I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Vidio


__ADS_3

FLASHBACK ON


"Go, hentikan mobilnya!"


Waridi menyuruh Gogo yang jadi supir memberhentikan sementara mobil. Tak jauh dari mereka, Waridi melihat pasangan memuakkan itu keluar dari sebuah warung tenda di pinggir jalan. Tidak lama keduanya segera pergi dengan berboncengan dengan sepeda motor.


"Kita pergi sekarang, Pak?" tanya Gogo yang mendadak menjadi khawatir melihat siapa yang sedang diperhatikan Waridi.


Kekhawatiran Gogo beralasan saat seseorang yang sangat dia kenal keluar dari warung tenda itu tak lama setelah Mahfudz dan Raya pergi. Senyum sinis Waridi langsung mengembang melihat Akbar yang keluar dari tenda itu.


Oh, jadi brengsek ini berkhianat padaku? pikir Waridi. Dr. Raya, Mahfudz, Akbar, jadi kalian ingin bersekongkol melawanku? Baiklah.


Waridi mengambil ponsel dari kantongnya dan menghubungi seseorang.


"Aku membutuhkan bantuanmu sekarang, pergilah ke Rini. Pastikan di rumahnya hanya ada adiknya, Tiwi."


Selang setengah jam menunggu, Waridi akhirnya menyuruh Gogo untuk mengantarnya ke rumah Rini. Sesampainya di sana Gogo hanya disuruh menunggunya di mobil. Sementara Waridi masuk ke dalam rumah Rini.


Tiwi tentu saja terkejut dengan kehadiran Waridi yang tiba- tiba saja bisa masuk ke dalam rumah. Tiwi tidak tau, kalau Waridi memang punya kunci duplikat rumah itu. Rumah yang memang sengaja dibelikan Waridi untuk Rini, karena selama ini cuma Rini anak angkatnya yang paling patuh dan mengerti apa yang diinginkannya sehingga Waridi pun tidak sungkan memberinya fasilitas yang dibutuhkannya.


Tiwi gemetar akan kedatangan Waridi. Dia sungguh takut pada Waridi. Dia takut lelaki tua itu akan memperkosanya lagi sementara Rini sedang keluar ingin menemui seseorang. Dan memang begitulah niat Waridi tadi saat meninggalkan rumah namun niat itu berubah saat melihat Raya dan Mahfudz serta mengingat persekongkolan mereka dengan orang kepercayaannya Akbar.


Waridi mencari buku dan bolpen untuk bisa berkomunikasi dengan Tiwi.


[Jangan takut, aku tidak akan melakukan apa- apa padamu]


Waridi menunjukkan tulisan itu pada Tiwi.


Tiwi mengernyitkan keningnya tak percaya.


[Kau kenal dia?]


Waridi menunjukkan foto Mahfudz pada ponselnya.


Tiwi tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia takut jika dia salah menjawab salah-salah dr. Mahfudz akan celaka.


Waridi tertawa melihat ekspresi Tiwi. Sepertinya dugaannya tentang gadis itu menyukai Mahfudz benar. Dia sempat melihatnya saat berada di mall kemarin. Pandangan mata yang penuh rasa cinta terhadap dokter yang memiliki gangguan wicara itu.


[Kau suka padanya?] tanya Waridi.


Tiwi tidak menjawab. Dia sedang menerka-nerka tujuan Waridi mengatakan itu.


Waridi menulis lagi.


[Kau mau mendapatkan cinta dokter itu? Aku bisa membantumu]


Terlihat perubahan di wajah Tiwi.


[Aku akan mendapatkan dia untukmu, hanya dengan syarat begitu mudah]


Tiwi dengan cepat merebut buku itu dri Waridi dan balas menulis.


[Syarat apa? Bagaimana caranya?]


Waridi tersenyum. Umpannya mengenai sasaran.


