
"Prof...."
Professor Ayyub tersenyum padaku.
"Saya kebetulan lewat sini dan Rayhan, jadi saya mampir. Kamu mau jalan, Raya?"tanya Professor Ayyub tak peduli pada keterkejutanku.
"Ahh, nggak kok, Prof. Saya nggak kemana-mana. Silahkan masuk, Prof" kataku mempersilahkan.
"Mereka sudah datang, Ray?" Ummik keluar untuk menyambut tamu yang diundang hari ini. "Eh, Pak Ayyub...."
" Wah, sepertinya saya datang di waktu yang salah, ya? Apa ada tamu spesial yang akan datang?"tanya Professor Ayyub ramah.
"Ada teman Raya yang mau datang, Pak Ayyub. Ayo, silahkan masuk" Ummik mempersilahkan Professor masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum" Professor Ayyub memberi salam sebelum masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" jawabku dan Ummik hampir berbarengan.
"Jadi, yang mau datang teman spesial Raya?" tanya Professor sesaat setelah kami duduk di ruang tamu.
Mungkin Professor Ayyub tau dari dandananku dan Ummuk yang rapi walaupun masih tergolong rapi. Aku juga jarang ambil libur di rumah sakit kalau tidak perlu.
Aku tertawa kecil. Aku tersipu.Tidak tau bagaimana menjawabnya. Apa mungkin berita tentang aku dan Mahfudz telah sampai juga ke telinga Professor?
"Jadi benar ini teman spesial. Hahaha... kamu tidak perlu malu-malu seperti itulah, biasa kalau anak muda punya teman dekat" kata Professor tertawa terbahak-bahak. Namun aku menangkap nada getir di suaranya itu.
Ummik ikut tertawa. Meski aku menjadi tak enak mendengarnya.
Tiit!Tiiit!Tiiiiii!
Suara klakson mobil di luar menghentikan tawa Professor dan Ummik.
"Coba lihat ke depan Ray, siapa tau Mahfud dan keluarganya yang datang" suruh Ummik padaku.
Aku mengangguk dan menyempatkan melirik Professor.
"Mahfudz?" Professor mengernyitkan keningnya pada Ummik.
Aku buru-buru ke depan. Melihat sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Penumpang dalam mobil itu sepertinya ingin memastikan kalau mereka berada di alamat yang tepat.
Aku mendekati mobil itu dan melihat ke dalam kaca mobil yang terbuka. Benar saja. Ada si kembar Mahfudz dan Fuad. Yang membuatku bingung yang mana Mahfudz yang mana Fuad. Mereka benar-benar mirip.
"Kenapa bengong, kakak ipar? Kami boleh masuk?" sopir yang membawa mobil itu akhirnya berbicara yang menjawab semua pertanyaanku.
Mahfudz melambaikan tangan "say hello" padaku.
Aku tersenyum dengan ramah. Mempersilahkan Fuad untuk membawa mobilnya masuk ke pekarangan samping rumah.
\*\*\*\*\*
Pov Fuad
"Kenapa bengong, kakak ipar? Kami boleh masuk?" tanyaku saat melihat wanita itu terlihat bingung membedakan antara aku dan Mahfudz.
Dia wanita yang lumayan cantik kalau menurutku. Memiliki senyum manis karena sebuah lesung di pipi kirinya. Tapi kata Mama usianya sudah 30 tahun lebih. Mahfudz benar-benar memiliki tipe gadis idaman yang unik. Karena jika ditanya padaku, dr. Raya bukanlah tipe ku meski dia seorang dokter yang dikenal banyak orang di kota ini. Aku tidak suka wanita tua, walaupun aku menyadari meski usianya matang, seandainya aku tidak mengenalnya, andai berpapasan di jalan, ada yang memberi tahuku kalau usianya 30 tahun aku tidak akan percaya karena wajahnya terlalu baby face.
