I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Merasa Diawasi


__ADS_3

Raya mengelus-elus kepala Afri pasien kecil yang sedang koma itu. Di tubuhnya dipasang jenis alat bantu kesehatan dari ventilator hingga kateter. Gadis kecil itu terlihat damai dalam komanya, seperti sedang tidur.


Raya terlihat menghela napas melihat kondisi gadis kecil ini. Entah berapa besar kemungkinan gadis kecil ini untuk sembuh, sesungguhnya Raya pun tak tahu.


Koma adalah situasi darurat medis yang dialami seseorang ketika dalam keadaan tidak sadar. Ketidaksadaran ini disebabkan menurunkan aktivitas otak yang dipicu oleh beberapa kondisi pada otak.


Peluang sembuh seseorang dari keadaan koma tergantung dari tingkat aktivitas otak. Ketika seseorang sadar dari koma, perlahan pasien baru menyadari kondisi yang sebenarnya dan menerima rangsangan seperti sentuhan maupun rasa sakit.


Hal ini dikarenakan seseorang yang mengalami koma mengalami pembengkakan atau perdarahan jaringan otak. Pembengkakan yang terjadi pada otak membuat otak dalam tengkorak menjadi terhimpit dan otak mengalami tekanan yang cukup kuat. Hal ini menyebabkan oksigen yang mengalir menuju otak pun menjadi terhambat.


Kekurangan oksigen pada otak membuat kinerja otak terganggu. Menyebabkan otak tidak dapat mengeluarkan cairan maupun zat beracun keluar dari tubuh. Hal ini menyebabkan penggenangan cairan pada otak. Kondisi ini yang membuat seseorang menjadi koma namun masih hidup.


Kesembuhan dari seseorang yang mengalami koma adalah bagian otaknya. Ketika otak sudah bisa kembali normal, maka segala fungsi tubuh kembali seperti semula. Ada beberapa yang bisa dilakukan oleh dokter untuk mengembalikan kondisi seseorang yang mengalami koma seperti mencegah pembengkakan pada otak, menyedot cairan, menyuplai oksigen untuk mencukupi kebutuhan tubuh, memperbaiki jaringan yang rusak dan mengobati bagian yang sudah rusak cukup parah.


Namun dalam hal ini Raya sendiri masih ragu dan ada tanda tanya besar dalam hatinya apa sebenarnya yang membuat gadis kecil bernama Afri ini sampai mengalami koma hanya karena penyakit apendisitis (usus buntu) yang berkembang menjadi peritonitis (peradangan peritonium atau lapisan tipis yang melindungi organ-organ penting di dalam perut. Separah apa kerusakan peritonium yang dideritanya hingga sampai berpengaruh pada otaknya. Raya masih tak habis pikir.


"Afri, kamu bisa mendengar tante Raya nggak? Di sini ada mamanya Afri yang selalu setia menunggui Afri loh. Afri nggak kasihan apa sama Mama?" Raya masih saja mengajak anak itu berkomunikasi sambil mengusap-usap lengan Afri.


Mamanya Afri menatap Raya dengan seksama. Dia mencari ketulusan pada sikap Raya, wanita yang katanya adalah istri dari dokter Mahfud. Dokter yang telah membuat anaknya celaka.


"Ibu sering-sering saja ngajak Afri ngomong kayak gini, ya!" kata Raya.

__ADS_1


"Kenapa memangnya kalau diajak ngomong kayak gitu? Memangnya Afri bakal sadar?" tanya sang Ibu pesimis.


Raya tersenyum. Sesungguhnya dia hanya ingin membangkitkan semangat di hati sang Ibu.


"Ibu, penderita koma memang tak terpengaruh oleh rangsangan dan tidak bisa merespon. Tetapi mereka itu sebenarnya masih bisa mendengar kita, tergantung tingkat kesadaran si penderita koma itu sendiri. Kita ngomong begini, ibu jangan salah, bisa saja Afri mendengar. Oleh karena itu Ibu jangan pesimis ya. Saya yakin Afri pasti bisa sembuh kok," kata Raya mencoba menyemangati Ibunya Afri.