[Kau hanya perlu "melakukannya" sesekali denganku. Aku akan mengatur semuanya untukmu]


Tiwi meragu. Dia tau apa arti "melakukan" yang dikatakan Waridi. Dia geleng- geleng kepala


[Kau tidak usah bingung. Lama- lama kau akan terbiasa. Kakakmu pun dulunya sama sepertimu. Tapi lama-lama dia terbiasa dan dia kufasilitasi hidup serba mudah]


Apa? Kak Rini seperti itu? Aku tak percaya ini. Dia dan Waridi juga? kata hati Tiwi. Seketik kekecewaan menyerah perasaannya.


[Bagaimana? Kamu mau? Aku tidak akan kasar padamu]


Waridi menunggu sampai beberapa menit sampai akhirnya Tiwi mengangguk setuju.


Begitulah yang akhirnya terjadi pada gadis itu. Tiwi terjebak bujuk rayu Waridi dengan imbalan Waridi akan mendapatkan Mahfudz untuk dia miliki.


Waridi mengatur pertemuan Tiwi dan Mahfud di rumah sakit Harapan Kita. Juga merencanakan membuat Mahfudz kehilangan kesadarannya dengan mengkonsumsi es krim yang telah dibubuhi obat tidur dosis tinggi. Hingga ketika Mahfudz tertidur mereka tinggal memasukkan Mahfudz ke dalam mobil penjual es krim. Dan menyuruh Tiwi sementara pulang dulu agar Rini tidak curiga. Saat malam datang, Rini yang sudah ada janji dengan Waridi di suatu hotel tidak menaruh curiga kalau adiknya Tiwi juga akan keluar malam itu untuk menjebak Mahfudz di salah satu hotel melati. Sungguh kehidupan kakak beradik yang sangat rumit.


Di hotel itu Mahfudz telah menunggunya. Lelaki yang luar biasa menawan itu telah sadar dari tidurnya. Satu yang membuat Tiwi kaget, Mahfudz menyambutnya hangat. Mahfudz memperlakukannya dengan sangat mesra dan romantis layaknya kekasih yang sesungguhnya. Dokter itu masih memakai seragam koasnya yang membuat dia terlihat tampan dalam balutan baju putih. Ini sebenarnya membuat Tiwi takjub, bagaimana mungkin seorang Waridi bisa membuat perubahan sikap yang signifikan terhadap Mahfudz? Hanya dalam hitungan jam saja, Mahfudz bisa bertekuk lutut di hadapannya. Apa yang telah dikatakan atau dilakukan Waridi padanya?


[Kau tidak akan menyesal melakukan ini denganku? Aku sudah punya istri. Aku tidak bisa meninggalkan dia ]

__ADS_1


Lelaki itu menulis di sebuah kertas yang telah disiapkan Waridi untuk berkomunikasi. Tiwi sebenarnya merasa aneh dengan ini, biasanya dia dan Mahfudz berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Tapi karena rasa bahagia diperlakukan istimewa oleh pujaan hatinya Tiwi mengabaikan itu.


[Asal dokter mau bertanggungjawab menikahiku. Jadi istri kedua pun tak apa- apa. Aku tidak menyuruhmu meninggalkan dr. Raya]


[Kau sangat pengertian Tiwi, sepertinya selama ini aku salah menilaimu. Yang sebenarnya kaulah yang paling mengerti diriku] kata Mahfudz dalam tulisannya dan membelai rambut Tiwi.


[Karena aku mencintaimu, Dokter]


Mahfudz tersenyum padanya sebelum akhirnya mencium gadis itu. Memperlakukan gadis belia di hadapannya ini layaknya pasangan dewasa dalam berhubungan intim. Sebelum akhirnya dia ingat sesuatu dan mengambil ponselnya.


[Mari kita vidiokan ini sebagai kenang- kenangan]


Tiwi mulai meragu. Dia sungguh tidak keberatan memberikan tubuhnya pada lelaki yang dicintainya ini. Tapi sampai dividiokan?


