I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Bagaimana Bisa?


__ADS_3

"Ini, Dok!"


Apoteker itu menyerahkan susu bumil dan beberapa obat dan suplemen yang aku minta.


"Berapa nih?" tanyaku.


Setelah membayar aku menunggu apoteker itu mengambil uang kembalian.


"Siapa yang hamil?"


Deg!! Jantungku hampir copot mendengar pertanyaan itu. Segera aku berbalik dan menemukan Ali kini sedang berdiri di sampingku. Aku berusaha menyembunyikan kegugupanku.


"Oh, kamu. Kamu ada keperluan apa di sini?" tanyaku basa basi. Tentu saja aku tau dia ingin menemui Marhamah.


"Aku sedang menjemput Marhamah. Tapi sepertinya dia masih ada kerjaan sebentar lagi. Dan mumpung aku di sini aku ingin membelikan suplemen penambah nafsu makan buat Rayhan," jawab Ali.


Aku mengangguk- angguk.


"Bagaimana kabar anak- anak?" tanyaku.


Biar bagaimana pun aku tidak bisa mengabaikan mereka. Walau hanya sekedar menanyakan kabar, mereka anak- anak itu diberi nama mengambil namaku. Aku adalah calon ibu sambung mereka andai dulu aku tidak menolak Ali.


Ali tersenyum padaku. Sepertinya dia tau aku terlalu berusaha berbasa- basi padanya.


"Rayhan dan Raya sehat. Datanglah sesekali kalau kamu ingin menjenguk mereka." katanya menawarkan.


"Next time, maybe ...." jawabku.


Sungguh andai hubunganku dan Ali tidak rumit, aku mungkin dengan senang hati menerima undangan itu. Tapi, aku tidak bisa membiarkan kondisi ini dalam kesalahpahaman lagi.


"Ini kembaliannya, Dok!" Apoteker itu menyerahkan sejumlah uang padaku.


"Tolong ambilkan aku suplemen penambah nafsu makan anak. Yang untuk anak usia 5 tahun," pinta Ali pada apoteker itu.


Aku sudah selesai memasukkan dan menghitung uang kembalian yang diberikan apoteker tadi ke dompet kemudian memasukkannya lagi ke dalam tasku.


"Jadi siapa yang hamil? Jangan bilang kalau kamu ...." Ali mencoba menebak.


"Ahh, ini cuma buat Ayuni. Dia hamil lagi dan tadi dia minta titip beli susu dan suplemen," dustaku.


Maafkan Bunda, Nak. Bunda bukan tidak mau mengakui kehadiran kamu, batinku.


Tapi berita kehamilanku benar- benar harus kurahasiakan dulu sementara ini. Aku tidak mau di usia kehamilan yang masih sangat muda ini ada orang lain yang tau kalau aku hamil dan memberitahukannya pada Mahfudz. Aku sendiri belum tau apakah kehamilanku kali ini akan baik- baik saja. Aku tau resiko apa yang akan kutempuh. Dan jika sampai kehamilanku membahayakan jiwa, pilihan abortus legal untuk dilakukan. Dan aku tidak mau Mahfudz, memutuskan untuk melakukan itu padaku. Dia mungkin saja tega jika usia kehamilanku masih sedini ini demi tidak kehilangan aku. Namun jika kehamilanku sudah menginjak beberapa bulan dan telah membentuk janin dengan organ utuh, aku yakin Mahfudz dan Ummik tidak akan punya pilihan selain berlapang dada menerima calon anak dan cucu mereka.


"Oh, aku kira kamu ...."


Aku tersenyum gugup.


"Ya, sudah, aku sebaiknya pulang," pamitku. Sebelum Ali keburu banyak tanya padaku.


Namun lelaki itu memang keras kepala. Dia buru- buru membayar suplemen itu dan segera mengejarku sampai ke depan rumah sakit.


"Raya! Raya!"


Aduuuh Ali ini apaan sih? Bukannya dia bilang sudah melupakan aku.


Aku mempercepat langkahku menuju ke parkiran namun tak disangka tiba- tiba Marhamah kini berada tak jauh dariku.


"Raya!" panggilnya.


