
"Aduuuh!!!" pekik tertahan Raya saat melihat bajunya ketumpahan makanan dari orang yang menabrak mejanya.
"Ya Allah, maaf, maaf!" ucap orang itu dengan panik saat menyadari makanannya telah mengotori baju seseorang.
"Ria! Hati-hati, donk!" omel Hawa saat melihat yang menabrak meja mereka ternyata adalah salah seorang staf Medika Rahaya.
"Maaf, Dokter! Saya nggak sengaja! Itu ada orang yang nabrak saya tadi!" katanya sambil menunjuk seseorang anak remaja laki-laki yang sedang berlari ke arah luar kantin
Hawa dan Raya spontan melihat ke arah remaja yang ditunjuk oleh staf bernama Ria itu.
"Oby?" gumam Hawa terdengar panik.
"Oby siapa?" tanya Raya balik sambil meraih beberapa lembar tissu di atas meja dan mencoba membersihkan noda nasi berkuah yang menumpahi bajunya.
"Pasien. Anak temannya pamer," jawab Hawa masih terlihat panik. "Ria, coba donk pastiin lagi, dia benaran Oby atau nggak nih? Bahaya kalau sampai dia. Bisa celaka orang-orang sini nanti kalau itu beneran dia."
"Baik, Dok! Tapi temannya Dokter ...." Ria menatap Raya yang kelihatannya masih sibuk membersihkan noda di pakaiannya.
"Nggak, nggak. Saya nggak apa-apa," kata Raya mencoba menenangkan.
"Baik, Dok! Saya akan lihat dulu sebentar. Nitip ini sebentar di sini, ya!" katanya sambil meletakkan piringnya yang sudah kehilangan separuh isinya itu.
Raya mengangguk sambil masih berusaha membersihkan bajunya yang sepertinya bernoda lumayan banyak akibat ketumpahan makanan milik perawat bernama Ria itu.
"Bajumu kelihatan kotor banget tu, Ray. Ganti aja di ruanganku, yuk? Aku ada baju ganti di sini kok," kata Hawa menawarkan.
Raya mengangguk setuju.
"Hmm, gitu juga boleh, Wa. Rasanya juga nggak enak nih, pliket banget rasanya di dalam," kata Raya sambil mengambil beberapa lagi tissu bersih.
"Yuk, ke ruanganku aja! Sekalian mandi aja kamu, Ray, dari pada kamu balik ke Satya Medika kayak begitu? Kan nggak enak entar dilihatin sama staf yang lain, kan?" imbuh Hawa lagi menawarkan solusi terbaik bagi sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hmm, ayo deh," kata Raya menyambut dengan baik solusi dari Hawa.
Hawa segera berdiri disusul Raya.
"Nggak apa-apa nih ini ditinggal begini aja?" tanya Raya menunjuk pada meja dan lantai yang penuh dengan nasi yang berhamburan.
"Ya iyalah nggak apa-apa. Memang kamu mau bersihin gitu? Bersihin udah!" jawab Hawa dengan jahilnya.
"Ihh, Hawa! Maksudku nggak perlu dipanggilin CS (Cleaning Service) gitu?" ralat Raya.
"Ya nggak perlu lah, kantin kan yang urus pengelola kantin bukan pihak rumah sakit, gimana sih? Biar ajalah. Entar juga ibu kantinnya bakal bersihin. Lagian ini juga bukan salah kita," oceh Hawa.
"Ya, tapi minimal kasih tau ke ibu kantinnya lah biar dibersihin. Biar dia tahu kalau di bagian sini ada yang perlu dibersihkan lagi," imbuh Raya lagi.
"Ya Allah, Ray! Kamu makin lama makin bawel deh. Jadi curiga aku, jangan-jangan kamu dibikin melendung lagi nih sama Mahfudz!" tuduhnya.
"Husss!! Apaan bawa-bawa lakiku, kamu tinggal ke ibu kantinnya aja sebentar terus bilang, 'bu, meja sebelah situ, kotor, perawat A ditabrak orang nggak sengaja, tolong dibersihin ya, maaf itu bukan kami yang bikin kayak gitu'. Tinggal ngomong begitu aja susah amat sih, Wa. Mentang-mentang sekarang jadi ibu wakil direktur," cibir Raya.
"Nah, gitu donk! Anak baik, anak baik!" kelakar Raya seolah Hawa adalah anak kecil.
