
POV Mahfudz
*Flashback on*
[A-da se-su-at-u yang ka-mu i-ngin-kan da-ri-ku, sa-yang?]
Begitu kala itu aku bertanya pada Raya di sela- sela percintaan kami yang panas. Sikap Raya yang agresif membuatku curiga kalau dia sedang ada maunya padaku.
"Aku ingin kamu periksa, Fud. Kalau perlu CT scan. Apa yang menyebabkan kamu terganggu dalam berbicara. Kalau memang masih bisa diobati, kita akan upayakan pengobatan untuk kamu." katanya.
Awalnya aku menolak, tetapi Raya meyakinkanku bahwa dia ingin aku memeriksakan diriku bukan karena dia tidak ikhlas menerima segala kekuranganku.
"Aku bisa menerima segala kelebihan dan kekuranganmu, sayang. Karena itulah aku menikah denganmu. Tapi kalau kekurangan itu, masih bisa diperbaiki, kenapa kita harus menerima keadaan ini. Sumpah, sayang. Aku mendengarmu berbicara normal saat kecelakaan itu. Aku merasa sangat bahagia mendengarnya. Aku optimis kamu bisa sembuh. Ya? Tolong ya, sayang. Ayo, kita periksakan. Sakit apa sebenarnya kamu. Apa penyebabnya? Setelah itu kita cari solusinya," bujuknya waktu itu.
Karena itulah aku beberapa hari setelahnya aku menyempatkan diri untuk bertemu Professor Ayyub di rumah sakit Siaga Medika.
"Mahfudz! Silahkan duduk, silahkan duduk! Tumben kamu ke sini tanpa Raya? Ada angin apa yang membawamu ke sini?" kata Professor sambil mempersilahkanku untuk duduk.
Setelah duduk dan berbasa- basi sebentar aku mengutarakan maksud dan tujuanku bertemu Professor.
"Prof, a-ku i-ngin me-la-ku-kan CT scan un-tuk ta-u pe-nye-bab gang-gu-an wi-cara yang ku-de-ri-ta. Du-lu Pro-fes-sor bi-lang, ka-lau a-ku be-ru-bah pi-ki-ran dan i-ngin men-co-ba ikh-ti-ar a-ku bi-sa me-ne-mui Pro-fes-sor, kan? Ka-re-na i-tu a-ku da-tang ke-ma-ri, Prof!" kataku.
Professor Ayyub manggut- manggut- sejenak mendengarkanku. Beliau terlihat sangat serius.
"Baiklah, kita bisa lakukan itu kalau kamu sudah memutuskan. Tapi ngomong-ngomong kalau boleh tau kenapa kamu berubah pikiran, Mahfudz? Maksud saya, saya telah lama menyuruh kamu melakukan pemeriksaan tapi baru ini setelah hampir dua tahun kamu datang," tanya Professor penasaran.
"Se-be-nar-nya se-jak ke-ce-la-ka-an be-run-tun i-tu, te-lah be-be-ra-pa ka-li a-ku ke-le-pa-san bi-sa bi-ca-ra nor-mal, Prof. I-tu se-mua ter-ja-di ke-ti-ka a-ku shock. Dan Ra-ya me-nyak-si-kan se-mua i-tu. Dan dia me-nyu-ruh-ku un-tuk pe-rik-sa," jawabku.
Lagi- lagi Professor Ayyub hanya manggut- manggut.
"Ok. Kita lakukan pemindaian untuk mengetahui penyebabnya. Namun harap kamu agak bersabar ya Mahfudz, tunggulah beberapa waktu lagi. Soalnya saya agak sibuk mengurus opening RSIA Siaga Medika. Kamu pasti sudah mendengar apa yang terjadi dari Raya, kan?"
Aku mengangguk.
"I-ya, Prof. Ta-pi ngo-mong- ngo-mong be-ra-pa es-ti-ma-si bi-a-ya yang mung-kin a-kan sa-ya ke-lu-ar-kan un-tuk me-la-ku-kan M-R-I? Sa-ya de-ngar M-R-I le-bih ma-hal da-ri C-T scan," tanyaku khawatir.
