
"Ray, kamu hamil?" tanya Ummik beberapa hari setelah aku melakukan uji test pack bersama Hawa.
"Nggak, Mik" jawabku.
Sepertinya aku tau ini siapa yang ceritain ke Ummik.
"Hawa bilang ...."
".... Hawa bilang Raya hamil? Udah ngetest pack hasilnya positif?" selaku.
Ummik mengangguk.
"Beneran udah ditest?"tanya Ummik.
Aku mengangguk acuh "Iya. Garisnya satu."
"Kata Hawa garisnya dua?"
"Satu, Mik. Raya loh lihat sendiri pakai mata Raya. Garisnya satu aja, Mik!"
"Ah, bingung Ummik jadinya. Kata Hawa dua. Kamu bilang satu. Kenapa nggak ditestpack ulang aja" tanya Ummik.
"Nantilah, Mik! Tunggu sampai beberapa minggu lagi kalau Raya nggak datang bulan juga"
"Kenapa nggak sekarang aja?"
"Raya belum sempat aja, Mik ...."
"Belum sempat gimana? Di rumah sakit pasti banyak test pack kan ya? Masa iya kamu nggak bisa nyempatin buat ngetest 2-3 menit aja?"
"Nantilah, Mik! Pasti Raya test kok!"
"Kamu itu kenapa ya Ray, seperti orang yang nggak pengen punya anak gitu? Kamu nggak pengen punya anak?" Tanpa diduga Ummik malah memarahiku.
"Ummik?? Kenapa Ummik jadi marahin Raya?"
"Habis kamu, kalau Ummik lagi pengen bahas pengen cucu aja, kamu itu pasti ogah ngomongin itu. Kayak orang nggak minat punya anak aja kamu itu! Kamu lihat donk Hawa anaknya sudah mau dua, nah kamu diajak ngomongi itu aja kamu malas!"
"Emang kalau diomongin anaknya jadi gitu, Mik?Astaghfirullah, Mik. Raya itu bukan nggak kepengen punya anak. Tapi Raya cuma nggak mau ngasih harapan palsu ke Ummik. Ya tunggu sebentarlah setidaknya 5 atau 6 minggu Raya menikah. Tunggulah sampai Raya ada adegan morning sickness seperti di tv. Hueg... hueg gitu, Mik!" kataku menirukan suara orang yang muntah.
"Hidupmu dramatis sekali!" kata Ummik kesal. "Kamu tinggal periksa lagi atau USG biar langsung ketahuan, apa susahnya?"
"Ya nggak susah, Mik! Yang susah itu nanti ngebujukin Ummik kalau terlanjur kecewa. Ummik kan ngambekan orangnya. Nanti kalau diperiksa sekalinya Raya nggak hamil, Ummik akan bersedih hati selama berhari-hari. Nggak ah, Mik! Nanti ada masanya kok Raya akan ketahuan sendiri kalau hamil. Sekarang Raya malas periksa-periksa nggak jelas" tolakku.
Seketika wajah Ummik langsung berubah dingin saat aku mengulurkan tanganku untuk mencium tangannya dan berangkat ke rumah sakit.
"Kamu periksa nanti, USG di rumah sakit. Bawa hasilnya ke rumah tunjukkan ke Ummik. Hasilnya hamil atau tidak Ummik nggak peduli. Yang penting kamu periksa dulu!"
"Ummik .... "protesku.
"Atau jangan pulang ke rumah!"
"Ummik???!!!!" pekikku kaget. "Ummik ngusir Raya dari rumah? Astaga Ummik, anak sendiri sampai diusir gara-gara cucu yang belum kelihatan batang hidungnya. Ummik ini terlalu berlebihan"
"Kamu yang keterlaluan! Nggak mau nurutin kemauan Ummik yang sederhana seperti itu. Ummik itu nggak muluk-muluk. Ummik cuma mau kamu periksa. Hasilnya hamil atau nggak Ummik bisa terima. Atau jangan-jangan memang kamu yang nggak mau hamil? Kamu pakai KB? Kamu minum pil KB?"
"Ya Allah, Mik. Raya nggak pakai KB kok, beneran! Sumpah, Mik! Ya ampun, coba lihat nenekmu ini, sayang .... Kamu belum kelihatan aja ada atau nggak, Bunda sudah diusir dari rumah karena kamu. Malas Bunda ngelahirin kamu kalau begini!" kataku sambil mengelus-elus perutku seolah-olah aku memang sedang bicara dengan anak dalam kandunganku.