Jauh dalam hatinya Raya mengutuki dirinya sendiri. Sungguh dia sebenarnya tidak mau dan tidak pernah memberi harapan palsu pada keluarga pasien. Tetapi entah mengapa dalam hal ini Raya merasa sangat perlu melakukannya. Keselamatan Mahfudz dalam kasus ini tergantung oleh mood baik si Ibu. Semakin si Ibu dalam suasana hati yang baik, akan lebih tenang mereka melanjutkan musyawarahnya nanti. Tetapi kalau sang Ibu dalam suasana hati yang kalit dan kacau, akan sangat sulit juga sang Ibu diajak berbicara nanti.


"Memangnya mbak dokter juga?" tanya Ibunya Afri seakan meremehkan Raya.


Hanya karena suaminya yang dokter bukan berarti istrinya boleh juga ikut-ikutan sok-sok memberi saran padanya kan? Begitulah pikir sang Ibu.


"Iya, saya dokter juga. Tapi tidak di rumah sakit ini. Saya dokter kepala di Rumah Sakit Ibu dan Anak Satya Medika," jawab Raya.


Sang Ibu termangu sejenak. Lalu berpikir sejenak. Bukankah rumah sakit adalah rumah sakit untuk anak yang lumayan terkenal bagus di kota ini?


"Bukankah rumah sakit itu rumah sakit khusus untuk anak juga? Mbak kepala dokter di situ? Eh, maksudku ... dokter," tanya sang ibu kemudian meralat sendiri ucapannya yang tadi memanggil mbak pada Raya namun kini memutuskan untuk memanggil Raya dengan panggilan dokter.


Raya mengangguk-angguk membenarkan.


"Iya, itu rumah sakit khusus ibu dan anak. Namun bisa juga untuk pasien umum," jawab Raya.

__ADS_1


Ibunya Afri kemudian manggut-manggut. Kemudian terlintas di benaknya satu ide.


"Saya mungkin akan memaafkan dokter Mahfudz, kalau semisal anak saya Afri di pindah di rumah sakit Satya Medika. Saya janji tidak akan menuntut suami dokter jika dokter memenuhi permintaan saya," kata sang Ibu


Permintaan spontanitas dari orang tua pasien itu sontak membuat Raya kaget.


"Loh, kenapa harus dipindah, Bu? Rumah sakit Pahlawan Medical juga bagus kok. Rumah sakit dimana aja pastinya sama saja," kata Raya menanggapi permintaan Ibunya Afri dengan rasa tak enak hati.


Ibunya Afri dengan cepat menggeleng. Kemudian entah apa yang dipikirkannya dia melihat kanan-kirinya seakan takut ada yang mendengar obrolannya dengan Raya. Lalu kemudian dia mendekatkan diri dan setengah berbisik pada Raya.


"Saya merasa nggak nyaman menempatkan anak saya untuk dirawat di sini, Dok. Rumah sakit ini aneh, perawat-perawatnya juga aneh. Saya selalu merasa takut Afri dalam bahaya jika tetap dirawat di sini. Tolong Dok, biarkan ini jadi jalan keluar untuk permasalahan yang tengah kita hadapi. Saya janji tidak akan menuntut dr. Mahfud kalau anak saya di pindah ke rumah sakit ibu dan anak Satya Medika," bisik sang Ibu setengah memohon.


Raya semakin bingung sekarang. Dia tak mengerti apa maksud dari ibunya Afri ini.


Lalu sebelum Raya berani menjawab permintaan sang Ibu, Raya mengedarkan pandangannya ke sekeliing ruangan ICU ini. Hanya ada seorang perawat yang berjaga di sini. Dia sepertinya tidak sibuk dan hanya duduk di salah satu kursi yang ada di pojok ruangan ICU ini dan mengotak-atik ponselnya. Apa perawat ini memang seluang ini? pikir Raya.


Saat Raya melihat perawat itu tak sengaja pandangan matanya bertemu tatap dengan perawat itu. Perawat itu mencoba tersenyum padanya. Raya tidak menanggapinya. Jujur dia pun merasa aneh dengan perawat itu. Entah mengapa Raya merasa perawat itu sepertinya punya fungsi berbeda dengan perawat lain yang pernah dia kenal. Dia merasa sedang diawasi.


***


Like dan koment jangan lupa ya beibh...

__ADS_1


__ADS_2