Professor Ayyub terkekeh.
"Biaya? Apa yang kamu khawatirkan Mahfudz? Biaya MRI bukanlah sesuatu yang teramat mahal. Itu tidak sebanding dengan rasa terima kasihku pada dedikasi dan loyalitas Raya pada rumah sakit ini. Anggap saja aku menggratiskan biaya pengobatanmu sampai selesai di sini sebagai ganti hadiah bulan madu kamu dan Raya yang belum sempat saya berikan. Jangan khawatirkan itu!"
Professor Ayyub menepuk- nepuk bahuku.
"Te-ri-ma ka-sih, Prof. Ta-pi ngo-mong- ngo-mong, sa-ya min-ta to-long un-tuk ti-dak mem-be-ri-ta-hu-kan i-ni du-lu pa-da Ra-ya," pintaku.
Professor mengernyitkan keningnya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Sa-ya ti-dak i-ngin di-a ke-ce-wa, ka-lau nan-ti ha-sil-nya me-nun-juk-kan ka-lau sa-ya ti-dak a-da ha-ra-pan un-tuk sem-buh."
"Kau jangan pesimis, Mahfudz. Masa kamu gugur sebelum bertempur? Tenang saja! Saya punya firasat yang baik tentang ini. Kamu pasti sembuh!" hibur Professor sambil menepuk punggungku lagi.
Kemudian beberapa hari setelah itu, Professor menghubungiku dan membuatkan janji dengan radiolog rumah sakit Siaga Medika. Di hari liburku koas aku melakukan pemindaian MRI otak tanpa sepengetahuan Raya.
"Kamu nggak ada riwayat alergi kan, Mahfudz?" tanya dokter radiologi waktu itu saat hendak memberikanku cairan konsentrat sesaat sebelum pemindaian itu dimulai.
Aku menggeleng. Dan untungnya aku juga bukan pengidap claustrophobia sehingga pemindaian itu pun bisa segera dilakukan. Selama melakukan pemeriksaan MRI, dokter radiolog beberapa kali mengintruksikan padaku untuk melakukan beberapa gerakan misalnya menyatukan ujung jempolku dengan ujung jari- jariku yang lain. Dan mereka juga sesekali mengajukan pertanyaaan padaku. Dan selama pemindaian MRI itu berlangsung Professor Ayyub dengan setia mendampingiku dan mengawasi setiap urutan dari pemeriksaan itu.
Hingga tes MRI itu selesai dan menunggu hasilnya beberapa hari tibalah saat hari dimana dokter spesialis syaraf membacakan hasil tes MRI. Dan lagi- lagi aku didampingi oleh Professor Ayyub.
"Jadi bagaimana, dr. Roy?" tanya Professor Ayyub.
Dr. Roy mulai menjelaskan.
"Jadi begini, Prof dan Mahfudz. Setelah saya membaca dan mengamati hasil pemindaian MRI yang telah kamu lakukan beberapa hari yang lalu, di sini saya melihat bahwa memang ada bekas cedera pada otak yang mengakibatkan otak yang harusnya berfungsi mengantarkan sinyal ke syaraf pita suara menjadi tidak sebagaimana mestinya. Kondisi ini mirip dengan penyakit spasmodic dysphonia tapi tidak sepenuhnya sama. Kejang otot mengakibatkan pita suara menjadi terlalu dekat atau terlalu jauh pada penderitanya. Sehingga suara yang dikeluarkan menjadi lebih serak dan berat dan butuh usaha yang lebih keras untuk mengeluarkan suara si penderitanya. Bahkan saat berbicara si penderitanya bahkan merasa seperti tercekik karena sulitnya. Benar begitu, Mahfudz?" tanya dr. Roy.
