara itu di dalam gedung resepsi, Waridi mencari- cari istrinya dengan pandangan matanya. Mata itu tertuju pada segerombolan orang di satu meja.
"Ayuni! Kamu benar- benar anak nggak tau diri! Apa begini sambutan kamu sama orang tua kamu? Meski pun Mama bukan orang yang melahirkan kamu, tapi Mama adalah orang yang mengadopsi kami, mama turut membesarkan kamu! Sekarang, hanya karena kamu sudah punya keluarga baru, yang baru kamu kenal tidak begitu lama, kamu mengabaikan Mama? Mengacuhkan Mama begitu??? Anak macam apa kamu???" teriak istri Waridi. "Dan, kamu dr. Raya! Apa yang telah kamu lakukan pada putriku? Biasanya dia tidak begitu! Kamu cuci otaknya pakai apa???Haaah?"
Waridi menyeruak di antara orang- orang yang tengah menonton insiden itu. Terlihat oleh Waridi istrinya yang tengah marah- marah berteriak- teriak membentak Ayuni dan dr. Raya. Dr. Raya hanya tersenyum kalem di atas kursi rodanya. Ooh, jadi dia pakai kursi roda sekarang, hmmm? Apa kamu kira hanya dengan bantuan kursi roda bisa menjadi solusi untuk bekerja dengan aman di RSIA? Kekeh Waridi dalam hati.
"Tenangkan dirimu, Ny. Waridi! Anda pasti tidak mau kan pesta pernikahan keponakan anda jadi ricuh karena perbuatan anda yang selalu seperti ini?" kata Raya santai.
__ADS_1
"Perempuan brengsek! Pertemuan kita yang terakhir kali sepertinya tidak membuatmu jera. Jangan kamu pikir aku tidak berani untuk memberikan pelajaran lagi padamu! Entah apa yang kau berikan pada putriku sampai dia seperti ini. Kau doktrin pakai apa dia sampai dia membenciku?!"
Nampaknya istrinya sangat sakit hati pada respon Ayuni pada dirinya. Awalnya dia kebetulan melihat Ayuni berada di pesta itu. Dia ingin menyapanya meski ia sakit hati pada Ayuni yang melarikan diri dari rumah, menikah tanpa sedikitpun menghargainya. Walaupun dia hanya orang tua angkat. Tapi dalam hatinya menyayangi gadis itu seperti putri kandungnya sendiri sebab ia sendiri tidak memiliki anak perempuan. Selama beberapa bulan ini tak sekalipun ia ingin mencari tau bahkan menemui Ayuni karena kekecewaannya yang teramat dalam pada gadis itu. Dan hari ini saat dia ingin memaafkan kembali gadis itu, malah respon Ayuni di luar dugaannya. Tak disangkanya tindakannya yang ingin memeluk dan menggendong cucunya, anak dari Ayuni malah ditolak mentah- mentah. Ayuni menyingkirkan tangannya dan membuang muka darinya. Itu membuatnya sakit hati.
Raya hanya tersenyum simpul.
"Memberikan pelajaran apa maksud Ny. Waridi? Apa Ny. Waridi kini mengakui kalau aku berada di kursi roda seperti sekarang adalah akibat dari pelajaran yang Ny. Waridi lakukan padaku? Apa salahku pada Ny. Waridi? Aku hanya wanita hamil. Akibat Ny. Waridi mendorongku sekarang ruang gerakku terbatas. Untung bayiku tidak apa- apa." kata Raya sendu. "Soal Ayuni yang menikah dengan Fuad, mereka saling mencintai. Aku tidak bisa melakukan apa pun dengan itu."
Ahh, ini sendiri kau yang mau ya? Kau sendiri yang membongkar kebobrokanmu di depan umum, batin Raya geli.
Suara bisik- bisik para undangan mulai terdengar riuh. Mereka tidak menyangka kalau istri dari wakil walikota yang mereka hormati akan tega melakukan itu pada wanita hamil.
"Breng ....!" Istri Waridi sudah bersiap ingin melayangkan pukulannya kembali pada Raya andai Mahfudz dan Waridi tidak segera bertindak.
"Kau!!!!" Mahfudz ingin membentak istri Waridi, namun dia mengurungkan niatnya.
Dia merasa alangkah baiknya untuk saat ini Waridi tidak tau kalau suaranya sudah kembali normal. Mungkin itu bisa berguna di lain hari, walaupun Mahfudz tidak yakin, apakah Waridi mungkin akan tau kondisinya yang sekarang dari orang lain.