"Raya....! Kamu cantik sekali, Nak! Kamu sehat? Gara-gara kedatangan kami, kamu jadi terpaksa libur kerja, maafin Mama ya"
Begitu keluar dari mobil, hal pertama yang dilakukan Mama adalah memeluk Raya sok akrab seolah telah kenal sejak lama padahal ini kali kedua mereka bertemu. Namun di pertemuan pertama pun sepertinya mereka tidak saling menyapa saat di kantor polisi.
Mama begitu mendengar Mahfudz ingin menikah dengan dr. Raya senangnya tidak main-main. Jelas saja Mama senang karena bakal punya menantu yang profesinya sangat dipandang dan dihormati di masyarakat. Tetangga-tetanggaku pun banyak yang mengenal dr. Raya entah karena ada dari keluarganya yang melahirkan di bantu oleh dr. Rata atau cuma sekedar kontrol kehamilan saja. Pokoknya Mama senang punya bakal calon menantu yang bisa dibangga-banggakannya pada orang-orang.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya juga jarang libur dari rumah sakit. Jadi, kalau cuma sehari dua hari mereka akan memaklumi, kalau saya tidak bisa masuk" kata Raya pada Mama.
"Aihh, jangan panggil Tante, donk. Kesannya seperti sama orang lain saja. Panggil Mama saja, ya? Bentar lagi kalau kamu menikah sama Mahfudz kan kamu jadi anak Mama juga. Mahfudz juga manggil Ummik ke Ummik kamu kan?"
Raya terlihat tersipu dan hanya tersenyum malu saat Mama menyinggung soal menikah.
"Ya, sudah kalau begitu. Ayo masuk sudah, Ma. Nadya, kamu masih ingat Tante?"tanyanya pada keponakanku Nadya.
__ADS_1
Nadya mengangguk. "Kenal donk, Tante yang waktu itu bantu Nadya di kolam renang kan?"
Wah, hebat. Ternyata yang orang yang sering disebut-sebut Nadya dokter cantik yang menolong dia di kolam renang adalah dr. Raya. Karenanya Nadya jadi merubah cita-citanya dari polwan menjadi dokter.
"Jadi, dokter yang menolong Nadya waktu di kolam renang waktu itu Raya, Fud?"tanya Mama antusias.
Mahfudz mengangguk. "I-ya, Ma"
"Jadi, itu kamu ya, Nak? Aduuuh sepertinya kita memang ditakdirkan jadi keluarga. Mama sangat berterima kasih sekali loh kamu sudah bantuin Nadya, cucu Mama satu-satunya saat ini" kata Mama terharu.
Nambah poin plus lagi ini dokter sebagai calon menantu di mata Mama, kataku dalam hati.
Aku dan Mahfudz selesai mengeluarkan bingkisan dan oleh-oleh yang sengaja kami beli diperjalanan untuk Raya dan Ibunya. Dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum" Mama memberi salam kami juga mengikuti salamnya Mama.
"Waalaikumsalam" kedua orang di dalam menjawab salam kami. Siapa lelaki tua di dalam ini? Apa ini pamannya Raya? Soalnya aku mendengar Raya juga sama dengan kami. Sama-sama yatim dari kecil.
Lelaki tua ini terlihat terkejut melihat kami.
"Mahfudz?" Dia menunjuk antara aku dan Mahfudz seakan bertanya yang mana Mahfudz.
Mahfudz tertawa dan menjabat dan mencium tangan lelaki itu. "Prof-fes-sor"
Lelaki ini tersenyum. "Beberapa kali saya sempat mendengar gosip tentang kalian di rumah sakit, tapi saya kira itu hanya gosip karena penculikan kemarin. Jadi gosip itu benar? Kalian ..." tanya orang yang dipanggil Profesor oleh Mahfudz itu.
Dia menunjuk Raya dan Mahfudz bergantian dengan tawa. Mahfudz hanya garuk-garuk kepala malu dan Raya pun demikian tersipu malu mendengar ucapan Professor itu.