Ali juga ikut menghentikan langkahnya. Aku menunggu Marhamah menghampiriku. Kulihat di wajahnya ada raut cemburu melihat Ali yang sedang mengejar- ngejarku. Dia menatapku dan Ali bergantian. Dia tidak mungkin tidak tau kalau aku dan Ali dulu pernah punya hubungan kan? Ahhh, membuatku merasa sangat tidak enak. Dan Ali kenapa juga harus memasang wajah gugup begitu.


Aku berusaha bersikap setenang mungkin.


"Ya, kenapa Mar?"


"Ehmmm ...." Dia masih memandang Ali dengan sorot mata yang kecewa meminta penjelasan.


"Aku dan Ali akan menikah dua minggu lagi," katanya. Ada nada memohon dalam kata- kata itu. Memohon pengertian dariku.


Aku mengangguk paham.


"Itu kabar bagus," kataku sambil menatap Ali yang seperti salah tingkah saat ku pandang.


"Hmmm ...."


"Undangannya sudah dicetak? Kalau sudah, aku bisa minta?"


"Nanti kuberi." jawab Marhamah. "Tapi ngomong- ngomong, aku ingin mengundangmu ke rumahku besok malam, kalau kamu ada waktu. Ada pengajian di rumah. Untuk mendoakan kelancaran persiapan acara pernikahan kami nanti."

__ADS_1


Aku berpikir- pikir maksud dan tujuannya. Aku bukan anggota keluarga Marhamah, berteman juga seadanya tidak terlalu dekat, kenapa aku harus diundang.


"Entahlah. Aku tidak bisa janji, Mar. Kalau sempat aku usahakan, ya. Tapi kalau nggak sempat, harap kamu maklum." kataku.


Marhamah cuma mengangguk sebelum aku pergi.


Aku sampai di rumah Mama dan melihat Mama dan Nadya sedang berada di teras. Aku mengklakson mobil. Melihatku datang, Nadya buru- buru membukakan pagar. Sejak tau aku hamil kemarin, aku meminta Mama untuk meminjamkan mobil untuk kubawa ke rumah sakit. Toh, di rumah juga tak ada yang pakai.


Setelah memarkirkan mobil di garasi, aku hendak turun dan meraih belanjaanku di apotik. Tapi tidak! Kalau aku membawa susu bumil ini ke dalam, Mama akan tau kalau aku sedang mengandung. Dan pastinya Mama akan segera memberi tahu Mahfudz dan Ummik. Masih kuingat saat aku hamil Annisa kemarin, walau aku sudah meminta pada Mama untuk tidak memberi tahu kehamilanku lebih dulu pada Mahfudz, akhirnya Mama tetap tidak bisa menahan diri.


Aku membuka kotak susu itu dan melipatnya. Kotak susu yang sudah terlipat itu kutaruh di bawah karpet mobil. Biar bagaimana pun, anak dalam kandunganku harus tumbuh dengan baik. Aku harus memenuhi gizinya agar dia senantiasa sehat hingga nanti dia siap lahir ke dunia ini.


Aku keluar mobil dan menutup kembali pintu mobil.


"Tante Raya bawa apaan?" tanya Nadya melirik pada bungkusan berisi susu bumil yang sedang kutenteng.


"Ini susu." jawabku.


"Susu apa?" Mama terlihat curiga dan mengernyitkan keningnya.


"Susu suplemen buat tulang, Ma. Raya akhir- akhir ini kan banyak aktivitas, Ma. Udah gitu usia Raya udah kepala tiga, pasti ngaruh ke kepadatan tulang. Jadi mumpung tadi ingat, Raya beli deh." jawabku.


Maafin Raya, Ma. Raya akan banyak bohong mulai dari sekarang, kataku dalam hati.


"Merek apa memang? Kok nggak ada kotaknya?" tanya Mama sambil meraih bungkusan susu seberat 900 gr itu.


"Anle**, Ma." jawabku. "Tadi iseng aja buka pas di rumah sakit. Ma, Raya mandi dulu ya. Raya gerah nih."


Aku mengambil lagi susu itu dari tangan Mama, sebelum Mama kembali lagi bertanya. Setelah itu aku masuk ke dalam dan menaruh setengah susu itu di toples. Sementara sisanya tetap pada kemasannya dan kuikat dengan karet.