"Sudah, Ma! Sudah! Stop! Di sini banyak orang. Nggak baik kalau orang tau urusan keluarga kita." katanya sambil melerai istrinya.
Wanita itu terlihat patuh namun memandang Raya tajam. Di saat- saat seperti itu bahkan Ali dan Marhamah, kedua mempelai sampai turun dari pelaminan hanya untuk mengecek kondisi apa yang sedang terjadi. Sebab Ali tau, meja yang sedang ramai dikerubungi oleh orang- orang itu adalah meja yang sama dengan meja yang ditempati oleh Mahfudz dan Raya tadi.
"Mahfudz, Raya, ada apa?" tanyanya khawatir.
Raya hanya tersenyum simpul sambil menatap Waridi, seolah- olah dokter itu menegaskan pada Waridi untuk membereskan masalah ini.
"Tidak apa- apa, Nak. Ini hanya masalah kesalahpahaman. Kembalilah ke pelaminan," kata Waridi dengan intonasi yang kebapakan membuat hati yang mendengar menjadi adem.
Ahh, andai semua orang tau wajah sebenarnya dibalik topeng itu, pikir Raya.
"Ayuni, papa ingin bicara sebentar dengan kamu, Nak!"
Uhh, dramanya kembali mulai, batin Raya jengkel.
"Ayuni! Jangan dengarkan!" kata Raya tegas.
"Ayuni!" Jerit istri Waridi tak bisa menahan kesal. Bagaimana bisa dokter ini membuat Ayuni menurutinya lebih dari orang tuanya, begitu pikirnya.
Waridi tak tinggal diam. Dia menarik tangan Ayuni ingin membawanya pergi. Namun Raya sigap menarik tangan Ayuni yang satunya.
"Jangan berani membawanya!" kata Raya memperingatkan.
Waridi tersenyum sinis dan berbisik di telinga. Ayuni membuat gadis itu merinding.
"Ikut aku sebentar, atau kamu mau aku mencelakai keluarga barumu itu satu persatu?"
Ayuni menggeleng takut. Wajahnya pucat pasi.
"Biarkan a- aku sebentar kak Raya, Aku harus bi- bicara de- dengan ...." Ayuni tak meneruskan kata- katanya lagu. Dia melirik Waridi dengan takut, padahal Waridi sedang tersenyum ramah padanya.
"Dia ingin bicara dengan papanya dulu." kata Waridi dengan senyum bersahabat memandang pada para undangan yang masih berbisik- bisik.
Lalu tanpa membuang waktu, Waridi menarik tangan Ayuni menjauh dari tempat itu. Rahmat juga turut bersamanya. Mahfudz ingin bantu mengejarnya, namun Raya menggeleng. Raya tau Waridi licik. Dia bisa saja memutar balikkan fakta dan memojokkan mereka. Saat ini, mereka hanya bisa menunggu Ayuni bicara dengan Waridi dan nanti bertanya pada Ayuni apa yang dikatakan Waridi padanya.
Sementara itu Ali duduk di salah satu kursi tepat di sebelah Raya setelah Marhamah memutuskan untuk kembali lebih dulu ke pelaminan. Bagaimana pun dia harus duduk di situ untuk menyambut tamu undangan meski Ali bersikeras ingin mengetahui apa yang sedang terjadi antara paman bibinya dengan mantan kekasihnya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" desaknya pada Raya dan Mahfudz.
Dan lagi- lagi Raya cuma menghela napasnya dan Mahfudz membuang mukanya. Sebenarnya apa yang terjadi? pikirnya. Dia sudah lama penasaran hubungan antara Raya dan Waridi yang selalu bersitegang di mana pun mereka bertemu. Dan Ali yakin itu tak cuma karena Ayuni dan Fuad saja penyebabnya.
Di lain tempat,
"Lepaskan aku! Kita bicara di sini saja," kata Ayuni begitu mereka sampai di tempat yang agak sepi.
Waridi menghentikan langkahnya. Dia tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Kau sudah mulai berani sekarang, ya!" katanya sembari mendekati Ayuni.
Ayuni mundur ke belakang, dia ketakutan.
"Kenapa sayang? Kenapa anak Ayah? Kamu merindukan Ayah?"
Dengan sekali sentak Waridi mencengkram leher Ayuni sampai wanita itu kesulitan bernapas.
"Kau! Kau ternyata tidak sepolos yang kukira, ******! Baru saja kau melahirkan anakku, sudah hamil lagi rupanya! Melihatmu begini, jadi membuatku rindu, Ayuni!"