Aku mengambil hp dari kantongku dan berselancar di dunia maya sampai acara silaturrahmi ini selesai. Sepertinya disini peranku hanya sebagai salah satu anggota keluarga dari Mahfudz. Aku sebenarnya tidak mau ikut. Namun karena Mama memaksa dan juga tak ada yang bisa membawa mobil, akhirnya aku terpaksa ikut. Mahfudz memang trauma membawa mobil akibat kecelakaan itu. Kecelakaan yang menewaskan kakak perempuanku satu-satunya dan menghilangkan kemampuan normal Mahfudz dalam berbicara. Dia menderita gangguan wicara sekarang namun nasibnya selalu beruntung dan disayangi banyak orang. Aku mah apa, keluhku dalam hati.
\*\*\*\*\*
Aku dan Professor kini duduk di kursi samping rumah. Memandang kolam ikan mini yang berisi beberapa ekor ikan mas peliharaan Ummik. Aku memberi pengertian pada Mahfudz dan keluarganya untuk memberiku sedikit waktu untuk bicara berdua karena ada sedikit pekerjaan di rumah sakit yang harus kami bahas, karena memang Professor menginginkan berbicara berdua denganku.
"Raya, apa benar kamu tidak bisa menikah dengan Ali untuk mewujudkan harapan Tya?"
"Prof..." Aku mendesah lelah. "Menikah itu harusnya karena alasan dan kepentingan diri sendiri kan Prof, bukan karena kepentingan orang lain?"
Professor manggut-manggut.
"Lalu, kenapa Professor seperti ini?"
"Ah...." Professor Ayyub mendesah lebih berat daripada aku. "Mungkin karena aku ingin memiliki sosok seseorang seperti kamu dalam hidupku. Entah itu sebagai anak atau cucuku. Inginnya aku kamu menikah dengan Ali untuk menggantikan cucuku Tya. Tapi ternyata kamu memilih anakku yang lain yaitu Mahfud, jadi aku harus bagaimana? Apa yang harus kukatakan pada Tya?"
Aku tidak menjawab.
"Mahfudz pun sudah ku anggap putraku. Apa aku sudah pernah bilang?"tanyanya.
Aku mengangguk.
"Kamu juga mungkin sudah dengar dari Ali, bahwa aku yang menyuruhnya menikah dengan Tya. Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku Raya?"
"Aku kecewa pada Professor. Aku selalu mengagumi Professor dan aku tidak menyangka Professor sanggup melakukan hal semacam itu. Tapi pada akhirnya aku sadar Professor melakukan itu karena sayang pada Bu Tya kan? Siapa yang tega melihat masa depan cucunya berantakan? Aku memahami Professor yang mencarikan pasangan untuk Bu Tya. Meskipun itu salah. Salah karena cinta dan pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Dan aku mohon pada Professor jangan lakukan itu untuk kedua kali. Professor yang bilang sendiri kalau Professor telah menganggap aku dan Mahfudz anak sendiri. Bagaimana kalau kebahagiaan kami rusak hanya karena Professor ingin memenuhi keinginan almarhum Bu Tya?"
Professor tidak menjawabku. Setelah beberapa saat beliau terdiam aku bicara lagi.
"Kalau professor dan Ali masih terus begini, aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit, Prof. Terus terang saja ini membuatku tidak nyaman" kataku.
"Raya..."
Professor terlihat terkejut mendengar perkataanku.
\*\*\*\*\*
Aku membawa nampan berisi toples cemilan di ruang keluarga. Kami baru selesai makan siang. Dan kini tengah bersantai di depan televisi. Ummik dan Mamanya Mahfudz cepat akrab. Bahkan ini sudah seperti keluarga sungguhan. Mama tiduran di ambal bercerita dengan Ummik, sementara Nadya membaca buku- buku cerita koleksiku dari sejak kecil. Fuad sendiri sibuk dengan editan vidionya. Mahfudz? Sepertinya hanya dia yang masih betah memandangku berlama-lama. Aku balas menatapnya. Kenapa? Kamu senang sekarang? tanyaku dalam hati.