"Raya!!! Kamu nggak boleh bilang begitu. Jelek banget kata-katamu itu!" Ummik tambah marah melihat candaan aktingku.
"Hadeeh, ya sudah, Mik. Sudah marahnya. Habis Ummik gitu banget ke Raya. Nanti kalau Raya pulang, Raya bawa testpack dari rumah sakit. Besok pagi, kita test sama-sama. Biar Ummik percaya hasilnya itu negatif. Soalnya kalau USG percuma juga, Mik. Kalaupun Raya hamil, kantong janinnya juga nggak bakal kelihatan sebelum usia kehamilan di atas 4 minggu"
Ummik sedikit luluh hatinya karena kata-kataku.
"Jadi, kalau cucu Ummik beneran sudah ada, dia manggil kamu Bunda?"
Ummik benar-benar deh. Cuma dengar candaan aktingku aja sudah bikin Ummik senyum sebahagia itu.
"Iya, Mik. Bunda Raya. Ayah Mahfudz dan Nenek Farida. Ummik senang?"
Ummik terlihat senang sekali mendengarnya. Entah kenapa melihat Ummik sebahagia itu, aku juga turut bahagia. Rasanya ingin melihat senyum itu selamanya mengembang di wajah Ummik.
\*\*\*\*\*
[Kak Hannum, lagi apa? Makan siang, yuk]
__ADS_1
[Aku lagi jaga nurse station, Ray]
[Oh, gitu? Aku boleh datang donk ke sana]
Aku tau kak Hannum pasti bingung kenapa aku berlagak sok akrab dengannya. Ya, dulu kami memang pernah dekat. Tapi itu kan nggak dekat-dekat amat. Apalagi itu sudah lama sekali, bertahun-tahun yang lalu.
[Di obgyn membosankan. Nggak ada teman]
Aku ngeles padanya. Aku benar-benar harus mencari tau tentang perawat bernama Rini itu. Sampai saat ini aku belum melakukan progress apa-apa dalam menyelidikinya.
[Ya, sudah datang aja. Jangan lupa bawa makanan yang banyak!]
Aku tersenyum. Soal makanan mah gampang! Segera aku ke kantin membeli sekantong penuh gorengan untuk dibawa ke depertemen penyakit dalam.
Kak Hannum menyambutku di nurse station interna.
"Wow, dibawakan beneran. Dalam rangka apa ini? Ada yang ulang tahun?" canda Kak Hannum.
"Katanya suruh bawakan makanan. Ya sudah kubawakan kesini. Bete tau, nggak ada yang asyik yang bisa diajak ngobrol di Obgyn. Biasanya kalau makan siang begini aku makan sama Mahfudz, tapi kan dia lagi dinas luar kota ke rumah sakit jejaring" kataku berbasa basi.
Tentu saja mataku sambil mencari-cari perawat yang lalu lalang. Berharap menemukan salah seorang perawat bernama Rini.
"Oh, jadi suamimu lagi ke luar kota. Aku nggak tau. Pantas aja beberapa hari nggak pernah kelihatan" kata Kak Hannum sambil terus asyik memakan gorengan yang ku bawa.
"Dia pergi sudah hampir 2 minggu, kok. Paling seminggu lagi balik" kataku.
"Kasihan donk pengantin baru, dianggurin berminggu-minggu" goda Kak Hannum.
Aku tertawa kecil namun mataku sekarang tertuju pada seseorang perawat yang sedang masuk ke pos nurse station ini. Aku melihat bet name-nya Rini Febriani M. Jantungku langsung berdetak. Apa ini Rini yang kucari?
"Gorengan siapa ini?" tanyanya.
Kak Hannum menunjukku. Perawat bernama Rini terlihat ragu mengambil gorengan itu. Walaupun aku tak memakai snelli (jas putihku) tapi sepertinya dia tau dari penampilanku kalau aku adalah salah seorang dokter di rumah sakit ini.
"Ambillah! Itu saya beli memang untuk dimakan, kok!" kataku ramah.
"Beneran, Dok?" tanyanya.
"Iya, benar ambil aja, jangan malu-malu" kataku.
"Aku makan, ya, Dok!" katanya masih berbasa-basi. "Aku itu capek banget Kak Hannum. Nenek yang kemarin aku bilang itu, cerewet sekali. Aku kesulitan mengatasinya. Tadi aja, aku disuruh bersihkan diapersnya karena nenek itu buang air besar padahal disitu ada keluarganya. Tapi dia maunya aku yang bersihkan" keluhnya.