Aku sontak menganggukan kepalaku. Memang itu yang kurasakan saat berbicara.Dan di saat yang lain terkadang saat aku berbicara akan terasa seperti berbisik dan mendesah. Itulah sebabnya aku malas berbicara selama ini. Sebelum bertemu dengan Raya aku malah lebih suka berkomunikasi dengan bantuan kertas dan bolpen.
"Namun disaat yang sama, penyakit yang diderita Mahfudz ini juga mirip dengan paresis pita suara atau kelumpuhan pita suara berulang. Jadi saya juga sebenarnya belum tau memberi nama yang tepat untuk penyakit ini, karena kasus seperti ini memang jarang terjadi, dan saya harus banyak mempelajarinya lagi," jawab dr. Roy jujur.
"La-lu a-pa yang bi-sa di-la-ku-kan, Dok-ter? A-pa har-us o-pe-ra-si?" tanyaku pada dr. Roy.
"Saya rasa operasi saat ini tidak perlu dilakukan, untuk sementara terapi wicara adalah tindakan yang tepat dilakukan. Dan selain itu saya juga merasa kalau faktor psikologi juga turut berperan dalam penyakitnya Mahfudz ini. Soalnya saya juga menilai kalau ada faktor traumatis juga yang menyebabkan hal ini. Mungkin konsultasi ke psikolog akan sangat bermanfaat walaupun saya juga tidak bisa memastikannya 100%" jawab dr. Roy.
Begitulah, setelah pemeriksaan MRI itu dilakukan, Professor Ayyub juga merekomendasikan dan memfasilitasi aku untuk melakukan therapi wicara 2 kali dalam seminggu di Siaga Medika. Dan telah 3 kali pula aku melakukan kunjungan pada salah satu psikolog di kota ini. Hal- hal yang ku konsultasikan dan ditanyai oleh psikolog itu biasanya seputar traumatis kecelakaan yang kualami 2 tahun lagi. Trauma dan kesedihan yang mendalam saat melihat Kak Rahmah yang juga kakak perempuanku satu- satunya meninggal akibat kecelakaan yang diakibatkan olehku. Aku yang menyetir mobil itu. Aku penyebabnya. Itu mungkin membuatku tak bisa bicara. Aku tertekan.
__ADS_1
Konsultasi ke psikolog tak serta merta mendapatkan suaraku kembali begitu saja. Namun setidaknya membuat perasaanku sedikit lebih baik. Hingga akhirnya aku melihat Raya dengan darah yang berlumuran di pakaiannya, membuat rasa bersalah itu datang. Takut kehilangan istriku seperti dulu saat aku kehilangan kakakku. Mereka sama- sama satu- satunya untukku. Itu membuatku histeris dan berteriak memanggil namanya.
"Raya!!!! Bangun!"
*Flashback off*
Raya tertegun mendengar ceritaku.
"Aku membuatmu shock?"
Aku mengangguk.
Raya menatapku sendu.
"Maafkan aku sayang, aku pasti membuatmu sangat khawatir."
Dan tangan- tangan rapuh itu pun memelukku lagi.
"Kalau aku tidak shock, aku tidak akan bisa bicara normal lagi kan? Harusnya aku berterima kasih padamu."
"Berterima kasih padaku? Kau gila? Bagaimana kalau shockmu waktu itu bukannya membuatmu makin sembuh tapi membuatmu menjadi lebih parah? Ya Tuhan ...."
Bulir- bulir air mata menetes di pipinya. Dia sepertinya sangat merasa bersalah karena sempat membuatku marah, kabur dan akhirnya membuatku shock karena melihatnya dilarikan di rumah sakit karena pendarahan. Astaga bumilku yang sensitif. Aku tersenyum geli melihatnya.
"Kenapa kamu menangis? Harusnya kamu senang aku bisa bicara normal lagi kan? Kamu menangis seperti itu seperti mau kutinggal mati saja." godaku.
Raya memukul dadaku.
"Isss!!! Aku menyesal atas semuanya. Aku tidak menyangka rasa shock akan sangat mudah mempengaruhimu."