Hawa memanyunkan bibirnya membalas gurauan Raya. Dia pun bergegas menuju stand kantin. Sementara Raya hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beberapa tahun berlalu, tak hanya hidup Raya dan Mahfudz yang banyak berubah. Di rumah sakit Medika Rahayu juga banyak hal yang berubah. Mertuanya Hawa telah memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan tampuk kepemimpinan rumah sakit mereka pada anak sulung mereka, yaitu Ibrahim, suaminya Hawa. Lelaki itu pun diangkat menjadi direktur utama dan ditambah dengan dilantiknya Hawa menjadi wakilnya, meski Hawa tak mengambil pendidikan spesialis sama sekali. Mungkin mertuanya Hawa memiliki penilaian tersendiri atas kompetensi apa yang dimiliki oleh menantunya itu.
Raya memperhatikan Hawa yang kini telah sampai di stand ibu kantin. Melihat sahabatnya selama belasan tahun itu berbicara sejenak dengan sang ibu pengelola kantin sambil beberapa kali menoleh ke arahnya. Mungkin dia sedang menunjukkan pada ibu kantin di meja mana yang perlu dibersihkan. Raya hanya tersenyum. Dia senang melihat pribadi sahabatnya ini yang selalu ramah dan ceria saat berhadapan dengan siapa pun. Bahkan dengan seorang ibu kantin sekali pun.
Hawa sedang berjalan ke arah Raya kembali, saat tiba-tiba dari arah yang berlawanan yakni pintu kantin, seseorang tiba-tiba berlari ke arah Raya dan dalam sekejap entah bagaimana menjelaskannya, Raya tiba-tiba telah berada dalam kuasa orang itu. Orang itu mengunci leher Raya dengan lengannya sehingga Raya tak dapat bergerak. Sementara itu sebelah tangannya lagi memegang gunting dan mengarahkannya ke kepala Raya.
"Astaghfirullah!! Raya!" pekik Hawa kaget.
Dia segera ingin menghampiri Raya, tetapi anak bernama Oby itu mengancam.
__ADS_1
"Jangan mendekat! Jangan mendekat atau Oby akan bunuh kakak ini!" teriaknya.
Raya kini dapat melihat dengan jelas ada beberapa orang perawat pria yang juga baru sampai di kantin. Rupanya mereka sedari tadi telah lelah mengejar anak remaja lelaki yang bertingkah layaknya bocah itu.
"Oby! Oby! Jangan ya, Dek! Letakin guntingnya donk! Itu bahaya, tajam loh! Nanti kalau guntingnya ketusuk tantenya gimana?" tanya salah seorang perawat berinisiati melakukan negoisasi dengan Oby.
"Oby nggak peduli. Oby bosan di kamar terus, Oby nggak ada mainan, Om. Oby mau main polisi-polisian aja sama Tante ini. Tante, tante! Main sama Oby ya!" bujuk pasien remaja itu pada Raya.
"Oby! Letakin guntingnya, ya! Dia temannya tante dokter loh," bujuk Hawa.
Sepertinya Hawa sangat mengenal anak ini. Oh iya, Raya lupa, bukannya tadi Hawa bilang kalau pasien bernama Oby ini adalah anak dari temannya papa mertuanya?
"Nggak mau! Entar senjatanya Oby apa? Kita kan mau main pepolisi-polisian. Iya kan, Tante?" tanyanya pada Raya
Raya mengangguk. Dari sikapnya anak ini nampaknya berkebutuhan khusus. Raya tahu apa yang harus dilakukamnya.
"Hu um. Tante akan main sama kamu. Siapa nama kamu tadi? Oby?" tanya Raya.
Oby mengangguk senang.
"Oke Oby, Tante akan temani kamu, tapi kita mainnya nggak usah pakai-pakai gunting ya. Entar luka sampai berdarah gimana? Pakai pulpen aja gimana?" Raya membuka tasnya dan mengeluarkan bolpen dari sana. Dia langsung menunjukkannya pada Raya.
"Pakai ini ya?"bujuk Raya pada Oby.
Anak lelaki itu mengangguk dan tanpa sadar mulai melepaskan Raya. Tetapi baru saja sebentar ia melepaskan Raya, seseorang tiba-tiba datang dan menendang Oby hingga anak itu tersungkur di lantai.
"Oby!!!" pekik Hawa terkejut.
****
Hai reader, jangan pelit like koment ya .
__ADS_1