Tiwi menggeleng. Dia menolak.


Mahfudz menulis lagi.


[Aku tidak akan bisa sering- sering seperti ini denganmu. Biarkan aku merekamnya. Kalau aku rindu, aku bisa melihat kenangan manis kita malam ini lewat vidio ini.]


Tiwi menatap wajah sendu itu. Sebenarnya dia tidak pernah membayangkan kalau dokter Mahfudz yanh dikenalnya punya sisi seperti ini dalam kepribadiannya yang Tiwi kira selama ini Mahfudz adalah lelaki yang alim.


[Apa kau merekam juga saat kau bersama dr. Raya?]


Lelaki itu terlihat berpikir sebelum akhirnya dia menjawab dalam tulisan.


[Ya, kami sesekali merekamnya. Kalau kau mau lain kali ku tunjukkan]


Tiwi akhirnya menyerah.


[Tidak usah. Aku tidak mau melihat kau melakukan seperti ini dengannya. Aku akan sakit hati melihatnya]


Tiwi dengan polosnya mau melakukan itu dengan dokumentasi vidio yang diminta oleh Mahfudz. Mereka bercinta layaknya orang dewasa yang sedang mabuk kepayang hingga akhirnya Tiwi tumbang juga. Ini bukan pertama kali baginya berhubungan badan, dengan Waridi dia sudah pernah melakukannya berkali- kali. Tapi melakukannya dengan penuh cinta dan sepenuh hati, ini pengalaman pertamanya malam ini.


Mahfudz menyerahkan padanya sekaleng minuman bersoda setelah puas menggaulinya beberapa kali. Dia menyuruhnya minum dengan menggunakan bahasa isyarat. Dan segera dituruti Tiwi karena dia juga lelah dan haus setelah percintaan panas mereka.


Tidak lama gadis remaja berusia 13 tahun itu pun tertidur pulas. Entah karena kecapean atau pengaruh obat tidur dosis sedang yang bercampur dengan minuman bersoda.


Setelah memastikan Tiwi sudah tertidur, lelaki itu menelepon seseorang.


"Bagaimana? Kau sudah melakukan tugasmu?" tanya seseorang di seberang sana.


"Vidio?"


"Vidio juga."


"Dia tidak curiga?"


"Dia sempat curiga, tapi aku berhasil meyakinkannya, Pak!"


"Kerja bagus, Anton! Selesaikan semuanya dengan sempurna! Setelah itu, kau jangan muncul- muncul dulu sampai ku panggil kembali!" perintah Waridi.


Waridi menutup telepon. Sementara itu Anton lelaki mirip Mahfudz itu menelepon rekannya untuk membantunya menggotong tubuh Mahfudz yang asli dari kamar sebelah ke kamarnya dengan Tiwi tadi. Mereka menelanjangi tubuh Mahfudz dan membuat Mahfud dan Tiwi dalam keadaan bugil sedang berpelukan di bawah selimut. Baju keduanya dibiarkan berserakan di lantai. Usai melakukan itu, keduanya tentu meninggalkan hotel. Masalah tutup mulut karyawan hotel adalah urusan Waridi untuk membayarnya.


Sebenarnya Anton bukanlah suatu kebetulan mirip dengan Mahfudz dan Fuad. Sejak kejadian Mahfudz dan Waridi pernah berkelahi dan baku hantam di rumah sakit Siaga Medika, Waridi sudah menaruh dendam yang luar biasa pada Raya dan Mahfudz, khususnya pada Mahfudz yang telah berani- beraninya memukulnya. Seumur hidupnya belum ada yang berani memukulnya seperti itu.