"Sabar .... Memang begitu kalau kerja di divisi geriatri. Namanya yang diurusin pasien lansia ya macam-macam keluhannya. Geriatri itu sama sulitnya dengan departemen anak. Pasiennya ya sama-sama rewel. Sama-sama kekanak-kanakan. Jadi kurang lebih aja ngurusin anak-anak sama lansia, benarkan Dok?" tanya Kak Hannum padaku.
Aku tersenyum mengangguk.
"Kamu perawat di divisi geriatri?"tanyaku.
Perawat bernama Rini itu mengangguk. Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada penanganan penyakit, diagnosis dan pencegahan penyakit yang menyerang lansia atau orang tua.
"Jadi tenaga medis itu ditempatkan dimana saja, butuh kesabaran" kataku. "Mau itu di bagian geriatri, anak, obgyn semua sama sulitnya. Kalau di obgyn kamu butuh kesabaran menghadapi ibu-ibu yang akan melahirkan. Bermacam-macam kondisi dan karakter mereka. Ada yang sabar menahan sakit. Tapi ada juga yang tidak sabar. Itu sama juga dengan pasien lansia. Ada yang makin tua makin bawel, ada yang pendiam, ada yang semakin sensitif dan gampang tersinggung. Bersabarlah, anggap saja nenek atau kakek sendiri" kataku.
Perawat bernama Rini itu mengangguk.
"Maklumlah, Rini ini masih perawat baru di geriatri. Jadi belum terbiasa sama pasien-pasiennya" kata Kak Hannum.
"Baru?" tanyaku.
"Iya. Baru. Kamu disini udah berapa lama, Rin?" tanya kak Hannum pada Rini.
"Belum sampai 2 bulan" jawab Rini.
"Sebelum di geriatri, kamu kerja dimana?" tanyaku ingin tau.
"Aku baru lulus, Dok! Baru dapat STR langsung diterima kerja disini. Langsung ditempatkan di geriatri. Ini benar-benar pengalaman kerja pertamaku" katanya.
"Ooo, fresh graduate?"
Rini mengangguk.
Kalau Rini yang ini baru sekitar dua bulanan ini bekerja di rumah sakit ini, berarti bukan dia orang yang kucari. Kasus Ayuni terjadi sekitar 4 bulanan yang lalu. Terus kalau bukan dia?Lalu bagaimana dengan kedua perawat Rini yang lain? Bagaimana cara menyelidiki 2 orang perawat yang lain? Aku tak mungkin minta bantuan Kak Hannum, pikirku.
"Wah, wah, wah. Akhir-akhir ini departemen penyakit dalam sering dikunjungi dokter obgynnya SM ya?"
Suara Ali membuyarkan lamunanku tentang perawat Rini.
__ADS_1
"Aku kesini tidak ada urusan denganmu" kataku sebal.
"Lalu, kamu kesini mau bertemu siapa? Suamimu? Bukannya dia lagi ada di rumah sakit jejaring? Atau kamu kesini sebenarnya ingin bertemu dengan mantan kekasihmu?" Ali menunjuk dirinya sendiri. "Tapi kamu gengsi, malu?"
Aku tertawa kecil dan bangkit dari dudukku. Aku ingin pergi dari sini secepatnya. Ali ini menyebalkan dan sebentar lagi akan cari gara-gara denganku.
"Baru 2 minggu ditinggalkan suamimu, kamu sudah tak tahan dan ingin mendatangi mantanmu. Apa itu tidak keterlaluan, Raya?"
Kak Hannum dan Rini hanya terdiam pura-pura tak mendengarkan aku dan Ali.
"Aku kesini mau bertemu Kak Hannum. Kami teman lama" kataku.
Kak Hannum mengangguk mengiyakan.
"Dan kamu, jangan kepedean ya, Ali! Mending kamu ganti parfum jelekmu itu. Baunya benar-benar tidak enak dan menyengat!" ejekku.
Aku serius dengan parfum yang dipakai Ali. Baunya benar-benar tidak enak dan membuat kepalaku pusing. Aku tidak betah berlama-lama di dekatnya. Aku harus segera pergi.
Baru dua langkah aku melangkahkan kakiku, Ali mencegahku.