"Stttt .... " Aku mengecup keningnya. "Jangan menyesali yang terjadi. Aku tidak mau kamu menyesali kehadiran anak kita. Jaga dia, Ray! Aku tidak mau kamu stress karena ini."
Raya menarik panjang nafasnya dan menyeka air matanya. Dia kembali menatap laptopnya lagi.
"Baiklah. Jadi kamu melakukan MRI ke dua kali?"
Aku mengangguk.
"Iya, seluruh tubuh. Dan juga pemeriksaan dengan laringoskopi."
"Aku tidak terlalu pandai membaca hasil MRI. Tapi sepertinya di sini kau baik- baik, sayang. Apa kamu menyuruh hasilnya dikirimkan ke rumah?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Mungkin Professor sengaja mengirimkannya ke sini, karena hasilnya baik- baik saja," kataku mencoba menghibur Raya.
Raya mengangguk.
"Sepertinya besok aku harus menanyakannya pada Professor," katanya.
Aku mengangguk lagi sambil membelai rambutnya lembut.
\*\*\*\*\*\*
POV Ayuni
"Rahmat sudah tidur?" tanya Fuad begitu dia masuk ke dalam kamar tidur kami.
Fuad baru saja keluar dari bertemu temannya.
"Hmmm iya ...." jawabku tanpa melihatnya.
"Are you ready, honey? I'm coming Mama!" katanya mesra seraya bergegas memeluk tubuhku dari belakang.
Tanpa meminta persetujuanku, aku tau apa yang dia mau. Dia pasti sedang ingin meminta haknya sebagai suami. Aku yang sedang melipat baju dilantai segera diangkatnya menuju tempat tidur. Fuad terlihat bersemangat. Segera dia membuka baju kaosnya, dan tentunya mulai menciumi dengan rakus. Namun sesaat dia berhenti.
"Kau baru saja menangis, Ayuni?"
Aku menggeleng. Sial! Ketahuan!
"Kamu jangan bohong padaku, sayang! Aku bisa melihat matamu sembab? Apa ada yang menyakitimu?"
Aku menggeleng lagi.
"Apa Kak Raya mengatakan sesuatu padamu?"
__ADS_1
"Ah, bukan, bukan." jawabku cepat.
Aku tidak mau dia berburuk sangka pada Kak Raya yang sudah begitu baik menampung kami di sini.
"Kalau bukan Kak Raya siapa donk?" tanyanya bingung. Lalu dengan bijaksananya dia berkata padaku. "Sayang, kalau memang semisalnya Kak Raya yang berbicara sedikit tajam padamu, tolong kamu bersabar, ya. Dia itu memang begitu orangnya, apalagi saat ini dia sedang hamil. Kamu nggak tau aja dia kalau ngomong bisa setajam silet. Sama Waridi saja, sampai **** dah tu orang tua cuma karena berdebat
dengan dia. Jadi kalau dia bicara agak sedikit sarkas, harap kamu maklum, sayang."
"Nggak kok, mana mungkin Kak Raya seperti itu," bantahku karena memang dugaannya tidak benar.
Sejenak dia kembali memperhatikanku dengan seksama. Fuad memandangku lekat- lekat.
"Apa Mama mengatakan saesuatu padamu? Mama yang membuatmu menangis?" tanyanya serius.
Aku terdiam. Aku teringat lagi kata- kata Mama tadi siang. Yang membuatku ingin menangis lagi dan lagi. Kata- katanya yang mengatakan kalau Mama bisa menerimaku asal tidak ada Rahmat. Asal Rahmat diberikan pada Waridi. Hatiku perih mengingatnya. Di satu sisi aku ingin mertuaku bisa menerimaku tapi di sisi lain, aku tidak mungkin menyerahkan Rahmat pada ******** itu, aku tidak mungkin bisa jauh dari Rahmat.