Hufftf.... Betapa tidak enaknya berbohong. Apalagi pada orang tua. Entah apa aku bisa berbohong lebih lama lagi aku tidak tau.


\*\*\*\*\*\*


POV Mahfudz


"Muuuach!"


Sebuah kecupan dariku menempel di pipi Raya. Itu membuatnya kaget karena tak melihatku yang datang dari belakang.


"Apaan sih?! Malu tau nggak sama Mama," omelnya.


"Ma-ma nggak a-pa- a-pa, kok. Ya kan Ma?" kataku minta dukungan pada Mama. Dan lagi ....


Mmmuuuach! Sekali lagi ciuman itu mendarat di pipi merahnya.


Mama senyum- senyum melihat tingkah usilku pada Raya.


"Ihhh, apaan sih, Mahfudz!" pekiknya kesal.


"Mah-fudz a-pa-an? Pang-gil sa-yang!"


"Nggak!"


"Sudah, sudah!" kata Mama melerai. "Mama nggak apa- apa kok, Ray. Mama malah senang kalian harmonis. Cuma yaitu mesra- mesraannya jangan di depan Nadya, ya! Entar lagi dia selesai pakai seragam bakal ke sini gabung sarapan. Nggak enak kalau dilihat anak kecil. Kamu juga, Fud! Senang banget godain mantu Mama."


Aku cuma tertawa melihat kerlingan mata Raya yang mendelik sebal padaku. Entah perasaanku saja atau bukan, aku merasa suka gemas berlebihan padanya akhir- akhir ini. Dia sering mengomel dan uring- uringan meski karena hal kecil sekalipun. Bahkan hanya karena menaruh handuk di tempat tidur saja, omelannya bisa berjam- jam. Itu tidak membuatku lantas ikut kesal padanya. Justru karena itu aku merasa senang. Aku lebih suka Raya yang suka ngomel- ngomel daripada yang murung seperti beberapa bulan yang lalu. Itu artinya Raya mulai melupakan kesedihannya sekarang.


Raya hampir selesai memakan rotinya saat dia ingin meminum susunya. Dan aku dengan sigap mengambilnya duluan dan menenggaknya sampai habis.


"Fud! Itu susuku. Kenapa kamu minum susu itu sih?" protesnya jengkel.


"Nggak a-pa- a-pa donk. Ka-mu bi-kin-kan la-gi. Su-su-nya e-nak ba-nget sa-yang, cok-lat-nya ke-ra-sa ba-nget deh."


"Tapi itu susu buat perempuan. Kenapa kamu minum?!" omelnya lagi.


"Bu-at pe-rem-pu-an a-pa? E-mang cu-ma wa-ni-ta a-ja yang bu-tuh kal-si-um?"


Oh lihatlah, wajah cemberutnya itu. Membuatku ingin menggigitnya saja. Tatapannya sepertinya berada pada level jengkel maksimal. Aku tau sebenarnya ini bukan cuma karena masalah susu. Dia pasti kesal karena aku memaksanya berhubungan pasutri sehabis sholat subuh tadi. Dia yang sudah mandi terpaksa harus mandi lagi. Tapi kan dia sudah tidak hamil lagi. Jadi dia bisa mandi tanpa air hangat. Beda saat dia masih hamil tubuhnya suka menggigil karena suhu dingin.


"Ba-ik-lah, ba-ik-lah. A-ku bu-at-kan u-lang su-su-mu," bujukku sambil berdiri ingin membuatkannya ulang susu. "I-ni?"


Aku menunjukkan kemasan aluminium foil yang diikat karet di atas kulkas.


Raya mengangguk. Masih kesal rupanya.


Aku mengambil sendok dan membuka karet yang mengikat kemasan susu itu. Tunggu dulu! Aku tertegum melihat kemasan aluminium foil itu. Di kemasan itu memang tidak ada merek susu itu. Tapi ada lambang perusahaannya. Dan setahuku perusahaan itu tidak memproduksi susu suplemen kalsium.


Aku menatap Raya. Sesuatu berkelebat di pikiranku. Lalu aku menepisnya begitu saja. Tidak mungkin!

__ADS_1


"Fud, kamu lagi off kan hari ini?" tanya Mama.


Aku masih terdiam termangu dengan pikiranku.


"Fud ....!" panggil Mama sekali lagi.