"Penhaligon's Bleinhem Bouquet. Aku masih memakai merek parfum yang dulu kamu pernah berikan kado ulang tahun untukku. Kamu sangat menyukai baunya kan? Sekarang kamu tidak suka? Memangnya parfum apa yang dipakai Mahfudz? Paling juga parfum murahan dibawah seratus ribuan" ejeknya.
Ali ini benar-benar menyebalkan!
"Bukan urusanmu. Bahkan bau ketiaknya suamiku lebih wangi dari parfummu itu! Dan lagi sebaiknya kamu periksa itu parfummu original atau tidak. Baunya tidak sama dengan yang pernah kuberikan dulu!" kataku jengkel.
Ali mengendus-endus bau pada bajunya. Aku yakin itu bukan bau yang sama dengan parfum yang pernah kuberikan padanya dulu. Ah, lagi pula siapa yang peduli. Aku tidak peduli dia mau pakai parfum apa pun. Sungguh demi apa pun, sama sekali nggak penting!
Aku membalikkan badanku dan akan kembali ke obgyn.
"Hey, Raya! Tidak ada masalah dengan parfum ini. Ini masih wangi yang sama. Sebaiknya periksakan hidungmu itu ke THT! Atau .... ahhh, benar! Kenapa kamu tak periksa siklus menstruasimu dulu. Mungkin saja kamu hamil?"
Aku terkejut setengah mati dan spontan berbalik lagi melihat Ali. Sepertinya Kak Hannum dan Rini sudah masuk ke dalam pos. Entah mereka mendengar atau tidak. Tapi Ali ini benar-benar lancang sekali.
"Kamu jangan bicara seenakmu!" kataku kesal
"Kenapa kamu marah? Aku salah? Atau kamu yang bodoh? Dokter spesialis obgyn tidak tau kondisi tubuhnya sendiri? Cuma melihatmu saja pun aku bisa tau, kalau kamu sedang berbadan dua"
Aku melongo mendengar Ali. ******** ini, kurang ajar sekali. Bisa-bisanya dia berkata begitu tanpa ada beban sama sekali.
"Kenapa? Sepertinya kamu tidak begitu senang? Kamu tidak senang mengandung anak dari suamimu? Kamu bilang kamu mencintainya, kalian saling mencintai?"
"Sebaiknya jangan berbicara di luar kapasitasmu membicarakannya. Aku memang mencintai suamiku. Kami saling mencintai tapi soal aku hamil atau tidak. Itu sama sekali bukan urusanmu. Kamu orang lain dalam hidup kami" kataku kesal dan meninggalkan dia.
\*\*\*\*
"Halo ...."
"Hallo Ray, ini Mama. Kamu dimana?"
Suara Mama mertuaku terdengar di seberang sana.
"Di rumah sakit, Ma. Kenapa?" tanyaku.
"Kamu pulangnya masih lama nggak?"
"Sekitar dua jam lagi, Ma. Kenapa memangnya?"
"Mama mau jemput kamu. Malam ini Raya nginap di rumah Mama ya?"
"Hmmm ....?" Aku jadi bingung.
"Kenapa? Kamu nggak mau?"
"Bukan nggak mau sih, Ma. Tapi kan Mahfudz juga lagi koas ke rumah sakit jejaring. Besok juga Raya kerja."
"Mama nggak nanya Mahfudz. Yang Mama tanya itu kamu Ray, kalian ini loh sudah nikah hampir sebulanan, sekalipun kalian belum pernah datang ke rumah. Apalagi nginap. Nelpon Mama aja kamu juga nggak pernah. Mama jadi kecewa sama kalian, Ray ...."
Aku mendesah. Kalau dipikir-pikir benar juga sih. Aduuh, bisanya aku lalai memperhatikan mertuaku. Menantu macam apa aku ini.
"Maafin Raya, ya, Ma. Raya benar-benar sibuk. Hmmm.... Mahfudz sepertinya 3-4 hari lagi bakal pulang. Nanti kalau dia pulang, kami ke rumah Mama. Nanti Raya atur biar bisa libur nginap beberapa malam di sana, gimana?" bujukku.
"Nggak usah nunggu Mahfudz pulang. Mama jemput kamu di rumah sakit nanti aja kalau kami sudah selesai kerja. Besok kamu diantar lagi ke rumah sakit kalau mau kerja. Bisa?"
Mama sepertinya maksa sekali. Ya, sudah deh. Besok juga aku masuk sore.
__ADS_1
"Ya, sudah. Baiklah, Ma!" jawabku pasrah.