Dia mengambil hpnya dari kantong dan mengetik dan mengirim chat padaku.
[Ya, Bu Dokter. Aku senang.]
__ADS_1
Haa? Aku kan cuma ngomong dalam hati, kok dia bisa tau?
Tes lagi ahh.... Mahfudz, I love you, kataku dalam hati sambil menatapnya.
Mahfudz berpikir sejenak, lalu mengirim chat padaku.
[I love you too, calon istriku]
"Issss, kok kamu bisa tau sih???"tanyaku sebal.
Semua orang memandangku. Kecuali Mahfudz yang tertawa lucu melihatku.
"Tau apa?"tanya Ummik.
Haaa? Aku melihat semua orang yang juga memandandangku.
"Nggak kok, Mik." jawabku. "Aku sama Mahfudz cuma main tebakan aja" kataku malu.
"Lihat nah Bu Salmah, anakku Raya ini dikiranya dia masih anak-anak. Kalau nggak segera dinikahkan kapan dewasanya coba?"
"Ummik..."protesku.
"Sebenarnya saya cukup terkejut sama keinginan Mahfudz, Bu Farida. Nggak pernah punya pacar, nggak pernah bawa ke rumah. Tiba-tiba sekalinya ngomong mau nikah aja. Saya tanya sama siapa, katanya sama dr. Raya. Saya berulang kali bertanya apa yang dimaksudnya dr. Raya Obgyn. Katanya iya. Agak rada nggak percaya sih, Bu, soalnya kan Mahfudz itu masih koas, Bu. Saya mikirnya kenapa nggak selesai koas dulu baru menikah. Tapi Mahfudz bilang kelamaan nunggu selesai koas. Anak muda jaman sekarang ya, Bu. Kalau sudah maunya A harus A. Maunya nikah sekarang ya harus sekarang" keluh Mama.
Ummik tersenyum. "Bukan Mahfudz sama Raya yang pengen cepat -cepat, Bu Salmah. Tapi saya yang ngedesak mereka. Saya yang nyuruh Mahfudz untuk membawa Bu Salmah dan keluarga datang ke rumah kalau dia serius sama Raya" Ummik meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.
Ibu Salmah atau Mamanya Mahfudz sampai terperangah.
"Saya sebagai Ibu yang tidak selalu bisa mengawasi mereka 24 jam punya kekhawatiran, apa yang mereka lakukan di luar rumah, apakah akan jadi ghibah atau malah jadi fitnah. Itu semua tidak lepas dari kekhawatiran saya. Nah, kalau mereka sudah menikah mereka mau ngapain aja kan kita nggak perlu khawatir lagi, Bu. Lagi pula Raya usianya sudah lebih dari matang, dia membutuhkan orang yang serius mendampingi dia. Nunggu Mahfudz sampai selesai koas bukan waktu sebentar. Selama itu apa pun bisa terjadi. Mereka bisa saja putus di tengah jalan. Dan kalau itu sampai terjadi, Raya anak saya adalah pihak yang paling menderita. Saya tidak mau itu terjadi. Raya tidak sedang berada di usia untuk bermain-main dengan hubungan sekarang. Jadi terserah Bu Salmah dan Mahfudz aja berpikir baiknya bagaimana agar kita tidak merasa saling dirugikan ke depannya. Kalau jadi kita bisa lanjutkan pembicaraan ke pernikahan. Tapi kalaupun tidak, kita masih bisa berhubungan baik sebagai teman. Tapi untuk Raya dan Mahfudz tidak akan bisa lebih dari itu. Saya tidak akan pernah setuju dengan hubungan seperti pacaran. Itu terlihat tidak pantas. Apalagi mereka berbeda usia yang lumayan jauh. Tapi kalau untuk pernikahan saya setuju. Mungkin ini yang terbaik. Untuk Mahfudz meski sedang koas Ummik tidak menuntut terlalu banyak. Kalau kamu belum bisa memberi nafkah buat istrimu. Ummik dan Raya bisa mengerti karna kamu masih dalam pendidikan."kata Ummik.