Karena itu Waridi mencari sampai keseluruh pelosok provinsi ini dengan bantuan anak buah dan koneksinua , seseorang dengan wajah yang mirip Mahfudz selain kembarannya. Dan kebetulan dia menemukan Anton yang memiliki kemiripan dengan saudara kembar itu. Dengan sedikit rekonstruksi wajah dan operasi plastik di beberapa bagian wajah dengan dokter bedah plastik kenalannya yang buka praktek illegal di pusat ibu kota, membuat lelaki itu mirip sempurna dengan Mahfudz. Itu memudahkan rencananya membuat hidup Raya dan Mahfudz menderita. Waridi tidak peduli berapa uang yang harus dihabiskannya asal tujuannya membuat dr. Raya dan suaminya menderita.


FLASHBACK OFF


 



 


Pov Raya


Aku mendengus kesal saat Mahfudz bersikukuh untuk tetap mengantarku ke rumah sakit. Dia bahkan tidak mau berangkat ke rumah sakit untuk koas dikarenakan ingin menyelesaikan masalah di antara kami. Dan sekarang kami sedang berada di dalam mobil di parkiran rumah sakit Siaga Medika. Tadinya aku sengaja ingin bawa mobil karena aku tau Mahfudz trauma menyetir mobil dan tidak akan jadi mengantarku ke rumah sakit. Namun ternyata dia nekad menyetir mobil ini dan akhirnya sampai juga di sini.


Aku hendak keluar dan membuka kunci mobil. Tapi Mahfudz menahanku. Di rumah kami tidak bebas bertengkar karena ada Ummik yang akan mendengar ditambah lagi sekarang ada Fuad dan Ayuni.


"Su-dah be-ra-pa ka-li ku ka-ta-kan a-ku ti-dak se-ling-kuh, Ra-ya! Tol-ong per-ca-ya pa-da-ku!" katanya terdengar frustasi.


Aku menarik napas. "Aku akan percaya padamu, Fud. Andai aku hanya mendengar itu dari orang lain. Tapi ini ada vidio dan fotonya. Bahkan Waridi menjamin kalau itu foto dan vidio asli bukan editan. Bagaimana bisa ya Allah .... Aku kehilangan kata- kata saat melihatmu terlihat menikmati tubuh gadis itu. Ya Tuhan, kurang apa aku padamu, Fud? Apa aku kurang memuaskan melayanimu di ranjang? Apa karena aku sedang hamil kamu perlakukan aku seperti ini? Atau apa karena gadis itu lebih muda dari aku. Aaahhh, rasanya kalau ingat itu aku mau mati saja," tangisku.

__ADS_1


"Ya, bi-sa ja-di i-tu e-di-tan Wa-ri-di. I-tu bu-kan a-ku Ra-ya, sung-guh .... Ya, a-ku a-kui, a-ku ter-ba-ngun a-ku su-dah da-lam kon-di-si se-per-ti i-tu de-ngan Ti-wi, ta-pi sum-pah a-ku ti-dak i-ngat a-pa- a-pa, Ray. So-re-nya a-ku pu-lang, a-ku cu-ma i-ngin me-ngan-tar Ti-wi pu-lang ke ru-mah-nya ka-re-na ka-ta-nya Ri-ni nggak ja-di da-tang."


"Berarti kalian memang sudah sering bertemu di belakangku," dengusku.


"I-ni ti-dak se-per-ti ka-mu pi-kir. Ti-wi kon-sul-ta-si ke ob-gyn ru-mah sa-kit ha-ra-pan ki-ta ka-re-na Ri-ni ti-dak ma-u ma-lu kal-au pe-rik-sa di SM. Sum-pah Ray, a-ku tid-ak tau ke-na-pa se-te-lah ma-kan es krim a-ku ti-dak sa-dar dan tau- tau pas ba-ngun a-ku dan Ti-wi, aahhh su-dah-lah. Ha-nya a-kan mem-buat-mu tam-bah ma-rah...."


"Es krim?" tanyaku.


Mahfudz mengangguk dan menceritakan semuanya.


"I-ni ku-rang le-bih sa-ma se-per-ti du-lu ki-ta di-je-bak o-leh Wa-ri-di, sa-yang. A-ku da-lam pe-nga-ruh o-bat ti-dur." katanya membela diri.