"Jadi benar Mama yang membuatmu begini? Katakan! Mama bilang apa padamu?" kata Fuad terlihat gusar.
Aku buru- buru menggeleng. Aku tidak mungkin mengatakan apa yang dikatakan Mama padaku. Aku tidak mau hubungan Mama dan Fuad tambah renggang. Ini saja, membuat Mama dan Fuad tidak serumah saja sudah membuatku sangat bersalah.
"Bukan, sayang. Aku hanya sedang sensitif. Aku cemburu pada perhatian Mama pada Kak Raya. Hanya itu," jawabku.
Aku tidak berbohong soal itu. Aku memang cemburu pada istrinya Kakak Iparku itu.
Fuad menghela napas.
"Kamu yang sabar ya, sayangku, Mamanya Rahmat. Suatu saat Mama pasti bisa menerimamu dan menyayangimu sama halnya seperti Kak Raya," hiburnya.
Itu membuat hatiku semakin menjerit. Kamu nggak tau, sayang. Mama memang bisa menerimaku dan sepertinya juga dia akan menyayangi. Namun, rasa sayangnya itu bersyarat. Aku harus menukar kasih sayangnya itu dengan Rahmat, anakku! ratapku dalam hati.
"Ya, sudah, cup! Jangan nangis, donk! Masa Rahmat kalah cengeng dengan Mamanya," bujuknya.
Aku menyeka air mataku yang hampir jatuh.
"Ya sudah, kita tidur aja. Besok siang kamu sama Rahmat ku ajak jalan- jalan ke mall, mumpung besok libur!" bujuknya sambil memakai kaosnya kembali.
Fuad segera berbaring di sampingku. Selang tak berapa lama aku melihat dia berusaha memejamkan matanya. Dia terlihat gelisah. Dan aku tau penyebabnya apa.
"Sayang, papanya Rahmat ...." panggilku.
"Hmmm ...." sahutnya tanpa membuka matanya.
"Nggak jadi?" tanyaku.
"Nggak jadi apa?" Fuad balik bertanya.
"Itunya ...."
"Itunya apa?
"Emmm ...."
Fuad tiba- tiba langsung terduduk dan tersenyum girang melihatku.
"Boleh nih?" tanyanya senang.
"Ya bolehlah, aku kan milikmu selamanya ...."
"Ok, sayang .... Aku datang!"
Dan Fuad pun segera membuka kembali bajunya yang sudah dipakainya tadi dengan sigap. Huhhh! Lelaki memang semuanya sama saja. Tapi, tapi aku tidak boleh mengeluh. Harus ikhlas dan ridho melayani suami kata Ummik.
Dan malam ini berlalu dengan Fuad yang sedang tersenyum bahagia sambil memelukku. Diam- diam air mataku menetes lagi. Apa aku terlalu serakah mengharap kebahagiaan yang banyak? Cintanya Fuad harusnya cukup bagiku, kenapa aku masih sangat serakah ingin cinta yang tulus dari mertuaku? Dia menerimaku sebagai menantu saja harusnya aku sudah bersyukur.
Keesokan harinya seperti janji Fuad, dia membawa aku dan Rahmat ke salah satu pusat perbelanjaan. Dia benar- benar sangat berusaha menjadi suami yang baik. Kami benar- benar seperti keluarga yang bahagia. Fuad yang menggendong Rahmat dengan gendongan model kanguru di perutnya sementara aku dengan perutku yang sudah mulai sedikit membuncit merangkul lengannya sambil sebelah tanganku menenteng paper bag berisi baju- baju belanjaan kami.
Kami sudah hampir selesai belanja, saat seseorang memanggil.
"Fuad!!"
Aku dan Fuad serentak menoleh.
Seorang perempuan yang sangat cantik berambut ikal coklat terurai menghampiri kami. Di wajah itu terlihat wajah bingung bercampur gusar melihat aku dan Fuad bergantian.
"Fuad ...." Suara itu meminta penjelasan.
__ADS_1
"Nirmala???"