"Haaa? I-ya, Ma?"


Mama geleng- geleng kepala.


"Pagi- pagi kok sudah ngelamun sih, Fud? Mama bilang kamu kan hari ini lagi off koas. Kamu tolong antarin Raya ke rumah sakit. Tapi sebelumnya kamu antar Nadya dulu ke sekolah."


"Humm .... Iya, Ma!"


Aku menyelesaikan tugasku membuat susu dan memberikannya pada Raya.


"Ini, mi-num-lah!"


Raya menerimanya dan langsung meminumnya. Susu itu memang kubuat hangat dan bisa langsung diminum. Aku memperhatikannya yang meneguk minuman itu hati- hati.


"Hmmm, kenyang!"


Raya mengelus- elus perutnya.


Deg!!! Mungkinkah?


Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Ini pasti cuma perasaanku.


Selepas sarapan, aku mengantar Raya dan Nadya. Setelah menurunkan Nadya di sekolahnya, aku kembali menyetir menuju ke RSIA Satya Medika.


"Ka-mu kok ma-sih ngam-bek aja sih?"


Dia masih diam. Kesal rupanya.


"Ma-sih ka-re-na yang ta-di su-buh?"tanyaku.


Raya masih terus diam.


"Bi-a-sa-nya ka-mu yang ag-re-sif. I-ni tum-ben-tum-be-nan no-lak. Sok-sok-an ngam-bek," cibirku.


"Apaan sih?" Raya membalasku ketus. "Dingin tau mandi subuh. Di rumah Mama nggak ada heater water. Lagian kamu juga. Coba itu nafsu dikontrol dikit. Nggak usah tiap hari coba gituan. Ini sudah malam, subuh iya juga. Pasutri lain palingan juga 3 kali seminggu." omelnya.


Eh, Raya lagi ngomelin apaan sih? Aku mengernyitkan keningku heran. Tumben. Ini membuatku kaget. Baru pertama kali dia mengoceh hal ini sampai seperti ini.


"Ja-di nggak ikh-las nih, me-la-ya-ni dan me-nye-nang-kan su-a-mi?" pancingku.


"Bukannya nggak ikhlas. Tapi kamu tuh yang nggak mau ngertiin istri. Udah tau istri capek tiap hari dihajar terus."


Aku tertawa geli melihatnya mengomel. Dihajar katanya? Kalau dihajar pasti udah lebam- lebam tuh kulit mulusmu, Bu Dokter! Diperlakukan lemah lembut kok dikatain dihajar.


Aku geleng- geleng kepala dan kini mobil yang kusetir telah berhenti tepat di gerbang RSIA Satya Medika.


"Ja-di nan-ti ma-lam nggak bo-leh nih? Nung-gu lu-sa ba-ru bo-leh?" tanyaku.


Raya tak menjawab.


"Ka-ta-nya ti-ga ka-li se-ming-gu. Be-rar-ti se-ka-rang se-ka-li du-a ha-ri donk?" godaku.


"Tau ah!" jawab Raya ketus.


Dia meraih tanganku dan menciumnya. Dia hendak membuka pintu mobil namun aku menahannya.


"Sa-yang du-lu!"


Aku melihatnya menghela napas. Dan kini dia memegang wajahku dengan kedua tangannya dan mengecup pipi dan bibirku.


"Sudah!"


Dia segera turun dari mobil. Dan aku menunggu sampai dia masuk ke dalam gerbang rumah sakit dan hilang dari pandanganku.


Aku sudah menyalakan mobil, namun aku merasa seperti ada yang mengganjal di


bawah karpet mobil dibawah kakiku. Sedari tadi aku merasa memang ada yang ganjal di kakiku. Namun karena aku fokus menyetir dan mengobrol dengan Raya dan Nadya aku jadi tidak terlalu mempedulikannya.


Segera aku menyingkap karpet itu. Ada lipatan kotak di situ. Aku mengambil dan membaliknya. Aku cukup terkejut melihat satu merek susu bumil dengan rasa coklat swiss di situ. BUNDAMIL.


Raya hamil? Bagaimana bisa? Ya Tuhan .... Apa yang terjadi?


Aku benar- benar tak habis pikir. Aku bingung.

__ADS_1


__ADS_2