"Ya, benar. Dulu kita dijebak Waridi sehingga aku sampai malu dan akhirnya kau pun melamarku dan menikahiku karena itu, kan? Sekarang kau juga akan menikahi dia kan? Dia bahkan hamil anakmu," kataku geram.


Mahfudz menatapku jengkel.


"A-ku me-ni-ka-hi-mu bu-kan ka-re-na di-je-bak Wa-ri-di. Ta-pi ka-re-na da-ri a-wal a-ku men-cin-***-mu. A-ku me-la-mar-mu de-ngan a-la-san i-tu ka-re-na a-ku ti-dak pu-nya a-la-san la-in. A-ku ti-dak pu-nya ke-le-bi-han a-pa pun yang mem-bu-at a-ku per-ca-ya di-ri un-tuk me-la-mar-mu. Ma-ka-nya sa-at kau bi-lang kau ma-lu ka-re-na ke-ja-di-an i-tu a-ku spon-tan me-nga-jak-mu me-ni-kah. Ja-ngan ka-u sa-ma-kan de-ngan Ti-wi. A-ku ti-dak men-cin-*** di-a, Ok? Dan a-ku ti-dak per-nah me-ra-sa me-nyen-tuh a-pa-la-gi meng-ha-mi-li di-a, Ok?"


Aku tertawa sinis, "Kalau itu benar pengaruh obat tidur, bisa kau jelaskan kenapa di vidio itu kamu terlihat sadar dan sangat menikmati permainan cinta kalian itu, haaa?"


Mahfudz menghela napas. "I-tu bu-kan a-ku sa-yang, to-long per-ca-ya-lah


I-tu cu-ma vi-dio e-di-tan."


"Editan? Baiklah, aku akan periksakan keaslian foto- foto dan vidio itu. Kalau itu benar editan aku akan memaafkanmu walaupun kau tetap salah membuka kesempatan wanita lain untuk mendekatimu. Kau mengantar wanita yang bukan muhrimmu. Kau berboncengan dengannya, dipeluknya sesuka hatinya, makan es krim dengannya. Itu tetap menyakiti hatiku." kataku tajam.


"Ma- af ...." ucap Mahfudz.


" .... Tapi kalau itu terbukti vidio asli, itu artinya kau benar- benar mengkhianatiku. Dan aku tidak punya pilihan lain. Setelah aku melahirkan, sebaiknya kita bercerai saja. Aku tidak bisa hidup menahan sakit hati karena dikhianati ...."


"Ce- rai???"


Mahfudz terlihat sangat murka dengan kata- kataku itu.


"Ce-rai? Se-gam-pang i-tu mu-lut-mu ngo-mong ce-rai, Ray?Aku tidak berharap se-po-tong ka-ta itu a-da di per-ni-ka-han ki-ta un-tuk a-la-san a-pa pun. Mes-ki ha-sil-nya e-di-tan a-tau as-li, mes-ki se-mua o-rang me-ngang-gap-ku ber-sa-lah. A-ku ti-dak per-nah me-ra-sa me-la-ku-kan it-u. A-ku ti-dak a-kan per-nah ber-ce-rai da-ri-mu un-tuk a-la-san a-pa pun, mes-ki a-ku ha-rus ma-ti se-ka-li-pun, de-ngar?"


"Kau ini egois sekali, kita lihat saja nan ...."


Kata- kataku terhenti saat Mahfudz mendekatiku dan membungkam mulutku dengan ciumannya. Aku entah kenapa tidak kuasa menolaknya. Selang beberapa lama dia melepaskan ciumannya.


"Ba-gai-ma-na ca-ra-ku men-je-las-kan-nya pa-da-mu, Ray? A-ku ha-nya men-cin-***-mu. Tak bi-sa-kah ka-u me-ra-sa-kan-nya? Ti-dak a-da wa-ni-ta la-in da-lam hi-dup-ku. To-long per-ca-ya-lah!"