Ayuni menggeleng ketakutan. Dia ingin mundur lagi kebelakang, namun sekarang dia terpojok di salah satu tembok, masih sambil menggendong Rahmat.
"Apa perlu kita mencari tempat untuk mengulang masa-masa indah itu?" kata Waridi sambil mendekatkan wajahnya ke tubuh wanita itu dan mengendus- endusnya. "Baumu .... Semuanya masih sama, anak Ayah!"
Ayuni semakin meringkuk menghindari wajah menjijikkan tua Bangka itu.
"To- tolong, le- lepaskan saya ...." katanya memohon.
"Lepaskan? Segampang itu menurutmu, hahh?"
Ayuni semakin ketakutan. Bayangan lelaki itu menyiksa dan melecehkannya kembali berputar- putar di kepalanya.
"A- apa maumu?" tanya Ayuni khawatir.
Waridi tertawa melihat intimidasinya terhadap gadis itu berhasil.
"Bilang pada sesampainya kalian di rumah nanti, jangan mencoba- coba menentangku dan mencari- cari informasi apa pun tentang aku. Atau ...."
"A- Apa?"
"Aku tidak segan- segan membuatmu menderita termasuk mengambil Rahmat darimu. Jangan lupa anak ini juga anakku." katanya sambil terkekeh dan mengelus kepala bayi itu.
"Ti- tidak! Ja- jangan! Rahmat anakku, bukan anakmu!" kata Ayuni memberanikan diri.
"Ooo .... Jadi begitu menurutmu?"
Waridi memegang dagu Ayuni. Aura mengancam dari Waridi sungguh mengintimidasi wanita itu.
"Apa yang kau lakukan padanya?!!!!"
Satu pukulan mendarat di wajah Waridi setelah Fuad menarik dan mencengkram Waridi yang telah berani menyentu istrinya itu. Pukulan demi pukulan tak sempat lagi dihindari Waridi dari lelaki yang tengah mengamuk itu. Dia tidak rela lelaki manapun menyentuh Ayuni. Apalagi si tua bangka ini yang melakukannya. Fuad tidak akan membiarkannya.
Andai Ayuni tidak melerai, entah apa yang akan terjadi pada Waridi.
"Kau berani mengganggu anak istriku, aku sendiri yang akan membunuhmu, ********!" teriak Fuad.
Waridi mengusap darah yang berasal dari sudut bibirnya.
"Kau berani melakukan ini padaku, kau sendiri yang akan menyesal!" ancam Waridi. "Kau lupa, kau memberi anak istrimu makan itu uang yang berasal dariku. Hasil dari memerasku! Kau tidak akan mendapatkannya lagi."
Kata- kata Waridi membuat Ayuni kaget. Apa maksudnya?
"Terserah! Aku tidak peduli! Tapi bersiaplah! Aku sendiri yang akan membuatmu jatuh dan terpuruk sampai kau lebih hina dari pengemis! Kau tunggu saja tanggal mainnya. Ayo, kita pergi dari sini!" ajak Fuad sembari meraih Rahmat dari gendongan Ayuni, kemudian dia pun menarik istrinya itu pergi.
Raya dan Mahfudz yang sedari tadi menunggu Ayuni terkejut melihat Fuad yang terlihat gusar dan menarik Ayuni. Dia segera menghampiri meja mereka dan mengambil tas Ayuni.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi kami harus pulang sekarang." ucap Fuad pada Ali yang masih bengong dan bingung tak mengerti apa yang terjadi di sini.
Dia bahkan belum mengenal Fuad secara personal. Ali tidak tau siapa yang mengundangnya, dan bahkan Fuad dan Ayuni belum mengucapkan selamat padanya. Dan sekarang mereka pergi begitu saja.
"Ali, sepertinya kami harus pulang juga. Suasana ini akan semakin rumit kalau kami tetap di sini," pamit Raya. "Sampaikan salamku pada Professor dan Marhamah."
"Ta- tapi, Raya ...."
"Sayang, kita pulang sekarang," ajak Raya pada Mahfudz yang langsung manut dan mendorong kursi roda Raya keluar gedung.
__ADS_1
Penasaran dengan apa yang terjadi, Ali keluar sebentar lewat pintu samping, tempat yang tadi dilewati Ayuni dan Waridi. Dia mencoba mencari- cari paman dari istrinya itu, ingin menanyakan apa yang terjadi. Namun saat ia menemukannya, Ali mengurungkan diri untuk menemuinya. Dia melihat kondisi Waridi yang babak belur. Ali kemudian berbalik masuk ke dalam gedung dengan beribu tanya di hatinya. Sebenarnya apa yang terjadi?