Aku berdebar-debar mendengar kata-kata Ummik yang sangat lugas dan tegas. Apa ya jawaban Mamanya Mahfudz?
Mama yang sedari tadi rebahan duduk. Beliau mendekatiku
"Tadinya Mama kira kamu yang mendesak Mahfudz untuk menikah, tapi mendengar penjelasan Ummik kamu, Mama jadi tau betapa berharga calon menantu Mama. Tapi sebelum itu Mama juga pengen tau, kamu beneran sayang sama Mahfud?"
Wajahku memerah dapat pertanyaan itu. Meski di sini cuma ada anggota keluarga saja tetap saja aku malu menjawabnya. Tetapi sialnya aku mau tidak mau tetap harus menjawabnya.
"Iya, Ma. Aku sayang Mahfudz."
Aku melirik ke Mahfudz dan buru-buru mengalihkan pandanganku ke bawah.
Mamanya Mahfudz terlihat lega. Dan bertanya lagi.
"Kamu bisa terima kekurangannya itu? Kamu tau dia memiliki gangguan wicara. Sementara kamu di mata mama kamu sempurna. Apa kamu tidak malu mendampingi Mahfudz nantinya?"
Aku menggeleng dengan yakin. "Aku tidak malu mendampingi Mahfudz. Aku bisa menerima semua kelebihan dan kekurangannya."
Mama melihatku dengan pandangan mencari tau. Dia ingin melihat seberapa jujur aku.
"Baiklah, Mama setuju kalian menikah. Raya nggak usah khawatir soal nafkah. Almarhum papanya Mahfudz punya usaha sarang walet di beberapa kota. Selama ini Mama yang pegang. Tapi kalau sudah menikah sama kamu. Mama akan kasih bagiannya Mahfudz, untuk dia kelola sendiri. Bagaimana pun hebatnya istrinya bekerja tetap harus dia sendiri yang menafkahi istrinya. Mama nggak mau anak Mama dianggap parasit dan dipandang sebelah mata. Mungkin tidak bagi Bu Farida dan Raya. Tapi orang-orang akan menganggapnya begitu kalau dia tidak berpenghasilan."
"Terserah Mama aja bagaimana baiknya"kataku. Mahfudz juga mengangguk dan memberi isyarat kalau dia ikut saja keputusan Ummik dan Mamanya.
"Untuk tanggalnya, Ummik akan carikan tanggal yang pas bulan ini juga biar nggak bentrok sama jadwal keluarga lain. Dan permintaan terakhir saya, setelah Raya dan Mahfud menikah tinggallah bersama Ummik disini. Ummik nggak ada teman. Dan kalau kalian mau sering-sering nginap di tempatnya Mamanya Mahfudz, Mama juga nggak keberatan."
"Kalau soal itu saya juga paham posisi Bu Farida. Saya nggak masalah Mahfud tinggal disini. Toh, selama koas dia juga jarang pulang ke rumah. Selain itu di rumah masih ada Nadya dan Fuad yang menemani saya"
"Bu Salmah enak sudah punya cucu, saya ini cuma berharap cucu dari Raya saja, tapi dia enggan mengabulkan keinginan Ummiknya" kata Ummik menyindirku.
"Ummik, please jangan bikin Raya malu. Cucu itu ada prosesnya juga Ummik, nggak bisa instan. Nggak usah bahas itu sekarang, Mik"rengekku malu.
Aku malu pada calon mertua dan iparku, Mik. Please jangan bahas itu, Mik, rengekku dalam hati.
"Pokoknya kalau kalian sudah menikah, Ummik nggak terima kalau kalian punya niat ingin menunda punya anak dengan alasan apa pun, kalau bisa langsung promil dari sekarang. Jadi, begitu nikah langsung jadi nggak pakai lama...."
Wajahku dan Mahfud langsung memerah mendengar kata-kata Ummik.
"Astaghfirullah, Mik. Sudah, Mik! Jangan bahas itu lagi. Raya malu!"
__ADS_1