Aku terdiam tak menjawabnya. Dalam hatiku yang terdalam sebenarnya aku percaya padanya. Dan lagi- lagi aku pasrah saat Mahfudz menciumku. Ah, lagi-lagi sifat gampanganku keluar lagi. Betapa mudahnya Mahfudz merayuku. Aku tak berdaya menolak ciuman yang memabukkan itu. Sedikit terlena pada belaian dan sentuhannya sampai lupa kalau kami sedang berada di parkiran pegawai rumah sakit yang masih sepi karena aku berangkat terlalu pagi.


"A-pa ki-ta per-lu nya-ri ho-tel se-ben-tar?" bisik Mahfudz nakal.


Sepertinya dia tau, amarahku sudah mulai mereda.


"A-tau ki-ta pu-lang sa-ja, ka-u ti-dak u-sah ker-ja ha-ri i-ni?"


Aku menatapnya tak percaya. Gila! Ide darimana itu.


"Ka-u pas-ti ti-dak ma-u a-ku me-la-ku-kan-nya di par-kir-an i-ni kan? A-yo, pu-lang a-ja, yuk! A-ku ti-dak ta-han la-gi," rengeknya.


Aku mendorong Mahfudz kesal. Dia pasti sedang merasa ON sekarang. Terlihat dari nafasnya yang mulai memburu tak teratur. Bisa- bisanya merasa punya keinginan seperti itu di saat waktu dan tempat seperti ini.


"Nggak! Aku mau kerja. Lagi pula aku nggak bilang sudah memaafkanmu," kataku sambil merapikan bajuku kembali.


Bukan Mahfudz namanya kalau dia gampang menyerah menuntut haknya yang satu itu. Dia menciumku lagi lebih panas dari tadi dengan harapan aku mau ikut pulang ke rumah dengannya dan melanjutkan percintaan panas kami. Aku hampir saja menyerah, siapa juga yang mau bercinta di parkiran meski di dalam mobil begini? Kalau tertangkap basah orang lain meski kami adalah pasutri sah tetap saja itu akan dianggap melakukan perbuatan tidak senonoh di tempat umum dan itu pastinya sangat memalukan dan akan jadi trending topic selama satu bulan di rumah sakit, belum lagi sanksi dan teguran yang akan aku terima dari rumah sakit nanti.


"Su- sudah, sudah, Fud! Iya, kita pulang aja." kataku terengah- engah setelah berhasil melepaskan diriku dari ciumannya.


Mahfudz tersenyum nakal penuh kemenangan. Usahanya berhasil donk.


"A-ku a-kan me-ngu-rung-mu se-ha-ri-an di ka-mar," katanya sambil melonggarkan ikat pinggangnya efek celananya yang sepertinya mengetat.


"Kau tidak tau malu," umpatku kesal.


Aku kesal karena aku terpaksa harus minta ijin libur hanya karena masalah seperti ini. Tidak profesional sekali.


"Cu-ma sa-tu ha-ri a-ja, saya-ng. A-ku ju-ga li-bur de-mi ka-mu."


Aku merengut. Mahfudz tertawa.


"Ki-ta lan-jut-kan di ru-mah," tawanya kemudian lanjut menggigit bibirku yang sedang cemberut.

__ADS_1


BUGGG!!!!!!PRAAKKKK!!!!


Aku dan Mahfudz terkejut. Aku bahkan sampai terlonjak dari tempat dudukku. Seseorang melemparkan batu sebesar setengah bata ke kaca mobil, kaca itu sampai pecah dan retak di beberapa bagian dan meninggalkan bolong yang terlihat jelas. Dan di sana beberapa meter di depan mobil, aku melihat dengan jelas Tiwi sedang memandang pada kami dengan penuh amarah. Aku belum sempat menguasai keterkejutanku dan akan mendatangi dia, namun dia sudah berlari pergi.


__ADS_2